cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Ilmu Gizi Indonesia
ISSN : 2580491x     EISSN : 25987844     DOI : -
Core Subject : Health,
Ilmu Gizi Indonesia merupakan jurnal yang dikelola oleh Universitas Respati Yogyakarta. Jurnal ini menerima naskah ilmiah di bidang gizi. Jurnal ini fokus pada bidang gizi klinik, gizi masyarakat, food science, food service, dan gizi olahraga. Ilmu Gizi Indonesia terbit dua kali dalam setahun, yaitu Bulan Agustus dan Februari.
Arjuna Subject : -
Articles 72 Documents
HUBUNGAN TINGKAT STRES, EMOTIONAL EATING, AKTIVITAS FISIK, DAN PERSEN LEMAK TUBUH DENGAN STATUS GIZI PEGAWAI UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL JAKARTA Sukianto, Rica Ervienia; Marjan, Avliya Quratul; Fauziyah, A'immatul
Ilmu Gizi Indonesia Vol 3, No 2 (2020): Februari
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/ilgi.v3i2.135

Abstract

Latar Belakang: Salah satu indikator kesehatan utama suatu negara atau masyarakat adalah status gizi. Status gizi lebih dan obesitas dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Pada tahun 2018, kasus gizi lebih meningkat menjadi 13,6% (11,5% pada tahun 2013) dan kasus obesitas menjadi 21,8% (14,8% pada tahun 2013). Berdasarkan kelompok pekerjaannya, pegawai menempati peringkat dua kelompok pekerjaan dengan prevalensi gizi lebih dan obesitas paling banyak, yaitu 30,8%. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan tingkat stress, emotional eating, aktivitas fisik, dan persen lemak tubuh dengan status gizi pegawai Universitas Pembangunan Nasional (UPN) ?Veteran? Jakarta. Metode: Penelitian ini bersifat observasional dengan pendekatan cross-sectional. Responden sebanyak 68, dipilih secara acak dengan teknik probability proportional sampling. Data identitas responden, tingkat stres, emotional eating, dan aktivitas fisik diambil melalui wawancara dengan panduan kuesioner (DASS-14, DEBQ-13, dan Baecke). Data antropometri (tinggi badan, berat badan, dan persen lemak tubuh) diperoleh melalui pengukuran langsung. Pengolahan data dilakukan dengan uji Spearman Rank dan korelasi Pearson. Hasil: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan emotional eating dengan status gizi (p= 0,604; p=0,543). Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan persen lemak tubuh dengan status gizi (p=0,005; p=0,000). Aktivitas fisik memiliki korelasi negatif dan tingkat keeratan hubungan yang rendah dengan status gizi, sedangkan persen lemak tubuh memiliki korelasi positif dengan tingkat korelasi yang sempurna. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan persen lemak tubuh dengan status gizi.
PROGRAM EDUKASI TERPADU DI SEKOLAH BERBASIS ASRAMA UNTUK PENCEGAHAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI Styaningrum, Silvia Dewi; Puspitarini, Zenni; Sari, Siska Puspita
Ilmu Gizi Indonesia Vol 3, No 2 (2020): Februari
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/ilgi.v3i2.176

