cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 71 Documents
EVALUATION ON GREEN OPEN SPACE AS HEALTH PROMOTER WITH SALUTOGENIC APPROACH: CITY FOREST BSD I AS CASE STUDY Larasati, Ayu; Pakpahan, Rosdiana
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v6i2.34811

Abstract

Sedentary/passive behavior has increased the risk of non-communicable disease, which incites the need to promote an active lifestyle through outdoor physical activities. However, green open space (GOS) amount and design that focus as health promoter have not yet been sufficient. Therefore, design evaluation is conducted to acknowledge recent issues and potential solutions as design considerations for next GOS that focuses on health. Evaluation of GOS design quality uses design indicators that are extracted from Salutogenic Five Vital Signs to identify and assess design quality at selected GOS as a case study.  The data for this study is gathered through site surveys, two months observations, and user interviews: 25 visitors, two staff, and three entrepreneurs. Evaluation at selected GOS highlights the importance of forest setting as major attractions because it provides comfortable shades of trees. Also, GOS should be located at a strategic point to be easily accessed by different kind of transportation modes and routes. Moreover, legibility is achieved highly by movement network: path and clear main entrance, and permeability are achieved through the selection of more than five meters height of trees that clear the visual obstacles, clear spots of activities (pods), and transparent fences.EVALUASI RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI PROMOTOR KESEHATAN DENGAN PENDEKATAN SALUTOGENIC: TAMAN KOTA BSD I SEBAGAI STUDI KASUSPerilaku sedentary/pasif telah meningkatkan resiko terkena non-communicable disease yang menimbulkan munculnya kebutuhan untuk mendorong aktivitas fisik aktif yang dilakukan di ruang terbuka. Akan tetapi, kuantitas ruang terbuka hijau (RTH) belum memenuhi proporsi minimum 30% dari total luas area dan kualitas desain RTH sebagai promotor aktivitas fisik aktif (kesehatan) belum memiliki referensi desain. Oleh karena itu, evaluasi desain dilakukan untuk mengetahui permasalahan, potensi solusi, dan strategi yang terdapat pada RTH sekarang ini sebagai panduan rancang yang mendorong kegiatan fisik aktif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yang dilakukan melalui empat tahap, yaitu: 1. studi pustaka mengenai lima tanda vital salutogenic (diversity, vitality, nature, authenticity, dan legacy) untuk mengidentifikasi parameter evaluasi (kriteria perancangan dan indikator desain), 2. pemilihan objek studi, 3. pengumpulan data melalui survey, observasi dan wawancara, dan 4. identifikasi dan evaluasi kualitas desain RTH. Objek studi terpilih merupakan RTH yang berpotensi memenuhi lima tanda vital salutogenic, yaitu Taman Kota BSD I (TK I), Tangerang Selatan. Hasil evaluasi RTH adalah pentingnya mengintegrasikan unsur alam sebagai setting RTH karena karakteristiknya yang spesifik menjadi daya tarik utama untuk beraktivitas aktif. Selain itu, RTH perlu menyediakan fasilitas lengkap dan pemeliharaannya untuk seluruh kategori usia dan skala aktivitas dari personal hingga komunitas. Secara keseluruhan, RTH perlu mengembangkan program dan strategi implementasi untuk mengembangkan aktivitas edukasi dan preservasi yang melibatkan komunitas secara aktif.
USEFUL DAYLIGHT ILLUMINANCE (UDI) PADA RUANG BELAJAR SEKOLAH DASAR DI KAWASAN URBAN PADAT TROPIS (STUDI KASUS: SD NEGERI 2 DAN 6 BANDA SAKTI, LHOKSEUMAWE, ACEH, INDONESIA) Atthaillah, Atthaillah; Bintoro, Andik
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v6i2.33940

Abstract

Studi ini melakukan evaluasi pencahayaan alami pada ruang belajar Sekolah Dasar Negeri 2 dan 6 Banda Sakti, Lhokseumawe.  Sekolah tersebut berada pada lokasi urban padat dan merupakan sekolah dengan bangunan terluas di kecamatan Banda Sakti.  Ada 36 (tiga puluh enam) ruang kelas yang dilakukan simulasi pencahayaan alami pada objek studi ini.  Simulasi pencahayaan alami dilakukan dengan metrik useful daylight illuminance (UDI).  Metrik ini menggunakan data cuaca lokasi objek penelitian dalam hal ini data cuaca Kota Lhokseumawe dalam format energyplus weather (EPW) file.  Pemodelan untuk simulasi dilakukan dengan piranti Rhinoceros, sementara algoritma simulasi dibuat menggunakan Grasshopper dengan tambahan plugin Ladybug Tools.  Ladybug Tools memberikan akses ke engine simulasi Daysim yang merupakan perangkat simulasi pencahayaan alami yang tervalidasi.  Pada penelitian ini ketegori UDI terpenuhi dialterasi sesuai dengan standar pencahayaan alami disarankan dalam SNI 03-6197 yaitu 250-750 Lux untuk ruangan yang digunakan pada bangunan pendidikan dalam hal ini sekolah dasar.  Hasil menunjukkan tidak ada ruang kelas yang dikategorikan baik pada SDN 2 dan 6 Banda Sakti.  Hanya terdapat 29 (dua puluh sembilan) kelas dengan kategori cukup dan 7 (tujuh) ruang dengan kategori kurangUSEFUL DAYLIGHT ILLUMINANCE (UDI) IN ELEMENTARY SCHOOL CLASSROOMS IN TROPICAL HIGH DENSITY URBAN AREA (CASE STUDY: SD NEGERI 2 AND 6 BANDA SAKTI, LHOKSEUMAWE, ACEH, INDONESIA) This study evaluated the daylight distribution within classrooms at Sekolah Dasar Negeri 2 and 6 Banda Sakti, Lhokseumawe.  The school is located in high-density urban area, and it was the largest state elementary school building in Banda Sakti.  36 (thirty-six) classrooms were simulated for its daylight performance.  The simulation utilized useful daylight illuminance (UDI) metric. The metric used the local weather file for Lhokseumawe in energyplus weather (EPW) format.  Modeling for simulation utilized Rhinoceros; further, the simulation algorithm was created using Grasshopper with the extension of Ladybug Tools.  Ladybug Tools opened access to a Daysim, a validated daylight simulation engine.  In this study, the useful daylight was referenced to SNI 03-6197, which was 250-750 Lux for educational spaces at this study classrooms for the elementary school.  The result showed there was none of the classroom fallen under a good category. 29 (twenty-nine) classrooms was under insufficient category and 7 (seven) classrooms under a bad category
POLA PERTUMBUHAN PASAR RAKYAT DI KOTA PONTIANAK Kalsum, Emilya; Purnomo, Yudi
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v6i2.33223

