cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian
Published by Universitas Semarang
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
PENINGKATAN KADAR PROTEIN, LEMAK, DAN ASAM LEMAK TAK JENUH PADA TEMPE AKIBAT PENAMBAHAN TEPUNG BELUT (Monopterus albus zuieuw) DAN UJI SENSORIS TEMPE BELUT Andini, Silvia; Virginia, Gloria; Hartini, Sri
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 12, No 1 (2017): Februari
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v12i1.480

Abstract

Tujuan dari penelitian adalah menentukan pengaruh penambahan tepung belut pada proses pembuatan tempe terhadap kadar protein, lemak, dan asam lemak tempe yang dihasilkan. Data kadar protein dan lemak dianalisis menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan dan 6 kali pengulangan dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur dengan tingkat kebermaknaan 5%. Komposisi asam lemak dianalisis dengan kromatografi gas yang terhubung dengan spektrofotometer massa. Tempe juga diuji sensorik oleh 15 panelis berdasarkan uji kesukaan. Kadar protein dan kadar lemak tempe meningkat seiring dengan penambahan tepung belut dari 0% sampai 7,5%, yaitu 22,20% hingga 32,31% dan 8,53% hingga 17,53% berturut-turut. Akan tetapi, peningkatan kadar penambahan tepung belut belum tentu meningkatkan kesukaan panelis terhadap tempe yang dihasilkan dan disajikan dalam bentuk digoreng. Uji sensorik menunjukkan bahwa tempe dengan 3% penambahan tepung belut adalah tempe yang paling disukai, dengan perolehan skor 3,87; 4,20; 3,93; dan 4,40 berturut-turut untuk parameter tesktur, aroma, rasa, dan kenampakan, di mana skor 3, 4, dan 5 secara berurutan berarti netral, disukai, dan sangat disukai. Komposisi asam lemak dalam tempe belut 0%, 3%, dan 7,5% berturut-turut adalah 14,28%; 17,22%; 12,36% asam heksadekanoat, 37,56%; 43,67%; 36,19% asam linoleat, 32,96%; 33,05%; 34,94% asam oktadekenoat, dan 3,00%; 3,87%; 2% asam oktadekanoat. Dengan demikian, penambahan tepung belut sebanyak 7,5% mampu meningkatkan kandungan asam lemak tak jenuh dan menurunkan kandungan asam lemak jenuh.The purpose of this research was to determine the effect of eels flour addition in tempeh on protein content, fat content and fatty acid content of tempeh. The protein and fat contents were analyzed using Randomized Completely Block Design (RCBD) with 5 treatments (0; 3; 4.5; 6; and 7.5% eels flour additions) and 6 replications. The differences among means of every treatment were calculated by using Honestly Significant Difference (HSD) with 5% level of significance. The fatty acidcomposition wasdetermined by Gas Chromatography-Mass Spectrophotometer (GC-MS). Tempeh was assessed using organoleptic test with 15 panelists to find out which tempeh was favored. The protein and fat contents of tempeh increased along with 0% to 7.5%eels flour addition; they were, respectively, 22.20 to 32.31% and 8.53 to 17.53%. Tempeh with 3% eels flour addition was most favored. The organoleptic scores for tempeh with 3% eels flour addition were 3.87 for texture, 4.20 for smell, 3.93 for taste, and 4.40 for appearance, in which the scores of 3, 4, and 5 meant neutral, liked, and very liked, respectively. The fatty acid compositions in tempeh with 0%, 3% and 7.5% eels flour addition were 14.28%, 17.22%, and 12.36% hexadecanoic acid consecutively, 37.56%, 43.67%, and 36.19% linoleic acid concecutively, 32.96%, 33.05%, and 34.94% octadec-16-enoic acid consecutively, and 3.00%, 3.87%, and 2% octadecanoic acid consecutively. The addition of eels flour as much as 7.5% could increase the unsaturated fatty acids content and lower the saturated fatty acids content.
TOTAL PROBIOTIK DAN SIFAT KIMIAWI FROZEN YOGHURTPADA PENYIMPANAN BEKU Cahyanti, Antonia Nani; Sampurna, Adi
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 12, No 1 (2017): Februari
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v12i1.481

