cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JURNAL WALENNAE
ISSN : 14110571     EISSN : 2580121X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi. Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
NEW FIND OF STEGODON SOMPOENSIS MAXILLA FROM CANGKANGE, SOPPENG, SOUTH SULAWESI Wibowo, Unggul Prasetyo; Hakim, Budianto; Saiful, Andi Muhammad
WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v17i2.366

Abstract

AbstractSulawesi is an island located in the Wallacean region of Indonesia. Geologically its lying midway between the Asian (Sunda) and Greater Australian (Sahul) continents. As a part of Wallacea islands, Sulawesi is an island that shows complexity either in biology or geology perspective. Though the distinctive quaternary vertebrate faunas has been described from Sulawesi,  historical pattern of biogeography still poorly understood due to the lack of the fossil specimens. This paper describes a maxilla fragment with molar root teeth M1 from an archaic proboscidae called Stegodon that found in the conglomeratic sandstone layer, at Cangkange Area, 4 km to the east of Cabenge Archeological site of South Sulawesi, Indonesia. Based on the comparation measuring data between this specimen with the Stegodon sompoensis and the Stegodon trigonocephalus it can be concluded that this Stegodon maxilla fragment is belong to the Stegodon sompoensis, a dwarf Stegodon from Sulawesi Island. The specimen is a surface collected sample. Based on the attached matrix on the maxilla fragment,  this specimen interpreted to be derived from subunit A of Beru Member, Walanae Formation. This Stegodon sompoensis is likely to be lived near the coastal-lagoon around 2,5 million years ago or Late Pliocene to Early Pleistocene. This estimated specimen age is based on the vertebrate fauna biostratigraphy of South Sulawesi. ABSTRAKPulau Sulawesi di Indonesia terletak di daerah Wallacea. Secara geologi pulau ini berada di antara Asia (paparan Sunda) dan Australia (paparan Sahul). Sebagai bagian dari kepulauan Wallacea, Pulau Sulawesi merupakan pulau yang memiliki kompleksitas baik dari segi biologi maupun geologinya. Meskipun fauna-fauna vertebrata kuarter Sulawesi sudah dideskripsi, tetapi sejarah dan pola biogeografi di pulau ini masih sangat kurang dikarenakan sedikitnya fosil-fosil yang ditemukan. Tulisan ini mendeskripsikan fragmen maxilla dari gajah purba jenis Stegodon dengan akar gigi molar M1 yang ditemukan di perlapisan batupasir konglomeratan, di daerah Cangkange, sekitar 4 km ke arah timur dari situs arkeologi Cabenge, Sulawesi Selatan, Indonesia. Berdasarkan  perbandingan data pengukuran spesimen ini dengan Stegodon sompoensis dan Stegodon trigonocephalus maka disimpulkan bahwa fragmen maksila Stegodon ini berasal dari Stegodon sompoensis, jenis Stegodon kerdil dari Pulau Sulawesi. Spesimen ini merupakan temuan permukaan, tetapi berdasarkan matriks sedimen yang masih menempel di maxilla, spesimen ini diinterpretasikan berasal dari Anggota Beru subunit A. Stegodon sompoensis ini diperkirakan dahulu hidup di lingkungan lagoon dekat pantai pada sekitar 2,5 juta tahun yang lalu atau Pliosen Akhir sampai Pleistosen Awal. Penentuan umur ini didasarkan pada boistratigrafi  fauna vertebrata  Sulawesi Selatan.
REVIEWER ACKNOWLEDGEMENT Redaksi, Tim
WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v17i2.415

Abstract

INDEX PENULIS Redaksi, Tim
WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/wln.v17i2.411

Abstract

POTENSI DATA ARKEOLOGI SITUS CENRANA: KAJIAN AWAL BAGI STUDI PERMUKIMAN Sarjiyanto, nfn
WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 3, No 1 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4117.009 KB) | DOI: 10.24832/wln.v3i1.83

Abstract

Situs Cenrana terletak di Desa Ujung Tanah dan Desa Nagaulenng, kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone. Situs ini terkait erat dengan masa pemerintahan Sultan Bone ke-16 yaitu Sultan Alimuddin Idris atau yang lebih dikenal sebagai La Patau Matanna Tikka. Tulisan ini merupakan kajian pemukiman skala semi mikro yang mempelajari persebaran dan hubungan antara artefak dengan artefak dan artefak dengan kondisi lingkungannya. Berdasarkan hasil Observasi, kajian pustaka dan hasil analisis lingkungan yang dilakukan disimpulkan bahwa Situs Cenrana diperkirakan pernah menjadi satu pemukiman penting atau bahkan pusast pemerintahan Kerajaan Bone, melihat dari lokasinya yang strategis di tepi sungai Cenrana dan kelimpahan data artefaktual yang ada.
MENENGOK KAMPUNG NEOLITIK MINANGA SIPAKKO DI PEDALAMAN KALUMPANG Nasruddin, nfn
WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 6, No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2590.181 KB) | DOI: 10.24832/wln.v6i2.166

Abstract

Kegiatan penelitian situs Minanga Sipakko merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya. Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih lanjut karakter situs yang belum terungkap secara jelas, termasuk temuan kereweng dan beliung yang tersebar di dasar lereng sungai. Selain itu, kondisi situs yang terancam hilang oleh longsoran dan erosi sungai Karama. Tujuannya untuk menyelamatkan data yang masih tertinggal, agar jejak penghunian dan sisa-sisa artefak serta tinggalan lainnya dapat mengungkapkan seluk beluk kehidupan neolitik di tepian Minanga Sipakko. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data diantaranya pendokumentasian yang dilanjutkan dengan pengklasifikasian dan interpretasi data. Hasil penelitian memperlihatkan situs Minanga Sipakko masih menyimpan harapan untuk diteliti lebih sistematis dengan memperluas lokasi trench pada kisaran 100-200 meter sebelah timur dari titik trench kotak 1 dan 3, alas an ini didukung oleh temuan temuan gerabah dan beliung dari hasil survei yang tergerus dan longsor akibat erosi.
BENTUK AKTIVITAS MANUSIA PENGHUNI GUA DI MUNA, SULAWESI TENGGARA BERDASARKAN DATA GAMBAR AKW, Bernadeta
WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4079.506 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.252

Abstract

Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara memiliki sejumlah gua (cave) dan ceruk (rockshelter) dengan berbagai gambar yang diterakan pada dinding atau langit-langit. Gambar-gambar cadas menunjukkan berbagai aktivitas manusia penghuni gua-gua tersebut. Sejumlah gambar cadas di dinding gua atau ceruk menyiratkan pengalaman dan harapan hidup (kehidupan sosial dan mata pencaharian) serta konsepsi religius mereka. Dalam aspek mata pencaharian terlihat pada gambar dengan motif perahu. Gambar tersebut dapat memberi petunjuk mengenai adanya sekelompok manusia yang telah memiliki kemampuan tentang navigasi. Pada umumnya sejumlah gambar memperlihatkan suatu kegiatan hidup sehari hari, seperti berburu dan bertani/berladang. Dengan mengamati bentuknya secara keseluruhan gambar perahu bukan sebagai perahu perang, melainkan lebih mengarah pada bentuk perahu niaga atau mungkin sebagai perahu nelayan. Aktivitas mata pencaharian ditunjukkan oleh gambar beberapa orang berkuda dan berjalan kaki sedang melakukan kegiatan di suatu tempat yang diduga perladangan, sebab dicirikan dengan motif tanaman berupa pohon. Dengan melihat motif seperti itu, maka dapat dimaknai sebagai suatu ciri kehidupan yang lebih mengarah pada kepentingan bernilai sosial ekonomis. Muna Regency of Southeast Sulawesi has a number of caves and rock-shelter with different images are given on a wall or ceiling. Rock paintings show various human activities of the caves. A number of rock paintings on the walls of caves or rock-shelter imply experience and life expectancy (social life and livelihood) as well as their religious conceptions. In the livelihood aspect, it is shown by the picture of a boat motif. The picture could provide clues about the existence of a group of people who already have the capability of navigation. In general, a number of images show an activity of daily living, such as hunting and farming. By observing the overall shape, the boat image is not a war boats, but more directed to commercial boat or maybe a fishing boat. Livelihood activity is shown by the images of men on horses and on foot that are conducting activities in a place that is allegedly agricultural field, because it is characterized by patterns of tree crops. By looking at such motives, it can be interpreted as a feature of life that is more directed at socio-economic valuable interests.
NILAI-NILAI LUHUR ARSITEKTUR RUMAH ADAT “TONGKONAN” TORAJA Wahju Utomo, Danang
WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 4, No 2 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3906.094 KB) | DOI: 10.24832/wln.v4i2.134

Abstract

Architecture has its own styte, varieties and culture (symbols) which reflected age and area. Tongkonan architecture style reflected the nature and social organization of Toraja people and traditional house func­tions. In Tongkonan, we could see the noble values audits personality. Torujkonan is the symbol of Torajanese life which reflected in their behaviors, manners, rules in this world and within their souls.
THE EARTHENWARE FROM ALLANGKANANGNGE RI LATANETE EXCAVATED IN 1999 Bulbeck, David; Hakim, Budianto
WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2133.154 KB) | DOI: 10.24832/wln.v11i2.211

Abstract

Situs Allangkanangnge ri Latanete, Wajo adalah pusat Kerajaan Bugis kuno sekitar abad ke 13-17 Masehi. Selain sebagai pusat kerajaan, situs ini juga menjadi pemukiman yang cukup padat dengan bukti temuan fragmen gerabah dan keramik vang cukup padat, baik yang ditemukan di permukaan situs maupun dalam penggalian arkeologi. Khusus temuan fragmen gerabah yang sudah dianalisis, menunjukkan adanya beberapa jenis (teknik pembuatan, dekorasi dan bahan) yang sebagian besar diyakini sebagai produksi lokal, namun sebagian di antaranya adalah gerabah inpor (mungkin dari Jawa atau Sumatera?). Salah satu jenis gerabah yang dianalisis adalah gerabah dari bahan tanah liat berwarna coklat susu (agak putih), halus dan tipis serta hiasan menyerupai anyaman dengan pola teratur pada permukaan luar gerabah (mungkin bekas tempelan kain?). Gerabah jenis ini diberi nama gerabah biskuit dan diperkirakan sebagai produksi lokal masyarakat Bugis kuno. Selain ditemukan di situs Allangkanangnge, gerabah jenis ini juga ditemukan dibeberapa situs di wilayah Kerajaan Luwu kuno.
Ringkasan Disertasi Editor, Tim
WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 3, No 2 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4627.829 KB) | DOI: 10.24832/wln.v3i2.109

Abstract

BENTUK DAN PERANAN BUDAYA MEGALITIK PADA BEBERAPA SITUS DI KABUPATEN BANTAENG Duli, Akin
WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Balai Arkeologi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7138.824 KB) | DOI: 10.24832/wln.v10i2.190

Abstract

Tradisi pendirian bangunan meglitik selalu berdasarkan pada kepercayaan antara yang hidup dan yang mati. Bngunan ini kemudian menjadi medium penghormatan sekaligus lambing si-mati. Konsepsi pemujaan nenek moyang melahirkan tata carayang menjaga tingkah laku masyarakat di dunia fana. Berdasarkan hasil penelitian diberbagai daerah di Indonesia dapat diketahui bentuk peninggalan megalitik. Sulawesi selatan penelitian tentang kebudayaan megalitik baru dilakukan sejak tahun 1990-an, termasuk di Kabupaten Bantaeng yang telah dilakukan beberapa penelitian awal terhadap budaya megalitik. Tujuan dari penulisan ini, yaitu menggambarkan bentuk dan peranan budaya megalitik di Kabupaten Bantaeng. Metode yang dilakukan berupa pengumpulan data dan klasifikasi data yang diakdiri dengan interpretasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa bentuk dan makna tradisi megalitik di Bantaeng, tentang kepercayaan dan kosmologis yang disebut Patuntung, ajaran kepercayaan tersebut mengenai konsep kepercayaan terhadap alam kehidupan setelah mati. Konsep kepercayaan tersebut kemudian diimplementasikan dalam upacara penyembahan arwah leluhur. Letak pekuburan selalu dekat dari pemukiman yang menunjukkan bahwa kubur merupakan salah satu unsur dari suatu pola permukiman.

Page 1 of 24 | Total Record : 234