cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal ini berisi mengenai Editorial Kesehatan, Literature Review, dan Hasil Penelitian dalam bidang kesehatan masyarakat seperti Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, Gizi Kesehatan, Administrasi Kebijakan Kesehatan, Epidemiologi, Biostatistika dan Kependudukan, Perilaku dan Promosi Kesehatan, Kesehatan Ibu Anak dan Kesehatan Reproduksi.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 1 (2015): April 2015" : 12 Documents clear
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYIMPANAN OBAT KERAS DAN OBAT ANTIBIOTIKA TANPA RESEP DI PROVINSI GORONTALO (Analisis Data Riskesdas 2013) Khairiyati, Laily
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak  Pengobatan sendiri dikenal dengan istilah self medication atau swamedikasi. Banyak faktor yang mempengaruhi swamedikasi oleh masyarakat diantaranya adalah faktor predisposisi, faktor pemungkin, dan faktor pendukung. Secara nasional, hasil Riskesdas 2013 menyebutkan bahwa provinsi Gorantalo memiliki proporsi penyimpanan obat antibiotik dan obat keras masing-masing 74,7% dan 70,8%. Adanya obat keras dan antibiotika untuk swamedikasi menunjukkan penggunaan obat yang tidak rasional. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan karakteristik individu (jenis kelamin, status ekonomi, tingkat pendidikan), dan sumber mendapatkan obat dengan penyimpanan obat keras dan obat antibiotika tanpa resep. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan potong lintang. Responden penelitian ini adalah seluruh kepala rumah tangga pada Riskesdas 2013 di Provinsi Gorontalo. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner rumah tangga Riskesdas 2013 pada blok VI farmasi dan pelayanan kesehatan tradisional. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi penyimpanan obat keras dan obat antibiotika tanpa resep adalah sumber mendapatkan obat (p=0,000; OR=22,9). Diperlukan suatu kebijakan yang berkaitan dengan pengobatan sendiri untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh obat keras dan obat antibiotika secara berlebihan. Kata-kata Kunci:           penyimpanan obat tanpa resep, obat keras, obat antibiotika,  sumber mendapatkan obat Abstract Self-medication is known as swamedication. Many factors affect the community swamedication include predisposing factors, enabling factors and supporting factors. Riskesdas 2013 mentions that Gorantalo province has a higher proportion of antibiotic drug storage and hard drugs respectively 74.7% and 70.8%. The presence of hard drugs and antibiotics to swamedication show irrational drug use. The purpose of this study was to determine the relationship of individual characteristics (gender, economic status, education level), and storage resources to get drugs with hard drugs and antibiotics without a prescription. This research is observational analytic with cross-sectional design. The respondents were all heads of households in Riskesdas 2013 in Gorontalo Province. Research instruments used Riskesdas 2013 household questionnaire in block VI traditional pharmaceutical and health care. Data were statistically analyzed using the chi square test. The results showed that the factors that affect the storage of hard drugs and antibiotics without a prescription is a source of getting the drug (p = 0.000; OR = 22.9). Required a policy relating to the treatment itself to protect the public from the negative impact caused by hard drugs and antibiotics overuse.  Keywords: storage of drugs without a prescription, prescription drugs, antibiotics, source of getting drugs
KARAKTERISTIK PENDERITA TB PARU PENGGUNA OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) DI INDONESIA Zubaidah, Tien; Setyaningrum, Ratna