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui viabilitas L.casei dalam yogurt susu kambing dan karakteristiknya selama penyimpanan beku. Yogurt dibuat menggunakan starter probiotik L.casei, disimpan dalam freezer selama 0,2,4,6 hari, dan dievaluasi pH, total asam, dan total probiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan total probiotik  secara signifikan pada penyimpanan hari ke-2, yang ditandai dengan penurunan total asam, total probiotik, dan  peningkatan pH. Diduga terjadi fenomena adaptasi probiotik terhadap kondisi penyimpanan beku setelah hari ke-2 penyimpanan, yang ditandai dengan peningkatan total probiotik, total asam, dan penurunan pH.The aim of this research was to study the viability of L.casei in yoghurt from goat’s milk and its characteristic during frozen storage. Yogurts were made with L.casei as a probiotic starter, stored in freezer for 0,2,4,6 days, and evaluated for for pH, titratable acidity, and probiotic count. The results showed that probiotic growth is decreased just on the 2nd day of storage significantly, and it was marked with the decreasing of acidity, probiotic count and the increasing of pH.  The probiotic seemed to be adaptive with the freezing condition after the 2nd day of storage until the 6th day of storage. It was marked with the increasing of probiotic count, acidity, and the decreasing of pH.
KADAR GIZI, PATI RESISTEN, DAN INDEKS GLIKEMIK BISKUIT GANDUM UTUH (Triticum aestivum L) VARIETAS DWR-1621 Haryani, Anik; Andini, Silvia; Hartini, Sri
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 12, No 1 (2017): Februari
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v12i1.470

Abstract

Penelitian ini merupakan salah satu langkah awal pengembangan pangan di Indonesia. Hal tersebut berkaitan dengan gandum yang dibudidayakan di Indonesia, yaitu gandum varietas DWR-162. Tujuan utama penelitian ini adalah menentukan pengaruh tepung gandum utuh varietas DWR-162 terhadap kandungan pati resisten (penentuan secara enzimatis) dan kadar gizi, yang biskuit meliputi kadar air (AOAC), abu (AOAC), lemak total (AOAC), karbohidrat total (Anthrone), protein terlarut (Biuret), dan serat kasar (AOAC). Parameter gizi tersebut dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-2973-1992 tentang mutu dan cara uji biskuit. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa biskuit dengan 10-50% tepung gandum utuh memiliki kadar air, abu dan lemak total berturut-turut adalah 0,85-0,92%, 1,35-1,43%, dan 33,44-41,70%. Nilai tersebut memenuhi syarat mutu SNI. Selain itu, kadar protein terlarut biskuit adalah 30,41-45,62%. Namun, karbohidrat total biskuit lebih rendah dari SNI, yaitu 37,58-49,32% dan kadar serat kasarnya lebih tinggi dari SNI yaitu 3,91-5,73%. Pati resisten biskuit meningkat hingga kadar substitusi gandum utuh 50% dari 17,8% menjadi 30,19%. Tingginya pati resisten biskuit gandum lokal ini sesuai dengan nilai indeks glikemik biskuit yang tergolong rendah, yaitu < 55. Dengan demikian, gandum varietas DWR-162 berpotensi menjadi alternative bahan pangan fungsional.This study was one of the initial steps in the development of Indonesian food based onlocal wheat, namely wheat DWR-162. The primary objective of this study was to determine the effect of the whole-wheat flour on the resistant starch content (enzimatically determined) and nutrition content of biscuits i.e moisture content (AOAC), ash (AOAC), total fat (AOAC), total carbohydrate (Anthrone), soluble protein (Biuret), and crude fiber (AOAC). The nutritional values were compared to the Indonesian National Standard (SNI) 01-2973-1992 about quality of biscuit. The results of this study showed that biscuits with 10-50% whole wheat flour had moisture, ash and total fat contents of 0.85% to 0.92%, 1.35% to 1.43%, and 33.44% to 41.70%, respectively. These values met the standard. In addition, the soluble protein content of biscuit was 30.41% to 45.62%. However, the total carbohydrate content, 37.58% to 49.32% was lower than SNI,while the crude fiber content, 3.91% to 5.73% was higher than SNI. Resistant starch increased from 17.8% to 30.19% along with the increased whole wheat substitution from 0% to 50%. The high content of resistant starch was in line with the low glycemic index of the biscuits, < 55. Thus, whole wheat DWR-162 could be potentially employed as a functional food ingredient. 
PENGARUH PENAMBAHAN BERBAGAI KONSENTRASI TEPUNG LABU KUNING (Cucurbita moschata Durch) SEBAGAI BAHAN FORTIFIKASI ROTI TAWAR Lestario, Lydia Ninan; Malithasari, Putri; Hastuti, Susanti Pudji
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 12, No 1 (2017): Februari
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v12i1.482

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh penambahan berbagai konsentrasi tepung labu kuning dalam pembuatan roti tawar terhadap kadar air, kadar abu, kadar beta karoten dan kadar serat dan untuk menentukan konsentrasi tepung labu kuning yang paling disukai oleh panelis berdasar pada uji organoleptik. Data kadar air, kadar abu, kadar beta karoten dan kadar serat roti tawar dianalisa secara statistik dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Sebagai perlakuan adalah konsentrasi tepung labu kuning, yaitu : 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10%, dan 12,5% sedang sebagai ulangan adalah waktu analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan berbagai konsentrasi tepung labu kuning dapat meningkatkan kadar ari, kadar abu, kadar beta karoten, dan kadar serat roti tawar yang dihasilkan. Hasil uji organoleptik dengan 30 panelis menunjukkan bahwa penambahan tepung labu kuning yang paling disukai adalah pada konsentrasi 5% dan 7,5%, dengan kadar air 32,22 % dan 33,52 %, kadar abu 0,92 % dan 1,04 %, kadar beta karoten 5,27 mg/100g dan 6,82  mg/100g, serta kadar abu 3,33 % dan 4,62 %.The objectives of this study were to determine the effect of various pumpkin flour concentration addition in bread as revealed by water, ash, beta carotene, and fiber content, to determine the most preferred concentration of pumpkin flour applied in bread by panelists based on the organoleptic test. The water, ash, beta carotene, and fiber contents of bread were analyzed by Randomized Completely Block Design (RCBD), with 6 treatments and 4 replications. As the treatments were various concentration of pumpkin flour addition which are : 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10%, and 12,5% respectively, and as blocks were time of analysis. The results showed that the addition of pumpkin flour with various concentration can increase the water, ash, beta carotene, and fiber content. The results of organoleptic test using 30 panelists showed that the most preferred concentration of pumpkin flour applied in bread 5% and 7,5% with the range of water content 32,22 % and 33,52 %, ash content 0,92 % and 1,04 %, beta carotene content 5,27 mg/100g and 6,82  mg/100g, and fiber content 3,33 % and 4,62 %.
SIFAT FISIK, KADAR AIR, TANIN, PATI DAN RENDEMEN TEPUNG KENTANG KLECI (Solenostenon rotundifolius) PADA BERBAGAI TEKNIK PENGOLAHAN Kristiani, Endang Bekti; Haryati, Sri
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 12, No 1 (2017): Februari
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v12i1.473