Abstract

Pasar tradisional atau pasar rakyat merupakan sebuah pusat kegiatan ekonomi di suatu daerah yang juga menjadi perwujudan kesejahteraan masyarakat sangat berpotensi dalam menggerakkan roda perekonomian berbasis ekonomi rakyat. Pasar rakyat mampu bertahan memberikan pelayanan kebutuhan kepada masyarakat luas sekalipun dalam kondisi krisis perekonomian. Pasar rakyat telah menggambarkan denyut nadi perekonomian rakyat. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk menyelamatkan keberadaan pasar rakyat yang kini semakin terhimpit oleh adanya pasar modern yang terus meningkat saat ini. Pemerintah telah memiliki berbagai kebijakan untuk mengantisipasi masalah ini di antaranya adalah Peraturan Presiden Nomor 112 tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar rakyat, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Namun berbagai kebijakan seringkali hanya diberlakukan pada pasar rakyat yang disediakan atau dibangun oleh pemerintah atau pengelola wilayah. Padahal tak jarang, pasar rakyat yang ada berawal dari pasar yang tumbuh dari swadaya masyarakat. Pasar seperti ini hampir merata tumbuh di setiap kota di Indonesia demikian pula di Kota Pontianak. Identifikasi pola pertumbuhan pasar rakyat di Kota Pontianak ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sebetulnya sebuah pasar rakyat tumbuh dan berkembang di area permukiman. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, dalam upaya mendeskripsikan gejala atau fenomena tentang pertumbuhan yang terjadi pada saat penelitian dilakukan. Pendekatan kuantitatif dilakukan dalam rangka untuk mengetahui jumlah pasar rakyat hasil swadaya masyarakat. Pola pertumbuhan pasar rakyat di Kota Pontianak yang terbentuk dari swadaya masyarakat Kota Pontianak yang ditunjukkan dari hasil penelitian ini sangat relevan untuk menjadi pertimbangan dalam penataan pasar rakyat di Kota Pontianak di masa yang akan datang. Ini terkait pada kebutuhan masyarakat, lokasi, kepemilikan, penempatan dan pengelolaan.PUBLIC MARKETS GROWTH PATTERN IN PONTIANAKTraditional markets or public markets are the centers of economic activity in an area that also embody the welfare of the people who have great potential and can drive the economy of the people. During financial crisis, the markets can survive, providing service needs to the community. Public markets have described the pulse of the people's economy. Therefore, the existence of public markets, which are now increasingly squeezed by the rapid growth of the modern stores, are important to be immediately saved. The government already has several legal protections to overcome this problem, one of it is the Presidential Regulation Number 112 of 2007 concerning the Arrangement and Development of Public Markets, Shopping Centers and Modern Stores. However, various policies are often only applied to the public markets that are provided or built by the government or regional managers. Even though it is not uncommon that the existing public markets originated from markets that grow from nongovernmental community self-help. These markets are almost evenly grown in every city in Indonesia, as well as in Pontianak. Identification of the pattern of growth of the public markets in Pontianak is intended to find out how public markets grow and develop in residential areas. This research uses a descriptive method with a quantitative approach, to describe the symptoms or phenomena about the growth that occur at the time the research is conducted. A quantitative approach is carried out to find out the number of people's markets resulting from nongovernmental community self-help. The results showed that the pattern of growth of public market in Pontianak which was formed from the self-help of the people was very relevant to be considered in the structuring of the public markets in Pontianak in the future. This is related to community needs, location, ownership, placement, and management.
PERANAN RUANG KOMUNAL DALAM MEWADAHI PERILAKU SOSIAL MASYARAKAT KAMPUNG RATMAKAN Prasetyo, Anggar
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v6i2.34393

