cover
Contact Name
Yushak Soesilo
Contact Email
yushak@sttintheos.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.dunamis@sttintheos.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 25413937     EISSN : 25413945     DOI : -
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani dengan nomor ISSN 2541-3937 (print), ISSN 2541-3945 (online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta. Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam bidang ilmu Teologi Kristen, terutama yang bercirikan Injili-Pentakosta, dan bidang Pendidikan Kristiani.
Arjuna Subject : -
Articles 53 Documents
PERSINGGUNGAN AGAMA DAN POLITIK DALAM TEROR: MENUJU TERBENTUKNYA TEOLOGI SPIRITUALITAS POLITIK DALAM KONTEKS MARAKNYA TERORISME DI INDONESIA Kristianto, Paulus Eko
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2018): Oktober 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.129 KB) | DOI: 10.30648/dun.v3i1.175

Abstract

Abstract. This article tries to explore the theological model of political spirituality in the context of terrorism in Indonesia. This search is done using the literature study method. In the process, the authors found that each age has a pattern or model of theology of their respective political spirituality. But in the present, by elaborating on the results of literature studies and paying attention to the context of terrorism in Indonesia and the historical journey of theological view of political spirituality in the church, the author shows that we need to pay attention to the five foundations of political spirituality theology, namely to realize a secular faith, promote moral values and political mediation, love justice and peace, serve the public interest, rule through service and love. These five foundations are expected to respond to various terrorism in Indonesia.Abstrak. Artikel ini mencoba menelusuri model teologi spiritualitas politik dalam konteks maraknya terorisme di Indonesia. Penelusuran ini dilakukan dengan menggunakan metode studi pustaka. Dalam prosesnya, penulis menemukan bahwa setiap zaman memiliki corak atau model berteologi spiritualitas politiknya masing-masing. Namun pada masa sekarang, dengan mengelaborasi hasil studi pustaka dan memperhatikan konteks terorisme di Indonesia serta perjalanan sejarah pandang teologi spiritualitas politik di gereja, penulis menunjukkan kita perlu memperhatikan lima fondasi teologi spiritualitas politik yaitu mewujudkan iman yang sekular, mengusung nilai-nilai moral dan mediasi politik, mencintai keadilan dan perdamaian, mengabdi kepentingan umum, berkuasa melalui pelayanan dan kasih. Kelima fondasi ini diharapkan dapat menanggapi berbagai terorisme di Indonesia.
PENDERITAAN KRISTUS SEBAGAI WUJUD SOLIDARITAS ALLAH KEPADA MANUSIA Zaluchu, Sonny
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1 (2017): Oktober 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.568 KB) | DOI: 10.30648/dun.v2i1.129

Abstract

Abstract: This article is a contemporary theology study about an idea of suffering God. Although there were some notion of suffering God in the church history, yet this remain important to be reconstructed today?s in considering the suffering of believers nowadays. This article is a literature research using methodology with qualitative approach, considered developing phenomenons surrounded churches, and analyzed it with biblical reflection of an idea of God?s suffered. As the conclusion, with biblical and theological phenomenon analysing, the suffered of Christ must be understood from a big God?s plan upon human being.Abstrak: Tulisan ini merupakan sebuah kajian Teologi Kontemporer tentang ide Allah yang menderita. Walaupun ada banyak pendapat atau pemikiran teologis tentang Allah yang menderita di sepanjang sejarah gereja, namun ide ini tetap penting untuk dikaji kembali pada masa kini, dengan mempertimbangkan konteks penderitaan orang percaya di masa kini. Penelitian ini merupakan literasi dengan menggunakan metode pendekatan yang bersifat kualitatif, mempertimbangkan fenomena yang berkembang di sekitar gereja, dan menganalisisnya dengan pendekatan refleksi biblikal atas ide Allah yang menderita tersebut. Pada akhirnya, melalui analisis biblikal dan fenomena teologis, maka penderitaan Kristus harus dipahami dari sebuah rancangan Allah yang besar atas manusia.
MENGGAGAS PENERAPAN PENGAJARAN TENTANG AKHIR ZAMAN DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI TINGKAT SEKOLAH DASAR DAN MENENGAH PERTAMA Utomo, Bimo Setyo
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 1 (2016): Oktober 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.374 KB) | DOI: 10.30648/dun.v1i1.102

Abstract

Eskatologi, khususnya dalam tradisi gereja kita merupakan salah satu topik yang terabaikan. Bahkan dalam pendidikan agama kristen di sekolah, kita dapat melihat tidak ada topik khusus mengenai eskatologi.Topik tentang eskatologi sangat penting untuk diajarkan kepada siswa di sekolah agar mereka dapat mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Dalam pengajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) di sekolah, seharusnya topik atau pelajaran ini mendapat perhatian dan alokasi waktu yang cukup. Melalui topik atau pelajaran ini diharapkan dapat memperkuat keimanan siswa; menolong siswa untuk merubah sikap yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan menanamkan dalam diri siswa bahwa kelak Tuhan Yesus akan datang untuk yang kedua kalinya. Eschatology, particularly in the tradition of our church is one of the neglected topic. Even, in Christian religious education in schools, we can see there is no specific topic about eschatology.The topic of eschatology is very important to be taught to students in schools, so that they can prepare as well as possible for the Lord Jesus' second coming.This topic should have received attention and allocation on sufficient time. This topic is expected to strengthen students?faith, helping them exchanging attitudes which are not in accordance with the will of God and convince that one day the Lord Jesus shall come.
ORANG KRISTEN DAN POLITIK: BELAJAR DARI KASUS SALOMO DAN ADONIA DALAM PERSAINGAN MENUJU TAKHTA Susanta, Yohanes Krismantyo
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 1 (2019): Oktober 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.677 KB) | DOI: 10.30648/dun.v4i1.187

Abstract

Abstract. This article aimed to give theological biblical insight how Christian should be involved in politics. Trough narrative interpretation to the books of 1 Kings 1-2 revealed the rivalry between Solomon and Adonijah for the throne filled with intrigue and political exclusion. Trough this analysis shown that the story could not be used as theological justification but as an example so that the same incident does not happen anymore. On the other hand Christians also need to understand that politics is an effort in embodying love and justice for others.Abstrak. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman teologis biblis bagaimana sikap umat Kristiani dalam menghadapi perpolitikan nasional. Melalui pendekatan tafsir naratif terhadap teks 1 Raja-raja 1-2 terungkap persaingan antara Salomo dan Adonia dalam memperebutkan takhta yang dipenuhi intrik dan politik penyingkiran. Melalui analisis terhadap teks tersebut terlihat bahwa kisah tersebut tidak bisa dijadikan pembenaran teologis tetapi berperan sebagai pembelajaran agar hal yang sama tidak terulang kembali. Sebaliknya umat Kristiani juga perlu memahami bahwa politik adalah media perjuangan kasih dan keadilan kepada sesama.
PRINSIP CREATIO CONTINUA DAN IMAGO DEI DALAM PENERAPAN KLONING TERAPETIK: MANUSIA MERAMPAS PERAN ALLAH? Soesilo, Yushak
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 2 (2019): April 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.87 KB) | DOI: 10.30648/dun.v3i2.194

Abstract

Abstract. Therapeutic is a branch of genetical engineering technology that handles the healing of genetical diseases. The way to handle it is by manipulating human stem cell. Because it was related in trying to manipulate human genes, it raised the question of whether this technology was an attempt to seize God's role of life and death. This study aims to provide answers and at the same time determine the position of the Christian faith towards therapeutics through biblical studies based on creatio continua and imago Dei concept. Through this study, it was concluded that therapeutic is a space for human effort in carrying out their duties as a co-worker of God to improve the imperfection of creation.Abstrak. Terapetik adalah salah satu cabang dari teknologi rekayasa genetika yang menangani penyembuhan penyakit genetif. Cara penanganannya adalah dengan memanipulasi stem cell manusia. Oleh karena berkaitan dengan usaha memanipulasi gen manusia, maka menimbulkan pertanyaan apakah teknologi ini adalah upaya merampas peran Allah atas kehidupan dan kematian. Kajian dalam artikel ini bertujuan untuk memberikan jawaban dan sekaligus menentukan posisi iman Kristen terhadap terapetik melalui kajian biblika atas prinsip creatio continua dan imago Dei. Melalui kajian tersebut ditarik kesimpulan bahwa pada batas tertentu terapetik adalah ruang bagi upaya manusia dalam melaksanakan tugasnya sebagai rekan sekerja Allah untuk memperbaiki ketidaksempurnaan ciptaan.
ANALISIS PERTANYAAN RETORIKA DALAM AYUB 40:1-28 Stevanus, Kalis
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.915 KB) | DOI: 10.30648/dun.v2i2.163

Abstract

Abstract. The purpose of the analysis of the rhetorical question in Job 40: 1-28 is to look at theological and practical implications. Theologically: 1) Everything under God's control. Including Job with all the agonizing suffering he experienced remained under God's control; 2) Keep believing in God even if you do not feel His physical presence; 3) Behind the suffering of the righteous man is the divine will of God. God never allows anything to happen to believers, without God's purpose in it. In suffering there is God's gracious will, in God's will, there is His grace. So believers can reach His great purpose and plan. Practically: 1) God is big, strong and we are small, weak. Let believers  keep giving thanks to God even in suffering, then pray (ask) to God for strengthening us when we face the tests of faith; 2) Live honestly and humbly. Do not despise or judge a person for not having the spiritual experience that Ayub once experienced. For the Lord opposes the proud and the pity of the humble; 3) Rely completely on God. In both temptation and suffering, there is nothing better that believers can do than always depend entirely on God.Abstrak. Tujuan analisis pertanyaan retorika dalam Ayub 40:1-28 ini adalah untuk melihat implikasi teologis dan praktis. Secara teologis: 1) Segala sesuatu di bawah penguasaan dan kendali Tuhan. Termasuk juga Ayub dengan segala penderitaan berat yang dialaminya tetap berada di bawah penguasaan dan kendali Tuhan; 2) Tetaplah percaya pada Tuhan walau tidak merasakan kehadiran-Nya secara fisik ; 3) Di balik penderitaan orang saleh terkandung kehendak Allah yang rahmani. Tuhan tidak pernah mengizinkan sesuatu menimpa orang percaya, tanpa maksud Tuhan di dalamnya. Di  dalam penderitaan ada kehendak Tuhan yang rahmani, di dalam kehendak Tuhan ada anugerah-Nya, sehingga orang percaya bisa mencapai maksud dan rencana-Nya yang agung. Secara praktis: 1) Tuhan itu besar, kuat dan manusia kecil, lemah. Hendaklah orang percaya tetap bersyukur kepada Tuhan sekalipun dalam penderitaan dan berdoalah (mintalah) kepada Tuhan agar Ia menguatkan saat-saat menghadapi ujian-ujian iman; 2) Hiduplah jujur dan rendah hati. Janganlah memandang rendah atau menghakimi seseorang karena tidak memiliki pengalaman rohani seperti yang dialaminya. Sebab Tuhan menentang orang sombong dan mengasihani orang yang rendah hati; 3) Bergantunglah sepenuhnya kepada Allah. Dalam pencobaan maupun penderitaan, tidak ada yang lebih baik yang dapat dilakukan orang percaya selain bergantung sepenuhnya kepada Allah.
PENERAPAN METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MATERI PEMBELAJARAN SAKRAMEN PERJAMUAN KUDUS VIII SMP NEGERI 17 SURAKARTA, TAHUN 2015/2016 Rifai, Rifai
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 2 (2017): April 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.328 KB) | DOI: 10.30648/dun.v1i2.112

Abstract

This article aims to increase affective, psychomotor and cognitive domain of learning achievement with subject Sakramen Perjamuan Kudus for students grade VIII in State Junior High School 17 Surakarta at semester 2, year 2015/2016 by using demonstration method. This article used a method of clasroom action research which subject is all Christian students of grade VIII State Junior High School 17 Surakarta, year 2015/2016. The research found affective domain increasing from 14.1% at first cycle to 92.4% at second cycle. There were increasing up to 85.3% in psychomotor domain at second cycle, which means students resulted is accomplished, because it gained 0.3% over 85% achievement indicator. In cognitive domain increasing tehre were 15 (88.2%) students at second cycle accomplished, which over than 85%. Those were indicated that demonstration method usage to improve learning was success. By the result of this research, author recommends teacher will use demonstration learning method in teaching subject Sakramen Perjamuan Kudus.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar afektif, psikomotorik dan kognitif materi Sakramen Perjamuan Kudus bagi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 17 Surakarta semester 2 Tahun 2015/2016 melalui metode demonstrasi. Metode penelitian tindakan kelas menggunakan subyek adalah siswa Kristen kelas VIII SMP Negeri 17 Surakarta tahun ajaran 2015/2016. Dari penelitian didapatkan peningkatan hasil belajar afektif dari 14,1% menjadi 92,4%. Pada hasil belajar psikomotorik siklus kedua mencapai 85,3%, yang berarti ada peningkatan sebesar 0,3% di atas indikator pencapaian 85%. Peningkatan hasil belajar kognitif pada siklus kedua mendapatkan hasil sebanyak 15 peserta didik (88,2%) tuntas. Ketuntasan ini menandakan bahwa perbaikan pembelajaran pada siklus kedua dengan menggunakan metode demonstrasi dinyatakan berhasil. Dari Hasil penelitian tindakan kelas ini maka peneliti merekomendasikan penggunaan metode demonstrasi untuk mengajarkan materi Sakramen Perjamuan Kudus.
PERAN EKONOMI, POLITIK, DAN SOSIAL DALAM KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA Purwanto, Edi
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 1 (2019): Oktober 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.502 KB) | DOI: 10.30648/dun.v4i1.204

Abstract

Abstract. This article with written with the aim to study the debate about the relationship between religion and violence, and to answer the following questions: Was religion the cause of violence or wars in the name of religion? Was religion responsible on various violence through giving legitimacy and facilitating violence? What were the economic, social and political motives, which were actually behind of violence in the name of religion? This study was conducted through a literature review by synthesized several different views from a number of experts in matters of religious relations and violence. The result was a conceptual framework that violence in the name of religion was motivated by motives of powerful groups to maintain power with violence, motives of oppressed groups to gain freedom by violence, motives of politicians gain political gain by the occurrence of violence, and the motives of religious leaders to gain political advantage by legitimizing violence.Abstrak. Artikel ini ditulis dengan tujuan untuk mengkaji perdebatan tentang hubungan agama dan kekerasan, serta untuk menjawab beberapa pertanyaan berikut ini: Apakah agama adalah penyebab tindakan kekerasan atau perang atas nama agama? Apakah agama bertanggung jawab atas berbagai tindakan kekerasan melalui pemberian legitimasi dan memfasilitasi terjadinya kekerasan? Apakah motif-motif ekonomi, sosial dan politik, yang sesungguhnya berada di balik berbagai tindakan kekerasan yang mengatas-namakan agama? Kajian ini dilakukan melalui tinjauan pustaka dengan mensintesakan beberapa pandangan yang berbeda dari sejumlah ahli dalam hal hubungan agama dan kekerasan. Hasilnya berupa pemikiran konseptual bahwa kekerasan atas nama agama dilatarbelakangi oleh motif kelompok berkuasa untuk mempertahankan kekuasan dengan kekerasan, motif kelompok tertindas untuk memperoleh kebebasan/kemerdekaan dengan jalan kekerasan, motif politisi mendulang keuntungan politis dengan melakukan pembiaran terjadinya kekerasan, dan motif pemimpin agama mendulang keuntungan politis dengan memberikan legitimasi kekerasan.
PENGGUNAAN ROTAN DALAM PENDISIPLINAN ANAK MENURUT KITAB AMSAL 23:13-14 Soesilo, Yushak
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 1 (2016): Oktober 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.684 KB) | DOI: 10.30648/dun.v1i1.98

Abstract

Pendisiplinan anak secara keras telah dianggap sebagai cara kuno dan tidak beradab pada era modern yang benar-benar menaruh penghargaan yang tinggi pada hak asazi manusia. Cara yang dipakai lebih banyak menggunakan pendekatan yang penuh dengan toleransi terhadap kehendak anak. Namun demikian, pada kenyataannya metode pendisiplinan secara lunak tersebut nampaknya telah menimbulkan permasalah baru, diantaranya hilangnya rasa hormat anak terhadap otoritas yang sepatutnya dihormati. Amsal 23:13-14 adalah merupakan salah satu contoh bagaimana Alkitab mengajarkan cara untuk mendisiplinkan anak. Melalui kajian terhadap teks tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pendisiplinan anak dengan menggunakan rotan adalah sesuatu yang relevan untuk diterapkan. Meskipun nampak keras, namun metode pendisiplinan tersebut tidak melanggar hak anak, sebaliknya dapat membentuk karakter baik anak. Chastisement is regarded as out of date and uncivilized way in this modern era which gives great respect in human rights. Fully tolerance toward children will is the mostly to be used approach. In fact, nevertheless, this soft disciplining method appear to bring about new problems, such as the lost of children respect to the authority that should be respected. Proverbs 23:13-14 gives a theaching of the bible how to disciplining children should be. Through the text study, it is concluded that chastisement with rod is still relevantly implemented. Eventhough it is so strict, this method is not abusive to the children rights but forms children good characters.
TINJAUAN TEOLOGIS-SOSIOLOGIS TERHADAP PERGAULAN BEBAS REMAJA Tari, Ezra; Tafonao, Talizaro
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 2 (2019): April 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7.634 KB) | DOI: 10.30648/dun.v3i2.181

Abstract

Abstract. This study aimed to find solutions to the problems of free association among teenagers starting from theological and sociological analysis. In conducting this study the author used a literature study method on various previous thoughts and studies that have been carried out. The results obtained from this study were that teenagers are often ignored by the church. The church often only pays attention to adult problems. Therefore, in order to overcome the problem of teenagers free association, good cooperation is needed between parents, the church, the government, and the community.Abstrak. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengupayakan solusi dari permasalahan pergaulan bebas di kalangan remaja dengan berangkat dari analisis secara teologis dan sosiologis. Dalam melakukan kajian ini penulis menggunakan metode studi pustaka terhadap berbagai pemikiran dan kajian terdahulu yang pernah dilakukan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa remaja seringkali diabaikan oleh gereja. Gereja sering hanya menaruh perhatian besar kepada masalah-masalah orang dewasa. Oleh karena itu, dalam rangka mengatasi persoalan pergaulan bebas remaja tersebut diperlukan kerjasama yang baik antara orang tua, gereja, pemerintah, maupun masyarakat.