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tuberkulosis (TB) Paru merupakan penyakit infeksi kronik dan menular yang erat kaitannya dengan keadaan lingkungan dan perilaku  masyarakat.  Upaya penurunan TB Paru di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1969, namun sampai sekarang perkembangan penanggulangan  TB Paru belummenunjukkanhasilyangmenggembirakan.Ketidakpatuhan penderita dalam pengobatan TB Paru membuat bakteri TB  Paru menjadi resisten pada tubuh. Pengawasan selama proses pengobatan yang berlangsung tidak dapat terlaksana dengan baik oleh keluarga maupun penderita sendiri. Tujuan umum yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menganalisis faktor yang berpengaruh terhadap penggunaan OAT pada penderita TB Paru di Indonesia ditinjau dari karakteristik individu (umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan) dan status pekerjaan. Jenis penelitianstudi non-intervensi dan desain penelitian potong lintang (cross sectional). Penelitian ini dilakukan pada 33 (tiga puluh tiga) provinsi di Indonesia. Hasil uji regresi logistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, dengan penggunaan OAT. Variabel status pekerjaan penderita TB Paru tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penggunaan OAT (p=0,454). Kata-kata Kunci : Karakteristik Penderita TB Paru, Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Abstract                Pulmonary tuberculosis is a chronic infectious and contagious disease that is closely related to the environment and peoples behavior. Pulmonary tuberculosis reduction efforts in Indonesia have started since 1969, but until now the development of pulmonary tuberculosis prevention have not shown encouraging results. Non-compliance in the treatment of patients with pulmonary tuberculosis make Pulmonary tuberculosis bacteria become resistant to the body. Supervision during the treatment process which takes place can not be implemented properly by the family and the patient himself. The general objective to be achieved in this research was to analyze the factors that influence the use of anti-tuberculosis drugs in patients with pulmonary tuberculosis in Indonesia in terms of individual characteristics (age, gender and level of education) and job status.The study of non-intervention studies and cross-sectional study design (cross-sectional). This study was conducted on 33 (thirty-three) provinces in Indonesia. The results of logistic regression test showed a significant relationship between sex, age, education level with the use of anti-tuberculosis drugs. Job status variables pulmonary tuberculosis patients did not significantly affect the use of anti-tuberculosis drugs (p = 0.454). Factors that influence the use of anti-tuberculosis drugs in patients with Pulmonary in Indonesia that the characteristics of patients with pulmonary tuberculosis (gender, age, level of education) are an influential factor in this study and statistically significant. Keywords: The Characteristics of Patients With Pulmonary Tuberculosis, The use Anti-Tuberculosis Medicine
EFEKTIFITAS PERAWATAN TALI PUSAT TEKNIK KERING DAN TERBUKA TERHADAP LAMA PUPUT TALI PUSAT DI KOTA BANJARBARU Noorhidayah, Noorhidayah; Fakhriyah, Fakhriyah; Isnawati, Isnawati; Tazkiah, Muhammad
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak  Tetanus neonatorum dan infeksi tali pusat menjadi penyebab kesakitandankematiandiberbagainegara.Setiaptahunsekitar 500.000 bayi meninggal karena tetanus neonatorum . Tujuanpenelitianmenganalisis efektifitas perawatan tali pusat dengan teknik kering dan terbuka terhadap lama puput tali pusat pada bayi baru lahir. Desain penelitian adalah analitik dengan pendekatan kohort. Populasi adalah bayi baru lahir bulan April – Mei 2014 dengan berat badan >2500 gramdi BPS Lasmitasari, S.ST, Siti Musrifah, Am.Keb, Wiwik Indriani, Am.Keb dan RSUD Banjarbaru. Sampel menggunakanaccidental sampling. Hasil uji denganMann – Whitneymenunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara perawatan tali pusat dengan teknik kering dan terbuka terhadap lama puput tali pusat pada bayi baru lahir (p = 0,759 >α = 0,05). Disarankan bagi tenaga kesehatan memberikan pengetahuan kepada ibu tentang perawatan tali pusat yang efektif, seperti teknik kering dan terbuka sehingga ibu dapat memberikan perawatan tali pusat yang tepat dan aman untuk bayi. Kata-kata Kunci : perawatan tali pusat, teknik kering, teknik terbuka, lama pupus tali pusat Abstract Neonatal Tetanusandumbilical cord stump infection are the causes ofmorbidityandmortalityinvariouscountries. Each year about500,000babiesdie because ofNeonatal Tetanus.The purposeof studyto