cover
Contact Name
Ihsan Mz
Contact Email
Ihsan Mz
Phone
-
Journal Mail Official
ihsan.mz@iain-palangkaraya.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
NALAR: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
ISSN : 25979930     EISSN : 25988999     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam promotes multidisciplinary approaches to Islam and focuses on seven main topics; (1) the Qur’an and hadith, (2) Da’wah, (3) Psychology/Counseling, (4) Theology (Kalam), (5) Philosophy, (6) Mysticism (Tasawwuf), and (7) Islamic History. All submitted papers are subject to double-blind review process.
Arjuna Subject : -
Articles 54 Documents
MEWARISI “KEBENCIAN” IBRAHIM: PENAFSIRAN KONTEKSTUAL AL-MUMTAHANAH AYAT EMPAT DI TENGAH IKLIM ISLAMOPHOBIA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUALISME ABDULLAH SAEED Ahied, Muhammad Aufal
NALAR Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/njppi.v3i2.1368

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan penafsiran Surat al-Mumtahanah yang berkaitan dengan sikap Ibrahim kepada kaum dan bapaknya yang tidak mengindahkan dakwah beliau. Adapun latar belakang penulisan ini adalah semakin meningkatnya pandangan buruk terhadap Islam yang dianggap menciptakan umat yang radikal, atau yang diistilahkan dengan islamophobia. Munculnya istilah radikal atau islamopobia disebabkan oleh pemahaman terhadap beberapa ayat al-Qur?an yang dianggap melegalkan kekerasan, salah satunya adalah surat al-Mumtahanah ayat empat. Oleh karenanya, perlu ada upaya reinterpretasi atau penafsiran ulang terhadap ayat-ayat tersebut yang lebih cenderung kepada nilai kedamaian sebagai nilai universal yang diusung oleh Islam. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan metode kontekstualisme yang diusung Abdullah Saeed dalam menelaah kembali makna surat al-Mumtahanah ayat empat. Metode ini mencoba menarik kembali makna ayat al-Qur?an dengan melihat makro konteks pertama yaitu kondisi ketika wahyu turun dan makro konteks pertama yaitu masa sekarang dengan penghubung konteks yang diwakili oleh karya-karya tafsir tiap zaman. This paper aims to explain the interpretation of Surat al-Mumtahanah relating to the attitude of Ibrahim to his people and fathers who did not heed his preaching. The background of this writing is the increasing negative view of Islam which is considered to create a radical community, or termed Islamophobia. The emergence of the term radical or Islamopobia is caused by an understanding of some verses of the Koran which are considered to legalize violence, one of which is Surah al-Mumtahanah verse four. Therefore, there needs to be an effort to reinterpret or reinterpret these verses which are more inclined to the value of peace as a universal value carried by Islam. In this paper, the author uses the contextualism method carried by Abdullah Saeed in re-examining the meaning of verse al-Mumtahanah verse four. This method tries to pull back the meaning of the verses of the Koran by looking at the first context macro which is the condition when revelation comes down and the first macro context is the present with the connecting context represented by interpretive works of each age.Kata Kunci: Interpretasi, Kontekstualisme, Islamophobia, Abdullah Saeed
CYBERDAKWAH: INTERNET SEBAGAI MEDIA BARU DALAM SISTEM KOMUNIKASI DAKWAH ISLAM Rustandi, Ridwan
NALAR Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/njppi.v3i2.1678

Abstract

Di era globalisasi, kemunculan teknologi informasi dan komunikasi seperti internet membuka peluang baru untuk pengembangan dan proses penyebaran pesan-pesan dakwah. Internet dipandang sebagai ruang virtual yang mampu menyebarkan pesan dakwah secara efektif, mudah diakses, cakupan wilayah yang luas dan waktu yang tidak terbatas. Hal ini memunculkan wacana cyberdakwah, yakni sebuah aktifitas amar ma?ruf nahi munkar dengan menggunakan media internet. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis literatur yang didapatkan baik dari buku, jurnal dan sumber lainnya yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena cyberdakwah secara teoritik dipandang sebagai metode kontemporer dalam penyebaran pesan dakwah. Secara praktik, penggunaan media internet sebagai media baru dalam dakwah Islam membuka peluang untuk menyebarluaskan pesan-pesan dakwah secara masif dan signifikan. Dampak penelitian diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan atas beberapa permasalahan cyberdakwah di Indonesia.In the era of globalization, the emergence of information and communication technologies such as the internet opens new opportunities for the development and dissemination of propaganda messages. The internet is seen as a virtual space that can spread the message of preaching effectively, easily accessible, wide area coverage and unlimited time. This raises the discourse of cyberdakwah, which is an activity of the amar ma'ruf nahi munkar which uses internet media. This study uses a qualitative approach through the analysis of literature obtained both from books, journals, and other relevant sources. The results showed that the phenomenon of cyber-dakwah theoretically was seen as a contemporary method in spreading the message of da'wah. In practice, the use of internet media as new media in Islamic da'wah opens opportunities to disseminate da'wah messages massively and significantly. The impact of the research is expected to be able to answer various challenges over several issues of cyber propagation in Indonesia.Kata Kunci: Cyberdakwah, Internet, Media Baru.
PROSES PENYEMBUHAN GEJALA KEJIWAAN BERBASIS ISLAMIC INTERVENTION OF PSYCHOLOGY Sumarni, Sumarni
NALAR Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/njppi.v3i2.1677

