cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
The aim of this journal is to publish good-quality articles dedicated to all aspects of the latest outstanding developments in the field of enviromental health. Its scope encompasses Land Sanitation and Waste Management, Water Sanitation, Vectors and Pests Control, Food and Beverage Sanitation, Occupational Health and Safety, and Environmental Health Epidemiology. This journal is published every four months (February, May, August, and November). For printed version, the Vol.1 No.1 was on August 2007. Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta.p-ISSN: 1978-5763(media cetak) ISSN : 2579-3896 (media online)| Tatabumi Street No. 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Contact : 0274 (560962) | email: jurnal.sanitasi@poltekkesjogja.ac.id or jurnal.sanitasi@gmail.com
Arjuna Subject : -
Articles 102 Documents
PENGARUH VARIASI BERAT Saccharomyces cereviceae DAN WAKTU FERMENTASI KULIT NANGKA TERHADAP KADAR BIOETANOL YANG DIHASILKAN Utami, Rizqi Karina; Ganefati, Sri Puji; Windarso, Sarjito Eko
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 6, No 4 (2015): Mei 2015
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.424 KB) | DOI: 10.29238/sanitasi.v6i4.142

Abstract

Untuk mencukupi kebutuhan akan energi, diperlukan bahan bakar alternatif untuk dikembang- kan, salah satunya adalah bioetanol. Bioetanol adalah cairan kimia yang diperoleh dari bahan tanaman, buah atau bagian tanaman yang bergula, berpati dan berselulosa. Kulit nangka me- miliki kadar gula 14,752 %, di mana dari hasil uji pendahuluan, dengan penambahan Saccha- romyces cereviceae limbah tersebut dapat difermentasi dan menghasilkan bioetanol. Tujuan pe- nelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari variasi berat Saccharomyces cereviceae (yaitu 0%, 25%, 50% dan 75%) dan waktu fermentasi (yaitu 4,5 hari, 7,5 hari dan 10,5 hari) dari kulit nangka terhadap kadar bioetanol yang dihasilkan, dengan melakukan eksperimen dengan desain post test with control group. Kadar bioetanol tertinggi yang diperoleh adalah sebesar 5,63731 %, yaitu dari variasi berat Saccharomyces cereviceae 50% dan pada variasi waktu 7,5 hari. Hasil uji statistik dengan one way anova pada derajat kepercayaan 95%, menyimpulkan bahwa perbedaan kadar bioetanol yang dihasilkan dari berbagai variasi berat Saccharomyces cereviceae dan waktu fermentasi yang diamati, adalah signifikan (p<0,001).
PERANAN GAMBAR PADA TEMPAT SAMPAH DALAM MENINGKATKAN FREKUENSI MEMBUANG SAMPAH SISWA SDN TAHUNAN, KECAMATAN UMBULHARJO, KOTA YOGYAKARTA, TAHUN 2015 Junaidi, Junaidi; Suyanto, Adib; Sudaryanto, Sigid
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 7, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.326 KB) | DOI: 10.29238/sanitasi.v7i2.120

Abstract

Kegiatan penanganan sampah dapat melibatkan seluruh masyarakat, termasuk anak-anak. Pengajaran sedini mungkin pada anak-anak merupakan awal yang bagus untuk membiasakan mereka membuang sampah pada tempat yang benar karena karena di usia tersebut mereka mudah untuk mengerti dan mampu melaksanakan. Penelitian ini menggunakan tiga gambar ka- rakter kartun pada tempat sampah untuk mengetahui gambar mana yang paling disukai anak- anak SD Tahunan, di Kota Yogyakarta sehingga mempengaruhi frekuensi membuang sampah mereka. Studi yang dilakukan bersifat kuasi eksperimen dengan menggunakan desain pene- litian post test only dengan obyek penelitian adalah seluruh siswa SDN tersebut yang ber- jumlah 336 siswa. Pengamatan frekuensi membuang sampah dilakukan selama 10 hari antara pukul 07:00-11:00 WIB, dan dari hasil uji statistik dengan one way anova pada derajat keper- cayaan 95 %, diketahui bahwa frekuensi pembuangan sampah di antara ketiga gambar yang digunakan memang berbeda secara bermakna (p=0,027) dan dengan uji LSD diketahui bahwa gambar Doraemon adalah yang paling diminati siswa.
HUBUNGAN INTENSITAS PENCAHAYAAN DAN PENATAAN KAMAR DENGAN TINGKAT KONSENTRASI BELAJAR DI RUMAH KOS PUTRI KAJOR, NOGOTIRTO, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA Hidayani, Febi; Bagyono, Tuntas; Rahardjo, F. X. Amanto
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 6, No 4 (2015): Mei 2015
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.184 KB) | DOI: 10.29238/sanitasi.v6i4.143