Abstract

Pada umumnya pengolahan kentang kleci hanya dengan merebus, agar dapat lebih tahan lama cara mengawetannya antara lain dengan menepungkan kentang kleci, sehingga dapat ditemukan setiap saat jika diperlukan. Beberapa masalah pada kentang kleci antara lain jika ditepungkan yaitu tepung yang dihasilkan mempunyai warna kurang cerah ada kemungkinan disebabkan oleh kandungan tanin dalam kentang atau adanya proses enzimatis sehingga menyebabkan browning pada tepung yang dihasilkan. Penelitian bertujuan mengetahui teknik pengolahan yang terbaik dari beberapa cara pada pembuatan tepung kentang kleci terhadap sifat fisik, kadar air, tanin, pati dan rendemen. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan September - November 2014 di laboratorium Rekayasa Pangan Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Semarang. Perancangan percobaan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) adapun teknik pengolahan tepung (P) dari kentang kleci yaitu: P1 =  Tanpa Perendaman, P2 =  Perendaman air biasa selama 30 menit, P3 =  Perendaman dengan Garam 4% selama 10 menit, P4 =  Blancing rebus ( air panas suhu 800C selama 4 menit), P5 = Blancing Uap (air panas suhu 1000C selama 10 menit),   Masing - masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali, dilanjutkan uji BNJ pada taraf nyata 5%. Kesimpulannya adalah perlakuan pengolahan berpengaruh nyata pada derajat putih, kadar  pati dan tannin, kecuali kadar air dan rendemen. Hasil yang terbaik pada perlakuan P5 dengan perlakuan uap selama 10 menit tepung mempunyai kadar pati tertinggi, kadar tannin terendah, hanya warnanya menjadi agak kurang cerah dibandingkan perlakuan yang lain.In general, the kleci/black potato processing just boiled, to be more durable then the means of preservation wich with flouring kleci potatoes, so it can be found at any time if necessary. Some problems in kleci potato if to be flour, the flour yield have less brightness there is likely to be caused by tannin content in potato or enzymatic processes that cause browning in flour produced.The study aims to determine the best processing techniques from some methode in the flouring of kleci potato to the physhical properties, water content, tannin content, starch content and the flour yield produced. The research was conducted from September to November 2014 in the laboratory of Food Engineering  used was a randomized complete block design (RCBD) while the flour processing techniques (P) of kleci potatoes are: P1 = Without soaking, P2 = Soaking in the water for 30 minutes, P3 = Soaking Salts 4% for 10 minutes, P4 = Boiled Blanching (hot water temperature of 800C for 4 minutes), P5 = Steam Blanching (hot water temperature of 1000C for 10 minutes). Each treatment was repeated 4 times, followed by HSD test at 5% significance level. The conclusion were the treatment have a significant effect on the degree of whiteness, starch and tannin content, but non significant effect to the water content and flour yield. The best results in the treatment of P5 with steam treatment for 10 minutes the flour  yield have highest starch content, low tannin levels, but the flour becomes less brightness than other treatments.
SIFAT FISIK DAN KIMIA PADA KRUPUK LOBAK (Raphanus Sativus L) DENGAN BERBAGAI TEPUNG KOMPOSIT TERIGU DAN MOCAF Bekti K., Endang; Fitriana, Ika
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 11, No 2 (2014): September
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v11i2.763

Abstract

Crackers known as complementary food that is very popular among people unfortunately crackers considered less fiber content because the majority are carbohydrates Empowerment radish with processing into refined products that crackers are higher in fiber and vitamins can increase the diversity of crackers therefore how to modificate crackers formulation with radishmixed with wheat-mocaf flour composite can be obtained crispy crackers and have higher levels of fiber and nutrients better than crackers in general .The study aims to determine the differences in the composite between wheat – mocaf flour with radish can affect the crackers produce ,which has differently in crispness , moisture content , fiber content and vitamin C. Research was carried out in March 2014 in the Food Engeneering laboratory Agricultural Technology Department of University Semarang. The experimental design is Completely RandomizedDesign( CRD) with five treatments and repeated 4 times , while the treatment is : 
KARAKTERISTIK YOGURT BERBAHAN DASAR SUSU KAMBING DENGAN PENAMBAHAN BERBAGAI JENIS GULA MERAH Sampurno, Adi; Cahyanti, Antonia Nani
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 12, No 1 (2017): Februari
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v12i1.478