Abstract

Latar Belakang: Anemia pada remaja putri merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius saat ini karena menjadi rantai penyebab masalah gizi pada generasi mendatang. Edukasi mengenai anemia tidak hanya dibutuhkan oleh remaja putri, tetapi juga jejaring di sekelilingnya agar dapat berperan bersama dalam mencegah anemia. Edukasi terpadu yang melibatkan jejaring di sekitar remaja putri diharapkan mampu mencegah anemia pada remaja putri di sekolah berbasis asrama secara efektif. Tujuan: Mengetahui pengaruh edukasi terpadu terhadap kadar hemoglobin darah remaja putri di sekolah berbasis asrama. Metode: Penelitian pre eksperimental dengan rancangan one grup pretest-posttest. Sebanyak 66 siswi boarding school di SMPIT LHI Yogyakarta menjadi sampel penelitian (purposive sampling). Darah diambil melalui pembuluh kapiler dan kadar hemoglobin diperiksa menggunakan rapid test sebelum dan sesudah intervensi berupa edukasi. Edukasi diberikan secara terpisah kepada semua sasaran yang meliputi siswi, guru, pendamping asrama, orangtua, dan petugas dapur. Uji hipotesis menggunakan paired t-test. Hasil: Pemeriksaan kadar hemoglobin sebelum intervensi edukasi menunjukkan bahwa delapan dari 66 remaja putri terdeteksi anemia, rerata kadar hemoglobin13,8 g/dl. Pemeriksaan kadar hemoglobin sesudah intervensi edukasi menunjukkan bahwa lima dari 66 remaja putri terdeteksi anemia, rerata kadar hemoglobin 14,4 g/dl. Uji hipotesis menggunakan paired t-test menunjukkan ada beda kadar hemoglobin sebelum dan sesudah intervensi (p<0,05). Kesimpulan: Intervensi berupa edukasi terpadu di sekolah berbasis asrama memberikan pengaruh pada peningkatan kadar hemoglobin remaja putri.
Asupan protein dan somatotype pada atlet pencak silat di Pembinaan Atlet Berbakat Yogyakarta Agustin, Yeni; Indra, Eka Novita; Afriani, Yuni
Ilmu Gizi Indonesia Vol 1, No 2 (2018): Februari
Publisher : Program Studi S-1 Ilmu Gizi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.648 KB)

Abstract

Latar belakang: Pencak silat sebagai aktivitas jasmani merupakan salah satu cabang olahraga yang populer dan berkembang pesat di Indonesia. Kombinasi latihan yang intensif dan asupan gizi yang tepat dapat membentuk morfologi tubuh atlet menjadi lebih baik. Atlet dengan struktur antropometri atau somatotype dan komposisi tubuh yang sesuai dengan cabang olahraganya cenderung menunjukkan perfoma olahraga yang lebih baik. Pengaturan diet yang tepat dapat meningkatkan performa atlet. Asupan protein yang cukup dapat menunjang performa atlet. Tujuan: Mengetahui gambaran asupan protein dan somatotype pada atlet pencak silat di Pembinaan Atlet Berbakat (PAB) Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan penelitian cross-sectional. Subjek pada penelitian ini adalah seluruh atlet pencak silat yang terdaftar dan aktif di PAB Yogyakarta yang berjumlah 40 orang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah timbangan, microtoice, skinfold caliper, spreading caliper, pita LILA, form recall 3x24 jam, dan informed consent. Data dianalisis menggunakan software statistik secara deskriptif. Hasil: Rata-rata asupan protein pada atlet pencak silat di PAB Yogyakarta adalah 92,89±30,30. Sebanyak 16 orang (40%) kategori kurang, 16 orang (40%) kategori baik dan sebanyak 8 orang (20 %) kategori lebih. Berdasarkan hasil pengukuran somatotype, sebanyak 2 orang (5%) kategori central, 14 orang (35%) kategori balance-ectomorph, 7 orang (17.5%) kategori endomorphic ectomorph, 15 orang (37.5%) kategori ectomorphic endomorph dan 2 orang (5%) kategori mesomorph. Kesimpulan: Sebagian besar atlet pencak silat di PAB Yogyakarta memiliki asupan protein yang belum sesuai dengan kebutuhan. Somatotype atlet sebagian besar memiliki kategori ectomorphic endomorph. Kata kunci: asupan protein; somatotype; atlet; pencak silat
Hubungan kepuasan pasien dari kualitas makanan rumah sakit dengan sisa makanan di RSUD Kota Semarang Nareswara, Angelina Swaninda
Ilmu Gizi Indonesia Vol 1, No 1 (2017): Agustus
Publisher : Program Studi S-1 Ilmu Gizi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.76 KB)