Abstract

Kampung Ratmakan merupakan sebuah kampung yang terletak ditengah perkotaan Yogyakarta. Kampung Ratmakan memiliki citra yang bersih dan ikatan sosial yang kuat antar anggota masyarakat. Namun perilaku masyarakat perkotaan menjadi ancaman bagi masyarakat masyarakat Kampung Ratmakan. Ancaman datang berupa dari karakter masyarakat perkotaan yang cenderung individu dan mengancam karakter sosial masyarakat Kampung Ratmakan. Untuk itu dibangun beberapa ruang komunal pada Kampung Ratmakan yang terletak ditengah perkampungan dan tersebar ditepi Sungai Code. Ruang-ruang komunal tersebut dibangun untuk mewadahi aktifitas perilaku masyarakat dengan membentuk setting ruang pada tiap ruang komunal. Sehingga perlu diketahui sejauh mana ruang-ruang komunal terdebut dengan setting yang ada mampu mewadahi aktifitas komunal masyarakat Kampung Ratmakan.  Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pencarian data menggunakan teknik observasi langsung dan wawancara mendalam. Kemudian dari data-data tersebut dikaitkan dengan teori-teori mengenai konsep affordance dan karakter masyarakat kampung. Hasil yang dicapai menyatakan bahwa ruang komunal tepi sungai dan ruang komunal tengah kampung memiliki peranan berbeda untuk mewadahi perilaku sosial masyarakat. Ruang komunal tengah kampung cenderung berperan sebagai physical affordances melalui fasilitas-fasilitas yang ada. Sedangkan ruang komunal tepi sungai cenderung berperan sebagai sensory affordances melalui kenyamanan thermal yang terbentuk.ROLE OF COMMUNAL SPACES IN ACCOMMODATING SOCIAL COMMUNITY BEHAVIOR OF RATMAKAN KAMPUNG Kampung Ratmakan is an area that located in the middle part of Yogyakarta. Kampung Ratmakan has character as clean kampong and they have strong social relation between member of kampong. But the character of urban citizen has became threat for Ratmakan people. The threat has the shape of urban citizen character that inclined as individuality and become threat for kampong people character. So, they had built several communal spaces in the Kampung Ratmakan that located in the middle part of kampong and the side of Code River. The communal spaces are built to accommodate the behavior of the community by forming a space setting in each communal space. So that it is necessary to know the extent to which communal spaces have been contested with the existing settings capable of accommodating communal activities of the Kampung Ratmakan community. The method in this study is a qualitative method with data search using direct observation techniques and in-depth interviews. Then from these data are associated with theories about the concept of affordance and character of the village community. The results achieved stated that the riverside communal space and the middle communal space of the village had different roles to accommodate the social behavior of the community. Central village communal space tends to act as physical affordances through existing facilities. While riverfront communal spaces tend to act as sensory affordances through the thermal comfort that was formed.
PRINSIP DESAIN ARSITEKTUR BIOKLIMATIK PADA IKLIM TROPIS Handoko, Jarwa Prasetya Sih; Ikaputra, Ikaputra
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v6i2.34791

Abstract

Pertumbuhan pembangunan gedung yang tidak mempertimbangkan faktor kondisi alam menyebabkan munculnya potensi penurunan kualitas lingkungan hidup yang diakibatkan oleh konsumsi energi pada bangunan yang mengakibatkan menipisnya sumber daya alam, selain itu dilatar belakangi terjadinya fenomena perubahan iklim global yang menumbuhkan bangunan boros energi dalam kenyamanan fisik bangunan. Hal ini menumbuhkan kesadaran akan pentingnya desain arsitektur berbasis kondisi alam setempat termasuk kondisi iklim setempat atau pemanfaatan potensi Bioklimatik. Arsitektur Bioklimatik adalah adalah suatu pendekatan desain yang mengarahkan arsitek untuk mendapatkan penyelesaian desain dengan mempertimbangkan hubungan antara bentuk arsitektur dengan lingkungan iklim daerah tersebut. Kajian ini membahas prinsip desain Arsitektur Bioklimatik pada iklim tropis. Dengan demikian diharapkan dapat disusun theoritical framework terkait prinsip desain arsitektur pada iklim tropis. Iklim Tropis merujuk pada terminologi letak geografis daerah di sekitar equator diantara Garis Tropic of Cancer dan Tropic of Capricorn. Metode yang digunakan pada kajian ini dengan menggunakan studi pustaka atau studi referensi. Dari kajian ini dapat disimpulkan bahwa Prinsip Desain Arsitektur Bioklimatik pada Iklim Tropis terdiri dari 2 (dua) tipe meliputi Prinsip desain untuk bangunan pada daerah Iklim Tropika Basah (Hot humid Climate) yang memiliki 2 musim dan Prinsip desain untuk bangunan pada daerah iklim Tropika kering (Hot Arid Climate) dengan 4 musim. Kedua prinsip desain ini dipengaruhi beberapa perbedaan kondisi iklim diantara kedua wilayah iklim ini. Kedua wilayah ini secara umum memiliki temperature udara tinggi, perbedaannya adalah perbedaan suhu diurnal diantara kedua wilayah iklim tersebut. Kondisi ini memerlukan respon yang berbeda khususnya pada desain selubung bangunan, dimana desain selubung bangunan mempengaruhi tingkat heat gain (perolehan panas) dan heat loss (pembuangan panas) bangunan tersebut dalam upaya menciptakan indoor thermal comfort pada bangunan.PRINCIPLES OF BIOCLIMATIC ARCHITECTURAL DESIGN IN THE TROPICAL CLIMATE The growth of building construction that does not consider natural conditions causes the potential for environmental degradation due to energy consumption in buildings, which and results in the depletion of natural resource. In addition to the occurrence of global climate change phenomena that foster energy-intensive for buildings to fulfill the physical comfort. This condition raises awareness of the importance of architectural design based on local natural conditions including local climatic conditions or the utilization of bioclimatic potential. Bioclimatic Architecture is a design approach that directs architects to get a design finish by considering the relationship between architectural forms and the climate environment of the area. This study discusses the principles of Bioclimatic Architecture design in tropical climates. Thus the theoretical framework is expected to be arranged related to the principles of architectural design in tropical climates. Tropical climate refers to the terminology of the geographical location of the area around the equator between the Tropic of Cancer and Tropic of Capricorn Lines. The method used in this study is a literature study or reference study. From this study it can be concluded that the principles of Bioclimatic Architectural Design in Tropical Climates consist of 2 (two) types, including design principles for buildings in the Hot Humid Climate area which has 2 seasons and design principles for buildings in dry tropical climate regions (Hot Arid Climate) with 4 seasons. These two design principles are influenced by several different climatic conditions between these two climatic regions. These two regions generally have high air temperatures; the difference is the diurnal temperature difference between the two climate regions. This condition requires a different response, especially in the design of the building envelope, where the design of the building envelope influences the level of heat gain and heat loss in the effort to create indoor thermal comfort in the building.
THE ARCHITECTURAL CHARACTERISTICS LINKAGE OF BATANG KUANTAN’S RUMAH GODANG WITH TANAH DATAR’S RUMAH GADANG Khamdevi, Muhammar
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v6i2.34527

Abstract

Riau and West Sumatra have shared history from the days of the Old Malay Kingdom, Sriwijaya, Dharmasraya, Malayupura (Minangkabau), Islamic Sultanates, etc. The traditional house of Rumah Godang in Batang Kuantan region somehow have some similarities to the Rumah Gadang in Tanah Datar. No researcher has tried to discuss the relationship among them. Therefore, this study tries to explore the linkage of their architectural characteristics. This study uses a qualitative method by comparing the architectural characteristics of the two buildings from the data obtained in the field. The results of the study indicates a linkage, even a liniage.KETERKAITAN KARAKTERISTIK ARSITEKTUR RUMAH GODANG DI BATANG KUANTAN DENGAN RUMAH GADANG DI TANAH DATAR Riau dan Sumatra Barat telah berbagi sejarah dari zaman Kerajaan Melayu Kuno, Sriwijaya, Dharmasraya, Malayupura (Minangkabau), Kesultanan Islam, dll. Rumah tradisional Rumah Godang di wilayah Batang Kuantan entah bagaimana memiliki kesamaan dengan Rumah Gadang di Tanah Datar. Tidak ada peneliti yang mencoba membahas hubungan di antara mereka. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba mengeksplorasi keterkaitan karakteristik arsitektur mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan membandingkan karakteristik arsitektur kedua bangunan dari data yang diperoleh di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan, bahkan hubungan linier. Melalui pinjaman budaya atau proses kelanjutan, sistem spasial (genotipe) memiliki konsistensi. Sistem bentuk (fenotip) hampir konsisten; hanya dalam penggunaan material. Namun, sistem stilistik memiliki ketidakkonsistenan. Sistem-sistem itu mengalami transformasi melalui inovasi budaya lokal, pengaruh peradaban luar, atau perubahan otoritas kerajaan
S, M, L, XL: SEBUAH PANDANGAN PERALIHAN MODERN URBANISME MENUJU POSTMODERN URBANISME Affrilyno, ,
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.35 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v2i1.13840

Abstract

Teori Bigness yang digulirkan Rem Koolhaas merupakan teori yang menurut Rem Koolhaas mampu menghasilkan logika sendiri. Sekalipun teori ini dianggap sebagai bentuk yang berbeda dalam wacana arsitektur, namun keberadaannya memiliki pertumbuhan tersendiri. Ihwal teori ini berakar pada tatanan program Manhattanism yang ditulis Rem Koolhaas pada bukunya, Delirious New York (1978). Pada buku selanjutnya, S, M, L, XL (1995), Rem Koolhaas secara lebih terperinci memberikan implementasi aktual dari Manhattanism melalui berbagai proyek yang terealisasi maupun tidak terealisasi beserta tulisan-tulisan yang melingkupinya. Melalui karya tekstualnya, Rem Koolhaas telah mengembangkan pendekatan yang spesifik terhadap urbanisme dan arsitektur. Terkait problematika dalam arsitektur dan urbanisme yang menggulirkan permasalahan terhadap penolakan kompleksitas, kurangnya kontrol, oposisi, kontradiksi, dan skala yang besar, Rem Koolhaas justru merangkul kondisi ini dan menyatakannya sebagai titik awal untuk proyek-proyek mereka. Dalam konteks urban secara spesifik, Rem Koolhaas menyatakan permasalahan urban tidak lagi dapat dikendalikan dengan cara klasik Modernisme. Permasalahan yang ada selanjutnya berfungsi sebagai sarana struktural untuk mengakomodasi permasalahan yang tidak dapat dikontrol. Isu-isu ini selanjutnya berperan sebagai instrumen baru dalam tatanan urbanisme dan arsitektur Theory of Bigness as Koolhaas refers to it generates its own logic. Although the concept suffers from neglect in architectural discourse, it has prospered on its own. The program for Manhattanism has been established in Delirious New York (1978). Furthermore, in the next book, S, M, L, XL (1995), Rem Koolhaas gives a record of the actual implementation of Manhattanism throughout the various (un)realized projects and texts. Through his books, Rem Koolhaas has developed a very specific approach towards urbanism and architecture. Related to the scope of the problems in architecture and urbanism like instead of denial of complexity, lack of control, opposition, contradiction, and bigness, Koolhaas embrace these conditions and declare them as the starting point for their projects. The urban context specifically, Koolhaas stated, no longer can be controlled in the classical manner of Modernism. These issues serve as the structural means to accommodate what cannot be controlled. They are the new instruments of urbanism and architecture.REFERENCESADIP. Rethinking Berlin | a city and its river. ADIP. Urban and Architectural Research. Diakses dari http://www.adip.tu-berlin.de/wp-content/uploads/2010/10/adipmagazine_01__preview.pdf. 22 Mei 2011.Antonio Negri. 2009. On Rem Koolhaas. Diakes dari http://www.haraldpeterstrom.com/content/5.pdfs/Antonio%20Negri%20%E2%80%93%20On%20Rem%20Koolhaas.pdf. 22 Mei 2011.Archdaily. Seattle Public Library”. Diakses dari http://www. archdaily.com/11651/seattle-central-library-oma-lmn/. 30 Mei 2011Henri Achten. Review: S, M, L, XL, O.M.A.,Rem Koolhaas,Bruce Mau,1995. Diakses dari http://lava.ds.arch. tue.nl/books/ koolhaas.html. 22 Mei 2011.John Rajchman. Thinking big - Dutch architect Rem Koolhaas - Interview". ArtForum. Diakses dari FindArticles.com,http://findarticles.com/p/articles/mi_m0268/is_n4_v33/ai_16547724/. 22 Mei 2011.Joshua Ramus. 2004. Seattle Public. In Rem Koolhaas/ OMA, Content, Taschen, hal. 138-149.Lara Schrijver. 2008. OMA as tribute to OMU:   exploring resonance in the work of Koolhaas and Ungers. The Journal of Architecture, Volume 13, No. 3. Diakses dari http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/13602360802214927#.VMmnwi42uu8. 22 Mei 2011.Mark Gilbert. 2003. On Beyond Koolhaas : Identity, Sameness and the Crisis of City Planning. Diakses dari http://www.uibk.ac.at/wuv/pdf/ehem/gilbert_city.pdf. 22 Mei 2011.Notablebiographies. Rem Koolhaas. Diakses dari http://www. notablebiographies.com/news/Ge-La/Koolhaas-Rem.html. 31 Mei 2011.O.M.A/Rem Koolhas. Seatle Public Library. Diakses dari www.oma.eu. 29 Mei 2011.Rem Koolhaas, Bigness, or the problem of Large,in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL, The Monacelli Press, New York, 1995, hal. 494-517.Rem Koolhaas. 1995. Exodus, or the Voluntary Prisoners of Architecture, in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 2-21Rem Koolhaas. 1995. Field Trip: (A) A Memoir | The Berlin wall as architecture,in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 212-233.Rem Koolhaas. 1995. Imagining Nothingness in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 198-203Rem Koolhaas. 1995. Singapore Songlines : Thirty Years of  Tabula Rasa ,in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 1008-1089.Rem Koolhaas. 1995. The Generic City in Rem Koolhaas/ OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 1238-1269.Rem Koolhaas. 1995. The Terrifying Beauty of the Twentieth Century in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 204-211.Rem Koolhaas. 1995. What Ever Happened to Urbanism? ,in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 958-971.Rem Koolhaas. 2004. Junkspace, in Rem Koolhaas/OMA/ Content, Taschen, hal. 166-171.Rosemarie Buchanan. Avant-garde architect reinvents Seattles new library. Diakses dari community. seattletimes.nwsource.com, http://community.seattletimes.nwsource.com/archive/?date=20040517&slug=rem17. 29 Mei 2011Seattle Public Library. Diakses dari http://www.spl.org/Documents/about/libraries_for_all_report.pdf. 28 Januari 2015.Silvana Taher. 2011. Architects Vs. The City or The Problem of Chaos. Diakses dari https://www.aaschool.ac.uk/downloads/awards/Sylvie_Taher_DennisSharpAwardPaper.pdf. 29 Mei 2011.Slate. Going Dutch. Diakses dari www.slate.com, http:// www.slate.com/id/2098574/slideshow/2099123/fs/0//entry/ 2099125/. 30 Mei 2011.William Dietrich. Seattles New Downtown Library. Diakses dari seattletimes. nwsource.com, http://seattletimes. nwsource.com/ pacificnw/2004/0425/cover.html. 29 Mei 2011
PENGARUH JARINGAN PERDAGANGAN GLOBAL PADA STRUKTUR WILAYAH DAN KONFIGURASI SPASIAL PUSAT PEMERINTAHAN KESULTANAN-KESULTANAN MELAYU DI KALIMANTAN BARAT Fery Andi, Uray
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.532 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v4i1.20395

Abstract

Lokasi pusat-pusat pemerintahan kesultanan Melayu di Kalimantan Barat berada di sepanjang tepian sungai. Sungai menjadi faktor yang sangat penting dalam kehidupan kesultanan, yaitu terkait dengan fungsinya sebagai sumber kehidupan dengan beragan jenis flora dan fauna, sebagai aksesibilitas dan jalur transportasi serta komunikasi. Keterbatasan wilayah tepian sungai menyebabkan perkembangan pusat kesultanan melebar sepanjang tepian sungai karena wilayah daratan masih berupa hutan dan kurang aman. Perkembangan aktivitas perdagangan global pada masa pemerintahan kesultanan yang semakin pesat menyebabkan jalur sungai semakin ramai dilalui oleh pedagang lokal, regional dan internasional. Keberadaan kongsi dagang Belanda (VOC) hingga menjadi pemerintahan Hindia Belanda turut mempengaruhi perkembangan pusat-pusat pemerintahan kesultanan Melayu di Kalimantan Barat.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jaringan perdagangan global terhadap struktur wilayah Borneo Barat dan konfigurasi spasialpusat pemerintahankesultanan-kesultanan Melayu di Kalimantan Barat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode sejarah yaitu dengan mengetahui perkembangan sistem jaringan perdagangan global dan korelasinya dengan sejarah pembentukan wilayah kesultanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem dan jaringan perdagangan mempengaruhi struktur wilayah Borneo Barat dengan sistem hulu-hilir dan konfigurasi spasial wilayah pusat pemerintahan kesultanan Melayu yang terbatas dan melebar sepanjang tepian sungai. Kata-kata kunci: jaringan perdagangan, struktur wilayah, konfigurasi spasial, kesultanan Melayu, Kalimantan Barat  THE INFLUENCE OF GLOBAL TRADING NETWORK ON THE MALAY SULTANATES CENTRAL OF GOVERNMENT STRUCTURE AND SPATIAL CONFIGURATION IN WEST KALIMANTANMalay sultanates central government in West Kalimantan were located along the banks of the river. The river became very important factor in the life of sultanates, which was related to its function as a source of life with a variety of floras and faunas, as well as accessibility, transportation lines and communication. Limitations of the riverbank area led to the development of the center of sultanates which extended along the river banks, because land area were still forested and less secure. The development of global trade activities during the reign of sultanates, which grew rapidly, led to increasingly crowded river path, traversed by local, regional and international traders. The existence of Dutch trade partnership (VOC) and later became the Dutch East Indies, also influenced the spatial development of administrative centers in West Kalimantan Malay sultanates. The purpose of this study was to determine the influence of global trading network on the spatial structure of Westeer Borneo Afdelling and on spatial configuration of the Malay sultanates region in West Kalimantan. The study was conducted using historical method, by mapping the development of a global trading network system and its correlation with the history of the region formation of the sultanates. The results showed that the trading systems and networks affected the structure of afdelling by upstream and downstream system, and the spatial configuration of the central region of Malay sultanates government became limited and spread along the riverbanks. Keywords: trading network, regional structure, spatial configuration, Malay sultanates, West Kalimantan REFERENCES_______. Tanpa Tahun. Sejarah Kerajaan Tanjungpura-Matan. Tanpa Penerbit. Andi, Uray Fery. (2016): Sejarah Perkembangan Arsitektur Istana Kesultanan Melayu di Kalimantan Barat, Disertasi Doktor Arsitektur, Institut Teknologi Bandung, Bandung Barnet, Jonathan. (1974): Urban design as public policy: Practical methods for improving cities, Architectural Record Books Collins, J. T. (2001). Contesting Straits-Malayness : The Fact of Borneo. Journal of Southeast Asian Studies,32(3), 385–395. Coedes, George. (2010). Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Jakarta Damayanti, R., dan Handinoto. (2005). Kawasan “pusat kota” dalam perkembangan sejarah perkotaan di Jawa.Dimensi Teknik Arsitektur, 33 (1),34 – 42. De Graaf, H.J. & Pigeaud, T.H. (1989). Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti dan KITLV. Dick, HW & Rimmer, PJ, 1998: Beyond the third world city: the new urban geography of South-east Asia’, Urban Studies, vol. 35, no. 12, Enthoven, J. J. . (2013)Sejarah dan Geografi Daerah Sungai Kapuas Kalimantan Barat, Terjemahan Bijdragen Tot De Geographie van Borneo’s Wester-Afdeeling 1905. (P. O. C. Yeri, Ed.) (1st ed.), Pontianak, Institut Dayakologi. Groat, L., & Wang, D. (2002). Architectural Research Method. Canada: John Wiley and Sons, Inc. Lindblad, J. T. (2012). Antara Dayak dan Belanda, Sejarah Ekonomi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan 1880-1942 (1st ed.). Jakarta: KITLV-Jakarta. Leur, J. C. van. (1967). Indonesia Trade and Society: Essays in Asian Social and Economic History, The Hague, The Hague: W. Van Hoeve Publishers. Lombard, D. (2005). Nusa Jawa Silang Budaya, - Buku I, II, & III. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Lontaan, J.U. (1975). Sejarah, Hukum Adat, dan Adat Istiadat Kalimantan-Barat. Pontianak: Pilindo. Manguin, P. (2014). Sifat Amorf Politi-politi Pesisir Asia Tenggara Kepulauan. In P. Manguin (Ed.), Kedatuan Sriwijaya (Kedua, p. 315). Jakarta: Komunitas Bambu. Rahman, Ansar. (2000). Perspektif Berdirinya Kota Pontianak. Pontianak: Tanpa Penerbit.Groat, L., & Wang, D. (2002). Architectural Research Method. Canada: John Wiley and Sons, Inc. Lombard, D. (2005). Nusa Jawa Silang Budaya, - Buku I, II, & III. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Manguin, P. (2014). Sifat Amorf Politi-politi Pesisir Asia Tenggara Kepulauan. In P. Manguin (Ed.), Kedatuan Sriwijaya (Kedua, p. 315). Jakarta: Komunitas Bambu. Reid, A. (2011). Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid 2: Jaringan Perdaganga Global (2nd ed.). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Usman, S. (2011). Kota Pontianak Sedjak Tempo Doeloe: Album dan Dokumen Masa Lampau. Pontianak. Ricklefs, M. C. (2010). Sejarah Indoensia Modern 1200-2008, Jakarta, PT. Serambi Ilmu Semesta. Schutte, G.J, ed. (1994). State and Trade in Indonesian Archipelago, KITLV Press, Leiden Veth, P. (2012). Borneo Bagian Barat: Geografis, Statistik, Historis Jilid 1, Terjemahan Borneo’s Wester-Afdeeling Geographisch, Statistisch, Historisch 1854, terjemahan oleh P. O. C. Yeri., Pontianak, Institut Dayakologi
MENGENAL ARSITEKTUR LOKAL: KONSTRUKSI RUMAH KAYU DI TEPIAN SUNGAI KAPUAS, PONTIANAK Lestari, Lestari; Zain, Zairin; ., Rudiyono; ., Irwin
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.619 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v3i2.18321

Abstract

Keberadaan sungai Kapuas sebagai sumber kehidupan dan jalur transportasi air, memunculkan permukiman-permukiman di tepian sungai Kapuas.Rumah-rumah yang berada di pemukiman tepian sungai Kapuas umumnya didirikan langsung di tepian sungai Kapuas.Rumah tersebut sebagian besar berupa rumah kayu yang terhubung dengan gertak-gertak sebagai jalur penghubung antar rumah.Konstruksi rumah kayu ini menarik untuk diamati mengingat keadaan tepian sungai perlu diselesaikan oleh bangunan agar tetap bertahan.Tulisan ini memaparkan kontruksi rumah kayu pada salah satu kasus daerah tepian sungai kapuas. Daerah kasus yang diambil adalah Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak.Dalam tulisan ini dipaparkan konstruksi kayu berdasarkan bagian-bagian rumah mulai dari pondasi, rangka, dinding, sampai atap.Terdapat beberapa tipe konstruksi pada kasus yang diteliti.Pertimbangan umum terletak pada kemudahan konstruksi, tampilan atau fasad dan lokasi keberadaan rumah The existence of the Kapuas river as a source of life and water transportation, led to settlements growth on side the Kapuas river. The houses are located on side Kapuas river are generally directly constructed at the river. The houses  mostly made of wood which connected by wooden bridge as connecting lines between houses. Construction of wooden houseis interesting to be identifiedbecause the building must bedurable with the condition around the river. This paper describes the wooden houses construction in one case area of the Kapuas riverside. Case study is taken at Kelurahan Bansir Laut, South East Pontianak District. In this paper described the wooden construction : the foundation, frame, wall, and the roof. There are several types of construction in the cases studied. General considerations is the ease of construction, appearance or facade and location of the house.REFERENCESAbdurachman., Nurwati Hadjib. (2006). Pemanfaatan Kayu Hutan Rakyat Untuk Komponen Bangunan. PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 130-148: BogorHidayat, Husnul. (2014). Konteks Ekologi Kota Tepian Sungai dalam Perspektif Lokalitas Bahan Bangunan. Membangun Karakter Kota Berbasis Lokalitas. Architecture Event 2014Hidayati, Zakiah. (2012). Sistem Struktur dan Konstruksi Bangunan Vernakula Rumah Suku Kutai Tenggarong, Kalimantan Timur . JURNAL EKSIS Vol.8 No.1, Mar 2012: 2001 – 2181Khaliesh, Hamdil., Indah Widiastuti., Bambang Setia Budi. (2012). Karakteristik Permukiman Tepian Sungai Kampung Beting di  Kota Pontianak. Prosseding Temu Ilmiah IPLBI 2012. BandungNingsih, Deffi Surya., Za’aziza Ridha Julia., Larissa Hilmi., Leo Darmi. (2016). Rayap Kayu (Isoptera) Pada Rumah-Rumah Adat Minangkabau Di Sumatera Barat diakses online padahttp://artikel.dikti.go.id/index.php/PKM-P/article/viewFile/23/23 pada tanggal 28 September 2016Puspantoro, Ign Benny, Ir. (2005). Konstruksi Bangunan Gedung : Sambungan Kayu Pintu Jendela. Penerbit Andi : YogyakartaZain, Zairin. (2012). Pengaruh Aspek Eksternal pada Rumah Melayu Tradisional di kota Sambas. Jurnal NALARSs Vol 11 No. 2 Juli 2012 .Universitas Muhammadiyah Jakarta. JakartaZain, Zairin., Indra Wahyu Fajar. (2014). Tahapan Konstruksi Rumah Tradisional Suku Melayu di Kota Sambas Kalimantan Barat. Jurnal Langkau Betang Vol 1 No. 1 2014 . Universitas Tanjungpura. Pontianak
TIPOLOGI PINTU RUMAH TRADISIONAL DUSUN PUCUNG, SITUS MANUSIA PURBA SANGIRAN Faisal, Gun; Roychansyah, Muhammad Sani
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.505 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i2.18801

Abstract

Pintu merupakan elemen penting dalam suatu bangunan, terutama rumah tinggal. Pintu adalah jalur sirkulasi antara ruang dalam dan luar bangunan. Rumah di Dusun Pucung memiliki pintu yang terbilang unik, baik dari segi jumlah, bentuk dan ornamennya, yang mana penggunaannya memiliki maksud dan tujuan tersendiri bagi setiap pemiliknya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengklasifikasikan pintu rumah tradisional yang berada di Dusun Pucung. Pendekatan penelitian dilakukan secara kuantititatif dan kualitatif, pengambilan data melalui survey lapangan, diiringi dengan studi literatur, studi kawasan, teoritikal, studi empiris terhadapt laporan penelitian terdahulu. Analisa data diawali dengan perumusan karakter umum pintu bangunan kawasan, penentuan pintu bangunan yang sesuai kriteria penelitian, penggambaran ulang (redrawing), pengelompokan dan kategorisasi tipikal elemen pintu bangunan. Penelitian ini pada akhirnya dapat mentipekan desain elemen pintu rumah tradisional yang berada di kawasan konservasi Situs Manusia Purba Sangiran, yang termasuk kedalam kawasan  World Heritage. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan 6 (enam) tipe pintu rumah tradisional Dusun Pucung. Tipe pintu tersebut berdasarkan 2 kategori, yaitu berdasarkan jumlah; pintu satu, tiga, serta lima, dan berdasarkan materialnya, ada pintu yang terbuat dari bambu (gedhek), kayu, dan kayu-kaca. Door is an important element in a building, especially a residential house. It is a circulation path between the interior and exterior of building. In Pucung Village, it has relatively unique function and meaning with a variety of ornaments, shapes, and amounts. The purpose of this study is to classify the types of doors and their elements, in this case the doors of traditional house in Pucung Village. Data were collected through field surveys, which were supported by the literature, theoretical studies and the results of empirical study. Analysis and formulation of the general characters of doors were done, and the doors were determined in accordance with appropriate criteria of study and re-drawn, so the grouping and categorization of typical elements of the doors could be done. As a result, the design of traditional doors in the conservation area of Sangiran Early Man site, which is included in the World Heritage area, can eventually be typified. Based on the results of the study, six types of traditional doors in Pucung Village were obtained. The types of doors were based on two categories. Based on number, there were doors with one, three, and five in number, while based on material, there were doors made from bamboo (gedhek), wood, and wood and glassREFERENCESBalai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. (2012). Brosur ‘Museum Purbakala: Situs Sangiran (Perjalanan Menakjubkan Kembali ke Zaman Purba), Kantor Pariwisata, Investasi, dan Promosi Pemkab Sragen. Sragen, Jawa TengahColquhoun, A.. (1967) Typology and Design Method, dalam Theorizing a New Agenda for Architecture. An Anthology of Architectural Theory 1965- 1995, Kate Nesbitt (ed.). Princeton Architectural Press. New YorkDurand, Jean Nicolas Louis. (2000). Pr`ecis of the Lectures on Architecture. The Getty Research Institute. Los AngelesFrancescatto, Guido. (1994) Type and the Possibility of an Architecture Scolarship, Ordering Space, Types in Architectural and Design, Karen A. Franck, Lynda H. Schneekloth (ed). Van Nostrand Reinhold. New YorkHidayat, Rusmulia Tjiptadi, dkk. (2004) Museum Situs Sangiran: Sejarah Evolusi Manusia Purba Beserta Situs dan Lingkungannya. Koperasi Museum Sangiran. Sangiran.Johnson. P A. (1994). The Theory of Architecture, Van Nostrand Reinhold Company. New YorkKartikasari, Indah. (2012). Topografi Dusun Pucung, Situs manusia Purba Sangiran. Laporan Penelitian KKA-S2 UGM 2012. YogyakartaMochsen, Sir Mohammad. (2005). Tipologi Geometri: Telaah Beberapa KaryaFrank L. Wright dan Frank O. Gehry, Rona Jurnal Arsitektur Volume 2, No. 1 April 2005 hal 69-83. FT Unhas. MakasarMoneo, Rafael. (1979) Oppositions Summer On Typology. A Journal for Ideas and Criticism in Architecture vol. 13 h. 23-45. The MIT Press. MassachusettsPfeifer, G.; P. Brauneck. (2008). Courtyard Houses–A Housing Typology. Birkhauser Verlag AG. GermanySukada, B. (1997). Memahami Arsitektur Tradisional dengan Pendekatan Tipologi.  PT. Alumni. Bandung