Abstract

Diversifikasi pangan lokal berbasis susu kambing fermentasi sebagai pangan fungsional perlu diupayakan susu kambing Etawa produksi petani lokal Jawa Tengah menjadi semakin dikenal. Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya modifikasi susu kambing Ettawa ke dalam suatu bentuk produk pangan yang disukai konsumen karena tampilannya yang menarik dan citarasa yang disukai. Salah satunya adalah mengembangkan produk yogurt. Cahyanti dan Sampurno (2011) telah meneliti potensi susu kambing Ettawa sebagai frozen yogurt (froyo). Kendalanya adalah masih rendahnya tingkat kesukaan panelis terhadap produk tersebut, dan terdeteksinya aroma “prengus” (goaty flavour). Beberapa penelitian telah dilakukan untuk memperbaiki profil susu kambing dan susu kambing fermentasi. Ferdian (2011) menambahkan coklat bubuk; Diwangkoro (2008) menambahkan buah durian; serta Iqrimah, dkk. (2013) menambahkan sari tape ketan hitam. Gula merah mempunyai rasa dan aroma yang khas, sehingga tidak dapat digantikan oleh gula pasir. Aroma dan rasanya yang khas diharapkan dapat memperbaiki aroma yogurt susu kambing sehingga dapat meningkatkan tingkat kesukaan konsumen. Melihat situasi demikian, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penambahan gula merah sebagai sumber berbagai jenis asam dan karamel untuk menurunkan aroma “prengus” pada yogurt susu kambing. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kadar laktosa, gula reduksi, perubahan pH, total asam laktat, tingkat kesukaan (warna, rasa dan aroma), pada yogurt susu kambing yang ditambahkan berbagai jenis gula merah. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor, dengan perlakuan jenis gula merah (4 taraf perlakuan GS = gula siwalan, GK = gula kelapa, GA = gula aren dan GT = gula tebu; masing-masing sebanyak 50 g/50 ml) dan diulang 5 kali. Variabel yang diamati : kadar laktosa, gula reduksi, nilai pH, total asam laktat dan kesukaan panelis terhadap warna, rasa dan aroma yogurt susu kambing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan berbagai jenis gula merah tidak berpengaruh nyata pada konsentrasi laktosa, gula reduksi, total asam laktat dan pH yogurt susu kambing, serta terdapat perbedaan pengaruh antara perlakuan gula merah palma (GA, GK, GA) dengan gula merah tebu (GT) pada tingkat kesukaan panelis atas warna dan rasa yogurt susu kambing. Tingkat kesukaan panelis atas aroma yogurt susu kambing perlakuan GS dan GK berbeda dengan perlakuan GT.Local food diversification based fermented goats milk as functional food needs to be pursued in order Etawa goat milk production of local farmers in Central Java is becoming increasingly known. Therefore it is necessary to modify Ettawa goat milk into a form of food products favored by consumers because it looks attractive and preferred flavor. One is developing into a yogurt product. Cahyanti and Sampurno (2011) have examined the potential of goat milk Ettawa as frozen yogurt (froyo). Constraints obtained is still low level of preferences level panelists of the product, is still detected aroma "prengus" (goaty flavor). Several studies have been done to improve the profile of goat milk and goats milk fermentation. Ferdian (2011) add the cocoa powder; Diwangkoro (2008) added a durian fruit; and Iqrimah, et al. (2013) add the juice of black sticky tape. Brown sugar has a distinctive flavor and aroma, so it can not be replaced by sugar. Distinctive aroma and taste is expected to improve the aroma of goats milk yogurt, thereby increasing the level of consumer preferences towards these products. Seeing this situation, it is necessary to conduct further research regarding the addition of brown sugar as a source of various types of acids and caramel to lose aroma "prengus" on goats milk yogurt.The study aims to determine the levels of lactose, the sugar reduction, changes in pH, total lactic acid, the level of preference (color, taste and aroma), the goats milk yogurt is added various types of brown sugar. Research using completely randomized design (CRD) of the factors, which as treatment is a type of brown sugar (4 levels of treatment GS = palm sugar, GK = coconut sugar, GA = palm sugar  and GT = cane sugar; each of 50 g / 50 ml) and be repeated 5 times. Observed variables include: levels of lactose, the sugar reduction, pH value, total lactic acid and panelist preferences for color, flavor and aroma of goats milk yogurt. The results showed that the addition of various types of brown sugar had no significant effect on the concentration of lactose, reducing sugar, total lactic acid and pH of goat milk yogurt, and there is a difference between the treatment effect of brown palm sugar (GA, GK, GA) with brown sugar cane (GT ) at preferences level panelists on the color and flavor of goats milk yogurt. A preferences level panelists on goats milk yogurt aroma GS and GK treatment different from GT treatment
GULA DARAH PUASA DAN JUMLAH SEL BETA TIKUS DIABETES SETELAH PEMBERIAN TEMPE DAUN YAKON Muninggar, Jodelin
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 12, No 2 (2017): September
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v12i2.1756

Abstract

Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik ditandai hiperglikemia dan berpotensi terjadi komplikasi kronis pada organ tubuh. Tujuan penelitian menghitung kadar gula darah puasa (GDP) dan jumlah sel Beta pankreas dengan metoda Immunohystochemistry (IHC) pada tikus Sprague dawley yang diinduksi Streptozotocin setelah pemberian tempe daun Yakon (Smallanthus sonchifolia). Sejumlah 40 tikus jantan Sprague dawley usia 11-12 minggu dibagi menjadi 8 kelompok secara acak. Kelompok normal tidak mendapatkan perlakuan apapun. Kelompok DM (diabetes mellitus) mendapat induksi Streptozotocin, namun tidak mendapat tempe daun Yakon. Setelah induksi Streptozotocin 35 mg/kgbb, kelompok perlakuan 1, 2, 3, 4, 5 dan 6, berturut-turut mendapat tempe mengandung daun Yakon dosis 200 mg (P1), 400 mg (P2), 800 mg (P3), tempe (P4), teh daun Yakon (P5) dan Metformin 500 mg (P6). Perlakuan diberikan 60 hari. Sebelum terminasi, tikus diambil darah untuk pemeriksaan kadar gula darah puasa. Setelah terminasi, pankreas diambil dan dibuat slide preparat metoda IHC serta dihitung jumlah sel Beta pankreasnya. Uji statistik dengan One-Way ANOVA dan uji korelasi Pearson menggunakan SPSS 19 dan p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan GDP kelompok perlakuan P2 352 gr/dL terendah dibanding kelompok perlakuan lain. Sedangkan jumlah sel Beta pankreas, kelompok P2 (44) dan P3 (45) tertinggi dibanding kelompok perlakuan lain. Uji One Way ANOVA untuk kadar GDP kelompok normal-DM-P2 menunjukan bermakna (p=0,000). Uji One Way ANOVA untuk jumlah sel beta kelompok normal-DM-P2 menunjukan bermakna (p=0,048). Uji korelasi GDP dengan jumlah sel Beta Pankreas menunjukan kekuatan lemah (p=0,820; r=0,067). Pemberian tempe daun Yakon dosis 400 mg/kb BB mampu menurunkan GDP dan meningkatkan jumlah sel Beta pada tikus diabetes yang diinduksi Streptozotocin. Korelasi kadar GDP dengan jumlah sel Beta pankreas memiliki kekuatan yang lemah.
KUALITAS MINYAK JELANTAH HASIL PEMURNIAN MENGGUNAKAN VARIASI ABSORBEN DITINJAU DARI SIFAT KIMIA MINYAK Mulyani, HRA; Sujarwanta, Agus
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol 12, No 2 (2017): September
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v12i2.1757

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat variasi adsorben terbaik (ampas kelapa, ampas tebu dan jerami) yang dapat digunakan untuk memurnikan minyak jelantah. Dalam sebuah penelitian eksperimental pemurnian minyak jelantah dengan menggunakan beberapa adsorben yang mengandung selulosa akan mendapatkan perbedaan dalam  hasil data yang terkait dengan karakterisasi kimia. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Politeknik Negeri Lampung, yaitu analisis sifat kimia minyak. Metode penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap implementasi dan tahap pengolahan data. Dalam meneliti pemurnian minyak goreng limbah menggunakan variasi sifat kimia adsorben meliputi: kadar air, bilangan penyabunan, bilangan peroksida, bilangan iodium dan asam lemak bebas (ALB). Sifat kimia dari minyak dalam penelitian ini yang menghasilkan kualitas kadar air, asam lemak bebas, bilangan Peroksida, bilangan iodium adalah adsorben tunggal: ampas kelapa, dengan kata lain bahwa adsorben ampas kelapa memberikan perubahan positif untuk kualitas peningkatan pada pemurnian minyak jelantah.

Page 1 of 1 | Total Record : 9