Abstract

Rumah kos menyewakan kamar yang digunakan untuk tinggal sementara, di mana bagi maha- siswa perantau, tempat itu merupakan rumah ke dua karena hampir segala jenis kegiatan di- lakukan di dalamnya termasuk aktifitas belajar yang membutuhkan konsentrasi. Berdasarkan survei pendahuluan di rumah kos putri yang berada di belakang kampus Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, diperoleh rerata hasil pengukuran pencahayaan sebesar 24,81 lux dan sebagian besar penataan barang di kamar-kamar kos tersebut kurang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara intensitas pencahayaan dan penataan kamar dengan ting- kat konsentrasi belajar di Rumah Kos Putri Kajor dengan melakukan penelitian survei dengan pendekatan cross sectional. Ada 60 kamar kos yang diteliti dengan 60 orang penghuni sebagai responden yang diambil secara purposive. Intensitas cahaya diukur dengan lux meter, penataan ruang dinilai dengan check list, dan konsentrasi belajar diketahui melalui kuesioner. Hasil pene- litian menunjukkan bahwa kamar kos yang pencahayaannya memenuhi syarat hanya 46,7% dan yang penataannnya baik hanya 48,3 %, diketahui pula bahwa responden yang konsentrasi belajarnya buruk lebih banyak dibandingkan dengan yang baik. Analisis dengan menggunakan uji korelasi rank Spearman pada taraf signifikansi 5 % menyimpulkan bahwa intensitas pencaha- yaan dan penataan kamar, secara bermakna berhubungan erat dan positif dengan konsentrasi belajar, yaitu masing-masing dengan koefisien  sebesar 0,991 dan 0,951, dengan semua nilai p < 0,001.
Kursus Penjamah Makanan pada Jasa Boga PT “X” di Madiun Lukmitarani, Ratih; Muryoto, Muryoto; Amalia, Rizki
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 9, No 3 (2018): Februari 2018
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1246.744 KB) | DOI: 10.29238/sanitasi.v9i3.132

Abstract

Kebiasaan penjamah makanan yang buruk merupakan sumber utama dan sekunder dari pa-togenik atau mikroorganisme toksigenik yang siap ditularkan melalui makanan baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan penyakit enterik pada manusia. Penyakit yang dapat terjadi akibat makanan dapat dicegah dengan memberikan pendidikan bagi penjamah makanan sesuai yang dianjurkan dalam Permenkes No.1096/Menkes/Per/VI/ 2011 tentang Higiene Sanitasi Jasa Boga yang disebut sebagai Kursus Higiene Sanitasi Ma-kanan. Kursus ini dilakukan dengan dua metoda, yaitu ceramah dan tutorial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan penguasaan materi antara sebelum dan sesudah di-berikan kursus, bagi penjamah makanan di jasa boga PT “X” di Madiun. Jenis penelitian yang dilakukan adalah true experiment dengan rancangan penelitian pre-test post-test control group. Dari populasi 55 orang penjamah makanan, diambil 32 orang sampel secara random, yaitu 16 untuk kelompok ceramah dan 16 orang untuk kelompok tutorial. Data dianalisis dengan meng-gunakan t-test, dan hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan penguasaan materi me-ngenai higiene sanitasi makanan, antara sebelum dan sesudah dilakukan kursus, baik melalui metoda ceramah (p<0,001) maupun metoda tutorial (p<0,001). Penguasaan materi dengan me-toda tutorial mengalami peningkatan lebih tinggi, yaitu sebesar 22,2 %; dibanding dengan me-toda ceramah yang hanya meningkat 17,3 %. Dapat disimpulkan bahwa penguasaan materi penjamah makanan tentang hygiene dan sanitasi makanan antara sebelum dan sesudah kur-sus adalah berbeda, baik dengan metoda ceramah maupun tutorial.
POLA PENANGANAN DAN ALIRAN MATERI SAMPAH B3 RUMAH TANGGA DI KABUPATEN SLEMAN Iswanto, Iswanto; Sudarmaji, Sudarmaji; Wahyuni, Endang Tri; Sutomo, Adi Heru
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 7, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.636 KB) | DOI: 10.29238/sanitasi.v7i2.124

