cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya)
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 25497715     EISSN : 25497715     DOI : -
Jurnal Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya) merupakan jurnal yang dikelola oleh Fakultas Ilmu Budaya sebagai media publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya, termasuk pengajarannya. Terbit sebanyak empat kali setahun, yaitu pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober, dan diterbitkan hanya dalam format elektronik.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019" : 15 Documents clear
WOMAN'S ROLE IN THE CIVIL WAR ERA PORTRAYED IN MARMEE'S CHARACTER IN LITTLE WOMEN MOVIE Mudmainah, Dewi; Kuncara, Singgih Daru; Asanti, Chris
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.65 KB) | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i3.2004

Abstract

ABSTRACT This research analyzed Little Women movie which is adapted from a novel with the same title written by Louisa May Alcott in the 19th century. This research focused on Marmee?s roles and related to the setting of the movie to be discussed further. The character?s role is explained thoroughly by using Tiffany K. Wayne?s theory of triple role. This research used mimetic approach and deals with descriptive method to analyse the data qualitatively.The result of this research is Marmee?s character experienced one out of three roles that proper with Tiffany?s triple role theory. This role is reproductive role where it was shown in many scenes during the story. The reproductive activities shown by Marmee were she cared for her daughters, she looked after them, educated them and cooked for them where these represents as reproductive role according to Tiffany and it proved that Marmee is capable to handle all things without the existence of her husband in that era. The two other roles missing are productive and community management role. These roles are not seen towards the character because Marmee did not work in the story and she chose to be a housewife rather than did voluntarily activity or earned money.ABSTRAKPenelitian ini menganalisis film Little Women yang diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Louisa May Alcott pada abad ke-19. Penelitian ini berfokus pada peran Marmee yang terkait dengan setting (keadaan/latar belakang) film yang akan dibahas lebih lanjut. Peran karakter dijelaskan secara menyeluruh dengan menggunakan teori triple role oleh Tiffany K. Wayne. Penelitian ini menggunakan pendekatan mimetik dan metode deskriptif untuk menganalisis data secara kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah karakter Marmee mengalami satu dari tiga role (peran) yang sesuai dengan teori triple role, Tiffany. Role (peran) ini adalah reproductive role (peran reproduksi) di mana ia ditampilkan dalam banyak adegan selama cerita. Aktivitas/kegiatan reproduksi yang diperlihatkan oleh Marmee adalah ia perhatian pada putrinya, ia merawat mereka, mendidik mereka dan memasak untuk mereka di mana ini semua merupakan peran reproduksi menurut Tiffany dan itu membuktikan bahwa Marmee mampu menangani semua hal meskipun tanpa keberadaannya suami nya di era itu. Dua role (peran) lain yang hilang adalah productive role (peran produksi) dan community management role (peran dalam manajemen di masyarakat). Dua peran (role) ini tidak terlihat pada karakter Marmee dikarenakan Marmee tidak bekerja dalam cerita dan dia memilih untuk menjadi ibu rumah tangga daripada melakukan kegiatan sukarela di masyarakat seperti halnya menjadi volunteer.
ANALISIS CERITA RAKYAT MIADUKA DITINJAU DARI KAJIAN SASTRA ANAK Efendi, M. Faisol; Hudiyono, Yusak; Murtadlo, Akhmad
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.267 KB) | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i3.2017

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan unsur imajinasi yang tergambar dalam cerita rakyat Miaduka, mendeskripsikan nilai edukasi yang tergambar dalam cerita rakyat Miaduka serta mendeskrpisikan relevansi cerita rakyat Miaduka dengan psikologi perkembangan anak. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif sebagai prosedur pemecahan masalah terhadap suatu hal atau objek yang akan diteliti. Sumber data dalam penelitian ini adalah cerita rakyat Miaduka yang ditulis ulang oleh Hari Purwiati dan diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research). Teknik analisis data dalam penelitian ini terdiri dari reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) dalam cerita rakyat Miaduka dapat ditemukan berbagai unsur imajinasi sebagai karakteristik khas sastra anak melalui demostrasi tokoh nenek Matimuluk yang kemudian berkembang menjadi sajian fantasi sebagai bentuk rekreatif edukatif dari sebuah karya untuk pembaca anak; (2) nilai edukasi yang tergambar dalam cerita rakyat Miaduka berupa edukasi moral, edukasi sosial, edukasi keterampilan serta edukasi multikultural yang diamanatkan melalu perilaku para tokoh dalam cerita; (3) cerita rakyat Miaduka merupakan sebuah cerita yang relevan sebagai bacaan anak baik dari segi bahasa, gaya penuturan maupun kisah yang disajikan. Secara spesifik, cerita rakyat Miaduka termasuk bacaan sastra yang lebih relevan untuk diberikan kepada anak yang masih dalam tahapan Operasional Konkret dalam pandangan psikologi perkembangan anak.  The purpose of this research to describe the element of imagination in Miaduka folklore, describing the value of education in Miaduka folklore and describing the relevance of Miaduka folklore to the psychology of child development. This research is qualitative using the descriptive method as a problem-solving procedure for an object to be studied. The data source in this study is the Miaduka folklore that was rewritten by Hari Purwiati and published by the Ministry of Education and Culture. The data collection technique used is library research. The data analysis technique in this study consisted of data reduction, data presentation, and conclusion. The results of the analysis show that: (1) in the Miaduka folklore various elements of imagination can be found as distinctive characteristics of children's literature through the demonstration of the grandmother Matimuluk who later developed into a fantasy presentation as an educational form of recreation for a child reader; (2) the value of education in Miaduka folklore in the form of moral education, social education, skills education and multicultural education through the behavior of the characters in the story; (3) Miaduka folklore is a relevant story as a children's reading both in terms of language, style of narrative and the story presented. Specifically, the Miaduka folklore includes literary readings that are more relevant to be given to children who are still in the concrete operational stage in the view of child development psychology.
AN ANALYSIS OF FLOUTING OF MAXIMS DONE BY MAIN CHARACTERS IN LA LA LAND MOVIE Wahyuni, Mery; Arifin, M. Bahri; Lubis, Indah Sari
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.972 KB) | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i3.2212

Abstract

Maxims are the rules of cooperative principle which is proposed by Grice in 1975. These maxims are used in conversation in order to make communication run smoothly. However, people often do not observe the maxim to deliver meaning implicitly; it is called as flouting of maxim. Flouting of maxim does not only happen in daily conversation but also occurs in literary work such as movie entitled La La Land. Therefore, this research was focused on analyzing the flouting of maxims which was done by main characters in La La Land movie. This research aimed at revealing kinds of maxim flouted by the main characters and also identifying the implied meaning behind their utterances. This research was conducted by using content analysis qualitative method since it focused on understanding language phenomena deeply. Data were taken from movie in the form of utterances. Dealing with the purposes of the research above, it was found that main characters flouted all kinds of Gricean maxim. There were 44 data that contained flouting of maxims in the movie. In addition, it was also found the implied meaning behind main characters? utterances depending on the context of conversation. Most of the implied meaning contained of insulting, rebuking, requesting, and praising.Maksim merupakan aturan dalam prinsip kerja sama yang diusulkan oleh Grice pada tahun 1975. Maksim digunakan dalam percakapan untuk membuat komunikasi berjalan lancar. Namun, orang sering tidak mematuhi maksim untuk menyampaikan makna secara implisit; hal ini disebut sebagai pelanggaran maksim. Pelanggaran maksim tidak hanya terjadi dalam percakapan sehari-hari tetapi juga terjadi dalam karya sastra, seperti film berjudul La La Land. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada analisis pelanggaran maksim yang dilakukan oleh karakter utama dalam film La La Land. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jenis maksim yang dilanggar oleh para karakter utama dan juga mengidentifikasi makna tersirat di balik ucapan mereka. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif analisis isi karena berfokus pada pemahaman mengenai fenomena bahasa secara mendalam. Data pada penelitian ini diambil dari film dalam bentuk ucapan. Berkaitan dengan tujuan penelitian di atas, ditemukan bahwa para karakter utama mencemooh semua jenis maksim Gricean. Ada 44 data yang berisi pelanggaran maksim dalam film. Selain itu, ditemukan juga makna tersirat di balik ucapan karakter utama tergantung pada konteks percakapan. Sebagian besar makna tersirat mengandung ujaran yang berfungsi untuk menghina, memarahi, meminta, dan memuji.
IDEAL CONSERVATIVE VALUE OF FORREST GUMP FILM Ramadhan, Jalo Patra; Kuncara, Singgih Daru; Astuti, Anjar Dwi
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.393 KB) | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i3.2042

Abstract

Hollywood values are defined as total liberalization to individuals for their own view to genders, races, and sexual relationships that widely accepted as main political messages in Hollywood film and television media, but the old values or conservative value still has strong presence in American society. The purposes of the study are to find how ideal conservative value portrayed by the characters and setting in Forest Gump and to find how conservatism as political philosophy presented through different era of setting of in Forest Gump film. The researcher applied theories of four parts of conservative value taken from John Kekes, those part are skepticism, pluralism traditionalism and pessimism. This research is qualitative research employed by observing scenes, dialogs between characters, how ideal form of conservative values portrayed by character behavior and the settings of Forest Gump. The results of these studies showed how the film portrays what are ideal conservative value, a form of value that follows tradition as supposed to be. The researcher found the film giving reflection on how values and people who follow it endures and prosper in changing era like the main character Forrest Gump and people who abandon the old values and lead astray in their life. Nilai-nilai Hollywood didefinisikan sebagai total liberalisasi bagi individu untuk pandangan mereka sendiri terhadap gender, ras, dan hubungan seksual yang diterima secara luas sebagai pesan politik utama dalam film Hollywood dan media televisi, tetapi nilai-nilai lama atau nilai konservatif masih memiliki kehadiran yang kuat dalam masyarakat Amerika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan bagaimana nilai konservatif ideal digambarkan oleh karakter dan latar di Forest Gump dan untuk menemukan bagaimana konservatisme sebagai filosofi politik yang disajikan melalui era pengaturan yang berbeda dalam film Forest Gump. Peneliti menerapkan teori empat bagian dari nilai konservatif yang diambil dari John Kekes, bagian itu adalah skeptisisme, tradisionalisme pluralisme dan pesimisme. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang dilakukan dengan mengamati adegan, dialog antar karakter, bagaimana bentuk ideal dari nilai-nilai konservatif yang digambarkan oleh perilaku karakter dan pengaturan Forest Gump. Hasil penelitian ini menunjukkan bagaimana film ini menggambarkan apa yang merupakan nilai konservatif ideal, suatu bentuk nilai yang mengikuti tradisi sebagaimana mestinya. Peneliti menemukan film yang memberikan refleksi tentang bagaimana nilai-nilai dan orang-orang yang mengikutinya bertahan dan makmur di era yang berubah seperti tokoh utama Forrest Gump dan orang-orang yang meninggalkan nilai-nilai lama dan tersesat dalam hidup mereka.
THE STEREOTYPICAL IMAGES OF INDIAN SOCIETY AS PORTRAYED IN THE BEST EXOTIC MARIGOLD HOTEL MOVIE Khasanah, Anisatun; Sili, Surya; Nasrullah, Nasrullah
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.972 KB) | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i2.1870

Abstract

Literary works and movie sometimes depict about stereotypes of certain race and ethnic. Author and director embed similar negative features to them; hence it becomes a justification that those races and ethnic truly have such negative features. It is like European people who often represent the Orient (Asian people) by negative features in their works. This study is purposed to examine the stereotypical images of Indian society and how they are represented in The Best Exotic Marigold Hotel movie by using Orientalism and Bal?s focalization theories. The researcher used qualitative-descriptive method in reference to Mikos? movies analysis method. The result shows that there are 5 stereotypical images of Indian society in The Best Exotic Marigold Hotel movie. Those stereotypical images are barbaric, inauthentic, irrational, backward, and weak. All the stereotypical images are represented through British characters (character-bound focalization or internal focalization) which put Indian society as object of focalization. Karya-karya sastra dan film terkadang menggambarkan stereotip dari ras dan etnis tertentu. Penulis dan sutradara memberikan ciri-ciri negatif yang sama kepada mereka, sehingga hal itu menjadi sebuah pembenaran bahwa ras dan etnis tersebut benar-benar memiliki ciri-ciri negatif. Seperti halnnya orang Eropa yang sering merepresentasikan orang-orang Timur (Orang Asia) menggunakan ciri-ciri negatif di karya-karya mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran stereotip dari masyarakat India dan bagaimana gambaran stereotip tersebut direpresentasikan di film The Best Exotic Marigold Hotel menggunakan teori Orientalism dan Fokalisasi Bal. Metode yang digunakan adalah qualitatif-deskriptif dengan referensi metode analisis film Mikos. Hasil penelitian menunujukkan ada 5 gambaran stereotip masyarakat India di film The Best Exotic Marigold Hotel. Gambaran stereotip tersebut adalah bar-bar, tidak dapat dipercaya, tidak rasional, terbelakang, dan lemah. Semua gambaran stereotip tersebut direpresentasikan melalui karakter-karakter orang Inggris (fokalisasi karakter atau fokalisasi internal) yang menempatkan masyarakat India sebagai objek fokalisasi.
THE MOTIVATION OF STEFAN CHARACTER IN MALEFICENT FILM (2014) Natalia, Desi; Arifin, M. Bahri; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.472 KB) | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i3.2043

Abstract

The purposes of this research were to identify the five levels of human needs that appear on Stefan and to find the types of motivation which is used by Stefan to become a king in Maleficent film (2014). The design of this research was a qualitative research. The data of this research were the dialogue, duration, action, word, and picture based on the film. This research has two data sources which is the Maleficent film (2014), and the script of film itself. The data of this research was analyzed by using Abraham H. Maslow?s Hierarchy of human needs theory and the data categorized as Stefan?s Motivation to become a king was analyzed by using Christopher R. Reaske?s Motivation theory. The result of this showed the five of levels of need, they are physiological need, safety needs, love needs, esteem needs, and self-actualization that appear on Stefan, and three types of motivation that he used to become a king, they are hoping for reward, revenge, and love. Tujuan dari penilitian ini adalah untuk mengidentifikasi lima tingkat kebutuhan manusia yang muncul pada Stefan dan untuk mengetahui tipe-tipe dari motivasi yang Stefan gunakan untuk menjadi raja dalam film Maleficent (2014). Bentuk penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah percakapan, durasi, tindakan, kata dan gambar berdasarkan film. Penelitian ini mempunyai dua sumber data, yaitu, film Maleficent (2014) dan naskah film tersebut. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teori hirarki kebutuhan manusia oleh Abraham H. Maslow dan data yang dikategorikan sebagai motivasi Stefan menjadi raja dianalisis dengan menggunakan teori motivasi oleh Christopher R. Reaske. Hasil penelitian ini menunjukkan lima tingkat kebutuhan, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan keselamatan, kebutuhan cinta, kebutuhan penghargaan, dan aktualisasi diri yang muncul pada Stefan, dan tiga tipe motivasi yang ia gunakan untuk menjadi raja, yaitu berharap imbalan, balas dendam, dan cinta.
ANALISIS NOVEL SURAT KECIL UNTUK TUHAN KARYA AGNES DAVONAR DITINJAU DARI SOSIOLOGI SASTRA Mirnawati, Mirnawati; Murtadlo, Akhmad; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.325 KB) | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i3.1998

Abstract

Pada novel Surat Kecil untuk Tuhan, Agnes Davonar menggambarkan dan mencoba memperbincangkan kehidupan manusia yang sedang mencari jalan keluar yang bijak atas permasalahan hidup yang dialami. Novel Surat Kecil untuk Tuhan karya Agnes Davonar merupakan sebuah karya sastra yang tidak cukup dinikmati saja, melainkan perlu mendapat tanggapan ilmiah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan unsur intrinsik novel Surat Kecil untuk Tuhan karya Agnes Davonar dan mendeskripsikan masalah sosial novel Surat Kecil untuk Tuhan karya Agnes Davonar. Penelitian ini bersifat kualitatif yaitu penelitian yang menguraikan gambaran kata-kata dan simbol-simbol penuh makna bukan angka dan lukisan secara sistematis serta menggunakan metode deskriptif yang penerapannya bersifat menuturkan, mengklarifikasikan, menganalisis data dan menafsirkan. Hasil penelitian ini dapat dijelaskan bahwa unsur-unsur yang membangun novel Surat Kecil untuk Tuhan karya Agnes Davonar secara fungsional memiliki keterkaitan tema, alur, tokoh, dan latar. Penelitian aspek sosial novel Surat Kecil untuk Tuhan karya Agnes Davonar dengan menggunakan tinjauan sosiologi sastra menemukan dua hal, yaitu perjuangan, religious (ikhlas dan pasrah), pendidikan dan persahabatan. In Surat Kecil untuk Tuhan novel, Agnes Davonar describes and tries to discuss human life which is looking for a wise solution to the problems of life experienced. Agnes Davonar's Surat Kecil untuk Tuhan novel is a literary work that is not enough to be enjoyed, but needs a scientific response. The purpose of this research is to describe the intrinsic element of Agnes Davonar's Surat Kecil untuk Tuhan and describe the novel's social problem Surat Kecil untuk Tuhan by Agnes Davonar. This research is qualitative, namely research that describes the description of words and symbols full of meaning rather than numbers and paintings systematically and uses descriptive methods whose application is narrative, clarifying, analyzing data and interpreting. The results of this study can be explained that the elements that make up the novel Surat Kecil untuk Tuhan by Agnes Davonar are functionally related to themes, lines, characters, and settings. Agnes Davonar's research on the social aspects of the novel Surat Kecil untuk Tuhan by using a review of literary sociology found two things, namely struggle, religion (sincerity and submission), education and friendship.
MASCULINITY TRAITS OF MAUD WATTS AS A FEMALE CHARACTER IN THE SUFFRAGETTE FILM Rastina, Rastina; Sili, Surya; Nasrullah, Nasrullah
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.88 KB) | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i3.2003

Abstract

This study is aimed to reveal how a female character is depicted in the film and to prove that a female character also adopted masculinity traits. The theory of characterization by Boggs and Petrie is used to reveal the depiction of Maud?s character, while to prove that Maud Watts adopted masculinity traits, the writer used the theory of Bem Sex Role Inventory by Sandra L. Bem. This study is conducted as a qualitative content analysis, which adopts the technique of coding categories. The findings of this study reveal that as a female character, Maud Watts is not only adopted femininity traits but also masculinity traits. Maud?s character is depicted through the five tools of characterization according to Boggs and Petrie. Through her appearances, she is masculine and likeable. Through the dialogues, she is independent, confident, ambitious, assertive, competitive, sympathetic and loyal. Through her external action, Maud is ambitious, sympathetic, aggressive and loyal. Through her internal actions, she is sensitive and independent. Next, through reactions of other characters, she is smart, aggressive and ambitious. Those findings prove that as a female character, Maud also adopted masculinity traits. Kajian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana karakter perempuan digambarkan dalam film dan untuk membuktikan bahwa karakter perempuan juga mengadopsi sifat maskulinitas. Teori karakterisasi dari Boggs dan Petrie digunakan untuk mengungkap penggambaran karakter Maud, sementara untuk membuktikan bahwa Maud Watts mengadopsi sifat maskulinitas, penulis menggunakan teori Bem Sex Role Inventory dari Sandra L. Bem. Kajian ini dilakukan sebagai analisis isi kualitatif, yang mengadopsi teknik pengkodean kategori. Temuan kajian ini mengungkapkan bahwa sebagai karakter wanita, Maud tidak hanya mengadopsi sifat feminitas tetapi juga sifat maskulinitas. Karakter Maud digambarkan melalui lima alat karakterisasi menurut teori dari Boggs dan Petrie. Melalui penampilannya, Maud diketahui memiliki sifat maskulin dan menyenangkan. Melalui dialog, Maud mandiri, percaya diri, ambisius, tegas, kompetitif, simpatik, dan loyal. Melalui tindakan luarnya, Maud ambisius, simpatik, agresif, dan loyal. Melalui tindakan internalnya, dia sensitif dan mandiri. Selanjutnya, melalui reaksi dari karakter lain, Maud diketahui sebagai orang yang pintar, agresif dan ambisius. Temuan itu membuktikan bahwa sebagai karakter wanita, Maud juga mengadopsi sifat-sifat maskulinitas. 
THE SELF-ACTUALIZATION OF SARA CREWE IN A LITTLE PRINCESS NOVEL BY FRANCES HODGSON BURNETT Kartina, Ema; Natsir, M.; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.206 KB) | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i3.1880

Abstract

ABSTRACT The research was conducted to analyze the character of Sara Crewe in A Little Princess novel by Frances Hodgson Burnett. A Little Princess was chosen as the novel in this research because the main character, Sara, was described as a brave and tough young girl who could deal with the difficulties in her lives. The objective of this research was to find out the characteristics of self-actualizing person and the imperfection of self-actualizing person in Sara?s character by Sara?s feeling, behavior, thought and all the factors and events. This research was under a qualitative research and employed literary and psychology approach to get deeper understanding about the main character's characterization. The source of the data was taken from the novel A Little Princess by Frances Hodgson Burnett. Reading the novel carefully and deeply then separating the data by signing and making some notes were the steps in collecting the data. This research used theory of Self-Actualization by Maslow to explain the characteristics of self-actualizing person and the imperfection of self-actualizing in Sara?s character. The result of this research showed that from fifteen characteristics of self-actualizing person by Maslow, Sara has fourteen characteristics in her character while Sara also has the imperfection's characteristics such as stubborn, unexpected ruthless and forget the social politeness. Therefore, the researcher found the characterization of Sara through the aspect of psychological and moral, the narration and the conversations in the story.  ABSTRACT Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa karakter Sara Crewe di novel A Little Princess oleh Frances Hudgson Burnett. Novel A Little Princess dipilih di dalam penelitian ini karena Sara sebagai karakter utama menunjukkan sikap berani dan kuat sebagai gadis muda yang dapat menghadapi kesulitan-kesulitan di hidupnya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik dari keaktualisasian diri sesorang dan ketidaksempurnaan dari sesorang yang mengaktualisasi diri yang dilihat dari karakter Sara berdasarkan perasaannya, perilakunya, pemikirannya dan segala factor-faktor dan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan analisa tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kwalitatifyang menggunakan pendekatan kesusastraan dan psikologi agar mengerti lebih dalam tentang perwatakan dari satu karakter. Sumber data diambil dari novel A Little Princess oleh Frances Hodgson Burnett. Membaca novel dengan perlahan dan mendalam lalu memisahkan data yang bersangkutan dengan menandai dan membuat beberapa catatan merupakan langkah-langkah dalam mengumpulkan data. Penelitian ini menggunakan teori keaktualisasian diri dari Maslow untuk mejelaskan karakteristik-karakteristik seseorang yang mengaktualisasi diri serta ketidaksempurnan dalam mengaktualisasi diri yang dilihat berdasarkan karakter Sara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 15 karateristik seseorang dalam mengaktualisasi diri oleh Maslow, ada 14 karakteristik yang terlihat di karakter Sara, sementara Sara juga memiliki karakter dari ketidaksempurnaan dari mengaktualisasi diri yaitu keras kepala, kekejaman yang tak disangka, dan melupakan kesopanan sosial. Bagaimanapun, peneliti menemukan perwatakan Sara tersebut melalui aspek psokologis dan moral, pengisahan dan perbincangan yang ada di dalam novel.
ANALYZING SELF-ACTUALIZATION OF JONAS CHARACTER IN THE GIVER NOVEL Rahayuningsih, Herdiana; Sunggingwati, Dyah; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.461 KB) | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i3.2208

Abstract

This study concerns with Self-Actualization in The Giver novel. Aiming to find the character and personality of Jonas through the Self-Actualization described in the novel. The source of data is taken from The Giver novel by Lois Lowry. This study used Self-Actualization theory by Abraham Maslow. The researchers was employed that Jonas has bravery, sensitive feelings, and intelligence. The results of this research showed that self-actualization found in Jonas are: 1) objective perception, (2) general acceptance of nature, others and oneself, (3) spontaneity, simplicity, and naturalness behaving, (4) needs for privacy and independence, (5) autonomous functioning, (6) freshness of appreciation, (7) mystical or ?peak? experiences, (8) concern in social interest, (9) interpersonal relations, (10) recognize discrimination between means and ends, good and evil, (11) present creativeness. When Jonas gets the memories from The Giver, then he shows his self-actualization. The memories open up his mind to think, and to realize that the real world is much beautiful with the difference between one and another. Thus, Jonas is a dynamic character. From Jonas self-actualization, he tries to recognize his own self, develop his ability, his personal uniqueness, and to actualize his potentials as a human being that capable of becoming what he wants to achieve. 

Page 1 of 2 | Total Record : 15