cover
Contact Name
Livana PH
Contact Email
livana.ph@gmail.com
Phone
+6289667888978
Journal Mail Official
lppm@stikeskendal.ac.id
Editorial Address
Jl. Laut No. 31A Kendal Jawa Tengah 51311
Location
Kab. kendal,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Keperawatan
Published by STIKES Kendal
ISSN : 20851049     EISSN : 25498118     DOI : https://doi.org/10.32583/keperawatan
Core Subject : Health,
Jurnal keperawatan (JK) merupakan bagian integral dari jurnal yang diterbitkan oleh LPPM STIKES Kendal. JK merupakan sarana pengembangan dan publikasi karya ilmiah bagi para peneliti, dosen dan praktisi keperawatan. JK menerbitkan artikel-artikel yang merupakan hasil penelitian, studi kasus, hasil studi literatur, konsep keilmuan, pengetahuan dan teknologi yang inovatif dan terbaharu dalam lingkup keperawatan yang berfokus pada (10) pilar keperawatan, meliputi: keperawatan anak; keperawatan maternitas; keperawatan medikal-bedah; keperawatan kritis; keperawatan gawat darurat; keperawatan jiwa; keperawatan komunitas; keperawatan gerontik; keperawatan keluarga; dan kepemimpinan dan manajemen keperawatan.
Articles 125 Documents
HUBUNGAN PERILAKU BINGE WATCHING DENGAN KEJADIAN KELELAHAN PADA MAHASISWA Wulandari, Wulandari; Puwaningsih, Puji -; Widodo, Gipta Galih
Jurnal Keperawatan Vol 11 No 2 (2019): Juni
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v11i2.516

Abstract

Binge watching  menjadi fenomena terbaru dalam kemajuan teknologi yang  memungkinkan  pemirsa  dapat  menonton  acara  televisi  pada  jadwal  yang  dapat ditentukan  sendiri.  Mahasiswa  menghabiskan  banyak  waktu  luangnya  untuk  binge  watching  hingga  menjadi  kecanduan.  Mereka  merasa  perilakunya  tidak  akan menimbulkan masalah bagi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku binge watching dengan kejadian kelelahan pada mahasiswa di Fakultas Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo Ungaran. Desain penelitian menggunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional menggunakan  observasi  waktu  dan  kuesioner  FAS  sebagai  alat  pengumpul  data. Teknik  sampel menggunakan  nonprobability  sebanyak 84  responden. Analisis data menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian didapatkan  Mahasiswa yang tidak termasuk dalam kategori binge watching merasa kelelahan, sejumlah 12 orang (63,2%). Mahasiswa dengan perilaku  binge watching  tingkat sedang, sebagian  besar  merasa  kelelahan,  sejumlah  21  orang  (61,2%).  Sementara,  mahasiswa dengan  perilaku  binge  watching  tingkat  berat,  sebagian  besar  merasa  sangat  kelelahan, sejumlah  13  orang  (41,9%).  Berdasarkan  uji  Chi  Square  diperoleh  p-value  0,002  <  ? (0,05). Perilaku  binge  watching  berhubungan dengan kejadian  kelelahan    Kata kunci: perilaku binge watching, kelelahan THE CORRELATION BETWEEN THE BEHAVIOR BINGE WATCHING AND FATIGUE IN THE STUDENTS   ABSTRACT Binge watching is becoming the latest phenomenon in technological advancement that allows viewers to watch television shows on a self-defined schedule. Students spend a lot of their free time to binge watching until they become addicted. They feel that their behavior will not cause health problems.The purpose of this study was to determine the correlation between binge watching behavior with the incidence of fatigue in the students at Nursing Faculty of NgudiWaluyo University. Method of this research was descriptive correlation with cross sectional approach using time observation and FAS questionnaire as data collecting tool. The type of sampling used nonprobability sampling with purposive sampling technique as many as 84 Data were analyzed by using Chi Square test. The Results of the research Students who were not included in the binge watching category felt tired, a total of 12 people (63.2%). Students with moderate binge watching behavior mostly also felt tired as many as 21 people (61.2%). Meanwhile, students with severe binge watching behavior mostly felt very tired as many as 13 people (41.9%). From result of chi square statistic test obtained p-value 0,002 <? (0,05). There is significant correlation between binge watching behavior with fatigue incident   Keywords: Binge watching behavior, fatigue.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN SIKAP PENCEGAHAN HIV/AIDS PADA WARIA Arisdiani, Triana; Asyrofi, Ahmad
Jurnal Keperawatan Vol 11 No 2 (2019): Juni
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v11i2.515

