cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkomunikasi.indonesia@gmail.com
Editorial Address
Communication Building, 3rd Floor, FISIP, Kampus UI Depok,
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Komunikasi Indonesia
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 26152894     EISSN : 26152894     DOI : 10.7454
Core Subject : Education,
Jurnal Komunikasi Indonesia (JKI) is a peer reviewed, open access, scholarly journal that provides a dedicated, interdisciplinary forum for research on communication and media. JKI was launched in 2012 and is published by Department of Communication, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Indonesia. Its core mission is to publish original and critical research articles related to communication and media; which includes, but is not limited to, interpersonal communication, public relations, advertising, communication strategies, and media studies. Proposals for special issues are also welcomed. The journal is published twice a year. Editorial Board of JKI welcome submissions on any topic related to the discipline.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
Pengaruh Saluran dan Narasumber Kampanye Negatif terhadap Kepercayaan Isi Pesan: Studi Eksperimental Isu Korupsi Kandidat di Indonesia Fitri Hari
Jurnal Komunikasi Indonesia ##issue.vol## 5, ##issue.no## 1 (2016): April
Publisher : Departemen Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10341.313 KB)

Abstract

Studi ini dilatarbelakangi oleh kasus-kasus kandidat yang terlibat isu negatif terpilih/terpilih kembali dalam pemilihan. Apakah pemilih tidak mempercayai kampanye negatif? Ketidakpercayaan ini apakah disebabkan adanya perbedaan saluran atau narasumber yang mempengaruhi tingkat kepercayaan pesan kepada pemilih. Kajian kampanye negatif belum banyak yang mengkaji saluran dan narasumber. Studi ini membahas bagaimana pengaruh saluran (iklan, flyer dan blog) dan narasumber (kandidat, partai politik, dan kelompok kepentingan) kampanye negatif terhadap kepercayaan isi pesan kepada pemilih. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen. Hasil penelitian menunjukan bahwa saluran kampanye negatif tidak mempengaruhi kepercayaan isi pesan. Sedangkan narasumber kampanye negatif memberikan pengaruh kepercayaan isi pesan. Keduanya, antara saluran dan narasumber tidak memberikan interaksi kepada kepercayaan isi pesan.The study is motivated by the many cases of election or reelection of candidates despite the negative issues plaguing them. Do voters not buy negative campaign or is the distrust caused by different channel and sources that influence the voters’ level of trus? Studies on negative campaign have rarely explored medium/channel. This study discuses how channels (ads, flyer, and blog) and sources (candidate, political parties, and interest group) of negative  campaign influence voters’ trust in the content of the message. This study uses a quantitative approach with the experimental method. The results show that the channels do not affect the people’s confidence in the message, but sources of negative campaign do. 
Komunikasi Homoseksual Berbasis Teknologi Rusman Hadi Syahputra; Gati Dwi Yuliana
Jurnal Komunikasi Indonesia ##issue.vol## 5, ##issue.no## 2 (2016): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1427.342 KB)

