cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : -
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue " Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya" : 18 Documents clear
Desain Rancang Bangun Dapur Umum Portable dalam Penanggulangan Bencana Alam Hidayanto, Andi Farid; Rulia, Anna -
PANGGUNG Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i2.169

Abstract

ABSTRACT Indonesia is a disaster-prone areas. To meet the logistical  needs of the victim  and the officer needed a common kitchen. Common kitchen that is generally in the form of tents, buildings used as shelters, or modified car. Common kitchen there is an emergency nature,  improvise, and how far from the disaster site. These problems need to design a common kitchen for natural disaster management,  which can meet the needs, the officer and the victim. In designing  methods Pahl and Beitz with steps Planning and explanation  of the task,  design concept,  design forms, and design details. Collecting  data using methods Individual  Questionnaire  and Focus Group Dis- cussion the results obtained attributes  required in the design. Results of the research is a com- mon kitchen design for a natural disaster  are portable, easily assembled and disassembled, can be set  up in various  locations  condition,  easy to operate, able to accommodate facilities  and needs. Common  kitchen  design  produced in the form  of large-scale  three-dimensional   model, a blueprint  for the technical  specifications,  and the protoype. Keywords: natural disasters;  design; soup kitchen;  portable.   ABSTRAK Indonesia merupakan daerah rawan bencana. Memenuhi kebutuhan logistik korban dan petugas diperlukan dapur umum. Dapur umum yang ada umumnya berupa tenda peleton, bangunan yang dijadikan posko, atau mobil yang dimodifikasi. Dapur umum yang ada sifatnya darurat, seadanya dan lokasinya jauh dari lokasi bencana. Dari masalah tersebut perlu desain dapur umum untuk penanggulangan bencana alam, yang bisa memenuhi kebutuhan, baik petugas maupun korban. Dalam mendesain menggunakan metode Pahl dan Beitz dengan langkah-langkah Perencanaan dan penjelasan tugas, Perancangan konsep, Perancangan bentuk, dan Perancangan detail. Pengumpulan data menggunakan metode Individual Questionnaire dan Focus Group Discussion yang hasilnya didapatkan atribut yang diperlukan dalam desain. Hasil dari penelitian berupa desain dapur umum untuk penanggulangan bencana alam yang portable, mudah dirakit dan dibongkar, dan dapat didirikan di lokasi yang beraneka kondisi, mudah dioperasikan, mampu menampung fasilitas dan kebutuhan. Desain dapur umum yang dihasilkan dalam bentuk model tiga dimensi berskala, blue print spesifikasi teknis, dan protoype. Kata kunci: bencana alam, desain, dapur umum, portable.
Kreativitas Siswa Kelas X SMAK ST. Thomas Rasul Pangururan-Samosir pada Opera Batak “Anak Naburju II” Batubara, Junita; Simangunsong, Emmi
PANGGUNG Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i2.174

Abstract

ABSTRACT Opera  Batak  is a traditional  operetta from the Regional  Batak  Toba in Indonesia. This opera was created by Tilhang Gultom  around 1920. Opera Batak  function  rather  than as a forum for cultural expression  of traditional  opera of Regions  Batak  Toba.  At present very rare Opera  Batak  performances due to several factors  are: change  elements  of culture, lack  of work and  opera composers  who create  works of opera in Indonesia particularly  in the Batak  Toba. This study  based on script opera “Anak Naburju  II” performed by students SMAK St. Thomas Rasul in Pangururan  Samosir. The study was conducted  based on qualitative  research. Method in the opera based on the method Alma Hawkins  and ‘methods play a role’ of Hamalik.  Results of this research: to make students  able to act, know and understand  the local culture,  especially Opera Batak so it can be preserved  and continued by the next generation. Keywords: Opera Batak,  Naskah ‘Anak  Naburju  II’, Acting     ABSTRAK Opera Batak merupakan opera tradisional yang bersifat teater keliling yang berasal dari Daerah Batak Toba di Indonesia. Opera ini diciptakan oleh Tilhang Gultom sekitar tahun 1920-an. Fungsi Opera Batak adalah sebagai wadah ekspresi budaya opera tradisional dari Daerah Batak Toba. Pada masa kini sangat jarang ditemui pertunjukan Opera Batak disebabkan beberapa factor di antaranya: perubahan dalam unsur-unsur budaya, kurangnya karya opera dan juga kurangnya komposer yang mencipta karya opera di Indonesia khususnya di Daerah Batak Toba. Penelitian ini berdasarkan naskah opera berjudul “Anak Naburju II” dilaksanakan oleh siswa SMAK St. Thomas Rasul di Pangururan Samosir. Penelitian dilakukan berdasarkan penelitian kualitatif. Metode pembelajaran terhadap peran dalam naskah opera tersebut berdasarkan metode Alma Hawkins dan ‘metode bermain peran’ dari Hamalik. Hasil penelitian ini adalah membuat siswa dapat berakting dan lebih mengenal dan memahami budaya lokal khususnya op- era Batak sehingga opera Batak dapat dilestarikan dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Kata kunci: Opera Batak, Naskah ‘Anak Naburju II’, Akting/peran
Nilai, Makna, dan Simbol dalam Pertunjukan Wayang Golek sebagai Representasi Media Pendidikan Budi Pekerti -, Cahya
PANGGUNG Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i2.170

Abstract

ABSTRACT This paper raises  the issue  of meaning  and values  contained  in a puppet show spectacle purwa as a form  of folk who still has the characteristics ketradisiannya. A puppet show for this is still seated was not just art that entertain spectators, but more than that, a puppet show is able to give meaning and value to the life of society  and culture.Understood as a form  of spectacle,  guidance  and  order,  then  the  puppet show not  only seated  as edhipheni  art, but also  as art bersrata  adhiluhung.  One  characteristic   of these keadhiluhungannya  charges  that have  value  philosophy  of life  that includes  the moral,  reli- gious, ethical and aesthetic.  Such values can be found  in the content  of the play or story pre- sented by puppeteer, through  working on Antawacana  pembendaharaan form (dialog  puppet) in accordance  with the character  and the character  of the puppet.With regard to the charge of those values,  then the form  of a puppet show into  a reality  of life as an inspiring  value of character  education  for social  life and culture. Keywords: puppet, value,  meaning,  manners.     ABSTRAK Tulisan ini mengangkat persoalan makna dan nilai-nilai yang terdapat dalam pertunjukan wayang golek purwa sebagai sebuah bentuk tontonan rakyat yang masih memiliki ciri-ciri ketradisiannya. Pertunjukan wayang golek selama ini masih didudukkan tidak sekadar seni yang menghibur penontonnya, akan tetapi lebih dari itu, pertunjukan wayang golek mampu memberikan makna dan nilai bagi kehidupan bermasyarakat dan berbudaya.Bentuk tulisan ini pun merupakan perasan dari hasil penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan multidisiplin terutama berkaitan dengan nilai kefilsafatan dan estetika pedalangan.Dipahami sebagai sebuah bentuk tontonan, tuntunan, dan tatanan, pertunjukan wayang tidak hanya didudukkan sebagai seni yang  edhipheni, tetapi juga sebagai seni yang bersrata adhiluhung. Salah satu ciri keadhiluhungannya tersebut yaitu memiliki muatan-muatan nilai filosofi kehidupan yang meliputi nilai moral, religi, etika, dan estetik.Nilai-nilai tersebut dapat dijumpai dalam isi lakon atau cerita yang disajikan oleh dalang, melalui pembendaharaan bentuk garap antawacana (dialog wayang) sesuai dengan tokoh dan karakter wayangnya.Adapun hasil atau capaian dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa, pertunjukan wayang golek menjadi sebuah realitas nilai kehidupan sebagai inspirasi pendidikan budi pekerti bagi kehidupan bermasyarakat dan berbudaya. Kata kunci: wayang golek, nilai, makna, budi pekerti.
Semiotika Tanda Verbal dan Tanda Visual Iklan Layanan Masyarakat Tinarbuko, Sumbo
PANGGUNG Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i2.175

Abstract

ABSTRACT This article uses qualitative  research method by describing, interpretating,  and explaining the  connotation  meaning  of public  service  advertisingLater   on it is classified  based on  the sociolinguistics,  pragmatics, visual communication  design, and semiotics theory.The method of semiotics  visual  communication  analysis  is also used as an analysis method for verbal and visual  data. It is used as one of public service advertising  reading  methods do to the tendency to see things,  such as art, culture, social, visual communication design, and public service advertising  as the phenomenon  of language  and sign.It is important to understand the semiotics of visual  communication  theory, because it can be used to enlarging  the imagination,   insight, and  knowledge about  the importance  of under- standing  semiotics  of visual communication,  both on the creation  and designing public service advertising  process or process  of reviewing  the public service advertising object. Practically,  it gives a positive adventage for the advertising  practitioners  or students    at the Department  of Advertising and Visual Communication Design. Keywords: sign, code and meaning  of public service advertising,  semiotics  of visual  communica- tion, verbal message and visual message     ABSTRAK  Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan cara mendeskripsikan, menginterpretasikan, dan menerangkan makna konotasi iklan layanan masyarakat yang kemudian diklasifikasikan berdasarkan pada bangunan teori sosiolinguistik, teori pragmatik, teori desain komunikasi visual, dan teori semiotika.Metode analisis semiotika komunikasi visual juga dimanfaatkan sebagai metode analisis data verbal dan data visual, sebagai salah satu metode pembacaan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) akibat adanya kecenderungan untuk memandang berbagai hal, seperti seni, budaya, sosial, desain komunikasi visual, dan ILM sebagai fenomena bahasa dan tanda.Penguasaan teori semiotika komunikasi visual ini penting karena dapat digunakan sebagai bahan referensi verbal dan visual bagi khalayak untuk memperluas imajinasi, wawasan, dan pengetahuan mengenai pentingnya memahami semiotika komunikasi vi- sual baik dalam proses penciptaan dan perancangan iklan layanan masyarakat maupun proses mengkaji objek iklan layanan masyarakat. Secara praktikal memberikan manfaat yang positif baik bagi praktisi periklanan dan biro iklan pada umumnya maupun civitas akademika Jurusan Periklanan dan Desain Komunikasi Visual pada khususnya. Kata kunci: tanda, kode dan makna iklan layanan masyarakat, semiotika komunikasi visual, pesan verbal, dan pesan visual
Wajah Indo dalam Iklan Tahun 1950an Suwardikun, Didit Widiatmoko
PANGGUNG Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i2.171

Abstract

ABSTRACT 1950s society in Indonesia  was marked by the changing  social  class, at the  time  of the Dutch East Indies, indigenous groups or “inlander”  as the lowest grade. After the independence war a large  number  of indigenous  people shifted  into  top class. That changes  was used  to advertise  the consumer  goods of international   campanies.  How was the  figure  of ideal  model advertised at that time? Through visual analysis  on consumer  goods advertisement  in newspa- pers published in the 1950s as well as an interview to the resource person, it was found that the visualization  of women as a model, were wearing  Indonesian  dress, but the structure  of the face and physical proportions were western  type. Admiration  for the beauty  of western  values   is used as a tool to persuade the target audience, indigenous on new high social class, the women of Indonesia,  especially  in West Java which is famous for the light-skinned girl and a beautiful face. Keywords : eurasian  face, visual persuasion, advertisement.     ABSTRAK Dekade 1950an tatanan masyarakat di Indonesia ditandai dengan berubahnya kelas sosial, pada zaman Hindia Belanda, kelompok pribumi atau “inlander ” sebagai kelas yang paling rendah, setelah perang kemerdekaan sejumlah besar orang pribumi bergeser menjadi kelas paling atas. Perubahan itu dimanfaatkan produsen untuk mengiklankan barang-barang konsumen produksi perusahaan internasional. Bagaimana figur ideal model iklan pada jaman itu? Melalui analisis visual pada iklan barang-barang konsumen di koran dan majalah yang diterbitkan pada tahun 1950an serta wawancara kepada narasumber, ditemukan bahwa visualisasi perempuan sebagai model iklan dengan cara berpakaian Indonesia, tapi struktur wajah dan proporsi tubuh bertipe Barat. Kekaguman terhadap nilai-nilai keindahan Barat digunakan sebagai alat untuk membujuk audiens target iklan, kelas sosial atas yang baru, para wanita Indonesia, khususnya di Jawa Barat yang terkenal dengan para gadis yang berkulit terang dan berwajah cantik. Kata kunci: wajah indo, persuasi visual, iklan koran.
Pertunjukan Wayang Babad Nusantara: Wahana Pengajaran Nilai Kebangsaan bagi Generasi Muda -, Sunardi; Nugroho, Sugeng; -, Kuwato
PANGGUNG Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i2.176

Abstract

ABSTRACT Wayang Babad Nusantara  represents a creation  of a shadow puppet show which  used as a means of transmission  of nationalism  values  towards younger  generations.  This type  of show has the aspect  of innovations  in several  elements  of pakeliran,  which are: the heroic story  of National  heroes’ struggle, the authentic  puppets bas on the reinterpretation  of the figure in the history, a new musical score, and the scene-system with the shadow puppet show structure.  This show is interestingly  wrapped with the story of Gajah Mada. The spirit of these figure  serves as the good example for young  generations  to love their  country.  The  nationalism  value,  which contain  the teaching  of patriotism  and allegiance can build the awareness  of the children  of the nation  so that they will always  love the land  of Indonesia. Keywords: Babad shadow puppet, nationalism  values,  young  generations     ABSTRAK Wayang Babad Nusantara merupakan rekayasa model pertunjukan wayang yang dipergunakan sebagai wahana transmisi nilai-nilai kebangsaan bagi generasi muda. Pertunjukan wayang ini memiliki kebaruan dalam berbagai unsur pakeliran, yaitu: cerita sejarah perjuangan pahlawan bangsa, boneka wayang hasil reinterpretasi dari figur tokoh, musik komposisi baru, dan sistem pengadegan dengan struktur pertunjukan wayang. Pertunjukan wayang ini dikemas secara menarik dengan menyajikan cerita Gajah Mada. Spirit perjuangan tokoh Gajah Mada ini memberikan suri teladan bagi generasi muda untuk selalu cinta tanah air. Nilai kebangsaan yang memuat ajaran mengenai patriotisme dan nasionalisme memberikan kesadaran dan menggugah kesadaran anak bangsa untuk selalu mencintai Tanah Air Indonesia. Kata kunci: wayang babad, nilai kebangsaan, generasi muda
Keberlanjutan dan Perubahan Seni Pertunjukan Kuda Kepang di Sei Bamban, Serdang Bedagai, Sumatera Utara Dewi, Heristina
PANGGUNG Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i2.172

Abstract

ABSTRACT In Serdang  Bedagai  kuda kepang has been living and  developing for a long time.  Kuda kepang has had music, dance and trance performed on wedding party, thanksgivings,  circumsion and celebration days. This research to continuity and changes in kuda kepang performan  in Sei Bamban  subdistrict,  Serdang  Bedagai regency, North Sumateraprovince.  The aim of  this re- search is to analyse  the continuity  and changes.  It uses  qualitative  method. Data collection usages  snow ball samplings  with observation,  interviews  and documentation.  Field  findings show that the continuity  of kuda kepang keeps maintaining  due to the locals remain supporting ang getting  guidance from the community.  The on going changes are the interests  of becoming kuda kepang players  are getting  down. Also,  seeking the players  who want to get tranced  are getting  fewer. For  keeping the survival  of kuda kepang being more attractive  the performers add musical  performance,  play  and  sings. Keywords: kuda kepang, continuity,   trance,  and changes     ABSTRAK Di Serdang Bedagai pertunjukan Kuda Kepang telah lama hidup dan berkembang. Pertunjukan kuda kepang memiliki unsur musik, tari, dan kesurupan. Sampai sekarang kuda kepang masih didukung masyarakat setempat. Kuda kepang ditampilkan pada acara perkawinan, syukuran, sunatan, dan perayaan hari besar. Penelitian terkait dengan keberlanjutan dan perubahan seni pertunjukan kuda kepang di Kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji faktor- faktor penyebab keberlanjutan dan perubahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data memakai teknik snowball sampling  dengan melakukan obse rvasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil te muan lapangan me nunjukkan keberlanjutan kuda kepang dapat terjaga karena masih mendapat dukungan dan pembinaan dari komunitas pendukungnya. Perubahan yang sedang terjadi adalah minat menjadi pemain kuda kepang makin hari menurun. Juga mendapatkan pemain yang mau kesurupan makin sedikit. Untuk memertahankan kelangsungan hidup kuda kepang agar lebih menarik para pemain melakukan penambahan peralatan musik, lakon cerita, dan nyanyian. Kata kunci: kuda kepang, kesurupan, dan perubahan.
Penciptaan Teater Tubuh Supartono, Tony
PANGGUNG Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i2.177

Abstract

ABSTRACT The  process  of creative  of theatrical   body is an offer of renewal  theatre  by exploring and processing  the body, which become the main  key in theatre production.   This paper proposed the design to offer new thinking,  and alternative  thinking.Creative  of theatrical  bodyis a process  of body practice  with the body consciousness  either  as an idea or the body itself  as the idea, the learning  process of the body until get the consciousness  movements which resulted by the body. For  the process of practice  the researcher  called it as “Actor  Body Interrogation”  that is the process of breaking  and re-asking  the problem of actors’  body.Creative  of theatrical  body offers new point  of view about  the body, which not only as the expression media, but the body itself stands  alone as its identity. The body is considered  as the phenomena   which stand  alone and also making relationship to the environment,  spaces, build- ings, vehicles, peoples, even to the society  and their  ideology which dominant.  Therefore, cre- a t i v e  o f  t h e a tr i ca l b o d y i s a p ro ce s s o f  com p l e t e  t h e a t re  b e t we e n a ct o r,  a n d  t h e  b o d y laugaugeinclude its relationship to the society. Keyword:  theatre,  body, body interogation,   public  space     ABSTRAK Proses penciptaan teater tubuh merupakan penawaran pembaharuan teater dengan menggarap dan mengolah tubuh, yang menjadi kunci utama produksi teater. Paper ini mengajukan rancangan untuk menawarkan pikiran-pikiran baru, pikiran-pikiran alternatif. Penciptaan teater tubuh adalah proses latihan tubuh dengan kesadaran tubuh sebagai gagasan atau tubuh itu sendiri sebagai ide, proses belajar pada tubuh sehingga mendapat kesadaran gerak-gerak yang dilahirkan oleh tubuh. Proses latihannya penulis memberi nama “interogasi tubuh aktor ”, yaitu proses membongkar dan mempertanyakan kembali persoalan tubuh aktor.Penciptaan teater tubuh menawarkan pandangan baru tentang tubuh yang bukan sekedar media ungkap tetapi tubuh itu sendiri mandiri sebagai sebuah identitas. Tubuh dipandang sebagai fenomena yang berdiri sendiri tetapi sekaligus melakukan relasi dengan lingkungan: jalan, bangunan, kendaraan, orang-orang dan bahkan seluruh masyarakat dan ideologinya yang sedang dominan. Dengan demikian penciptaan teater tubuh adalah proses teater yang utuh antara aktor   dan bahasatubuh sekaligus relasinya dengan masyarakat. Kata kunci : teater, tubuh, interogasi tubuh, ruang publik.
Wayang dalam Tari Sunda Gaya Priangan Rusliana, Iyus
PANGGUNG Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i2.173