Abstract

Waria dan kasus HIV/AIDS sangat erat kaitannya. Waria merupakan salah satu populasi kunci peningkatan HIV/AIDS. Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kendal diperkirakan berjumlah lebih dari 400 orang. Waria berkontribusi sebesar 3 % dari seluruh kasus HIV/AIDS yang ada di Kabupaten Kendal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap pencegahan HIV/AIDS pada waria di Kabupaten Kendal. Penelitian menggunakan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel dengan total sampling dengan jumlah sampel 30 responden. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Analisis univariat menggunakan tendensi sentral pada variabel numerik, dan mengunakan distribusi frekuensi dan persentasi pada variabel kategorik. Analisis bivariat menggunakan metode Kendall?s tau kemudian dilakukan analisis statistic alternative menggunakan Fisher exac. Hasil perhitungan menggunakan Fisher exact didapatkan nilai p value 0,04 (P>0,05) menunjukkan adanya Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Sikap Pencegahan HIV/AIDS pada Waria Kabupaten Kendal.   Kata kunci: pengetahuan, sikap pencegahan, HIV/AIDS RELATIONSHIP BETWEEN THE LEVEL OF KNOWLEDGE AND ATTITUDES TOWARDS HIV / AIDS PREVENTION IN TRANSGENDER   ABSTRACT Transvestites and HIV / AIDS cases are very closely related. Transgender is one of the key populations for increasing HIV / AIDS. It is estimated that HIV / AIDS cases in Kabupaten Kendal number more than 400 people. Transgender contributes 3% of all HIV/AIDS cases in Kendal Regency. This study aims to determine whether there is a relationship between the level of knowledge and attitudes towards HIV/AIDS prevention in transgender in Kendal District. The study used a cross sectional design. The sampling technique with total sampling with a sample of 30 respondents. Data analysis was carried out by univariate and bivariate. Univariate analysis uses central tendency on numerical variables, and uses frequency distribution and percentage in categorical variables. Bivariate analysis used the Kendall's method to know then an alternative statistical analysis was performed using Fisher exac. The calculation results using Fisher exact obtained a p value of 0.04 (P> 0.05) indicating a relationship between the Level of Knowledge and the Attitude of Prevention of HIV / AIDS in Kendal District Transgender.   Keywords: knowledge, attitude prevention, HIV/AIDS
GAMBARAN HARGA DIRI LANSIA Setianingsih, Setianingsih; Kassatun, Yenni; Anggraeni, Rina
Jurnal Keperawatan Vol 11 No 2 (2019): Juni
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v11i2.511

Abstract

Lansia pada umumnya memiliki dorongan kemauan yang masih kuat, akan tetapi terkadang realisasinya tidak dapat dilaksanakan, karena kelemahan, keterbatasan fungsional, dan ketidak mampuan, yang ditimbulkan akibat dari proses menua. Keterbatasan yang dimiliki akan menimbulkan keraguan dan ketidakpercayaan diri pada lansia. Lansia di panti pelayanan sosial lanjut usia sebagian besar merasa malu dan sakit-sakitan, namun ada juga yang merasa bersyukur masih ada yang merawat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran harga diri lansia di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Cepiring. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional dengan jumlah sampel sebanyak 31 lansia yang diambil melalui teknik purposive sampling. Alat ukur penelitian ini menggunakan kuesioner Rosenberg Self-Esteem Scale. Harga diri lansia di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Cepiring Kendal sebagian besar mengalami harga diri rendah yaitu sebesar 18 orang (58,1%). Sebagian besar lansia merasa bahwa kadang ? kadang tidak baik sama sekali (77,4 %)dan terkadang merasa sangat tidak berguna sebanyak 67,7 %.   Kata kunci: harga diri, lansia DESCRIBE ELDERLY SELF-ESTEEM   ABSTRACT Elderly people generally have a strongpower, but sometimes the realization cannot be carried out, because of weaknesses, functional limitations, and disabilities, which result from the aging process. Limitations that are owned will cause doubt and self-mistrust in the elderly. The elderly in Cepiring Elderly Care Centre mostly feel shy and sick, but there are also those who feel grateful that there are still carers. The purpose of this study was to describe elderly self-esteem at the Elderly Care Centre. This study used a descriptive observational design with a sample of 31 elderly people taken through a purposive sampling technique. The measuring instrument of this study used the Rosenberg Self-Esteem Scale questionnaire. The self-esteem of the elderly in the Elderly care centre mostly experienced low self-esteem, amounting to 18 people (58.1%). Most elderly people feel that sometimes it is not good (77.4%) and sometimes feel very useless as much as 67.7%.   Keywords: self-esteem, elderly
PELAKSANAAN AUDIT SISTEM DALAM PENCAPAIAN CONTINOUS QUALITY Trisnawati, Nina; Wahyuni, Fatma Sri; Putri, Zifriyanthi Minanda
Jurnal Keperawatan Vol 11 No 2 (2019): Juni
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v11i2.514

Abstract

Audit sistem merupakan proses audit yang dilakukan dalam mengevaluasi terhadap standar yang ditetapkan oleh rumah sakit. Audit sistem dapat menjamin terlaksananya proses peningkatan mutu berkelanjutan di unit pelayanan keperawatan rumah sakit. Tujuan Penelitian ini adalah untuk melihat hubungan pelaksanaan audit sistem dengan pencapaian Continous Quality Improvement di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau. Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah perawat di di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau sebanyak 123 orang dengan teknik pengambilan sampel yaitu proportional random sampling. Hasil penelitian menunjukkan distribusi pelaksanaan audit sistem  lebih dari setengahnya kategori buruk yaitu 59,0% dan distribusi pencapaian continous quality improvement lebih dari setengahnya buruk yaitu 54,5%. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pelaksanaan audit sistem dengan pencapaian continous quality improvement  (p value = 0,000 < ? = 0,05).   Kata kunci: audit sistem, continous quality improvement, standar mutu THE IMPLEMENTATION OF A SYSTEM AUDIT AND THE ACHIEVEMENT OF CONTINUOUS QUALITY IMPROVEMENT   ABSTRACT System audit is an audit process carried out in evaluating the standards set by the hospital. Audit systems can guarantee the implementation of a continuous quality improvement process in the hospital nursing service unit. The purpose of this study was to see the relationship between the implementation of a system audit and the achievement of continuous quality improvement in the Tampan Mental Hospital of Riau Province. The design of this research is descriptive analytic with cross sectional approach. The sample in this study was nurses at the RSJ. Tampan Mental Hospital of Riau Province as many as 123 people with a sampling technique that is proportional random sampling. The results showed that the distribution of system audits was more than half of the bad category, which was 59.0% and the distribution of achievement of continuous quality improvement in Tampan Hospital was more than half bad at 54.5%. The results of statistical tests show that there is a significant relationship between the implementation of a system audit and the achievement of continuous quality improvement (p value = 0,000 <? = 0.05).   Keyword: system audit, continuous quality improvement, quality standard 
PENGARUH TERAPI PSIKOEDUKASI KELUARGA SKIZOFRENIA PARANOID TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN Mubin, Mohammad Fatkhul; Rahayu, Desi Ariyana
Jurnal Keperawatan Vol 11 No 2 (2019): Juni
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v11i2.510

Abstract

Pengetahuan, kemampuan merawat, ekspresi emosi, beban dan stres keluarga merupakan masalah yang sering ditemukan dalam keluarga yang merawat orang dengan skizofrenia paranoid atau yang disebut ODS paranoid. Masalah tersebut jika tidak diatasi maka akan memberikan dampak pada kepatuhan obat dan kekambuhan. Keluarga sebagai pelaku rawat utama ODS paranoid, perlu diberikan terapi psikoedukasi keluarga skizofrenia paranoid  agar kepatuhan minum obat ODS paranoid meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi psikoedukasi keluarga skizofrenia paranoid terhadap peningkatan kepatuhan minum obat ODS paranoid. Penelitian menggunakan desain eksperimen pada 84 responden yang terdiri dari 42 orang pada kelompok intervensi dan 42 orang pada kelompok kontrol dengan menggunakan uji beda.Variabel independen  pada penelitian ini adalah terapi psikoedukasi keluarga skizofrenia paranoid  dan variabel dependen adalah kepatuhan minum obat. Instrumen penelitian menggunakan check list jadwal minum obat sesuai dosis. Hasil uji terapi menunjukkan kepatuhan minum obat ODS paranoid pada kelompok intervensi dan kontrol setelah diberi terapi psikoedukasi keluarga skizofrenia paranoid, kepatuhan minum obat kelompok intervensi lebih baik dan berpengaruh secara bermakna dibanding kelompok kontrol (p=0,00). Kata kunci: terapi psikoedukasi keluarga skizofrenia paranoid, kepatuhan minum obat pasien  INFLUENCE OF FAMILY PSYCHOEDUCATION THERAPY SKIZOFRENIA PARANOID AGAINST COMPLIANCE OF DRUG PATIENTS   ABSTRACT Pengetahuan, kemampuan merawat, mengendalikan emosi, beban dan stres keluarga merupakan masalah yang sering ditemukan dalam keluarga yang peduli orang dengan skizofrenia paranoid atau yang disebut ODS paranoid. Masalah tersebut jika tidak diatasi maka akan memberikan dampak pada persetujuan obat dan kekambuhan. Keluarga yang menerima rawat utama ODS paranoid, perlu diberikan terapi psikoedukasi keluarga skizofrenia paranoid agar dapat diberikan minum obat ODS paranoid meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh terapi psikoedukasi keluarga skizofrenia terhadap peningkatan dukungan minum obat paranoid ODS. Penelitian menggunakan desain eksperimen pada 84 responden yang terdiri dari 42 orang pada kelompok intervensi dan 42 orang pada kelompok kontrol dengan menggunakan uji beda.Variabel independen pada penelitian ini adalah terapi psikoedukasi keluarga skizofrenia paranoid dan variabel dependen adalah obat minum. Instrumen Penelitian menggunakan daftar periksa jadwal minum obat sesuai dosis. Hasil uji terapi menunjukkan persetujuan minum obat ODS paranoid pada kelompok intervensi dan kontrol setelah diberi terapi psikoedukasi keluarga skizofrenia paranoid, mengatur minum obat intervensi yang lebih baik dan terkait dengan dibandingkan dengan kelompok kontrol (p = 0,00).   Keywords: paranoid schizophrenia family psychoeducation therapy, adherence to patient medication    
MANAJEMEN KASUS PADA KLIEN HARGA DIRI RENDAH KRONIS DENGAN PENDEKATAN TEORI CARING Irawati, Kellyana; Daulima, Novy Helena Catharina; Wardhani, Ice Yulia
Jurnal Keperawatan Vol 11 No 2 (2019): Juni
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v11i2.486

Abstract

Harga diri rendah kronik adalah suatu evaluasi diri negatif dimana mereka merasa tidak berarti, malu, dan tidak mampu melihat hal positif yang dimilikinya. Dibutuhkan intervensi keperawatan untuk membantu meningkatkan harga diri klien. Tujuan penulisan Karya Ilmiah Akhir ini menggambarkan hasil manajemen kasus spesialis pada klien harga diri rendah kronik dengan pendekatan teori transpersonal caring: Jean Watson. Klien yang diambil dalam penulisan ini sebanyak 31 klien harga diri rendah kronis, dengan 16 klien diberikan terapi kognitif dan 15 klien diberikan terapi perilaku kognitif. Hasil: terjadi penurunan tanda dan gejala harga diri rendah kronis dan peningkatan kemampuan klien dengan harga diri rendah kronis. Kesimpulan: pemberian terapi kognitif dan terapi perilaku kognitif dapat membantu meningkatkan harga diri klien. Saran: diperlukan penelitian lebih lanjut tentang faktor yang mempengaruhi peningkatan harga diri klien.
GAMBARAN FAKTOR PREDISPOSISI PASIEN ISOLASI SOSIAL Suerni, Titik; PH, Livana
Jurnal Keperawatan Vol 11 No 1 (2019): Maret
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v11i1.464

Abstract

Faktor predisposisi yang dapat  menyebabkan seseorang mengalami isolasi sosial adalah adanya tahap pertumbuhan dan perkembangan yang belum dapat dilalui dengan baik, adanya gangguan komunikasi didalam keluarga, selain itu juga adanya norma-norma yang salah yang dianut dalam keluarga serta faktor biologis berupa gen yang diturunkan dari keluarga yang menyebabkan gangguan jiwa. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor predisposisi pasien isolasi sosial. Penelitian deskriptif dengan pendekatan survei yang dilakukan untuk mendiskripsikan atau menggambarkan faktor predisposisi pasien isolasi sosial meliputi biologis, psikologis dan sosiokultural. Penelitian dilakukan di ruang 12 Madrim RSJD Dr. Amino Gondhohutomo Semarang pada pasien isolasi sosial dengan jumlah sampel 10 orang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari  2019. Data dianalisis secara univariat berupa distribusi frekuensi. Hasil gambaran faktor predisposisi berupa faktor tumbuh kembang mayoritas pasien merasa tidak dicintai oleh keluarganya, sedangkan dalam faktor komunikasi seluruh pasien yang mengatakan jika ada masalah tidak selalu didiskusikan bersama keluarga, dalam faktor sosial budaya mayoritas merasa terintimindasi, sedangkan faktor biologis mayoritas menyatakan ada masalah yang menyebabkan mereka menarik diri. peneliti selanjutnya sebaiknya dapat melakukan penelitian secara kualitatif terhadap pasien dan keluarga pasien isolasi sosial tentang faktor tumbuh kembang, faktor komunikasi dalam keluarga, faktor sosial budaya serta faktor biologis.   Kata kunci: faktor predisposisi, pasien, isolasi sosial.   DESCRIPTION OF THE PREDISPOSITION FACTORS OF SOCIAL INSULATION PATIENTS   ABSTRACT The predisposing factor that can cause a person to experience social isolation is the existence of stages of growth and development that have not been passed well, the communication disturbances within the family, besides the existence of norms that are adopted in the family and biological factors in the form of genes passed from the family which causes mental disorders. The study aims to describe the predisposing factors for patients with social isolation. Descriptive research with a survey approach is carried out to describe or describe predisposing factors for patients with social isolation including biological, psychological and sociocultural. The study was conducted in room 12 of Madrim Hospital, Dr. Amino Gondhohutomo Semarang in social isolation patients with a sample of 10 people. The study was conducted in January 2019. Data were analyzed univariately in the form of frequency distribution. The results of the predisposing factor in the form of growth factors, the majority of patients feel unloved by their families, while in the communication factors all patients who say if there is a problem are not always discussed with the family, in the socio-cultural factors the majority feel intimidated, while the majority biological factors say there are problems that cause they withdraw. Future researchers should be able to conduct qualitative research on patients and families of patients with social isolation about growth factors, communication factors in the family, socio-cultural factors and biological factors. Keywords: predisposing factors, patients, social isolation.
EFEKTIVITAS LATIHAN KEPERCAYAAN DIRI DALAM MENINGKATKAN HARGA DIRI REMAJA PUTUS SEKOLAH Wardani, Ice Yulia; Utami, Tantri Widyarti; Sopha, Rahma Fadillah
Jurnal Keperawatan Vol 11 No 1 (2019): Maret
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v11i1.462

Abstract

Remaja merupakan periode kritis peralihan dari anak menjadi dewasa. Kejadian putus sekolah merupakan salah satu faktor pencetus yang dapat menyebabkan munculnya masalah dalam beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas latihan kepercayaan diri dalam meningkatkan harga diri remaja putus sekolah. Penelitian menggunakan desain quasi experimental with control group yang melibatkan 34 responden kelompok intervensi dan 29 responden kelompok kontrol berusia 12-18 tahun yang putus sekolah di jenjang pendidikan SD dan SMP. Kelompok intervensi diberikan latihan kepercayaan diri sementara kelompok kontrol diberikan stimulasi perkembangan psikososial remaja. Untuk mengetahui keefektifan terapi, dilakukan penilaian terhadap harga diri sebelum dan setelah intervensi menggunakan self-esteem questionnaire dengan nilai reliabilitas 0,76. Data hasil penelitian diolah menggunakan analisis bivariat uji beda dua mean dependen guna mengetahui perbedaan mean harga diri remaja sebelum dan setelah intervensi. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan harga diri remaja setelah latihan kepercayaan diri (p value= 0,000) dibandingkan remaja setelah pemberian stimulasi perkembangan psikososial. Penelitian ini membuktikan bahwa latihan kepercayaan diri efektif dalam meningkatkan harga diri remaja. Terapi ini dapat dijadikan salah satu intervensi untuk mengatasi masalah harga diri rendah pada remaja putus sekolah.   Kata Kunci: harga diri, latihan kepercayaan diri, remaja.   THE EFFECTIVENESS OF SELF-CONFIDENCE PRACTICE TO INCREASE SELF-ESTEEM IN SCHOOL DROPOUT ADOLESCENCES   ABSTRACT Adolescence is transfer critical periods from child into adult. School dropout is one of precipitation factor that can create problems in adolescence to adapt with those changes. This study aimed to determine the effectiveness of self-confidence practice to increase self-esteem in school dropout adolescences. This study used quasi experimental with control group included 34 intervention group respondents and 29 control group respondents who were 12-18 years old and had school dropout in elementary and junior high school. Intervention group was given self-confidence practice whereas control group was given adolescence?s psychosocial development stimulation. To determine therapy effectiveness, we used scoring of respondents? self-esteem before and after interventions. Questionnaire that was used was self-esteem questionnaire with reliability score 0,76.  Data was analyzed using bivariat analysis paired sample t test to know mean differentiation of self-esteem in adolescences before and after intervention. Statistical analysis showed there was significant difference between self-esteem in school dropout?s adolescences after self-confidence practice (p value= 0,000) rather than adolescence?s psychosocial development stimulation. This study shown that self-confidence practice was effective to increase adolescences? self-esteem. This therapy can be intervention to solve low self-esteem problems in school dropout adolescences.   Keywords: adolescence, self-esteem, self-confidence practice.
HUBUNGAN ROTASI KERJA TERHADAP TINGKAT STRES PERAWAT Tania, Maria Ledy; Hidayati, Eni
Jurnal Keperawatan Vol 11 No 1 (2019): Maret
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v11i1.461

Abstract

Rotasi kerja erawat dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga perawat masing-masing instalasi. Di Instalasi Paviliun Garuda RSUP Dr. Kariadi sendiri, sudah dilakukan sebanyak 5 kali rotasi terhadap para perawat dalam satu tahun terakhir ini. Rotasi bisa memberikan dampak yang negatif pada perawat diantaranya menimbulkan gangguan cemas dan stress. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan rotasi kerja terhadap tingkat stress pada perawat di Instalasi Paviliun Garuda RSUP Dr. Kariadi Semarang. Desain penelitian menggunakan rancangan korelasional. Proses penelitian dilaksanakan di Instalasi Paviliun Garuda RSUP Dr. Kariadi Semarang yang dilakukan terhadap 146 perawat dengan tehnik pengambilan sampel stratified sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner DASS (Depression Anxiety Stress Scales) serta 5 pertanyaan terbuka untuk mengkaji tingkat stress perawat. Hasil penelitian menunjukkan nilai median umur responden 29 tahun, sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebesar 84,2%, pendidikan responden sebagian besar D-3 Keperawatan sebanyak 60,3%, nilai tengah masa kerja adalah 5 tahun, sebagian besar jabatan perawat adalah perawat pelaksana (PA) sebanyak 84,9%, perawat yang dilakukan rotasi sebanyak 35,6%. Kategori stres berat dan sangat berat pada perawat masing-masing 2,1%. Hasil analisis bivariat menggunakan Pearson Chi-Square didapatkan nilai X2 sebesar 11,480 dengan nilai p sebesar 0,004 < ? (0,05), artinya terdapat hubungan yang bermakna antara rotasi ruangan dengan tingkat stress pada perawat di Instalasi Paviliun Garuda RSUP Dr. Kariadi Semarang. Pihak rumah sakit diharapkan sebelum melakukan rotasi terlebih dahulu melakukan sosialisasi kepada para perawat dan untuk para perawat diharapkan dapat mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu dilakukan rotasi ruangan.   Kata kunci: rotasi kerja, tingkat stres   THE CORRELATION BETWEEN WORKING ROTATION TOWARD NURSES? STRESS LEVEL   ABSTRACT Work rotation among nurses is determined based on the need of each installation. At Garuda Pavilion Installation of RSUP Dr. Kariadi, the rotation has been carried five times within a year. The rotation may bring negative effect to the nurses in a form of anxiety and stress. Analyzing the correlation between working rotation toward nurses? stress level at Garuda Pavilion Installation of RSUP Dr. Kariadi. The correlational design was used in the research. The research was conducted at Garuda Pavilion Installation of RSUP Dr. Kariadi involving 146 nurses using stratified sampling technique based inclusion and exclusion criteria. DASS (Depression Anxiety Stress Scale) was used as the instrument to collect the data added with 5 open questions to review the nurses? stress level. The result showed that the median value of respondents? age was 29 years old, with female majority at 84.2%, D-3 Nursing program qualified was 60.3%, median of the working period was 5 years, Nurse Executive majority with 84.9%, the nurse rotation was 35.6%. High stress level and very high stress level were 2.1% for each category. The bivariate analysis using Pearson Chi-square showed that X2 was 11.480 with p value 0.004 < ? (0.05) which means that there was significant correlation between room rotation with the stress level of the nurses at Garuda Pavilion Installation of RSUP Dr. Kariadi. The hospital representative should conduct socialization for nurses before the rotation so that the nurses are able to prepare for the upcoming rotation.   Keywords : working rotation, stress level  
HUBUNGAN PERAN FAMILY CAREGIVER TERHADAP QUALITAS HIDUP LANSIA JATI, RIANI PRADARA; Nabila, Sekar Farah
Jurnal Keperawatan Vol 11 No 1 (2019): Maret
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v11i1.458

Abstract

  Penempatan peran yang baik bagi Family Caregiver sangatlah membantu lansia dalam meningkatkah qualitas hidupnya, meningkatkan motivasi dalam menjalankan hidup Penelitian ini bertujuan Mengetahui hubungan peran Family Caregiver dalam pemenuhan qualitas hidup bagi lansia di Kelurahan Langenharjo Kabupaten Kendal. DesainPenelitianDeskriptifKorelasional menggunakan pendekatan Krosectional,tehnikSamplingStratified Simple Random Sampling dengan karakteristik heterogen, dari populasi mempunyai hak yang sama untuk diseleksi sebagai sampel teknik undianPengambilan data dengan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Uji statistik Chi-square, dengan taraf signifikasi 5%jumlah sampel pada penelitian ini 70 sampel pada Family Caregiver dari 213 populasi yang ada. Hasil penelitian dari 70 responden didapatkan Peran Family Caregiver tidak baik dengan qualitas hidup tidak baik 33 (47,1%), sedangkan Peran Family Caregiver kurang baik dengan qualitas hidup lansia baik 3 (4,3%). Untuk distribusi Peran Family Caregiver kurang baik dengan qualitas hidup lansia tidak baik sebanyak 6 responden (8,6%) sedangkan untuk distribusi Peran Family Caregiver kurang baik dengan qualitas hidup lansia baik sebanyak 23 responden (32,9%). Terakhir, untuk distribusi Peran Family Caregiver baik dengan qualitas hidup lansia tidak baik didapatkan hasil 2 responden (2, 9%) sedangkan untuk distribusi Peran Family Caregiver baik dengan qualitas hidup lansia baik didapatkan hasil 3 responden (4,3%)Menunjukkan nilai ? value 0,001 (? < 0,05) berarti ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan lansia dalam keikutsertaan posyandu lansia. Disarankan kepada semua Family Cregiver lansia untuk mampu memahami pentingnya perhatian, dukungan bagi lansia dalammeningkatkan qualitas hidup yang lebih baik bagi lansia.   Kata kunci : Peran family caregiver, qualitas hidup, lansia.   ABSTRACT Placement of a good role for Family Caregiver is very helpful for the elderly to improve their quality of life, increase motivation in living life Research Objective: To know the relationship between the role of Family Caregiver in fulfilling quality of life for the elderly in Langenharjo Village, Kendal Regency. Descriptive Correlational Research Design uses a cross sectional approach, Sampling Stratified Simple Random Sampling technique with heterogeneous characteristics, from the population has the same right to be selected as a sample lottery technique Retrieving data using a questionnaire that has been tested for validity and reliability. Test Chi-square statistics, with a significance level of 5% the number of samples in this study 70 samples on the Family Caregiver from 213 populations. Results of the Study Of 70 respondents found the role of Family Caregiver was not good with poor quality of life 33 (47.1%) , while the role of the Family Caregiver is not good with the quality of life of a good elderly 3 (4.3%). For the distribution of the role of Family Caregiver is not good with the quality of life of the poor family as many as 6 respondents (8.6%) while for the distribution of the Role of Family Caregiver is not good with the quality of life of good elderly as many as 23 respondents (32.9%). Finally, the distribution of the Role of Family Caregiver with good quality of life for the poor is obtained by 2 respondents (2, 9%), while the distribution of the Role of Family Caregiver with good quality of life for the elderly is obtained by 3 respondents (4.3%). 0.001 (? <0.05) means that there is a relationship between family support and the compliance of the elderly in the participation of the elderly posyandu. It is recommended to all elderly Cregiver families to be able to understand the importance of attention, support for the elderly in improving the quality of life better for the elderly   Keywords: Role of Family Caregiver, Quality of Life, Elderly

Page 1 of 13 | Total Record : 125