cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Irigasi
ISSN : 19075545     EISSN : 26154277     DOI : -
Jurnal Irigasi merupakan publikasi ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, pengembangan, kajian dan studi kasus terkait irigasi dan drainase. Ruang lingkup Jurnal Irigasi meliputi survei, investigasi, desain, akuisisi lahan, konstruksi, operasi, pemeliharaan di sistem irigasi yang ditinjau baik dari sisi teknis, ekonomi dan kelembagaan. Terbit pertama kali tahun 1986 dengan nama Jurnal Informasi Teknik dan pada tahun 2006 berganti nama menjadi Jurnal Irigasi. Jurnal Irigasi diterbitkan 2 (dua) kali dalam setahun yakni pada bulan Mei dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 107 Documents
OPTIMASI OPERASI IRIGASI PADA KONDISI DARURAT PASCA BENCANA GEMPA DI DAERAH IRIGASI GUMBASA, SIGI, SULAWESI TENGAH Istianto, Haryo; Sofiyuddin, Hanhan Ahmad
Jurnal Irigasi Vol 14, No 2 (2019): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31028/ji.v14.i2.49-58

Abstract

Kejadian bencana gempa di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah telah merusak Daerah Irigasi Gumbasa. Rehabilitasi jaringan irigasi akan dilaksanakan secara bertahap dimulai  pada tahap I dari bendung hingga ke ruas saluran di BGKn 8 (Sibalaya) yang terdampak likuifaksi. Operasi irigasi perlu dilakukan secara bertahap pada jaringan irigasi yang telah selesai direhabilitasi dan siap diairi sehingga masyarakat sekitar dapat segera bercocok tanam dan tidak kehilangan mata pencaharian. Namun demikian, luas layanan dan debit yang diperlukan jauh lebih rendah dibandingkan desain sehingga akan mengakibatkan beberapa kendala distribusi air. Penelitian ini untuk merumuskan pola operasi irigasi DI Gumbasa pada kondisi darurat dimana debit yang dialirkan jauh lebih kecil dibandingkan debit rencana. Penelitian dilakukan dalam bentuk pengumpulan data dan perumusan skenario operasi irigasi melalui analisis hidraulik. Skenario yang disimulasikan adalah operasi tanpa optimasi, optimasi dengan menggunakan pintu sorong eksisting, dan optimasi menggunakan skotbalok. Berdasarkan hasil permodelan, operasi irigasi tanpa optimasi tidak dapat di lakukan karena elevasi air tidak dapat naik dan mengalir ke saluran sekunder dikarenakan besarnya dimensi saluran primer. Optimasi penggunakan pintu sorong hanya dapat meninggikan elevasi air sebesar ±1 m dari dasar saluran. Selain itu jika optimasi dilakukan dengan penutupan pintu sorong secara total dapat mengakibatkan air melimpas keluar di beberapa lokasi. Pada skenario terakhir pemanfaatan skot balok untuk optimasi merupakan solusi yang terbaik. Skot balok dapat meninggikan air pada ketinggian yang dibutuhkan. Skot balok adalah bangunan yang cukup baik untuk pengatur muka air sementara dimana ketinggian muka air dapat diatur walaupun debit yang mengalir relatif kecil.
ANALISIS KESIAPAN MODERNISASI IRIGASI PADA DAERAH IRIGASI KEWENANGAN PEMERINTAH PROVINSI DI KABUPATEN MOJOKERTO Sari, Dian Puspita; Anwar, Nadjadji; Sidharti, Theresia Sri
Jurnal Irigasi Vol 14, No 1 (2019): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31028/ji.v14.i1.33-45

Abstract

Dalam melaksanakan pengelolaan sistem irigasi pada daerah irigasi kewenangan pemerintah Provinsi Jawa Timur di Kabupaten Mojokerto, Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur mengalami beberapa kendala yaitu jaringan irigasi telah habis umur teknisnya, kurang optimalnya pelayanan irigasi serta terjadinya penurunan kapasitas tampungan air yang ada. Kendala lainnya yaitu adanya pertumbuhan penduduk yang menyebabkan peningkatan kebutuhan penggunaan air, peningkatan kebutuhan pangan, alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman maupun industri serta Daerah Aliran Sungai kritis. Sebagai upaya untuk mengatasi kendala tersebut, selain operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi, diperlukan suatu pembaharuan secara menyeluruh, baik manajerial, institusional maupun teknikal, termasuk sumber daya manusianya, yang dikenal dengan istilah modernisasi irigasi. Sebelum melaksanakan kegiatan modernisasi irigasi, perlu adanya suatu penilaian untuk mengukur tingat kesiapan suatu daerah irigasi dalam melaksanakan kegiatan modernisasi irigasi tersebut. Langkah pertama yaitu menentukan kriteria yang mempengaruhi modernisasi irigasi, dalam hal ini terdapat 5 kriteria dan 34 sub kriteria. Penentuan bobot kriteria dilakukan dengan metode Fuzzy Analytical Hierarchy Process. Kemudian setelah itu, skala prioritas kesiapan daerah irigasi dalam melaksanakan kegiatan modernisasi irigasi ditentukan dengan metode Simple Additive Weighting. Dari 7 daerah irigasi kewenangan pemerintah provinsi Jawa Timur yang ada di Kabupaten Mojokerto, didapatkan skala prioritas bahwa modernisasi irigasi dapat diterapkan pada DI Kromong. Modernisasi irigasi perlu ditunda untuk dilakukan penyempurnaan terlebih dahulu pada DI Mernung, DI Sinoman, DI Penewon, DI Candi Limo, DI Jatikulon, dan DI Subontoro.
AKSELERASI WAKTU PELAPORAN OPERASI IRIGASI MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK BERBASIS WEB SISTEM MANAJEMEN OPERASI DAN PEMELIHARAAN IRIGASI (SMOPI) Sofiyuddin, Hanhan Ahmad; Rahmandani, Dadan
Jurnal Irigasi Vol 14, No 2 (2019): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31028/ji.v14.i2.9-24

Abstract

Pengelolaan irigasi yang lebih efisien saat ini sangat diperlukan dalam menghadapi ketersediaan air yang semakin terbatas dan kebutuhan air untuk selain sektor pertanian yang semakin meningkat. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan ketepatan pemberian air irigasi melalui optimalisasi interval operasi irigasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meminimalisasi waktu pelaporan operasi irigasi menggunakan perangkat lunak berbasis web Sistem Manajemen Operasi Irigasi (SMOPI). Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi waktu minimal yang diperlukan untuk pelaporan operasi irigasi, baik secara manual ataupun menggunakan SMOPI. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk studi kasus di Daerah Irigasi Bondoyudo melalui pengumpulan data dengan cara diskusi dan penyebaran kuesioner serta analisis waktu operasi menggunakan Critical Path Method. Berdasarkan hasil analisis, pelaporan operasi irigasi secara manual membutuhkan waktu 43 jam pada tahap perencanaan tanam, 41 jam pada tahap pengaturan pemberian air, dan 45 jam pada tahap rekapitulasi hasil. Kebutuhan sekitar 5 hari pada tahap pengaturan pemberian air mengindikasikan bahwa interval operasi irigasi eksisting setiap 10 hari cukup aman. Perangkat lunak SMOPI mampu mengakselerasi waktu operasi pada tahap perencanaan tanam, pengaturan pemberian air, dan rekapitulasi hasil masing-masing menjadi 24,5 jam, 14 jam, dan 31,5 jam. Akselerasi ini mengindikasikan bahwa SMOPI dapat digunakan untuk membantu mempersingkat interval operasi irigasi dalam upaya moderinasi irigasi.
TEKNIK IDENTIFIKASI SALURAN IRIGASI PADA CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI DENGAN PENGGABUNGAN KOMPOSIT RGB, INDEKS SALURAN, DAN INTERPRETASI VISUAL Trisakti, Bambang; Nugroho, Udhi Catur; Sofiyuddin, Hanhan Ahmad; Syauqi, Naufal
Jurnal Irigasi Vol 14, No 2 (2019): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31028/ji.v14.i2.1-8

Abstract

Salah satu program penting untuk mendukung program nasional ketahanan pangan adalah pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur jaringan irigasi yang mengalami kerusakan. Data spasial mengenai lokasi jaringan irigasi yang ada saat ini menjadi informasi yang sangat penting untuk kebijakan perluasan daerah irigasi dan pemantauan kerusakan infrastruktur jaringan irigasi. Citra satelit resolusi spasial tinggi seperti SPOT 7 dan Pleiades mampu memperlihatkan secara visual objek-objek permukaan bumi, seperti jalan, sungai dan juga saluran irigasi. Penelitian dilakukan untuk mengembangkan teknik identifikasi saluran irigasi dengan menggunakan citra resolusi tinggi. Teknik identifikasi dilakukan dengan menggabungkan antara citra komposit RGB dengan warna semu, indeks saluran, dan interpretasi visual dengan mengenali karakteristik saluran irigasi. Pembuatan komposit RGB dan indeks saluran dilakukan berdasarkan perbedaan pola spektral dari saluran irigasi dengan pola spektral dari beberapa objek yang mirip. Citra komposit RGB dikombinasikan dengan indeks saluran dapat memperjelas dan memisahkan saluran irigasi dari objek sekitarnya, walaupun dengan kendala terkait lebar saluran dan bayangan tanaman. Teknik intepretasi citra dapat lebih memastikan ketepatan identifikasi dan membedakan saluran irigasi dengan bayangan tanaman. Citra SPOT 6/7 dapat dimanfaatkan untuk identifikasi saluran dengan lebar lebih dari 4 m, dan citra Pleaides untuk saluran kurang dari 4 m. Akurasi total hasil identifikasi saluran irigasi menggunakan citra Pleaides adalah berkisar 82%.
ANALISIS NERACA AIR PADA PENGELOLAAN AIR DALAM SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION-ORGANIK (SRI-ORGANIK) DI JAWA BARAT, INDONESIA Arif, Chusnul; Setiawan, Budi Indra; Saputra, Septian Fauzi Dwi; Mizoguchi, Masaru
Jurnal Irigasi Vol 14, No 1 (2019): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31028/ji.v14.i1.17-24

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa efektifitas irigasi berselang dengan neraca air pada lahan SRI dengan penerapan pupuk organik. Eksperimen dilakukan di Desa Gabus Wetan, Kab. Indramayu, Jawa Barat dari 17 November 2016 sampai 1 Maret 2017. Sensor parameter cuaca dan tanah dipasang di lahan untuk mendapatkan data harian kondisi lapang termasuk pertumbuhan tanaman. Data cuaca seperti hujan, suhu udara, kelembaban udara relatif, dan kecepatan angin dan kedalaman muka air diukur secara otomatis setiap 60 menit. Analisis neraca air dilakukan dengan kesalahan (error) yang rendah  (1,00%) dimana jumlah air masuk melalui hujan dan irigasi sebesar 560 mm dan 865 mm, sedangkan jumlah air keluar melalui evapotranspirasi tanaman, perkolasi, dan limpasan berturut turut sebanyak 430, 306 dan 675 mm. Perbandingan dengan sistem pertanian konvensional dengan irigasi tergenang, menunjukkan bahwa produktivitas air dari SRI organik berturut turut 30% dan 27% lebih tinggi untuk produktivitas air berdasarkan jumlah air masuk dan evapotranspirasi. SRI organik juga memproduksi 33% produksi lebih tinggi dari sistem pertanian konvensional di lokasi yang sama. Kunci keberhasilan irigasi berselang adalah dengan menjaga tinggi muka air dipermukaan tanah (macak-macak) pada fase vegetatif dan generatif.  Oleh sebab itu, cara ini merupakan alternatif pilihan bagi petani ketika sumber daya air berkurang karena perubahan iklim. Diseminasi hasil direkomendasikan melalui program pelatihan dan pendampingan bagi petani.
PENDUGAAN KOMPONEN KESEIMBANGAN AIR DI LAHAN SAWAH DENGAN LINEAR PROGRAMMING Arif, Chusnul; Setiawan, Budi Indra
Jurnal Irigasi Vol 14, No 2 (2019): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31028/ji.v14.i2.79-88

Abstract

Dalam pengelolaan air di lahan sawah, analisis keseimbangan air biasanya digunakan untuk menganalisis efektifitas pemberian air irigasi. Akan tetapi, seringkali dengan keterbatasan peralatan, waktu, dan biaya tidak semua komponen keseimbangan air dapat diukur. Makalah ini menyajikan metode Linear Programming (LP) untuk menduga komponen keseimbangan air di lahan sawah yang tidak terukur. Adapun tujuan studi ini adalah mengembangkan model LP untuk menduga komponen keseimbangan air di lahan sawah seperti irigasi, limpasan dan perkolasi dengan menggunakan data perubahan kelembaban tanah khususnya untuk irigasi tidak tergenang, mengevaluasi performansi model dengan membandingkan data hasil pendugaan dan pengukuran. Studi dilakukan berdasarkan hasil experiment dua musim tanam budidaya padi irigasi tidak tergenang dengan System of Rice Intensification (SRI) di NOSC, Sukabumi Jawa Barat dari tanggal 20 Agustus ? 15 Desember 2011 (musim pertama) dan 22 Maret - 5 Juli 2012 (musim kedua). Model LP yang dikembangkan memiliki fungsi tujuan untuk meminimalisir total selisih kelembaban tanah hasil pengukuran dan pendugaan model. Selain itu, model LP juga memiliki fungsi batas dan kondisi awal yang ditentukan berdasarkan kondisi aktual di lapang. Hasilnya menunjukkan bahwa model LP dapat menduga komponen keseimbangan air dengan akurat dengan indikator nilai R2 > 0.85 (p value < 0.01) dan persen error dibawah 8%. Berdasarkan hasil pendugaan model, komponen irigasi berkontribusi hanya 34-38% dari total air masuk, sedangkan komponen evapotranspirasi tanaman dan perkolasi berkontribusi sebesar 40-44% dan 11-15% dari total air yang keluar. Hujan dan limpasan merupakan komponen yang paling besar berkontribusi pada air masuk dan keluar. Dengan metode ini, maka parameter yang membutuhkan data yang tidak terukur dapat ditentukan seperti efisiensi penggunaan air dan produktivitas air yang membutuhkan data irigasi dalam penentuannya.
PEMBAHARUAN KONSEP PREDIKSI DEBIT ANDALAN UNTUK OPERASI DAN PEMELIHARAAN IRIGASI MODERN Nugroho, Bayu Dwi Apri; Arif, Sigit Supadmo
Jurnal Irigasi Vol 14, No 1 (2019): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31028/ji.v14.i1.25-32

Abstract

Pengelolaan sistem irigasi konvensional yang masih dilakukan sampai saat ini bersifat probabilistik, terutama dalam menganalisis debit untuk perencanaan OP irigasi. Hal ini terlihat dari pelaksanaan analisis data yang digunakan yaitu analisis data empiris dua mingguan atau dasarian, sehingga untuk mengubah pola pengelolaan ke modern memerlukan pengembangan secara lentur dan berbasis waktu nyata, akibat perubahan iklim di Indonesia. Analisis prediksi debit air dilakukan dengan memakai analisis model matematika sebagai pengganti model probalisitik dan penggunaaan data pengamatan waktu nyata dengan memakai alat pengamatan cuaca otomatis. Konsep baru ini dicoba di Daerah Irigasi (DI) Wadaslintang dan Kabupaten Banyumas, yang menunjukkan bahwa pengamatan cuaca otomatis berjalan dengan baik, dan dapat digunakan sebagai data dalam analisis model matematik. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa alat telemetri menghasilkan data yang baik. Perbandingan antara penggunaan Metode Matematika Jaringan Syaraf Tiruan (JST) dengan Metode Probabilistik P80, menunjukkan bahwa metode dengan JST lebih mendekati nyata dibandingkan dengan Probabilistik P80. Hal ini ditunjukkan dengan hasil validasi yang dilakukan dari bulan Januari sampai Agustus 2015, Secara keseluruhan kesalahan debit prediksi JST terhadap realisasi adalah 77%. Hasil ini menunjukkan bahwa diperlukan suatu metode perhitungan matematis yang dinamis, karena keadaan iklim yang dinamis walaupun tidak meninggalkan metode probabilistik sebagai pembanding.
FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KINERJA SISTEM IRIGASI DI WILAYAH SEMI ARID PULAU TIMOR MELALUI PENDEKATAN PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS Nurwiana, Ida
Jurnal Irigasi Vol 14, No 2 (2019): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31028/ji.v14.i2.35-48

Abstract

Sistem irigasi merupakan sistem yang sangat kompleks, meliputi air irigasi, daerah irigasi, prasarana fisik irigasi, sumber daya manusia, kelembagaan irigasi, manajemen, pembiayaan, teknologi partisipasi petani/P3A yang saling terkait untuk menunjang pertanian. Untuk meningkatkan produksi pertanian, upaya-upaya yang dilakukan perlu  dirumuskan dengan memerhatikan kinerja sistem irigasi dan pengaruh setiap faktor terkait. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang berpengaruh terhadap kinerja sistem irigasi daerah irigasi kewenangan kabupaten/kota, provinsi, pemerintah (pusat) di wilayah semi-arid Pulau Timor melalui pendekatan Principal Component Analysis (PCA). Metode analisis komponen utama menggunakan lima belas indikator dari data 345 daerah irigasi. Studi ini menyimpulkan lima belas variabel menunjukkan hubungan signifikan baik positif maupun negatif terhadap kinerja sistem irigasi. Urutan kontribusi terbesar memengaruhi kinerja sistem irigasi dalam model komponen utama adalah aspek kelembagaan, kewenangan daerah irigasi, produktivitas padi, ketersediaan sarana penunjang operasi dan pemeliharaan, tingkat kerusakan saluran pembuang, tingkat kerusakan saluran sekunder dan tingkat kerusakan saluran primer. Intensitas pertanaman total menunjukkan hubungan negatif terhadap kinerja sistem irigasi di wilayah semi-arid dengan keterbatasan air. Sementara itu, luas daerah irigasi, produktivitas padi, tingkat partisipasi petani pemakai air, ketersediaan sarana penunjang operasi dan pemeliharaan, rasio tenaga operasi dan pemeliharaan terhadap luas daerah irigasi, frekuensi pemeliharaan bangunan dan saluran, biaya operasi dan pemeliharaan, biaya rehabilitasi, kewenangan daerah irigasi provinsi menunjukan hubungan positif terhadap kinerja sistem irigasi.
PENINGKATAN INTENSITAS TANAM PADI MELALUI PEMANFAATAN DEBIT SURPLUS SUNGAI, PENERAPAN SUMUR RENTENG, DAN SISTEM GILIRAN Efendi, Ahmad; Harisuseno, Donny; Prayogo, Tri Budi
Jurnal Irigasi Vol 14, No 1 (2019): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31028/ji.v14.i1.1-16

Abstract

Daerah Irigasi (DI) Sumber Pakem mempunyai luas daerah layanan irigasi 1.151 ha terletak di Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso Provinsi Jawa Timur. Sistem pemberian air eksisting di daerah studi belum dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga terjadi permasalahan pembagian air saat musim kemarau serta terjadinya fluktuasi ketersediaan air antara musim hujan dan musim kemarau di Sungai Banyubang. Kelebihan debit pada musim hujan dapat disimpan dan digunakan untuk menambah pasokan irigasi di saat musim kemarau. Untuk itu tujuan dari studi ini adalah untuk mengusulkan pola operasi irigasi alternatif melalui optimalisasi pemanfaatan debit surplus Sungai Banyubang, penerapan sumur renteng, dan penerapan giliran secara intensif. Dalam studi ini, usulan pola operasi tersebut direncanakan dan dievaluasi dampaknya terhadap peningkatan intensitas tanam. Dari hasil studi, optimalisasi pemanfaatan debit surplus sungai pada daerah studi dapat meningkatkan intensitas tanam padi saat Musim Tanam 1 sebesar 2,03% dan Musim Tanam 2 sebesar 27,28%. Debit surplus sungai juga dimanfaatkan untuk mengisi sumur renteng sebanyak 6.599 sumur (103 jaringan) dengan penambahan debit intake sebesar 6,00 l/s selama 135,33 hari. Pengisian sumur renteng dilakukan saat debit sungai berlebih dan sistem pemberian air irigasi dilakukan secara terus-menerus sehingga tidak mengganggu pola pemberian air irigasi pada daerah studi. Air tersimpan di sumur renteng dapat digunakan saat Musim Tanam 3 untuk memenuhi kebutuhan air tanaman tembakau seluas 467 ha. Dengan demikian, luas tanam padi pada periode tersebut dapat meningkat menjadi 684 ha. Penerapan sumur renteng dan sistem giliran secara intensif pada Musim Tanam 3 dapat meningkatkan intensitas tanam padi sebesar 38,02%.
PENINGKATAN EFISIENSI APLIKASI AIR PADA PETAKAN SAWAH DENGAN PENERAPAN IRIGASI EVAPORATIF (KAJIAN TEORITIS) Ardiansyah, -; Setiawan, Budi Indra; Arif, Chusnul; Saptomo, Satyanto Krido
Jurnal Irigasi Vol 14, No 1 (2019): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31028/ji.v14.i1.46-53

Abstract

Meningkatnya kesadaran akan pentingnya pengelolaan air pertanian yang presisi, membutuhkan berbagai ide dan metode untuk penerapannya di sawah. Salah satu ide yang bisa dikategorikan ke dalam pertanian presisi sekaligus teknologi tepat guna, adalah irigasi evaporatif. Evaporative irrigation atau irigasi evaporatif adalah ide untuk mengendalikan pemberian air irigasi berdasarkan respon langsung kebutuhan air tanaman, yaitu evapotranspirasi.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mengkaji aspek teoritis dari irigasi evaporatif untuk diterapkan ke petakan-petakan sawah dalam satu hamparan petakan dengan kesatuan irigasi, (2) meletakkan prinsip-prinsip desain untuk pembukaan-penutupan katup irigasi evaporatif.  Hasil menunjukkan, secara teoritis, diperlukan pipa pengendali yang akan menjadi indikator bagi tebal air pada petakan sawah. Pipa kontroler mengendalikan buka tutup irigasi ke petakan berdasarkan prinsip pelampung-pemberat. Prinsip perancangan dilakukan dengan mensimulasikan penurunan muka air pipa kontroler yang menggambarkan penurunan tebal air petakan. Tebal air yang masih ditolerir untuk pertumbuhan padi menjadi batas bagi pemberian air irigasi ke petakan. Jumlah air irigasi yang diberikan adalah sebesar nilai kebutuhan air tanaman pada fase pertumbuhan padi yang sedang berlangsung. Salah satu contoh perancangan ketinggian air pipa kontroler untuk memulai dan menghentikan irigasi adalah pada ketinggian air 117.8 mm dan 300 mm.  Total kebutuhan air tanaman satu musim tanam terhitung sebesar 625 mm. Dengan penerapan irigasi evaporatif, kondisi awal tanah yang cukup air tidak memerlukan pemberian air irigasi hingga hari ke-31. Pemberian air irigasi setelahnya, hingga panen, hanya memerlukan sebesar 477 mm. Pemberian air ini mengikuti kebutuhan air tanaman yang dihitung dengan basis day-to-day.

Page 1 of 11 | Total Record : 107