cover
Contact Name
Rina Setiana
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.keperawatan@ui.ac.id
Editorial Address
Faculty of Nursing Universitas Indonesia L.E.417 Room, 4th Floor, E Building Health Sciences Cluster Universitas Indonesia, UI Campus, Depok 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Indonesia
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 14104490     EISSN : 23549203     DOI : http://dx.doi.org/10.7454/jki
Core Subject : Health,
The Jurnal Keperawatan Indonesia (JKI, or Nursing Journal of Indonesia) contributed to the dissemination of information related to nursing research and evidence-based study on urban nursing issues in low-middle income countries. The scope of this journal is broadly multi-perspective in nursing areas such as fundamental nursing, adult or medical surgical nursing, neonatal and pediatric nursing, women's health nursing, mental health and psychiatric nursing, family and community health nursing, gerontological nursing, nursing administration and management, oncology nursing, transcultural nursing, HIV/AIDS and tropical diseases - and related healthcare issues such as health professional, health policy or healthcare system, and education with focus on urban nursing issues in low-middle income countries.
Articles 433 Documents
PENINGKATAN KUALITAS TIDUR LANSIA WANITA MELALUI KERUTINAN MELAKUKAN SENAM LANSIA Anggarwati, Erna Silvia Budi; Kuntarti, Kuntarti
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 19, No 1 (2016): March
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.924 KB) | DOI: 10.7454/jki.v19i1.435

Abstract

Kualitas tidur semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia manusia. Latihan fisik berupa senam lansia menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kualitas tidur pada lansia. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kerutinan mengikuti senam lansia dan kualitas tidur pada lansia wanita. Desain penelitian ini adalah analitik komparatif dengan pendekatan cross sectional, melibatkan 98 lansia wanita yang mengikuti senam lansia di wilayah Kelurahan Depok Jaya, Depok yang dipilih dengan teknik cluster sampling pada komunitas senam lansia. Kerutinan dalam mengikuti senam lansia diukur dengan daftar hadir senam lansia dan kualitas tidur diukur dengan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Data dianalisis dengan uji t ? independen. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan skor PSQI lansia wanita yang rutin mengikuti senam dengan yang tidak sebesar 2,11 (p<0,001). Penelitian ini merekomendasikan kepada praktisi kesehatan untuk melakukan advokasi ke posbindu yang belum menerapkan kegiatan senam lansia pada wilayahnya dan mendorong para lansia untuk mengikuti senam lansia secara rutin. Abstract Increasing the Quality of Sleep Among Women Elderly by Doing Rountine Elderly Exercise. Quality of sleep decreases along with the increase of the age of a person. Exercise is one of the ways to increase sleep quality among elderly. The purpose of this study was to examine the relationships between elderly exercise routines and sleep quality among elderly women. The design of this research was Analytic Comparative with Cross Sectional approach. The research involved 98 elderly women that undertook elderly exercise at the administrative village of Depok Jaya, Depok. The respondents were selected with cluster sampling technique in the community of elderly exercise. The routine of elderly exercise was measured by the attendance list and the sleep quality was measured by Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). The data were analyzed by t- independent. The results showed there is a difference in PSQI scores between elderly women who undertook routine elderly exercise and non-routine for about 2,11 (p<0,001). This research recommends the health practitioner to provide advocacy at posbindu, particularly those that has not implemented elderly exercise and to encourage the elderly to undertook routine elderly exercise. Keywords: elderly exercise, elderly women, Pittsburgh Sleep Quality Index, routine; sleep quality.
PENGARUH BREATHING RETRAINING TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI VENTILASI PARU PADA ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN PPOK Aini, Faridah; Sitorus, Ratna; Budiharto, Budiharto
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 12, No 1 (2008): March
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.129 KB) | DOI: 10.7454/jki.v12i1.196

