cover
Contact Name
Siska Amelia
Contact Email
siska.kresno@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mahardika.kresno@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Mitra Pendidikan
ISSN : 26147254     EISSN : 25500481     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Mitra Pendidikan adalah Jurnal hasil penelitian dalam bidang pendidikan. Isi jurnal ini diharapkan menjadi inspirasi para Tenaga Pendidik dalam pengembangan profesinya
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 2 No 4 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi April" : 8 Documents clear
MENINGKATKAN KEAKTIFAN BERTANYA DAN KEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MUATAN PELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN STAD SISWA KELAS 2 SD NEGERI SALATIGA 02 Sulistyowati, Endah
e- Jurnal Mitra Pendidikan Vol 2 No 4 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi April
Publisher : Kresna Bina Insan Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.288 KB)

Abstract

Tujuan menerapkan model pembelajaran STAD untuk meningkatkan keaktifan bertanya siswa dan kemampuan menyelesakan soal cerita matematika siswa kelas 2 SD Negeri Salatiga 02. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 2 SD Negeri Salatiga 02 yang berjumlah 43 siswa.  Pelaksanan dilaksanakan selama dua siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahapan: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi, selain itu setiap siklus ada dua kali pertemuan. Siklus I dilaksanakan pada minggu terakhir bulan Februari 2018. Keaktifan bertanya siswa pada siklus I pertemuan pertama item yang terlaksana hanya 20% dan pertemuan kedua meningkat menjadi 45%. Hasil tersebut belum maksimal. Pada siklus II keaktifan bertanya siswa meningkat kembali yaitu pertemuan pertama item yang terlaksana 67% dan pertemuan kedua 83%. Hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada siklus I dilaksanakan pada setiap akhir pertemuan siklus I dengan ketuntasan klasikal 56% atau 28 siswa yang tuntas, kemudian pada siklus II meningkat mencapai 84% atau 36 siswa tuntas.
PEMANFAATAN SIMULATOR DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN BERNAVIGASI TARUNA AKADEMI PELAYARAN NIAGA INDONESIA Hartanto, Cahya Fajar Budi
e- Jurnal Mitra Pendidikan Vol 2 No 4 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi April
Publisher : Kresna Bina Insan Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.775 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan simulator terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan bernavigasi taruna Akpelni. Hipotesis penelitian ini adalah bahwa pembelajaran dengan menggunakan simulator dinilai akan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan taruna dalam bernavigasi. Penelitian dilakukan selama dua tahun dengan mengevaluasi hasil ujian akhir dari program pelatihan simulator untuk taruna pada tahun akademik 2015/2016 dan 2016/2017. Untuk menguji pengetahuan, taruna diberikan soal ujian tertulis dan untuk menguji keterampilan, taruna harus menyelesaikan skenario di simulator. Dari hasil ujian tahun akademik 2015/2016 didapatkan nilai rata-rata ujian teori 70,54 dan ujian praktek 68,85. Sedangkan untuk tahun akademik 2016/2017 didapatkan nilai rata-rata ujian teori 78,24 dan ujian praktek 68,13. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa inovasi dalam pendidikan kepelautan dengan praktek simulator sebagai salah satu model pembelajaran adalah sangat baik, namun proses pembelajaran di kelas dengan sistem konvensional masih tetap diperlukan karena memegang peranan sekitar 22 – 32%.
ANALISIS STRATEGI PEMBELAJARAN SAINS DENGAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK KELAS V PADA BUKU TEMATIK TEMA 8 SUB TEMA 3 MEMELIHARA EKOSISTEM Mastiyah, Siti
e- Jurnal Mitra Pendidikan Vol 2 No 4 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi April
Publisher : Kresna Bina Insan Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.118 KB)

Abstract

ANALISIS STRATEGI PEMBELAJARAN SAINS  DENGAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK KELAS  V PADA BUKU TEMATIK TEMA 8  SUB TEMA 3 MEMELIHARA EKOSISTEM   Siti Mastiyah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Konsentrasi Sains Universitas Islam Negeri Sunan KaliJaga Yogyakarta, Indonesia mastiyahs@gmail.com   Abstrak   Agar pengajaran menjadi lebih efektif dan afektif, pembelajar seharusnya dipahami lebih dari sekedar penerima pasif pengetahuan, melainkan seseorang yang secara aktif  terlibat dalam proses pembelajaran yang diarahkan oleh guru  menuju lingkungan kelas yang nyaman dan kondisi emosional, sosiologis, psikologis,  dan fisiologis yang kondusif. Selain itu yang membuat pengajaran menjadi afektif adalah bagaimana guru berusaha menjadi panutan (modelling) dengan memperlihatkan kepribadian  dan sikapnya yang positif, berpengalaman dalam mengajar, cakap dalam menyampaikan informasi, reflektif, dan  motivatoris.  Pemilihan strategi dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan sub materi, dan perkembangan pada psikologi anak, agar tujuan dalam pembelajaran dapat tercapai dan berjalan seoptimal mungkin, selain itu anak mampu dan mudah menyerap materi yang disampaikan oleh pendidik,  adapun tugas pendidik yaitu  menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran. Kata Kunci: Strategi Pembelajaran, Sains, Psikologi Perkembangan, buku Tematik   Pendahuluan Peserta didik sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial, memerlukan situasi pendidikan yang mendorong dirinya untuk mampu berkembang sesuai dengan potensi masing-masing. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. Efesiensi dan keefektifan pembelajaran dalam proses interaksi belajar yang baik adalah segala daya upaya guru untuk membantu peserta didik agar bisa belajar dengan baik. Guru memiliki peran yang sangat vital dan fundamental dalam membimbing, mengarahkan, dan mendidik peserta didik dalam proses pembelajaran. Seorang guru tidak hanya dituntut sebagai pengajar yang bertugas menyampaikan materi pelajaran tertentu, tetapi juga harus berperan sebagai pendidik. Peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Gaya belajar adalah cara di mana anak-anak menerima informasi baru dan proses yang akan mereka gunakan untuk belajar. Sebagian anak menerima informasi lebih baik dengan cara visual. Sebagian lagi dengan cara auditori. Sedangkan yang lain mungkin lebih efektif mengambil informasi dengan cara kinestetik. Gaya belajar dapat memupuk bakat dan kekuatan anak, tetapi jika tidak dipahami dan ditunjang, maka justru dapat mengganggu belajar saat beberapa area lemah dan kompetensi yang mereka butuhkan tidak terpenuhi. Sebagai seorang pendidik harus mampu memilih strategi pembelajaran yang tepat bagi peserta didiknya. Karena itu dalam memilih strategi pembelajaran, pendidik harus memperhatikan keadaan atau kondisi peserta didik, bahan pelajaran serta sumber-sumber belajar yang ada agar penggunaan strategi pembelajaran dapat diterapkan secara efektif dalam menunjang keberhasilan belajar peserta didiknya. Pada kesempatan kali ini penulis akan mencoba menganalisis strategi pembelajaran yang terdapat pada buku guru tema tema 8, memelihara ekosistem di kelas V Sekolah Dasar.   Hasil dan Pembahasan Pengertian Strategi Pembelajaran Makna Strategi Strategi berasal dari kata benda dan kata kerja dalam bahasa Yunani yaitu strategy. kata benda yaitu strategos yang merupakan gabungan kata stratos (militer) dengan “ego” (memimpin). Sebagai kata kerja yaitu stratego yang berarti merencanakan (to plan).[1] Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal. Dengan demikian strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Ada dua hal yang patut kita cermati dari pengertian di atas. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk pengunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada peroses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapain tujuan. Dengan demikian, penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagi fasilitas dan sumber belajar semuanya di arahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Oleh sebab itu, sebelum menetukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi.[2] Strategi adalah prosedur atau langkah-langkah teknis yang harus ditempuh untuk menerapkan metode pembelajaran tertentu di kelas.[3] Makna Pembelajaran Pembelajaran dapat dikatan sebagai hasil dari memori, kognisi, dan metakognisi, yang berpengaruh terhadap pemahaman. Hal inilah yang terjadi ketika seseorang sedang belajar, dan kondisi ini juga sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, karena belajar merupakan proses alamiah setiap orang. Wenger mengatakan. “pembelajaran bukanlah aktifitas, sesuatu yang dilakukan oleh seseorang ketika ia tidak melakukan aktivitas yang lain . pembelajaran bisa terjadi dimana saja dan pada level yang berbeda-beda, secara individual, kolektif ataupun sosial”. Pada dasarnya pembelajaran dapat dikatakan sebagai proses modifikasi dalam kapasitas manusia yang bisa dipertahankan dan ditingkatkan levelnya. Selama proses ini, seseorang bisa memilih untuk melakukan perubahan atau tidak sama sekali terhadap apa yang ia lakukan. Ketika pembelajaran diartikan sebagai perubahan dalam perilaku, tindakan, cara, dan performa, maka konsekuensinya jelas: kita bisa mengobservasi bahkan mengverivikasi pembelajaran itu sendiri sebagai objek.[4] Makna Strategi Pembelajaran  strategi dapat diartikan sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi juga bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Adapun tujuan strategi pembelajaran adalah terwujudnya efisiensi dan efektivitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik.[5] Menurut Sanjaya (2007 : 126) Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sedangkan menurut Suyono dan Hariyanto,[6] strategi pembelajaran adalah rangkaian kegiatan dalam proses pembelajaran yang terkait dengan pengelolaan siswa, pengelolaan guru, pengelolaan kegiatan pembelajaran, pengelolaan lingkungan belajar, pengelolaan sumber belajar dan penilaian agar pembelajaran lebih efektif dan efesien sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan suatu serangkaian rencana kegiatan yang termasuk didalamnya penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam suatu pembelajaran. Strategi pembelajaran disusun untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Strategi pembelajaran didalamnya mencakup pendekatan, model, metode dan teknik pembelajaran secara spesifik.         Pertimbangan Pemilihan Strategi Pembelajaran Berbagai jenis strategi pembelajaran dapat dikelompokkan berdasarkan berbagai pertimbangan. Menurut Winata putra (2003) ada beberapa pertimbangan dalam hal ini, yaitu:[7] Berdasarkan pertimbangan proses pengolahan pesan Strategi deduktif, dengan strategi deduktif materi atau bahan pelajaran diolah dari mulai yang umum, generalisasi atau rumusan ke yang bersifat khusus atau bagian-bagian itu dapat bersifat atribut atau cirri-ciri. Strategi deduktif dapat digunakan dalam mengajarkan konsep, baik konsep konkret maupun konsep terdefinisi Strategi induktif, dengan strategi induktif materi atau bahan pelajaran diolah mulai dari yang khusus (sifat cirri atau atribut) ke yang umum, generalisasi atau rumusan. Strategi induktif dapat digunakan dalam mengajarkan konsep, baik konsep konkret maupun konsep terdefinisi Berdasarkan pertimbangan pihak pengolah pesan strategi Ekspositorik, dengan strategi ekspositorik bahan atau materi pelajaran diolah oleh guru. Siswa tinggal “terima jadi” dari guru. Dengan strategi ekspositorik guru yang mencari dan mengolah bahan pelajaran, yang kemudian menyampaikanya kepada siswa. Strategi ekspositorik dapat digunakan di dalam mengajarkan berbagai materi pelajaran, kecuali