cover
Contact Name
Evy Yunihastuti
Contact Email
Evy Yunihastuti
Phone
-
Journal Mail Official
cp.jurnalpenyakitdalam@ui.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 24068969     EISSN : 25490621     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia adalah jurnal kedokteran penyakit dalam yang dikelola secara elektronik dengan standar peer-review yang profesional. Jurnal ini diterbitkan oleh Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sejak tahun 2014. Misi utama kami adalah untuk mendorong perkembangan ilmu kedokteran dan khususnya di bidang klinis penyakit dalam Jurnal Penyakit Dalam Indonesia merupakan open-accessed jurnal yang memuat publikasi naskah ilmiah dengan memenuhi tujuan penerbitan jurnal, yaitu menyebarkan hasil penelitian, laporan kasus, tinjauan pustaka di bidang penyakit dalam untuk praktik dokter penyakit dalam dan dokter umum di seluruh Indonesia. Artikel yang dipublikasikan oleh jurnal kami diharapkan dapat memberi informasi baru, menarik minat dan dapat memperluas wawasan praktisi di bidang penyakit dalam, serta memberi alternatif pemecahan masalah, diagnosis, terapi, dan pencegahan.
Arjuna Subject : -
Articles 333 Documents
HUBUNGAN KOMPONEN COMPREHENSIVE GERIATRIC ASSESSMENT DAN SARKOPENIA PADA USIA LANJUT Wardhana, Diar Meitha; Widajanti, Novira; Ichwani, Jusri
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 6, No 4 (2019)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jpdi.v6i4.370

Abstract

Pendahuluan. Sarkopenia merupakan penurunan massa dan kekuatan otot skeletal serta fungsinya dan berdampak meningkatkan angka hospitalisasi, angka kematian, serta beban kesehatan. Sarkopenia dapat terjadi karena kondisi multifaktorial pada proses menua. Untuk menilai kondisi multifaktorial pada lanjut usia (lansia) dapat dilakukan dengan menggunakan metode comprehensive geriatric assessment (CGA) yang didalamnya terdapat domain sosiodemografis, medis, psikologis, dan fungsional. Penelitian ini bertujuan menganalisis komponen CGA sebagai faktor yang berhubungan dengan kejadian sarkopenia pada komunitas usia lanjut di Surabaya.Metode. Penelitian komunitas ini bersifat analitik observasional menggunakan rancangan potong lintang. Subjek penelitian adalah seluruh lansia yang datang ke lima pos pelayanan terpadu (posyandu) lansia terpilih selama waktu penelitian, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sejumlah 308 data telah terkumpul kemudian dilakukan analisis bivariat dan multivariat untuk mengetahui komponen yang berhubungan dengan sarkopenia. Analisis bivariat dilakukan pada komponen usia, jenis kelamin, status nutrisi, komorbid, status kognitif, status mental, dan status fungsional. Variabel yang masuk dalam analisis multivariat adalah usia, jenis kelamin, status nutrisi, komorbid, status kognitif, dan status fungsional.Hasil. Dari 308 data didominasi lansia perempuan sebanyak 74,7%. Median umur adalah 63 tahun (rentang 60-100 tahun). Setelah dilakukan analisis multivariat, komponen CGA yang berhubungan dengan sarkopenia adalah status nutrisi dengan skor MNA ? 23,5 (OR 3,61; IK 95% 2,11?6,19), usia ?70 tahun (OR 2,82; IK 95% 1,58?5,04), serta jenis kelamin laki-laki (OR 1,83; IK 95% 1,04?3,24). Dari model prediksi didapatkan area under curve (AUC) sebesar 66,2%.Simpulan. Status nutrisi dengan skor MNA ? 23,5, usia ?70 tahun, dan jenis kelamin laki-laki dapat menentukan kejadian sarkopenia pada lansia di komunitas sebesar 66,2%.Kata kunci: Comprehensive geriatric assessment, komunitas, sarkopenia Association of Comprehensive Geriatric Assessment?s Component and Sarcopenia in ElderlyIntroduction. Sarcopenia is defined as a declined in skeletal muscle mass and strength along with its function may causes an increase in hospitalization, mortality, and health burden. Multi-factorial conditions of the aging process may cause sarcopenia. To assess those multi-factorial conditions in the elderly, a comprehensive geriatric assessment (CGA) method should be used, in which comprises of socio-demographic, medical, psychological, and functional domains. This research aims to analyze the components of CGA, including age, gender, nutritional status, mental status, and functional status as factors associated to sarcopenia in the elderly community in Surabaya. Methods. This community research was a cross sectional designed analytic observational study. The subjects were all elderly people visiting five chosen Posyandu, an integrated health service post, that meet the inclusion and exclusion criteria. A total of 308 data were collected and then bivariate and multivariate analyzes were performed to determine the components related to sarcopenia. Bivariate analysis was performed on components of age, sex, nutritional status, comorbidities, cognitive status, mental status, and functional status. Variables included in multivariate analysis were age, sex, nutritional status, comorbidities, cognitive status, and functional status.Results. The subjects were dominated by elderly females (74.7%). The median of age were 63 years (range 60-100 years). After performing multivariate analysis, three variables had the association to sarcopenia which were nutritional status assessed by MNA score ?23.5 (OR 3.61, 95% CI 2.11?6.19), age ?70 years old (OR 2.82, 95% CI 1.58?5.04), and male (OR 1,83, 95% CI 1,04?3,24). An area under curve (AUC) of 66.2% was obtained from the prediction model.Conclusion. The method of CGA has the power to predict sarcopenia of the elderly in the community as much as 66.2%.
PERBANDINGAN SKOR SOKAL DAN SKOR HASFORD TERHADAP RESPONS TERAPI IMATINIB MESYLATE PADA PASIEN LEUKEMIA GRANULOSITIK KRONIS DI RUMAH SAKIT DR. SAIFUL ANWAR MALANG Somarnam, Somarnam; Machsoos, Budi Darmawan; Hermanto, Djoko Heri
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 6, No 4 (2019)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jpdi.v6i4.332

Abstract

Pendahuluan. Skor Sokal dan Hasford berkembang sebelum era terapi tirosine kinase inhibitor (TKI) untuk memberikan prediksi dan prognosis hasil terapi pasien leukemia granulositik kronis (LGK). Hingga saat ini, keunggulan skor Sokal dan Hasford masih diperdebatkan dalam memprediksi hasil terapi di era TKI. Imatinib mesylate merupakan TKI lini pertama dalam terapi LGK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui skor prediktif yang lebih unggul dalam memprediksi respons hematologi maupun respons molekular pasien yang diterapi dengan imatinib mesylate.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian survei, data yang diambil secara retrospektif dari rekam medis. Sampel penelitian adalah pasien LGK fase kronis yang sekurang-kurangnya telah mendapat terapi imatinib mesylate selama 12 bulan. Perhitungan skor Sokal maupun Hasford dilakukan berdasarkan data pasien pada saat mendapat imatinib pertama kali. Untuk melihat perbedaan distribusi antara kedua skor, digunakan uji statistik marginal homogenity. Untuk melihat proses perubahan respons pada pasien yang diobati dengan imatinib dilakukan uji kesesuaian menggunakan chi-square dan fischer dengan nilai p signifikan yaitu p<0,05.Hasil. Didapat sampel sebanyak 52 orang dengan rasio laki-laki : perempuan yaitu 1,4 : 1. Rerata usia saat terdiagnosis yaitu 43 tahun. Distribusi skor pada skor Sokal terbanyak pada kelompok risiko tinggi sedangkan skor Hasford pada kelompok risiko sedang. Prediksi skor Sokal terhadap pencapaian complete hematologic response (CHR) didapat masing-masing 44,5%, 38,1%, dan 9,1% untuk risiko rendah, sedang, dan tinggi secara berturut-turut.  Prediksi skor Hasford terhadap pencapaian CHR didapat masing-masing 47,1%, 23,1%, dan 0% untuk risiko rendah, sedang, dan tinggi secara berturut-turut. Prediksi skor Sokal terhadap pencapaian major molecular response (MMR) didapat masing-masing 44,4%, 58,8%, dan 100% untuk risiko rendah, sedang, dan tinggi secara berturut-turut.  Prediksi skor Hasford terhadap pencapaian  didapat masing-masing 78,6%, 47,6%, dan 62,5% untuk risiko rendah, sedang, dan tinggi secara berturut-turut. Dari uji statistik Chi-Square tidak ada satupun baik skor Hasford maupun skor Sokal yang berbeda secara bermakna (berdasarkan tinggi rendahnya nilai skor dikaitkan dengan respons hematologi pada bulan ke-3 dan respons molekular pada bulan ke-12) dengan nilai p > 0,05.Simpulan. Tidak ada perbedaan antara skor Hasford dan skor Sokal dalam memprediksi respons hematologi maupun respons molekular pasien LGK kronis. Skor Sokal maupun skor Hasford dapat digunakan untuk memprediksi respons hematologi maupun respons molekular pada pasien LGK fase kronis yang diterapi dengan imatinib mesylate. Kata Kunci: Imatinib mesylate, LGK, respons hematologi, respons molekular, skor Hasford, skor Sokal Comparison of Socal Score and Hasford Score Against the Response of Imatinib Mesylate Therapy in Patients with Chronic Granulocytic Leukemia in dr. Saiful Anwar Hospital MalangIntroduction. The Socal and Hasford scores developed before the era of tirosine kinase inhibitor (TKI) therapy to provide predictions and prognosis for the results of therapy for chronic myeloid leukemia patients (CML). Until now the superiority of Socal and Hasford scores is still debated in predicting the results of therapy in the era of TKI. Imatinib mesylat is a first line TKI in the treatment of CML. This study aims to determine the superior predictive score in predicting hematological and molecular response of patients treated with imatinib mesylate.Methods. A survey study was conducted with data taken retrospectively from medical records. Subjects were chronic phase LGK patients who had at least been given imatinib mesylate therapy for 12 months. Calculation of Socal and Hasford scores was carried out based on patient data when first receiving Imatinib. To see the difference in distribution between the two scores, a marginal homogeneity statistic was used. To see the process of changing the response of patients treated with Imatinib, a suitability test using chi-square and Fischer was conducted with a significant p value, p <0.05.Results. There were 52 samples which male : female ratio was 1,4 : 1. The average age when subject was diagnosed with CML was 43 years. The distribution of scores on Socal scores was highest in the high risk group while the Hasford score was highest in the moderate risk group. The prediction of the Socal score towards the achievement of CHR was 44,5%, 38,1%, 9,1% respectively for low, medium, and high risks. The Hasford score prediction for CHR achievement was obtained by 47,1%, 23,1%, 0% for low, medium and high risks. The prediction of the Socal score on the achievement of MMR was 44,4%, 58,8%, 100% for low, medium and high risks. The Hasford score prediction on the achievement of MMR was 78,6%, 47,6%, 62,5% for low, medium and high risk respectively. From the chi-square statistic test, there was no significant difference between Hasford and Socal scores (based on the high and low scores associated with hematological response at the 3rd month and molecular response at 12th month), with p > 0,05.Conclusion. There was no significant difference between Hasford and Socal scores in predicting hematological responses and molecular responses of chronic CML patients. Socal scores and Hasford scores can be used to predict hematological and molecular responses in chronic CML patients treated with imatinib mesylate.
PERANAN SITOKIN PADA KEADAAN STRES SEBAGAI PENCETUS DEPRESI Febyan, Febyan; Wijaya, Sri Handawati; Tannika, Ayudhea; Hudyono, Johannes
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 6, No 4 (2019)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jpdi.v6i4.285

Abstract

Gangguan stres merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya depresi, stres dapat menginduksi respons inflamasi pada manusia, yang salah satunya sebagai penyebab depresi. Terdapat peranan penting yang berhubungan antara stres dan mediator inflamasom seperti nucleotide-binding oligomerization domain (NOD), leucine-rich repeat (LRR), dan  pyrin domain containing protein-3 (NLRP3) yang dapat menjadi faktor pencetus depresi. Mekanismenya yaitu melalui peningkatan interleukin 1 ? (IL?1?) dan interleukin 18 (IL?18), dan juga derived microbial-associated molecular patterns (MAMPs) sebagai agen komensal non-patogenik pada usus, yang dapat mengaktivasi endogenous damage-associated molecular patterns (DAMPs) sehingga terjadi penurunan enzim ko-faktor tetrahydrobiopterin (BH4), serta penurunan brain-derived neurotropic factor (BDNF) yang juga ditemukan pada patofisiologi depresi. Pada artikel ini akan dibahas mengenai mekanisme sitokin sebagai mediator inflamasom pada patogenesis depresi yang diharapkan dapat menjadi referensi dalam bidang penelitian lanjut dan terapi terkini pada kasus depresi. Kata Kunci: Depresi, dopamine, patofisiologi, sitokin, stres Role of Cytokines in Stressful Condition as a Trigger for a DepressionStress disorder is one of factor which triggered depression. Stress can induced the inflammation response in human which causes depression. There is a significant role between stress and mediatory inflammasome like nucleotide-binding oligomerization  domain (NOD), leucine-rich repeat (LRR), and  pyrin domain containing protein-3 (NLRP3) that can triggered depression. Its mechanism occurred through increasing interleukin 1 ? (IL?1?), and interleukin 18 (IL-18) and derived microbial-associated molecular patterns (MAMPs) as intestine commensal non-pathogenic agent, which activate endogenous damage-associated molecular patterns (DAMPs) then caused the co-factor enzyme tetrahydrobiopterin (BH4) decrease, and brain-derived neurotropic factor (BDNF) decrease in depression pathophysiology. This literature review will discuss about the mechanism of cytokine as mediatory inflammasome in depression pathophysiology that could be used as references in many studies and newest theraphy in depression cases.
PERAN RIWAYAT AYAH DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA STATUS PREDIABETES ANAK KANDUNG PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 Ekaputri, Maulidia; Citrawijaya, Henrico; Adhimulia, Kevin Jonathan; Sudirman, Adrian Reynaldo; Murti, Radityo Ali; Sarena, Ayu Putri Balqis; Purnamasari, Dyah
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 6, No 4 (2019)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jpdi.v6i4.339

