cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 20859937     EISSN : 25981242     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as well as history conducted by Center for Preservation of West Java Cultural Values (in West Java, DKI Jakarta, Banten and Lampung working areas. In general, the editors also received research articles in Indonesia. Patanjala published periodically three times every March, June, and September in one year. Anyone can quote some of the contents of this research journal with the provision of writing the source.
Arjuna Subject : -
Articles 330 Documents
DINAMIKA PENGGUNAAN BANTENG DALAM LAMBANG PARTAI-PARTAI POLITIK (1955-1999): KAJIAN SEJARAH VISUAL D. Dienaputra, Reiza
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNI 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.196 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i2.138

Abstract

AbstrakKajian ini bertujuan untuk merekonstruksi penggunaan banteng sebagai elemen visual dalam lambang partai-partai politik yang berhasil meraih kursi DPR dalam Pemilu 1955 hingga Pemilu 1999. Berbagai permasalahan berkaitan dengan keberadaan banteng dalam lambang partai-partai politik diungkap, seperti dinamika visualisasi banteng, eksplanasi sejarah dan budaya, serta pengaruh sistem politik terhadap visualisasi banteng dalam lambang. Untuk menjawab permasalahan tersebut, digunakan metode sejarah, yang di dalamnya meliputi tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sebagai sebuah kajian sejarah visual, sumber utama yang digunakan adalah lambang partai-partai politik. Selanjutnya, untuk menganalisispenggunaan banteng dalam lambang partai-partai politik digunakan pendekatan seni dan disain, pendekatan politik dan pendekatan kebudayaan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pengunaaan banteng sebagai elemen visual dalam lambang memiliki akar sejarah yang panjang. Secara budaya banteng pun merupakan binatang yang akrab dzengan banyak suku bangsa di tanah air. Sebagai elemen visual, penggunaan banteng dalam lambang partai politik  pada umumnya hanya digunakan oleh partai-partai politik beraliran nasionalis. Namun demikian, representasi visual banteng dalam lambang mengalami dinamika yang menarik, tidak hanya karena kebutuhan partai politik tetapi juga disebabkan pengaruh sistem politik yang berlaku. AbstractThis study aims to reconstruct the use of bulls as visual element in the symbols of political parties that were voted in the legislative (DPR) during 1955-1999 general election. The author reveals many dynamic use of bulls in political parties, including its visualization, historical and cultural explanation, and political system that influenced bull visualization on the symbols. The author conducts history method, covering critique, interpretation, and historiography. As a study of visual history, the research objects are the symbols of political parties. We approach the problem from many angles, including art and design, as well as political and cultural ones. The result finds that the use of bull as visual element in the symbol of political parties has a long root in the history of this country. Culturally, bulls are very familiar to many ethnic group in Indonesia, and generally they are used by nationalist parties. Nevertheless, visual representation of bulls has experienced an interesting dynamics: using bulls as symbol is not only for the benefit of certain political parties but it is also influenced by the political system applied at a certain time.
TUTURAN MEKUKU: SISTEM PENANDA ETNIS DALAM INTERAKSI SOSIAL SUKU TOLAKI DI SULAWESI TENGGARA Husba, Zakiyah Mustafa
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNI 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.346 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i2.104

Abstract

Abstrak Mekuku merupakan salah satu sistem bertutur silsilah yang dilakukan oleh masyarakat Tolaki dalam interaksi sosial situasi formal dan nonformal. Meskipun telah menjadi tradisi yang dilakukan secara turun temurun, mekuku tidak dilakukan dalam tradisi yang bersifat ritual. Secara garis besar, mekuku disajikan dengan menggunakan dua media ujaran, yaitu pertanyaan-pertanyaan khusus dan deskripsi berbentuk prosa. Kedua media ujaran mekuku tersebut sama-sama akan menghasilkan jawaban yang isinya dapat menjelaskan silsilah seseorang berdasarkan status sosial seseorang. Penelitian ini difokuskan pada penanda etnis yang terdapat dalam mekuku sebagai sebuah sistem yang dapat digunakan untuk menandai status seseorang dalam masyarakat. Masyarakat yang dimaksud di sini tentunya masyarakat yang berasal dari kelompok etnis yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan tuturan mekuku yang di dalamnya mengandung penanda-penanda khusus yang dapat menandai status sosial seseorang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tuturan mekuku terdapat penanda etnis yang digunakan sebagai alat bantu menentukan status sosial seseorang. Abstract Mekuku is one of genealogy utterance systems, which applied by Tolaki society in formal and informal situations. Although it has been a tradition for Tolaki society, Mekuku is not applied in the ritual tradition. Mainly, Mekuku is presented in two forms through specific questions and prose. These both forms provide answers, which describe the genealogy of a person in the society. This study focused on ethnic signifier in Mekuku as a system used to remark a persons’ social status in the society who come from the same ethnic group. The purpose of this study was to analyze Mekuku’s utterances that contain specific signifiers to remark a persons’ social status. The result of study showed that there were ethnic signifiers in Mekuku’s utterances, which used to determine social status of a person in the society.
UPACARA SIRAMAN DAN NGALUNGSUR GENI DI DESA DANGIANG KABUPATEN GARUT Rostiyati, Ani
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARET 2011
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4663.233 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v3i1.270

Abstract

Abstrak Upacara tradisional merupakan kegiatan upacara yang berhubungan dengan tradisi berbagai macam peristiwa pada masyarakat yang bersangkutan. Upacara tradisional juga bagian integral dari kebudayaan masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu, upacara tradisional dapat mengikat rasa solidaritas warga  dan memiliki nilai-nilai penting sebagai pedoman perilaku masyarakatnya. Namun,  bukan tidak mungkin upacara itu satu demi satu tersingkirkan. Di antaranya upacara dirasakan tidak lagi bermanfaat bagi masyarakat pendukungnya. Kekhawatiran tersebut mendorong perlu dilakukannya penelitian upacara tradisional, agar masyarakat terutama para generasi muda bisa tetap mengetahui tinggalan leluhur. Salah satu upacara tradisional yang masih berlangsung adalah upacara Siraman dan Ngalungsur Geni di Desa Dangiang, Kec. Banjarwangi, Kab. Garut. Upacara ini bertujuan  untuk menghormati leluhur dengan ziarah ke makamnya dan memelihara tinggalan leluhur yang berupa benda keramat milik leluhur berupa keris, golok, dan meriam. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang melihat pada aspek nilai dan konsep berpikir pada masyarakat tersebut, serta penggalian data melalui observasi dan wawancara.      AbstractTraditional ceremony is a kind of ceremony that has something to do with the society in question. It is also an integral part of the culture of the society itself. Therefore, traditional ceremony can make a bond within members of the society and has valuable meaning as guidance for the behaviour of the members of the society itself. Yet, the ceremonies are vanished one after another. The reason is that the society does not think they are useful enough for them. This research is based on that condition, hoping that young generation will preserve this legacy. Upacara Siraman and Ngalungsur Geni are ones that are still conducted in Desa Dangiang Kecamatan banjarwangi, Kabupaten Garut. These two traditional ceremonies are intended to give honour to the ancestors by visiting their tombs and preserving their legacy such as sacred things like kris, machete, and canon. This is a descriptive research with qualitative approach, seeking aspects of values and the society’s concept of thinking. Data are obtained through observation and interview.
SISTEM TEKNOLOGI PEMBUATAN GULA AREN DI KAMPUNG KUTA, KECAMATAN TAMBAKSARI, KABUPATEN CIAMIS Nisfiyanti, Yanti
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARET 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.677 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i1.186

Abstract

AbstrakKearifan lokal masyarakat Kampung Kuta hingga kini tetap terpelihara dengan baik karena tatanan sosial yang dijalankan masyarakat dan pemangku adat setempat mengacu pada aturan adat yang berlaku secara turun-temurun. Di dalam memelihara sumber daya alam untuk kelangsungan hidup mereka dari generasi ke generasi, masyarakat Kuta menerapkan sistem teknologi yang diwariskan oleh leluhurnya untuk mengolah pertanian, baik yang dilakukan di sawah maupun di ladang. Salah satunya adalah menerapkan sistem teknologi tradisional dalam memelihara dan mengolah pohon aren. Pohon aren yang tumbuh subur di Kampung Kuta menjadi bagian terpenting dalam kehidupan warga yang keberadaannya diatur oleh adat setempat. Masyarakat Kuta memanfaatkan aren dari akar hingga buahnya, baik untuk keperluan sehari-hari maupun upacara. Pembuatan gula dari aren untuk upacara dapat digunakan sebagai bahan berbagai penganan sesajen, sedangkan untuk keperluan sehari-hari, gula aren di antaranya digunakan sebagai bahan makanan penambah tenaga. Dalam proses pembuatan gula aren tersebut terkandung pengetahuan tradisional tentang pengawetan bahan, perawatan alat, dan filosofi aren. Adapun penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis.AbstractThe society of Kuta village has been preserving their local wisdom because their elders as well as their social order refer to customary rules that have been run for generations, either in preserving natural resources or cultivating lands. One of their local wisdoms is traditional system of technology to cultivate and to process palm trees. To the Kuta society, palm trees (aren, Arengata pinnata) are important part of their lives, and they utilize almost every parts of the tree from the roots up to the fruit, either fordaily life or ceremony. They make palm sugar for offerings in ceremonies, and it is considered as energizer in daily life. The process of making palm sugar contains traditional knowledge of food preservation, tools maintenance and the philosophy of palm itself. This research conducted by descriptive-analytic approach.
KAJIAN NILAI BUDAYA DALAM CARITA PANTUN SAWUNG GALING Purnama, Yuzar
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNI 2016
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.383 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v8i2.72

Abstract

AbstrakBangsa Indonesia adalah bangsa sejuta ragam budaya. Salah satunya kesenian Carita Pantun, kesenian ini tumbuhkembang pada masyarakat Sunda di Provinsi Jawa Barat dan Banten. Kini kesenian ini memprihatinkan karena jarang tampil dan pendukungnya kurang. Upaya pelestarian dapat dilakukan dengan mendokumentasikan cerita dan mengkajinya. Pada kesempatan ini penulis akan mengkaji Carita Pantun Sawung Galing. Batasan penelitian melingkupi nilai budaya yang terkandung dalam Carita Pantun Sawung Galing dan apa yang dimaksud dengan Carita Pantun? Penelitian bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang lengkap tentang Carita Pantun Sawung Galing. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian deskriptif. Simpulan, Tokoh Sawung Galing yang bernama Raden Rangga Sawung Galing adalah tokoh heroik Sang Penakluk karena enam kerajaan dapat direbut dan dikuasainya. Selain perkasa kepribadian tokoh menjadi teladan bagi anak bangsa karena memiliki jiwa religius yang tersirat dalan nilai agama, jiwa sosial yang mengagumkan tersirat dalam nilai sosial, semangat kerja tersirat dalam nilai etos kerja. Abstract Indonesia is a nation with the abundance of cultural diversity among traditional arts. One of the traditional arts that highlighted is Carita Pantun. This art is growing and developing in the Sundanese people in the province of West Java and Banten. Carita Pantun is included to a traditional art whose existence is quite alarming because it is very rarely performed and it has few supporters. Conservation efforts should be made of them by documenting the stories are superbly presented and assess the value of culture. Here, the writer examines Carita Pantun Sawung Galing. The limitation of the study is poured in the form of a question that what are the cultural values contained in Carita Pantun Sawung Galing? What is meant by Carita Pantun? The research aims to obtain a complete picture of Carita Pantun Sawung Galing. In conclusion, there are many cultural values of the nation which has not been revealed so that the younger generation does not recognize and know more about the foreign characters. Galing Sawung figure, whose full name is Raden Rangga Sawung Galing, is a conqueror heroic figure since there are six captured and mastered kingdoms.
KAJIAN NILAI BUDAYA PADA ARSITEKTUR TRADISIONAL DI GIRI JAYA PADEPOKAN KABUPATEN SUKABUMI PROVINSI JAWA BARAT Herlinawati, Lina
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.966 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i3.238

Abstract

AbstrakGiri Jaya Padepokan yang terletak di kaki Gunung Salak, tepatnya di Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, memiliki bangunan-bangunan lama yang berarsitektur tradisional. Bangunan-bangunan tersebut perlu diperhatikan, dipelihara, dan dilestarikan keberadaannya. Pelestarian bangunan tersebut juga sekaligus melestarikan keterkaitan antara bangunan dan kehidupan komunitas manusianya, baik sehari-hari maupun ritual. Bagaimana konsep bangunan dalam struktur, fungsi, serta bentuk bangunan tidak banyak orang mengenalnya. Untuk itu, melalui penelitian yang bersifat deskripsi dengan pendekatan kualitatif dapatlah dipahami konsep-konsep tersebut. Dari hasil kajian tersebut, dapat dinyatakan bahwa bentuk-bentuk bangunan peninggalan leluhur Giri Jaya Padepokan itu selain memiliki bentuk bangunan berarsitektur tradisional Sunda, juga pada beberapa bagian bangunan ada pengaruh arsitektur Jawa dan Kolonial Belanda. Hal itu bisa terjadi karena leluhur Giri Jaya Padepokan sebagai pendiri bangunan tersebut memiliki pengalaman yang berkaitan dengan keberadaan Kolonial Belanda di Tatar Sunda serta pertemanannya dengan seseorang yang berasal dari “Mangku Negara” Surakarta. AbstractThe village of Giri Jaya Padepokan that lies on the foothill of Mount Salak has many buildings of traditional architecture. These buildings have to be preserved. To preserve those buildings means to preserve the relationship between the buildings themselves and the life of the community. There are very few people who have knowledge about the those traditiional buildings in term of structure and functions, as well as the shape. In understanding these concepts the author conducted a descriptive research method with qualitative approach. The author came into conclusion that despite of traditional Sundanese architecture, some of the buildings were influenced by both Javanese and Dutch colonial styles. The styles were adopted during their period of ruling Sundaland over centuries.
STUDI TENTANG MODEL PENDIDIKAN KARAKTER DI PESANTREN MODEREN DINNIYAH PUTERI ”PERGURUAN DINNIYAH PUTERI” PADANG PANJANG, SUMATERA BARAT Kusumah, Siti Dloyana
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARET 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.452 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i1.154

Abstract

AbstrakPesantren sebagai lembaga pendidikan yang menitikberatkan pada nilai-nilai keIslaman, sejak lama dikenal menjadi pusat pembinaan moral dan penjaga tradisi. Namun kini pesantren dihadapkan pada persoalan yang lebih kompleks seperti masuknya nilai-nilai asing sejalan dengan dinamika kebudayaan. Gagasan penelitian dimaksudkan untuk mengetahui model pembelajaran di Pesantren Dinniyah Puteri Padang Panjang dalam menyikapi persoalan multikultur dan perubahan nilai. Penelitian menggunakan teori eksplorasi, yakni menggali secara dalam berbagai cara dan model pembelajaran yang berlangsung di lingkungan pesantren dimaksud. Data dan informasi yang diperoleh melalui wawancara, observasi maupun studi pustaka menunjukkan bahwa kini pesantren tersebut tidak semata-mata menanamkan pendidikan moral dan etika keagamaan semata-mata, akan tetapi melakukan pembudayaan atau pengenalan pranata-pranata kebudayaan kepada santri sebagai upaya untuk membuka wawasan dan kesadaran akan pentingnya menguasai nilai-nilai budaya yang didukung oleh suku-suku bangsa sebagai landasan bagi pembangunan karakter. Keberhasilan Pesantren Dinniyah Puteri dalam mengembangkan pendidikan yang berbasis keagamaan (Islam), maupun pengenalan pranata kebudayaan, adalah cita-cita pendirinya Rahmah El Yunnusiyah yang ingin membuktikan bahwa perempuan itu punya peranan penting sebagai ibu pendidik, yang cakap dan adil, dan aktif serta bertanggungjawab dalam membangun ketahanan budaya masyarakatnya. AbstractAs an educational institution that focuses on Islamic values, pesantren (Islamic boarding school)has long been known to be the center of moral guidance and keeper of tradition. But now pesantren faces more complex issues such as the in flux of foreign values in line with the dynamics of culture. The study intends to acquire knowledge about learning model applied in Pesantren Dinniyah Puteri Padang Panjang in facing multicultural issues and changing values. The study uses the exploration theory, by digging up various ways and models of learning applied in the Pesantren. Data and information obtained through interviews, observation and bibliographic study indicated that today the Pesantren does not merely teach moral and religiousethics, but also introduce its pupils to cultural institutions as an effort to give an insight and to make them aware of the importance of mastering cultural values as a foundation fo rcharacter building. The success of Pesantren Dinniyah Puteri in developing Islam-based education and in introducing cultural institutions, are the ideals of its founder, Rahmah El Yunusiyah, who wants to prove that women have important role as competent, fair, active and responsible educator mothers inbuilding cultural resilience of their community.
TENUN GEDOGAN DERMAYON T., Ria Intani
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARET 2010
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.889 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v2i1.204

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk menggali pengetahuan tentang tenun gedogan Dermayon. Tentang bahan-bahan, alat yang digunakan, teknik pembuatan, sampai dengan sistem produksi, konsumsi, dan distribusi. Penenun gedogan berada di Desa Juntikebon, Kecamatan Juntinyuat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan bertenun di Juntikebon merupakan industri rumahan. Sepintas sulit menunjukkan angka pasti jumlah pengrajin. Penyebabnya adalah nyaris semua pengrajin adalah pengrajin sambilan. Mereka bertenun setelah bersawah dan bilamana ada waktu. Ilmu sekaligus alatnya merupakan warisan orang tua. Produksinya berupa selendang yang pada zamannya berfungsi sebagai alat gendong. Keterbatasan modal dibarengi ketiadaan generasi penerus di dalam keluarga menjadi penyebab keterbatasan dalam berproduksi. Ketiadaan promosi berakibat masyarakat awam terhadap tenun gedogan. Penyaluran hasil produksi lebih mengandalkan pada bakul, mereka adalah pembeli sekaligus penjual. AbstractThis research was conducted to explore the knowledge of gedogan Dermayon weaving. This research includes materials, equipment used, manufacturing technique, production system, consumption, and distribution. Gedogan weavers lives in the Juntikebon village, Juntinyuat-Indramayu. Research carried out by using descriptive method with qualitative approach. The results showed that weaving activity in Juntikebon is a home industry. There are no definite figures that can indicate the number of weavers. The reason is almost all weavers are sideline weavers. They weave after doing wet-rice cultivation, and when they have time to do it. Science and tools are inherited from parents. Production is shawl that at that time used to be a carrying tool. Limited capital accompanied by lack of continuer generation in the family cause the limitations in production. Lack of promotion resulted the commonness society about gedogan weaving. That is why the distribution of production realy more on wholesaler, they are buyers and sellers.
TRANSPORTASI KERETA API DI JAWA BARAT ABAD KE-19 (BOGOR-SUKABUMI-BANDUNG) Lamiyati, Lasmiyati
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNI 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (857.712 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i2.21

Abstract

Kopi merupakan jenis tanaman yang laku di pasaranEropa. Kopi yang pernah diujicoba ditanam di Batavia dan Karawang hasilnya kurang memuaskan dibandingkan dengan kopi yang  ditanam di dataran Sukabumi. Selain kopi,  tanaman yang laku di pasaran Eropa adalah teh, kapas, dan nila. Dengan produk hasil bumi yang melimpah danlaku di pasaran Eropa tersebut belum didukung adanya sarana transportasi yang mamadai, pasalnya jenis transportasi yang ada masih menggunakan hewan beban, dan sarana jalan yang ada masih jalan setapak. Dari permasalahan tersebut, para pemilik perkebunan  memikirkan adanya jenis transportasi kereta api yang dapat mengangkut hasil bumi dari gudang penyimpanan  ke pelabuhan.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui transportasi di Jawa Barat (Bogor-Sukabumi-Bandung) pada abad ke-19. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari hasil penelitian   yang dilakukan, diperoleh informasi bahwa  jalur transpotasi kereta api dari Bogor-Sukabumi-Bandung dibangun untuk mengangkut hasil perkebunan yang ternyata pembangunan jalur transportasi tersebut telah membawa dampak pada pertumbuhan  wilayah dan pergerakan penduduk dari desa ke kota.   Kata kunci: Transportasi Kereta Api, Bogor-Sukabumi-Bandung, Pertumbuhan Kota.
PEMERINTAHAN MARGA DI LUBUKLINGGAU TAHUN 1855-1983 Apriyanti dan Reiza D. Dienaputra, Eka
Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNI 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.278 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i2.95

Abstract

AbstrakSistem Pemerintahan Marga di Lubuklinggau berlangsung sejak tahun 1855 pada masa Pemerintahan Hindia Belanda. Tahun 1983 sistem Pemerintahan Marga di Lubuklinggau berakhir berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Daerah Tingkat I Sumatera Selatan Nomor: 142 tahun 1983. Pemerintahan Marga pertama kali dikenal dalam wilayah Kesultanan Palembang Tahun 1662-1706. Marga dibentuk pada umumnya di daerah pedalaman, yang berada di hulu sungai. Tujuannya untuk memudahkan pengaturan wilayah kesultanan yang luas. Setiap Marga dipimpin oleh seorang kepala Marga yang disebut Depati/Pesirah. Sistem Pemerintahan Marga berlangsung hingga Masa Kemerdekaan. Sumber informasi mengenai pemerintahan Marga antara lain Piagam dari Sultan Palembang untuk Kiai Ario dari IPIL (Sekayu), stempel cap Marga Suku Tengah Kepungut Moesi Oloe di Lubuk Besar tahun 1856, dan Piagam Moeara Katie Marga Suku Tengah Tiang Poeng-poeng Afdeeling Moesi Oloe tahun 1866. Untuk menjelaskan sistem Pemerintahan Marga yang berlangsung cukup lama di Lubuklinggau kajian ini menggunakan metode sejarah. Interpretasi diperkuat dengan menggunakan konsep dan teori dari ilmu sosiologi, antropologi, dan ilmu politik. Kajian  meliputi tiga hal, yaitu lahirnya pemerintahan Marga, hukum dalam pemerintahan Marga, dan pemerintahan Marga di Lubuklinggau. AbstractThe Clan Government administration systemof Lubuklingau had been role since 1855 in the Government of the Netherlands East Indies. It ended in 1983 by the Decree of the Governor of South Sumatra Level Region Number: 142 year 1983. The Clan Government Administration was known firstly in the Sultanate of Palembang Year 1662-1706. Margaor clan was formed generally in rural areas, which was closed to the river. The aim was to facilitate the controlling of the sultanate vast territory. Each of the clan was led by a head of Margawhich was called Depati / Pesirah. This system lasted until the Independence Period. The information sources about the government of clans can be seen from the Charter of the Sultan of Palembang to Kiai Ario of IPIL (Sekayu), stamp of the clans of Middle Kepungut Moesi Oloe in Lubuk Besar in 1856, and the Charter of Moeara Katie Middle Pillar Poeng-Poeng Afdeeling Moesi Oloe clan in 1866 . To explain the government system of Lubuklingau clan in this research,the researcher used the historical method. The Interpretation is reinforced by the use of concepts and theories of sociology, anthropology, and political science. The Studies cover three things; the birth of clan governance, rule of law within the clan, and the clan rule in Lubuklinggau.

Page 1 of 33 | Total Record : 330


Filter by Year

2009 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 12, No 1 (2020): PATANJALA VOL. 12 NO. 1 April 2020 Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019 Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNI 2019 Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARET 2019 Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018 Vol 10, No 2 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 2, Juni 2018 Vol 10, No 1 (2018): PATANJALA VOL. 10 NO. 1, MARET 2018 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 MARCH 2017 Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017 Vol 9, No 2 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 2, JUNI 2017 Vol 9, No 1 (2017): PATANJALA Vol. 9 No. 1 Maret 2017 Vol 8, No 3 (2016): PATANJALA Vol. 8 No. 3 September 2016 Vol 8, No 2 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 2 JUNI 2016 Vol 8, No 1 (2016): PATANJALA VOL. 8 NO. 1 MARET 2016 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015 Vol 7, No 3 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 3 SEPTEMBER 2015 Vol 7, No 2 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 2 JUNI 2015 Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARET 2015 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARCH 2014 Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014 Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNI 2014 Vol 6, No 1 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 1 MARET 2014 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013 Vol 5, No 3 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 3 SEPTEMBER 2013 Vol 5, No 2 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 2 JUNI 2013 Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARET 2013 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 3 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 3 SEPTEMBER 2012 Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNI 2012 Vol 4, No 1 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 1 MARET 2012 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNE 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARCH 2011 Vol 3, No 3 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 3 SEPTEMBER 2011 Vol 3, No 2 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 2 JUNI 2011 Vol 3, No 1 (2011): PATANJALA VOL. 3 NO. 1 MARET 2011 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNE 2010 Vol 2, No 3 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 3 SEPTEMBER 2010 Vol 2, No 2 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 2 JUNI 2010 Vol 2, No 1 (2010): PATANJALA VOL. 2 NO. 1 MARET 2010 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 3 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 3 SEPTEMBER 2009 Vol 1, No 2 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 2 JUNI 2009 Vol 1, No 1 (2009): PATANJALA VOL. 1 NO. 1 MARET 2009 More Issue