Abstract

Kaum gay masih sulit berkomunikasi dengan gay lainnya layaknya masyarakat dominan akibat orientasi seksual yangdimiliki. Oleh karena itu, kaum gay membutuhkan suatu media alternatif untuk dapat berkomunikasi guna memenuhi kebutuhan pribadinya, baik dalam hal sosial maupun seksual. Kaum gay pun menggunakan aplikasi Jack’D untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Penelitian ini ingin mengetahui pola komunikasi antarpribadi yang terjadi di situs jaringan sosial oleh kaum gay sebagai pengguna aplikasi Jack’D. Penelitian ini menggunakan dua konsep sebagai landasan teoritisnya, yaitu Computer Mediated Communication (CMC) dan Social Information Processing Theory (SIP). Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah konstruktivisme dengan pendekatan penelitian kualitatif. Adapun jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan unit analisisnya individu yaitu kaum gay yang menggunakan aplikasi Jack’D. Disain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah studi kasus. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yaitu wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kaum gay memiliki tujuan dan caranya masing-masing ketika menggunakan aplikasi Jack’D guna memenuhi kebutuhan pribadinya masing-masing. Sehingga tidak dapat dipungkiri bila komunikasi termediasi memiliki peranan untuk menghubungkan kaum gay dengan sesamanya. Dengan catatan komunikasi termediasi ini harus dilakukan pada banyak platform untuk menunjang perkembangan suatu hubungan. Namun, komunikasi interpersonal secara tatap muka tetap menjadi pencapaian akhir perkembangan suatu hubungan kaum gay.Gay community still finds difficulties in communicating with each other like the dominant society due to their sexual orientation. Therefore, gays need an alternative media to be able to communicate and meet their private needs, both in the social and sexual terms. The gays also use the Jack’D app to meet those needs. This study aims to know the pattern of interpersonal communication that occurs among gays who use Jack’D application. This study uses two concepts as the theoretical foundation, namely Computer Mediated Communication (CMC) and Social Information Processin Theory (SIP). The paradigm used in this research is constructivism with qualitative research approach. The type of this research is descriptive with individual analysis unit, which is gay community who uses Jack’D application. The research design adopted in this research is case study. To collect data, this study employs in-depth interviews, participatory observation, and documentation. The results of this study indicate that gays have their own goals and methods when using the Jack’D app to meet their individual needs. Therefore, it can’t be denied that mediated communication plays a role in connecting gays with each other. These mediated communication should be conduced on multiple platforms to support the development of a relationship. However, face-to-face interpersonal communication remains the ultimate goal of relationship.
Gaya Komunikasi dan Kepemimpinan dalam Menangani Krisis Organisasi: Studi pada Kepemimpinan Badan Pemeriksa Keuangan Periode 2004-2009 dan 2009-2014 Rikha Handayani Handayani
Jurnal Komunikasi Indonesia ##issue.vol## 5, ##issue.no## 1 (2016): April
Publisher : Departemen Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.713 KB)

Abstract

Krisis adalah suatu peristiwa yang dapat membawa organisasi ke arah yang lebih baik atau lebih buruk. Sebagai sebuah lembaga negara, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) tidak luput dari krisis, baik yang termasuk dalam kategori victim crises dengan minimal crisis responsibility maupun accident crises dengan low crisis responsibility.Melihat fenomena ini diperlukan penanganan krisis yang dilakukan secara internal oleh pimpinan BPK RI. Penelitian ini ditujukan untuk memberikan penjelasan tentang bagaimana seorang pemimpin dari dua periode kepemimpinan yang berbeda menangani krisis organisasi ketika terdapat perbedaan situasi, kondisi, serta dasar hukum yang berlaku. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma post positivis, serta wawancara sebagai metode pengumpulan data dan coding sebagai teknik analisa datanya, penelitian studi kasus ini menggunakan teori gaya kepemimpinan early style theory milik Lippit-White, serta gaya komunikasi milik Stewart L. Tubbs-Sylvia Moss, dan tiga tahap penanganan krisis dari W. Timothy Coombs untuk memperoleh pemahaman tentang studi yang dikaji. Penelitian ini menemukan bahwa pada situasi krisis, kepemimpinan otoriter tidak selamanya merugikan, dan kepemimpinan demokratis tidak selamanya memiliki dampak positif, namun demikian mengingat situasi yang berbeda, keduanya dapat diterima sebagai aspek yang telah memberikan warna pada cara seorang pemimpin menangani krisis.  A crisis is an event that can lead an organization to a better or worse direction. As a state agency, the Supreme Audit Agency of the Republic of Indonesia (BPK RI) does not immune from crises, either victim crises with minimum responsibility or accident crises with low crisis responsibility. Therefore, BPK leaders need to initiate internal crisis management. Thisresearch aims to explain how a leader of two different terms handled organizational crises that occurred under different circumstances, situations and prevailing laws. Using a qualitative approach to the post-positivist paradigm, interviews as data collection method and coding as data analysis technique, this case study uses the theory of leadership style from Lippit-White, communication styles of Stewart L. Tubbs-Sylvia Moss, and crisis management by W. Timothy Coombs to acquire an understanding of the research. This research discovers that in a crisis, authoritarian leadership is not always harmful, and democratic leadership does not always have a positive impact. Nevertheless, given the different circumstances, both can be accepted as a contribution to the way a leader handles a crisis..    
Menyingkap Mekanisme Tanda di Balik Hiperrealitas Tren Hijab (Analisis Semiotika pada Fenomena Tren Hijab) Tourmalina Tri Nugrahenny
Jurnal Komunikasi Indonesia ##issue.vol## 5, ##issue.no## 1 (2016): April
Publisher : Departemen Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1848.023 KB)

Abstract

Hijab makin dikenal di Indonesia justru ketika maknanya terus berubah seiring konteks penggunaannya. Dampaknya, terjadi peningkatan produksi sekaligus konsumsi, hingga hijab menjadi tren mode. Dalam konsep Jean Baudrillard, hijab lantas menjadi hiperriil, dengan representasi makna yang juga terus-menerus berubah hingga menjadi hiperrealitas. Hijab kemudian ‘menggantikan’ jilbab, sekaligus memutus hubungan dengan realitas jilbab sebelumnya. Studi ini secara kritis menyingkap mekanisme tanda yang terjadi di balik terbentuknya sebuah hiperrealitas, khususnya pada tren mode hijab. Analisis semiotika Peirce digunakan agar studi ini mampu menyajikan secara komprehensif dan mendetil, berlangsungnya proses semiosis dalam simulasi, di tengah masyarakat konsumeris.Hijab or veil is gaining more popularity in Indonesia while on the other hand its meaning keeps changing in accordance to its usage. As a consequence, there is a rise in production and demand so that veil becomes a fashion trend. Referring to Jean Baudrillard’s concept, hijab turns into hyper-real, with ever-changing representation of meaning towards hyperreality. Hijab then ‘replaces’ jilbab and at the same time disconnects it from the previous reality that comes with jilbab. This study critically uncovers the construction that exists behind the formation of a hyperreality, especially in hijab fashion trend. Peirce’s Semiotic Analysis is used so this study can provide comprehensive and detailed picture as to how this semiotic process happens in the consumerist society.
Mediasi dan Mediatisasi Pinckey Triputra
Jurnal Komunikasi Indonesia ##issue.vol## 3, ##issue.no## 2 (2014): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.63 KB)

Abstract

The Circulation Network of East Asian Television Dramas in Indonesia: Television and Pirated DVDs as Intermediaries Shuri Mariasih Gietty Tambunan
Jurnal Komunikasi Indonesia ##issue.vol## 3, ##issue.no## 2 (2014): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1186.001 KB)

Abstract

East Asian television dramas from Japan, Taiwan and South Korea have become a significant part of the cultural globalization process in the Indonesian mediascapes since the 1990s. The Indonesian cultural, political and social specificities have created significant distinctions on how these television dramas reconstruct the shared imagination of (East) Asia in comparison with how it is in other locales. The research findings have extended the discussion of geocultural/linguistic regions, which argues that the success of a television drama in one region, for example telenovelas in Latin America, is affected by a similar cultural and linguistic background. It echoes that the Asian case should be analyzed in a distinctive framework compared to other regional case studies, specifically in the circulation and distribution process. The research concerns a multi-layered analysis that draws on the methodological resources of textual analysis and institutional research, which contextualized these television dramas culturally, historically and geographically. The aim is to understand how the two primary media technologies in the in-between space of production and consumption, namely television and pirated DVDs, work as intermediaries and also as gatekeepers since they precondition commonalities between these television dramas with local expectations.Drama televisi dari Jepang, Taiwan dan Korea Selatan telah menjadi bagian dari proses globalisasi budaya di Indonesia sejak tahun 1990an. Indonesia memiliki konteks budaya, politik dan sosial yang spesifik sehingga ada perbedaan yang signifikan dalam proses pemaknaan drama televisi ini dalam hubungannya dengan bagaimana imaginasi mengenai ‘Asia’ (Timur) dilakukan di Indonesia apabila dibandingkan dengan negara lain. Hasil penelitian pada akhirnya mengembangkan diskusi mengenai wilayah geocultural/linguistik yang mengasumsikan bahwa kesuksesan drama televisi di sebuah wilayah, misalnya Amerika Latin, dilatarbelakangi persamaan budaya dan sistem linguistik. Maka dari itu, studi kasus ini, yang terjadi di wilayah regional Asia, harus dianalisa dengan kerangka pemikiran yang berbeda dibandingkan dengan studi kasus di wilayah regional lainnya terutama dalam proses sirkulasi dan distribusi. Penelitian ini menggunakan beberapa metode seperti analisis tekstual dan studi institusional yang memposisikan drama televisi dari negara Asia Timus sesuai dengan konteks budaya, sejarah dan geografinya. Tujuan utama penelitian ini adalah memaknai bagaimana dua mediateknologi, televisi dan DVD bajakan, bekerja sebagai intermediaries dan juga sebagai gatekeepers ketika kedua media ini mengkonstruksikan commonalities (asumsi bahwa adanya persamaan antara apa yang ditampilkan di drama televisi dengan konteks lokal Indonesia).
Hak Kekayaan Intelektual Sebagai Masalah Komunikasi Ignatius Haryanto
Jurnal Komunikasi Indonesia ##issue.vol## 3, ##issue.no## 2 (2014): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.487 KB)

Abstract

Tulisan ini hendak mengajak para sarjana dan peneliti komunikasi memberikan perhatian pada masalah Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang bisa menjadi salah satu aspek penelitian dalam dunia ilmu komunikasi. Paling tidak ada lima perspektif yang akan ditunjukkan di sini untuk melihat problematika HKI sebagai bagian dari kajian komunikasi: yaitu perspektif ekonomi politik komunikasi, perspektif komunikasi internasional, perspektif komunikasi sebagai bagian dari hak budaya, perspektif terkait dengan perkembangan masyarakat informasi, dan perspektif yang melihat perkembangan media baru. Tulisan ini juga menyarankan pendekatan multidisipliner yang lebih banyak dalam melihat berbagai fenomena komunikasi, karena pada awalnya komunikasi juga berutang pada disiplin ilmu lain seperti psikologi, politik, persuasi, retorika, dll.The article aims to draw the attention of communication scholars and researchers to Intellectual Property as one of research subjects in the contemporary communication science. At least this article points out five communication perspectives to observe the matters of Intellectual Property as part of communication analysis. They are political economy of communication; international communication; communication as part of cultural rights; development of information society, and new media development. This article also suggests the use of more multidisiplinary approaches to analyze many communication phenomena, since at the begining communication studies owed to other disciplines like psycology, politics, persuasion, rhetorics etc.
Analisis Isi Surat Kabar Lokal Online di Kabupaten Banyumas Lisa Lindawati
Jurnal Komunikasi Indonesia ##issue.vol## 3, ##issue.no## 2 (2014): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1601.322 KB)

Abstract

Desa merupakan entitas penting di Indonesia. Pasalnya, sebagian besar wilayah Indonesia adalah desa. Sejauh ini isu desa belum menjadi perhatian sebagian besar media, termasuk media lokal yang notabene dekat dengan entitas desa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis isi. Objek penelitian adalah dua surat kabar lokal online yang berbasis di wilayah Kabupaten Banyumas, yaitu Radar Banyumas dan Satelit Post dalam rentang waktu 1 tahun (Maret 2013 -Maret 2014). Dari hasil penelitian, tercermin bahwa media sibuk dengan isu besar yang cenderung “Jakarta Sentris”. Jikalau diberitakan, desa ditempatkan sebagai komunitas yang inferior dan termarginalkan. Isu tentang Desa seringkali dikaitkan dengan kriminalitas, peristiwa bencana, dan juga kemiskinan. Padahal, ada banyak sisi lain dari desa yang dapat ditonjolkan dan memberikan dampak positif bagi pembangunan Desa. Perlu sinergitas antara desa dengan media dalam membangun wacana positif tentang Desa. Peluangnya, meskipun dalam produk yang dihasilkan oleh media belum mencerminkan sinergitas tersebut, ada komitmen yang diutarakan redaksi untuk lebih memperhatikan desa dalam pemberitaannya.Village is an important entity in Indonesia. The reason is Indonesia mostly comprises rural areas. So far most media outlets, including local media that are in fact in close proximity to villages, lack interest in the issue of village.This research used the content analysis method. The study was conducted on two local online newspapers based in Banyumas regency, namely RadarBanyumas and Satellite Post within a span of 1 year (March 2013-March 2014). The research found the media tend to be Jakarta-centered as they were busy with big issues that were happening in the capital city. When covered, villages are treated as inferior and marginalized communities. The issue of village is often associated with crime, disasters and poverty, whereas there are lots of other sides of the village that the media can promote to spur rural development. Synergy between villages and the media to build a constructive discourse about village is imperative. Although the products of the media have not yet reflected the synergy, there is commitment from the editors to paying more attention to village affairs.
Serupa Tapi Tak Sama: Disagregasi dalam Morning show di Indonesia Maritta Cinintya Rastuti
Jurnal Komunikasi Indonesia ##issue.vol## 3, ##issue.no## 2 (2014): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1145.268 KB)