Abstract

Pendahuluan. Pasien diabetes melitus tipe 2 (DMT2) pada umumnya memiliki satu atau lebih komplikasi kronik pada saat terdiagnosis. Deteksi dini dan pencegahan sangat penting untuk mengurangi angka mortalitas dan morbiditas terkait DMT2, terutama pada kelompok dengan risiko tinggi seperti anak penderita DMT2. Studi ini bertujuan untuk mencari faktor-faktor yang berkaitan dengan status prediabetes pada anak dari penderita diabetes melitus tipe 2.Metode. Studi ini merupakan studi potong lintang yang melibatkan 54 anak dari penderita DMT2. Subjek dikumpulkan secara konsekutif. Status prediabetes ditentukan melalui HbA1C berstandar national glycohemoglobin standardization program (NGSP). Aktivitas fisik ditentukan melalui kuisioner global physical activity questionnaire (GPAQ)-versi Bahasa Indonesia. Tekanan darah dan data antropometrik diukur secara langsung. Analisis bivariat dan multivariat dilakukan dengan IBM SPSS 23.Hasil. Dilakukan analisis terhadap 54 subjek. Mayoritas subjek adalah perempuan (79,6%) dan rerata umur adalah 38,8 tahun. Proporsi prediabetes mencapai 31,5%. Analisis multiavariat menunjukkan hubungan bermakna antara riwayat paternal DMT2 (adjusted OR 7,520; IK 95%=1,071-52,784), lingkar pinggang berisiko (adjusted OR 5,482; IK 95%=1,019-29,504) terhadap status prediabetes.Simpulan. Riwayat paternal DMT2 dan lingkar pinggang berkaitan dengan status prediabetes pada anak dari penderita DMT2.Kata Kunci: Anak penderita DM tipe 2, HbA1C, intoleransi glukosa, prediabetes The Role of Paternal History of Type 2 Diabetes Mellitus on Prediabetes Status among The Offspring of Type 2 Diabetes Mellitus Patients Introduction. Since patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM) often present with one or more chronic complications, at the time of diagnosis, early detection and prevention is essential to reduce T2DM-associated mortality and morbidity, espescially among high risk population such as the offspring of T2DM. This study aimed to investigate several factors associated with prediabetes status among the offsprings of T2DM patients.Methods. A cross-sectional study was conducted involving 54 offsprings of T2DM patients. Subjects were recruited consecutively. We collected demographic data, anthropometric measurement, blood pressure, and HbA1c level. Physical activity were assessed by using Indonesian version of global physical activity questionnaire (GPAQ). Prediabetes status was investigated by standardized national glycohemoglobin standardization program (NGSP) HbA1c. Bivariate statistical and multivariate analysis was performed by using IBM SPSS 23.Results: The majority of subjects were female (79.6%) and the mean age was 38.8 years old. The proportion of prediabetes was 31.5%. Multivariate analysis showed significant association among paternal history of T2DM (adjusted OR 7.520; 95%CI=1.071-52.784), waist circumference at risk (adjusted OR 5.482; 95%CI=1.019-29.504), and prediabetes status.Conclusion: Paternal history of T2DM and waist circumference were associated with prediabetes status among the offspring of T2DM patients.
WANITA USIA 31 TAHUN DENGAN INFEKSI SALURAN KEMIH BERULANG DAN REJEKSI TRANSPLAN GINJAL: SUATU LAPORAN KASUS Nursamsu, Nursamsu; Febriliant, Muhammad Reza
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 6, No 4 (2019)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jpdi.v6i4.245

Abstract

Infeksi saluran kemih (ISK), terutama ISK rekuren, merupakan permasalahan yang umum dan terjadi pada >75% resipien transplantasi ginjal. Infeksi saluran kemih (ISK) dapat menurunkan kualitas hidup dan memengaruhi fungsi graft dan prognosis pasien. Urosepsis diikuti dengan gangguan fungsi graft merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada resipien transplantasi ginjal dengan ISK rekuren. Artikel ini membahas mengenai suatu kasus ISK yang terjadi dalam waktu satu bulan setelah tranplantasi ginjal. Pasien didiagnosis ISK rekuren yang dicurigai disebabkan oleh kurangnya kebersihan diri dan higienisitas pasien. Namun, setelah diberikan saran perbaikan, pasien tetap menderita ISK. Hasil laboratorium menunjukkan penurunan fungsi ginjal sejak satu bulan sebelumnya. Dari hasil kultur urin didapatkan penyebab infeksi yaitu Klebsiella pneumonia. Dari uroflowmetri didapatkan sisa urin sekitar 50-60 cc pada kandung kemih. Dicurigai terdapat kelainan anatomis pada saluran kemih pasien. Dilakukan MRI sebagai evaluasi graft dengan hasil yaitu pielonefritis graft. Didapatkan juga peningkatan antibodi cytomegalovirus (CMV) yang merupakan infeksi oportunistik. Dilakukan pula biopsi renal dengan hasil yaitu rejeksi seluler akut. Setelah diberikan terapi gansiklovir 1 x 250 mg hingga 6 bulan dan kotrimoxazole 1 x 960 mg selama 14 hari, fungsi renal tetap menurun, produksi urin menurun, dan pasien jatuh pada kondisi rejeksi graft.Kata Kunci: CMV, Infeksi saluran kemih, Rejeksi graft, Transplantasi ginjal Young Kidney-Transplant Recipient Woman with Recurrent Urinary Tract Infection and Graft Rejection: A Case ReportUrinary tract infection (UTI), especially recurrent UTI, is a common problem, occurring in >75% of kidney transplant recipients. Urinary tract infection (UTI) can reduce the quality of life, graft potential, and patient survival. Urosepsis with impairment of graft function is potential long-term sequelae of recurrent UTI in kidney transplantation recipients. We present a case of UTI that developed within a month after renal transplant. The patient got a urinary tract infection repeatedly. We suspect lack of hygiene as the cause of urinary tract infection, the patient was rarely cleaning-up, took a bath, changing clothes, and did not wash after urinating. But, after we did some interventions, the patient still had urinary tract infection. Laboratory findings showed decreasing of renal function since one month before. Urine culture result showed that the cause of infection was Klebsiella pneumonia. Uroflowmetry result showed post void residual about 50-60 cc. We suspected anatomy anomaly at the urinary tract of this patient. To evaluate the renal graft without biopsy, we conducted an MRI and found a pyelonephritis renal graft. We got increasing CMV antibody for opportunistic infection. The last, renal biopsy result was acute cellular rejection. After giving appropriate treatment with ganciclovir 1 x 250 mg up to 6 months and cotrimoxazole 1 x 960 mg for 14 days, the renal function still decreased and so did the urine output, then the patient fell down into graft rejection.
PROFIL IMUNOHISTOKIMIA PASIEN KANKER PAYUDARA YANG MENDAPAT KEMOTERAPI BERBASIS ANTRASIKLIN DI RSUD KOTA BOGOR Robinson, Marthino; Atmakusumah, Tubagus Djumhana; Irawan, Cosphiadi; Shatri, Hamzah
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 6, No 4 (2019)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jpdi.v6i4.345

Abstract

Pendahuluan. Kanker payudara merupakan jenis kanker tersering dan penyebab kematian kanker utama pada perempuan. Pengobatan kanker payudara memerlukan pemeriksaan imunohistokimia (IHK) untuk menentukan prognostik dan prediktif. Namun, saat ini di Indonesia hanya terdapat 17 rumah sakit yang dapat melakukan pemeriksaan IHK.  RSUD Kota Bogor seperti RS Tipe B lainnya belum memiliki fasilitas pemeriksaan IHK sehingga untuk melengkapai pemeriksaan tersebut perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit rujukan. Karena keterbatasan, ada sebagian pasien yang tidak melanjutkan pemeriksaan IHK dan tetap mendapatkan kemoterapi berbasis antrasiklin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil IHK pasien kanker payudara yang mendapat regimen kemoterapi berbasis antrasiklin di RSUD Kota Bogor.        Metode. Penelitian deskriptif retrospektif melalui penelusuran data rekam medik pasien pasien kanker payudara periode Januari 2014 ? Desember 2017 di RSUD Kota Bogor.Hasil. Terdapat 174 Subjek penelitian yang terdiri dari 84 subjek (48%) dengan pemeriksaan IHK sedangkan 90 subjek (52%) tanpa pemeriksaan IHK. Adapun profil pemeriksaan IHK dari pasien kanker payudara yang mendapatkan kemoterapi berbasis antrasiklin pada periode Januari 2014 ? Desember 2017 di RSUD Kota Bogor adalah tipe luminal 6(4%), HER2-enriched (18%), dan TNBC (18%).Simpulan:  Tipe Luminal merupakan subtipemolekuler terbanyak pada pasien kanker payudara yang mendapat kemoterapi berbasis antrasiklin di RSUD Kota Bogor. Namun karena keterbatasan, pada periode Januari 2014 - Desember 2017 pemeriksaan IHK baru dilakukan pada 48% pasien kanker payudara yang mendapat kemoterapi berbasis antrasiklin di RSUD Kota Bogor.Kata Kunci: Antrasiklin, Imunohistokimia (IHK), Kanker payudara, RSUD Kota Bogor Immunohistochemistry Profile of Breast Cancer Patients that Get Anthracyclin?Based Chemotherapy in RSUD Kota BogorIntroduction.  Breast cancer is the most prominent cancer and causing death in women. Treatment of breast cancer requires immunohistochemistry (IHC) to determine prognostic and predictive and imaging tests to determine staging.  However, currently in Indonesia only 17 hospital can conduct IHC test.  RSUD Kota Bogor like other Type B Hospital have no IHC test facilities. To fullfil that test, it?s important to refer patient to referal hospital. Because of limitation there are patients who did not do IHC test and continued get anthracycline chemotherapy.  The objective of this research is to find out immunohistochemistry profile of breast cancer patients who received anthracycline-based chemotherapy in RSUD Kota Bogor. Methods. A descriptive retrospective study by collecting the breast cancer patients medical records was done since January 2014  to December 2017 in RSUD Kota Bogor.Results. Total of 174 subjects were include in this study which consist of 84 subjects (48%) with IHC test and 90 subjects (52%) without IHC test. The immunohistochemistry profile of breast cancer patients who received anthracycline-based chemotherapy since January 2014 to December 2017 in RSUD Kota Bogor were luminal type (64%), HER2-enriched (18%), and TNBC (18%).Conclusion.  Luminal type is the most molecular subtypes in breast cancer patients who received anthracycline-based chemotherapy in RSUD Kota Bogor. However, because of limitation, since January 2014 to December 2017 only 48% of breast cancer patient that get anthracyclin chemotherapy who got IHC test in RSUD Kota Bogor.
PERBANDINGAN MORTALITAS ANTARA PEMBERIAN ALBUMIN INTRAVENA DAN TIDAK DIBERIKAN ALBUMIN INTRAVENA PADA PASIEN SEPSIS DENGAN KONDISI HIPOALBUMINEMIA DAN FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP MORTALITAS PASIEN SEPSIS Marzuki, Mochammad Jalalul; Supriono, Supriono; Pratomo, Bogi; Mustika, Syifa
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 6, No 4 (2019)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jpdi.v6i4.361

Abstract

Pendahuluan. Hipoalbuminemia merupakan prediktor kuat terhadap mortalitas pada pasien non operatif maupun operatif. Albumin berperan mempertahankan tekanan onkotik pada kondisi kritis seperti sepsis. Pemberian human serum albumin (HSA) eksogen pada sepsis dengan kondisi hipoalbuminemia masih kontroversial dengan hasil luaran yang bervariasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan mortalitas antara pasien sepsis dengan kondisi hipoalbuminemia yang diberikan albumin intravena dan tanpa pemberian albumin intravena serta mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap mortalitas pasien sepsis.Metode. Penelitian observasional dengan pendekatan prospektif melibatkan 75 subjek penelitian usia >18 tahun dengan sepsis disertai hipoalbuminemia (<2,5 g/dL) yang dirawat di ruangan high care unit RSUD dr. Saiful Anwar Malang selama periode 1 September 2018-31 Agustus 2019 yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok  albumin dan nonalbumin. Kedua kelompok diikuti selama hospitalisasi sampai pulang atau meninggal dunia. Perbedaan mortalitas antara kedua kelompok dianalisis dengan uji bivariat chi square. Faktor yang paling berpengaruh terhadap mortalitas dianalisis dengan uji multivariat regresi logistik berganda.Hasil. Didapatkan 39 orang (52%) dari kelompok albumin dan 36 orang (48%) dari kelompok non albumin. Perbedaan jumlah mortalitas antara kelompok albumin dan nonalbumin {25 (64,1%) vs. 16 (44,4%) yang mana perbedaan tersebut tidak bermakna secara statistik dengan nilai OR 2 (p=0,138}. Faktor yang berpengaruh terhadap mortalitas  antara lain: skor SOFA (OR 34,27, p<0,001), nilai MAP (OR 8, p<0,001), kondisi syok septik (OR 4,31, p=0,03), diabetes melitus (OR 0,28, p=0,009), kondisi gagal nafas (OR 8,02, p<0,001), penurunan kesadaran (OR 64,75, p<0,001), gagal kardiovaskular (OR 6, p<0,001), dan kondisi gagal hematologi (OR 3,05, p=0,027). Faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap mortalitas pasien sepsis adalah penurunan kesadaran (OR 2,67, p=0,001).Simpulan. Pemberian transfusi albumin tidak memberikan perbedaan bermakna terhadap kejadian mortalitas pada pasien sepsis dengan kondisi hipoalbuminemia. Faktor yang paling berpengaruh terhadap mortalitas pasien sepsis adalah kondisi penurunan kesadaran.Kata Kunci:  Hipoalbuminemia, mortalitas, sepsis, transfusi albumin Comparison of Mortality between Intravenous Albumin and No Intravenous Albumin in Sepsis Patients with Hypoalbuminemia Conditions and Factors that Influence the Mortality of Sepsis Patients Introduction. Hypoalbuminemia is a strong predictor of mortality in nonoperative and operative patients. Albumin plays a role in maintaining oncotic pressure in critical conditions such as sepsis. The administration of exogenous Human Serum Albumin (HSA) in sepsis with hypoalbuminemia conditions is still controversial with varying outcomes.This study aimed to know the mortality ratio between intravenous albumin administration and no intravenous albumin administration in sepsis patients with hypoalbuminemia conditions and also to know the factors that influence the mortality of sepsis patients.Methods. An observational study with a prospective approach involving 75 research subjects aged >18 years with sepsis accompanied by hypoalbuminemia (<2.5 g/dL) treated in the high care unit of RSUD dr. Saiful Anwar Malang during the period 1 September 2018-31 August 2019. Subjects were divided into two groups namely albumin and nonalbumin groups. Both groups were followed during hospitalization until they discharged or died. Differences in mortality between the two groups were analyzed by chi square bivariate test. The most influential factors on mortality were analyzed by multivariate binary logistic regression tests.Results. There were 39 people (52%) from the albumin group and 36 people (48%) from the non-albumin group. Difference in mortality between albumin and nonalbumin groups {25 (64.1%) vs 16 (44.4%) with OR 2, p=0.138} means there was no statistically significant difference. Factors that influence mortality included: SOFA score (OR 34.27, p <0.001), MAP value (OR 8, p<0.001), septic shock (OR 4.31, p=0.03), diabetes mellitus (OR 0.28, p=0.009), respiratory failure (OR 8.02, p <0.001), decreased of consciousness (OR 64.75, p <0.001), cardiovascular failure (OR 6, p <0.001), hematological failure (OR 3.05, p=0.027). The most dominant factor affecting mortality in sepsis patients is decreased of consciousness (OR 2.67, p=0.001).Conclusion. The administration of albumin transfusion did not make a significant difference in the incidence of mortality in sepsis patients with hypoalbuminemia. The most influential factor on mortality of sepsis patients is decreased of consciousness.
KARAKTERISTIK MORTALITAS JEMAAH HAJI INDONESIA AKIBAT PENYAKIT KARDIOVASKULAR Sakti, Ali; Alwi, Idrus; Muhadi, Muhadi; Shatri, Hamzah
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 6, No 4 (2019)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jpdi.v6i4.355

Abstract

Pendahuluan. Angka morbiditas dan mortalitas jemaah haji Indonesia masih tinggi. Penyakit kardiovaskular adalah salah satu masalah kesehatan pada jemaah haji Indonesia dan penyebab tertinggi kematian jemaah haji dalam tiga tahun terakhir. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik jemaah haji Indonesia tahun 2017 yang mengalami kematian akibat penyakit kardiovaskular.Metode. Penelitian deskriptif terhadap jemaah haji Indonesia tahun 2017. Analisis dilakukan untuk menilai karakteristik jemaah haji Indonesia yang mengikuti ibadah haji tahun 2017 serta karakteristik jemaah haji yang meninggal akibat penyakit kardiovaskular.  Hasil. Proporsi kematian akibat penyakit kardiovaskular adalah 49,2% dari seluruh kematian pada jemaah haji Indonesia tahun 2017.  Jemaah haji umumya berada pada kategori risiko tinggi. Jemaah haji yang meninggal akibat penyakit kardiovaskular sebagian besar berusia lebih dari 60 tahun (76,7%), memiliki faktor risiko kardiovaskular yakni hipertensi (53,4%) dan obesitas (37,3%), serta jemaah dengan waktu keberangkatan gelombang akhir (53%).Simpulan. Proporsi kematian akibat penyakit kardiovaskular pada jemaah haji Indonesia tahun 2017 adalah 49,2%. Karakteristik Jemaah haji yang meninggal dengan sebab akibat penyakit kardiovaskular umumnya berusia lebih dari 60 tahun, hipertensi, obesitas, dan waktu keberangkatan akhir. Kata Kunci: Jemaah haji, kematian, kardiovaskular Characteristics of the Indonesian Pilgrims Mortality due to Cardiovascular Disease Introduction. Cardiovascular disease is one of the health problems in Indonesian pilgrims and has become the main cause of death for pilgrims in the past 3 years. Most of them are considered high risk for cardiovascular disease. Some of those risk factors are predicted to have strong association with the pilgrims mortality rate. This study is meant to seek for risk factor associated with the pilgrims mortality rate.Methods. Observational study method of the Indonesian pilgrims in 2017 was conducted to assess the characteristics of Indonesian pilgrims who follow the hajj in 2017 as well as the characteristics of pilgrims who died from cardiovascular disease.Result. The proportion of mortality from cardiovascular disease was 49.2% of all deaths in the Indonesian hajj pilgrims in 2017.  Generally, pilgrims are in the category of high risk. Pilgrims who died from cardiovascular disease are mostly aged over 60 years (76.7%) with cardiovascular risk factors including hypertension (53.4%) and obesity (37.3%), and pilgrims with the final wave departure time (53%).Conclusios. The proportion of deaths from cardiovascular disease in the Indonesian pilgrims in 2017 is 49.2%. The characteristics of pilgrims who died with the cause of cardiovascular disease are generally age more than 60 years, pilgrims with hypertension, obesity, and final departure time.
PREDIKSI RESPONS TERAPI LEUKEMIA GRANULOSITIK KRONIS: SKOR MANA YANG LEBIH BAIK? Mulansari, Nadia Ayu
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 6, No 4 (2019)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jpdi.v6i4.386

Abstract

Leukemia granulositik kronik (LGK) merupakan suatu keganasan myeloproliferatif dengan karakteristik ditemukannya kromosom Philadelphia (Ph). Kromosom Ph ini disebabkan oleh translokasi resiprokal antara kromosom 9 dan 22 [t(9;22)] dan terbentuknya fusi gen BCR-ABL1. Fusi gen tersebut akan menghasilkan suatu protein yang menderegulasi aktivitas dari tirosin kinase (p210) yang berperan pada patogenesis LGK.
Risiko Kardiovaskuler pada Pasien Artritis Reumatoid Hidayat, Rudy
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artritis reumatoid (AR) adalah salah satu penyakit autoimun di bidang reumatologi yang paling banyak ditemukan dalam praktik sehari-hari. Penyakit autoimun ini bersifat sistemik dan non-organ spesifik, sehingga selain manifestasi artikuler (sinovitis poliartikular), juga didapatkan manifestasi ekstra-artikuler. Salah satu manifestasi ekstra-artikuler yang saat ini menjadi perhatian para klinisi dan para peneliti adalah keterlibatan kardiovakuler, yang secara signifikan memberikan kontribusi peningkatan angka morbiditas dan mortalitas pasien AR.

Page 1 of 34 | Total Record : 333