cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. indragiri hilir,
Riau
INDONESIA
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur?an & Keislaman
ISSN : 23380349     EISSN : 23380349     DOI : -
Jurnal Syahadah merupakan jurnal Ilmu al-Qur’an dan keislaman dengan kajian multidisipliner, terbit dua kali dalam satu tahun (April dan Oktober), dikelola oleh Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri Tembilahan. Redaksi menerima tulisan yang relevan selama mengikuti petunjuk penulisan yang ditetapkan.
Arjuna Subject : -
Articles 74 Documents
METODE KESHAHIHAN HADIS AL-HAKIM (Telaah Atas Kitab Al-Mustadrak ‘Ala al-Shahihain( syafril, Amaruddin
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.919 KB)

Abstract

Al-Mustadrak „ala al-Shahihain adalah kontribusi besar dari  Imam  alHakim dalam kajian  hadis.  Kehadiran  al-Hakim dalam sejarah pemikiran  hadis tidak  bisa  dipandang  sebelah  mata,  meskipun  popularitasnya  dibawah  penulis Kutub al-Sittah.  Pemikiran  di dalam  karyanya  tidak bisa dilepaskan begitu saja dari  konteks  sosial-kultural  dan  politik  yang  melingkupinya,  sehingga menimbulkan  nuansa  yang  berbeda  secara  metodologis  dari  kitab-kitab  hadis sebelumnya.  Ulama  hadis  memberikan  penilaian  tasahul  kepada  al-Hakim, namun  mereka  berbeda  tentang  penyebab  ke-tasahul-annya.  Memiliki  kriteria ijtihad  dalam  menilai  status  sebuah  hadis.  Al-Hakim  juga  menerapkan  prinsip status sanad, prinsip status matan, dan kriteria kritik sanad dalam menilai sebuah hadis, ini yang melahirkan standar ganda dalam menilai status hadis.
LIVING QUR’AN: Tradisi YasinanMasyarakat Desa Tualang Kabupaten Langkat, Medan, Sumatera Utara Amaruddin, Dian Yusri
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.532 KB)

Abstract

Sedikit gambaran tentang tradisi Yasinan di desa P. D. Tualang menunjukkan salah satu bentuk dari resepsi masyarakat Islam terhadap al-Qur’an. Dengan ini al-Qur’an bukan hanya sebagai “bahan bacaan” saja, akan tetapi lebih jauh juga sebagai sarana untuk menghubungkan silaturrahmi antar sesama masyarakat pada umumnya dan masyarakat desa Tualang pada khususnya, serta motivator Taqarrub Ilallah. Tradisi seperti ini yang telah mendarah daging di desa tersebut. Tradisi semacam ini merupakan “model” keislaman Nusantara yang kaya akan tradisi dan budaya. Dengan ini Islam yang dipraktekkan oleh desa tersebut mencerminkan Islam yang rahmatan lil a’lamin.  Inilah kiranya sedikit ulasan mengenai tradisi Yasinan yang berkembang dengan berbagai macam keberagaman yang ada.
POLA BARU DALAM CORAK TAFSIR FIKIH (Telaah atas Pemikiran Tafsir Abdullah Ahmad An Na’im) Makmun, Muhammad
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman Vol 2, No 1 (2014): mazahib Tafsir
Publisher : SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.754 KB)

Abstract

Na’im adalah cendekiawan muslim yang dilahirkan di Sudan, yang pada saat ini merupakan aktifis Hak Asasi Manusia (HAM). Sebagai seorang yang memperjuangkan HAM. Tentunya semua pemikirannya dibayang-bayangi oleh penyamarataan hak. Sehingga dia memandang Hak Asasi Manusia sebagai sesuatu yang absolut. Namun berbeda halnya dengan Syari’ah, dia menganggapnya sebagai sesuatu yang relatif, dan dapat dinegosiasikan.Adapun konsepnya mengenai naskh-mansukh,Na’im yang pemikirannya juga dipengaruhi oleh gurunya Mahmoud Muhammad Taha, memberikan pengertian bahwa naskh bukan “penghapusan total dan permanen”. namun hanya merupakan penundaan atau penangguhan pelaksanaan hukum dengan melihat kondisi yang tepat di masa yang akan datang. Tentunya penilaian terhadap Na’im juga harus ada. Namun juga tak lepas dari baik ataupun buruk tanggapan terhadapnya. Yang beranggapan positif menerima, namun memberikan catatan bahwa pemikiran Na’im ini harus dilihat dari segi kemasuk-akalan (plausibility structure). Sedangkan yang mengkritik beranggapan bahwa adanya inkonsistensi dalam pemikirannya, karena menganggap HAM bersifat absolut yang wajib untuk diikuti.
TAFSIR AL-NUR KARYA HASBI ASH-SHIDDIQIE Fiddian Khairudin, Syafril
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2035.082 KB)

Abstract

kemunculan  dan  perkembangan  tafsir  Al-Qur›an  di  Indonesia, yang didasarkan pada tahun pada awal abad 20, terbagi dalam tiga  generasi.  Generasi  pertama,  kira-kira  dari  permulaan  abad ke-20 sampai awal tahun 1960-an. Dalam era ini telah ditandai dengan  adanya  penerjemahan  dan  penafsiran  yang  masih didominasi  oleh  model  tafsir  terpisah-pisah  dan  cenderung pada  surat-surat  tertentu  sebagai  objek  tafsir.  Generasi  kedua, merupakan penyempurnaan atas generasi pertama, yang muncul pada pertengahan tahun 1960-an. Cirinya, biasanya mempunyai beberapa  catatan,  catatan  kaki,  terjemahan  kata  perkata, dan  kadang-kadang  disertai  dengan  indeks  yang  sederhana. Tafsir  generasi  ketiga,  mulai  muncul  pada  1970-an  merupakan penafsiran yang lengkap, dengan komentar-komentar yang luas terhadap teks yang disertai juga dengan terjemahannya
PENAFSIRAN KATA HANIF DALAM AL-QUR’AN Wahidi, Ridhoul
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.632 KB)

Abstract

Kata  hanif  banyak  disebut  dalam  al-Qur’an  dan  membutuhkan pemahaman  konferehensif,  sehingga  nantinya  dapat  memberikan  sumbangsih keilmuan  dalam  bidang  studi  al-Qur’an  secara  umum  dan  tafsir  secara khusus. Tulisan  ini  akan  mengungkap  penafsiran  para  ulama  tentang  kata  hanif  di beberapa  tempat  dalam  al-Qur’an  dan  dapat  mengarungi  khazanah  keluasan ilmu-ilmu al-Qur’an.
PLURALISME DALAM PERSPEKTIF ISLAM Mardianah, Najamuddin
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.396 KB)

Abstract

Pluralisme dalam Perspektik Islam dapat diartikan sebagai paham yang mentoleransi  adanya  keragaman  pemikiran,  peradaban,  agama,  dan  budaya, Maknanya  Islam  hanya  mengakui  adanya  agama  dan  keyakinan  di  luar  agama Islam,  dan secara tegas pluralisme  merupakan paham  yang bertentengan dengan syariat  Islam.  Kendati  demikian,  ummat  Islam  tetap  mengakui  adanya  paham Pluralitas  (keberagaman  agama)  dalam  suatu  kelompok  masyarakat  dan dianjurkan tetap melakukan pergaulan sosial dengan agama lain sepanjang tidak bertentangan dengan Syariat Islam
TAFSIR AYAT-AYAT HUKUM TENTANG PERNIKAHAN BEDA AGAMA Menurut Rasyid Ridha dan al-Maraghi Enghariano, Desri Ari; Asra, Amaruddin
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (839.101 KB)

Abstract

Masalah pernikahan beda agama telah menjadi wacana sekaligus realita yang aktual dan relevan untuk dikaji. Aktual, karena masalah ini terus menjadi polemik para ulama dan relevan karena pernikahan beda agama ini masih sering terjadi terutama dalam masyarakat yang hidup berdampingan antar agama atau masyarakat yang plural. Praktek pernikahan beda agama, disadari maupun tidak, merupakan salah satu problem sosial kemasyarakatan yang telah menjadi realita empirik dengan grafik kuantitasnya yang semakin meninggi. Fenomena tersebut, di satu sisi merupakan bagian dari permasalahan yang menuntut jawaban hukum Islam. Di sisi lain juga merupakan problem krusial yang senantiasa mengharapkan sekaligus menuntut jawaban arif bijaksana dari para ulama. Rasyid Ridha dan al-Maraghi sebagai seorang mufassir, yang mana masalah sosial ini juga terjadi di masa mereka, ikut andil mencarikan solusi hukum dalam al-Qur’an terhadap permasalah nikah beda agama yang terjadi di kalangan umat ini. Pendapat mereka dalam masalah ini cukup dinamis dan kontroversial. Tulisan ini akan menelisik pandangan kedua mufasir tersebut dan membandingkannya untuk melihat manakah pandangan yang lebih relefan bagi kehidupan kontemporer saat ini.
Tafsir Berwawasan Gender (Studi Tafsir Al-Misbah Karya M. Quraish Shihab) Wartini, Atik
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.818 KB)

Abstract

Dalam alur sejarah perkembangan penafsiran, dan pemahaman pergesekan dan perubahan paradigma serta epistemology pemahaman adalah suatu keniscayaan yang wajar, berbagai faktor melatar belakanginya, baik itu sosial, politik, dan kebudayaan. Al-Misbah sebgai produk Tafsir adalah sebuah berangkat dari dialektika antara teks, dan konteks yang di gagas oleh M. Quraish Shihab. dengan demikian indikasi adanya perubahan dalam penafsiran selalu ada, salah satu penafsiran yang berkaiatan dengan Perempuan. Tidak bisa di sangkal bahwa dokrin agama sering kali dijadikan untuk membenarkan tindakan tidak adil, sesuatu yang baku dan tidak bisa di tafsirkan, sehingga posisi marginal perempuan dalam sebuah agama di anggap takdir yang tidak dapat di ubah. Selain agama budaya juga , mempengaruhi terbentuknya stuktur dan sosial politik yang timpang di masyrakat. Yang kemudian berdampak perempuan sebgai seorang yang incapable dalam berbagai hal. Disinlah posisi al-Misbah sebgai tafsir modern, dan menjadi pionir tafsir pembebasan perempuan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analitis, dengan mendiskiripsikan dan menganalisis pembacaan M. Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah terhadap ayat-ayat Isu gender. Seeprti penciptaan perempuan, kepemimpinan keluarga, saksi, warisan, dan nusyuz, dengan pendekatan historis dengan menelusuri sejarah pertumbuhan dan pola pemikiran serta konteks sosial-budaya yang mempengaruhinya. Serta di pengaruhi dengan penyebaran ide-ide, adapun jenis penelitian ini adalah penelitian perpustakaan, (library research) dan lebih menekankan pada tafsir al-misbah karya M. Quraish Shihab. Dalam penelitian ini menghasilkan adannya perkembangan terhadap penafsiran yang terkait dengan isu-isu jender, dalam tafsir al-Misbah. Dalam konteks waris, nusyusz, kesaksian perempuan, pemimpin keluarga, hingga maslah poligami, serta penciptaan perempuan, dalam hal ini M. Quraish shihab walaupun masih memengang penafsiran lama, tetapi tidak menolak adanya penafsiran baru. Terhadap isu-isu jender. Upaya M. Quraish Shihab adalah membangun jembatan dan alur mata rantai agar penafsiran berwawasan jender dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penafsiran yang akan datang. Pembaharuan ini berjalan dengan pelan dan pasti, hal ini dapat di buktikan dengan tidak adanya penolakan yang berrti dalam setiap kajian penafsiran M. Quraish Shihad dalam menafsrikan makna perempuan dan isu-isu jender
KECERDASAN EMOSIONAL MENURUT PERSPEKTIF AL-QURAN Murni, Dewi
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.159 KB)

Abstract

Kecerdasan  emosional  dapat  diartikan  kemampuan, merasakan,  memahami,  dan  secara  efektif  menerapkan daya  dan  kepekaan  emosi  sebagai  sumber  energi, informasi, koneksi dan pengaruh manusia.  Apabila berpikir itu bersifat objektif, maka emosional itu bersifat subjektif karena  lebih  banyak  dipengaruhi  oleh  keadaan  diri.  Apa yang indah, baik, dan menarik bagi seseorang belum tentu indah,  baik,  dan  menarik  bagi  orang  lain.  Implementasikecerdasaan  emosional  dapat  terlihat  dalam  sikap seseorang;  pertama  adalah  istiqamah  yaitu  dengan  cara teguh pendirian terhadap jalan-jalan yang telah ditetapkan Allah Swt, serta tidak mengurangi atau mengabaikan, dan melampaui batas terhadap ajaran-ajaran tersebut.  Kedua yaitu  rendah  hati  yaitu  mereka  berjalan  dengan  tenang, penuh dengan ketawadhu’an, tidak congkak dan sombong. Ketiga adalah  tawakal,  yakni timbulnya ketulusan di dalam hati  kepada  Allah  dalam  menggapai  keridhaan-Nya. Terakhir  adalah  ikhlas, yakni suatu  upaya memurnikan dan menyucikan  hati  sehingga  benar-benar  hanya  terarah kepada Allah semata.
Mengenal Ilmu Qiraat Amaruddin, Amaruddin
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur’an & Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.173 KB)

Abstract

Tulisan  singkat  ini  bertujuan  mengenal  lebih  dekat  tentang  ilmu  qira‟at  yang dimana  ilmu  ini  merupakan  cabang  dari  ilmu  dalam  „Ulum  al-Qur‟an.  manfaat yang akan diperoleh agar setiap pengkaji Islamic studies khususnya dan siapa saja yang ingin mendalami ilmu  ini dapat mengerti dan memahaminya sehingga kesan yang selama ini menggema bahwa bacaan qira‟at adalah bacaan „asing‟ ditelinga kaum  muslimin  secara  umum  maupun  pengkaji  Islamic  studies.  Sebenarnya, munculnya ragam qira‟at telah ada sejak zaman Nabi. Namun setiap permasalahan dapat  diselesaikan  dengan  merujuk  langsung  kepada  Rasulullah.  Setelah Rasulullah  wafat  dan  kekuasaan  Islam  meluas,  serta  jarak  masa  wahyu  dan nubuwwah  semakin  jauh  para  sahabatpun  banyak  yang  meninggalkan  Madinah menuju  daerah-daerah  yang  telah  dikuasai  Islam.  Para  sahabat  mengajarkan  alQur‟an sesuai dengan apa yang mereka pelajari dari Nabi. Sementara itu, para ahli qira‟at dari kalangan sahabat dalam mempelajari qira‟at al-Qur‟an dari Nabi, ada yang hanya mempelajari dan mendalami satu versi qira‟at, ada yang mempelajari dan  memahami  dua  versi  qira‟at,  dan  ada  pula  yang  lebih  dari  itu.  Tapi  perlu diingat bahwa perbedaan ragam qira‟at ini semua berasal dari Allah, bukan dari Nabi  atau  dari  imam-imam  qira‟at  yang  lain.  Adapun  metode  penulisan  ini menggunakan  literature  sehingga  membutuhkan  beberapa  referensi  yang  agak sulit karena kajian ini masih jarang dilirik oleh Islamic studies.