cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : -
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue " Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art" : 18 Documents clear
Reog Bulkiyo Dance Learning to Increase Student Patriotism Values in Madrasah Tsanawiyah Sunan Ampel Doko Blitar Regency Saraswati, Ayu Ridho; Narawati, Tati
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.274

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Kesundaanyaitucageur, bageur, bener, pinter, singer yang telah luput dari kehidupan siswa. Terkikisnya nilai-nilai budaya lokal menimbulkan permasalahan, yaitu degradasi karakter yang dipengaruhi oleh lemahnya etika dan estetika.Penelitian ini terdiri atas dua tahapan, yaitu mengkaji tari dengan menggunakan Teori Etnokoreologi yang dibantu dengan pendekatan Etnopedagogik dan Folklor, serta implementasi pembelajaran dengan menggunakan Teori Lickona dan Gardner. Hasil kajian tari memperoleh nilai-nilai yang berkenaan dengan nilai cageur, bageur, bener, pinter, tur singer yang kemudian diimplementasikan melalui sebuah pembelajaran tari etnis yaitu Tari Pakujajar dengan menggunakan model pembelajaran sinektik.Penelitian ini menggunakan metode penelitian Action Research dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan proses yang telah dilakukan, terjadi peningkatan yang signifikan yang dibuktikan dengan meningkatnya daya imajinasi serta pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dan sikap siswa yang peduli serta saling menghormati baik pada guru maupun antar sesamanya. Dengan demikian, penelitian ini menghasilkan model pembelajaran tari etnis.Kata Kunci :Nilai-nilai Kesundaan, Tari Pakujajar, Implementasi Pembelajaran Tari ABSTRACTThis research aims to inculcate the Kesundaan’s values that is cageur, bageur, bener, pinter,singer that have been disappeased from life of students. The erosion of local cultural values creates problems, as well as character degradation that influenced by the weakness of ethics and aesthetics. This research consist of two steps, that is review the dance by using Etnochooreology Theory with Etnopedagogy approach and Folklore, while the implementation of dance learning using Lickona and Gardner Theory. The results of dance studies obtain the values contained inside it, with pertains to cageur, bageur, bener, pinter, tur singer and these values are implemented through an ethnic dance learning that is Pakujajar Dance by using sinektik learning model. This research uses Action Research method with qualitative approach. Based on the process that have been done, there is a significant increase that is shown by the increasing the imagination power and understanding of studentsto the subject matter, and student’s attitudes who care and mutual respect both of teachers and each other. Thus, this research produces the ethnic dance learning model.Keyword : Kesundaan’s Values, Pakujajar Dance, Implementation of Dance Learning
The Relevance of Budug Basu Play with Fishermans Life In Panjunan Village Cirebon Nurdin, Rusman
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.279

Abstract

Abstract Intellectual property locality in inheritance between generations continues to this day, one of which is a play BudugBasu. Performing this play still appear in every activity of the indigenous fishing tradition in the village PanjunanLemahwungkukSubdistrict Municipality of Cirebon, his presence in the ceremony Nadran. Nadran events, is interrupting daily activities of fishermen in the source of life (matapencaharian) Based on the concept ritual of Victor Turner in a liminal - Liminoid. Liminoid concept in industrial societies (urban), with a busy industrial society continue to perform the ceremony in the groove work, play and leisure. This condition is a meeting point in the aspect of social life Fishermen today. Ethnographic methods with technical approaches literature study, observation and interviews as the process of collecting data in the field. The results obtained that, Nadran ceremony is an expression of thanksgiving to dikontruksi expression as the events of happiness, joy and catharsis, once created space, time and place in sakralitas embodiment phenomena.Keyword: Intellectual property locality, Lokon Budug Basu and symbolAbstrakKekayaan intelektual lokalitas dalam pewarisan antar generasi terus berlangsung sampai saat ini, salah satunya adalah lakon Budug Basu. Pertunjukan lakon ini tetap tampil dalam setiap kegiatan adat tradisi nelayan di Desa Panjunan Kecamatan Lemahwungkuk Kota Madya Cirebon, kehadirannya dalam pelaksanaan upacara Nadran. Peristiwa Nadran, merupakan interupsi aktivitas keseharian nelayan dalam sumber kehidupannya (mata pencaharian)Bertitik tolak dari konsep ritual Victor Turner dalam Liminal – Liminoid. Konsep Liminoid dalam masyarakat industri (urban), masyarakat industri dengan kesibukannya tetap melaksanakan upacara dalam alur bekerja, bermain dan waktu luang. Kondisi ini menjadi titik temu dalam aspek kehidupan sosial Nelayan saat ini.Penelitian ini menggunakan metode Etnografi dengan pendekatan teknis studi kepustakaan, observasi dan wawancara sebagai proses untuk pengumpulan data-data di lapangan. Hasil penelitian menjelaskan bahwa upacara Nadran merupakan ungkapan ekspresi syukur dengan dikontruksi sebagai peristiwa kebahagian, kegembiraan dan katarsis, sekaligus menciptakan ruang, waktu dan tempat dalam fenomena perwujudan sakralitas.Kata kunci: kekayaan intelektual lokalitas, Lakon Budug Basu dan Simbol Sakralitas 
Katoneng-Katoneng Cawir Metua: A Cultural Expression of Karo Society Sembiring, Bebas; Naiborhu, Torang
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.275

Abstract

ABSTRACT Katoneng-katoneng is a traditional song of Karo ethnic in North Sumatera composed spontaneously using repetitive melody with different lyrics depend on the context and situation (strophic logogenic). Used in various social and cultural activities of Karo society, one of them is for the cawir metua ritual (the death of a person deemed to have been in accordance with the ideals and expectances of Karo society).This research reviewed the textual signification of Katoneng-katoneng as the cultural expression of the owner society by using the art theory (performing art), ethnomusicology, semiotic, and anthropology. Field data collected by direct observation, interview, and recording. Qualitative method used by defining key informant, including traditional figure, sierjabaten (musician), perkolong-kolong (katoneng-katoneng singer) and user society.The result shows katoneng-katoneng is the expression of various things: messages and advices, prayer, expectance, ideals, exemplary, life persistence, cooperation values, purpose of life, and others; delivered by perkolong-kolong professional singer represents those who have died and the elements of sangkep nggeluh (rakut sitelu) relatives by singing. The significance of the texts refer to culture ideals and concepts of Karo society.Keywords: katoneng-katoneng, cawir metua, sierjabaten, perkolong-kolong, sangkep nggeluh (rakut sitelu) ABSTRAK Katoneng-katoneng adalah nyanyian tradisional etnik Karo di Sumatera Utara yang diciptakan secara spontan menggunakan melodi tetap namun dengan teks baru sesuai situasi dan konteksnya (strophic logogenic). Digunakan dalam berbagai aktivitas sosial budaya masyarakat Karo, salah satunya ialah pada upacara cawirmetua (kematian seseorang yang dipandang telah sesuai dengan cita-cita dan harapan masyarakat Karo). Penelitian ini mengkaji fungsi dan makna tekstual katoneng-katoneng sebagai ekspresi kultural masyarakat pemiliknya dengan menggunakan teori kesenian (seni pertunjukan), etnomusikologi, semiotika, dan antropologi. Pengumpulan data lapangan dilakukan melalui pengamatan langsung, wawancara, dan perekaman. Menggunakan metode kualitatif dengan informan kunci yaitu tokoh adat, sierjabaten (pemusik), perkolong-kolong (penyanyi katoneng-katoneng) dan masyarakat pemiliknya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa katoneng-katoneng adalah ungkapan tentang berbagai hal: pesan-pesan dan nasehat, do’a, harapan, cita-cita, keteladanan, keteguhan hidup, nilai-nilai kegotong-royongan, tujuan hidup di dunia, dan lainnya yang disampaikan oleh penyanyi professional perkolong-kolong mewakili orang yang meninggal dan unsur-unsur kerabat sangkep nggeluh (rakut sitelu) dengan cara bernyanyi. Fungsi dan makna teks mengacu kepada cita-cita dan konsep-konsep budaya Karo.Kata kunci: katoneng-katoneng, cawir metua, sierjabaten, perkolong-kolong, sangkep nggeluh (rakut sitelu). 
The Symbolic Meanings of Toraja Carving Motifs Salam, Sofyan; Husain, Muh. Saleh Husain; Tangsi, Tangsi
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.280

Abstract

ABSTRACTThe study on the symbolic meaning of the Toraja ornamental design was conducted in a traditional wood-carver community at Tonga, Kesu District of North-Toraja Regency. The study question was stimulated by the fact that, nowadays, there are no more wood-carver teachers with tomanarang status (expert in Toraja culture) at Tonga and surrounding areas as there were happened in the past. The method of this study was survey by using indept-interviews technique. The interview was conducted with the traditional wood-carvers at Tonga. The result of study explained that the traditional wood-carvers at Tonga have a meager understanding on the symbolic meaning of the Toraja ornamental-designs. This lack of understanding is caused by the traditional wood-carvers’ view that it is not neccessary to understand the symbolic meaning of the toraja ornamental designs. For them, technical skills in wood-carving are more important to be mastered. The results of the research indicate the occurence of value orientation changes of Toraja wood-carvers.Key words: Wood-carving, symbolic meanings, Toraja ornamental design.ABSTRAKPenelitian makna simbolik motif hias ukir Toraja ini dilaksanakan di sebuah komunitas pengukir-kayu tradisional di Tonga Kecamatan Kesu Kabupaten Toraja-Utara.Pertanyaan penelitian dipicu oleh kenyataan tidak adanya lagi pengukir-kayu yang berstatus tomanarang(ahli ukir dan sekaligus ahli budaya Toraja) di Tonga dan daerah sekitarnya yang berfungsi sebagai guru-ukir sebagaimana yang terjadi pada masa lalu. Metode penelitian ini adalah survey dengan menggunakan teknik wawancara mendalam. Wawancara dilakukan terhadap pengukir-kayu tradisional Toraja yang bermukim di Tonga. Hasil penelitian ini menjelaskan para pengukir-kayu tradisional di Tonga memiliki pemahaman yang amat kurang terhadap makna simbolik dari motif-hias ukir-kayu tradisional Toraja. Kurangnya pemahaman ini disebabkan oleh karena pengukir menganggap tidak perlu memahami makna simbolik tersebut. Bagi mereka, yang perlu dimiliki adalah kemampuan teknis dalam membuat ukiran-kayu. Temuan penelitian ini menunjukkan telah terjadinya perubahan orientasi nilai dari pengukir-kayu tradisional Toraja.Kata kunci: Seni ukir-kayu, makna simbolik, motif hias Toraja
The Art Creation in the Traditional Art Area Nimita, Esthi; Yundari, Mustika
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.276

Abstract

ABSTRACTThis article discusses the concept of creating a work of art within a traditional framework. Therefore we need to understand how a work of art was created in the context of tradition, and the difference with the creation of art in the modern world. This article also a discourse on what is actually called a traditional art, and the distiction between traditional art and modern art. In this case, the example is a tradisional dance of Java. The choice is in the hand of the artist, or an art connoisseur nevertheless, through a deeper understanding of the traditional arts and how it was created, so a person may have perspective about life, and the conjunction with God.Keywords:Art, Traditional Art, Modern Art, Creation Process, Flow, TaksuABSTRAKArtikel ini membahas konsep penciptaan suatu karya seni, dalam lingkup seni tradisional. Persoalan yang diangkat mengenai perlunya kita memahami bagaimana sebuah karya seni itu diciptakan dalam konteks tradisi, dan apa bedanya dengan penciptaan karya seni pada konteks modern, dengan pembahasan apa itu seni tradisional dan apa itu seni modern.Dalam hal ini, kebetulan yang dicontohkan adalah seni tari tari tradisi Jawa. Pilihan memang ada ditangan seniman atau penikmat seni,namun dengan memahami secara lebihdalam apa itu seni tradisional dan bagaimana karya seni tradisional itu diciptakan, maka seseorang dapat memiliki perspektif yang lebih baik mengenai hidup, kehidupan, dan hubungannya dengan Sang Pencipta.Kata Kunci:Seni, Seni Tradisional, Seni Modern, Proses Penciptaan, Flow, Taksu. 
Rhythm and Tempo Learning Through The Use of Recorder with Behavioristic Approach (A Case Study In Class V-C At YWKA Bandung Elementary School) Purnomo, Try Wahyu
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.281

Abstract

Abstrak Ritme dan tempo merupakan unsur musik yang sangat penting untuk dipahami peserta didik. Pendekatanbehavioristik melalui pembelajaran rekorder yang dibarengi dengan pemahaman terhadap unsur musik (ritme dan tempo) merupakan tindakan untuk membantu mencapai hasil belajar yang lebih baik. Penelitian ini merupakan penelitian evaluatif yang bertujuan untuk merancang, menyempurnakan, dan menguji pelaksanaan pembelajaran. Program pembelajaran yang dirancang merupakan strategi untuk membantu keterampilan peserta didik dalam bermain rekorder serta memahami unsur ritme dan tempo.Seluruh data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif. Konsep ritme dan tempo diberikan malalui latihan tepuk tangan dan tepuk paha serta mengaplikasikan konsep ritme kedalam bentuk notasi balok. Selanjutnya teknik tiup biasa, legato dan stacato serta pencapaian terhadap nada tinggi (C”-G”) dalam memainkan rekorder juga menjadi tujuan dalam pembelajaran ini. Pemberian penguatan (reinforcement) secara searah dan terkontrol melalui pengulangan dan latihan terhadap bentuk perilaku ternyata dapat mencapai tujuan pembelajaran.Peserta didik dapat mempraktikkan konsep ritme yang diaplikasikan kedalam simbol notasi dan selanjutnya secara keseluruhan peserta didik dapat memainkan variasi melodi yang dibentuk oleh peneliti ke dalam media rekorder dengan tempo yang tepat.Kata kunci: ritme dan tempo, rekorder, behavioristik.Abstract Rhythm and tempo are the most important musical elements that students should understand. Behaviouristic approach through recorder learning accompanied by the understanding of the musical elements (i.e. rhythm and tempo) refers to an action performed to increase a better result of learning. This study, classified as evaluative study, aims at designing, perfecting, and testing the running of learning program.The design program is defined as a strategy functions to help students play recorder as well as understand the elements of rhythm and tempo. The collected data are analysed descriptively. The concepts of rhythm and tempo are given through the practices of hands and thighs claps; the rhythm concept is also implemented in the form of notation. Furthermore, the common inflatable techniques- namelylegato andstacato-and the achievement of high pitch (C”-G”) in playing recorder are considered as the other aims of this study. Directed and controlled reinforcement through repetitions and practices towards behavioural form, in fact, can achieve the learning goals. The students can practice the rhythm concept by implementing it into notation symbols and after that, the students can completely play variety of melodies which have been formed by the researcher into recorder in a high tempo.Keywords: rhythm and tempo, recorder, behaviouristic
The Traditional Art of Terebang Gebes in Mikanyaah Munding Culture Gunardi, Gugun; Ampera, Taufik; Yunasaf, Unang
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.277

Abstract

ABSTRAKKonservasi Budaya Lokal Mikanyaah Munding sebagai Landasan Village Breeding Center Kerbau adalah penelitian yang dilaksanakan oleh kami terkait dengan bentuk penangkaran kerbau berbasis budaya tradisional, yang dilaksanakan di Desa Cikeusal-Tasikmalaya. Di dalam budaya “Mikanyaah Munding” juga ternyata terdapat pelestarian berbagai seni tradisi Sunda, diantaranya adalah Seni Terbang Gebes. Dalam tulisan ini digunakan metode penelitian kualitatif dengan kajian etnografi, sedangkan teknik pengumpulan data digunakan teknik wawancara. Dari pembahasan hasil penelitian diperoleh antara lain; sistem penangkaran kerbau berbasis budaya lokal Mikanyaah Munding, yang di dalamnya terdapat; kebiasaan masyarakat setempat di dalam memperlakukan ternak kerbau, kosa kata khusus terkait dengan peternakan kerbau, hajat lembur yang ada hubungannya dengan peternakan kerbau, dan berbagai bentuk kesenian tradisional Sunda yang dilaksanakan dalam rangka budaya Mikanyaah Munding. Dalam artikel ini akan dibahas salah satu kesenian terkait, yaitu Seni Terbang Gebes.Kata Kunci: Budaya, Mikanyaah-Munding, Seni Terbang GebesABSTRACTConservation of local culture “Mikanyaah Munding” (or Nurturing Buffalos) as the base of Village Breeding Center of “Kerbau” is a research done on traditional “kerbau” breeding in Cikeusal, Tasikmalaya. “Mikanyaah Munding” reserve a variety of Sundanese traditional art performance, one of which is “Seni Terbang Gebes”. This essay uses qualitative method involving ethnography as its perspective. The data is collected from interviews. Our findings from analysis are: the habit of locals in treating their buffalos; specific vocabulary on breeding; festivities in relation to breeding and all kinds of Sundanese traditional art performance included in “Mikanyaah Munding”. This essay discusses one of its art performance, “Seni Terbang Gebes”.Keywords: Culture, Mikanyaah Munding, Seni Terbang Gebes 
“Wayang Kreatif” Performance of Teater Koma and Its Audience Nalan, Arthur Supardan
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.273

Abstract

ABSTRAK Teater Koma merupakan teater modern yang berhasil bertahan selama 40 tahun, dari tahun 1977 sampai sekarang. Perjalanan yang cukup panjang, mendudukkan Teater Koma sebagai teater yang mampu menyajikan pelbagai lakon teater, baik yang berasal dari para dramawan dan sastrawan dunia maupun yang hasil ciptaan sendiri oleh Riantiarno, sebagai pendiri utamanya. Salah satu kumpulan lakon ciptaan Riantiarno adalah lakon-lakon wayang yang dikemas dengan sebutan wayang kreatif. Pertunjukan wayang kreatif Teater Koma ini menjadi objek material yang dipilih untuk didekati dengan paradigma sosiologi seni dan komunikasi seni teater. Pendekatan yang digunakan adalah teori sosiologi seni dari Arnold Hauser dan teori komunikasi efektif dari Gudy Kunst. Adapun hasilnya dapat ditemukan bahwa Teater Koma sebagai teater rakyat perkotaan telah memberikan apresiasi seni kepada publiknya dengan menjalin relasi kepada publiknya melalui berbagai cara, termasuk dengan memanfaatkan media sosial, misalnya memesan tiket secara online. Selain itu, publiknya yang berasal dari segala lapisan masyarakat di Jakarta telah pula dihibur melalui humor-humor kritis yang terdapat dalam setiap pertunjukan wayang kreatif tersebut. Tindakan tersebut membawa interaksi yang berlangsung terus menerus dengan publiknya, sehingga membangun publik yang fanatik terhadap Teater Koma. Kata kunci: Teater Koma, teater rakyat perkotaan, wayang kreatif, publikABSTRACT Teater Koma is a modern theatre, which has been existing for 40 years since 1977 until today. The group has successfully performed various plays, both wri! en by the world playwrights and by Riantiarno himself as the main founder, an actor, and a play writer. Some of the Riantiarno’s plays are puppet plays called wayang kreatif (a creative puppet). The wayang kreatif performance of Teater Koma is the material object of this study, which is approached by the paradigm of the sociology of art and the communication of theatre arts, especialy by applying the theory of Arnorld Hauser’s sociology of art and Gudykunst’s effective communication theory. The result shows that Teater Koma as an urban folk theatre has been serving its audience with its variety shows promoted through diff erent media, including by utilizing social media, such as booking the ticket online to reach wider audiences. Moreover, its audiences come from diff erent levels of social classes in Jakarta, and they were entertained by sarcastic humors contained in the wayang kreatif performance. These activities maintain the continous interaction between the group and its audiences, so that the grup builds its loyal audiences. Keywords: Teater Koma, urban folk theatre, wayang kreatif, communication, audiences
Sundanese Karawitan and Modernity Rudiana, Mohamad
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.278

Abstract

ABSTRAKKarawitan sebagai seni tradisi hingga saat ini masih digemari masyarakat. Pada konteks keberadaannya di dalam masyarakat sekarang, seni tradisi dihadapkan semacam paradoks. Disatupihak, untuk bertahan hidup membutuhkan daya tarik dan pesona, berupa inovasi-inovasi kreatif yang bersumber dari tradisi itu sendiri; di pihak lain, melakukan perubahan dan inovasi dari tradisi samaartinya dengan menghapus tradisi itu sendiri, karena tradisi tidak mentolelir transformasi.Metode yang digunakan pada penelitian ini bersifat kualitatif dengan landasan berfikir fenomenologis interpretif yang berorientasi pada kebenaran yang bersifat subjektif dari sumber penelitian. Pengumpulan data denganmenggunakan wawancara mendalam (in-depth interview)merupakan pengumpulan data utamadalam penelitian ini.Saat ini ada kecenderungan proses kombinasi baru antarseni tradisi dengan seni modern. Modernisasi bukan untukdihindari, melainkan harus dimanfaatkan untuk memutakhirkan keseniantradisional.Upaya ini sebenarnya penyiasatan agar kesenian tradisional tetap bertahan.Banyak kesenian tradisional yang dapat bertahan justru karena mengikuti arusmodernisasi dan globalisasi itu.Katakunci: Karawitan, SeniTradisi Sunda, InovasiABSTRACTThough Karawitan as a traditional art form in general has always been still quite popular within the communities. Contextually, there is a paradox within the presence of these traditional art forms in todays society. Traditional art in order to survive in the modern world, in the form of creative innovations that come from the tradition itself; on the other hand, changes and improvements of the same tradition is in fact obliterating the tradition itself, because tradition does not tolerate transformation.The method used in this research is qualitative with phenomenological interpretive thinking runway, oriented to the subjective nature of truth from research sources. Collecting data using in-depth interviews (in-depth interviews) is the main data collection in this study.Nowadays there is a tendency among the new combination of traditional arts with modern art. Modernization becomes not to be avoided, it should be used to update the traditional arts. These efforts actually work around in order to survive the traditional arts. Many traditional arts to survive precisely because the flow of modernization and globalization.Keywords: Karawitan, Traditional Art, Innovation
Rhythm and Tempo Learning Through The Use of Recorder with Behavioristic Approach (A Case Study In Class V-C At YWKA Bandung Elementary School) Purnomo, Try Wahyu
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1041.364 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.281

Abstract

Abstrak Ritme dan tempo merupakan unsur musik yang sangat penting untuk dipahami peserta didik. Pendekatanbehavioristik melalui pembelajaran rekorder yang dibarengi dengan pemahaman terhadap unsur musik (ritme dan tempo) merupakan tindakan untuk membantu mencapai hasil belajar yang lebih baik. Penelitian ini merupakan penelitian evaluatif yang bertujuan untuk merancang, menyempurnakan, dan menguji pelaksanaan pembelajaran. Program pembelajaran yang dirancang merupakan strategi untuk membantu keterampilan peserta didik dalam bermain rekorder serta memahami unsur ritme dan tempo.Seluruh data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif. Konsep ritme dan tempo diberikan malalui latihan tepuk tangan dan tepuk paha serta mengaplikasikan konsep ritme kedalam bentuk notasi balok. Selanjutnya teknik tiup biasa, legato dan stacato serta pencapaian terhadap nada tinggi (C”-G”) dalam memainkan rekorder juga menjadi tujuan dalam pembelajaran ini. Pemberian penguatan (reinforcement) secara searah dan terkontrol melalui pengulangan dan latihan terhadap bentuk perilaku ternyata dapat mencapai tujuan pembelajaran.Peserta didik dapat mempraktikkan konsep ritme yang diaplikasikan kedalam simbol notasi dan selanjutnya secara keseluruhan peserta didik dapat memainkan variasi melodi yang dibentuk oleh peneliti ke dalam media rekorder dengan tempo yang tepat.Kata kunci: ritme dan tempo, rekorder, behavioristik.Abstract Rhythm and tempo are the most important musical elements that students should understand. Behaviouristic approach through recorder learning accompanied by the understanding of the musical elements (i.e. rhythm and tempo) refers to an action performed to increase a better result of learning. This study, classified as evaluative study, aims at designing, perfecting, and testing the running of learning program.The design program is defined as a strategy functions to help students play recorder as well as understand the elements of rhythm and tempo. The collected data are analysed descriptively. The concepts of rhythm and tempo are given through the practices of hands and thighs claps; the rhythm concept is also implemented in the form of notation. Furthermore, the common inflatable techniques- namelylegato andstacato-and the achievement of high pitch (C”-G”) in playing recorder are considered as the other aims of this study. Directed and controlled reinforcement through repetitions and practices towards behavioural form, in fact, can achieve the learning goals. The students can practice the rhythm concept by implementing it into notation symbols and after that, the students can completely play variety of melodies which have been formed by the researcher into recorder in a high tempo.Keywords: rhythm and tempo, recorder, behaviouristic

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue