cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 152 Documents
NILAI ANTIOKSIDAN DAN SPF DARI KOMBINASI MINYAK BIJI WIJEN (SESAMUM INDICUM L.) DAN MINYAK BIJI BUNGA MATAHARI (HELIANTHUS ANNUUS L.) Susanti, Yanthy; Purba, Anny Victor; Rahmat, Deni
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.108 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.52243

Abstract

Minyak wijen dan minyak biji bunga matahari yang mengandung Vitamin E dan ?-Karoten dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan dan tabir surya. Penelitian aktivitas tabir surya pada minyak wijen memberi hasil nilai SPF sebesar 1,77. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kombinasi minyak wijen dan minyak biji bunga matahari yang memiliki aktivitas antioksidan dan nilai SPF yang optimal. Metode yang digunakan untuk mengukur aktivitas antioksidan dengan metode peredaman radikal bebas, nilai SPF diperoleh dengan menghitung harga AUC kurva hubungan antara panjang gelombang dengan serapan yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan minyak wijen memiliki aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 267 µg/mL dan nilai SPF sebesar  1,46 pada konsentrasi 125µg/mL, minyak biji bunga matahari memiliki aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 88,37 µg/mL dan nilai SPF 1,14 pada konsentrasi 125µg/mL, kombinasi kedua minyak memiliki aktivitas antioksidan sebesar (IC50) sebesar 118,04 µg/mL dan nilai SPF 1,78 pada konsentrasi 125µg/mL.
DAMPAK MEROKOK TERHADAP KEMATIAN DINI AKIBAT KANKER DI INDONESIA: ESTIMASI YEARS OF LIFE LOST (YLL) Puspawati, Pia Rika; Kristina, Susi Ari; Wiedyaningsih, Chairun
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.062 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.49790

Abstract

Penggunaan tembakau merupakan salah satu penyebab terjadinya kematian dini di dunia. Seseorang yang merokok tembakau mendapat paparan lebih dari 7000 zat kimia mematikan, dimana 70 diantaranya bersifat karsinogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah tahun yang hilang akibat kematian dini yang terjadi karena penyakit kanker yang disebabkan oleh merokok di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian epidemiologi deskriptif menggunakan estimasi berdasarkan prevalence-based dengan data angka kematian penyakit kanker berdasarkan data Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS) tahun 2018. Penelitian ini mengkaji jumlah tahun yang hilang akibat kematian dini yang terjadi karena penyakit kanker akibat merokok yang dinyatakan dalam nilai Years of Life Lost (YLL). Hasil dari penelitian ini, nilai YLL tertinggi adalah pada penyakit kanker paru-paru (31.820 orang tahun), kanker hati (11.700 orang tahun) dan kanker kandung kemih (2.873 orang tahun). Pada pria, urutan nilai YLL yang paling tinggi adalah kanker paru-paru (27.213), kanker hati (11.412), dan kanker kandung kemih (2.703,74). Pada wanita nilai YLL tertinggi adalah kanker paru-paru (4.507,7), pada urutan kedua adalah kanker serviks (1.782,41), dan kanker ovarium (1.442,99) pada urutan ketiga. Secara keseluruhan, penyakit kanker akibat merokok menyebabkan 59.071,60 tahun yang hilang akibat kematian dini di Indonesia. Penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pembuatan kebijakan terkait merokok dengan basis ilmiah
PENGARUH PH TERHADAP STABILITAS ALPHA ARBUTIN DALAM GEL NIOSOM Pertiwi, Dea; Desnita, Rise; Luliana, Sri
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.347 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.49446

Abstract

Alpha arbutin merupakan salah satu agen pencerah kulit yang terdegradasi dalam sediaan larutan pada pH kurang dari 3,0 dan pH lebih dari 6,5. Sistem penghantaran niosom dapat meningkatkan stabilitas alpha arbutin dalam sediaan gel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pH terhadap stabilitas gel niosom alpha arbutin. Uji stabilitas dilakukan menggunakan formulasi gel alpha arbutin dan gel niosom alpha arbutin yang dibuat dalam pH sediaan 6, 7 dan 8 selama 28 hari. Pengukuran kadar alpha arbutin menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan waktu kadaluarsa gel alpha arbutin dengan sistem niosom lebih lama dibandingkan tanpa sistem niosom pada setiap pH. Sediaan gel niosom alpha arbutin dan gel alpha arbutin pada pH 7 memiliki kestabilan lebih baik daripada sediaan gel pH 6 dan 8. Gel niosom alpha arbutin dan gel alpha arbutin pada pH 7 tidak mengalami perubahan organoleptis selama penyimpanan 28 hari. Hasil uji analisis Independent-Sampel T Test dengan nilai p<0,05 menunjukkan pada pH 7 berbeda signifikan antara formula gel alpha arbutin dan gel niosom alpha arbutin. Waktu kadaluarsa sediaan gel alpha arbutin pH 7 dengan sistem niosom dan tanpa sistem niosom masing-masing selama 24 hari dan 14 hari. Kesimpulannya adalah sistem niosom dapat meningkatkan stabilitas alpha arbutin pada rentang pH yang diteliti. 
STUDI PERBANDINGAN DISOLUSI IN-VITRO PADA FORMULA TABLET LEVOFLOKSASIN IMMEDIATE-RELEASE MENGGUNAKAN VARIASI KADAR DISINTEGRAN SODIUM STARCH GLYCOLATE Citrariana, Shesanthi; Lukitaningsih, Endang; Nugroho, Akhmad Kharis
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.539 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.48941

Abstract

Levofloksasin merupakan antibiotik yang digunakan dalam terapi Community Acquired Pneumonia (CAP) dengan prevalensi cukup tinggi di Indonesia. Sodium starch glycolate (SSG) merupakan eksipien yang berfungsi sebagai disintegran. SSG direkomendasikan dalam formula tablet dengan konsentrasi 1-4% karena konsentrasi yang lebih tinggi dapat mengurangi kemampuan disintegrasinya. Kinetika pelepasan obat memiliki nilai yang sangat penting dalam pengembangan dan kontrol kualitas obat. Perubahan kualitatif dan kuantitatif eksipien dalam formula dapat mengubah kinetika pelepasan dan kinerja in-vivo. Peneliltian ini bertujuan untuk melakukan studi perbandingan kinetika pelepasan obat pada tablet levofloksasin yang diformulasikan menggunakan berbagai konsentrasi SSG. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa konsentrasi SSG 1,33-5,33% dalam formula tidak memberikan perbedaan model kinetika pelepasan obat. Hal ini terlihat dari nilai f1 (3,12-8,50) dan f2 (56,16-77,43) yang berada pada rentang kriteria. Tablet levofloksasin Immediate-release (IR) yang diformulasikan, mengikuti pemodelan First-Order kinetik dengan kriteria nilai R2_adj tertinggi, MSE dan AIC terkecil, serta MSC terbesar dibandingkan dengan model kinetika lainnya. Pemodelan menggunakan Korsmeyer-Peppas memperlihatkan bahwa mekanisme transport dari tablet levofloksasin mengikuti persamaan Fickian semu (n<0,5) sehingga menggambarkan pelepasan obat dari matriks non-swellable.
KINERJA KARYAWAN KLINIK SYIFA MEDICAL CENTER JAKARTA DITINJAU DARI KOMPENSASI, MOTIVASI KERJA, DAN BUDAYA ORGANISASI Utama, M. Fathan Nugrah; Sampurno, Sampurno; Djoharsyah, Djoharsyah
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.833 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.48716

Abstract

Telah dilakukan penelitian pengaruh variabel kompensasi, motivasi kerja dan budaya organisasi untuk mengetahui bagaimana pengaruhnya terhadap kinerja karyawan di Klinik Syifa Medical Center. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 152 responden dengan teknik pengambilan sampel yaitu nonprobability sampling dan purposive sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner dengan pengukuran skala likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompensasi memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan sebesar 22.2%, variabel motivasi kerja memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan sebesar 31.1%, variabel budaya organisasi memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan sebesar 18.4%, pengaruh variabel kompensasi, motivasi kerja dan budaya organisasi terhadap kinerja karyawan berpengaruh secara signifikan sebesar 32.6%.
PENGARUH CITRA MEREK DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN DAN LOYALITAS PELANGGAN Widiyanto, Rahmat; Sumaryono, Wahono; Djoharsjah, Djoharsjah
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.789 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.48714

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel citra merek dan kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan sehingga berdampak pada loyalitas pelanggan umum di Apotek Farmarin Bidakara. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif ini mengambil 275 pelanggan umum Apotek Farmarin Bidakara sebagai responden. Pengambilan sampel dilakukan secara non probability dengan pendekatan incidental sampling, dan data dianalisis dengan regresi binary logistic menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel citra merek dan kualitas pelayanan berpengaruh positif secara signifikan terhadap variabel kepuasan pelanggan (p=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel citra merek dan kualitas pelayanan secara bersama-sama (simultan) berpengaruh positif secara signifikan terhadap variabel kepuasan pelanggan (p=0,05). Hasil analisis secara parsial menunjukkan bahwa variabel citra merek berpengaruh signifikan terhadap variabel kepuasan pelanggan sedangkan variabel kualitas pelayanan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel kepuasan pelanggan (p=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kepuasan pelanggan berpengaruh positif secara signifikan terhadap variabel loyalitas pelanggan (p=0,05). Indikator yang perlu ditingkatkan untuk variabel kepuasan pelanggan adalah kepuasan pelanggan mendapatkan solusi pemecahan masalah yang dimilikinya.
OPTIMASI TABLET LEPAS CEPAT LEVOFLOKSASIN HIDROKLORIDA MENGGUNAKAN CROSPOVIDONE SEBAGAI DISINTEGRAN DAN STUDI DISOLUSI EFISIENSI Pratiwi, Puspa Dwi; Nugroho, Akhmad Kharis; Lukitaningsih, Endang
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.291 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.48352

Abstract

Tablet mengandung zat aktif dan eksipien yang berfungsi untuk meningkatkan sifat fisik tablet sehingga perlunya optimasi dan pengaruhnya terhadap sifat fisik tablet. Crospovidone merupakan salah satu disintegran yang diklaim dapat meningkatkan waktu hancur dan disolusi obat. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan optimasi tablet dan menentukan efek dari perbedaan jumlah crospovidone terhadap respon untuk mendapatkan formula optimal. Optimasi tablet dilakukan metode simplex lattice design dari perangkat lunak Design Expert versi 11 menggunakan dua variabel independen, yaitu crospovidone 2-10% dan laktosa monohidrat (45-53%). Preparasi tablet dilakukan menggunakan metode granulasi basah. Semua formula dilakukan uji sifat alir serbuk, kekerasan tablet, kerapuhan tablet, waktu hancur tablet, penentuan kadar levofloksasin dalam tablet, dan DE60. Formula optimal didapatkan dari respon kekerasan tablet, kerapuhan tablet, waktu hancur tablet, dan DE60. Formula optimal yang didapatkan adalah formula dengan jumlah crosspovidone 10% ditandai dengan nilai desirability 0,546 menghasilkan sifat fisik tablet berupa rata-rata kekerasan 4,33 kg, kerapuhan 0,49%, waktu hancur 6,36 menit, dan rata rata DE60 sebesar 75,00%. Terdapat perbedaan signifikan adanya perbedaan jumlah crospovidone terhadap waktu hancur. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara respon prediksi yang diberikan perangkat lunak Design Expert versi 11 dengan hasil observasi sehingga simplex lattice design dari perangkat lunak Design Expert versi 11  mampu memprediksi respon secara akurat.
HUBUNGAN ANTARA KESESUAIAN PEMBERIAN ANTIBIOTIK BERDASARKAN GUIDELINE TERHADAP CLINICAL OUTCOME PADA PASIEN DEWASA DENGAN INFEKSI MRSA (METHICILLIN RESISTANT STAPHYLOCOCCUS AUREUS) DI RAWAT INAP RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA Pangestuti, Titi Ira; Wahyono, Djoko; Nuryastuti, Titik
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.056 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.48051

Abstract

Antibiotik merupakan obat yang harus dapat pengawasan lebih dari tenaga kesehatan dan masyarakat. Banyak pasien yang sudah resisten terhadap golongan antibiotik dengan afinitas tinggi, sehingga menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial, salah satunya adalah infeksi MRSA (Methicillin Resistant Staphylococcus aureus). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi antibiotik definitif yang digunakan pada pasien MRSA, serta melihat hubungan kesesuaian pemberian antibiotik berdasarkan guideline terhadap clinical outcome pada pasien dewasa dengan infeksi MRSA di rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.Rancangan penelitian yang digunakan yaitu observasional deskriptif-analitik, dengan desain cohort retrospektif untuk melihat hubungan kesesuaian penggunaan antibiotik berdasarkan Guideline Keputusan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Infection Diseases Society of America (IDSA), dan John Hopkin terhadap dengan clinical outcome pasien. Subjek penelitian adalah pasien dewasa dengan infeksi MRSA di rawat inap RSUP Dr Sardjito Yogyakarta periode 1 Januari 2018-31 Mei 2019. Hasil akan dianalisa dengan uji nonparametric test untuk melihat hubungan kesesuaian antibiotik definitif terhadap clinical outcome.Pada penelitian ini didapatkan jumlah sampel yang masuk kriteria inklusi berjumlah 68 pasien. Karakteristik pasien diperoleh rata-rata berumur 47 tahun, pasien terbanyak berjenis kelamin laki-laki yaitu 39 pasien (57,3%) dan perempuan 29 (42,7%). Dari 68 pasien, terdapat 74 kasus penyesuaian antibiotik. Jumlah kasus yang sesuai berdasarkan Guideline sebanyak 6 kasus dan ketidaksesuaian sebanyak 68 kasus. Kesimpulan yang didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kesesuaian pemberian antibiotik definitif dengan clinical outcome pasien, ditunjukkan dengan penghitungan berdasarkan nonparametric test (p>0,05).
PENGARUH FAKTOR RESIKO TERHADAP KEJADIAN ILO PADA PASIEN BEDAH OBSTETRI DAN GINEKOLOGI DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA Sumarningsih, Pebriati; Yasin, Nanang Munif; Asdie, Rizka Humardewayanti
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.244 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.47986

Abstract

Infeksi nosokomial merupakan penyebab utama  tingginya angka kematian dan kesakitan di dunia. Menurut WHO,  infeksi luka operasi merupakan  jenis infeksi nosokomial kedua  terbanyak setelah infeksi saluran kemih. Infeksi Luka Operasi merupakan komplikasi pasca bedah obstetri dan ginekologi, 8-10%  dari pasien  bedah obstetri dan ginekologi beresiko mengalami infeksi luka operasi.Rancangan penelitian ini adalah cohort dan melibatkan pasien bedah obstetri dan ginekologi yang menerima antibiotik profilaksis di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Data diambil melalui prospektif observasional, yaitu dengan melakukan observasi selama periode Maret-April 2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor resiko kejadian infeksi luka operasi. Faktor resiko dalam penelitian ini yaitu usia, jenis kelamin, IMT, status merokok, status imunitas, skor ASA, jumlah perdarahan, lama dirawat sebelum operasi dan durasi operasi. Luaran klinik berupa kejadian ILO diamati secara periodik hingga hari ke-30 setelah operasi. Hubungan faktor risiko terhadap kejadian ILO dianalisis dengan uji statistika pearson chi square.Pada penelitian ini kejadian infeksi luka operasi terjadi pada 14 subjek penelitian dari total 72 subjek penelitian (19 %). Hasil analisis univariat diperoleh bahwa faktor yang mempunyai hubungan bermakna terhadap kejadian ILO adalah BMI dimana dari 14 kejadian ILO 50% dialami oleh pasien dengan BMI ? 30 dengan p-value 0,016. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok usia 18-59 tahun dengan kelompok usia 60 tahun keatas terhadap kejadian infeksi luka operasi. Demikian juga waktu pemberian antibiotik, skor ASA, riwayat merokok, kadar albumin pre operasi, lama perawatan pre operasi, lama operasi, kelas operasi dan volume perdarahan tidak ada perbedaan bermakna dengan kejadian infeksi luka operasi (p value> 0,05).
EVALUASI PENGELOLAAN OBAT PADA TAHAP PERENCANAAN DAN PENGADAAN DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN PATI Aisah, Nur; Satibi, Satibi; Suryawati, Sri
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.976 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.47972

Abstract

Pengelolaan obat yang efektif dan efisien adalah untuk menjamin ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat. Rendahnya tingkat ketersediaan obat di fasilitas kesehatan dipengaruhi ketepatan perencanaan dan gangguan suplai obat pada proses pengadaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan pada proses perencanaan dan pengadaan di Dinas Kesehatan Kabupaten Pati. Penelitian ini menggunakan desain diskriptif kualitatif. Metode pengambilan data dengan wawancara mendalam kepada 7 informan terpilih yang menguasai perencanaan dan pengadaan obat. Transkrip wawancara di analisis dengan content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses perencanaan dan pengadaan belum berjalan dengan baik. Pada proses perencanaan, kepatuhan terhadap formularium nasional masih kurang, perubahan prevalensi penyakit mempengaruhi ketepatan dalam perencanaan obat. Pada proses pengadaan, terjadi keterlambatan pengiriman dan kekosongan obat oleh indutri farmasi. Faktor-faktor yang menghambat perencanaan dan pengadaan: (1) kegagalan suplai obat; (2) Kurangnya tenaga apoteker di Puskesmas dan staf yang mempunyai sertifikat pengadaan (3) Belum optimalnya sistem informasi e-logistik

Page 1 of 16 | Total Record : 152