cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya)
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 25497715     EISSN : 25497715     DOI : -
Jurnal Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya) merupakan jurnal yang dikelola oleh Fakultas Ilmu Budaya sebagai media publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya, termasuk pengajarannya. Terbit sebanyak empat kali setahun, yaitu pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober, dan diterbitkan hanya dalam format elektronik.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2019): Januari 2019" : 12 Documents clear
TRADISI SUNATAN ANAK PEREMPUAN SUKU MAKASSAR DI BALIKPAPAN: KAJIAN FOLKLOR Salami, Ananda Anugerah Budi; Arifin, Syaiful; Dahlan, Dahri
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i1.1776

Abstract

ABSTRAK Tradisi sunatan anak perempuan suku Makassar merupakan tradisi sunat pada anak perempuan yang berada di masyarakat Manggar Baru, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan. Tradisi sunatan anak perempuan suku Makassar ini masih dilakukan dengan baik tanpa meninggalkan maksud dan tujuan tradisi. Keberadaan tradisi tersebut tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahapan-tahapan tradisi sunatan anak perempuan yang ada di Balikpapan, untuk mengetahui nilai yang terkandung dalam tradisi sunatan anak perempuan suku Makassar di Balikpapan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan bukan angka. Objek penelitian yaitu ketua adat, orang tua, anak perempuan yang dikhitan, dukun khitan, dan masyarakat. Sumber data yang digunakan seperti, sumber data primer dan sekunder. Teknik analisis data menggunakan teknik kualitatif, yakni pengumpulan data, reduksi data, penyajian, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan kesimpulan pokok.  Bentuk tahapan dan nilai yang terkandung dalam tradisi sunatan anak perempuan suku Makassar di Balikpapan, memberikan saran-saran penelitian. Kata kunci: tradisi sunatan, nilai, folklor  ABSTRACT The circumcision tradition of the tribal girl of Makassar is a tradition of female circumcision in the community of Manggar Baru, Balikpapan East district, Balikpapan city. This tradition of Makassar tribal female circumcision is still done well without leaving behind the intent and purpose of the tradition. The existence of the tradition is still preserved by the local cummunity. This study aims to determine the stages of stages of the Makassar tribal female circumcision in Balikpapan, to find out the value contained in the tradition of Makassar tribal female circumcision in Balikpapan. This research is done by using descriptive method, that is data collected in the form of words and not numbers. the object research is the costomary leader, parents, girls who have been in circumcision, perpetrators circumcision, and society. data sources used such as primary and secondary data sources, while analysis techniques using qualitative technques, namely data collection, data reduction, presentation and conclusion. The forms of stages and values contained in the tradition of the Makassar tribal female circumcision at Balikpapan, provide suggestions for research advice. Keywords: sunatan tradition, value, folklore
CHARACTER ANALYSIS OF JACE WAYLAND IN THE MORTAL INSTRUMENTS: CITY OF BONES NOVEL THROUGH HIERARCHY OF HUMAN NEEDS THEORY OF ABRAHAM MASLOW Latifah, Siti Noor; Kuncara, Singgih Daru; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i1.1498

Abstract

ABSTRACTThe objective of this research was to show the process of Jace, the character in The Mortal Instruments: City of Bones novel, in fulfilling his need through Abraham Maslow?s theory about hierarchy of human needs and to describe about his character based on his need. This data used descriptive qualitative research because the data were found in the form of dialogue and narration that will explained about the character. The researcher used The Mortal Instruments: City of Bones novel as the source data. The steps of data collection were reading the novel The Mortal Instruments: City of Bones and understanding about the dialogue and narration that had been shown, then identified the data based on the theory of human needs. Last, the data were arranged based on the research questions. From the finding of this analysis, Jace had fulfilled four needs of human needs by Abraham Maslow. They are physiological need, safety need, love and belongingness need, and esteem need. Meanwhile Jace could not fulfill the last need of self-actualization need because there are some characteristic that he could not get. They are clear perception or reality, acceptance, problem centered, humility and respect, and sense of humor. From analysis based on his needs, it was found that he showed many characters through the needs that he had fulfilled. Keywords: hierarchy of human needs, character, The Mortal Instruments: City of Bones novel  ABSTRAKTujuan dari analisis ini adalah untuk memperlihatkan proses Jace, karakter dalam novel The Mortal Instruments: City of Bones, dalam memenuhi kebutuhannya melalui teori Abraham Maslow tentang tingkatan kebutuhan-kebutuhan manusia dan menjelaskan tentang karakternya berdasarkan kebutuhannya. Analisis ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif karena data ditemukan dalam bentuk dialog dan narasi yang akan menjelaskan tentang karakter. Peneliti menggunakan novel The Mortal Instruments: City of Bones sebagai sumber data. Langkah-langkah dalam pengumpulan data adalah membaca novel The Mortal Instruments: City of Bones dan memahami tentang dialog dan narasi yang telah diperlihatkan, kemudian mengidentifikasi data berdasarkan teori kebutuhan-kebutuhan manusia. Terakhir data disusun berdasarkan pertanyaan dari penelitian. Dari analisis ini, Jace telah berhasil memenuhi empat kebutuhan dari kebutuhan-kebutuhan manusia yang dijelaskan oleh Abraham Maslow. Diantaranya kebutuhan fisiologi, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa sayang dan memiliki, dan kebutuhan penghargaan. Sementara itu, Jace tidak bisa memenuhi kebutuhan terakhir yaitu kebutuhan aktualisasi diri karena ada beberapa karakteristik dari kebutuhan tersebut yang tidak bisa dipenuhi. Diantaranya pemikiran yang jelas atau kenyataan, penerimaan, pemecah masalah, rendah hati dan menghormati, dan memiliki rasa humor. Dari analisi berdasarkan kebutuhan-kebutuhan Jace, ditemukan bahwa Jace memperlihatkan banyak karakter melalui kebutuhan-kebutuhan yang sudah terpenuhi.  Kata kunci: hierarki kebutuhan manusia, karakter, novel The Mortal Instruments: City of Bones
THE ANALYSIS OF SECONDARY EMOTION TOWARD CLOTHILDE DESTANGE’S CHARACTER IN THE BLONDE LADY NOVEL BY MAURICE LEBLANC Lusi, Monica; Kuncara, Singgih Daru; Setyowati, Ririn
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i1.1621

Abstract

ABSTRACT The study of emotion is interesting and unique to be understood and discussed. Moreover, analysis about emotion in the novel is challenging because it cannot be analyzed by facial expression of the character but based on the narration and the dialogue of the character. The purposes of this study are to analyze the secondary emotions and the factors that cause it toward Clotilde Destange?s Character in The Blonde Lady novel by Maurice LeBlanc. Ten Houten?s present theory from Plutchik about secondary emotion was suitable to be used as the theory to identify the secondary emotions that are appears in the Clotilde?s Character and the theory from Plutchik about emotion as a chain of event to examine the factors that cause secondary emotion of Clotilde?s character. The qualitative method was used to analyze the novel. This research uses sentences, pages, narration, dialogues, and paragraph that related to the secondary emotion in The Blonde Lady novels. The results of the study show that the secondary emotion appeared in the main female character. The study also was identified that the factors that cause the secondary emotion of Clotilde?s character is come from the stimulus event which followed by cognition, feeling states, overt behavior. Stimulus event in here act as the actor who has a role to start the emotion process going. Moreover, the stimulus event did not only come from the main female character itself but also came from other main characters which affected the main female character in expressing her secondary emotion. Keywords: emotion, secondary emotion ABSTRAK Penelitian mengenai emosi itu menarik dan unik untuk dipahami dan dibahas. Selain itu, analisis mengenai emosi didalam novel itu sangat menantang karena emosi  tidak bisa dianalisa dengan ekspresi wajah karakter namun berdasarkan dari narasi dan dialog dari karakter. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa mengenai  emosi sekunder dan faktor penyebabnya terhadap karakter Clotilde Destange di dalam novel, The Blonde Lady oleh Maurice LeBlanc. Teori baru TenHouten dari Plutchik tentang emosi sekunder cocok untuk digunakan sebagai teori untuk mengidentifikasi emosi sekunder yang muncul dalam karakter Clotilde dan teori dari Plutchik tentang emosi sebagai rangkaian peristiwa untuk memeriksa faktor-faktor yang menyebabkan emosi sekunder dari karakter Clotilde. Metode kualitatif digunakan untuk menganalisis novel. Penelitian ini menggunakan kalimat, halaman, narasi, dialog, dan paragraf yang terkait dengan emosi sekunder dalam novel The Blonde Lady. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emosi sekunder muncul pada karakter wanita utama. Penelitian ini juga mengidentifikasi bahwa faktor-faktor yang menyebabkan emosi sekunder karakter Clotilde berasal dari peristiwa stimulus yang diikuti oleh kognisi, keadaan perasaan, perilaku terbuka. Peristiwa stimulus di sini bertindak sebagai aktor yang memiliki peran untuk memulai proses emosi. Selain itu, peristiwa stimulus tidak hanya berasal dari karakter utama wanita itu sendiri tetapi juga berasal dari karakter utama lainnya yang mempengaruhi karakter utama wanita dalam mengekspresikan emosinya. Kata kunci: emosi, emosi sekunder 
MOTIVATION OF THE MAIN CHARACTER IN SUE MONK KIDD’S SECRET LIFE OF BEES Saidah, Nur; Sunggingwati, Dyah; Asanti, Chris
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i2.1628

Abstract

This research to used know form motivation and special figure character in novel Secret Life of Bees by Sue Monk Kidd?s. Research type is qualitative. This study was conducted to analyze the motivation of the main protagonist in the novel Secret Life of Bees work of Sue Monk Kidd and try to connect with the sociological approach. To obtain more data about the character in the novel, library research was also conducted by the writer. The writer collected some journals, articles, and some significant notes that could be used 5as references to investigate this research. And the characters were arranged systematically, in addition to the novel itself, additional data from literature supporters, the data of journals, articles, and data from the internet. Result of research indicates that in analyzing novel Secret Life of Bees by Sue Monk Kidd?s, that character of the special figure in novel that is Lily Owen covering character: they are love, fear of failure, hope for reward, and religious feeling. And motivation in the main character?s life. The four of them make her successful to achieve her goal. Lily is successful to get away from her cruel father and goes to Tiburon with Rosaleen to know about her mother?s death in order to learn about herself. Having analyzed some motivation of the main character in the novel Secret Life of Bees, it shows that the motivations make some results for the main character. Furthermore, the writer analyzes the result of her motivation that will be accepted by the main character. Penelitian ini digunakan untuk mengetahui bentuk motivasi dan karakter tokoh khusus dalam novel Secret Life of Bees karya Sue Monk Kidd. Jenis penelitian adalah kualitatif. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis motivasi protagonis utama dalam novel Secret Life of Bees karya Sue Monk Kidd dan mencoba untuk terhubung dengan pendekatan sosiologis. Untuk mendapatkan lebih banyak data tentang karakter dalam novel, penelitian perpustakaan juga dilakukan oleh penulis. Penulis mengumpulkan beberapa jurnal, artikel, dan beberapa catatan penting yang dapat digunakan sebagai referensi untuk menyelidiki penelitian ini. Dan karakter disusun secara sistematis, selain novel itu sendiri, data tambahan dari literatur pendukung, data jurnal, artikel, dan data dari internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menganalisis novel Secret Life of Bees karya Sue Monk Kidd, karakter tokoh utama dalam novel itu adalah karakter Lily Owencovering: mereka adalah cinta, ketakutan akan kegagalan, harapan akan hadiah, dan perasaan religius. Dan motivasi dalam kehidupan karakter utama. Keempatnya membuatnya sukses untuk mencapai tujuannya. Lily berhasil melarikan diri dari ayahnya yang kejam dan pergi ke Tiburon bersama Rosaleen untuk mengetahui tentang kematian ibunya untuk mengetahui tentang dirinya sendiri. Setelah menganalisis beberapa motivasi karakter utama dalam novel Secret Life of Bees, itu menunjukkan bahwa motivasi membuat beberapa hasil untuk karakter utama. Selanjutnya, penulis menganalisis hasil motivasinya yang akan diterima oleh tokoh utama.
AN ANALYSIS OF INTRINSIC ELEMENTS IN MAMA FILM BY ANDRES MUSCHIETTI Indriani, Dinah; Sili, Surya; Ariani, Setya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i1.1583

Abstract

ABSTRACT The aims of this research were to find out the intrinsic elements of Mama film and the influences of those intrinsic elements on formulating the theme of Mama film. This research used the intrinsic approach in order to find out the intrinsic elements of Mama film and Lombardi?s theory on identifying a literary work?s theme to find the influences of the intrinsic elements of Mama film on formulating its theme. This research used qualitative method as its research design and the structuralism approach as the tool in analyzing the data. The data of this research were taken from dialogues and narrations of Mama (2013) film script directed by Andres Muschietti. Mama film was a horror film that focusing its theme on mother?s love. As a result, this research showed the intrinsic elements of Mama film consisting of plot (exposition, rising action, climax, falling action, and resolution), characters (Annabel, Mama, Lucas, Victoria, Lily, Aunt Jane, Dr. Gerald, Jeffrey Desange, and Burnsie), setting (place: hospital, the court, Cabin Halvetia, Clifton Forge, Courtesy of the Institute, and Walls. Time: the year of 1987, Thursday, breakfast time, and night), and point of view which was taken from Victoria?s. Meanwhile, those intrinsic elements had their influences on formulating Mama film?s theme which was: anyone as long as they have the genuine heart, would be able to give the mother?s love. All of the intrinsic elements showed that mother?s love was the theme of this film, given by the three women characters: Annabel, Mama, and Aunt Jane towards Victoria and Lily. Keywords: intrinsic elements, plot, theme, character, setting, point of view ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik yang terdapat pada film Mama dan pengaruh yang diberikan oleh unsur-unsur tersebut dalam menciptakan tema difilm Mama. Penelitian ini menggunakan pendekatan intrinsik untuk megetahui unsur-unsur intrinsik dari film Mama dan teori Lombardi dalam mengidentifikasi suatu tema dari karya sastra untuk mencari pengaruh unsur-unsur intrinsik film Mama dalam membentuk temanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif sebagai bentuk penelitiannya dan pendekatan struktural sebagai alat untuk menganalisis data dalam penelitian ini. Data yang dipakai dalam penelitian ini diambil dari dialog-dialog dan narasi-narasi skrip film Mama (2013) yang disutradarai oleh Andres Muschietti. Film Mama merupakan film bergenre horor yang temanya berfokus pada kasih ibu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa unsur-unsur intrinsik yang terdapat pada film Mama terdiri dari alur (orientasi, konflik, klimaks, antiklimaks, dan resolusi), karakter (Annabel, Mama, Lucas, Victoria, Lily, Aunt Jane, Dr. Gerald, Jeffrey Desange, dan Burnsie), latar (tempat: rumah sakit, pengadilan, Kabin Halvetia, Clifton Forge, institut penelitian, dan dinding). Waktu: tahun 1987, hari Kamis, waktu sarapan, dan malam hari), dan sudut pandang yang diambil yaitu sudut pandang Victoria. Disisi lain, semua unsur intrinsik tersebut memiliki pengaruhnya masing-masing dalam penentuan tema film Mama yaitu siapapun itu, selama ia memiliki perasaan yang tulus, mampu untuk memberikan kasih ibu. Semua unsur intrinsik tersebut menunjukkan bahwa kasih ibu merupakan tema dari film Mama yang berasal dari ketiga karakter perempuan: Annabel, Mama, dan Aunt Jean terhadap Victoria dan Lily.  Kata Kunci: elemen-elemen intrinsik, alur, tema, karakter, latar, sudut pandang 
GREG GAINE’S ADOLESCENCE IN ME AND EARL AND THE DYING GIRL NOVEL BY JESSE ANDREWS Rubianti, Rubianti; Natsir, M.; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i1.1713

Abstract

ABSTRACT The purposes of this study were to find out the form of Greg Gaine?s self-identity and the struggles that he faced during the self-identity finding process of adolescence. Erikson?s psychosocial development theory in the fifth stage about identity versus identity confusion was used to find out Greg Gaine?s self-identity and his struggles. This study used qualitative method during the process of data analysis regarding the matter that this study used words as its data taken from Me and Earl and The Dying Girl novel by Jesse Andrews. As the result, Greg Gaine?s self-identity was as a filmmaker. Greg experienced the identity confusion phase which caused him to keep refusing his identity as a filmmaker due to his childhood unpleasant experience, yet because of his massive failure to make a proper film for his friend, Rachel, it brought him to be able to develop the two virtues: fidelity and devotion. After Greg was able to develop the two virtues, he was certain to admit and devoted a filmmaker as his self-identity. During his adolescence period, Greg faced two struggles of finding his self-identity, the struggles towards his close friends, Earl Jackson and Rachel Kushner. His relationship with Earl and Rachel turned out as his struggles in finding out his self-identity as a filmmaker was because their existence (Earl and Rachel) determined the most influence on Greg?s decision in admitting his self-identity as a filmmaker and helped him in getting through the adolescence period. Keywords: adolescence, psychosocial development, self-identity, identity confusion, fidelity  ABSTRAK Studi ini bertujuan untuk menemukan bentuk identitas diri karakter Greg Gaine dan rintangan-rintangannya selama proses menemukan identitas diri tersebut dimasa remaja. Teori perkembangan psikososial milik Erikson terutama pada tahap kelima mengenai identitas dan keraguan identitas dipakai dalam menemukan bentuk identitas diri karakter Greg Gaine beserta rintangan-rintangannya. Studi ini menggunakan metode kualitatif selama proses analisis data mengingat data yang dipakai oleh studi ini sendiri merupakan kata-kata dari novel Me and Earl and The Dying Girl karangan Jesse Andrews. Hasil dari studi ini menunjukkan identitas diri karakter Greg Gaine yaitu sebagai seorang pembuat film. Greg mengalamai fase keraguan identitas yang membuatnya selalu menolak identitasnya sebagai pembuat film. Hal ini berhubungan dengan pengalaman pahitnya saat masa kanak-kanak. Akan tetapi, Greg berhasil menumbuhkan perasaan untuk mengakui dan mewujudkan identitas dirinya sebagai pembuat film setelah kegagalannya dalam membuatkan film yang ?pantas? bagi teman dekatnya, Rachel. Setelah Greg memiliki kedua perasaan tersebut (mengakui dan mewujudkan identitas dirinya), ia pun tak ragu untuk benar-benar serius mewujudkan identitas dirinya sebagai pembuat film. Selama masa remajanya, Greg harus berhadapan dengan dua rintangan untuk menemukan identitas dirinya, kedua rintangan tersebut berasal dari dua orang teman terdekatnya, yaitu Earl Jackson dan Rachel Kushner. Hubungannya dengan Earl dan Rachel lah yang menjadi rintangan dalam pencarian identitas dirinya sebagai seorang pembuat film. Hal ini dikarenakan keberadaan mereka (Earl dan Rachel) memiliki pengaruh yang paling besar dalam menentukan keputusan Greg saat mengakui identitas dirinya sebagai pembuat film sekaligus membantu melewati masa remajanya.  Kata kunci: masa remaja, perkembangan psikososial, identitas diri, keraguan identitas, kebenaran
AN ANALYSIS OF SMEAGOL’S CHARACTER INFLUENCED BY THE ONE RING IN LORD OF THE RINGS: RETURN OF THE KING FILM USING JUNG ARCHETYPES Hardanto, Eko; Natsir, M.; Kuncara, Singgih Daru
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i2.1770

Abstract

Lord of the Rings: Return of The King film was adapted from a novel with the same title by J.R.R. Tolkien. This film was directed by Peter Jackson and aired in 2003. This film was a fantasy-adventure genre film. It tells the journey of the Hobbits and their friends to save Middle Earth from dark master Sauron. The purpose of this research is to find out Smeagol archetypes and how the One Ring influences Smeagol?s personality. In this research, the researcher used Carl Gustav Jung analytical psychology theory which contains ego, personal unconscious, and the collective unconscious. In this research, the researcher focused on Jung Archetypes theory, which Archetypes is part of the collective unconscious. The researcher used twelve archetypes in this research: persona, shadow, anima, animus, the great mother, the wise old man, hero, child, hermaphrodite, trickster, and self. The researcher used those twelve archetypes to find Smeagol archetypes and used that to analyze how the One ring influenced Smeagol personality. In this research, the researcher used a qualitative method to collect the data. The data collected from dialogue, narration, and monologue which was related to Smeagol?s. the data presented in quotations and pictures. The result of this research, the researcher found five archetypes in Smeagol and one in the One Ring. Five archetypes that found in Smeagol are the persona, shadow, the hero, hermaphrodite and the trickster, and for the One Ring is the mana. The major archetypes in Smeagol were the trickster, which was the most influenced on changing Smeagol personality. Lord of the Rings: Film Return of The King diadaptasi dari novel dengan judul yang sama dari karya J.R.R. Tolkien. Film ini disutradarai oleh Peter Jackson dan ditayangkan pada tahun 2003. Film ini adalah film bergenre fantasi-petualangan. Di film ini menceritakan perjalanan para Hobbit dan temannya untuk menyelamatkan Middle Earth dari penguasa kegelapan yaitu Sauron. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui arketipe yg ada di Smeagol dan bagaimana One Ring mempengaruhi kepribadian Smeagol. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori psikologi analitik Carl Gustav Jung yang berisikan ego, personal unconscious, dan collective unconscious. Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan pada salah satu teori Jung, yaitu arketipe, yang mana arketipe adalah bagian dari collective unconscious. Peneliti menggunakan dua belas arketipe dalam penelitian ini: persona, shadow, anima, animus, the great mother, the wise old man, hero, child, hermaphrodite, trickster dan self. Peneliti menggunakan kedua belas arketipe ini untuk menemukan arketipe yang berada pada Smeagol dan juga menggunakan ke dua belas arketipe itu untuk menganalisis bagaimana One Ring mempengaruhi kepribadian Smeagol. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif untuk mengumpulkan data. Data yang di kumpulkan berasal dari dialog, narasi, dan monolog yang berkaitan dengan Smeagol. data yang disajikan dalam bentuk kutipan dan gambar. Hasil dari penelitian ini, peneliti menemukan lima arketipe di Smeagol dan satu arketipe di One Ring. Lima arketipe yang ditemukan di Smeagol adalah persona, shadow, hero, hermaphrodite dan trickster, dan untuk One Ring adalah mana. Arketipe yang paling menonjol di Smeagol adalah trickster, yang mana arketipe tersebut yang paling mempengaruhi perubahan kepribadian pada Smeagol.
AN ANALYSIS OF ILLOCUTIONARY ACTS IN YES, WE CAN SPEECH BY BARACK OBAMA Alreza, Eko Ridho; Natsir, M.; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i1.1596

Abstract

ABSTRACT Speaking is a form of communication used by human in order to delivering ideas, information, thoughts, and feeling. Speaking is not only about the sound, but also about the meaning and purpose behind the sound. There is a further study about the meaning and purpose of utterance from speaker, which is illocutionary act. The subject of illocutionary acts can be vary since speaking is the nature of human beings. Some people used speaking in bigger purpose, to influence other. Politician is one the profession which needs to influence people by speaking. One of the form to influence people from a politician is by performing a political speech. In 2008, a politician which lately be the 44th President of United States, Barack Obama, performed a primary speech to influence people in his campaign. Obama uttered his vision about America in the future which brings hope to the audiences. This study will focus on Barack Obama?s primary speech in 2008 entitled Yes, we can. The purpose of this study is to see the implication of illocutionary acts by finding the types that implied in the primary speech, and also to discover the dominant type of illocutionary acts on it. By find out the implications of illocutionary acts in the primary speech, people can sort the acts that Obama performed to avoid misunderstanding on the utterances. By discover the dominant type used in this primary speech, this study will try to show the outline of the speech. The result of this study will show the function and purpose of a political speech and to share more knowledge about the type of utterances used in a political speech. Keywords: pragmatics, speech acts, speech, illocutionary acts ABSTRAK Berbicara merupakan bentuk komunikasi yang digunakan manusia guna menyampaikan ide, informasi, pemikiran, dan perasaan. Berbicara tidak hanya mengenai suara, tetapi juga tentang maksud dan tujuan dibalik suara. Terdapat sebuah kajian lebih dalam mengenai maksud dan tujuan dalam sebuah tuturan dari seorang pembicara, yaitu tindak ilokusi. Subjek dari tindak ilokusi terdiri dari beraneka ragam dikarenakan berbicara merupakan sifat alami manusia. Beberapa orang berbicara untuk tujuan yang lebih besar, yaitu untuk mempengaruhi orang lain. Politisi adalah salah satu profesi yang membutuhkan prosesi berbicara guna mempengaruhi orang lain. Salah satu cara untuk mempengaruhi orang-orang dari seorang politisi adalah dengan menyampaikan pidato politik. Pada tahun 2008, seorang politisi yang kemudian menjadi Presiden ke-44 Amerika Serikat, Barack Obama, menyampaikan pidato politik guna mempengaruhi orang-orang dalam kampanyenya. Obama menyampaikan visinya mengenai Amerika di masa depan dimana memberikan banyak harapan kepada para pendengarnya. Kajian ini akan berfokus pada pidato politik Barack Obama yang berjudul Yes, we can. Tujuan dari kajian ini adalah untuk melihat penerapan dari tindak ilokusi dengan cara menemukan tipe-tipe yang diterapkan dalam pidato politiknya, dan juga guna menemukan tipe tindak ilokusi manakah yang paling mendominasi dalam pidato tersebut. Dengan menemukan penerapan-penerapan tindak ilokusi di dalam pidato politik tersebut, orang-orang dapat memilah tindak tutur yang ditampilkan Obama guna mencegah kesalah-pahaman dalam memaknai tuturan. Hasil dari kajian ini akan menunjukkan fungsi dan tujuan dari sebuah pidato politik dan juga untuk berbagi pengetahuan lebih luas tentang tipe tuturan yang digunakan dalam sebuah pidato politik. Kata kunci: pragmatik, tindak tutur, pidato, tindak ilokusi
A SEMIOTIC ANALYSIS FOUND ON THE CIGARETTE PRODUCTS Prasojowati, Malikatin Wahyu; Natsir, M.; Ariani, Setya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i1.1245

Abstract

ABSTRACT In this study, the writer did a semiotic analysis towards the visual images of cigarette product. To support this thesis the writer used some expert theories like Bouzida (2004), Mayr (2013) etc. the writer used the Qualitative method with content analysis approach because this study need deeper analysis of the content where in this study was the Semiotic signs. The results of these studies gathered by the writer show that the messages or the semiotic signs found on cigarette product was conveyed successfully by the active smoker or the viewer, where the active smoker means a person who have been actively smoke since specific long time, here in this study, the writer put standard for the active smoker have to at least actively smoke minimally two years until at the present this research conducted. semiotic signs on the visual images of cigarette products can be interpreted well by the addressee and understand well too. Those pictures already start to make them insecure towards the effect of smoking, but not strong enough to force them to stop smoking. The reason why the intention of display those visual images on the cigarette products can be concluded because the images not intimidating enough for the smoker so that they don?t feel any urgency to stop smoking immediately after saw the pictures. even though the Active smoker choose to keep on smoking because they have been addicted to the cigarette. The main point of this discussion is the visual images are according to the experts stated as the semiotic signs have been successfully brought the messages to the person who saw it and understandable enough to interpreted by the addressee. The writer also recommended to the next writer who will conduct the similar study to pay more attention towards the element of semiotic signs especially the visual images. Keywords: cigarette product, visual images, active smoker, semiotic analysis  ABSTRAK Dalam penelitian ini, penulis melakukan analisis semiotik terhadap citra visual produk rokok. Untuk mendukung tesis ini penulis menggunakan beberapa teori ahli seperti Bouzida (2004), Mayr (2013) dll. Penulis menggunakan metode Kualitatif dengan pendekatan analisis isi karena penelitian ini memerlukan analisis yang lebih mendalam dari konten dimana dalam penelitian ini adalah tanda-tanda semiotik. Hasil penelitian yang dikumpulkan oleh penulis menunjukkan bahwa pesan atau tanda semiotik yang ditemukan pada produk rokok berhasil disampaikan oleh perokok aktif atau penampil, dimana perokok aktif berarti seseorang yang telah aktif merokok sejak waktu yang lama, disini Dalam penelitian ini, penulis meletakkan standar untuk perokok aktif harus setidaknya secara aktif merokok minimal dua tahun hingga saat ini penelitian ini dilakukan. Tanda-tanda semiotik pada gambar-gambar visual dari produk rokok dapat ditafsirkan dengan baik oleh orang yang dituju dan juga dimengerti dengan baik. Foto-foto itu sudah mulai membuat mereka tidak aman terhadap efek merokok, tetapi tidak cukup kuat untuk memaksa mereka berhenti merokok. Alasan mengapa niat menampilkan gambar-gambar visual pada produk rokok dapat disimpulkan karena gambar tidak cukup mengintimidasi bagi perokok sehingga mereka tidak merasakan urgensi untuk berhenti merokok segera setelah melihat gambar. Meskipun perokok aktif memilih untuk tetap merokok karena mereka sudah kecanduan rokok. Titik utama dari diskusi ini adalah gambar visual yang menurut para ahli dinyatakan sebagai tanda semiotik telah berhasil membawa pesan kepada orang yang melihatnya dan cukup dimengerti untuk ditafsirkan oleh penerima. Penulis juga merekomendasikan kepada penulis selanjutnya yang akan melakukan penelitian serupa untuk lebih memperhatikan elemen tanda semiotik terutama gambar visual. Kata kunci: produk rokok, gambar visual, perokok aktif, analisis semiotik
THE ILLOCUTIONARY ACTS PRODUCED BY PETER QUILL CHARACTER IN THE GUARDIANS OF THE GALAXY MOVIE BY JAMES GUNN Paelongan, Natalius; Natsir, M.; Ariani, Setya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i1.1593

Abstract

ABSTRACT This research aimed to find out the types and functions of illocutionary acts produced by Peter Quill as the main character in Guardians of the Galaxy movie. The design of this research was descriptive qualitative. The researcher collected the data from Peter Quill?s dialogues and analyzed them by using Miles? and Huberman?s interactive model source as the process of data analysis. The findings showed that there were four types of illocutionary acts found in Peter Quill?s utterances along with its functions: representatives (informing, notifying, reminding and asserting), directives (asking, requesting, telling, suggesting, ordering, forbidding, advising, and commanding), commissives (refusing and promising) and expressives (complimenting and complaining). Keywords: pragmatic, speech act, illocutionary acts ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menemukan tipe-tipe dan fungsi-fungsi dari tindak tutur ilokusi yang terdapat pada karakter utama film Guardians of the Galaxy, yaitu Peter Quill.Bentuk penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif deskripsi. Penulis mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini dari dialog-dialog Peter Quill dan menganalisisnya dengan menggunakan proses analisis data dari Miles dan Huberman, interactive model source. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat empat jenis ilokusi milik Searle yang digunakan oleh karakter Peter Quill dalam semua ujarannya beserta fungsi masing-masing dari tipe-tipe ilokusi tersebut: representative (dalam ungkapan menginformasi, memberitahu, mengingatkan, dan menegaskan), directives (dalam ungkapan bertanya, meminta, menceritakan, menyarankan, meminta untuk melakukan sesuatu, melarang, memberi nasihat, dan memberi perintah), commissives (dalam ungkapan menolak dan berjanji), dan expressives (dalam ungkapan memberikan pujian dan mengeluh).  Kata Kunci: pragmatik, tindak tutur, bentuk-bentuk ilokusi

Page 1 of 2 | Total Record : 12