Abstract

ABSTRACT This paper is a study on the potential  of puppet (wayang)  in the scope of Sundanese  culture of  Priangan subculture,  especially  dance.  Formerly  the term  of wayang  means  to call dolls made of wood which  are  played  by a puppeteer (dalang)  in a performance  of puppetry  art or to tell  the story  of its performance,  and  it is also directly  to call the art of Wayang   Golek puppetry. Later, the potential  of wayang affects strongly  to the various  aspects of life which are related  to belief and art, including  to Sundanese  dance of Priangan style. Since  wayang con- sists of religious sense which is implied in the story, thus wayang in Sundanese  dance of Priangan style is not  separated from the mission  or moral  value to the guidance  of life. The emerge of Wayang Wong Priangan  revealed as a dance drama with dialogue carrying  the story of wayang in complete or partly,  and there are always,  conflicts  between the evil wayang  characters  and the ones who extinguish  the evils. Keywords: Priangan subculture, Wayang Dance, Priangan style   ABSTRAK Tulisan ini merupakan kajian terhadap potensi wayang dalam lingkup budaya Sunda subkultur Priangan, khususnya seni tari. Awalnya kata wayang diartikan untuk menyebut boneka dari kayu yang dimainkan dalang dalam pertunjukan seni pedalangan atau untuk menunjukkan ceritanya dalam pertunjukan seni padalangan, dan juga bisa secara langsung untuk menyebut seni padalangan Wayang Golek. Selanjutnya potensi wayang ini berpengaruh kuat ke dalam beberapa aspek kehidupan yang berbau kepercayaan dan juga kesenian, termasuk ke tari Sunda gaya Priangan. Karena wayang mengandung makna religius yang tersirat dalam isi ceritanya, maka wayang dalam tari Sunda gaya Priangan tidaklah lepas dari misi atau pesan moral ke arah tuntunan hidup. Lahirnya Wayang Wong Priangan, terungkap sebagai bentuk dramatari berdialog dengan membawakan cerita wayang secara utuh atau sebagian, dan senantiasa adanya pertentangan antara tokoh wayang yang jahat dengan yang menumpas kejahatan. Kata kunci: subkultur Priangan, Tari Wayang, gaya Priangan
Nilai, Makna, dan Simbol dalam Pertunjukan Wayang Golek sebagai Representasi Media Pendidikan Budi Pekerti -, Cahya
PANGGUNG Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i2.170

Abstract

ABSTRACT This paper raises  the issue  of meaning  and values  contained  in a puppet show spectacle purwa as a form  of folk who still has the characteristics ketradisiannya. A puppet show for this is still seated was not just art that entertain spectators, but more than that, a puppet show is able to give meaning and value to the life of society  and culture.Understood as a form  of spectacle,  guidance  and  order,  then  the  puppet show not  only seated  as edhipheni  art, but also  as art bersrata  adhiluhung.  One  characteristic   of these keadhiluhungannya  charges  that have  value  philosophy  of life  that includes  the moral,  reli- gious, ethical and aesthetic.  Such values can be found  in the content  of the play or story pre- sented by puppeteer, through  working on Antawacana  pembendaharaan form (dialog  puppet) in accordance  with the character  and the character  of the puppet.With regard to the charge of those values,  then the form  of a puppet show into  a reality  of life as an inspiring  value of character  education  for social  life and culture. Keywords: puppet, value,  meaning,  manners.     ABSTRAK Tulisan ini mengangkat persoalan makna dan nilai-nilai yang terdapat dalam pertunjukan wayang golek purwa sebagai sebuah bentuk tontonan rakyat yang masih memiliki ciri-ciri ketradisiannya. Pertunjukan wayang golek selama ini masih didudukkan tidak sekadar seni yang menghibur penontonnya, akan tetapi lebih dari itu, pertunjukan wayang golek mampu memberikan makna dan nilai bagi kehidupan bermasyarakat dan berbudaya.Bentuk tulisan ini pun merupakan perasan dari hasil penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan multidisiplin terutama berkaitan dengan nilai kefilsafatan dan estetika pedalangan.Dipahami sebagai sebuah bentuk tontonan, tuntunan, dan tatanan, pertunjukan wayang tidak hanya didudukkan sebagai seni yang  edhipheni, tetapi juga sebagai seni yang bersrata adhiluhung. Salah satu ciri keadhiluhungannya tersebut yaitu memiliki muatan-muatan nilai filosofi kehidupan yang meliputi nilai moral, religi, etika, dan estetik.Nilai-nilai tersebut dapat dijumpai dalam isi lakon atau cerita yang disajikan oleh dalang, melalui pembendaharaan bentuk garap antawacana (dialog wayang) sesuai dengan tokoh dan karakter wayangnya.Adapun hasil atau capaian dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa, pertunjukan wayang golek menjadi sebuah realitas nilai kehidupan sebagai inspirasi pendidikan budi pekerti bagi kehidupan bermasyarakat dan berbudaya. Kata kunci: wayang golek, nilai, makna, budi pekerti.

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue