cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya)
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 25497715     EISSN : 25497715     DOI : -
Jurnal Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya) merupakan jurnal yang dikelola oleh Fakultas Ilmu Budaya sebagai media publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya, termasuk pengajarannya. Terbit sebanyak empat kali setahun, yaitu pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober, dan diterbitkan hanya dalam format elektronik.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018" : 10 Documents clear
MANTRA DALAM UPACARA ADAT BELIAN SENTIYU SUKU DAYAK TUNJUNG DI KUTAI BARAT: KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI MANTRA Kristiani, Natalia; Mursalim, Mursalim; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.898

Abstract

ABSTRACT Belian Sentiyu’s traditional ceremony is a series of human efforts aimed at preventing the occurrence of a calamity to humans and the environment, or free themselves from the shackles of disease that always ends in a way abstain. The ceremony has existed since ancient times before the arrival of any religion to the village Sekolaq Joleq. Belian Sentiyu traditional ceremony held at the residence of patients suffering from a disease and intend to be healed through the ceremony of Belian Sentiyu. Belian Sentiyu traditional ceremony led by a Pememang. The purpose of this research is to describe the form and function of spell contained in traditional ceremony of Belian Sentiyu of Dayak Tunjung tribe in Kutai West. The type of research used in this study is descriptive (qualitative). Researchers try to describe and explain about the shape, and function of spell in traditional ceremony of Belian Sentiyu Dayak Tunjung tribe in Kutai West. Data collection techniques used in this study are observation techniques, interviews and notes, summarizes, translations, and instruments. Then, the data obtained from this study is associated with the theory of spell shape, and the spell function. The results of this study show that the form of spell in traditional ceremony Belian Sentiyu can be seen from the form of lines, the temple form, and from the choice of language there are three languages in the traditional ceremony spell Belian Sentiyu, namely Indonesian, Kutai language, and Tunjung Dayak language. Furthermore, the spell function that is found in the spell in Belian Sentiyu traditional ceremony is, as a social controller, as a reminder, as tolerance, and as a means to pray. Keywords: spell, traditional ceremony of Belian Sentiyu, form, function ABSTRAK Upacara Adat Belian Sentiyu merupakan serangkaian usaha manusia yang bertujuan untuk mencegah terjadinya suatu musibah terhadap manusia dan lingkungan, atau membebaskan diri dari belenggu penyakit yang selalu di akhiri dengan cara berpantang. Upacara adat tersebut telah ada sejak zaman dahulu sebelum datangnya agama apa pun ke Desa Sekolaq Joleq. Upacara adat Belian Sentiyu diadakan di kediaman pasien yang menderita suatu penyakit dan bermaksud ingin disembuhkan melalui upacara adat Belian Sentiyu tersebut. Upacara adat Belian Sentiyu dipimpin oleh seorang Pememang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk, dan fungsi mantra yang terdapat dalam upacara adat Belian Sentiyu suku Dayak Tunjung di Kutai Barat. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif (kualitatif). Peneliti berusaha menggambarkan dan menjelaskan tentang bentuk, dan fungsi mantra dalam upacara adat Belian Sentiyu suku Dayak Tunjung di Kutai Barat. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik observasi, wawancara dan mencatat, merangkum, penerjemahan, dan instrumen. Kemudian, data-data yang diperoleh dari penelitian ini dikaitkan dengan teori bentuk mantra, dan fungsi mantra. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa bentuk mantra dalam upacara adat Belian Sentiyu dapat dilihat dari bentuk baris, bentuk bait, dan dari pilihan bahasa terdapat tiga bahasa pada mantra upacara adat Belian Sentiyu, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Kutai, dan bahasa Dayak Tunjung. Selanjutnya yaitu fungsi mantra yang terdapat pada mantra dalam upacara adat Belian Sentiyu yaitu, sebagai pengendali sosial, sebagai pengingat, sebagai toleransi, dan sebagai sarana untuk berdoa. Kata kunci: mantra, upacara adat Belian Sentiyu, bentuk, fungsi
THE FLOUTING OF MAXIM IN THE SE7EN MOVIE SCRIPT Ibrahim, Zulfah; Arifin, M. Bahri; Setyowati, Ririn
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.1016

Abstract

ABSTRACT This research focused on analyzing flouting of maxims that were flouted by the characters in the Se7en movie script and the motivation of the characters flouted the maxims. This research used qualitative research method. The data of the research were in the form of utterances that contained flouting of maxim. The data were collected by downloading the movie and the script, watching the movie, and collecting the data from the script. The data analysis was conducted by organizing the data into narration, analyzing the data, and drawing the conclusion. The results of the research showed what types of maxim were flouted in the movie and what motivation that led the characters to flout the maxims. There are four flouting of maxims in the Se7en movie script; they are maxim of quantity maxim of quality, maxim of relevance, and maxim of manner. Then, there are three motivations that influenced the characters flouted the maxims; they are competitive, collaborative, and conflictive.                                          Keywords: flouting of maxim, Se7en movie  ABSTRAK Penelitian ini difokuskan pada analisis pelanggaran maksim yang dilakukan oleh karakter dalam naskah film Se7en dan motivasi karakter melanggar maksim tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Data penelitian berupa ujaran yang mengandung pelanggaran maksim. Data dikumpulkan dengan cara mengunduh film dan naskahnya, menonton film, dan mengumpulkan data dari naskah. Analisis data dilakukan dengan menyusun data dalam bentuk narasi, menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan jenis maksim apa saja yang dilanggar dalam film ini dan motivasi apa yang menyebabkan karakter tersebut melanggarnya. Ada empat maksim yang dilanggar dalam naskah film Se7en, yaitu maxim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara. Lalu, ada tiga motivasi yang mempengaruhi karakter melanggar keempat maksim tersebut, yaitu kompetitif, kolaboratif,  dan konfliktif. Kata kunci: pelanggaran maksim, film Se7en
HISTORIOPHOTY IN THE CHRONICLES OF NARNIA: THE LION, THE WITCH AND THE WARDROBE Woolyanto, Vincent; Kuncara, Singgih Daru; Asanti, Chris
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.852

Abstract

ABSTRACT The object of this research was to find the historiophoty in The Chronicles of Narnia: the Lion, the Witch and the Wardrobe and the purpose of this research was to find how historiophoty interpreted in the historical events of The Chronicles of Narnia: the Lion, the Witch and the Wardrobe. This research used qualitative method as research design and library research as the method of data collection. This research showed that historiophoty could be used to interpret World War II as a setting and Christianity concept related to the author personal experienced. The researcher showed that there were ten historical events on The Chronicles of Narnia: the Lion, the Witch and the Wardrobe.  Keywords: historiophoty, World War II, Christianity, The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch and the Wardrobe film  ABSTRAK Objek dari penelitian ini adalah untuk menemukan historiophoty di The Chronicles of Narnia: the Lion, the Witch and the Wardrobe dan tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan bagaimana historiophoty diinterpretasikan didalam sejarah The Chronicles of Narnia: the Lion, the Witch and the Wardrobe. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan penelitian perpustakaan sebagai metode pengumpulan data. Penelitian ini menunjukkan kalau historiophoty dapat digunakan untuk menginterpretasikan Perang Dunia kedua sebagai latar dan konsep Kristiani terkait dengan kehidupan pribadi sang penulis. Peneliti menunjukkan bahwa ada sepuluh kejadian sejarah di The Chronicles of Narnia: the Lion, the Witch and the Wardrobe. Kata kunci: historiophoty, Perang Dunia II, Kristiani, film The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch and the Wardrobe 
MASCULINITY IN THE CHARACTER OF MARGO ROTH SPIEGELMAN IN PAPER TOWNS NOVEL Lestari, Silvya Wana; Sili, Surya; Ariani, Setya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.1017

Abstract

ABSTRACT Woman and her position toward man in society are always interesting to be discussed. Woman is now labeled by femininity for years and often be associated with several characteristics such as gentle, caring, loving and inferior from man because of the gender stereotype formed by society. By this research, the researcher aimed to analyze the masculine traits of the female character, Margo Roth Spiegelman in Paper Towns novel. This research was a qualitative research and used content analysis as the data analysis technique. This research used Sandra L Bem’s Sex Role Inventory as the indicator of masculinity in Margo’s character in Paper Towns novel. The result of this research showed that Margo has masculine traits even though she is a woman and they appeared through three aspects of her character: physical, emotional, and behavioral. Keywords: gender, gender stereotypes, masculinity, Paper Towns novel  ABSTRAK Wanita dan posisinya terhadap pria di masyarakat selalu menjadi topik menarik untuk dibahas. Wanita saat ini lekat dengan label kewanitaan yang telah melekat selama bertahun-tahun dan sering dikaitkan dengan beberapa karakteristik khusus seperti lembut, perhatian, penyayang dan lebih rendah daripada pria dikarenakan stereotip yang melekat di masyarakat berdasarkan gender. Dalam penelitian ini, peneliti bermaksud untuk menganalisis sifat maskulin yang ada pada karakter wanita pada novel Paper Towns yaitu Margo Roth Spiegelman. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan menggunakan teknik konten analisis sebagai teknik analisis data. Penelitian ini menggunakan teori dari Sandra L. Bem, Sex Role Inventory sebagai indikator dari sifat-sifat maskulin pada karakter Margo di novel Paper Towns. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Margo memiliki sifat-sifat maskulin meskipun ia terlahir sebagai wanita dan sifat-sifat tersebut muncul melalui tiga aspek yaitu secara fisik,  secara emosi, dan secara tingkah laku. Kata kunci: gender, stereotip gender, maskulinitas, novel Paper Towns
SOCIAL PROCESSES IN THE FORMATION OF DRE PARKER’S CHARACTER IN "KARATE KID" FILM (2010) Andriana, Wahyu Sartika; Natsir, M.; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.727

Abstract

ABSTRACT There are two objectives of research in this study, such as, to show the character formation that occurred in the character of Dre in Karate Kid film 2010, and to analyze how Dre experienced character changes shaped by social processes in Karate Kid film 2010. This analysis includes to descriptive qualitative method. This researcher used the Karate Kid film 2010 as the source of data. The data derived from the utterances of major characters containing the elements of social processes. From the finding of this analysis, the elements of social processes there are two classifications, first is associative social process, in associative social process such as; cooperation (team work), accommodation (agreement), assimilation (cultural fusion). The second classification of social process is dissociative social process, in dissociative social process such as; competition (compete in a good way), conflict (compete in a bad way). Keywords: individual, character formation, social process, hierarchy needs  ABSTRAK  Ada dua tujuan penelitian dalam penelitian ini, seperti, untuk menunjukkan pembentukkan karakter yang terjadi pada karakter Dre dalam film Karate Kid 2010, dan untuk menganalisis bagaimana Dre mengalami perubahan karakter yang dibentuk oleh proses sosial di film Karate Kid 2010. Analisis ini termasuk dalam metode deskriptif kualitatif. Peneliti ini menggunakan film Karate Kid 2010 sebagai sumber data. Data berasal dari ujaran karakter utama yang mengandung unsur-unsur proses sosial. Dari analisis ini, unsur-unsur proses sosial ada dua klasifikasi, pertama adalah proses sosial asosiatif, dalam proses sosial asosiatif seperti; kerjasama (kerja tim), akomodasi (kesepakatan), asimilasi. Klasifikasi kedua proses sosial adalah proses sosial disosiatif, dalam proses sosial disosiatif seperti; kompetisi (bersaing dengan cara yang baik), konflik (bersaing dengan cara yang buruk). Kata kunci: individu, pembentukkan karakter, proses sosial, kebutuhan hierarki
THE DIFFERENCES BETWEEN MEN AND WOMEN’S LANGUAGE IN THE DEVIL WEARS PRADA MOVIE Juwita, Tri Puspa; Sunggingwati, Dyah; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.870

Abstract

ABSTRACT This research with the title investigated the differences between men and women’s language feature and the consistency of the using of that language features by each gender. This research used the theory from Coates (2004) about men’s language features and Lakoff, quoted by Holmes (2003) about women’s language. The researcher got the data from every dialogue by main and supporting characters. The research design in this research used qualitative method from Mack et al (2005). The data source of this research got from the dialogue of men and women’s characters and the researcher also used books and journals which are related to this research to analyze the data. The technique of data analysis is descriptive method. The researcher draws two conclusions: firstly, this research found that men and women’s character in The Devil Wears Prada movie did not use all of the language features from Coates and Lakoff. Secondly, the researcher found that in some situation, the men and women’s character did not consistent use their own language features. Keywords: features consistency, men’s language, women’s language, The Devil Wears Prada movie  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang perbedaan antara bahasa pria dan bahasa wanita dan konsistensi pengunaan tersebut pada masing-masing jenis kelamin. Penelitian ini menggunakan teori dari Coates (2004) tentang bahasa pria dan teori dari Lakoff yang dikutip oleh Holmes (2003) tentang bahasa wanita. Peneliti mendapatkan data dari seluruh percakapan yang dilakukan oleh pemeran utama dan pemeran pendukung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dari Mack et al (2005). Sumber data diperoleh dari percakapan karakter pria dan wanita dan juga didukung oleh buku dan jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini. Cara untuk menganalisis data adalah dengan menggunakan metode deskripsi. Peneliti mendapatkan dua kesimpulan: pertama, ditemukan bahwa karakter pria dan wanita di film The Devil Wears Prada tidak menggunkan seluruh kriteria dari Coates dan Lakoff. Kedua, peneliti menemukan bahwa di beberapa situasi, karakter pria dan wanita tidak konsisten menggunakan karaker bahasa masing-masing gender. Kata kunci: konsistensi karakter, bahasa pria, bahasa wanita, film The Devil Wears Prada 
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MENULIS PANTUN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE SISWA KELAS X SMA Basuni, Lukar
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.849

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran berupa RPP dan LKS dengan model Example Non Example pada materi menulis pantun untuk siswa SMA kelas X yang berorientasi pada kemampuan pemecahan masalah. Kualitas produk yang dikembangkan dinilai berdasarkan aspek kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan. Prosedur pengembangan perangkat pembelajaran mengacu pada model pengembangan 4-D, yaitu Define (Pendefinisian), Design (Perancangan), Develop (Pengembangan), dan Disseminate (Penyebaran). Karena keterbatasan peneliti, penelitian dilakukan hingga tahap develop. Subjek Penelitian ini adalah siswa kelas X-1 SMA Negeri 12 Samarinda. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kualitas perangkat pembelajaran yang dikembangkan adalah lembar penilaian RPP dan LKS untuk mengukur kevalidan, angket respon siswa dan lembar observasi keterlaksanaan kegiatan pembelajaran untuk mengukur kepraktisan, tes kemampuan pemecahan masalah untuk mengukur keefektifan. Kualitas kevalidan perangkat pembelajaran memenuhi kriteria valid berdasarkan skor rata-rata RPP yaitu 4,41 dari skor maksimal 5,00 dengan kriteria sangat baik dan skor rata-rata LKS, yaitu 4,20 dari skor maksimal 5,00 dengan kriteria baik. Kualitas kepraktisan perangkat pembelajaran memenuhi kriteria praktis berdasarkan skor rata-rata angket respon siswa 4,21 dari maksimal 5,00 dengan kriteria sangat baik dan persentase rata-rata lembar observasi keterlaksanaan kegiataan pembelajaran yaitu 95% dengan kriteria sangat baik. Kualitas keefektifan perangkat pembelajaran memenuhi kriteria efektif berdasarkan hasil pretest dan post-test dengan peningkatan persentase ketuntasan dari 3% menjadi 84% dengan kriteria sangat baik. Perangkat pembelajarn berbasis Example Non Example yang dikembangkan memiliki kualitas valid, praktis, dan efektif dan dapat membatu siswa mencapai kompetensi yang harus dimilikinya Kata kunci: pengembangan perangkat pembelajaran, model Example Non Example   ABSTRACT This research was intended to develop learning tools with RPP and LKS with Example Non Example Model on pantun writing material for students of SMA in class X that was oriented on the ability. Product quality that was developed based on aspects of validity, practicality, and effectiveness. Learning device development procedure referred to the 4-D development modelwhich were Define, Design, Develop, and Disseminate. Due to the researchers limitations, the research was conducted until the developing stage. Then, the subjects of this research were X-1 students of SMA Negeri 12 Samarinda. Instrumentswere also used to measure the quality of instructional devices that were developed which were the piece of assessment paper of the RPP and LKS to measure the validity, student response questionnaires, observation sheets of the implementation of learning activities to measure the practicality, and the test of solving problem ability to measure the effectiveness. Furthermore, the validity quality of learning tools met the valid criterion based on the average score of RPP that was 4.41 from the maximum score of 5.00 with a very good criterion, and the average score of LKS was 4.20 from the maximum score of 5.00 with a good criterion. The quality of the practicality of instructional tools also met the practical criteria based on the average score of students response questionnaire that was 4.21 out of the maximum of 5.00 with a very good criterion, and the average percentage of observation sheets of learning activity implementation was 95% with a very good criterion. The quality of the effectiveness of the learning tools met the effective criteria based on pretest and post-test results with the percentage improvement from 3% to 84% with a very good criterion, too. Learning devices based on Example Non Example developed have valid quality, practical, and effective and can help students achieve the competence they have to have. Keywords: learning device development, model Example Non Example
THE PORTRAYAL OF HEROISM IN THE ORSON SCOTT CARD’S NOVEL ENDER’S GAME Rosianah, Rosianah; Kuncara, Singgih Daru; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.876

Abstract

ABSTRACT This research discussed about the portrayal of heroism in the Orson Scott Card’s novel Enders Game, based on Joseph Campbell’s hero’s journey. This research has two objectives, the first is to reveal the journey of Ender to become a hero and the second is to reveal hero traits in Ender’s character that appear during his journey. This study used qualitative approach. The subject of this study is novel by Orson Scott Card entitle Ender’s Game. The data were some sentences and utterances showing the hero’s Journey and hero traits. To obtain trustworthiness, the writer used triangulation technique. The writer found that the hero in his journey passed thirteen stages among seventeen stages of hero’s Journey, namely Call to adventure, Refusal of the call, Supernatural aid, Crossing the first threshold, Belly of the whale, Road of trials, Meeting with the goddess, Atonement with Father, Apotheosis, Ultimate boon, Refusal of the call, Crossing the threshold, Master of the two worlds, and Freedom to live. Three stages were absent, Woman temptress, Magic flight, and Rescue from within. In every phase Ender as the main character showed traits that indicate he is a hero. He showed twelve hero traits, there are; Courage, Virtuosity, Sacrifice, Determination, Focus, Compassion, Perseverance, Dedicate, Honesty, Loyalty, Conviction, and Wisdom. Keywords: hero, hero’s journey, traits  ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang penggambaran kepahlawanan dalam novel Ender’s Game karya Orson Scott Card. Terdapat dua objek penelitian, pertama mengungkapkan perjalanan Ender untuk menjadi seorang pahlawan, dan objek kedua mengungkapan ciri-ciri pahlawan yang muncul pada karakter Ender dalam perjalannya . Subjek dalam penelitian ini adalah novel karya Orson Scott Card yang berjudul Ender’s Game. Data dalam penelitian ini adalah kalimat-kalimat dan ucapan yang menunjukkan “hero’s Journey” dan ciri-ciri pahlawan. Untuk mendapatkan kepercayaan, penulis menggunakan teknik triangulasi. Penulis menemukan bahwa Ender sebagai pahlawan dalam perjalanannya melewati tiga belas tahap di antara tujuh belas tahap perjalanan pahlawan, yaitu Call to adventure, Refusal of the call, Supernatural aid, Crossing the first threshold, Belly of the whale, Road of trials, Meeting with the goddess, Atonement with Father, Apotheosis, Ultimate boon, Refusal of the call, Crossing the threshold, Master of the two worlds, and Freedom to live. Terdapat tiga tahap yang tidak muncul dalam novel, yaitu, Woman as temptress, Magic flight, and Rescue from within. Di setiap tahap Ender sebagai karakter utama menunjukkan ciri-ciri yang menunjukkan bahwa dia adalah pahlawan. Dia menunjukkan dua belas ciri-ciri pahlawan, yaitu; Courage, Virtuosity, Sacrifice, Determination, Focus, Compassion, Perseverance, Dedicate, Honesty, Loyalty, Conviction, dan Wisdom. Kata kunci: pahlawan, perjalanan pahlawan, ciri-ciri
REDUPLIKASI DALAM BAHASA DAYAK MURUT TAHOL DI DESA TAU LUMBIS KECAMATAN LUMBIS OGONG KABUPATEN NUNUKAN Adrianus, Nopli; Mursalim, Mursalim; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.853

Abstract

ABSTRACT This research has been completed with the purpose to describe about the process of reduplication, the varieties of reduplication, the types of reduplication and the meaning of reduplication in Dayak Murut Tahol Language. Thus, based on the result of the research, the researcher wishes that it will gives more immense understanding about reduplication in Dayak Murut Tahol language, also it will roles the contribution as the data in primordialism language, even as the application of Indonesia linguistics knowledge into regional language, especially in Dayak Murut Tahol language. In this research, the researcher uses the descriptive qualitative method. The data collection techniques that the researcher uses are writing or noting, data selection, and data aggregation. Besides, the data analysis techniques are descriptive qualitative technique and agih method. Then, based on the research, the result are the forms of reduplication and the processes of reduplication. However, the forms of reduplication are the whole reduplication, example: lakou-lakou (jalan-jalan), and the half reduplication, example: angalap-alap (mengambil-ambil). Furthermore, the processes of reduplication are the whole-reduplication process, example: rangan-rangan, the basic form is rangan, the whole-reduplication is rangan-rangan, which means “friends”, and the half-reduplication process, example: sekunyib-kunyib, which means “smiling”, prefix se- + kunyib created the words of sekunyib-kunyib, which means “friends”. The categories of reduplication are: 1. Nomine, example: ali-ali (brothers/sisters), 2. Verb, example: lakou-lakou (walk around), 3. Adjective, example: mangit-mangit (angry), 4. Numeral, example: ruo-ruo (both). Moreover, the meanings of reduplication are, 1. Explain of plurality, example: abuk-abuk (hairs), 2. Explain of the most, example: sabuoi-buoino (forever). 3. Explain of the counterfeit, example: karita-karitaan (car-toys), 4. Explain of approximately, example: kasilou-silouan (approximately yellow/almost yellow).  Keywords: reduplication, Dayak Murut Tahol language ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan tentang proses reduplikasi, macam-macam bentuk reduplikasi, jenis reduplikasi dan makna reduplikasi dalam bahasa Dayak Murut Tahol. Dari hasil penelitian ini penulis berharap dapat memberi gambaran tentang reduplikasi bahasa Dayak Murut Tahol, agar dapat berguna sebagai sumbangan data kebahasaan daerah dan juga sebagai penerapan ilmu linguistik bahasa Indonesia ke dalam bahasa daerah, khususnya bahasa Dayak Murut Tahol. Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah teknik catat, seleksi data, pengelompokan data. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan  adalah teknik deskripsi kualitatif dan metode agih. Berdasarkan penelitian, dihasilkan bentuk reduplikasi seluruh, misalnya: lakou-lakou (jalan-jalan), reduplikasi sebagian, misalnya: angalap-alap (mengambil-ambil), sedangkan proses reduplikasinya adalah proses reduplikasi utuh, misalnya: rangan-rangan, bentuk dasar rangan, reduplikasi seluruh rangan-rangan, artinya ‘teman-teman’, dan proses reduplikasi sebagian, misalnya: sekunyib-kunyib, artinya tersenyum-senyum, prefiks se- + kunyib menghasilkan berupa kata sekunyib-kunyib, artinya ‘tersenyum-senyum’. Kategori reduplikasi adalah: (1) nomina contohnya ali-ali (adik-adik), (2) verba contohnya lakou-lakou (jalan-jalan), (3) adjektiva contohnya mangit-mangit (marah-marah), (4) numeralia contohnya ruo-ruo (dua-dua). Sedangkan makna reduplikasi yang dihasilkan yaitu: (1) menyatakan banyak, contohnya abuk-abuk (rambut-rambut). (2) menyatakan paling, contohnya sabuoi-buoino (selama-lamanya), (3) menyatakan tiruan contohnya karita-karitaan (mobil-mobilan), (4) menyatakan agak contohnya kasilou-silouan (kekuning-kuningan). Kata kunci: reduplikasi, bahasa Dayak Murut Tahol 
PANDANGAN DUNIA PENGARANG DALAM NOVEL MELLOW YELLOW DRAMA KARYA AUDREY YU JIA HUI: KAJIAN STRUKTURALISME GENETIK Fernando, Victhor; Mulawarman, Widyatmike Gede; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.1015

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini mendeskripsikan unsur struktural dan pandangan dunia pengarang novel Mellow Yellow Drama karya Audrey Yu Jia Hui. Penelitian ini merupakan penelitian sosiologi sastra dengan menggunakan teori Strukturalisme Genetik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini menggunakan teknik baca, teknik catat, dan teknik pustaka. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model dialektik. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. Pertama, unsur struktural Mellow Yellow Drama karya Audrey Yu Jia Hui terdiri atas unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsiknya terdiri dari alur, tokoh, latar, sudut pandang, dan tema. Alur dalam novel ini adalah alur campuran. Tokoh utamanya adalah Audrey dan memiliki tokoh tambahan yakni Papa dan Mama. Sebagian besar latar berada di kota Surabaya dan Virginia. Waktu penceritaan yang terjadi adalah ketika Audrey kecil, kerusuhan 98, perkuliahan Audrey di luar negeri, dan ketika Audrey kembali ke Indonesia. Latar sosialnya adalah adanya sistem monopoli dalam pemerintahan yang berlangsung pada saat itu, diskriminasi terhadap kaum keturunan Tionghoa, dan pengucilan terhadap anak jenius yang dipandang aneh karena berbeda dengan anak-anak seusianya. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama. Tema yang diusung adalah dimensi tingkat egois dan tingkat sosial. Unsur ekstrinsik Mellow Yellow Drama yang dijabarkan dalam penelitian ini adalah adanya keterkaitan latar belakang sejarah yang mengondisikan penggambaran sosial dalam cerita. Kedua, pandangan dunia Audrey Yu Jia Hui dalam Mellow Yellow Drama adalah pandangan humanisme, eksistensialisme, nasionalisme, dan religiositas.             Kata Kunci: Tionghoa, pandangan dunia pengarang, strukturalisme genetik, sosiologi sastra ABSTRACT This research aimed to describe the structural elements and to know the author’s worldview in Audrey’s Mellow Yellow Drama. This is a sociology literature research that used genetic structuralism theory. This research used descriptive qualitative approach. To get the data and result, the researcher used the reading technique, note technique, and library technique. Data analyzing technic that used in this research is dialectic models. The result of this research as bellows. First, the structural elements of Audrey’s Mellow Yellow Drama consisted of intrinsic elements and extrinsic elements. The intrinsic elements consisted of plot, character, setting, the point of view, and theme. The plot in this novel in mixing plot. The main character is Audrey and the additional character are Papa and Mama. Most of the setting in the Surabaya and Virginia. The time of the story is in Audrey’s childhood, 98 disturbances, Audrey’s college life in abroad, and when Audrey came back to Indonesia. The social setting in this novel such as there is monopoly system in the government at that time, the discrimination towards the Tionghoa society, and the bullying towards the prodigy child because they are different. This novel used the first-person point of view. The theme in this novel is social and ego dimension state. The extrinsic elements of Audrey’s Mellow Yellow Drama that explained in this research such as there is a connection between historical background which conditioning the social view in the story. Second, the author’s worldview in Audrey’s Mellow Yellow Drama is humanism view, existentialism view, nationalism view, and religiosity view. Keywords: Tionghoa, author’s worldview, genetic structuralism, sociology of literature

Page 1 of 1 | Total Record : 10