cover
Contact Name
Dr. Happy Widiastuti
Contact Email
happywidiastuti@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
happywidiastuti@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
E-Journal Menara Perkebunan
ISSN : 01259318     EISSN : 18583768     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Menara Perkebunan sebagai lanjutan dari De Bergcultures yang diterbitkan oleh Algemeen Landbouw Syndicaat/Centrale Proefstations Vereniging sejak tahun 1926 sampai dengan 1992 diterbitkan oleh Pusat Penelitian Perkebunan Bogor atas dasar surat Direktur Utama Yayasan Dana Penelitian dan Pendidikan Perkebunan No. 103/JDPP/1967 dan surat Kepala Biro Penelitian dan Perencanaan Departemen Pertanian No. 80/Ba/1967 serta SK Menteri Pertanian No. 336/Kpts/OP/12/1968. Mulai 1993 Menara Perkebunan diterbitkan oleh Pusat Penelitian Bioteknologi Perkebunan berdasarkan SK ketua DPH-AP3I No. 084/Kpts/DPH/XII/1992. Pada periode tahun 1997 hingga tahun 2002 Menara Perkebunan diterbitkan oleh Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan. Sesuai Surat Keputusan Direktur Eksekutif Lembaga Riset Perkebunan Indonesia No.05/Kpts/ LRPI/2003, kemudian sejak Januari 2003 Menara Perkebunan kembali diterbitkan oleh Balai Penelitian Bioteknologi perkebunan Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 202 Documents
87(2) FRONT MATTER admin, admin
E-Journal Menara Perkebunan Vol 87, No 2 (2019): OKTOBER, 2019
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v87i2.357

Abstract

87(2) Front Matter
AKTIVITAS AMILASE BAKTERI AMILOLITIK ASAL LARVA BLACK SOLDIER FLY (HERMETIA ILLUCENS) Kresnawaty, Irma; Wahyu, Rizki; Sasongko, Ashadi
E-Journal Menara Perkebunan Vol 87, No 2 (2019): OKTOBER, 2019
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v87i2.341

Abstract

AbstractAmylase is an enzyme that has been widely used as a biocatalyst in foodand bioethanol industries. The availability of thermostable amylase will further expand the market and extend the shelf life of this enzyme. Amylase is produced by amylolytic bacteria using media with high-costnitrogen sources, such as pepton. Black soldier fly (BSF) is a potential source of amylolitic bacteria since its ability to degrade organic matters rapidly. This research aimedtoexploreamylolitic bacteria from the larvae of BSF with highest amylase activity that can be produced using low-cost media. The screening ofamylase activity was conducted by culturing the bacteria on starch containing media.Bacteria with the highest amylase activity were cultured in liquid media with twodifferentnitrogensources (urea and nitrate). Determinations of the optimum pH and temperature for this enzyme activity were carried out in the pH range 4to 7 and temperature 35to 65 ºC. Three amylase-producing isolates were obtained in this study. M1 isolate which has the highest activity was characterized based oncatalase activity and Gram staining. The results showed that the M1 isolate mightbelong togenus Proteussp. At the optimum condition (45ºC and pH 7), amylase activityin nitrate mediawas0.791U/mL, which was about 18-folds higher than that in ureamedia (0,041U/mL). Thus, amylase isolated from BSF larvae can be classified as a mesophilic enzyme and has the potential to be developed commercially at lower production costs.[Keywords:crude extract enzyme,Proteus sp.,thermostable] AbstrakAmilase merupakan salah satu enzim yangtelah digunakan secara luas sebagai biokatalis dalam industri pangan dan bioetanol.Ketersediaan amilase termostabil akan semakin memperluas pasar dan memperpanjang daya simpan enzim ini. Selama ini, produksi amilase dilakukan dengan memanfaatkan bakteri amilolitik menggunakan media dengan sumber nitrogen yang mahal, misalnya pepton. Black soldier fly (BSF) merupakan sumber bakteri amilolitik yang potential karena BSF memiliki kemampuan mendegradasi bahan organik dengan cepat.  Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bakteri amilolitik dengan kemampuan amilase tinggi yang dapat diproduksi menggunakan media yanglebihmurah.Skrining bakteri penghasil amilase dilakukan dengan menumbuhkan bakteri pada media yang mengandung pati. Bakteri dengan aktivitas amilase tertinggi dikulturkan dalam media cair dengan dua sumber nitrogenyang berbeda, yaitu urea dan nitrat. PenentuanpH dan suhu optimum aktivitas enzim ini dilakukan pada rentang pH 4sampai 7 dan suhu 35sampai 65 ºC.Tiga isolat penghasil amilase diperoleh dalam penelitian ini. Isolat M1 yang memiliki aktivitas tertinggi dikarakterisasi berdasarkan uji katalasedan uji pewarnaan Gram. Hasilnya menunjukkan bahwa isolat M1 termasukgenus Proteus sp. Pada kondisi optimum (suhu 45oC dan pH 7), aktivitas amilase pada media nitrat adalah 0,791 U/mL, lebih kurang 18 kali lebih tinggi dibanding aktivitas pada media urea (0,041 U/mL). Dengan demikian, amilase yang dihasilkan oleh bakteri asallarva BSF merupakan enzim mesofilik dan berpotensi untuk dikembangkan secara komersial dengan biaya produksi yang lebih murah.[Kata kunci: enzim ekstrak kasar, Proteussp.,termostabil]
EFFEKTIFITAS PENGENDALIAN PHYTOPHTHORA PALMIVORA DENGAN AGENSIA HAYATI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KAKAO [THE EFFECTIVENESS CONTROL OF PHYTOPHTHORA PALMIVORA WITH BIOLOGICAL AGENTS ON COCOA PRODUKTIVITY IMPROVEMENT] UDIN, Bahar; RAHMAWATI, F.; ASAAD, Muh.
E-Journal Menara Perkebunan Vol 85, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v85i1.230

Abstract

In Indonesia, the fruit rot disease is very high in the central cocoa in the Southeast Sulawesi. The study aims to test the effectiveness of some biological agents to attack of Phytophthora palmivora. The experiment was conducted in 2015 in the village of Andomesinggo, Southeast Sulawesi. Productive cocoa plant material from side grafting results, Trichoderma harzianum DT/38, T. pseudokonongii DT/39, T. Wis Grooow, and T. asperellium specific Sultra and dithiocarbamates fungicida. The study used a randomized block design, data were analyzed with  ANOVA,  followed  by   Duncan  multiple test  dose  at t  he   level of   0.05. Research results   show  that the   percentage   and   index of  cocoa  pod   disease   attacks     decreased after controlled by T. harzianum DT/38 + T. pseudokoningii DT/39, T. asperellium specific Sultra  and  T.   pseudokoningii   DT/39 as well as  signify  cantly  different.   The   intensity  of the  cocoa   fruit rot disease lowest in treatment T. harzianum DT/38 + T. pseudokoningii DT/39 and T. asperellium specific Sultra. The highest number   of   fruit,  dried   grain  weight   and yield  of  dry  beans   is  the best obtained in giving treatment T. harzianum DT/38 + T. pseudokoningii DT/39 and T. asperellium specific Sultra. The highest cocoa productivity and lost lowest yield achieved by treatment of T. harzianum DT/38 + T. pseudokoningii DT/39 and T. asperellium specific Sultra.[Keywords: fruit rot disease, biological agents, cocoa productivity]  AbstrakDi   Indonesia   serangan   penyakit busuk buah sangat tinggi pada sentra kakao di Sulawesi Tenggara. Penelitian bertujuan menguji keefektifan beberapa Trichoderma spp. Ter- hadap serangan penyakit busuk buah yang disebabkan oleh Phytophthora palmivora. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2015 di Sulawesi  Tenggara, Desa Andomesinggo. Bahan tanaman  kakao  produktif hasil sambung samping, Trichoderma harzianum DT/38, T. pseudokonongii DT/39, T. Wis Grooow dan T. asperellium spesifik Sultra dan fungisida ditiokarbamat. Penelitian menggunakan Rancang-an Acak Kelompok (RAK) 6 perlakuan, 4 ulangan dan masing-masing perlakuan diamti 15 tanaman. Data dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji selang berganda Duncan pada taraf 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah diberi perlakuan T. harzianum DT/38 + T. pseudokoningii DT/39, T. asperellium spesifik Sultra dan T. pseudokoningii DT/39 efektif menurunkan persentase dan indeks serangan penyakit busuk buah kakao yang disebabkan oleh P.  palmivora dibanding kontrol. Intensitas serangan  penyakit   busuk   buah  terendah setelah diberi perlakuan T. harzianum DT/38 + T. pseudokoningii  DT/39 dan T. asperellium spesifik  Sultra  dibanding   kontrol.   Jumlah buah tertinggi, bobot  biji   kering dan rendemen biji kakao kering terbaik diperoleh pada pemberian perlakuan T. harzianum DT/38 + T. pseudokoningii DT/39 dan T. asperellium spesifik Sultra dibanding perlakuan lainnya. Produktivitas kakao tertinggi dan kehilangan hasil terendah dicapai pada perlakuan T. harzianum DT/38 + T. pseudokoningii DT/39 dan T. asperellium spesifik Sultra dibanding perlakuan lainnya.[Kata kunci : penyakit busuk buah, agensia hayati, produktivitas kakao]
87(2)_BACK MATTER admin, admin
E-Journal Menara Perkebunan Vol 87, No 2 (2019): OKTOBER, 2019
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v87i2.355

Abstract

87(2)_Back Matter
Karakteristik antibodi anti Ganoderma sp. yang dihasilkan dengan menggunakan jenis dan sumber antigen yang berbeda [Characteristic of antibodies againt Ganoderma sp produced from different types and sources of antigens] KRESNAWATY, Irma; AUDAH, Kholis A; MUNAWAR, Hasim; WIDIASTUTI, Happy
E-Journal Menara Perkebunan Vol 85, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v85i1.239

Abstract

Basal stem rot (BSR) disease caused by  Ganoderma sp. is the most important disease in oil palm plantations.The effectivity of BSR control depends on early detection of this disease. The earlier the disease is known, the severity of damage could be prevented. Therefore, technology for early detection of Ganoderma infection is very important. Immunochromatographic techniques based on the reaction of antigens and antibodies can be developed for detection of Ganoderma sp infection. The objective of the study was to produce antibodies using different Ganoderma sp. In this study, immunoglobulin Y ( IgY ) against Ganoderma sp produced in chicken eggs was used as the source of antibodies. Laying hens were immunized with several types of Ganoderma sp. because it is known to have genetic variations. The source of Ganoderma sp. isolates were mycelium and exudates. The polyclonal IgY antibodies produced economically and abundantly.  The antibodies derived from the mycelium showed more consistent results compared with those derived from the exudates. In addition, the antibodies derived from Ganoderma sp of Cimulang and Bekri showed higher reactivity  with some of the antigens compared to those from Cisalak Baru (CSB). The characteristics and the protein profiles of antibodies produced using Cimulang, Bekri  and Cisalak Baru isolates were vary in term of,  sensitivity and amino acid compositions
Penetapan penambatan N 2 Rhizobacterium secara kuantitatif dengan teknik isotop 15 N Quantitative assessment of N 2 fixing Rhizobacterium using isotope 15 N technique SANTI, Laksmita Prima
E-Journal Menara Perkebunan Vol 81, No 2: Desember 2013
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v81i2.35

Abstract

AbstractAbility to quantify the amounts of N 2 fixed in agri-cultural land is critical to manage the N cycle for optimalfood and plantation crop production. Isotope and relatednuclear technique such as 15 N isotope dilution technique hasplayed a significant role in nutrient management analysis forquantification of biological N 2 fixation. The largest pool of Nin the environment is atmospheric N 2 and it has a constantnatural abundance of 0.3663 % atom15 N. 15 N is a stableisotope of N and used as a unique tracer to evaluate thepotential of N 2 fixing bacteria, especially symbiotic and non-symbiotic Rhizobacterium. A field experiment has beeninitiated at IBRIEC to assess the N 2 fixing capacity ofrhizobacterium isolated from sandy textured soil at CentralKalimantan and evaluate the potential of bacteria N 2 fixingon corn (Zea mays). Field experiment has been conducted atCiomas Research Station, IBRIEC-Bogor for four months.The field experiment has been organized according to themethod of Randomized Complete Blocks Design with sixtreatments and three replicates. The results of this studysuggested that the method was reliable for estimation of %Ndfa as well as quantitative analysis of the amount of N fixedfrom the atmosphare. The proportion of N 2 uptake derivedfrom the atmophere was estimated as 32% of the whole plantbasis which was equivalent to approximately 4.8 kg N/ha.The inoculation of Rhizobacterium increased dry matter ofcorn leaves, roots, and grains significantly.AbstrakKemampuan penetapan jumlah N 2 yang dapat ditambatpada lahan pertanian merupakan suatu hal yang penting untukmengatur siklus N sebagai upaya mencapai tingkat produk-tivitas yang optimal di tanaman pangan dan perkebunan.Teknik isotop atau yang berhubungan dengan teknologinuklir seperti isotop 15 N memiliki peran signifikan di dalammanagemen kebun berbasis nutrisi untuk mengkuantifikasipenambatan N 2 secara biologi. Cadangan N terbesar di dalamlingkungan adalah N 2 atmosfer. Cadangan ini memilikikelimpahan alami yang stabil pada 0,3663 % atom 15 N. 15 Nmerupakan isotop yang stabil dan digunakan sebagai pelacakyang bersifat spesifik untuk mengevaluasi bakteri penambatN 2 potensial, khususnya bakteri di daerah perakaran, baikyang bersifat simbiotik ataupun non simbiotik. Penelitianterkait dengan uraian di atas telah dilakukan di BalaiPenelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) dengan tujuan untuk menetapkan kemampuan menambatnitrogen dari Rhizobacterium yang diisolasi dari tanahtekstur berpasir asal Kalimantan Tengah serta mengevaluasipotensi bakteri dalam menambat N 2 pada tanaman jagung(Zea mays). Percobaan lapang dilakukan di Kebun PercobaanCiomas, BPBPI selama empat bulan. Kegiatan di lapangdidesain dalam Rancangan Acak Kelompok dengan enamperlakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkanbahwa metode isotop 15 N dapat diaplikasikan untuk mem-perkirakan persentase N 2 yang ditambat dari atmosfer (Ndfa).Proporsi N yang diambil dari atmosfer diperkirakan sebesar32% dari seluruh bagian tanaman jagung yang setara dengan4,8 kg N/ha. Perlakuan inokulasi dengan Rhizobacteriummeningkatkan bobot kering daun, akar, dan pipilan jagungsecara signifikan.
Biosorpsi ion merkuri menggunakan jamur pelapuk putih imobil [Biosorption of mercury ion using immobile white-rot fungi] DIMAWARNITA, Firda; PANJI, Tri; MULYOPRAWIRO, Suharyanto
E-Journal Menara Perkebunan Vol 85, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v85i1.227

Abstract

Meningkatnya aktivitas pertambangan membawa dampak negatif bagi lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Merebaknya kasus-kasus kerusakan lingkungan mulai dari yang kecil sampai ke tahap yang bersifat serius di Indonesia merupakan dampak dari terakumulasinya kerusakan dalam jangka waktu yang relatif lama. Limbah pertambangan masih mengandung logam berat, salah satunya Hg(II). Limbah tersebut berpotensi mencemari perairan dan lahan pertanian bila tidak ditangani dengan baik.  Usaha untuk mengatasi limbah tailing dan sekaligus memekatkan (recovery) logam di dalamnya dapat dilakukan dengan proses biosorpsi menggunakan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan menetapkan kemampuan biomassa Jamur Pelapuk Putih(JPP) yang diamobilisasi dengan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dalam mengabsorpsi logam berat Hg (II).  Hasil seleksi JPP berdasarkan laju pertumbuhan dalam media mengandung logam berat Hg (II) dan penyerapan logam berat telah diperoleh kandidat JPP unggul yaitu Omphalina sp. Dalam media PDB,  Omphalina sp. toleran terhadap Hg (II) sampai dengan konsentrasi 5 ppm. Biomassa Omphalina sp. yang diamobilisasi dengan TKKS mampu menurunkan hingga 84-96% logam berat Hg (II) pada pH 4,0 selama 60 menit. Kapasitas biosorpsi Omphalina sp. amobil maksimum (q max) untuk Hg (II) sebesar 0,1619 mg/g sehingga berpotensi untuk bio-konsentrasi logam berat. 
The development of somatic embryos of sago palm (Metroxylon sagu Rottb.) on solid media *) Perkembangan embrio somatik tanaman sagu (Metroxylon sagu Rottb.) pada medium padat RIYADI, Imron; TAHARDI, J.S. TAHARDI; SUMARYONO, .
E-Journal Menara Perkebunan Vol 73, No 2: Desember 2005
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v73i2.155

Abstract

SummarySago palm (Metroxylon sagu Rottb.) isusually propagated vegetatively by suckers.However, the limited availability of uniformsuckers is a major obstacle in the establishmentof cultivated sago plantations. Tissue culture hasthe potential for large-scale mass clonalpropagation of superior genotypes of sago palm.In vitro culture of sago palm has been establishedthrough somatic embryogenesis. Embryogeniccallus derived from shoot apical tissue of youngsuckers was cultured on a modified Murashigeand Skoog (MMS) medium containing 30 g/Lsucrose, 2 g/L Gelrite, 1 g/L activated charcoal,5.0 mg/L 2,4-D, and 0.1 mg/L kinetin to inducesomatic embryos. Callus clumps formed somaticembryos within four weeks. In the subsequentculture, approximately 0.3 g initial globularcallus grown on MMS medium containing 1.0mg/L kinetin, 0.01 mg/L ABA and 0.1 mg/L GA 3produced 140 to 200 somatic embryos at differentdevelopmental stages four weeks later. All stagesof developing embryos with different sizesand colors were present at any one time ofculture. Secondary (repetitive) somatic embryo-genesis was also found in the culture.Transferring of the mature stage of somaticembryos to solid media with half-strength macro salts and with sucrose at concentration of 20 or 30 g/L without growth regulators led to the development of normal plantlets.RingkasanTanaman sagu (Metroxylon sagu Rottb.)biasanya diperbanyak secara vegetatif dengantunas anakan. Namun, terbatasnya ketersediaantunas anakan yang seragam merupakanhambatan utama dalam pembukaan perkebunansagu. Teknologi kultur jaringan mempunyaipotensi untuk perbanyakan klonal tanaman saguunggul dalam skala besar. Kultur in vitrotanaman sagu telah dikembangkan melaluiembriogenesis somatik. Kalus embriogenik yangberasal dari eksplan pucuk tunas anakandikulturkan pada medium modifikasi Murashigedan Skoog (MMS) dengan sukrosa 30 g/L,Gelrite 2 g/L, arang aktif 1 g/L, 2,4-D 5 mg/Ldan kinetin 0,1 mg/L untuk menginduksi embriosomatik. Kalus membentuk embrio somatikdalam waktu empat minggu. Dalam kulturberikutnya, dari kurang-lebih 0,3 g embrio faseglobuler yang dikulturkan pada medium MMSdengan kinetin 1,0 mg/L, ABA 0,01 mg/L danGA 3 0,1 mg/L menghasilkan 140 sampai 200embrio somatik dengan fase perkembangan yangberbeda-beda. Embrio somatik dalam semuafase perkembangan dengan ukuran dan warnayang berbeda-beda ditemukan setiap saat dalamkultur. Di samping itu, embriogenesis somatiksekunder (berulang) juga terjadi dalam kultursagu. Embrio somatik fase dewasa biladipindah ke medium padat dengan garam makrosetengah konsentrasi dan sukrosa padakonsentrasi 20 atau 30 g/L tanpa zat pengaturtumbuh akan menjadi planlet normal.
Pola aktivitas enzim ligninolitik Pleurotus ostreatus pada limbah sludge pabrik kertas Activity pattern of ligninolytic enzyme of Pleurotus ostreatus in sludge waste of paper factory WIDIASTUTI, Happy; TRI-PANJI, .
E-Journal Menara Perkebunan Vol 76, No 1: Juni 2008
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v76i1.95

Abstract

Summary Sludge is a solid waste abundantly available on paper factory that is economically unutilized and tends to pollute environment. This waste can be used as growth media for oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) as edible mushroom and ligninolytic enzymes production as well. A research has been conducted to study the activity pattern of ligninolytic enzymes of oyster mushroom grown on the sludge waste of recycle paper factory. Six treatments were examinated consisted of three media combinations (sawdust, sludge, sludge mixed with sawdust), with and without supplementing with rice bran, lime, and gypsum, and two mushroom strains Bogor oyster mushroom (JTB) and China Taipei oyster mushroom (JTT). Monitoring of ligninolytic enzyme activity consisting of laccase, mangan peroxidase (Mn-P) and lignin peroxidase (Li-P),  was subsequently regularly started since inoculation, at vegetative phase (four and six weeks), primordial formation, phase of fruiting body formation, and two weeks after formation of fruiting body. Each treatment was repeated three times, so that 216 bag logs of oyster mushroom cultures were performed. The results showed that laccase, Mn-P, and Li-P activities could be observed on sludge or mixture of sludge+sawdust media inoculated with P. ostreatus. Generally, the highest activity of ligninolytic enzymes especially for laccase and MnP were observed at the first vegetative growth phase i.e. before emerging primordial of fruiting body (1.697 & 2.113 U/mL, 4.394 & 2.314 U/mL  respectively for JTB and JTT laccase and JTB & JTT Mn-P). The highest Li-P activity was affected by the kind of media and strain of inoculum. In sludge medium, the highest Li-P activity was observed in  vegetative growth phase (2.706 & 4.014 U/mL respectively for JTB and JTT) while in a mixture of sludge + sawdust the highest activity of that enzyme was observed in primordial phase of growth (2.509 & 1.9 U/mL respectively for JTB and JTT). Addition of supplement to the sludge increased ligninolytic activity, while laccase activity of sludge was suggested could be more enhanced by mixing the sludge with sawdust and enrich with rice bran, gypsum and lime. Ringkasan                                                Sludge merupakan limbah padat yang tersedia melimpah di pabrik kertas dan belum dimanfaatkan secara ekonomis sehingga berpotensi mencemari lingkungan. Limbah ini dapat dimanfaatkan sebagai medium tumbuh jamur konsumsi seperti jamur tiram (Pleurotus ostreatus) dan penghasil enzim ligninolitik. Penelitian dilakukan untuk mempelajari pola aktivitas enzim ligninolitik jamur tiram pada limbah sludge pabrik kertas selama fase vegetatif sampai setelah fase generatif. Enam perlakuan yang diuji berupa tiga kombinasi komposisi medium (serbuk gergaji, sludge, campuran sludge dan serbuk gergaji), dengan dan tanpa pengayaan, yaitu penambahan dedak, kapur, dan gipsum,  serta dua strain jamur tiram Bogor (JTB) dan jamur tiram China Taipei (JTT). Pengamatan aktivitas enzim ligninolitik meliputi lakase, mangan peroksidase (Mn-P) dan lignin peroksidase  (Li-P) dilakukan sejak saat inokulasi, pada fase vegetatif (empat dan enam minggu), pada saat pembentukan primordia, fase tubuh buah, dan dua minggu setelah pembentukan tubuh buah. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 216 bag log jamur tiram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas ligninolitik dijumpai pada medium sludge dan campuran sludge+serbuk gergaji yang diino-kulasi P. ostreatus. Aktivitas enzim ligninolitik tertinggi khususnya lakase dan MnP teramati pada fase pertumbuhan vegetatif pertama yaitu sebelum terbentuknya primordia (1,697 & 2,113 U/mL, 4,394 & 2,314 U/mL  masing-masing untuk lakase JTB dan JTT dan MnP  JTB & JTT). Aktivitas LiP tertinggi dipengaruhi oleh jenis medium dan strain inokulum. Pada medium sludge, aktivitas LiP tertinggi dijumpai pada fase vegetatif (2,706 & 4,014 U/ml masing-masing untuk JTB dan JTT) sedangkan pada medium campuran sludge+serbuk gergaji, aktivitas enzim  ter-tinggi dijumpai  pada fase primordia (2,509 & 1,9 U/ml berturut-turut untuk JTB dan JTT). Pengayaan sludge meningkatkan aktivitas ligninolitik, sedangkan aktivitas lakase pada sludge diduga dapat lebih ditingkatkan dengan menambahkan serbuk gergaji disertai pengayaan berupa gipsum, dedak, dan kapur.
Respons biokimia beberapa progeni kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terhadap cekaman kekeringan pada kondisi lapang Biochemical responses of several oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) progenies to drought stress in field condition TORUAN-MATHIUS, Nurita; TONY-LIWANG, .; IBRAHIM-DANUWIKARSA, M; SURYATMANA, G.; DJAJASUKANTA, H; SAODAH, D; WENTEN ASTIKA, I GP
E-Journal Menara Perkebunan Vol 72, No 2: Desember 2004
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v72i2.121

Abstract

Summary        Oil palm have swallow roots, it caused the plant untolerant to drought  stress  and will decrease 10-40% bunch fresh weight in drought condition. Response of oil palm to drought stress in field conditions still unknown. The objective of these research  is to obtain  biochemical character  which has significant correlation with drought  tolerance, and to obtain tolerant progeny with high yield (fresh bunch weight) in drought condition.  The experiment were conducted in Riau (Kandista estate) and South Kalimantan  (Batu Mulia estate), with different of soil type and rainfalls. Observation were done in four times in different  month with different rainfalls. On each time of observation were analyzed  proline, glycine betaine, ornithine-δ-aminotransferase (δ-OAT) enzyme content, as biochemical variables and bunch weigth as yield variable response.  Eleven oil palm progenies 10-year-old grown in field divided with three block (as replication), each plot consisted of 16 plants. Data  were analyzed with Combined Experiment Analysis, Principal Component Analysis, Multiple Regression Analysis,  and Path Analysis. The results showed that eleven progenies gave different responses to drought stress in each variable, location and  time of observation. Most of progenies reponsive to two or three biochemical characters. Progeny 52 has no correlation with most of biochemical characters. Progeny 33 responsive with proline, while  progeny 85, 91 and  93 have high responsive to protein.  Proline, δ-OAT enzyme, and protein have high correlation with bunch weight.  Proline, and δ-OAT enzyme, categorized as biochemical characters of oil palm tolerance to drought stress. Progeny 33 more tolerance to drought stress compare with others progenies, and have highest productivity in Batu  Mulia estate. Ringkasan         Tanaman kelapa sawit memiliki perakaran yang dangkal sehingga mudah mengalami cekaman   kekeringan   yang dapat    menurunkan hasil TBS 10 - 40%. Respons tanaman kelapa  sawit terhadap cekaman kekeringan dalam kondisi lapang masih sangat sedikit sekali diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan penciri biokimia yang berperan dalam sifat toleran tanaman terhadap cekaman kekeringan dan hubungan penciri biokimia dengan hasil tandan buah segar (TBS), serta menetapkan progeni yang toleran dan  ber-produksi tinggi pada lokasi yang tercekam. Percobaan dilakukan di dua lokasi perkebunan yang terletak di Riau (perkebunan Kandista) dan Kalimantan Selatan (perkebunan Batu Mulia) yang berbeda tipe tanah dan  curah hujannya. Pengamatan dilakukan pada empat waktu, pada bulan yang berbeda curah hujannya. Pada keempat waktu tersebut dianalisis kadar prolin, glisin-betain, enzim ornitin-δ-aminotransferase (δ-OAT), dan protein sebagai variabel respons biokimia serta hasil TBS sebagai variabel respons produktivitas tanaman kelapa sawit.  Tiap lokasi percobaan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak.  Tanaman kelapa sawit berumur 10 tahun sebanyak 11 progeni yang telah ada di lapangan, ditetapkan sebanyak tiga blok (sebagai ulangan).  Tiap plot percobaan berisi 16 tanaman.  Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis statistika percobaan tergabung, analisis kom-ponen utama, regresi berganda dan analisis jalin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan respons 11 progeni kelapa sawit ter-hadap cekaman kekeringan pada masing-masing variabel respons dalam lokasi dan waktu pengamatan yang berbeda. Seluruh progeni responsif terhadap dua atau tiga penciri biokimia selama waktu penelitian berlangsung, kecuali progeni 52 tidak memiliki korelasi dengan seluruh penciri biokimia. Progeni 33 responsif terhadap prolin, sedang  progeni 85, progeni 91 dan progeni 93 cukup responsif terhadap protein. Prolin, enzim δ-OAT, dan protein berhubungan erat dengan hasil TBS. Prolin, enzim δ-OAT, dan protein dapat dikatagorikan sebagai penciri biokimia terhadap cekaman kekeringan  pada tanaman kelapa sawit. Progeni 33 lebih toleran terhadap cekaman kekeringan dibandingkan  dengan progeni lainnya dan produktivitasnya  tertinggi  di   perkebunan  Batu  Mulia.

Page 1 of 21 | Total Record : 202


Filter by Year

2000 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 87, No 2 (2019): OKTOBER, 2019 Vol 87, No 1 (2019): April, 2019 Vol 86, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 86, No 1 (2018): April, 2018 Vol 85, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 85, No 1 (2017): April, 2017 Vol 85, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 85, No 1 (2017): April, 2017 Vol 84, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 84, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 84, No 1: Oktober 2016 Vol 83, No 2: Desember 2015 Vol 83, No 1: Juni 2015 Vol 82, No 2: Desember 2014 Vol 82, No 1: Juni 2014 Vol 82, No 2: Desember 2014 Vol 82, No 1: Juni 2014 Vol 81, No 1: Juni 2013 Vol 81, No 2: Desember 2013 Vol 81, No 1: Juni 2013 Vol 80, No 1: Juni 2012 Vol 80, No 2: Desember 2012 Vol 80, No 1: Juni 2012 Vol 79, No 2: Desember 2011 Vol 79, No 1: Juni 2011 Vol 79, No 2: Desember 2011 Vol 79, No 1: Juni 2011 Vol 78, No 2: Desember 2010 Vol 78, No 1: Juni 2010 Vol 78, No 2: Desember 2010 Vol 78, No 1: Juni 2010 Vol 77, No 2: Desember 2009 Vol 77, No 1: Juni 2009 Vol 77, No 2: Desember 2009 Vol 77, No 1: Juni 2009 Vol 76, No 2: Desember 2008 Vol 76, No 1: Juni 2008 Vol 76, No 2: Desember 2008 Vol 76, No 1: Juni 2008 Vol 75, No 1: Juni 2007 Vol 75, No 2: Desember 2007 Vol 75, No 1: Juni 2007 Vol 74, No 2: Desember 2006 Vol 74, No 1: Juni 2006 Vol 74, No 2: Desember 2006 Vol 74, No 1: Juni 2006 Vol 73, No 1: Juni 2005 Vol 73, No 2: Desember 2005 Vol 73, No 1: Juni 2005 Vol 72, No 2: Desember 2004 Vol 72, No 1: Juni 2004 Vol 71, No 2: Desember 2003 Vol 71, No 1: Juni 2003 Vol 70, No 2: Desember 2002 Vol 70, No 1: Juni 2002 Vol 69, No 2: Desember 2001 Vol 69, No 1: Juni 2001 Vol 68, No 1: Juni 2000 Vol 68, No 2: Desember 2000 Vol 68, No 1: Juni 2000 More Issue