Abstract

AbstrakPenelitian kuasi eksperimen dengan rancangan control group pretest-posttest ini bertujuan menjelaskan pengaruh breathing retraining terhadap peningkatan fungsi ventilasi paru pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di sebuah rumah sakit di Jakarta. Sampel berjumlah 34 pasien yang diambil secara simple random sampling (masing-masing 17 pasien untuk kelompok intervensi dan kontrol). Rerata nilai fungsi ventilasi paru pasien PPOK berbeda bermakna antara sebelum dan sesudah intervensi breathing retraining selama enam hari (p value = 0.000). Rerata nilai fungsi ventilasi paru pasien PPOK setelah intervensi antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol berbeda secara signifikan (p value = 0.012). Peningkatan nilai fungsi ventilasi paru berhubungan dengan usia (p value = 0.001), tetapi tidak ditemukan berhubungan dengan tinggi badan (p value = 0.091) dan jenis kelamin (p value = 0.346). Breathing retraining dapat diterapkan pada pasien PPOK untuk meningkatkan fungsi ventilasi paru. AbstractThe aim of the research was to explain about the influence of breathing retraining to the increasing of lung ventilation function for nursing care of theCOPD patients at a Hospital in Jakarta. The reseach design was quasi experiment with control group pretest-postest design. Total 34 patients (17 subjects for each group, intervention and control group) were included by a simple random sampling method. A breathing retraining was given to the intervention group for 6 days. The finding showed that the average of the COPD patient?s lung ventilation was significantly different before and after breathing retraining (p value = 0.000). The average score of the COPD patient?s lung ventilation after breathing retraining between intervention group and control group was also significantly different (p value = 0.012). There was significant relationship between age and increased lung ventilation function (p value = 0.001). However, no relationship found between body height and increased lung fuction (p value = 0.091) and between gender and lung ventilation function (p value = 0.346). The research suggested to implement the breathing retraining to increase the lung ventilation function of the CPOD patients.
A BRIEF HISTORY OF THE CARE OF CHILDREN IN HOSPITAL Shields, Linda
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 2, No 7 (1999): September
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.73 KB) | DOI: 10.7454/jki.v2i7.298

Abstract

Children are unique human beings who need attention from an adult including their parents in order to assist him/her to deal with problems in their childhood period. An unhealthy child needs more attention from adult person including a nurse in order to assist him/her to deal with experiences during his/her period. Children?s hospital was not always as a convenient place for unhealthy children. They were thought as places which could detach children from their parents. However, considering the history of development of children?s hospitals is important for those who are involved in nursing care for children. This article discuss about a history of children?s hospitals and focuses on how important to prepare unhealthy child to face a separation process. The article also discusses about stages through which children who are separated from their parents go.Keywords: Children, hospital, separation, health care delivery system. Abstrak Anak-anak adalah makhluk unik yang membutuhkan perhatian dari orang dewasa termasuk orang tua dalam rangka membimbing menghadapi masalah-masalah selama masa anak-anak. Seorang anak yang sakit membutuhkan lebih banyak perhatian dari orang-orang dewasa termasuk perawat dalam rangka membantunya menghadapi pengalaman selama sakit. Di masa lalu, rumah sakit anak tidak dilihat sebagai tempat yang nyaman untuk anak-anak yang sedang sakit. Rumah sakit ini telah dianggap sebaga tempat pemisah antara anak-anak dan orang tuanya. Beberapa tahun terakhir, rumah sakit di negara-negara yang sedang berkembang telah berubah citranya dari ?sebuah tempat untuk: naughty boy? menjadi sebuah tempat dimana seorang anak dapat melanjutkan kegiatan hariannya dengan atau tanpa orang tua. Mempertimbangkan sejarah perkembangan rumah sakit-rumah sakit anak amat penting bagi mereka yang terlibat dalam pelayanan/asuhan keperawatan pada anak-anak. Artikel ini mendiskusikan tentang rumah sakit anak, dan berfokus pada betapa pentingnya mempersiapkan anak-anak yang sakit untuk menghadapi proses perpisahan. Artikel ini juga membahas tentang fase-fase yang harus dilalui oleh anak-anak yang dipisahkan dari orang tua selama sakit.Kata kunci: Anak-anak, rumah sakit, perpisahan, sistem pemberian asuhan keperawatan. 
THE IMPACT OF VEGETARIAN DIETS AND BODY MASS INDEX ON HYPERTENSION Mariha, Tri; Wiarsih, Wiwin
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 22, No 3 (2019): November
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.47 KB) | DOI: 10.7454/jki.v22i3.726