Abstract

Latar Belakang : Makanan yang disajikan oleh rumah sakit merupakan salah satu komponen untuk kesembuhan pasien. Makanan dikatakan bermutu baik bila memiliki cita rasa, penampilan dan penyajian yang baik. Tinginya sisa makanan dan kepuasan pasien yang kurang, dapat disebabkan oleh variasi menu makanan, cara penyajian makanan, ketepatan waktu menghidangkan makanan, keadaan tempat makan, kebersihan makanan, serta sikap dan perilaku petugas penghidang makanan yang masih kurang. Tujuan : Mengetahui hubungan antara kepuasan pasien dari aspek kualitas makanan, yaitu rasa, penampilan dan variasi menu, dengan sisa makanan di RSUD Kota Semarang. Metode : Jenis penelitian ini adalah analitik diskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di semua bangsal RSUD Kota Semarang. Data sisa makanan diambil menggunakan Visual Comstock, untuk menu siang hari. Tingkat kepuasan pasien terhadap rasa, penampilan dan variasi makanan menggunakan skala likert. Analisi data menggunakan Chi Square dan Fisher Exact. Hasil : Sebanyak 92,6% responden tidak puas dengan rasa makanan; 53,7% tidak puas dengan penampilan makanan, dan 81,5% tidak puas dengan variasi menu. Sebanyak 57,4% termasuk kategori banyak sisa dan 42,6% sedikit sisa. Tidak ada hubungan antara kepuasan pasien terhadap rasa dan sisa makanan (p=0,127). Ada hubungan antara kepuasan pasien terhadap penampilan makanan dengan sisa makanan (p=0,044). Tidak ada hubungan antara kepuasan pasien terhadap variasi makanan dengan sisa makanan (p=0,728). Kesimpulan : Ada hubungan antara kepuasan pasien terhadap penampilan makanan dengan sisa makanan. Tidak ada hubungan antara kepuasan pasien terhadap rasa dan variasi menu dengan sisa makanan.Kata Kunci : Kepuasan; Rasa Makanan; Penampilan Makanan; Variasi Menu; Sisa Makanan
Hubungan rentang lengan, tinggi lutut, panjang ulna dengan tinggi badan lansia perempuan di Kecamatan Sewon Astriana, Kuntari; Wiboworini, Budiyanti; Kusnandar, Kusnandar
Ilmu Gizi Indonesia Vol 1, No 2 (2018): Februari
Publisher : Program Studi S-1 Ilmu Gizi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.975 KB)

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Menjadi tua merupakan suatu proses alami yang tidak dapat dihindari. Selain masalah penyakit degeneratif seperti osteoporosis, malnutrisi juga merupakan masalah kesehatan lansia saat ini yaitu masalah gizi kurang dan gizi lebih. Penilaian status gizi lansia dapat diukur dengan menggunakan indeks massa tubuh (IMT) yaitu perbandingan berat badan dan kuadrat tinggi badan. Tinggi badan (TB) merupakan indikator status gizi sehingga pengukuran tinggi badan seseorang secara akurat sangatlah penting untuk menentukan nilai IMT. Akan tetapi untuk memperoleh pengukuran TB yang tepat pada lansia cukup sulit karena masalah postur tubuh, kerusakan spinal, maupun masalah dalam pergerakan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan rentang lengan, tinggi lutut dan panjang ulna dengan tinggi badan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan bersifat observasional analitik. Responden penelitian ini adalah lansia >60 tahun sebanyak 119 lansia. Hasil: Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan korelasi pearson terdapat hubungan yang bermakna antara rentang lengan, tinggi lutut, panjang ulna dengan tinggi badan. Tingkat keeratan hubungan untuk rentang lengan sebesar 0,779, tinggi lutut sebesar 0,639,dan panjang ulna sebesar 0,488. Rentang lengan, tinggi lutut, dan panjang ulna dapat digunakan untuk memprediksi tinggi badan lansia. Kesimpulan: terdapat hubungan yang bermakna antara rentang lengan, tinggi lutut, panjang ulna dengan tinggi badan Kata kunci: rentang lengan, tinggi lutut, panjang ulna, lansia 
Sarapan dan asupan selingan terhadap status obesitas pada anak usia 9-12 tahun Kurniawati, Putri; Fayasari, Adhila
Ilmu Gizi Indonesia Vol 1, No 2 (2018): Februari
Publisher : Program Studi S-1 Ilmu Gizi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.92 KB)

Abstract

Pendahuluan : Obesitas merupakan masalah gizi yang semakin banyak dijumpai pada anak di dunia. Asupan energi yang melebihi dari jumlah kalori yang dibakar dalam proses metabolisme tubuh dapat menjadi penyebab terjadinya obesitas. Kegemukan dan obesitas terutama disebabkan oleh faktor lingkungan yang terjadi melalui ketidakseimbangan antara pola makan, perilaku makan, serta aktivitas fisik. Sarapan pagi pada anak sekolah bertujuan untuk mencukupi kebutuhan energi selama beraktivitas di sekolah. Melewatkan sarapan kemungkinan akan berkaitan dengan meningkatnya konsumsi snack dan tingginya asupan dari snack tinggi lemak. Tujuan : Menganalisis hubungan sarapan, konsumsi makanan selingan, karakteristik orang tua, dan asupan energi terhadap kejadian obesitas pada siswa di SDI Pondok Duta Depok Tahun 2016. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebesar 140 siswa (9-12 tahun). Data diperoleh melalui pengukuran antropometri (timbangan digital dan microtoise) dan pengisian kuesioner oleh siswa berisi data sarapan dan konsumsi selingan, serta FFQ Semi Quantitative untuk data asupan energi dan kontribusi energi selingan. Hasil : Kejadian obesitas anak di SDI Pondok Duta Depok Tahun 2016 sebesar 25,7%. Sebanyak 50,7% subyek tidak rutin sarapan, 47,9% subyek mengkonsumsi jenis sarapan kurang, dan 94,3%  subyek memiliki waktu sarapan baik (sebelum atau jam 9). Konsumsi makanan selingan, sebanyak 27,1% subyek mengkonsumsi selingan sering, 51,4% subyek mengkonsumsi jenis selingannya lebih dari 2 jenis dan 87,9% subyek memiliki kontribusi energi dari selingan lebih dari 10% asupan energi, serta sebanyak 37,1% memiliki asupan energi lebih dari AKG Asupan energi yaitu 37,1% lebih. Berdasarkan analisis statistik Chi-square diketahui bahwa ada hubungan frekuensi sarapan (p<0,05; OR 6,12) dan asupan energi (p<0,05; OR 14,59) terhadap kejadian obesitas. Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara frekuensi sarapan dan asupan energi terhadap kejadian obesitas.
Pengaruh penyuluhan gizi terhadap pengetahuan, sikap penyandang diabetes mellitus di Poliklinik Interna RSU Bahteramas Sulawesi Tenggara Irma, Rita; Wahyuningsih, Sri; Sake, Risma
Ilmu Gizi Indonesia Vol 1, No 1 (2017): Agustus
Publisher : Program Studi S-1 Ilmu Gizi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.552 KB)

Abstract

Latar Belakang :  Prevalensi Diabetes Mellitus (DM) di dunia, termasuk Indonesia terus mengalami peningkatan yang drastis,. DM menimbulkan berbagai risiko komplikasi dan masalah kesehatan. Edukasi dengan penyuluhan gizi merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki pengetahuan dan sikap sebagai dasar perbaikan perilaku gizi penyandang Diabetes. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyuluhan gizi terhadap pengetahuan dan sikap penyandang DM. Metode : Penelitian menggunakan pre-eksperimental dengan rancangan the one group pretest-postest. Populasi penelitian  ini adalah penyandang DM di RSU. Bahterahmas yang berobat ke poliklinik rawat jalan  bulan Januari – Oktober 2014, sejumlah 272 orang. Subjek penelitian sejumlah 32 orang diambil menggunakan purposive sampling. Data dianalisis menggunakan Uji Paired t  dependent. Hasil : Pengetahuan sebelum penyuluhan pada 26 subjek (81,3%) dalam kategori kurang dan 6 subjek (18,7%) dalam kategori cukup. Pengetahuan pada 21 subjek (65,6%) setelah penyuluhan dalam kategori cukup dan 11 subjek (34,4%) dalam kategori kurang. Kemudian  sikap sebelum penyuluhan pada 17 subjek (53,1%) dalam kategori cukup dan 15 subjek (46,9%) dalam kategori kurang. Sikap setelah penyuluhan, sebanyak 31  subjek (96,9%) dalam kategori cukup, dan 1 subjek (3,1%) dalam kategori kurang. Hasil analisis statistik menunjukkan ada  pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan penyandang DM (p=0,000) dan ada pengaruh penyuluhan terhadap sikap penyandang DM  (p=0,001). Kesimpulan : Berdasarkan penelitian ini, saran untuk RSU Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara yaitu  perlu adanya program pemberian edukasi (PKMRS) secara rutin dan tersedianya fasilitas maupun sarana edukasi pasien khususnya di ruang rawat jalan. Perlu pengembangan metode edukasi gizi agar pasien lebih termotivasi berkunjung dan memperbaiki perilaku gizi sesuai dengan penyakitnya.Kata Kunci   : Penyandang Diabetes Mellitus; Pengetahuan; Sikap; Penyuluhan;
Konsumsif rokok dan tinggi badan orangtua sebagai faktor risiko stunting anak usia 6-24 bulan di perkotaan Sari, Siska Puspita
Ilmu Gizi Indonesia Vol 1, No 1 (2017): Agustus
Publisher : Program Studi S-1 Ilmu Gizi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.21 KB)

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Stunting adalah salah satu masalah gizi balita, menggambarkan kegagalan pertumbuhan linear yang terakumulasi sejak sebelum dan sesudah kelahiran yang diakibatkan oleh tidak tercukupinya asupan zat gizi. Batasan  stunting apabila defsit dalam panjang badan menurut umur < -2 z-skor berdasarkan rujukan baku pertumbuhan World Health Organization. Stunting dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk konsumsi rokok dan tinggi badan orang tua. Di Yogyakarta cakupan konsumsi rokok orang tua termasuk tinggi (52.1%) dan prevalensi balita stunting mencapai reaches 15.11%. Maka dari itu, dibutuhkan penelitian terkait hubungan konsumsi rokok dan tinggi badan orang tua sebagai factor risiko kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan di Kota Yogyakarta. Tujuan : Menganalisis menganalisa konsumsi rokok orang tua sebagai faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 6 – 24 bulan di Kota Yogyakarta. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan case control, dengan subjek anak usia 6-24 bulan yang terdaftar di 3 Posyandu (Umbulharjo, Tegalrejo dan Kotagede) yang masuk ke dalam kriteria inklusi. Jumlah subjek sebanyak 121 kasus dan 121 kontrol. Analisis data univariat, bivariat menggunakan Chi-square, dan multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil  : Penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 58,68% orang tuanya merokok. Analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara konsumsi rokok orang tua dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan di Yogyakarta p=0,601; OR=1,15 yang berarti bahwa konsumsi rokok orang tua akan berisiko mempunyai anak yang mengalami  stunting 1,15 kali lebih besar dibandingkan dengan anak yang orang tua tidak mengkonsumsi rokok. Hasil analisa multivariat menunjukkan setelah mengontrol tinggi badan ibu hubungan konsumsi rokok orang tua dengan kejadian stunting tidak bermakna pada anak usia 6-24 bulan di Yogyakarta (p=0,62; OR=1,15). Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor prenatal lebih dominan jika dibandingkan faktor postnatal seperti konsumsi rokok dan tinggi badan orang tua pada anak usia 6-24 bulan di Yogyakarta. Kesimpulan  : Tidak ada hubungan bermakna antara konsumsi rokok orang tua (postnatal) dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan di Kota Yogyakarta karena lebih dominan faktor prenatal.Kata kunci : konsumsi rokok orang tua, tinggi badan orang tua, stunting, anak usia 6-24 bulan.
Hubungan obesitas dengan kejadian hiperurisemia di Puskesmas Depok III, Sleman, Yogyakarta Marsianus Toda, Eus Santo; Natalia, Listyana; Astuti, Ari Tri
Ilmu Gizi Indonesia Vol 1, No 2 (2018): Februari
Publisher : Program Studi S-1 Ilmu Gizi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.591 KB)

Abstract

 Abstrak Latar belakang: Infeksi kecacingan merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Anak sekolah dasar merupakan golongan yang paling berisiko terhadap kejadian infeksi kecacingan. Infeksi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kondisi sanitasi lingkungan, perilaku personal hygiene, serta kondisi sosio ekonomi demografi daerah sekitar. Kondisi sosio demografi yang berbeda di setiap wilayah mengakibatkan terjadinya infeksi kecacingan yang berbeda–beda. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan faktor sosio ekonomi demografi terhadap kejadian infeksi kecacingan pada anak sekolah dasar. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional, pada populasi anak sekolah dasar kelas 1 sampai kelas 5 dengan jumlah 92 siswa, sedangkan besar sampel penelitian berjumlah 74 siswa di SD Barengan Kecamatan Teras Kabupaten Boyolali dengan teknik pengambilan sampel secara purposive.. Data kecacingan pada anak diperoleh dengan pengambilan sampel feses dan diperiksa menggunakan metode formol ether concentration di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Data sosio ekonomi demografi diperoleh dengan kuisioner dengan metode wawancara. Analisis data diolah menggunakan chi square. Hasil: Prevalensi kejadian infeksi kecacingan pada anak sekolah dasar di SD Barengan Kecamatan Teras Kabupaten Boyolali adalah 40,21%. Pendidikan ayah (p=0,159) dan pendidikan ibu (p=0,352) tidak berhubungan dengan kejadian infeksi kecacingan. Penghasilan ayah (p=0,330) dan penghasilan ibu (p=1,152) tidak berhubungan dengan kejadian infeksi kecacingan. Kesimpulan: Pendidikan ayah, pendidikan ibu, penghasilan ayah dan penghasilan ibu tidak berhubungan dengan kejadian infeksi kecacingan.
KAJIAN SIFAT FISIK DAN SERAT PANGAN PADA GEBLEK SUBSTITUSI DAUN KELOR (Moringa oleifera) Meiyana, Klara Tri; Dewi, Devillya Puspita; Kadaryati, Sri
Ilmu Gizi Indonesia Vol 1, No 2 (2018): Februari
Publisher : Program Studi S-1 Ilmu Gizi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.361 KB)

Abstract

Latar Belakang : Penyakit degeneratif menduduki urutan utama sebagai penyebab kematian di Kulon Progo. Salah satu upaya pencegahan penyakit degeneratif dilakukan melalui pemberian makanan tinggi serat. Tepung daun kelor memiliki kandungan serat pangan yang tinggi. Pencampuran tepung daun kelor dalam pembuatan geblek diharapkan meningkatkan kadar serat pangan pada geblek. Namun hal ini juga dapat mempengaruhi sifat fisik geblek, sehingga perlu diketahui vasiasi substitusi yang sesuai. Tujuan: Mengetahui pengaruh variasi substitusi tepung daun kelor terhadap sifat fisik dan kadar serat pangan geblek. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah observasional. Geblek dibuat dengan empat variasi, yaitu pencampuran tepung daun kelor sebanyak 0% (A), 5% (B), 7,5% (C), 10% (D). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2017. Pembuatan geblek dan uji sifat fisik dilakukan di Laboratorium Dietetik/Gizi Universitas Respati Yogyakarta. Sifat fisik geblek diamati secara subjektif pada warna, aroma, rasa dan tekstur. Pengujian kadar serat pangan menggunakan metode enzimatis di Laboratorium Chem-mix Pratama Yogyakarta. Data disajikan secara deskriptif. Hasil : Semakin banyak pencampuran tepung daun kelor pada geblek menyebabkan warna geblek semakin hijau, aroma semakin khas daun kelor (langu), rasa semakin khas daun kelor (sepat), dan tekstur semakin kehilangan kekenyalannya. Semakin banyak tepung daun kelor menyebabkan kadar serat geblek semakin tinggi. Serat pangan tertinggi pada geblek D yaitu 14,02%. Kesimpulan : Substitusi tepung daun kelor berpegaruh  sifat fisik dan meningkatkan serat pangan geblek.