cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : -
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue " Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni" : 18 Documents clear
Aktualisasi Mitos “Sangkuriang” dan “Lutung Kasarung” dalam Novel “Déng” Karya Godi Suwarna Hudaya, Deri; Rahayu, Lina Meilinawati; Hazbini, Hazbini Hazbini
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.44

Abstract

ABSTRACTMyth and novel are two kinds of literatures which are different. Myth arised from oral tradition, spiritual art, and primordial of human belief. While novel arised from written tradition that grows from modern culture which identifies the rasio. This research is conducted to see the relationship between myth and Sundanesses novel, and also to know the actualization of myth Sangkuriang and Lutung Kasarung which are retold by Déng’s novel from Godi Suwarna.Keyword: lutung kasarung, sangkuriang, déng, myth, novel ABSTRAKMitos dan novel merupakan dua bentuk karya sastra yang berbeda. Mitos berangkat dari tradisi lisan, seni spiritual, dan kepercayaan masyarakat primordial. Sementara Novel berangkat dari tradisi tulis, berakar pada kebudayaan modern yang bercirikan rasio. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pertemuan antara mitos dan novel Sunda, aktualisasi mitos Sangkuriang dan Lutung Kasarung yang diartikulasikan melalui novel Déng karya Godi Suwarna.Kata kunci: lutung kasarung, sangkuriang, déng, mitos, novel
Makna Tanda Komunikasi Intrapersonal Dalam Sketsa (Studi Kasus Pada Karya Studi Dua Maestro) Supriatna, Supriatna Supriatna
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.49

Abstract

ABSTRACTSketch in the context of artis as a design drawing, tobe realized in the real work goals.When the creative process of making a sketch, there is some intra personal communication that personal communication with it self, to solve visua lproblems.The Feedback will be visible in the form of visual signs, which appear to be realin the form of a twin image and visual correction as a result of contemplation solution. For that, the sketch is a self laboratory, in which there isa personal creator codes. As well as the sign code is something interesting to be interpreted, using semiotic theory approach.Keywords: Sketch, intra personal communication, semiotic.ABSTRAKSketsa dalam konteks seni rupa adalah sebagai sebuah gambar rancangan, guna diwujudkan pada tujuan karya sesungguhnya.Pada proses kreasi sketsa terjadi komunkasi intrapersonal yakni komunikasi dengan dirinya sendiri, dalam memecahkan persoalan visual. Respon balik akan tercermin dalam penanda-penanda visual, yang terlihat secara telanjang berupa gambar kembar maupun koreksi visual sebagai solusi perenungan. Berkait dengan hal tersebut, sketsa merupakan laboratorium diri, yang di dalamnya terdapat kode-kode pribadi kreatornya. Kode maupun tanda tersebut menjadi hal yangmenarik untuk dimaknai, dengan menggunakan pendekatan teori semiotik.Kata kunci: Sketsa, komunikasi intrapersonal, semiotik
Representasi Identitas Melalui Komunikasi Visual Dalam Komunitas Virtual Palanta Urang Awak Minangkabau Franzia, Elda; Pialang, Yasraf Amir; Saidi, Acep Iwan
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.45

Abstract

ABSTRACTIn virtual community, identity represented through various form. A person as community member is appearing through profile picture and doing communication activity between members in virtual community. The communication held actively in verbal and visual communication form consists of message exchange and meaning through symbols that understand thoroughly based on culture and custom with certain characteristic differ to each ethnic groups. Palanta Urang Awak Minangkabau is one of the virtual communities in Facebook social network. As an active virtual community, the communication is ongoing intensely between members. Conversation and interac- tion are often beginning with image posting by member. This research is aim to explain the variety of visual communication form in this certain virtual community as part of virtual identity con- struction of Minangkabau ethnic group. The method is virtual observation and documentation, with semiotic method analysis in cultural studies approach. This research gave the understanding of image typology and cultural symbolism in Minangkabau culture, especially in the context of virtual community in Facebook.Keywords: identity, communication, visual, Minangkabau, Facebook ABSTRAKDalam komunitas virtual, identitas direpresentasikan melalui berbagai bentuk. Individu yang menjadi anggota komunitas dihadirkan melalui foto profil dan melakukan aktivitas komunikasi antar individu dalam ruang komunitas virtual tersebut. Komunikasi berlangsung secara aktif meliputi tukar menukar pesan dan pemaknaan secara verbal dan visual melalui simbol-simbol penandaan yang dipahami bersama, dengan berbasis budaya dan adat dengan karakteristik tertentu yang berbeda antara etnis satu dengan yang lain. Palanta Urang Awak Minangkabau merupakan salah satu komunitas virtual di jejaring sosial Facebook. Sebagai komunitas virtual yang aktif, komunikasi berlangsung secara intens antar anggotanya. Percakapan dan interaksi sering kali dimulai dengan gambar yang dipaparkan oleh anggota komunitas. Kajian ini bertujuan untuk memaparkan ragam bentuk dan cara penyampaian komunikasi visual di dalam komunitas virtual ini sebagai bagian dari konstruksi identitas virtual etnis Minangkabau. Metode yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi virtual, melalui analisis semiotik dengan pendekatan cultural studies. Kajian ini memberi pemahaman terhadap tipologi gambar dan simbol-simbol budaya yang berlaku dalam adat Minangkabau, khususnya dalam konteks komunitas vir- tual di Facebook.Kata kunci: identitas, komunikasi, visual, Minangkabau, Facebook
Visualisasi dan Transformasi Kebertubuhan Dalam Film Animasi Planes (Ke Arah Pembentukan Mitos Baru) Saidi, Acep Iwan; Budiwaspada, Agung Eko
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.41

Abstract

ABSTRACTThis research is entitled “Visualization and Transformation of Embodiment in the Film of Planes Animation”. As an animation film, Planes is interesting because it is using inanimate objects, in this case the planes, as characters. This fact indicates that the character transformation is done by an animator, from the character of inanimate objects in to live character. By using the methods of structural and semiotic analysis, found that the transformation is done not only for personification (it is made as if the inanimate objects becomes alive). In the Planes, “the living things” not only exist in the mind as imagination, but it is exist out of the mind, as an autonomous reality. Based on that, Planes is the animation film which opens space for creating a new myth in the history of culture. Like the fable as a myth in the tradition of primary orality, Planes allows the formation of myth in digital oral tradition.Key Words: Transformation, visualization, embodiment, personification, metaphor, tradition, myth ABSTRAKPenelitian ini bertajuk “Visualisasi dan Transformasi Kebertubuhan dalam Film Animasi Planes”.Sebagai film animasi, Planes menarik karena menggunakan benda-benda mati, dalam hal ini pesawat, sebagai tokoh cerita. Fakta ini mengindikasikan dilakukannya transformasi karakte r ole h animator, yakni dari karakte r “yang mati” ke “yang hidup”.Dengan menggunakan metode analisis structural dan semiotik, ditemukan bahwa transformasi tersebut dilakukan melampaui sarana retorika personifikasi (membuatseolah- olah yang mati menjadi hidup).Di dalam Planes, “yang hidup” itu tidak berada di dalam pikiran dan imajinasi apresiator sebagai yang seolah-olah, melainkan hadir di luar pikiran, berdiri sendiri sebagai realita sotonom. Berdasarkan hal itu, Planes merupakan film animasi yang membuka ruang bagi terciptanya mitos baru dalam sejarah cerita. Jika fable merupakan mitos dalam tradisi kelisanan primer, Planes memungkinkan terbentuknya mitos dalam tradisi lisan digital.Kata kunci: transformasi, visualisasi, kebertubuhan, personifikasi, metafora, tradisi, mitos.
Konsep Desain Venakular Dalam Bentuk pagawéan barudak di Baduy-Dalam Alif, Mohamad Zaini; Sachari, Agus; Sabana, Setiawan
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.46

Abstract

ABSTRACTThe term, Toys and Games in Inner Baduy society, are not familiar. They recognize them as Pagawéan Barudak. It is action using tools as media. The study was conducted in Inner Baduy, which focused on three villages, named Cibeo, Cikeusik and Cikartawana. The toys and games de- sign in Baduy is a process of transmitting moral, and socialization skills. Its form is presented through the study of vernacular design, which explains how the value of the transmission processes. In the pagawean barudak, determination and obedience are delivered through skills (skills training) in making, using it, obedience is delivered through the use of materials, forms, processes and the results of it. In the making process of the creation in pagawéan barudak portrays relationship of human being with the needs of surrounding nature. Then, those needs will be filled with rules, which are interconnected between them and the environment, emerging pikukuh and pitutur that must be followed in conducting all activity.Keyword: Design, Vernacular, Toys, Inner Baduy. ABSTRAKIstilah Mainan dan Pe rmainan di masyarakat Baduy, tidak dike nal. Me re ka menyebutnya Pagawéan Barudak, ini merupakan hasil kegiatan dengan menggunakan alat sebagai medianya. Penelitian dilakukan di Baduy, difokuskan ke tiga kampung, yaitu Cibeo, Cikeusik dan Cikartawana. Desain Mainan dan permainan di Baduy, adalah proses transmisi keterampilan, moral, dan sosialisasi. Bentuknya yang disajikan melalui studi desain vernakular yang akan menjelaskan bagaimana nilai dari proses transmisi itu berlangsung. Pada barudak melakukanpagawean, keteguhan dan kepatuhan disampaikan melalui keterampilan (skill training) dalam membuat, menggunakan pagawean barudak, kepatuhan disampaikan melalui penggunaan bahan, bentuk, proses dan hasil pagawean barudak. Dalam proses pembuatan produk dalam bentuk pagawéan barudak adalah, hubungan manusia dengan kebutuhan alam sekitarnya. Kemudian, kebutuhan tersebut akan dipenuhi oleh aturan yang saling berhubungan antara mereka dan lingkunganya, sehingga lahir pikukuh dan pitutur yang harus diikuti dalam melakukan seluruh kegiatanya.Kata kunci : Desain, Vernacular, Mainan, Baduy-Dalam
Kembalikan Lagu Anak-anak Indonesia: Sebuah Analisis Struktur Musik Ardipal, Ardipal Ardipal
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.42

Abstract

ABSTRACTIt appears there are two opposing poles of art music once intertwined within Indonesian society. That is music as art development in certain environments and music as commercial art. In terms of commercial music, almost two decades this song children disappear in the mass media. Was replaced by the song of adults. This certainly influenced the development of psychological, physical, and mental children. Theoretically, this problem this can be seen from the production of music through approach (1) konfik (hegemony) and (2) the interpretation / meaning. This study aimed to compare the musical structure of childrens songs and musical structures adults. Data taken from childrens songs and pop songs adults. The method of analysis is focused on the features songs based on the structure of the music and effects. Is a key instrument in the researchers own research and auxiliary instruments in the form of codification guide data. Then describe the elements contained in some of the songs of children and adults. To maintain the validity of the data, performed data triangulation activity. Activity data analysis starts from the stage of selecting and codify the data, analyze the data according to the music features of each, and draw conclusions as well as the verification stage. From the data tracks taken as a sample, it appears that the pattern of rhythmic, melodic, intervals, tempo, tone range is not worthy to be sung by children. Coercion of children to imitate the song can be fatal as damage to the vocal cords, jaw muscle cramps. Finally, it is suggested that participants of art, and also Likewise art network infrastructure, must be able to have the same view and strong in the development of the art of music in Indonesia, especially for a childrens song.Keywords: children song, patriotic song, adult song, music structure.ABSTRAKTerlihat ada dua kutub seni musik yang bertentangan sekaligus berjalin di dalam masyarakat Indonesia. Yaitu musik sebagai pengembangan seni di lingkungan tertentu dan musik sebagai seni komersial. Dari sisi musik komersial, hampir dua dekade terakhir ini lagu anak-anak menghilang di media massa. Digantikan oleh lagu orang dewasa. Hal ini tentu mempengaruhi perkembangan psikologis, fisik, dan mental anak-anak. Secara teoritik, masalah ini hal ini dapat ditinjau dari produksi musik melalui pendekatan (1) konfik (hegemoni) dan (2) interpretasi/ makna. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan struktur musik lagu anak-anak dan struktur musik orang dewasa. Data diambil dari lagu anak-anak dan lagu pop orang dewasa. Metoda analisis difokuskan pada fitur lagu berdasarkan struktur musik dan dampaknya. Instrumen kunci dalam penelitian adalah peneliti sendiri dan instrumen pembantu berupa panduan kodifikasi data. Kemudian mendeskripsikan unsur-unsur tersebut yang terdapat dalam beberapa lagu anak-anak dan dewasa. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap memilih dan mengodifikasi data, menganalisis data sesuai dengan fitur musiknya masing-masing, dan tahap menarik kesimpulan serta verifikasi. Dari data lagu yang diambil sebagai sampel penelitian, terlihat bahwa pola ritmis, melodis, interval, tempo, hingga rentang nada belum laik dinyanyikan oleh anak-anak. Pemaksaan anak-anak untuk meniru lagu tersebut dapat berakibat fatal seperti kerusakan pita suara, kram otot rahang. Akhirnya, disarankan agar partisipan seni , dan juga Demikian juga jaringan infrastuktur seni, harus dapat memiliki pandangan yang sama dan kuat dalam pengembangan seni musik di Indonesia, khususnya untuk lagu anak-anak.Kata Kunci: lagu anak-anak, lagu perjuangan, lagu orang dewasa, struktur musik 
Dari Tari ke Musik: Pembentukan Musik Suita Pada Era Musik Barok Martiana, Pola
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.47

Abstract

ABSTRACTSuite as a musical form was composed by many Baroque composers. It was built and based on dances which is popular in the Renaissance or Baroque eras. This paper tries to understand the way composers adapt one form of art to another form, that is from dance to music, which is widely known as ecranisation. To grasp it in depth, this paper firstly describes what dance musics consist in suite. Secondly, it describes the dances which form the dance music. To make it clear, it also describes the essence of dance that makes it possible the transformation from dance to music. The result shows that the transformation does happen because of the abstract essence in dance was transformed into notes in music. This process is revealed by using the method of phenomenology of Maurice Merleau- Ponty.Keywords: music, dance, suite, ecranisation, inspiration, transformation, movement, noteABSTRAKMusik suita yang banyak digubah pada era musik Barok dibangun dari sejumlah gerakan musik yang berasal-usul dari tari-tari yang populer di era Renaisans/ Barok. Tulisan ini berusaha memahami bagaimana komponis mengalihwahanakan seni yang ada: dari tari ke musik. Untuk memahami kejadian itu, penulis memaparkan gerakan musik apa saja yang terdapat di dalam suita, setelah itu dipaparkan tari-tari yang menjadi sumber inspirasi komponis. Setelah didapatkan gambaran lengkap mengenai musik dan tari yang relevan, perlulah dipahami apa yang terdapat di dalam tari sehingga bisa diserap oleh komponis untuk kemudian dikeluarkan kembali dalam bentuk musik. Dari paparan itu terlihatlah bahwa transformasi dari tari ke musik hanya mungkin karena adanya transformasi gagasan abstrak yang terdapat di dalam tari untuk kemudian diekspresikan dalam bentuk nada-nada, dan hal itu semua hanya bisa dipahami dengan menggunakan metode fenomenologi dari Maurice Merleau-Ponty.Kata kunci: musik, tari, suita, alih wahana, inspirasi, transformasi, gerakan, nada
Metode Transformasi Kaidah Estetis Tari Tradisi Gaya Surakarta Hastuti, Bekti Budi; Supriyanti, Supriyanti Supriyanti
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.43

Abstract

ABSTRACTThis paper focuses on the analysis of the transformation method of the Surakarta style dance tradition of the aesthetic rules. The transformation of this traditional dance aesthetic rules cannot be separated from the characteristic of dance i.e. endhel or lurah and oyi or lanyap for female dance, and of fine male dances i.e. luruh and lanyap, madyatayo or katongan, and of strong male dances, i.e. kambeng, kalang kinantang, bapang kasatriyan and bapang jeglong. The characteristic of each dance has its own dance pose patterns i.e. ten dance pose patterns, namely merak ngigi, sata ngetap, swiwi, kukila tumiling, branjangan ngumbara, mundhing mangundah, wreksa sol anggiri gora, pucang kanginan, sikatan met boga, and ngangrang bineda. These dance pose patterns should fol- low the body pose disciplines, i.e adeg doran katangi, ulat tajem, jangguh, jangga, jangga nglung gading, jaja mungul, pupu merendah, cingklok angglong and dlamkan malang. The basic elements of dance i.e. wiraga, wirama, and wirasa described by the aesthetic norms of Hasta Sawanda, i.e. pacak, pancat, ulat, lulut, wilet, luwes, wirama and gendhing has the deep philosophical value of sengguh, lungguh and mungguh.Keywords: hastha sawanda, aesthetic, choreography, dance traditions ABSTRAKTulisan ini difokuskan pada analisis metode transformasi kaidah estetis tari tradisi gaya Surakarta. Transformasi kaidah estetis tari tradisi ini tidak dapat dipisahkan dengan perwatakan tari seperti endhel atau branyak dan oyi atau luruh untuk tari putri, tari putra alus adalah luruh dan lanyap, madyataya atau katongan, dan tari putra gagah yaitu kambeng, kalang kinantang, bapang kasatrian, dan bapang jeglong. Setiap perwatakan tari itu memiliki sikap laku tari, yaitu sepuluh patrap beksa: merak ngigel, sata ngetap swiwi, kukila tumiling, branjangan ngumbara, mundhing mangundah, wreksa sol, anggiri gora, pucang kanginan, sikatan met boga, dan ngangrang bineda. Sikap laku tari ini harus mengikuti disiplin sikap tubuh yaitu: adeg doran katangi, ulat tajem, janggut, jangga, jangga nglung gadung, jaja mungal, pupu merendah, cingklok angglong, dan dlamakan malang. Elemen dasar tari, yakni wiraga, wirama, dan wirasa yang dijabarkan oleh norma estetis Hastha Sawanda, yaitu: pacak, pancat, ulat, lulut, wilet, luwes, wirama, dan gendhing, yang memiliki kedalaman nilai filosofis sengguh, lungguh, dan mungguh.Kata kunci: hastha sawanda, estetis, koreografi, tari tradisiKata kunci: hastha sawanda, estetis, koreografi, tari tradisi
Tinjauan Perkembangan Keris Tangguh Ngentha-Entha Yogyakarta 1975-2015 Supriaswoto, Supriaswoto Supriaswoto; SP. Gustami, SP. Gustami SP. Gustami; Haryono, Timbul; R.M. Soedarsono, R.M. Soedarsono R.M. Soedarsono
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.48

Abstract

ABSTRACTEvery keris possesses its own chracteristic called tangguh. There is a keris with a characteristic called tangguhngéntha-éntha which was created within the Ngéntha-ÉnthaVillage community, lo- cated to the west of Godean District, in the Sleman Regency, Yogyakarta. The prominent figure behind the establishment of that forge (besalèn) was Empu (Ironsmith) Wayang, that one day moved from Mataram Kingdom at Kartasuro to that village. In 1963, Empu Supowinangun, the heir of Empu Wayang, passed away. As a result, since that time the process of making the keris with ngéntha-énthacharacteristic was no longer conducted. In 1975 there was an effort to revitalize it and succeded. This research was conducted to investigate this revitalization by using historical method. The result of this research demonstrates that this revitalization has been conducted succesfully by two master keris-makers (empu) named Yosopangarso and Jeno Harumbrojo, after received mental endorsement and financial support from two foreigners named Garrett Solyom and Dietrick Dreschler. The two master keris-makers already passed away and today the process of making the keris with tangguh ngéntha-éntha characteristic is taken over by Empu Sungkowo, Jeno Harumbrojo’s former adopted child. It is not clear who is supposed to be Sungkowo’s heir. It generates a lot of worry among people of the possibility that this style of keris will decline like what happened in 1963.Key words : keris with tangguhngéntha-énthacharacteristic, revitalization, Master Keris-makersYosopangarso, Jeno Harumbrojo, Sungkowo. ABSTRAKSetiap keris memiliki ciri tersendiri yang disebut tangguh, seperti tangguhngéntha- énthayang diciptakan di lingkungan masyarakat Desa Ngéntha-Éntha. Tokoh penting yang membuat keris dengan tangguh ini adalah Empu Wayang. Pada tahun 1963, Empu Supowinangun, pewaris Empu Wayang, meninggal dunia. Akibatnya, sejak saat itu pembuatan keris dengan gaya ngéntha-éntha tidak lagi dilakukan. Pada tahun 1975 ada upaya untuk merevitalisasinya dan berhasil. Penelitian ini bermaksud meneliti revitalisasi keberadaan keris Tangguh Ngenta-entha tersebut dengan menggunakan metode historis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa revitalisasi ini telah diakukan oleh dua empu keris bernama Yosopangarso dan Jeno Harumbrojo. Dewasa ini, dua orang empu keris t e r s e b ut t e l a h m e n i n g g a l d un i a d a n pr o s e s pe m b ua t a n k e r i s d e n g a n c i r i - c i r i tangguhngéntha-énthadiambil alih oleh Empu Sungkowo, anak angkat Empu JenoHarumbrojo dengan metode rekonstruksi pola-pola pewarisan yang tetap dan tidak meninggalkan pakem-pakem tradisi yang ada.Kata kunci: revitalisasi, keris, gaya ngéntha-éntha
Visualisasi dan Transformasi Kebertubuhan Dalam Film Animasi Planes (Ke Arah Pembentukan Mitos Baru) Saidi, Acep Iwan; Budiwaspada, Agung Eko
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (918.93 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.41

Abstract

ABSTRACTThis research is entitled “Visualization and Transformation of Embodiment in the Film of Planes Animation”. As an animation film, Planes is interesting because it is using inanimate objects, in this case the planes, as characters. This fact indicates that the character transformation is done by an animator, from the character of inanimate objects in to live character. By using the methods of structural and semiotic analysis, found that the transformation is done not only for personification (it is made as if the inanimate objects becomes alive). In the Planes, “the living things” not only exist in the mind as imagination, but it is exist out of the mind, as an autonomous reality. Based on that, Planes is the animation film which opens space for creating a new myth in the history of culture. Like the fable as a myth in the tradition of primary orality, Planes allows the formation of myth in digital oral tradition.Key Words: Transformation, visualization, embodiment, personification, metaphor, tradition, myth ABSTRAKPenelitian ini bertajuk “Visualisasi dan Transformasi Kebertubuhan dalam Film Animasi Planes”.Sebagai film animasi, Planes menarik karena menggunakan benda-benda mati, dalam hal ini pesawat, sebagai tokoh cerita. Fakta ini mengindikasikan dilakukannya transformasi karakte r ole h animator, yakni dari karakte r “yang mati” ke “yang hidup”.Dengan menggunakan metode analisis structural dan semiotik, ditemukan bahwa transformasi tersebut dilakukan melampaui sarana retorika personifikasi (membuatseolah- olah yang mati menjadi hidup).Di dalam Planes, “yang hidup” itu tidak berada di dalam pikiran dan imajinasi apresiator sebagai yang seolah-olah, melainkan hadir di luar pikiran, berdiri sendiri sebagai realita sotonom. Berdasarkan hal itu, Planes merupakan film animasi yang membuka ruang bagi terciptanya mitos baru dalam sejarah cerita. Jika fable merupakan mitos dalam tradisi kelisanan primer, Planes memungkinkan terbentuknya mitos dalam tradisi lisan digital.Kata kunci: transformasi, visualisasi, kebertubuhan, personifikasi, metafora, tradisi, mitos.

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue