cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : -
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni" : 20 Documents clear
Koreografi Wayang Wong ‘Rahwana Wirodha’ -, Samsuri
PANGGUNG Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.142

Abstract

ABSTRACT This paper is a choreographic aesthetic study which analyzes dance creation as a form of academ- ic study. The character of Rahwana Wirodha is performed in Wayang Wong choreography which is taken from a part of Ramayana story. This study aims to affirm that in creative activity, a choreogra- pher may use any materials as sources of creation, including traditional arts. The result of the study shows that the materials in tradition are not the goal, but the medium to express creative ideas. Keywords: choreography, Wayang Wong  ABSTRAK Tulisan ini merupakan kajian estetis koreografis yang mengupas penciptaan tari seba- gai bentuk kajian akademis. Karakter Rahwana Wirodha ditampilkan dengan koreografi Wayang Wong yang diambil dari penggalan kisah Ramayana. Kajian ini bertujuan untuk menegaskan bahwa dalam aktifitas kreatif, seorang koreografer dapat menggunakan ma- teri apa pun sebagai sumber kreasi, termasuk seni tradisi. Hasil kajian menunjukkan bahwa materi yang sudah ada dalam tradisi merupakan sarana untuk mengungkapkan ide kreatif, bukan merupakan tujuan. Kata kunci: koreografi, Wayang Wong  
Demonisasi Islam dalam Film ‘Tanda Tanya (?)’ Ritonga, Rajab
PANGGUNG Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.138

Abstract

ABSTRACT ‘Tanda Tanya (?)’ movie has become an Indonesian cinematic work with some controversies complement with it. The controversies lie on how the movie constructed their messages related to the description of Islamic image. The Islamic image which is depicted in this movie contains several sym- bols which created a demonization on the construction of Islam and Moslem. The narrative theory that has been employed focuses on greimas actantial analysis models which emphasizes on how the narrative creates a story and how the story becomes a narrative discourse. The semiotic analysis used on this research is in term of constructivist perspective which aims at constructing the phenomena as a whole answer. The result of the research is that demonization of Islam has been constructed through the narrative sequences of ‘Tanda Tanya’. The movie depicted Islam in an image of traditional, un- civilized, terrorism, destructive, and aggressive community. This created a meaning of Islam as a negative and demonic community, religion, and value. Keywords: demonization, Islam, narrative  ABSTRAK Film ‘Tanda Tanya (?)’ merupakan sebuah karya cinema Indonesia yang mengundang banyak kontroversi. Kontroversi terletak pada bagaimana film ini mengkonstruksikan pesan-pesannya terkait penggambaran citra Islam. Citra Islam yang digambarkan dalam film ini mengandung simbol-simbol yang menciptakan sebuah demonisasi pada kon- struksi Islam dan muslim. Dalam penelitian ini teori naratif digunakan sebagai alat un- tuk memberikan gambaran tentang fenomena demonisasi. Teori naratif yang digunakan berfokus pada model analisis aktansial greimas yang menitikberatkan bagaimana naratif menciptakan sebuah cerita dan bagaimana cerita menjadi sebuah wacana naratif. Analisis semiotik yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan penggunaan dalam paradigma konstruktivis yang bertujuan mengkonstruksi fenomena sebagai sebuah jawaban. Temuan penelitian ini ialah demonisasi umat Islam dikonstruksikan melalui sekuen/babakan nara- tif dalam film ‘Tanda Tanya’. Film ini menggambarkan Islam dalam sebuah citra masyara- kat yang tradisional, tidak beradab, teroris, merusak, dan agresif. Ini menciptakan suatu pemaknaan Islam sebagai masyarakat, agama, dan nilai yang demonik dan negatif. Kata kunci: demonisasi, Islam, naratif
Gending Karesmen: Teater Tradisional Ménak di Priangan 1904-19421 Abdulah, Tatang; Hidayat, I. Syarief; Hardjasaputra, A. Sobana; Sumardjo, Jakob
PANGGUNG Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.143

Abstract

ABSTRACT This paper analyzes Gending Karesmen that had been living and developing in Priangan, cen- tered in Bandung City, in 1904 to 1942. Gending Karesmen emerged as Tunil Tembang which came up in 1904. In the begining, the performance of Tunil Tembang was plain and simple, then it gradu- ally became more complex and specific. The story, dance, music, and performance were established. The music became dominant factor related to the song (tembang) performed by the player in every dialog expression. Gending Karesmen grew well, almost without any hindrance, because it was sup- ported by the local officials (e.g. Bupati) and intellectuals. It was also because of the socio culture, economic and politic atmosphere in Priangan that were conducive in that period. Keywords: Gending Karesmen, Ménak Traditional Theater  ABSTRAK Tulisan ini menganalisis tentang Gending Karesmen yang hidup dan berkembang di Priangan, yang berpusat di Kota Bandung, pada tahun 1904-1942. Gending Karesmen mun- cul sebagai Tunil Tembang yang berkembang pada tahun 1904. Pada mulanya pertunjukan Tunil Tembang itu polos dan sederhana, kemudian secara bertahap menjadi lebih kompleks dan spesifik. Cerita, tarian, musik, dan pertunjukannya menjadi berkembang. Musiknya menjadi faktor dominan yang berhubungan dengan lagu (tembang) yang dimainkan oleh pemainnya dalam setiap ekspresi dialog. Gending Karesmen berkembang dengan baik, hampir tidak ada hambatan, karena didukung oleh para pejabat setempat (misalnya Bu- pati) dan intelektual. Hal ini juga dikarenakan sosial budaya, suasana ekonomi dan politik di Priangan yang kondusif pada periode tersebut. Kata kunci: Gending Karesmen, Teater Tradisional Ménak
Demonisasi Islam dalam Film ‘Tanda Tanya (?)’ Ritonga, Rajab
PANGGUNG Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.139

Abstract

ABSTRACT ‘Tanda Tanya (?)’ movie has become an Indonesian cinematic work with some controversies complement with it. The controversies lie on how the movie constructed their messages related to the description of Islamic image. The Islamic image which is depicted in this movie contains several sym- bols which created a demonization on the construction of Islam and Moslem. The narrative theory that has been employed focuses on greimas actantial analysis models which emphasizes on how the narrative creates a story and how the story becomes a narrative discourse. The semiotic analysis used on this research is in term of constructivist perspective which aims at constructing the phenomena as a whole answer. The result of the research is that demonization of Islam has been constructed through the narrative sequences of ‘Tanda Tanya’. The movie depicted Islam in an image of traditional, un- civilized, terrorism, destructive, and aggressive community. This created a meaning of Islam as a negative and demonic community, religion, and value. Keywords: demonization, Islam, narrative  ABSTRAK Film ‘Tanda Tanya (?)’ merupakan sebuah karya cinema Indonesia yang mengundang banyak kontroversi. Kontroversi terletak pada bagaimana film ini mengkonstruksikan pesan-pesannya terkait penggambaran citra Islam. Citra Islam yang digambarkan dalam film ini mengandung simbol-simbol yang menciptakan sebuah demonisasi pada kon- struksi Islam dan muslim. Dalam penelitian ini teori naratif digunakan sebagai alat un- tuk memberikan gambaran tentang fenomena demonisasi. Teori naratif yang digunakan berfokus pada model analisis aktansial greimas yang menitikberatkan bagaimana naratif menciptakan sebuah cerita dan bagaimana cerita menjadi sebuah wacana naratif. Analisis semiotik yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan penggunaan dalam paradigma konstruktivis yang bertujuan mengkonstruksi fenomena sebagai sebuah jawaban. Temuan penelitian ini ialah demonisasi umat Islam dikonstruksikan melalui sekuen/babakan nara- tif dalam film ‘Tanda Tanya’. Film ini menggambarkan Islam dalam sebuah citra masyara- kat yang tradisional, tidak beradab, teroris, merusak, dan agresif. Ini menciptakan suatu pemaknaan Islam sebagai masyarakat, agama, dan nilai yang demonik dan negatif. Kata kunci: demonisasi, Islam, naratif
Perayaan Tabuik dan Tabot: Jejak Ritual Keagamaan Islam Syi’ah di Pesisir Barat Sumatra -, Asril
PANGGUNG Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.144

Abstract

ABSTRACT This paper discusses the origin of Tabuik and Tabot ceremonies in Sumatera which possess influ- ence from religious ceremony of Syiah community in Persia (Iran). The aim of the research is to figure out the acculturation which has occurred between the Arabian (Middle East) and local cultures. The research uses analytic descriptive method through literature study. The result of the research shows that Tabuik and Tabot ceremonies are carried out as a ritual to commemorate the death of Husein in Syiah community which has become theological religious main ritual, and its spread to the west coast Sumatera (Pariaman and Bengkulu) has changed the theological value into cultural ritual, even in some cases it only becomes a cultural performance. Keywords: Tabuik and Tabot ceremony, religious ritual    ABSTRAK Tulisan ini membahas tentang asal-usul perayaan Tabuik dan Tabot di Sumatera yang mendapat pengaruh dari ritual keagamaan kaum Syi’ah di Persia (Iran). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana akulturasi yang terjadi antara pengaruh budaya jazirah Arab (Timur Tengah) tersebut dengan budaya lokal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pera- yaan Tabuik dan Tabot dilaksanakan sebagai ritual mengenang kematian Husain di kalang- an penganut Islam Syi’ah yang menjadi ritual utama keagamaan yang bersifat teologis, dan penyebarannya ke pantai Barat Sumatra (Pariaman dan Bengkulu) mengalami  perubahan nilai dari teologis menjadi bentuk ritual budaya, bahkan dalam beberapa kesempatan ha- nya  menjadi pertunjukan budaya saja. Kata kunci: upacara Tabuik danTabot, ritual keagamaan
Sandiwara Sunda sebagai Bentuk Transmisi Nilai bagi Generasi Muda Dwimarwati, Retno; Wita, Afri
PANGGUNG Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.140

Abstract

ABSTRACT Character education is nowadays being promoted in national education system since it is consi- dered to be able to enhance the character of present and future generation. Character building cannot be separated from culture. In this case, Ringkang Gumiwang Arts House (RGAH) concerns on cha- racter education by reintroducing mother language (Sundanese) as an effort to build one’s culture. Reconstructing Sundanese play is conducted as an attempt of retaining the existence of Sundanese culture. The performance of Sundanese play grows into media of maintaining language and arts for young generation. Arts inheritance method is implemented to explore and apply the sustainment of arts in the society. Understanding of values in the performance is expected to be applied in the youth life. Therefore, the performance appreciation run by RGAH can be a model in transmitting values of a society. Plays (Sandiwara) become a good vehicle to increase appreciation among the youth. Keywords: Sundanese plays, values transmission, young generation  ABSTRAK Pendidikan karakter kini tengah digalakkan dalam sistem pendidikan nasional karena dapat meningkatkan mutu karakter generasi sekarang dan masa datang. Kita tidak mung- kin membangun karakter terlepas dari budayanya. Padepokan Seni Ringkang Gumiwang (PSRG) peduli pada pendidikan karakter dengan mengenalkan kembali bahasa ibu(Sunda) sebagai upaya membangun budaya sendiri. Rekonstruksi Sandiwara Sunda dilakukan se- bagai upaya pemertahanan eksistensi budaya Sunda. Pertunjukan sandiwara Sunda men- jadi media pemertahanan bahasa dan seni kepada generasi muda. Metode Pewarisan kese- nian digunakan untuk menggali dan mengaplikasikan keberlangsungan sebuah kesenian di masyarakat. Pemahaman nilai-nilai yang terkandung di dalam pertunjukan diharapkan dapat diaplikasi dalam kehidupan siswa (generasi muda). Oleh karena itu, apresiasi per- tunjukan yang dilakukan oleh PSRG dapat menjadi model dalam transmisi nilai pada ma- syarakat. Sandiwara menjadi wahana tepat dalam peningkatan apresiasidi kalangan ge- nerasi muda. Kata kunci: Sandiwara Sunda, transmisi nilai, generasi muda 
Proses Kreatif Koreografi Karya Tari ‘Subur’ Maryani, Dwi
PANGGUNG Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.145

Abstract

ABSTRACT This paper describes the creative process of choreography of fat people. It also explains that a dancer with a fat posture is not always unpleasant. A fat person is more represented, in a posi- tive way of thinking, with “subur” person. The questions to be discussed are: how is the character of dance movement of the fat people? And how is the choreography of the fat people in order to be looked beautiful and attractive? The creative process has been conducted through analyzing self dance movements and comprehending someone’s painting works. The result of the study shows that dances which are performed by fat people can also be looked attractive, smooth and beautiful. Keywords: creative process, choreography  ABSTRAK Tulisan ini menguraikan proses kreatif koreografi orang bertubuh gemuk. Tulisan ini juga menjelaskan bahwa seorang penari bertubuh gemuk tidak selalu jelek. Orang yang gemuk,  dalam  pengertian  positif,  lebih  banyak  diartikan  dengan  orang  yang  ‘subur ’. Permasalahan yang diangkat ialah bagaimana karakter gerak tarian orang bertubuh ge- muk? Serta bagaimana koreografi orang bertubuh gemuk agar kelihatan indah dan me- narik? Proses kreatif dilakukan melalui penelaahan gerak-gerak dari diri sendiri serta pemahaman terhadap karya seni lukis seseorang. Hasil kajian menunjukkan bahwa ta- rian yang ditampilkan oleh orang gemuk bisa juga terlihat menarik, halus, dan indah. Kata kunci: proses kreatif, koreografi  
Popularitas Tari Piring sebagai Identitas Budaya Minangkabau -, Indrayuda
PANGGUNG Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.141

Abstract

ABSTRACT This article aims to explain the existence of Tari Piring dance as a culture identity of Minang- kabau people, both the people who live in the origin area and outside the area. Tari Piring dance is a traditional cultural heritage of Minangkabau people which is used and preserved by Minangkabau people in their life so that it becomes culture identity of Minangkabau people. As the identity of Minangkabau people, Piring dance is able to express attitudes and behaviors as well as the charac- teristics of Minangkabau people. The dance can serve as a reflection of social and cultural life style of Minangkabau society. Through Tari Piring performance, the outsider can understand Minangkabau people and their culture. Tari Piring, therefore, is getting more adhere to the social life of Minang- kabau people in West Sumatra and in the regions overseas. In the spirit of togetherness, Minang- kabau society preserves the existence of Piring dance as the identity and cultural heritage up to the present time. Keywords: Piring Dance, Minangkabau culture  ABSTRAK Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan keberadaan Tari Piring sebagai identitas bu- daya masyarakat Minangkabau, baik yang berada di daerah asal maupun di daerah peran- tauan. Tari Piring merupakan warisan budaya tradisional masyarakat Minangkabau yang digunakan dan dilestarikan oleh masyarakat Minangkabau dalam kehidupannya sehingga menjadi identitas budaya Minangkabau. Sebagai jati diri masyarakat Minangkabau, Tari Piring mampu mengungkapkan sikap dan prilaku serta karakteristik orang Minangkabau. Tari Piring dapat berperan sebagai cerminan dari corak kehidupan sosial budaya masyara- kat Minangkabau. Melalui pertunjukan Tari Piring, masyarakat luar dapat memahami orang Minangkabau dan budayanya. Oleh karena itu, sampai saat ini Tari Piring semakin melekat dengan kehidupan sosial masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat maupun di daerah perantauan. Dengan semangat kebersamaan, masyarakat Minangkabau mampu mempertahankan keberadaan Tari Piring sebagai identitas dan warisan budayanya hingga masa kini. Kata kunci : Tari Piring, budaya Minangkabau
Kaulinan Barudak sebagai Sumber Penciptaan Tari Anak-anak di Kabupaten Sumedang Mulyati, Eti; Hendriyana, Husen
PANGGUNG Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.146

Abstract

ABSTRACT This article is the result of the children dance creation which is adopted from children’s play culture (Kaulinan Barudak) in Sumedang community. The purpose of the research is to design dance choreography of Elementary School children which requires creativity, interpretation, and trans- formation of the artist. In the process of its creation method, the interpretation contains elements of relations, so that the sense and the meaning of the dance forms will be established. Meanwhile, the transformation demands intelligence of analysis through the established structure to be relevant and constructive. Both of these aspects are still in the realm of ideas that should be realized in the form of movement representation and composition of a dance. Dance composition can be applied both individually and in-group. Focuses on the dancer as a form of dance medium, both individually and in-group, in a unity of dance composition sourced from Kaulinan Barudak, can be assessed through the shape, composition, and function of the movement so that it reflects cultural identity and national character of the dance itself. Keywords:  kaulinan barudak, creation, children dance  ABSTRAK Artikel ini merupakan hasil penelitian tentang penciptaan tari anak yang diangkat dari budaya bermain anak-anak (kaulinan barudak) masyarakat Sumedang. Tujuan penelitian ini ialah untuk merancang koreografi tari anak-anak tingkat Sekolah Dasar yang menuntut kreativitas, interpretasi, dan transformasi senimannya. Dalam proses metode penciptaan- nya, interpretasi memuat unsur-unsur relasi sehingga terbangunnya suatu makna dan arti dari bentuk tari itu sendiri, sedangkan transformasi menuntut kecerdasan analisis melalui strukstur yang dibangun sehingga relevan dan konstruktif. Kedua aspek ini masih pada ranah ide-gagasan yang perlu diwujudkan dalam bentuk representasi gerak dan kompo- sisi sebuah tarian. Komposisi gerak tari dapat diaplikasikan secara perseorangan ataupun perkelompok. Berfokus pada penari sebagai medium bentuk gerak tari, baik perseorangan maupun perkelompok dalam satu kesatuan komposisi gerak tarian yang bersumber dari kaulinan barudak, dapat dikaji melalui reka bentuk, komposisi dan fungsi bentuk gerak sehingga tergambarnya identitas kultural dan karakter bangsa dari  bentuk tarian itu sen- diri. Kata kunci:  kaulinan karudak, penciptaan, tari anak
Ikonografi dan Ikonologi Lukisan Djoko Pekik: ‘Tuan Tanah Kawin Muda’ Burhan, M. Agus
PANGGUNG Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.137

Abstract

ABSTRACT This research talked about ‘Tuan Tanah Kawin Muda’, painted by Djoko Pekik, with art history as the basic approach and therefore using Erwin Panofsky’s iconography and iconology theory. Hi- story research method followed with field data investigation, literature data, selection and critic, ana- lysis and source interpretation purposing to get the synthesis, continue with historiography framing. The result of this research contains; Preiconography descriptions explained the early textual aspect idea, reveals communication and conflict between the two figures. Iconography analysis explained about theme and concept, it tells about the oppression through economy asset, social, and cultural. The creator thought about how to defend among the conflict. Iconology interpretation, explained the art work symbolic value. Through the psychology experience and his social also cultural background, conclude that this painting is a crystallization symbol of deprivation and defense from the suffering poor people’s right. Keywords: Social realism, social conflict, oppression symbol  ABSTRAK Penelitian ini tentang lukisan Djoko Pekik yang berjudul ‘Tuan Tanah Kawin Muda’ yang dianalisis dengan pendekatan sejarah seni dan memakai teori ikonografi dan ikonolo- gi Erwin Panofsky. Metode yang dipakai adalah metode sejarah dengan langkah pencarian sumber di lapangan dan pustaka (heuristik), seleksi dan kritik, analisis dan interpretasi sumber untuk menghasilkan sintesis, dan penyusunan historiografi. Hasil penelitian ini berupa: Deskripsi pra ikonografi berisi tanggapan awal aspek tekstual, mengungkap ko- munikasi dan konflik antara dua figur. Analisis ikonografis yaitu tentang tema dan konsep penindasan kaum laki-laki pada perempuan lewat kekuasaan modal ekonomi, sosial dan kultural. Konsep dasar penciptaannya tentang konflik antara kekuasaan yang menindas dan hak yang harus dipertahankan. Interpretasi ikonologis yaitu tentang nilai simbolik yang diungkap dalam lukisan. Lewat pengalaman psikologis pelukis dengan berbagai ke- kerasan dan penderitaan, serta pandangan hidup dari latar belakang sosial dan kultural- nya, maka lukisan ini merupakan kristalisasi simbol dari perampasan dan pertahanan hak rakyat bawah yang menderita.. Kata kunci: realisme sosial, konflik sosial, simbol ketertindasan

Page 1 of 2 | Total Record : 20


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue