cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jepara,
Jawa tengah
INDONESIA
Isti`dal : Jurnal Studi Hukum Islam
ISSN : 23560150     EISSN : 26146878     DOI : -
Core Subject : Social,
Isti`dal : Jurnal Studi Hukum Islam is a journal published by the Faculty of Sharia and Law, Islam Nahdlatul Ulama University, Jepara Indonesia. The journal focuses on Islamic law studies, such as Islamic family law, Islamic criminal law, Islamic political law, Islamic economic law, Islamic astronomy (falak studies), with various approaches of normative, philosophy, history, sociology, anthropology, theology, psychology, economics and is intended to communicate the original researches and current issues on the subject.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2016)" : 8 Documents clear
Urf dan Fungsinya Sebagai Media Akomodasi Budaya dalam Pengembangan Hukum Islam Musfiroh, Mayadina Rohmi
Isti`dal : Jurnal Studi Hukum Islam Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UNISNU Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana metode al Urf relevan sebagai salah satu alternatif memecahkan persoalan masyarakat serta mengetahui sejauh mana urf aplicable dalam membumikan nilai-nilai ajaran islam. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif-kualitatif dan menggunakan pendekatan content analysis. Hasil analisis akan digunakan untuk menguatkan argumentasi metodologis spiritual tentang keabsahan pemberlakukan urf dan fungsinya sebagai media untuk mengakomodasi masuknya budaya dalam pengembangan hukum Islam.
MASLAHAH PADA PARADIGMA KONSUMSI PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM Nafisah, Zahrotun Nafisah
Isti`dal : Jurnal Studi Hukum Islam Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UNISNU Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKDalam ekonomi syariah, konsumen selalu dinyatakan sebagai tujuan untuk memperoleh  kepuasan (utility) tersendiri dalam mengkonsumsi suatu barang atau jasa. Secara umum, pemenuhan terhadap kebutuhan tersebut akan memberikan dampak yang signifikan terhadap spiritual, fisik, intelektual dan material. Sedangkan pemenuhan keinginan akan dapat menambah kepuasan atau manfaat psikis disamping manfaat lainnya. Ajaran Islam tidak melarang manusia untuk memenuhi kebutuhan maupun keinginannya, selama pemenuhan tersebut dapat meningkatkan martabatnya. Sebagaimana semua yang ada di bumi ini diciptakan untuk kepentingan manusia, namun manusia diperintahkan untuk mengonsumsi barang dan jasa yang halal dan baik saja secara wajar, tidak berlebihan. Pemenuhan kebutuhan dan keinginan tetap diperbolehkan selama hal tersebut sejalan dengan mashlahah atau tidak mendatangkan mudharat. Penelitian ini merupakan library research yang merujuk pada sumber-sumber primer maupun sekunder berupa buku-buku yang relevan dengan kajian yang diteliti.  Kata Kunci : Konsumsi, Maslahah, Ekonomi, Islam.
Kedudukan dan Perlindungan Tanah Wakaf yang tidak Bersertifikat Wakaf Menurut Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 Arifin, Miftah
Isti`dal : Jurnal Studi Hukum Islam Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UNISNU Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11578.082 KB)

Abstract

Artikel ini berusaha untuk mengupas kedudukan tanah wakaf yang tidak bersertifikat dengan berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 4l Tahun 2004. Maka dari itu, rumusan masalah yang akan dijawab dalam artikel ini di antaranya: Pertama, bagaimana kekuatan dan perlindungan hukum terhadap tanah wakaf yang belum bersertifikat? Kedua, langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk mengamankan tanah wakaf yang belum bersertifikat agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari? Hasil dari tulisan ini menunjukkan bahwa kedudukan tanah yang tidak mempunyai sertifikat atau Akta Ikrar Wakaf (AIW) tidak akan memiliki kekuatan hukum. Tanah wakaf yang tidak mempunyaiAIW biasanya ikrar wakafnya tidak dilakukan di hadapan pegawai pencatat wakaf, atau biasa dikenai dengan istilah "di bawah tangan". Maka dari itu, tanah wakaf tersebut belum dicatatkan, dan tidak mempunyai bukti telah terjadi sebuah wakaf. Sehingga, apabila di kemudian hari terjadi konflik, maka nadzir wakaf tidak bisa mempertahankan tanah wakafnya tersebut karena tidak ada bukti bahwa tanah tersebut telah diwakafkan.
Ihsan Sebagai Puncak Ibadah; Studi Pemikiran Tasawuf Ibnu Qayyim Al-jauziyyah Barowi, Ahmad
Isti`dal : Jurnal Studi Hukum Islam Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UNISNU Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan mengenai bagaimana konsep ibadah Ibnu alJauztyyah serta bagaimana pola pemikirannya dalam menkonsep ibadah. Hasil Qayyim temuan penelitian kepustakaan ini menunjukkan, bahwa Ibnu Qairyim allauziyyah membuat konsep ibadah dengan formulasi sufiyah, yaitu dengan cara menggabungkan pola-pola tasawuf yang pernah dibangun oleh Imam-Imam sufi sebelumnya. Menurutnya, seluruh kegiatan positif manusia yang dilakukan dengan niat yang ihklas karena Allah, penuh rasamahabbah dan khuduh adalah “ibadah” Yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah SwT dengan sedekat mungkin. Untuk memperoleh derajat itu, seorang abid harus menempuh perjalanan dari tahapan ibadah, naik ke tahapan ubudiyah dan berpuncak pada tahapan ubudah. Adapun mengenai pola yang ditempuh Ibnu Qayyim al-Jauziwah dalam mengkonsep ibadah, ia menggunakan acuan ayat yang termuat dalam surat al-Fatihah ayat 4, yang berbunyi "Iyyaka nabudu wa iyyaka nastain". Dua penggal kalimat ini menurutnya memuat berbagai manzllah (manaful)lstasiun –stasiun yang harus disinggahi oleh para salik gana meraih manztlah "Ihsan" . Manztlah lhsan adalah manrulah tertinggi. Dalam ibadah kaum sufi, (ia berada dalam ubudah). Di dalam ihsan termuat kalimat tauhid La ilaha illa Allah . Barang siapa mampu menempati manztlah ini, maka ia akan memperoleh kebahagiaan yang abadi.
PENDAYAGUNAAN ZAKAT PRODUKTIF; Studi Analisis di Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Jepara Choeri, Imron
Isti`dal : Jurnal Studi Hukum Islam Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UNISNU Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article aims to discuss how the source, the use, and the management of  the  Zakat funds   by the National  Zakat Board of  Jepara Regency? The results showed that in zakat management by the National Zakat Board of Jepara in outline has been carried out in accordance with the provisions of Islamic law, both in fundraising, management and distribution. First, the county charity fund source Jepara obtained through cooperation with the government, in cooperation with UPZ districts, proactive by officers, as well as independently conducted by muzakki to deliver the funds to the charity BAZNAS Jepara district office or transfers through accounts that have been provided. One of the success factors in the acquisition of the source of funding is through the role of regent of Jepara Jepara Regent circular requiring all employees issued zakat by cutting salaries through the treasurer. Second, management of zakat funds already done optimally performed by BAZNAS Jepara regency good for consumptive activities and productive. Third, the utilization of Zakat funds is not maximized for productive activities that do not have an impact on poverty alleviation efforts in the district of Jepara. Keywords: Islamic Law, Zakat Productive, Poverty Alleviation
Perkawinan Masyarakat Samin dalam Perpektif Sosiologis dan Teologi Kamto, Kamto
Isti`dal : Jurnal Studi Hukum Islam Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UNISNU Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini hendak mendiskusikan mengenai masyarakat samin serta kebudayaan yang ada di dalamnya. Salah satu bentuk kebudayaan masyarakat samin dapat terlihat dalam adat perkawinan mereka. Komunitas masyarakat samin di tanah air adalah salah satu dari heteroganitas bangsa yang kaya akan budaya dan corak kehidupan yang memiliki makna dan pesan-pesan filosofis untuk kalangan mereka. Inti ajaran samin ingin mengajak kepada manusia untuk memahami nilai-nilai kehidupan yakni penuh kejujuran serta kesederhanaan dan apa adanya, tanpa ada paksaan. Berlaku baik dan jujur merupakan syarat utama orang yang hidup di dunia ini, bahkan sikap tersebut bisa menjadi teladan bagi anak keturunannya. Ajaran Samin juga merupakan gerakan kebatinan dengan menggunakan Agama Nabi Adam sebagai legalitasnya. Pernikahan yang di praktekkan oleh masyarakat Samin tersebut merupakan tradisi atau kebudayaan yang berlaku secara turun temurun sebagai bagaian dari kekayaan kebudayaan bangsa. Keunikan dari tradisi pernikahan ala Samin ini terlihat pada kesepakatan calon suami dan istri yang saling menyatakan padha dhemene ( saling suka sama suka ) dan tanpa intervensi sedikitpun dari orang tua serta pengambilan jodoh dari dalam kelompok sendiri.
Questioning Waria’s Subject Position in Social and Religious Lives; Nahdlatul Ulama Activists and Waria Santri Religious Practice Partnering Program at the Pesantren Waria Al-fatah Yogyakarta Widyantoro, Hary
Isti`dal : Jurnal Studi Hukum Islam Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UNISNU Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mendiskusikan dinamika para aktifis dari Universitas Islam Nahdlatul Ulama melakukan proses berpikir kembali tentang posisi subjek waria dalam kehidupan sosial agama, lalu menggagas ide tentang program Pendampingan Praktek Keagamaan Waria bekerja sama dengan santriwaria. Permasalahan LGBT sendiri dalam kehidupan sosial. Agama telah menjadi isu yang menyita perhatian banyak aktifis, peneliti, dan akademisi, seperti Scott Kugle dan Kecia Ali. Program yang digagas para aktifis ini adalah salah satu gerakan yang menjawab permasalahan waria sebagai bagian dari LGBT sebagai fenomena globai, yang terinspirasi oleh argumen bahwa Islam sebagai agama rahmat untuk semua umat manusia. Maka, program ini menjadi tandingan terhadap asumsi dominan bahwa waria adalah penyimpangan dan dilarang agama. Studi ini menemukan bahwa proses berpikir yang dilakukan para aktifis ini bermula dari kritisisme terhadap ide "gender binary," lalu sampai pada pemikiran bahwa ada kekosongan hukum terkait fiqh yang berbicara soal waria, dan pengkategorisasian waria sebagai mukhanats. Proses ini selanjutnya membawa mereka kepada gagasan untuk menjalankan progam pendampingan ini, di mana diskusi tentang waria dalam kehidupan sosial-agama dilakukan.
Urgensi Maqasid Syari’ah dalam Membangun Keluarga Sakinah di Era Globalisasi Nasuka, Moh
Isti`dal : Jurnal Studi Hukum Islam Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UNISNU Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9066.968 KB)

Abstract

Tujuan berumah tangga adalah untuk membangun kehidupan keluarga yang sakinah, damai, tenang, dan tenteram. Namun dalam realitanya tidak sedikit problematika yang dihadapi dalam kehidupan keluarga di era globalisasi ini. Dampak globalisasi sangat cepat dan luas dalam berbagai bidang diantaranya bidang perdagangan, tekonologi informasi dan komunikasi, sosial, budaya, agama, hukum, politik, dan bidang lainnya. Untuk menghadapi serangan budaya globalisasi ini, diperlukan ketahanan diri yang dibentuk dalam ketahananan keluarga dan kekuatan iman yang diaplikasikan dalam kehidupan. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang tujuan, ciri-ciri keluarga sakinah dan berbagai problematikanya, globalisasi dan pengaruhnya terhadap kehidupan keluarga, pentingnya membangunan keluarga sakinah, juga memberikan sumbangan pemikiran urgensi maqagid syarl?ah dalam membangun keluarga sakinah.

Page 1 of 1 | Total Record : 8