analyzethe effectiveness of stumptreatmentwithdryandopen technique toward fall off time of stump on newborn baby. Theresearch designwasa cohortanalyticapproach. The population arenewborn baby which was born inApril-May2014hasweight>2,500 gramatBPSLasmitasari, S.ST, SitiMusrifah, Am.Keb, WiwikIndriani, Am.KebandRSUDBanjarbarufrom April to May, 2014. Sample using accidental sampling. Mann-Whitney testshowed nodifferencebetweentreatmentwithdryandopen technique to stump on newborn baby(p =0.759>α=0.05). For health workers should be able to educate mothers about stump effective treatment, such as dry technique and open technique in order to provide safe and proper umbilical cord treatment for babies. Key words : umbilical cord treatment, dry technique, open technique, the fall off time of stump  
FAKTOR RISIKO PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GUNTUNG PAYUNG KOTA BANJARBARU (TINJAUAN TERHADAP FAKTOR MANUSIA, LINGKUNGAN, DAN KEBERADAAN JENTIK) Fakhriadi, Rudi; Yulidasari, Fahrini; Setyaningrum, Ratna
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan di dunia. Tahun 2009 di kota Banjarbaru terdapat 130 kasus Penderita Demam Berdarah dengan penderita meninggal dunia terbanyak di Kecamatan Guntung Payung sebanyak 7 orang. Faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit DBD antara lain host, lingkungan, dan keberadaan jentik. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor risiko DBD berdasarkan perilaku keluarga yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan tentang pemberantasan sarang nyamuk (PSN), faktor lingkungan (dinding rumah, keberadaan sumur gali dan kepadatan hunian) serta keberadaan larva Aedes aegypti (Container Index) di wilayah Puskesmas Guntung Payung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian case control yang. Sampel penelitian dengan teknik purposive sampling adalah 50 orang dengan 25 orang kontrol dan 25 orang kasus.Berdasarkan uji odd ratio dengan derajat kepercayaan 95% pengetahuan (OR=7,944), sikap (OR=7,875), dan tindakan (OR=14,636) tentang PSN merupakan faktor risiko kejadian DBD. dinding rumah yang rapat (OR = 11,296), ketersediaan sumur gali (OR = 1,263), dan kepadatan hunian (OR = 6,682) merupakan faktor risiko kejadian DBD. Container Index merupakan faktor risiko kejadian DBD (OR = 8,143). Disimpulkan bahwa faktor manusia, lingkungan, dan keberadaan jentik merupakan faktor risiko terjadinya penyakit DBD di wilayah Kerja Puskesmas Guntung Payung kota Banjarbaru. Kata-katakunci:DBD, PSN, container index Abstract Dengue fever is one of the world health problem for communicablediseases. Banjarbaru City has recorded 130 cases with 7 death casualties in GuntungPayungsubdistrict at year 2009. Dengue Fever was affected by several causes including host, environment and wiggler existence. The Main Purpose for this research is to discover risk factor based on family behavior like basic knowledge, attitude and action to exterminate mosquito breed place (PSN), surrounding environment (tight house wall, conventional well and housing density) and existence of larva AedesAegypti (Container Index) around GuntungPayung Community Health Center. This research used Obsevational Analytic method with Case Control for Research Design. Purposive Sampling technique from 50 people including 25 people for Control and 25 people for Case in Research Sampling. According to Odd Ratio test using trust-degree for 95% knowledge (OR=7,944), attitude (R=7,875) and action (OR=14,636) about PSN were accumulated to Dengue Fever risk factors. Tight house wall (OR = 8,143), availability of conventional well (OR = 1,263) and housing density (OR = 6,682) were accumulated to Dengue Fever risk factors. Container Index (OR = 8,143) were accumulated to Dengue Fever risk factor. Being said that Human, Environtment and Wigler existence were considered the risk factors for Dengue Fever at GuntungPayung Community Center in Banjarbaru City.Keywords:DBD, PSN, container index 
BERBAGAI FAKTOR RISIKO KEJADIAN TB PARU DROP OUT ( Studi Kasus di Kabupaten Jepara dan Pati) Himawan, Ari Budi; Hadisaputro, Suharyo; Suprihati, Suprihati
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTB masih menjadi beban yang tinggi bagi masalah kesehatan di Indonesia yang menduduki peringkat ke-4 dunia dalam kejadian TB. Drop out merupakan salah satu penyebab terjadinya kegagalan pengobatan yang meningkatkan kemungkinan terjadinya MDR TB. MDR TB memerlukan biaya pengobatan lebih banyak dan waktu yang lebih lama. Tujuan penelitian adalah untuk menjelaskan pengaruh karakteristik individu dan lingkungan sebagai faktor risiko kejadian TB DO.Penelitian ini dilakukan secara observasional analitik dengan desain kasus kontrol dengan ditunjang analisa kualitatif. Jumlah subyek 70 orang, dengan rincian 35 kasus TB DO dan 35 kontrol( menyelesaikan pengobatan) yang tercatat antara tahun 2012-2013, dipilih secara consecutive sampling. Analisis data secara bivariat dengan uji chi Square dan multivariat dengan uji regresi logistik.Faktor risiko kejadian TB DO yang terbukti yaitu kurangnya pengetahuan tentang TB ( OR =78,6, 95% CI=11,697-528,218 ,p=0,000), pengalaman merasakan ESO ( OR=6,338, 95% CI=1,279-31,420,p=0,024), dan menggunakan obat tradisional (OR=7,451, 95% CI=1,315-42,209, p=0,023). Variabel yang tidak terbukti adalah umur, jenis kelamin, pekerjaan, penghasilan, tingkat pendidikan, akses menuju tempat pengobatan).Faktor risiko kejadian TB DO adalah kurangnya pengetahuan tentang TB, pengalaman merasakan ESO dan menggunakan obat tradisional. Kata-kata Kunci : TB DO, Efek samping obat, obat tradisional AbstractTuberculosis is still a high burden for health problems in Indonesia, which was ranked 4th in the worl . Drop out TB treatment was noted as one of the causes  that related to treatment failure, which is more risk to be MDR. MDR TB treatment will take more cost and time to cure it . The purpose of study was to investigate the risk factors, individual characteristics and environment, for incidence of TB DO. The study using analytic observational case-control design and enhanced by qualitative analysis. There are 70 subjects consists  of 35 cases of TB defaulter and 35 controls (complete treatment ) that reported between 2012 and 2013, consecutive sampling was used to selected respondent. Bivariate analysis using chi Square test and logistic regression for multivariate analysis. Multivariate analysis show that risk factors for TB DO include  lack of knowledge about TB ( OR = 78.6 , 95 % CI = 11.697 to 528.218 , p = 0.000 ) , the experience drug side effect ( OR = 6.338 , 95 % CI = 1.279 to 31.420 , p = 0.024 ) , and using traditional medicine (OR = 7.451 , 95 % CI = 1.315 to 42.209 , p = 0.023 ) . Elder age , sex male , occupation , lower income , level of education and access were not associated for TB DO. Risk factors for  TB DO is a lack of knowledge about TB , the experience side effect medicine and using traditional medicine . Keywords : TB DO , side effect of drug , traditional medicine
HUBUNGAN ANTARA KEPATUHAN MINUM TABLET FE DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI DI MA DARUL IMAD KECAMATAN TATAH MAKMUR KABUPATEN BANJAR Yuniarti, Yuniarti; Rusmilawaty, Rusmilawaty; Tunggal, Tri
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Remajaputrimerupakansalahsatukelompok yang rawanmenderita anemia. Di Indonesia, prevalensi anemia masihcukuptinggi. Penyebabutama anemia gizipadaremajaputriadalahkarenakurangnyaasupanzatgizimelaluimakanan, sementarakebutuhanzatbesirelatiftinggiuntukkebutuhandanmenstruasi.PenelitianinimerupakanpenelitianSurveyanalitikdenganpendekatankuantitatif.Rancangan yang digunakanadalahCross Sectional.PenelitianinimencobamengetahuiApakah ada hubungan antara kepatuhan minum tablet Fe dengan kejadian anemia pada remaja Putri di MA DarulImadKecamatanTatahMakmurKabupatenBanjarTahun 2013.Populasi adalah seluruh remaja putri yang mengalami anemia di  MA Darul Imad Kecamatan Tatah Makmur Kabupaten Banjar Tahun 2013 berjumlah 97 orang. Sampel adalah seluruh remaja putri kelas  IX dan telah diberikan Tablet Feselama 6 minggu berjumlah 49 orang.Hasilpenelitiandidapatkanbahwa responden yang mengalami anemia sebanyak 20 orang (40,8%) dan sebanyak 20orang (40,8%) tidakpatuh mengkonsumsi tablet besi 1 kali sehari selama 6 minggu.Hasilujichi squaredidapatkanadahubunganantarakepatuhanminum tablet besidengankejadian anemia di  MA Darul Imad Kecamatan Tatah Makmur Kabupaten Banjar Tahun 2013.Perlunyameningkatkanpengetahuanremajaputritentang anemia danmanfaat tablet Fe yandibagikan agar anemia padaremajaputridapatdiatasidenganbaik. Kata-kataKunci: tablet Fe dankejadian anemia  Abstract Female teenaer is one of the group who prone to suffer from anemia. In Indonesia, anemia prevalence is still high. The main causes of nutritional anemia at female teenager because lack of nutrient intake through food, while the iron is relatively high for needs and menstruation.This research is analytic survey research with quantitative approach and used cross sectional design. This research is trying to find out the correlation between obedience of female teenager is consumption of fe tablet with incidence of Anemia in Islamic Senior High School DarulImadTatahMakmur District Banjar Regency on 2013.The population was all female teenager who have been anemia in Islamic Senior High School DarulImadTatahMakmur District Banjar Regency on 2013 as many as 97 people. The sample was all of female teenaer grade IX and have administered Fe tablets for 6 weeks as many as 49 people.The result showed that respondents who are anemic as many as 20 people (40,8 %) and as many as 20 people (40,8%) disobedient taking iron tablets (Fe tablets) once a day for 6 weeks. Chi square test result obtained that there was a correlation between obedience in consume Fe tablets with incidence of anemia in islamic Senior High School Darulimad Tanah Makmur District banjar regency on 2013.The need to increase the knowledge of Female teenager about anemia and benefits Fe tablets were distributed so that anemia in feemale teenager can be overcome with good. Keywords: Fe tablet, and incidence of Anemia.
PERBEDAAN POLA MAKAN REMAJA PUTERI SLTP/SEDERAJAT YANG MENDERITA ANEMIA DAN TIDAK ANEMIA DI KABUPATEN BANJAR Adenan, Adenan; Rahayu, Atikah; Yulidasari, Fahrini; Rosida, Azma; Noor, Meitria Syahadatina; Ismaya, Renny
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakAngka anemia di Indonesia sebanyak 72,3%. Prevalensi anemia pada remaja puteri di Indonesia adalah 26,5%. Berdasarkan hasil survei Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2012 menunjukkan bahwa kejadian anemia sebesar ≥ 65,21% pada remaja putri SMP/Mts di Kabupaten Banjar. Penyebabnya antara lainfaktor orangtua dan remaja.  Karena remaja sangat tergantung dengan orangtuanya, maka faktor orangtua sangat berperan terutama pola makan yang disediakan oleh orangtua.Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan pola makan remaja puteri SLTP/sederajat yang menderita anemia dan tidak anemia di Kabupaten Banjar Tahun 2014.Penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitikmelalui pendekatancross-sectional.Populasipenelitianiniadalahorang tua remaja putri SMP wilayah Kabupaten Banjar.Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling.Besar sampel yang didapatkan adalah 92 orang.Hasilpenelitianmenunjukkanremaja yang mengalami anemia sebanyak 19 responden (20,7%) dan yang tidak anemia sebanyak 73 responden (79,3%), dengan pola makan pada siswi SMP di Kabupaten Banjar tergolong baik sebanyak 37 responden (40,2%) dan tidak baik sebanyak 55 responden (59,8%).Hasil chi square menunjukkan p value 0,000, berarti dapat disimpulkan terdapat perbedaan pola makan remaja puteri SLTP/sederajat yang menderita anemia dan tidak di Kabupaten Banjar tahun 2014. Kata-kata kunci: pola makan, remaja putri, anemia AbstractAnaemia in Indonesia is about 72,3%. Prevalence of anaemia in teenagers especially girls is about 26,5%. The survey of Health Department of South Kalimantan in 2012 showed that anaemia in SMP/Mts was about ≥ 65,21%.  The causes were parent factor and teen factor.  Because of teenagers still depent to their parents, so parents factors influence more, especially eating pattern by their parents.  The goal of this research was analyzing the difference of eating pattern in girls with and without anaemia in Banjar District 2014.  This research used observational analytic with cross-sectional.  The population was all of the the girls’ parents in Banjar District 2014.  Sampling was using purposive sampling. Tha sample size that was gotten were 92 people. The result was the girls who got anaemia were 19 (20,7%) and normal were 73 (79,3%), eating pattern of girls in Banjar District was good for 37 people (40,2%) and not good for 55 people (59,8%).  Chi square test showed that p value was 0,000, so we could conclude that there was difference of eating pattern in girls with and without anaemia in Banjar Distric 2014.   Key words: eating pattern, girls, anaemia