Abstract

Tulisan ini memisahkan istilah berita pagi – yang lebih dikenal – dari morning show, sehingga memperkenalkan istilah baru dalam format televisi di Indonesia. Daya tarik Morning show sebagai format program berita yang lebih santai dan informal, menimbulkan perbedaan yang sistematis sehingga mudah untuk diadaptasi. Alhasil, Morning show berhasil menyebar ke berbagai benua serta menjadi agen globalisasi media. Berfokus pada tiga program di Indonesia, yang berada di bawah definisi Wieten (2000), artikel ini mengeksplorasi penyesuaian oleh stasiun televisi Indonesia dalam memasukkan muatan lokal pada format global. Penolakan oleh pelaku media lokal terhadap homogensiasi, memunculkan disagregasi yang berhasil membedakan satu program dari yang lain.This article separates the term of morning news program – which is better known as – from morning show, hence introduces a new genre of television format in Indonesia. The lures of morning show as a more relaxed, informal form of news program has created such systematic distinctions that are easy to adapt. As a result, morning show can spread across continents and become an agent of media globalization. Focusing on three national programs that fall under the category of morning show according to Wieten (2000), the article explores adjustments attempted by Indonesian television stations in promoting local contents in the global format. Resistance of local media players to homogeneity generates emerges disaggregation that successfully differentiates one program from the other.
Pemaknaan Khalayak Media Berbasis Komunitas Interpretif: Studi Pemaknaan Fiksi Gay Romantis Oleh Pembaca Perempuan Lajang Dewi Utami Savitri
Jurnal Komunikasi Indonesia ##issue.vol## 3, ##issue.no## 2 (2014): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1302.484 KB)

Abstract

Studi ini membahas pemaknaan khalayak media berbasis komunitas interpretif; sebuah konsep yang menekankan pada pemaknaan media secara kolektif serta pengaruh konteks sosial budaya dalam strategi pemaknaan. Dengan menggunakan konsep tersebut, penelitian ini mengangkat topik pemaknaan fiksi gay romantis di antara pembaca perempuan lajang. Penelitian ini adalah studi kualitatif dengan paradigma konstruktionisme sosial dan menggunakan fokus grup diskusi sebagai metode pengambilan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fiksi gay romantis menjadi alternatif bacaan akibat ketidakpuasan terhadap representasi perempuan pada media baca lain. Fiksi gay romantis juga dimaknai sebagai sarana pelajaran seksualitas, meningkatkan rasa persaudaraan perempuan, sekaligus menumbuhkan kesadaran sosial terhadap keberadaan gay sebagai kaum minoritas. Secara akademis, penelitian ini memberikan alternatif kajian khalayak di luar analisa resepsi. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa komunitas yang terbentuk secara online tetap dapat memiliki strategi pemaknaan yang serupa.This study discusses efforts to find the meaning of interpretative community-based media audience; a concept that emphasizes on collective interpretation and the influence of socio-cultural context in interpretive strategy. Using this concept, the study chooses the topic of the meaning of gay romance fiction among single female readers. This qualitative study applied social constructionism paradigm as the method of data collection. Results show that gay romance fiction provides reading alternative due to dissatisfaction with underrepresentation of women in other media. The gay romance fiction is also regarded as a medium to learn sexuality, increase the sense of sisterhood as well as raise social awareness about the existence of gays as a minority group. Academically, this study offers an alternative to audience aside from reception analysis. It also shows that online communites can replicate the interpretative strategy.

Page 1 of 16 | Total Record : 156