yang sifatnya pemecahan masalah. Strategi Heuristik, dengan strategi heuristik bahan atau materi pelajaran diolah oleh siswa. Siswanya yang aktif mencari dan mengolah bahan pelajaran. Guru sebagai fasilitator memberikan dorongan arahan, dan bimbingan. Dengan strategi heuristik diharapkan siswa bukan hanya paham dan mampu melakukan suatu pekerjaan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, akan tetapi juga akan terbentuk sikap-sikap positif, seperti: kritis, kreatif, inovatif, mandiri, terbuka, Berdasarkan pertimbangan interaksi Guru dengan Siswa Strategi tatap muka, akan lebih baik dengan menggunakan alat peraga. Strategi pengajaran melalui media, guru tidak langsung kontak dengan siswa, akan tetapi guru “mewakilkan” kepada media. Siswa berinteraksi dengan media. Terdapat beberapa strategi pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran, tetapi tidak semuanya sama efektifnya dapat mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itu dibutuhkan kreativitas guru dalam memilih strategi pembelajaran yang tepat.   Jenis-jenis Strategi Pembelajaran Penggunaan strategi dalam proses pembelajaran sangat diperlukan untuk mempermudah proses tersebut sehingga dapat mencapai hasil yang optimal. Tanpa strategi yang jelas, proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan efektif dan tidak akan terarah pada tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Question Students Have Question Students Have merupakan strategi yang melatih peserta didik agar memiliki kemampuan dan ketrampilan bertanya.[8] Langkah-langkah dalam pembelajaran Question Students Have adalah sebagai berikut: Membagikan kartu kosong kepada setiap peserta didik dalam setiap kelompok Peserta didik menulis beberapa pertanyaan tentang hal-hal yang berkaitan dengan materi Pertukaran kartu Tanya dengan anggota kelompok lain Setiap kelompok menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut   Picture and Picture  Picture and Picture merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. Gambar ini menjadi perangkat utama dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah dalam pembelajaran Picture and Picture adalah sebagai berikut: Menyajikan materi sebagai pengantar Guru menunjukkan gambar-gambar kegiatan yang berkaitan dengan materi Guru menunjuk siswa secara bergantian untuk mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis Guru menanyakan alas an dasar pemikiran urutan gambar tersebut Dari urutan gambar tersebut guru mulai menanamkan konsep materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.   Example Non Example Example non example merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. Strategi ini bertujuan mendorong siswa untuk belajar berpikir kritis dengan memecahkan permasalahan-permasalahan yang termuat dalam contoh-contoh gambar yang disjikan. Strategi Example Non Example  juga ditujukan untuk mengajarkan siswa dalam belajar memahami dan menganalisis sebuah konsep dan siswa lebih leluasa, lebih bebas, lebih mandiri dalam mengerjakan tugas. Siswa diberi kesempatan untuk bereaksi terhadap gagasan, pengalaman, pendekatan dan pengetahuan guru atau temannya dan untuk membangun cara alternatif untuk berfikir dan merasakan. Langkah-langkah dalam pembelajaran example non example adalah sebagai berikut:[9] Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Guru menempelkan gambar di papan tulis. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisis gambar. Melalui diskusi kelompok 5-6 orang peserta didik, hasil diskusi dari analisis gambar tersebut dicatat pada kertas. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. Guru mulai menjelaskan mulai dari pertanyaan, komentar, dan jawaban. Guru dan peserta didik menyimpulkan materi.   Aspek–aspek Perkembangan Peserta Didik Pada Fase Sekolah Dasar Perkembangan dapat diartiakan sebagai “perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati”. Pengertian lain dari perkembangan adalah “perubahan-perubahan yang dialami individu atau organism menuju tingkat kedewasaanya atau kematanganya (maturation) yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmania) maupun psikis (rohaniah).[10] Adapun aspek perkembangan peserta didik yaitu diantaranya: Perkembangan Kognitif Menurut Piaget mengatakan bahwa seorang anak mulai membangun pemahamanya tentang dunia, otak yang berkembangpun membentuk skema. Ini merupakan tindakan-tindakan atau representasi mental yang mengorganisasikan pengetahuan. Dalam teori piaget anak-anak yang lebih tua memiliki skema-skema yang meliputi  berbagai strategi dan perencanaan untuk mengatasi persoalan. Sebagai contoh, seorang anak yang berusia 5 tahun mungkin telah memiliki suatu skema yang meliputi strategi mengklasifikasikan objek-objek sesuai ukuran, bentuk atau warna.[11] Aspek atau domain kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).[12] Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif terdapat enam jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Kenem jenjeng yang dimaksud adalah (1) pengetahuan, hafalan, ingatan (knowledge), (2) pemahaman (comprehension), (3) penerapan (application), (4) analisis (analysis), (5) sintesis (synthesis), (6) penilaian (evaluation).[13] Pengetahuan (knowledge) adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus dan lain-lain tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakanya. Pemahaman adalah kemampuan seseorang untuk mengerti dan memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan di ingat. Penerapan adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tatacara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus teori-teori dan sebagainya. Dalam situasi yang baru kongkret bisa juga disebut suatu persoalan. Analisis adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian tersebut Sintesis adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Sintesis merupakan suatu proses berfikir yang memadukan bagian-bagian atau unsure-unsur secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang berstruktur atau berbentuk pola baru. Penilaian atau evaluasi merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi nilai atau ide.   Perkembangan Sosial Syamsu Yusuf (2007) menyatakan bahwa Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial.[14] Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagao proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi ; meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama. Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya. Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain telah dirsakan sejak usia enam bulan, disaat itu mereka telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah (tidak senang mendengar suara keras) dan kasih sayang.[15]  Sunarto dan Hartono (1999) menyatakan bahwa : “Hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial mulai dari tingkat sederhana dan terbatas, yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian tingkat hubungan sosial juga berkembang amat kompleks. Dari kutipan diatas dapatlah dimengerti bahwa semakin bertambah usia anak maka semakin kompleks perkembangan sosialnya, dalam arti mereka semakin membutuhkan orang lain. Tidak dipungkiri lagi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan mampu hidup sendiri, mereka butuh interaksi dengan manusia lainnya, interaksi sosial merupakan kebutuhan kodrati yang dimiliki oleh manusia. c) Perkembangan Bahasa bahasa adalah sarana komunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini tercakup semua cara berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat atau gerak dengan menggunakan kata-kata, kalimat bunyi, lambang, gambar atau tulisan. Dengan bahasa semua manusia dapat mengenal dirinya sesame manusia, alam sekitar, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral atau agama.[16] Usia sekolah dasar ini merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata (vocabulary) pada awal masa ini, anak sudah menguasai sekitar 2.500 kata. Dengan dikuasainya ketrampilan membaca dan berkomunikasi dengan orang lain, anak sudah gemar membaca atau mendengarkan cerita yang bersifat kritis (tentang perjalanan/petualangan, riwayat para pahlawan dsb). Pada masa ini tingkat berfikir anak sudah lebih maju, dia banyak menanyakan soal waktu dan sebab akibat. Oleh sebab itu, kata Tanya yang dipergunakannya pun yang semula hanya “apa”, sekarang sudah diikuti dengan pertanyaan  “dimana” , “dari mana”, “kemana”, “mengapa”, dan “bagaimana”. pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah proses-proses  yang berlaku  di dalam otak seseorang anak ketika memperoleh bahasa ibunya. Proses-proses ketika anak sedang memperoleh bahasa ibunya terdiri dari dua aspek:  pertama aspek performance yang terdiri dari aspek-aspek pemahaman dan pelahiran, kedua aspek kompetensi. Kedua jenis proses ini berlainan. Proses-proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau kemampuan mempersepsi kalimat-kalimat yang di dengar, sedangkan proses pelahiran melibatkan kemampuan melahirkan atau mengucapkan kalimat-kalimat sendiri. Kedua kemampuan ini apabila telah betul-betul dikuasai seorang anak akan menjadi kemampuan linguistiknya. Kemampuan ini terdiri dari tiga komponen: kemampuan memperoleh fonologi, semantic dan kalimat. Ketiga kompenen ini diperoleh anak secara serentak atau bersamaan. d) Perkembangan Emosi Menurut Sarlito Wirawan Sarwono emosi adalah setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam). Mengenjak usia sekolah, anak mulai belajar untuk mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya. Kemampuan mengontrol emosi diperoleh anak melalui peniruan dan latihan (pembiasaan). Dalam proses peniruan, kemampuan orangtua dalam mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. Apabila anak dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang suasana emosinya stabil, maka perkembangan emosi anak cenderung stabil. Emosi-emosi yang secara umum dialami pada tahap perkembangan usia sekolah ini adalah marah, takut, cemburu, iri hati, kasih sayang, rasa ingin tahu, dan kegembiraan (rasa senang, nikmat atau bahagia).  e) Perkembangan Fisik Pada masa bayi (0-1 tahun) perkembangan fisik anak mengalami kecepatan paling cepat dibandingkan usia selanjutnya. Kemampuan dan ketrampilan yang dapat diberikan pada anak mulai dari berguling, merangkak, duduk, berdiri dan berjalan.[17] Pada usia 2-3 tahun, secara fisik memiliki kesamaan dengan usia sebelumnya namun pada usia ini anak sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada disekitarmya. Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak usia 4-6 tahun aktif melakukan berbagai kegiatan. Hal ini untuk mengembangkan motorik halus dan kasar anak. Pertumbuhan anak usia 7-8 tahun terlihat lebih lambat disbanding usia 5 tahun. Pada usia SD, rata-rata anak bertambah tinggi 2-5 inci, berat badan bertambah 3-5 pon tiap tahun, muncul gigi permanen dan bentuk muka tampak lebih memanjang. Selain itu kemampuan visual anak sudah lebih terkoordinasi dengan baik.  Sehingga anak mulai siap untuk membaca petunjuk  atau mengerjakan tugas yang membutuhkan koordinasi mata dan tangan. [18] Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, dapat dipahami bahwa perkembangan fisik anak usia dini mulai beranjak matan, maka perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap gerakanya sudah selaras dengan kebutuhanya. Selain itu, pada masa ini juga ditandai dengan kelebihan gerak atau aktivitas motorik yang lincah. Oleh karena itu, usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik, seperti menulis, menggambar, melukis, berenang dan sebagainya.   Analisis/Pembahasan Pada tulisan ini pemakalah akan mencoba menganalisis strategi yang terdapat dalam buku tematik Sekolah Dasar/Madrasah Ibtida’iyah buku pegangan guru, kelas V Tema 8 Ekosistem, Subtema 3 Memelihara Ekosistem, pembelajaran 1. Selain menganalisis strategi yang terdapat dalam buku tematik, pemakalah akan menawarkan strategi lain yang dapat digunakan guru dalam pembelajaran ini. Hasil analisis pemakalah sebagai berikut:   Pemetaan kompetensi dasar pembelajaran IPA pada pembelajaran 1   Kompetensi Dasar   3.6 Mengenal jenis hewan dari makanannya dan mendeskripsikan rantai makanan pada ekosistem di lingkungan sekitar 4.6 Menyajikan hasil pengamatan untuk membentuk rantai makanan dan jejaring makanan dari makhluk hidup di lingkungan sekitar yang terdiri dari karnivora, herbivore dan omnivore Indikator Mengidentifikasi cara-cara aliran energi di dalam sebuah ekosistem Membuat laporan investigasi tentang cara-cara aliran energy di dalam ekosistem Tujuan Pembelajaran : Dengan membuat piramida makanan pada ekosistem bersama kelompok, siswa mampu mengidentifikasi cara-cara aliran energi di dalam sebuah ekosistem dengan teliti         Tabel C.1 Hasil Analisis Strategi Pembelajaran Pada Pembelajaran IPA di Buku tematik Kelas V SD/MI                             Strategi                                            Pembelajaran Langkah- langkah Pembelajaran Question Students Have (Pertanyaan dari Siswa) 1.    Bagikan potongan-potongan kertas (kartu Tanya) 2.    Siswa menuliskan pertanyaan 3.    Pertukaran kartu Tanya dengan anggota kelompok lain 4.    Setiap kelompok menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut 1.     Siswa mengamati gambar sebuah rantai makanan ekosistem padang rumput yang terdapat pada buku siswa         2.     Siswa dengan bantuan guru mencoba mengidentifikasi apa saja yang termasuk kedalam rantai makanan ekosistem dalam gambar         3.    Siswa membaca dengan cermat  teks bacaan berjudul energy dan ekosistem         4.    Guru menstimulus rasa ingin tahu siswa tentang aliran energi pada rantai makanan dengan menggunakan gambar piramida makanan           5.    Siswa membuat beberapa pertanyaan pada Kartu Tanya √ √     6.    Siswa mendiskusikan pertanyaan - pertanyaan mereka dengan anggota kelompok lain     √ √   Dari strategi yang telah banyak ada di buku, peneliti sengaja mencari kecocokan atau kemiripin dari strategi  tersebut dengan langkah-langkah pembelajaran guru. Langkah-langkah pembelajaran yang ada di buku guru ada kemiripan  ketika dikaitkan menggunakan strategi Questions students have. Berdasarkan tabel C.1, langkah-langkah strategi Questions students have yaitu membagikan kartu kosong (kartu Tanya) dalam setiap kelompok, sesuai dengan langkah pembelajaran yang ke lima yaitu siswa mem at beberapa pertanyaan pada kartu Tanya. Siswa menuliskan beberapa pertanyaan yang terkait dengan materi sesuai dengan langkah pembelajaran ke lima. Pertukaran kartu Tanya dengan anggota kelompok lain dan Setiap kelompok menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut langkah strategi ini  sesuai dengan langkah pembelajaran yang ke enam yaitu Siswa mendiskusikan pertanyaan - pertanyaan mereka dengan anggota kelompok lain.   Tabel C.2 Hasil Analisis Strategi Pembelajaran Pada Pembelajaran IPA di Buku  Tematik Kelas V SD/MI        Strategi                                 Pembelajaran   Langkah -langkah  Pembelajaran Picture and Picture 1.    Menyajikan materi sebagai pengantar 2.    Guru menunjukkan gambar-gambar kegiatan yang berkaitan dengan materi 3.    Guru menunjuk siswa secara bergantian untuk mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis 4.    Guru menanyakan alasan dasar pemikiran urutan gambar tersebut 5.    Dari urutan gambar tersebut guru mulai menanamkan konsep materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai 1.     Siswa mengamati gambar sebuah rantai makanan ekosistem padang rumput yang terdapat pada buku siswa   √       2.     Siswa dengan bantuan guru mencoba mengidentifikasi apa saja yang termasuk kedalam rantai makanan ekosistem dalam gambar   √ √     3.    Siswa membaca dengan cermat  teks bacaan berjudul energy dan ekosistem √         4.     Guru menstimulus tentang aliran energi pada rantai makanan dengan menggunakan gambar piramida makanan Guru menstimulus rasa ingin tahu siswa   √   √   5.    Siswa membuat beberapa pertanyaan pada Kartu Tanya           6.    Siswa mendiskusikan pertanyaan - pertanyaan mereka dengan anggota kelompok lain             Berdasarkan tabel C.2, Menyajikan materi sebagai pengantar diterapkan pada langkah pembelajaran yang ke tiga, yaitu siswa membaca dengan cermat. Guru menunjukkan gambar-gambar kegiatan yang berkaitan dengan materi diterapkan pada langkah pembelajaran satu, dua, empat, yaitu Siswa mengamati gambar sebuah rantai makanan ekosistem padang rumput yang terdapat pada buku siswa, Siswa dengan bantuan guru mencoba mengidentifikasi apa saja yang termasuk kedalam rantai makanan ekosistem dalam gambar, tentang aliran energi pada rantai makanan dengan menggunakan gambar piramida makanan Guru menstimulus rasa ingin tahu siswa. Guru menunjuk siswa secara bergantian untuk mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis diterapkan pada langkah pembelajaran ke dua yaitu Siswa dengan bantuan guru mencoba mengidentifikasi apa saja yang termasuk kedalam rantai makanan ekosistem dalam gambar. Guru menanyakan alasan dasar pemikiran urutan gambar tersebut diterapkan pada langkah pembelajaran ke empat yaitu tentang aliran energi pada rantai makanan dengan menggunakan gambar piramida makanan Guru menstimulus rasa ingin tahu siswa. Langkah-langkah pembelajaran dalam buku tematik, yaitu pada pembelajaran IPA merupakan langkah-langkah yang menggunakan/memadukan dua strategi pembelajaran. Perpaduan antara strategi question students have dan Picture and Picture merupakan perpaduan yang efektif. Saling melengkapi di setiap langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan. Walaupun dalam penyampaian media gambarnya menggunakan metode Picture and picture. Tidak hanya itu pada langkah pembelajaran yang ada dibuku guru kelas  V tema  8  subtema 3 pada pembelajaran IPA adalah dengan memadukan dua strategi yaitu dengan menggunakan strategi Question Students Have (Pertanyaan dari Siswa )dan Picture and picture.  Selanjutnya dengan memadukan dua strategi ini strategi Question Students Have (Pertanyaan dari Siswa) dan Picture and picture ini juga dianalisis berdasarkan aspek perkembangan siswa pada usiasekolah dasar. Dimana aspek tersebut disesuaikan dengan strategi yang ada dibuku. Pada perpaduan dua strategi ini terdapat aspek kognitif dan sosial. Dimana pada aspek perkembangan kognitif ini lebih ditekankan pada kemampuan  berfikir siswa seperti pada langkah strategi ini siswa diminta menuliskan pertanyaan, setiap kelompok menjawab pertanyaan tersebut dari kelompok lain dan Guru menanyakan alasan dasar pemikiran urutan gambar tersebut, dengan langkah tersebut akan membuat anak berfikir kritis. siswa mencoba mencari atau menemukan jawaban terhadap suatu pertanyaan dari kelompok lain ditandai dengan adanya kreatifitas, seperti mencari sebuah jawaban dari buku materi, artikel dan sumber media cetak atau elektronik.   Sedangkan dalam perkembangan aspek sosial terwujud pada langkah pembelajaran yang ke 3 dan 4, yaitu pertukaran kartu Tanya dengan anggota kelompok lain dan setiap kelompok menjawab petanyaan tersebut. Dalam hal  ini ditandai dengan  adanya interaksi antara guru dengan murid, murid dengan murid (adanya kerja sama antara satu kelompok dan diskusi dalam kelompok.   Tabel C.3 Strategi yang disarankan Oleh Penulis Pada Pembelajaran IPA di Buku  Tematik Kelas V SD/MI                            Strategi                                           Pembelajaran   Langkah -langkah Pembelajaran Example Non Example 1.    Guru mempersipkan gambar-gambar sesuai dengan pembelajaran 2.    Guru menampilkan gambar melalui OHP 3.    Guru memberi petunjuk kepada siswa untuk memperhatikan gambar dan setiap kelompok mencatat hasil diskusi dari analisa gambar tersebut 4.    Tiap kelompok diberikan kesempatan  membacakan hasil diskusinya 1.    Siswa mengamati gambar sebuah rantai makanan ekosistem padang rumput yang terdapat pada buku siswa √ √     2.     Siswa dengan bantuan guru mencoba mengidentifikasi apa saja yang termasuk kedalam rantai makanan ekosistem dalam gambar √ √     3.    Siswa membaca dengan cermat  teks bacaan berjudul energy dan ekosistem       √ 4.    Guru menstimulus rasa ingin tahu siswa tentang aliran energi pada rantai makanan dengan menggunakan gambar piramida makanan √ √     5.    Siswa membuat beberapa pertanyaan pada Kartu Tanya         6.    Siswa mendiskusikan pertanyaan - pertanyaan mereka dengan anggota kelompok lain     √ √   Penulis menyarankan strategi pembelajaran yang sesuai untuk digunakan dalam pembelajaran IPA subtema 3 adalah strategii Exampel Non Example hal itu dilakukan dengan memperhatikan indikator dan langkah-langkah pembelajaran yang terdapat pada buku tematik kelas V SD/MI. Pembelajaran dengan menggunakan Example Non Example adalah pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media untuk menyampaikan materi pelajaran. Adapun tujuan Strategi ini sesuai dengan perkembangan kognitif yang diharapkan yaitu mendorong siswa untuk belajar berfikir kritis dengan memecahkan permasalahan-permasalahan yang termuat dalam contoh-contoh gambar yang disajikan. Tidak hanya itu saja dalam perkembangan kognitif, adanya sebuah media gambar dapat meningkatkan ingatan dan penalaran anak serta membuat siswa berfikir kritis dalam mengembangkan pemahaman yang mendalam mengenai konsep (rantai makanan). Sedangkan dalam aspek sosial dalam strategi Example Non Example terwujud dengan adanya kelompok diskusi dan dalam diskusi tersebut terjadi interaksi secara efektif dengan kelompok lain. Dan dalam aspek perkembangan bahasa dalam langkah strategi yang disarankan lebih ditunjukkan dengan kegiatan siswa membuat kesimpulan dan menuliskan hasil laporan kegiatan. Dengan langkah tersebut, secara tidak langsung siswa harus menyusun kata-kata menjadi kalimat yang digunakan untuk membuat kesimpulan dan menuliskan hasil laporan. Semakin banyak perbendaharaan kata yang dimiliki anak, maka tipe kalimat yang dapat disusun akan akan semakin panjang dan bervariasi. Berdasarkan tabel C.3, langkah-langkah strategi example non example sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang terdapat pada buku tematik. Adapun langkah strategi yang diawali dengan guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan langkah pembelajaran yang ke 1, 2 dan 4 yaitu; Siswa mengamati gambar sebuah rantai makanan ekosistem padang rumput yang terdapat pada buku siswa, Siswa dengan bantuan guru mencoba mengidentifikasi apa saja yang termasuk kedalam rantai makanan ekosistem dalam gambar, Guru menstimulus rasa ingin tahu siswa tentang aliran energi pada rantai makanan dengan menggunakan gambar piramida makanan. Strategi pembelajaran yang ke 2 yaitu guru menampilkan gambar lewat OHP sesuai dengan langkah pembelajaran yang ke 1, 2, dan 4. Langkah strategi yang ke 3 yaitu guru memberi petunjuk kepada siswa untuk memperhatikan gambar dan setiap kelompok mencatat hasil diskusi dari analisa gambar tersebut sesuai dengan langkah pembelajaran yang ke 6 yaitu siswa mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan mereka dengan anggota kelompok lain.     Dan langkah setrategi yang ke empat guru memberikan kesempatan setiap kelompok membacakan hasill diskusinya sesuai dengan langkah pembelajaran yang ke 3 dan 6 yaitu Siswa membaca dengan cermat  teks bacaan berjudul energy dan ekosistem,  siswa mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan mereka dengan anggota kelompok lain.   Penutup Berdasarkan hasil analisis yang peneliti lakukan pada buku guru tema 8, memelihara ekosistem di kelas V Sekolah Dasar strategi yang sesuai dengan buku guru tersebut yaitu strategi question student have dan strategi picture and picture. Peneliti juga menganalisis berdasarkan aspek perkembangan siswa pada usia sekolah dasar. Dimana aspek tersebut disesuaikan dengan strategi yang ada dibuku. Pada perpaduan dua strategi ini terdapat aspek kognitif dan sosial. Penulis juga menyarankan strategi pembelajaran yang sesuai digunakan dalam pembelajaran IPA subtema 3 adalah strategii Exampel Non Example hal itu dilakukan dengan memperhatikan indikator dan langkah-langkah pembelajaran yang terdapat pada buku tematik kelas V SD/MI.   DAFTAR PUSTAKA             Desmita, 2006.  Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Rosdakarya Hardini, Isriani dan Dewi Puspitasari. 2012. Strategi Pembelajran Terpadu, Yogyakarta: Familia. Hisyam Zaini dkk, 2013.  Strategi Pembelajaran. Yogyakarta:  CTSD Huda, Miftahul. 2013. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-isu Metodis dan Paradigmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Ismail, Fajri. 2012.  Evaluasi Pendidikan, Palembang : Rineka Cipta Jahja, Yudrik. 2011.  Psikologi Perkembangan, Jakarta: Kencana Majid, Abdul. 2013.  Strategi Pembelajaran. Bandung: Rosdakarya Offset   Papalia, Diane E. 2008.  Human Development (Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana   Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Peroses Pendidikan, Jakarta: Kencana Santrock, Jhon W. 2007.  Perkembangan Anak, Jakarta :Erlangga Sukardi, Ismail. 2013.  Model-model Pembelajaran Modern. Palembang: Tunas Gemilang Press Suyono dan Hariyanto, 2000.  Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Suprijono, Agus . 2010. Cooperative Learning (Teori dan Aplika PAIKEM),  Yogyakarta: Pustaka Pelajar Yusuf, Syamsu. 2007. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakar       [1] Abdul Majid, Strategi Pembelajaran. (Bandung: Rosdakarya Offset, 2013) hlm. 3. [2]Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Peroses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2007), h.126-127 [3] Ismail Sukardi, Model-model Pembelajaran Modern. (Palembang: Tunas Gemilang Press, 2013),. Hlm. 29 [4] Miftahul Huda, Model-model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-isu Metodis dan Paradigmatis. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 3 [5] Isriani Hardini dan Dewi Puspitasari, Strategi Pembelajran Terpadu, (Yogyakarta: Familia, 2012), hlm.11 [6] Suyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), hlm. 20 [7] Ismail Sukardi, hlm. 47-49 [8] Agus Suprijono, Cooperative Learning (Teori dan Aplikasi PAIKEM),  (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 108 [9] Ibid., hlm. 234 [10] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 15 [11]Jhon W Santrock, Perkembangan Anak, (Jakarta :Erlangga, 2007), hlm 243-244. [12]  Diane E. Papalia, Human Development (Psikologi Perkembangan), (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 323 [13]  Fajri Ismail, Evaluasi Pendidikan, (Palembang : Rineka Cipta, 2012), hlm. 36-40 [14] Syamsu Yusuf,  Psikologi Perkembangan., hlm. 28 [15]  Desmita,  Psikologi Perkembangan. (Bandung: PT. Rosdakarya. 2006), hlm. 36 [16] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan, hlm. 179-180 [17] Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 39 [18]  Sue Bredekamp dan Carol Copple, Developmentally Appropiarte  Practice in Early Childhood Program ( Washington, D.C: National Association For the Education of Young Children, 2002), hlm. 146-147
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS 3 SEKOLAH DASAR Styaningrum, devri Yunia
e- Jurnal Mitra Pendidikan Vol 2 No 4 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi April
Publisher : Kresna Bina Insan Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.912 KB)

Abstract

Abstrak :Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah model pembelajaran Problem Based Lerning(PBL) dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPA siswa kelas 3 SD Negeri Mangunsari 05. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas 3 SDN Mangunsari 05 Salatiga. Data penelitian diperoleh melalui tes, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan persentase kemampuan berpikir kritis siswa yang ini ditunjukkan dengan hasil evaluasi soal berpikir kritis siswa pada evaluasi yang mengacu pada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang sudah ditentukan yaitu 70. Nilai rata-rata ketuntasan belajar siswa secara mengalami peningkatan, ketuntasan awal pra siklus 44% saja, setelah siklus I presentase ketuntasan meningkat menjadi 70%. Setelah dilaksanakan Siklus II presentase ketuntasan menjadi 90%. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir krtitis siswa pada mata pelajaran IPA siswa sekolah dasar.
PENINGKATAN PENGUASAAN KONSEP LUAS PERSEGI DAN PERSEGI PANJANG DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN PMRI DI KELAS III SDN 33 BATIPUH defita, yatisma
e- Jurnal Mitra Pendidikan Vol 2 No 4 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi April
Publisher : Kresna Bina Insan Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.485 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan penguasaan konsep luas persegi dan persegi panjang melalui penerapan pendekatan PMRI. Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari tiga siklus dengan setiap siklusnya melalui tahapan persiapan, pelaksanaan tindakan, pengamatan tindakan, dan refleksi.  Data pada penelitian melalui obsevasi dan tes. Hasil penelitian berupa hasil belajar kognitif pada siklus I sampai siklus III secara berurutan untuk tes sebesar 93.24%, 93.53%, dan 94.12%. Berdasarkan keterlaksanaan pembelajaran dengan pendekatan PMRI, hasil siklus I sampai siklus III secara berurutan sebesar 74%, 80% dan 86%. Berdasarkan lembar observasi kreativitas peserta didik, hasil siklus I sampai siklus III secara berurutan sebesar 61%, 74% dan 79%.
PENERAPAN STRATEGI TTW UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI SISWA KELAS 5 MUATAN BAHASA INDONESIA SDN LEDOK 07 SALATIGA susanti, wahyu tri
e- Jurnal Mitra Pendidikan Vol 2 No 4 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi April
Publisher : Kresna Bina Insan Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.08 KB)

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini yaitu apakah penerapan strategi TTW dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan komunikasi pada muatan mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas 5 SD Negeri Ledok 07 Salatiga?. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendiskripsikan penerapan strategi TTW pada muatan mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan hasil belajar dan kemampuan komunikasi kelas 5 SD Negeri Ledok 07 Salatiga. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan model Kemmis dan Mc Taggart yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa perolehan hasil belajar siswa dengan kategori tuntas pada siklus I dengan presentase 58,97%. Pada siklus II mencapai peningkatan dengan presentase 82,05%. Kemampuan komunikasi pada siklus I kategori baik mencapai 42,02%. Siklus II presentase kategori baik meningkat  mencapai 70,05%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi TTW dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan komunikasi siswa kelas 5 SD Negeri Ledok 07 Salatiga.
ANALISIS PEMANFAATAN SOFTWARE GEOGEBRA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA Evendi, Hanif evendi
e- Jurnal Mitra Pendidikan Vol 2 No 4 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi April
Publisher : Kresna Bina Insan Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.075 KB)

Abstract

Terjadi komunikasi hanya satu arah, yaitu antara guru ke siswa dengan membelajarkan melalui pendekatan ekspositori yang merupakan andalan dalam metode pembelajaran. Oleh karena itu inovasi dalam bidang pendidikan sudah merupakan keharusan, agar dapat menghadapi persoalan dan tantangan jaman yang semakin berkembang. Salah satu media yang merupakan produk inovasi dalam bidang pendidikan adalah Software GeoGebra,  pemanfaatan software GeoGebra sebagai salah satu alternatif media pembelajaran,  diharapkan dapat membantu siswa dan guru dalam mengatasi beberapa kesulitan dalam kegiatan pembelajaran matematika dan merupakan salah satu upaya agar terjadi peningkatan motivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, sehingga kualitas pembelajaran dalam kelas juga ikut meningkat. Tujuan kajian ini adalah menganalisis pemanfaatan software GeoGebra untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran matematika. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kajian pustaka yaitu menganalisis hasil karya penelitian yang sudah dilakukan, di lihat dari segi kekurangan dan kelebihan penggunaan software GeoGebra saat kegiatan pembelajaran matematika berlangsung.
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN PENERAPAN MODEL SAVI PADA SISWA KELAS 5 SDN DUKUH 03 SALATIGA elfiyani, yuni
e- Jurnal Mitra Pendidikan Vol 2 No 4 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi April
Publisher : Kresna Bina Insan Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.315 KB)

Abstract

Hasil belajar matematika siswa kelas 5 SDN Dukuh 03 Salatiga belum sesuai harapan. Berdasarkan data yang diperoleh dari guru kelas, terdapat 9 dari 32 siswa yang tuntas KKM sebesar 70. Selain itu, aktivitas belajar siswa kategori baik juga rendah, terdapat 6 dari 32 siswa dengan aktivitas belajar baik. Oleh karena itu dilakukan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model SAVI guna meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa. Sintak SAVI terdiri atas persiapan, penyampaian, pelatihan dan penampilan hasil. Subjek penelitian adalah siswa kelas 5 SDN Dukuh 03 Salatiga. Penelitian ini menggunakan model Kemmis & Mc Taggart dengan tahap perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Aktivitas belajar siswa pada siklus I mencapai 40,5 % dan mencapai 76,5% siklus II. Hasil belajar matematika siswa tuntas KKM pada siklus I mencapai 53% dan 90,6% pada siklus II. Dengan demikian disimpulkan bahwa penerapan SAVI meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas 5 SDN Dukuh 03 Salatiga.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 4 No 6 (2020): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Juni Vol 4 No 5 (2020): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Mei Vol 4 No 4 (2020): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi April Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Maret Vol 4 No 2 (2020): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Februari Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Januari Vol 3 No 9 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi September Vol 3 No 7 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Juli Vol 3 No 12 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Desember Vol 3 No 11 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi November Vol 3 No 10 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Oktober Vol 3 No 8 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Agustus Vol 3 No 7 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Juli Vol 3 No 6 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Juni Vol 3 No 5 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Mei Vol 3 No 4 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi April Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Maret Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Februari Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Januari Vol 2 No 9 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi September Vol 2 No 8 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Agustus Vol 2 No 7 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Juli Vol 2 No 6 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Juni Vol 2 No 5 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Mei Vol 2 No 4 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi April Vol 2 No 3 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Maret Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Mitra Manajemen Edisi Februari Vol 2 No 12 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Desember Vol 2 No 11 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi November Vol 2 No 10 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Oktober Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Januari Vol 1 No 9 (2017): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi November Vol 1 No 8 (2017): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Oktober Vol 1 No 7 (2017): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi September Vol 1 No 6 (2017): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Agustus Vol 1 No 5 (2017): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Juli Vol 1 No 4 (2017): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Juni Vol 1 No 3 (2017): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Mei Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi April Vol 1 No 10 (2017): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Desember Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Maret More Issue