Abstract

A vegetarian diet is believed to prevent hypertension. This study aims to identify the impact of vegetarian diets, including fat, salt, potassium, and body mass index (BMI), on hypertension. Data was taken by systematic random sampling method from 173 vegetarians and analyzed using chi-square. The result showed that there is no significant association between the intake of fat, sodium, and potassium with hypertension in vegetarians (p> 0.05). However, there is a significant relationship between BMI with the incidence of hypertension (p= 0.025), where overweight res-pondents are 3.837 more likely to have hypertension (OR 3.837; 95% CI= 1,256?11,721). It implies that vegetarians tend to have a safe intake of fat, salt, and potassium, and therefore, this condition prevents hypertension. Thus, health promotion about the selection of sources of fat, regulation of salt, potassium intake, and weight management will be beneficial for vegetarians in preventing hypertension. Keywords: BMI, diet, hypertension, vegetarian Abstrak Dampak Diet Vegetarian dan Indeks Massa Tubuh terhadap Hipertensi. Diet vegetarian diyakini dapat mencegah hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak diet vegetarian, meliputi asupan lemak, garam, kalium, dan Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap hipertensi. Data diperoleh melalui metode systematic random sampling pada 173 vegetarian dan dianalisis menggunakan chi-square. Tidak ada hubungan yang signifikan antara asupan lemak, garam, dan kalium pada vegetarian dengan hipertensi (p> 0.05). Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dengan kejadian hipertensi (p= 0.025), dimana responden dengan berat badan berlebih 3.837 kali berpeluang lebih besar untuk mengalami hipertensi (OR 3.37; 95% CI= 1.256?11.721). Hal ini menunjukkan bahwa vegetarian cenderung memiliki asupan lemak, garam, dan kalium yang aman sehingga kondisi ini dapat mencegah hipertensi. Dengan demikian, promosi kesehatan mengenai pemilihan sumber lemak, pengaturan asupan garam:kalium, dan manajemen berat badan akan sangat bermanfaat bagi vegetarian untuk mencegah hipertensi.  Kata kunci: diet, hipertensi, IMT, vegetarian
PENINGKATAN KEKUATAN OTOT PERNAPASAN DAN FUNGSI PARU MELALUI SENAM ASMA PADA PASIEN ASMA Sahat, Camalia S.; Irawaty, Dewi; Hastono, Sutanto Priyo
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 14, No 2 (2011): July
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.303 KB) | DOI: 10.7454/jki.v14i2.316

Abstract

AbstrakPasien asma mengalami bronchospasme dan bronchokontriksi yang dapat menyebabkan penurunan fungsi pernapasan. Penelitianbertujuan mengidentifikasi pengaruh senam asma terhadap peningkatan kekuatan otot pernapasan dan fungsi paru pasien asmadi perkumpulan senam asma. Desain penelitian yaitu kuasi eksperimen dengan desain kelompok kontrol. Sampel berjumlah 50pasien, diambil dengan purposive sampling, dan terdiri atas kelompok intervensi dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkanhubungan antara senam asma terhadap peningkatan kekuatan otot pernapasan (p= 0,0005; ?= 0,05) dan fungsi paru (p= 0,0005;?= 0,05) pasien asma di perkumpulan senam asma, setelah dikontrol berat badan dan tinggi badan. Rekomendasi agar senamasma menjadi program intervensi keperawatan pada manajemen asma untuk meningkatkan kekuatan otot pernapasan dan fungsiparu pasien asma.Kata Kunci: Fungsi paru, kekuatan otot pernapasan, pasien asma, senam asmaAbstractPatients with asthma have bronchospasm and bronchoconstriction that can cause a decrease in respiratory function. Theresearch aims to identify the effect of exercise asthma to increased respiratory muscle strength and pulmonary function inasthma patients with asthma. The study design is a pretest-Post test Control Group design. Samples numbered 50 patients,taken with purposive sampling, and consists of intervention and control groups. The results of the study, there is a relationshipbetween exercise asthma to increased respiratory muscle strength (p= 0.0005; ?= 0.05) and pulmonary function (p= 0.0005;?= 0.05) in patients with asthma, after controlling weight and height. Recommendations for exercise asthma into nursingintervention program on asthma management to improve respiratory muscle strength and lung function of asthma patients.Keywords: Asthma gymnastic, breathe muscle power, lung function, patient with asthma
FENOMENOLOGI HUSSERL: SEBUAH CARA “KEMBALI KE FENOMENA” Asih, Imalia Dewi
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 9, No 2 (2005): September
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.62 KB) | DOI: 10.7454/jki.v9i2.164

Abstract

AbstrakFenomenologi semakin sering digunakan sebagai metode penelitian keperawatan. Fenomenologi merupakan pendekatan ilmiah yang bertujuan untuk menelaah dan mendeskripsikan fenomena sebagaimana fenomena tersebut dialami secara langsung tanpa adanya proses interpretasi dan abstraksi. Terdapat banyak ahli fenomenologi dengan pemahaman yang berbeda-beda baik sebagai filosofi maupun sebagai metode penelitian. Walaupun demikian, Husserl tetap dikenal sebagai penemu dan tokoh sentral fenomenologi. Fenomenologi Husserl menekankan bahwa untuk memahami fenomena seseorang harus menelaah fenomena apa adanya. Oleh karena itu seseorang harus menyimpan sementara atau mengisolasi asumsi, keyakinan, dan pengetahuan yang telah dimiliki agar mampu melihat fenomena apa adanya atau melakukan proses bracketing. Selanjutnya, fenomena hanya terdapat pada kesadaran seseorang yang mengalaminya. Karena itu fenomena hanya dapat diamati melalui orang yang mengalami. Husserl tidak pernah menerjemahkan filosofinya menjadi metode penelitian terstruktur. Walaupun demikian terdapat bermacam-macam metode yang dianggap paling cocok dan sesuai dengan filosofi Husserl seperti metode Spiegelberg dan Coalizzi. AbstractPhenomenology has been recognized that the utilization of phenomenology in nursing research is increasing. Phenomenology is a scientific approach that attempts to analyze and describe the phenomena, as they are experienced by persons without interpreting and abstracting them. There are well known phenomenologist with different views and interpretations of phenomenology both as a philosophy and as a research method. However, Husserl has always been acknowledged as the founder and central figure of the phenomenological movement. Husserlian phenomenology emphasizes that to understand the phenomena someone needs to see the phenomena as they themselves. Therefore, someone needs to bracket assumptions, beliefs, and knowledge about the phenomena to be able to see the phenomena as they themselves. Furthermore, Husserl believes that the phenomena dwell deep inside the consciousness of the persons to whom the phenomena appear. Therefore, to understand the phenomena someone needs to turn to the persons who experienced the phenomena. Husserl has not derived his philosophy into a structured method of inquiry. However, there are various available methods of inquiry that were compatible with Husserlian phenomenological philosophy, such as Spiegelberg?s and Colaizzi?s method.
PENGALAMAN MANTAN PENGGUNADALAM PENYALAHGUNAAN NAPZA SUNTIK Santoso, Budi; Sahar, Junaiti; Wiarsih, Wiwin
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 15, No 2 (2012): July
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.427 KB) | DOI: 10.7454/jki.v15i2.36

Abstract

Kasus penyalahgunaan NAPZA khususnya NAPZA suntik mengalami peningkatan. Kecenderungan peningkatan tersebuttercermin dalam peningkatan kasus NAPZA suntik di Kota Palembang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan artidan makna pengalaman mantan pengguna dalam penyalahgunaan NAPZA suntik di Kota Palembang. Desain penelitian yangdigunakan yaitu fenomenologi deskriptif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Wawancara mendalamdigunakan dalam pengumpulan data. Hasil wawancara direkam menggunakan tape recorder, data diolah dalam bentuk transkripverbatim dan dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Penelitian menghasilkan sembilan tema sesuai tujuan khusus yaitu:alasan menggunakan NAPZA suntik diklasifikasikan menjadi alas an pertama kali dan alasan tetap menggunakan; respon yangtimbul setelah menggunakan NAPZA suntik yaitu respon personal dan respon orangtua; persepsi terkait efek samping danbahaya yaitu mempunyai nilai lebih dan mempunyai dampak buruk; makna menggunakan NAPZA suntik yaitu makna selamamenggunakan dan makna setelah sembuh; dan harapan terhadap dukungan pihak terkait yaitu dukungan pihak kepolisian,petugas kesehatan dan pemerintah daerah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penyalahgunaan NAPZA suntik merupakankebiasaan yang harus segera dicegah dan ditanggulangi sedini mungkin. Perawat spesialis komunitas sebagai salah satu tenagaprofesional dibidang kesehatan mempunyai peran dalam upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA yaitu upaya primer,sekunder dan tertier.
MENURUNKAN DERAJAT FLEBITIS AKIBAT TERAPI INTRAVENA PADA ANAK DENGAN KOMPRES ALOE VERA: STUDI PILOT Hasanah, Oswati; Novayelinda, Riri; Maifera, Maifera; Isdelni, Isdelni
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 20, No 1 (2017): March
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.364 KB) | DOI: 10.7454/jki.v20i1.502

Abstract

Terapi intravena merupakan jenis terapi yang banyak diberikan pada pasien anak yang dirawat. Pemasangan intravena dalam waktu yang lama dapat menimbulkan komplikasi pada anak, seperti flebitis. Salah satu tindakan mengatasi flebitis adalah dengan mengompres Aloe vera yang bermanfaat karena memiliki elektrolit dalam konsentrasi rendah sehingga tidak menimbulkan ekstravasasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pemberian Aloe vera terhadap derajat flebitis pada anak. Penelitian kuasi eksperimen ini melibatkan 15 anak yang dipilih dengan consecutive sampling. Semua sampel diberikan kompres Aloe vera murni. Derajat flebitis diukur dengan menggunakan skala flebitis Infusion Nurses Society (INS) sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Hasil penelitian ini menemukan bahwa rerata derajat flebitis sebelum perlakuan sebesar 2,60 dengan skor minimum-maksimum 1?5, rerata derajat flebitis sesudah perlakuan menjadi 1,07 dengan skor minimum-maksimum 0?3. Aloe vera efektif menurunkan derajat flebitis pada anak (p= 0,000). Penelitian selanjutnya perlu dilakukan untuk membandingkan efektifitas kompres Aloe vera dengan terapi non farmakologis lainnya.  Abstract Reducing the Grade of Phlebitis due to Intravenous Therapy in Children with Aloe Vera Compress. Intravenous therapy is a type of treatment that is widely provided to hospitalized children. Intravenous application in a long time causes complications in children, such as phlebitis. One of the interventions in handling phlebitis is compressing Aloe vera which is useful because it has electrolyte in low concentration so as not to cause extravasation. This study aims to identify the effect of Aloe vera on the degree of phlebitis in hospitalized children. This quasi-experimental study involved 15 children selected by consecutive sampling. All samples received a pure Aloe vera compress. The grade of phlebitis was measured using the INS phlebitis scale before and after the intervention. This study found that the mean degree of phlebitis before treatment was 2.60 with a minimum-maximum score 1?5, and after treatment, the average grade of phlebitis was 1.07 with a minimum-maximum score 0?3. Aloe vera effectively decreased the degree of phlebitis in children (p= 0.000). Further research needs to compare the effectiveness of Aloe vera compresses with other non-pharmacological measurements. Keywords: Aloe vera, intravenous therapy, pediatric, phlebitis
BALUTAN PARCEL ALTERNATIF PENATALAKSANAAN FISTULA GASTROINTESTINAL PADA LUKA DEHISCENCE: STUDI KASUS Dahlia, Debie
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 11, No 2 (2007): September
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1697.118 KB) | DOI: 10.7454/jki.v11i2.190

Abstract

AbstrakFistula merupakan saluran abnormal antara lumen organ berongga dengan organ berongga lainnya atau dengan kulit. Fistula gastrointestinal terjadi sebagai akibat dari komplikasi pascapembedahan abdomen dan manifestasi sekunder dari proses patologi intraabdomen. Fokus penatalaksanaannya pada upaya mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, mengistirahatkan intestin dan mendukung nutrisi, pengobatan medis, melindungi kulit sekitar luka, dan menampung cairan fistula. Strategi menampung cairan fistula merupakan komponen utama pada penatalaksanaan fistula non pembedahan. Studi kasus ini menggambarkan upaya\untuk menampung cairan fistula, memberikan kenyamanan, memfasilitasi penyembuhan luka, dan melindungi kulit sekitar luka seorang laki-laki berusia 66 tahun dengan luka dehiscence dan fistula di dalam luka. AbstractA fistula is an abnormal passage between the lumen of a hollow viscous organ and another hollow organ or the skin. Gastrointestinal fistula present as devastating complication following postoperative abdominal surgery and as secondary manifestation due to primary intra-abdominal pathologic processes. Management challenges focus on maintaining fluid and electrolyte balance, providing bowel rest and nutrition support, initiating medication treatment, ensuring skin protection, and containing the fistula effluent. Containing the fistula effluent is a key component of non-surgical fistula management. Following extensive abdominal surgery, the wound of a 66 years old man dehisced and a gastrointestinal fistula formed inside the wound. This case study describes efforts to contain fistula drainage, while providing comfort, facilitating wound healing, and protecting the periwound skin.
PENURUNAN TINGKAT NYERI ANAK PRASEKOLAH YANG MENJALANI PENUSUKAN INTRAVENA UNTUK PEMASANGAN INFUS MELALUI TERAPI MUSIK Purwati, Nyimas Hany; Rustina, Yeni; Sabri, Luknis
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 13, No 1 (2010): March
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.892 KB) | DOI: 10.7454/jki.v13i1.231

Abstract

AbstrakTindakan pemasangan infus dapat menimbulkan nyeri pada anak usia prasekolah. Salah satu cara untuk meminimalkannya adalah dengan terapi musik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi musik terhadap tingkat nyeri anak usia prasekolah yang menjalani penusukan intravena untuk pemasangan infus/ pemasangan infuse. Penelitian ini menggunakan studi quasi eksperimen dengan rancangan Nonequivalent control group, after only design ini dilakukan terhadap 64 anak prasekolah . Hasil penelitian, menggunakan analisa univariat dan bivariat: pooled test, menunjukkan bahwa terapi musik bisa menurunkan tingkat nyeri anak usia prasekolah. Terapi musik diberikan lima menit sebelum pemasangan infus sampai lima menit sesudah pemasangan infus. Terdapat perbedaan tingkat nyeri yang signifikan antara anak usia prasekolah yang diberikan terapi musik dengan anak usia prasekolah yang tidak diberikan terapi musik saat dilakukan pemasangan infus (p= 0,00, ?= 0,05). AbstractMusic is an effective distraction technique. It has the best influence in a short time. Music reduces the physiological pain, stress and anxiety by distracting someone?s attention from the pain. The objective of this research is to understand recognize the influence of music therapy concerning the level of pain to of pre-school children experiencing venipuncture for the application of infusion therapy, this quasi experiment with Nonequivalent control group, after only design was conducted toward 62 pre-school children that having infusion attachment procedure. The result, using univariate and, bivariate data analysis with pooled test, discovered that there was a significant effect of music therapy in decreasing the level of pain of of pre-school children experiencing venipuncture. Research was using quasi experiment with Nonequivalent control group, after only design. Music therapy was given at 5 minutes before the infusion attachment process was started until 5 minutes after the process was done. There was a significant difference of pain level between pre-school children that was having music therapy than they who was not having music therapy during the infusion attachment process (p= 0,00, ?= 0,05).

Page 1 of 44 | Total Record : 433


Filter by Year

1997 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 1 (2020): March Vol 22, No 3 (2019): November Vol 22, No 2 (2019): July Vol 22, No 1 (2019): March Vol 21, No 3 (2018): November Vol 21, No 2 (2018): July Vol 21, No 1 (2018): March Vol 20, No 3 (2017): November Vol 20, No 2 (2017): July Vol 20, No 1 (2017): March Vol 19, No 3 (2016): November Vol 19, No 2 (2016): July Vol 19, No 1 (2016): March Vol 18, No 3 (2015): November Vol 18, No 2 (2015): July Vol 18, No 1 (2015): March Vol 17, No 3 (2014): November Vol 17, No 2 (2014): July Vol 17, No 1 (2014): March Vol 16, No 3 (2013): November Vol 16, No 2 (2013): July Vol 16, No 1 (2013): March Vol 15, No 3 (2012): November Vol 15, No 2 (2012): July Vol 15, No 1 (2012): March Vol 14, No 3 (2011): November Vol 14, No 2 (2011): July Vol 14, No 1 (2011): March Vol 13, No 3 (2010): November Vol 13, No 2 (2010): July Vol 13, No 1 (2010): March Vol 12, No 3 (2008): November Vol 12, No 2 (2008): July Vol 12, No 1 (2008): March Vol 11, No 2 (2007): September Vol 11, No 1 (2007): March Vol 10, No 2 (2006): September Vol 10, No 1 (2006): March Vol 9, No 2 (2005): September Vol 9, No 1 (2005): March Vol 8, No 2 (2004): September Vol 8, No 1 (2004): March Vol 7, No 2 (2003): September Vol 7, No 1 (2003): March Vol 6, No 2 (2002): September Vol 6, No 1 (2002): March Vol 5, No 2 (2001): September Vol 5, No 1 (2001): March Vol 2, No 8 (1999): December Vol 2, No 7 (1999): September Vol 2, No 6 (1999): May Vol 2, No 5 (1998): October Vol 1, No 4 (1998): July Vol 1, No 3 (1997): December Vol 1, No 2 (1997): July Vol 1, No 1 (1997): January Article in Press More Issue