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEMATIAN NEONATAL DI KABUPATEN TAPIN Tinjauan Terhadap Pemeriksaan Kehamilan, Penolong Persalinan dan Karakteristik Ibu Noorhalimah, Noorhalimah
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kematian neonatus  Kabupaten Tapin merupakan kematian yang tertinggi di Kalimantan Selatan yaitu sebanyak 56 kasus. Penyebab utama kematian neonatal ini erat kaitannya dengan kesehatan ibu dan pemeriksaan kesehatan ibu yang diperoleh sebelum, selama dan setelah melahirkan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis  faktor–faktor yang berhubungan dengan kematian neonatal  di Kabupaten Tapin di tinjau dari pemeriksaan kehamilan, penolong persalinan dan karakteristik ibu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi analitik dengan metode observasional dan pendekatan cross sectional, adapun sampel dari penelitian ini adalah seluruh neonatus mati di Kabupaten Tapin yaitu 56 kasus. Metode analisis menggunakan uji statistik chi- square pada tingkat kemaknaan 95%. Hasil penelitian ini adalah sebagian besar (57%) kematian neonatal memiliki riwayat pemeriksaan yang tidak baik, hasil uji statistik didapatkan nilai P=0,000, sebagian besar (62,5%) kematian neonatal memiliki riwayat penolong persalinan yang tidak baik dan hasil uji statistik di dapatkan nilai P=0,000, sebagian besar (55,4%) kematian neonatal lahir dari ibu yang mempunyai risiko untuk hamil dan hasil uji statistik di dapatkan nilai P=0,571, sebagian besar (62,5%) kematian neonatal lahir dari ibu yang mempunyai paritas berisiko untuk hamil dan hasil uji statistik didapatkan nilai P=1,000, sebagian besar (92,9%) kematian neonatal lahir dari ibu yang mempunyai jarak kehamilan yang berisiko untuk hamil dan hasil uji statistik di dapatkan nilai P=0,359. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang bermakna antara kematian neonatal dengan pemeriksaan kehamilan dan penolong persalinan. Kata-kata kunci: kematian neonatal, pemeriksaan kehamilan, penolong persalinan dan karakteristik ibu AbstractTapin District neonatal death is the death of the highest in South Kalimantan as many as 56 cases. The main causes of neonatal mortality is closely related to maternal health and maternal health checks were obtained before, during and after childbirth. The purpose of this study was to analyze factors associated with neonatal mortality in Tapin district in 2010 in the review of antenatal care, birth attendants and maternal characteristics. The design of the study is observational analytic study method and approach cross sectional, while the samples of this study are all neonates die in Tapin district is 56 cases. The analysis method using test chi square statistic at the 95% significance level. The results of this study are mostly (57%) had a history of neonatal death was not a good inspection, statistical test results obtained P = 0.000, the majority (62.5%) had a history of neonatal mortality birth attendants were not good and the results of statistical tests in get the value of P = 0.000, the majority (55.4%) of neonatal mortality born to mothers who are at risk for pregnancy and statistical test results in getting the value of P = 0.571, the majority (62.5%) of neonatal mortality born to mothers who have parity risk of pregnancy and statistical test results obtained P = 1.000, the majority (92.9%) of neonatal mortality born to mothers who have a range of adverse pregnancy for pregnant and statistical test results in getting the value of P = 0.359. The conclusion from this study is there a significant relationship between neonatal mortality with pregnancy tests and birth attendants. Keywords : neonatal mortality, prenatal care, birth attendance and characteristics mother.