Abstract

Sampah rumah tangga yang mengandung bahan bebahaya dan beracun (B3) masih diperlaku- kan sama seperti sampah domestik. Aliran sampah B3 rumah tangga (SB3-RT) mengikuti pola penanganan sampah yang dijalankan. Sebagian besar sampah (85,52 %) di Kabupaten Sleman, termasuk SB3-RT, hanya dibakar, dibuang ke sungai, ditimbun di pekarangan rumah atau dibu- ang pada tempat pembuangan sampah ilegal, sedangkan 11,85 % yang lain diangkut dan dibu- ang ke TPA Piyungan dan sekitar 2,63 % dipilah dan dikumpulkan oleh Kelompok Pengelola Sampah Mandiri. Timbulan SB3-RT di Kabupaten Sleman sebesar 2,438 gram/orang/hari atau 2,81 ton/hari pada tahun 2013 dan memiliki karakteristik: mudah meledak, mudah terbakar, reaktif, beracun, infeksius dan korosif. Aliran materi SB3-RT dipengaruhi oleh aktivitas sektor in- formal (pemulung dan pengepul) yang memungut jenis SB3-RT berharga (recycleable) dan men- jual kepada pelaku daur ulang sehingga berpotensi mengurangi dampak pencemaran lingkung- an (air, udara, tanah). Sistem pengelolaan sampah mandiri (pola mandiri) mampu mengurangi SB3-RT yang dibuang ke lingkungan paling besar yaitu 85,71 %, sistem pelayanan (pola per- kotaan) mengurangi 80,30 % dan pengurangan pada pola perdesaan sebesar 47,55 %.
Pengaruh Penerapan SOP Praktik di Laboratorium terhadap Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Mahasiswa dalam Upaya K3 Sya’diyah, Sarifah; Suwarni, Agus; Kasjono, Heru Subaris
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 9, No 3 (2018): Februari 2018
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1231.033 KB) | DOI: 10.29238/sanitasi.v9i3.134

Abstract

Laboratorium terpadu merupakan fasilitas yang tersedia untuk kegiatan praktik laboratorium di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Dalam pelaksanaan praktikum banyak kendala yang dihada-pi walaupun sudah diberlakukan tata tertib pelaksanaan praktikum. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) praktik di laboratorium terhadap tingkat pengetahuan dan perilaku mahasiswa dalam upaya keselamatan dan kese-hatan kerja (K3). Metoda penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan rancang-an non-equivalent control group. Metode pengambilan sampel untuk menentukan responden secara non-probability sampling dimana untuk masing-masing kelompok perlakuan dan kontrol ada 39 orang responden. Hasil penelitian diuji normalitas datanya menggunakan uji Kolmogo-rov-Smirnov dan selanjutnya dianalisis menggunakan uji Wilcoxon One Sample dan uji Mann Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh penerapan SOP praktik di laboratorium terhadap tingkat pengetahuan dan perilaku mahasiswa dalam upaya K3. Nilai p value <0,001 untuk nilai pengetahuan dan perilaku artinya ada perbedaan pengetahuan dan perilaku antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Per-bedaan kelompok eksperimen dan kontrol menunjukkan hasil p value < 0,001 yang berarti seli-sih antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berbeda secara signifikan. Kesimpulan penelitian ini adalah penerapan SOP praktik di laboratorium mempengaruhi tingkat pengetahu-an dan perilaku mahasiswa dalam upaya K3.
Biaya Penyehatan Lingkungan pada Bidan Praktik Swasta di Kecamatan Gamping, Sleman, 2016 Fauzie, Mohamad Mirza
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 9, No 3 (2018): Februari 2018
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1469.922 KB) | DOI: 10.29238/sanitasi.v9i3.137

Abstract

 Bidan praktik swasta (BPS) dalam melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan penularan penyakit. Untuk mencegah risiko tersebut maka BPS melaksanakan kegiatan penyehatan lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kegiatan tersebut serta mengetahui biaya yang dikeluarkan oleh BPS melalui observasi lapangan serta wawancara tentang biaya yang dikeluarkan. Kegiatan observasi me-liputi penyediaan air bersih, pengelolaan limbah medis padat, pengendalian serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya serta sterilisasi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa penye-hatan lingkungan yang berhubungan dengan penyediaan air bersih kegiatannya adalah meng-gunakan air dari PDAM dan memeriksakan kualitas air; pengelolaan limbah medis padat: me-nyediakan tempat penampungan sementara berupa safety box, dan menggunakan chlorine se-bagai bahan habis pakai dalam pengelolaannnya, serta untuk memusnahkan bekerja sama de-ngan rumah sakit, puskesmas dan perusahaan swasta. Dalam kegiatan pengendalian serang-ga, tikus dan binatang pengganggu, tindakan pertama dalam mencegah masuk adalah dengan menggunakan pintu tertutup, serta cara pencegahan yang lain berupa penggunakan kasa stri-min dan perangkap, dan pembasmi serangga bila sudah masuk ke dalam rumah serta menjaga kebersihan. Dalam kegiatan sterilisasi yang dilakukan adalah sterilisasi ruangan dan alat de-ngan menggunakan alkhohol, chlorine dengan teknik sterilisasi merebus/mengukus. Rata rata biaya per bulan yang dikeluarkan oleh BPS untuk kegiatan penyediaan air bersih adalah Rp. 62.272, biaya pengelolaan limbah medis padat: Rp.57.778, pengendalian serangga, tikus dan binatang pengganggu: Rp.41.041, dan biaya sterilisasi: Rp.38.833. Untuk empat kegiatan pe-nyehatan lingkungan tersebut diperlukan rata rata biaya: Rp. 199.925/bulan. Untuk menjaga a-gar kegiatan penyehatan lingkungan tetap berjalan, maka perlu pengawasan, monitoring dan dukungan dari puskesmas dan pengurus IBI setempat serta perlu disusun SOP untuk masing masing kegiatan penyehatan lingkungan yang telah dan yang belum dilakukan.
HUBUNGAN KONDISI LINGKUNGAN FISIK RUMAH DAN KEJADIAN ISPA DI KELURAHAN BENER, TEGALREJO, YOGYAKARTA, TAHUN 2014 Pradani, Deavita Intan; Muryani, Sri; Husein, Achmad
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 6, No 4 (2015): Mei 2015
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.58 KB) | DOI: 10.29238/sanitasi.v6i4.145

Abstract

Sebagai sarana pengembangan kehidupan dan tempat berkumpul anggota keluarga untuk meng- habiskan sebagian besar waktu, rumah harus nyaman dan sehat. Rumah yang tidak sehat erat kaitannya dengan peningkatan kejadian ISPA. ISPA masuk dalam 10 besar penyakit di wilayah kerja Puskesmas Tegalrejo. Hasil survei pendahuluan di Kelurahan Bener diperoleh hasil 39 % rumah tidak sehat, 53 % kurang sehat, dan hanya 8 % yang sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi lingkungan fisik rumah dengan kejadian ISPA di kelurahan tersebut dengan melakukan studi kasus kontrol. Kelompok kasus adalah rumah 30 kasus baru ISPA yang datang berkunjung ke Puskesmas Tegalrejo yang dipilih secara random, sementara kelompok kontrol adalah 30 rumah tetangga dekat kasus yang tidak menderita ISPA dan memiliki karakteristik yang hampir sama. Pengukuran parameter kondisi fisik rumah yang meliputi luas ventilasi, suhu, kelembaban dan pencahayaan di dalam rumah, masing-masing menggunakan instrumen pengukur yang sesuai dan dihitung rerata dari tiga kali pengukuran. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dari keempat parameter yang diteliti, yang berhubungan dengan kejadian ISPA adalah kelembaban (OR: 3,82; 95% CI: 1,15-12,71; p: 0,024) dan pencahayaan (OR: 4,00; 95% CI: 1,37-11,70; p: 0,009), sementara yang tidak berhubungan adalah luas ventilasi (OR: 1,80; 95% CI: 0,39-8,32; p: 0,448) dan suhu di dalam rumah (OR: 3,79; 95% CI: 0,75-10,33; p: 0,117).
MANFAAT EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle Linn) SEBAGAI HAND SANITIZER UNTUK MENURUNKAN ANGKA KUMAN TANGAN Hapsari, Dewita Nungki; Hendrarini, Lilik; Muryani, Sri
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 7, No 1 (2015): AGUSTUS 2015
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.519 KB) | DOI: 10.29238/sanitasi.v7i1.123

Abstract

Daun sirih merupakan tumbuhan yang mengandung zat antiseptik dan dapat membunuh bakteri dan jamur serta memiliki daya antioksidan. Hand sanitizer adalah zat pembersih tangan tanpa menggunakan air yang dapat menghambat pertumbuhan hingga membunuh bakteri. Tujuan pe- nelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan hand sanitizer dengan ekstrak daun sirih terhadap penurunan angka kuman tangan melalui pelaksaan eksperimen dengan rancang- an pre-test post-test group. Subyek penelitian adalah 36 siswa Kelas V SDN 1 Pedes, Sedayu, Kabupaten Bantul yang dibagi ke dalam tiga kelompok penelitian yaitu masing-masing hand sa- nitizer dengan konsentrasi ekstrak daun sirih sebesar 10 %, 20 % dan 30 %. Pemeriksaan ang- ka kuman dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta, dan hasilnya adalah konsen- trasi 10 % mampu menurunkan angka kuman sebesar 507,75 koloni/cm2 atau 77,92 %; konsen- trasi 20 % sebesar 3967,75 koloni/cm2 atau 86,13 %; dan konsentrasi 30 % sebesar 776,08 ko- loni/cm2 atau 93,94 %. Dengan menggunakan uji one way anava pada taraf signifikansi 5 %, di- ketahui bahwa perbedaan penurunan tersebut bermakna secara statistik (p<0,001) dan dengan uji lanjutan LSD disimpulkan bahwa konsentrasi yang paling efektif adalah 20 %.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN SIKAP MASYARAKAT DALAM MENGELOLA SAMPAH BERBASIS BANK SAMPAH DI KABUPATEN BANTUL Suwerda, Bambang; Sudibiyakto, Sudibiyakto; Kurniawan, Andri
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 9, No 3 (2018): Februari 2018
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.785 KB) | DOI: 10.29238/sanitasi.v9i3.86

Abstract

Peningkatan jumlah timbulan sampah telah menimbulkan banyak persoalan serius dan kompleks di banyak wilayah. Pengelolaan sampah yang dilakukan masyarakat selama ini yaitu dengan sistem kumpul-angkut-buang yang dapat menimbulkan persoalan terhadap lingkungan. Hal tersebut perlu dicari alternatif lain yang lebih ramah lingkungan, salah satunya yaitu dengan sistem bank sampah. Partisipasi  masyarakat Kabupaten Bantul dalam memilah dan menabung sampah di bank sampah masih rendah. Perlakuan memilah  sampah yaitu 10,28% dipilah dan sebagian dimanfaatkan, 13,41% dipilah kemudian dibuang dan 76,31% tidak dipilah. Alasan masyarakat tidak memilah sampah paling banyak dikarenakan malas yaitu 40,56%, tidak tahu sampah harus dipilah sebelum dibuang 33,33%, tidak ada fasilitas 11,79%, tidak menguntungkan 10,48% dan 3,92% tidak ada peraturan (Muslih,2016).Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap masyarakat dalam mengelola sampah berbasis Bank Sampah di Kabupaten Bantul. Jenis penelitian ini termasuk penelitian analitik  observasional dengan purposive sampling. Hasil dengan uji statistik menggunakan spearman diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05) dan korelasinya yaitu 0,433, diketahui bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan sikap mayarakat dalam mengelola sampah berbasis bank sampah di Kabupaten Bantul dengan kekuatan hubungan sedang.

Page 1 of 11 | Total Record : 102