cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya)
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 25497715     EISSN : 25497715     DOI : -
Jurnal Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya) merupakan jurnal yang dikelola oleh Fakultas Ilmu Budaya sebagai media publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya, termasuk pengajarannya. Terbit sebanyak empat kali setahun, yaitu pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober, dan diterbitkan hanya dalam format elektronik.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017" : 10 Documents clear
ILLOCUTIONARY ACT OF GRUG UTTERANCES IN THE CROODS MOVIE Lisnani, Lisnani; Arifin, M Bahri; Ariani, Setya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.798 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.677

Abstract

AbstractIllocutionary act is performing an act by saying something. There were five types of illocutionary act, namely: assertives, directives, commissives, expressives and declaratives. The Croods movie is a story about the journey of a family who wants to find a safer place for them to life. The aims of this research were to find out the types and to know the context of illocutionary act of Grug’s utterances in The Croods movie. This research was conducted by using descriptive qualitative method, because the data of this research were from the utterances containing the types and the context of illocutionary act of Grug’s utterances. The data of this research were taken from 38 sample utterances of Grug’s conversation. From the analysis can be concluded that they were 13 utterances in the form of assertive which can be categorized into stating, concluding and asserting. Thirteen directive utterances in the form of commanding, requesting, ordering, questioning and forbidding. Commissive appeared in six utterances in the form of promising and refusing. The last types of illocutionary act was expressive which appeared in six utterances in the form of thanking, apologizing, praising and stating anger. Key words: The Croods movie, illocutionary act, types, context AbstrakTindak ilokusi adalah melakukan suatu tindakan dengan mengatakan sesuatu. Ada lima jenis tindak ilokusi, yaitu: asertif, direktif, komisif, ekspresif dan deklaratif. Film The Croods adalah kisah tentang perjalanan sebuah keluarga yang ingin mencari tempat yang lebih aman bagi mereka untuk hidup. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan untuk mengetahui konteks tindak ilokusi dari ucapan Grug di film The Croods. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, karena data penelitian ini berasal dari ucapan-ucapan yang berisi jenis tindak ilokusi dan konteks tindak ilokusi dari ucapan Grug. Data penelitian ini diambil dari 38 sampel ujaran percakapan Grug. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa terdapat 13 ucapan dalam bentuk asertif yang dapat dikategorikan ke dalam menyatakan, menyimpulkan dan menegaskan. Tiga belas ucapan direktif dalam bentuk memerintah, meminta, pemesanan, mempertanyakan dan melarang. Komisif muncul dalam enam ucapan dalam bentuk menjanjikan dan menolak. Jenis terakhir dari tindakan ilokusi adalah ekspresif yang muncul dalam enam ucapan dalam bentuk berterima kasih, meminta maaf, memuji dan menyatakan kemarahan. Kata Kunci: film The Croods, tindak ilokusi, tipe, konteks
MITOS DAN CERITA RAKYAT KUTAI IKAN BAUNG PUTIH DI MUARA KAMAN: KAJIAN STRUKTURALISME Amrah, Rosita; Murtadlo, Akhmad; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.418 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.682

Abstract

 ABSTRACTThis study aimed to describe the structure of folklore Ikan Baung Putih and its relationship with the myth of ikan baung putih growing in Muara Kaman. Relations folklore with myths known weave patterns and functional actants in the analysis of the story. The results showed that the folklore Ikan Baung Putih has a very close relationship with the myth that developed. King Setanyer told never ask for help to the ikan Baung Putih to be saved from the attack earthworms. Ikan Baung Putih accepted the request to propose several measures, among others, King Setanyer and their offspring should not eat the flesh of ikan Baung Putih. If the agreement is violated, then there would be a calamity that comes in the form of itching and scabies on the body. The deal is then a myth that developed in Muara Kaman.Key words: myth, folklore, structuralism, ikan Baung PutihABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur cerita rakyat Ikan Baung Putih dan hubungannya dengan mitos ikan baung putih yang berkembang di Muara Kaman. Hubungan cerita rakyat dengan mitos yang berkembang diketahui dengan menyusun pola aktan dan fungsional dalam analisis cerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat Ikan Baung Putih memiliki hubungan yang sangat erat dengan mitos yang berkembang. Raja Setanyer dikisahkan pernah meminta pertolongan kepada ikan Baung Putih agar diselamatkan dari serangan cacing tanah. Ikan Baung Putih menerima permintaan itu dengan mengajukan beberapa syarat antara lain, Raja Setanyer dan keturunannya tidak boleh memakan daging ikan Baung Putih. Apabila kesepakatan itu dilanggar, maka akan ada musibah yang datang berupa penyakit gatal-gatal dan kudisan pada tubuh. Kesepakatan inilah yang kemudian menjadi mitos yang berkembang di Muara Kaman. Kata Kunci: mitos, cerita rakyat, strukturalisme, ikan Baung Putih
THE WAY CHINESE-DESCENDENT MOTHERS TEACH CHINESE CULTURE AND THE PRESERVED TRADITIONS IN INDONESIAN-CHINESE MULTICULTURAL FAMILY: A REFLECTION THROUGH THE JOY LUCK CLUB BY AMY TAN Pratiwi, Amalia; Sili, Surya; Wati, Erna
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.158 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.678

Abstract

AbstractSince The Joy Luck Club mainly focuses on Chinese culture, it is acknowledged by people around the world that Chinese culture is rich with the values and history which influences every slide of world history. Although Chinese people are recently residing far away from mainland China, the cultural values they have learned before it will be remained within themselves. To uphold the cultural values and traditions within a Chinese-descendent family, the role of mother is needed. However, since most of the Chinese-descendent families live in multicultural neighborhood with the assimilated cultures—like Indonesia—it is unknown whether the Chinese cultural values and traditions are being preserved or not. This study is focused on the way Chinese-descendent mothers teach the Chinese culture and the preserved traditions of Chinese culture within the family. The mothers from The Joy Luck Club represent the role of Chinese-descendent mother in teaching the children the cultural values. These figures are reflected through the mothers in the two cities of Indonesia, Tarakan and Samarinda, as the representation. There are similarities and differences from the mothers from the novel and the two cities in Indonesia in nurturing the children with their cultural values. It comes from the way each mother teaches their cultural values, especially in teaching integrity and filial piety to the children with the mothers’ own method. Several Chinese cultures and traditions are mentioned and still preserved by the family, both in the novel and inside the Indonesian-Chinese mothers’ families. The Lunar New Year and Moon Festival are the examples of the preserved traditions within the family. The results of these studies will show how valuable the cultural values and traditions are and this study will give a further comprehension in preserving the cultural values within a family. Key words: Chinese culture, Indonesian-Chinese, multicultural, The Joy Luck Club, Amy Tan  AbstrakThe Joy Luck Club berfokus pada kebudayaan Cina yang terkenal dengan kekayaan nilai luhur serta sejarahnya yang mempengaruhi sejarah dunia. Meskipun masyarakat Cina saat ini banyak yang bertempat tinggal di luar Republik Rakyat Cina (RRC), nilai budaya mereka dapatkan tetap terjaga. Untuk menjaga nilai kebudayaan dan tradisi di dalam keluarga berketurunan Cina, peran seorang ibu sangat dibutuhkan. Akan tetapi, karena sebagian besar keluarga berketurunan Cina tinggal di lingkungan multikultur dengan budaya yang telah terasimilasi—seperti Indonesia—kita tak mengetahui apakah nilai budaya dan tradisi yang telah dijaga tersebut masih bisa dilestarikan atau tidak. Penelitian ini berpusat pada cara para ibu berketurunan Cina mengajarkan nilai budaya Cina serta mencari tahu apa saja nilai kebudayaan Cina serta tradisi yang masih terjaga di dalam keluarga mereka. Para ibu dari novel The Joy Luck Club merepresentasikan peran mereka dalam mengajarkan nilai kebudayaan serta tradisi tersebut. Mereka akan dibandingkan dengan para ibu yang berasal dari dua kota di Indonesia, yaitu kota Tarakan dan Samarinda, sebagai contoh penelitian. Ada beberapa persamaan dan perbedaan yang didapatkan melalui para ibu dari novel dan dari kedua kota di Indonesia dalam mendidik anak-anaknya dengan nilai budaya tersebut. Hal itu tercermin dari cara setiap ibu mengajarkan nilai integritas dan berbakti kepada yang tua dengan cara mereka masing-masing. Ada beberapa nilai budaya dan tradisi Cina yang disebutkan dan masih dilestarikan oleh keluarga besar mereka, baik dari novel maupun dari dalam keluarga para ibu Indonesia-Cina. Perayaan Tahun Baru Imlek dan Sembahyang Bulan adalah beberapa dari sekian banyak tradisi yang masih terjaga di dalam keluarga Indonesia-Cina. Hasil penelitian ini akan menunjukkan betapa berharganya suatu nilai kebudayaan serta tradisi yang dijalankan serta memberikan pemahaman dalam menjaga budaya dan tradisi di dalam sebuah keluarga. Kata kunci: kebudayaan Cina, Indonesia-Cina, multikultur, The Joy Luck Club, Amy Tan
ANALISIS STRATA NORMA PUISI MAHAKAM KARYA KORRIE LAYUN RAMPAN Hanafi, Yusuf Maulana; Sulistyowati, Endang Dwi; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.017 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.683

Abstract

ABSTRACT The aim of this research is to describe the level of norms which is found in Mahakam poem by Korrie Layun Rampan. The method used in this research is qualitative research. The result of this reseach, in Mahakam poem the writer told the story of himself living far away from his family. In the title of the poem itself, it means he left mahakam, the name of the river wjere he was born. The meaning layer in Mahakam poem by Korrie Layun Rampan is euphony. All verses found in the poem use various euphony sounds, because the writer wanted to declare spirit and sensitivity in a delicate way about what the writer has experienced. The words chosen in this poem used indirect technique in a form of pictures with paintings or the voice of nature and indirect voice. The object layer in the Mahakam poem is the location setting and the time is in the beach in the morning and evening in 1874. The person in the Mahakam poem is the writer himself, because the writer is telling his longing feeling to the family when he was far away. The world described by the writer in Mahakam poem is the longing feeling to thw family when he was far away.Keywords: Mahakam poem, norms levelABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan strata norma yang terdapat pada puisi Mahakam karta Korrie Layun Rampan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam puisi Mahakam penulis menceritakan dunia penulis itu sendiri dalam menjalani hidup di perantauan tanpa keluarga. Pada judul puisi ini sendiri mengartikan ia meninggalkan mahakam, yaitu nama sebuah sungai dimana si penyair itu dilahirkan. Lapis bunyi yang terdapat pada puisi Mahakam karya Korrie Layun Rampan adalah eufoni. Seluruh bait yang terdapat pada puisi tersebut menggunakan ragam buni eufoni, karena penyair sendiri ingin menyatakan semangat, dan keharuan dengan cara lembut tentang apa yang dialami penyair. Kata-kata yang dipilih dalam puisi ini menggunakan teknik tak langsung berupa gambaran dengan lukisan-lukisan atau cerita kiasan berupa keindahan alam dan juga suara-suara tidak langsung. Lapis objek pada puisi Mahakam ini antara lain latar tempat dan waktunya ialah pantai di pagi dan sore hari pada tahun 1974. Pelaku pada puisi Mahakam itu sendiri ialah penyair itu sendiri, dikarenakan si penyair menceritakan kerinduannya kepada keluar disaat ia sedang merantau. Dunia yang digambarkan pengarang dalam puisi Mahakam adalah kerinduan kepada keluarga disaat ia tinggal ke tanah perantauan. Kata kunci : puisi mahakam, strata norma
THE PSYCHOANALYTICAL STUDY ON THE CHARACTERISTICS AND CAUSES OF ADOLESCENT DEVIANT BEHAVIOR FOUND IN DIVERGENT NOVEL BY VERONICA ROTH Wiyani, Nurhasanah Putri; Sili, Surya; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.01 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.679

Abstract

Abstract This research investigates how the major character described to get causes of Beatrices deviant behaviors in Veronica Roth’s Divergent Novel. This research used three different theories to answer two research questions. First, used the personality theory by Sigmund Freud and used the four ds of abnormality theory by Ronald J.Comer to define the deviant behavior of the main character, Beatrice Prior. This research also used behavior disorder theory by Harry Gottesfeld to analyzed the causes of deviant behavior which is performed by the main character. The data sources are literary data. The method of data collection of the research is library research. The technique of data analysis is descriptive qualitative method. The researcher served the data in dialogues, and narratives by Beatrice. Based on the analysis, the researcher draws two conclusions: First, this research shows that the failure to control personality can make a person being deviant. It is reflected in the major character’s personality when she wants to leave her faction. The second, this research shows that there are four causes of Beatrice deviant behavior in six causes of behavior disorder, they are the physical, biological factors; the family; and the self-concept, and natural support systems. Key words : psychoanalytical study, deviant behavior, Divergent novel. Abstrak Penelitian ini menyelidiki bagaimana karakter utama dijelaskan untuk mengetahui penyebab perilaku menyimpang Beatrice di novel Divergent karya Veronica Roth. Penelitian ini menggunakan tiga teori yang berbeda untuk menjawab dua pertanyaan penelitian. Pertama, menggunakan teori personality oleh Sigmund Freud dan menggunakan teori the four Ds of Abnormality oleh Ronald J.Comer untuk menentukan perilaku menyimpang dari karakter utama, Beatrice Prior. Penelitian ini juga menggunakan teori behavior disorder oleh Harry Gottesfeld untuk menganalisis penyebab perilaku menyimpang yang dilakukan oleh karakter utama. Sumber data adalah data sastra. Metode pengumpulan data dari penelitian ini adalah studi pustaka. Teknik analisis data adalah metode deskriptif kualitatif. Peneliti menyajikan data dalam dialog, dan narasi oleh Beatrice. Berdasarkan hasil analisis, peneliti menarik dua kesimpulan: Pertama, penelitian ini menunjukkan bahwa kegagalan untuk mengontrol kepribadian dapat membuat seseorang menjadi menyimpang. Hal ini tercermin dalam kepribadian karakter utama ketika ia ingin meninggalkan faksi nya. Yang kedua, penelitian ini menunjukkan bahwa ada empat penyebab perilaku menyimpang Beatrice dalam enam penyebab gangguan perilaku, yaitu fisik, faktor biologis; keluarga; konsep diri, dan sistem pendukung alami. Kata kunci: penelitian psikoanalitik, perilaku menyimpang, novel Divergent
JESSE’S PSYCHOSOCIAL DEVELOPMENT IN THE NOVEL MY SISTER KEEPER BY JODI PICOULT (2004) Kosiaroh, Lilik; Sunggingwati, Dyah; Asanti, Chris
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.448 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.684

Abstract

ABSTRACT This research identified about the stages of Jesse’s psychosocial development and the kind of factors that changed Jesse as a dynamic character. The method used descriptive qualitative, where the researcher described the stages of psychosocial development views of Jesse character and then tried to find out about the familial conflict that occurred on him. First was early childhood, Jesse was two years old and his personality still good. Second was play age. In this stage, Jesse changed his personality, because of the different treatment by his parents that he was yelled by his parents. Third was school age, Jesse was five until eleven years old. He did some rebellion to get attention from his parents, for example; revoked his teeth by using a fork and tried to suicide. Fourth was adolescent, it was the climax of Jesse’s character, between the age of twelve to eighteen years old; Jesse performed some bad behaviors or risky behaviors. He did smoking, consuming drugs, stealing, and having obsession with fire. He did all of them, because he depressed with many conflict in his family. In the last stage was middle adulthood, Jesse was taken care again by his parents. Keywords:  character, psychosocial, psychosocial development, familial conflict  ABSTRAK Penelitian ini mengidentifikasi tahap dari perkembangan psikososial Jesse dan jenis dari faktor yang mengubah jesse menjadi karakter dinamik. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi kualitatif, dimana peneliti mendeskripsikan tahap dari perkembangan psikologi Jesse dan mencoba mencari masalah yang mengganggunya. Pertama adalah tahap anak usia dini, Jesse berumur 2 tahun dan psikologinya tetap baik. Kedua adalah tahap bermain. Pada tahap ini Jesse mengubah personalitinya, karena perubahan perlakuan yang diberikan orangtuanya yang membentaknya. Ketiga adalah tahap sekolah, Jesse berumur 5 sampai 11 tahun. Jesse melakukan banyak pemberontakan untuk mendapat perhatian dari orangtuanya, contohnya; ia mencabut giginya menggunakan garpu. Keempat adalah tahap remaja, ini adalah puncak dari permasalahan Jesse diumur 12 -18 tahun. Jesse menunjukkan beberapa kesalahan dan kerusakan dirinya. Dia merokok, mengonsumsi narkoba, mencuri dan terobsesi dengan api. Ia melakukan itu semua, karena ia depresi dengan semua masalah dalam keluarganya. Pada tahap terakhir Jesse kembali diberi perhatian oleh orangtuanya.  Kata Kunci : karakter, psikososial, perkembangan psikososial, masalah keluarga 
THE INFLUENCE OF PSYCHOLOGICAL CONFLICT TOWARD ELSA’S CHARACTER DEVELOPMENT IN FROZEN FILM Rahmah, Nor; Kuncara, Singgih Daru; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.062 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.675

Abstract

AbstractIn this research, the researcher focused to find the psychological conflict and its influence toward the main character’s character development in Frozen film. The researcher used two theories to answer the two research problems. For the first question, the researcher used the theory of psychological conflict by Kurt Lewin to find the kinds of psychological conflict expressed by the main character in Frozen film. To answer the second question, the researcher used the theory of personality development by Elizabeth B. Hurlock to explain the influence of psychological conflict toward the character development of the main character. In this research, the method that the researcher used was qualitative research method. The result of the analysis showed that Elsa expressed two kinds of psychological conflict which were approach-avoidance conflict and avoidance-avoidance conflict. And those two kinds of psychological conflict influence Elsa’s character development in five determinants they are intellectual, emotional, social, aspiration & achievement, and family. Key words: character, character development, Frozen film, psychological conflict AbstrakDalam penelitian ini, peneliti fokus untuk mengetahui konflik psikologi dan pengaruhnya terhadap perkembangan karakter dari karakter utama dalam film Frozen. Peneliti menggunakan dua teori untuk menjawab dua rumusan masalah tersebut. Untuk pertanyaan pertama, peneliti menggunakan teori konflik psikologi dari Kurt Lewin untuk mengetahui jenis-jenis konflik psikologi diekspresikan oleh karakter utama dalam film Frozen. Untuk menjawab pertanyaan kedua, peneliti menggunakan teori perkembangan kepribadian dari Elizabeth B. Hurlock untuk menjelaskan pengaruh konflik psikologi terhadap perkembangan karakter dari karakter utama. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian kualitatif. Hasil analisis menunjukkan Elsa mengekspresikan dua jenis konflik psikologi, yaitu approach-avoidance conflict dan avoidance-avoidance conflict. Dua jenis konflik psikologi tersebut mempengaruhi perkembangan karakter Elsa dalam lima determinan, yaitu intelektual, emosional, sosial, aspirasi dan prestasi, dan keluarga. Kata kunci: karakter, perkembangan karakter, film Frozen, konflik psikologi
REBELLION AGAINST RACISM AND DISCRIMINATION IN THE MOVIES RISE OF THE PLANET OF THE APES AND DAWN OF THE PLANET OF THE APES Madula, James; Kuncara, Singgih Daru; Asanti, Chris
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.189 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.680

Abstract

ABSTRACT Racism, discrimination and rebellion are three issues which still exist in the world we live these days. Racism is a belief that some groups are superior while some other groups are inferior. Discrimination is the unequal or unfair and violence actions toward others, basically based on their race, skin color and belief. Rebellion is an action or a movement against the pressures which comes from the outside. Those three issues can be found in the movies Rise of the Planet of the Apes and Dawn of the Planet of the Apes. The purposes of this study are to identify and analyze the kinds of racism action from Humans which then emerged the resistance or rebellion from the Apes, and how do the Apes rebel to the Humans. The primary data of this study were collected from Mat Reeves’s Rise of the Planet of the Apes (2011) and Dawn of the Planet of the Apes (2014) movies. The theory of racism by Henry and Tator, discrimination theories by Theodorson and Theodorson and Larry Willmore and theory of rebellion by Karl Marx and D. E. H. Russel were used as the theoretical framework to find out and analyzed the kinds of racism that the Humans had done to the Apes and the way the Apes do the rebellion action in the movies Rise of the Planet of the Apes and Dawn of the Planet of the Apes movies. The result of this study showed that the rebellion action from Apes toward Humans is appropriated with the rebellion theories from Karl Marx and D. E. H. Russel. The Apes did the rebellion actions toward the Humans because of the unfair treatments, racism and discrimination treatments from the Humans. Furthermore, the result of Ape’s rebellion towards Human in the movies is only the destruction. Key words: individual racism, interpersonal racism, systemic racism, institutional racism, discrimination. ABSTRAK Rasisme, diskriminasi dan pemberontakan adalah tiga persoalan yang masih eksis didunia sampai saat ini. Rasisme adalah sebuah paham bahwa ada sebagian kelompok yang unggul dan sebagian tidak. Diskriminasi adalah perlakuan yang tidak adil atau pembedaan perlakuan dan kekerasan terhadap orang lain, biasanya berdasarkan ras, warna kulit dan kepercayaan. Pemberontakan adalah sebuah tindakan atau sebuah pergerakan melawan ancaman yang datang dari luar. Ketiga persoalan tersebut dapat dijumpai didalam film Rise of the Planet of the Apes dan Dawn of the Planet of the Apes. Adapun tujuan dari studi ini adalah untuk menidentifikasi dan menganalisa jenis-jenis tindakan rasismme yang dilakukan oleh kelompok manusia yang menyebabkan terjadinya perlawanan atau pemberontakan dari kelompok kera dan bagaimana cara kelompok kera memberontak kepada kelompok manusia. Data utama dari studi ini diambil dari karyanya Matt Reeves, yaitu film Rise of the Planet of the Apes (2011) dan Dawn of the Planet of the Apes (2014). Adapun teori rasisme menggunakan teori dari Henry and Tator, teori diskriminasi dari Theodorson and Theodorsondan Larry Willmore dan teori pemberontakan dari Karl Marx dan D. E. H. Russel. Teori-teori tersebut merupakan teori utama yang digunakan untuk menganalisa macam-macam rasisme yang dilakukan oleh kelompok manusia terhadap kelompok kera, dan bentuk atau cara dari aksi pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok kera didalam film Rise of the Planet of the Apes dan Dawn of the Planet of the Apes. Hasil yang didapatkan dari studi ini menunjukkan bahwa aksi pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok kera selaras dengan teori dari Karl Marx dan D. E. H. Russel. Kelompok kera melakukan aksi pemberontakan karena perlakuan yang tidak adil, tindakan diskriminasi dan rasisme dari kelompok manusia. Ironisnya, hasil dari pada aksi pemberontakan yang dilakukan kelompok kera terhadap kelompok manusia hanyalah mendatangkan kehancuran. Kata kunci: rasismeindividu, rasisme interpersonal, rasisme sistemik, rasisme institusional, diskriminasi
RATIONALITY VALUE IN JOSTEIN GAARDER’S SOPHIE’S WORLD Rabbiyani, Sari; Kuncara, Singgih Daru; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.32 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.676

Abstract

Abstract The purpose of this study is to find the rationality value as seen in Sophie Amundsen’s character and to know how that rationality value defines her character. This study is categorized as a descriptive qualitative design. The source of data is taken from the Sophie’s World novel by Jostein Gaarder. This study used rationality theory from the rationalist such as Socrates, Plato, and Descartes, with the addition from Suwardi Endraswara and Ranjabar. The result of this research showed that the rationality values found in Sophie’s World novel are reasoning, doubting, and finding the agreement. The most appear rationality value is Sophie’s reasoning. When Sophie accept her lesson about philosophy, she shows her reasoning in case of receive her philosophical lesson. From her reasoning, Sophie’s character changed. Philosophy taught her about thinking rationally, logically, systematic, and critical. Thus, we can see that Sophie Amundsen is a dynamic character. From those three rationality values, Sophie Amundsen becomes thoughtful, skeptic, and has an understanding to others opinion that make her become wiser. Key words: rationality, philosophy, reasoning, doubting, agreement. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah menemukan nilai rasionalitas dalam novel Dunia Sophie, serta mengetahui bagaimana nilai rasionalitas tersebut mendefinisikan karakter Sophie Amundsen. Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif. Data-data dalam penelitian ini diperoleh dari novel Sophie’s World karya Jostein Gaarder. Penelitian ini menggunakan teori rasionalitas yang diambil dari beberapa filsuf rasionalis seperti Socrates, Plato, dan Descartes, dengan beberapa tambahan dari Suwardi Endraswara dan Ranjabar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan nilai rasionalitas yang ditemukan dalam novel Sophie’s World adalah penalaran, keraguan, dan persetujuan. Nilai rasionalitas yang dominan adalah penalaran yang dilakukan oleh Sophie. Ketika Sophie menerima pelajaran tentang filsafat, ia menunjukkan proses penalaran dalam hal menyerap pelajarannya tersebut. Dari penalaran yang sering dilakukannya, karakter Sophie mengalami perubahan. Filsafat menjadikan Sophie dapat berpikir rasional, logis, sistematis, dan kritis, sehingga dapat  kita lihat bahwa Sophie Amundsen adalah karakter yang dinamis. Dari tiga nilai rasionalitas tersebut, Sophie Amundsen menjadi seorang yang penuh pemikiran, skeptis, dan dapat mengerti pendapat orang lain sehingga menjadikannya seorang karakter yang bijak. Kata kunci: rasionalitas, filsafat, penalaran, keraguan, persetujuan
ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA DALAM NOVEL BEKISAR MERAH KARYA AHMAD TOHARI Purnamasari, Ayu; Hudiyono, Yusak; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.954 KB) | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.681

Abstract

ABSTRACT The research will analyze social facts, social events, and social behavior that occurs in the community and social change on the main character in Bekisar Merah novel. The method used in this research is qualitative descriptre method. Qualitative research is a research to understand phenomenon about what has experienced by the subject of usearch. The writer get the data by reading and recording technique. That is reading the whole novel and then recording the relevant datas which is connects to the analyzed object and conclude it, the result is there is a social fact included social symptom, norm and law. Social symptom influenced by proverties and education at society in Krangsoga village. Norms in the Bekisar Merah is norm of decency is helping each others work together in society and religion norm. verdict meant in Bekisar Merah novel is a rule, which is norm and sanction made to arrange human behavior. Social event happened in Bekisar Merah novel is with Darsa having affair with Sipah that make everyone talk about it and the when. Many coconuts trees collapsed for electricity lane. Social behavior includes habitant psychology at of village. There is social alteration of main participant Lasi. Change from village woman become a rich man’s wife which make herself as ‘Bekisar Merah’ in a city.  Key words: social fact, social behavior, social alterationABSTRAK Penelitian ini akan menganalisis fakta sosial, peristiwa sosial, perilaku sosial yang terjadi di masyarakat dan perubahan sosial pada tokoh utama dalam novel Bekisar Merah. Metode yang digunakan adalah metode deskripsi kualitatif. Penelitian kualitatif adalah yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Penulis memperoleh data dengan teknik baca dan teknik catat. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu adanya fakta sosial yang meliputi gejala sosial, norma dan hokum. Gejala sosial dipengaruhi kemiskinan dan pendidikan pada masyarakat desa Karangsoga. Norma yang terdapat dalam novel Bekisar Merah adalah norma kesusilaan yaitu saling membantu, bergotong royong pada masyarakat dan adanya norma keagamaan. Hukum yang di maksud dalam novel Bekisar Merah adalah peraturan yang berupa norma dan sanksi yang dibuat dengan tujuan untuk mengatr tingkah laku manusia. Peristiwa sosial yang terjadi dalam novel Bekisar Merah adalah ketika Darsa berselingkuh dengan Sipah yang membuat semua orang membicarakannya dan peristiwa ketika pohon kelapa banyak direbahkan untuk masuknya jalur listrik. Perilaku sosial meliputi psikologi masyarakat desa pada novel. Adanya perubahan sosial pada tokoh utama yaitu Lasi, perubahan dari wanita desa hingga menjadi istri orang kaya yang membuat dirinya menjadi ‘Bekisar Merah’ di sebuah kota. Kata kunci: fakta sosial, peristiwa sosial, perubahan sosial 

Page 1 of 1 | Total Record : 10