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN USIA MENARCHE DI SMPN 7 BANJARMASIN Yuliastuti, Erni
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Masa remaja merupakan masa transisi yang unik dan ditandai dengan terjadinya haid pertama/menarche. Membaiknya  standar  kehidupan berdampak pada penurunan usia menarche ke  usia  yang  lebih  muda, usia  menarche remaja  putri  di indonesia  berkisar  pada  angka 10,82  tahun. Berat badan sangat mempengaruhi status gizi dalam kaitanya terhadap usia menarche. Di Kalimantan Selatan prevalensi remaja putri usia 13-15 tahun dengan prevalensi kurus yaitu 11,1% dan prevalensi gemuk yaitu 10,8%. Sebaliknya prevalensi gemuk naik dari 1,4 persen (2007) menjadi 7,3 persen (2013). Selanjutnya akan diteliti hubungan Indeks massa tubuh dengan usia menarche di SMPN 7 Banjarmasin.Rancangan penelitian yang digunakan Cross Sectional (Analitik). Populasi penelitian siswi kelas VIII sebanyak 118 orang. Sampel penelitian sebanyak 55 orang, dengan tehnik Purposive Sampling. Analisa statistik menggunakan uji Chi square.Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar indeks massa tubuh (IMT) kategori normal sebanyak 35 orang (63,6%) dan sebagian besar usia menarche kategori normal sebanyak 46 (83,6%). Analisa Chi square untuk hubungan indeks massa tubuh (IMT) dengan usia menarche didapatkan nilai sebesar 0,001. Nilai signifikan lebih rendah dari taraf signifikan 0,1. Sehingga dinyatakan bahwa terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan usia menarche di SMPN 7 Banjarmasin. Dari penelitian ini indeks massa tubuh berhubungan dengan usia menarche. Kata-kata Kunci : Indeks massa tubuh (IMT), usia menarche  Abstract Adolescence is a unique period of transition and is characterized by the occurrence of the first menstruation / menarche. The improvement in the standard of living impact on the age of menarche to the younger age,  age of menarche girls in Indonesia stood at approximately 10.82 years.  Weight greatly affect nutritional status in relation to the age of menarche. In South Kalimantan prevalence of young women aged 13-15 years with a prevalence of 11.1% and the underweight prevalence is 10.8% fat. Conversely the prevalence of obese rose from 1.4 percent (2007) to 7.3 percent (2013). Furthermore, we will study the relationship of body mass index with age of menarche in SMPN  7 Banjarmasin. Used a cross sectional design (Analytical).  The study population was 118 eighth grader with the purposive sampling technique, number of samples 55 respondents. Statistical analysis using Chi square test. The results showed most of the body mass index (BMI) of normal category by 35 people (63,6%) and most of the normal age of menarche category as many as 46 people (83,6%). Chi-square analysis for the relationship of body mass index (BMI) with age of menarche obtained  value of 0.001. Significantly lower value than the significant level of 0.1. So it is stated that there is a relationship between body mass index with age of menarche in SMP 7 Banjarmasin. In this study, body mass index associated with the age of menarche. Keywords : Body mass index (BMI), age of menarche
HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH DAN KEPADATAN HUNIAN DENGAN KEJADIAN ISPA NON PNEUMONIA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI PINANG Ningrum, Evytrisna Kusuma
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak ISPA merupakan salah satu penyebab kematian utama pada balita, khususnya di Negara berkembang. Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ISPA terbagi atas dua kelompok besar yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan kondisi fisik rumah dan kepadatan hunian dengan kejadian ISPA non pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Sungai Pinang tahun 2011. Jenis dari penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan metode pendekatan crose sectional. Hasil analisis data menggunakan chi square menunjukkkan suhu dengan P-value = 1,000, kelembapan dengan P-value = 1,000, luas ventilasi dengan P-value =0,213, dan kepdatan hunian dengan P-value = 0,281, artinya semua variabel independen tidak ada hubungan yang signifikan dengan variabel dependen. Kata-kata kunci: Fisik rumah, kepatan hunian, ISPA non pneumonia.Abstract ISPA is one of the main causes of mortality in children under five years, especially in developing countries. Risk factor associated with incedent ISPA is divided into two major groups, that is : factor intrisic and factor extrinsic. The purpose of this study was to analyze the correlation between condition of dwelling house and density house with incedence of ISPA non pneumonia in the area work of Sungai Pinang Public healt center in 2011. This type of research is observational analytic approuch a crose sectional. Result of data analysis using chi squeare test showed that housing condition that are not associated with incedence  of ISPA non pneumonia is temperature with p value = 1,000, moisture with p value = 1,000, widely ventilation with p value = 0,213, and desinty of occupancy with p value = 0,218.Keywords: dwelling house, desinty occupancy, ISPA

Page 1 of 2 | Total Record : 12