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang bagaimana proses penyembuhan gejala kejiwaan melalui intervensi psikologi Islam. Menurut data yang dikeluarkan Riskesda pada tahun 2013, menunjukkan bahwa provalensi gangguan mental emosional, yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas yang mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% jumlah dari penduduk Indonesia sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk ini menunjukkan betapa tingkat depresi di Indonesia sangat tinggi dan membutuhkan penanganan yang serius. Artikel ini menggunakan jenis penelitian berbasis studi literatur yang dilakukan melalui pengumpulan data dan dokumentasi, dengan teknik analisis menggunakan reduksi data dan penarikan kesimpulan dan melalui praksis kepustakaan mulai dari buku, jurnal ilmiah, e-book, internet dan berbagai fakta yang ada,  Hasil dan pembahasan bahwa Psikoterapi Islam dinilai mampu untuk dijadikan sebagai salah satu terapi yang sangat efektif terhadap gangguan kejiwa yang ada pada seorang klien. Tujuan dari psikoterapi tersendiri yakni untuk meningkatkan kualitas hidup manusia baik secara fisik maupun psikis, sehingga mampu menurunkan tingkat kecemasan yang tinggi menjadi memiliki perasaan yang tenang dengan hadirnya Tuhan sebagi pemberi penyembuhan. Adapun terapi yang dilakukan dibedakan menjadi beberapa macam terapi di antaranya terapi yang berbasis ibadah dan terapi yang berbasis akhlak. Terapi yang berbasis ibadah meliputi dzikir, do?a, membaca/memahami al-Qur;an, sholat, puasa, zakat, dan haji. Terapi yang berbasis akhlak yakni ikhlas, ridha, syukur, qanaah, sabar, pemaaf, husnudzon, tawakal, muhasabah, dan tafakur. This article examines the process of healing psychiatric symptoms through the intervention of Islamic psychology. According to data released by Riskesda in 2013, it shows that the prevalence of emotional mental disorders, as indicated by symptoms of depression and anxiety for the age of 15 years and over, reaches around 14 million people or 6% of the population of Indonesia while the prevalence of severe mental disorders, such as schizophrenia reaches around 400,000 people or as many as 1.7 per 1,000 population this shows how the level of depression in Indonesia is very high and requires serious treatment. This article uses a type of research based on literature studies conducted through data collection and documentation, with analysis techniques using data reduction and drawing conclusions and through the praxis of literature ranging from books, scientific journals, e-books, the internet and various available facts, results and discussion that Islamic psychotherapy is considered capable of being used as one of the most effective therapies for psychological disorders in a client. The purpose of psychotherapy alone is to improve the quality of human life both physically and psychologically, so as to reduce the high level of anxiety to have a calm feeling in the presence of God as a giver of healing. The therapy is divided into several types of therapy including worship-based therapy and moral-based therapy. Worship-based therapy includes dhikr, prayer, reading/understanding of the Qur'an, prayer, fasting, almsgiving, and pilgrimage. Moral-based therapy that is sincere, happy, thankful, qanaah, patient, forgiving, husnudzon, tawakal, muhasabah, and tafakur.Kata Kunci: Psikoterapi Islam, Ibadah, Akhlak
PESAN DAKWAH DALAM LIRIK LAGU MENYAMBUT LEBARAN KARYA PENDHOZA Achsani, Ferdian; Laila, Siti Aminah Nur
NALAR Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/njppi.v3i2.1435

Abstract

Dakwah merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan bagi umat Islam di dunia. Dalam menyampaikan dakwah atau bersyiar, pendakwah harus memerhatikan materi-materi yang sesuai dengan Alquran dan Hadis. Selain itu, pendakwah atau da?i juga pelu memerhatikan penggunaan metode yang mendukung keberhasilannya dalam berdakwah. Tujuan penggunaan metode dakwah sendiri selain untuk menarik minat mad?u juga agar pesan yang disampaikan dapat lebih mudah diterima oleh mad?u. Lirik lagu sering menjadi metode ampuh bagi para penyair dalam mensyiarkan agama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pesan dakwah yang terdapat pada lirik lagu Menyambut Lebaran karya Pendhoza. Penelitian ini termasuk dalam deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca dan catat, yaitu dengan membaca dan mencatat lirik dan isi dalam lirik lagu Menyambut Lebaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesan dakwah dalam lirik lagu menyambut lebaran yaitu kewajiban menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, sabar dalam menjalankan ibadah puasa, fastabikhul khairat, memperbanyak shalat tarawih dan membaca alquran, membayar zakat, menjauhi perbuatan tercela di bulan Ramadan, silaturahmi di hari raya, mengenakan baju baru di hari raya, saling meminta maaf dan memaafkan terhadap sesama manusia. Da'wah is one of the obligations that must be carried out for Muslims in the world. In delivering da'wah or singing, preachers must pay attention to materials that are in accordance with the Qur'an and Hadith. In addition, preachers or preachers also need to pay attention to the use of methods that support their success in preaching. The purpose of using the da'wah method is not only to attract madam's interest but also so that the message delivered can be more easily received by madam. Song lyrics are often a powerful method for poets to broadcast religion. This research will describe the form of missionary messages contained in the lyrics of the song Welcome Lebaran by Pendhoza. This research is included in descriptive qualitative. Data collection techniques using the technique of reading and note taking, namely by reading and recording the lyrics and contents in the song lyrics Welcoming Lebaran. The results of the study show that some of the da'wah messages in the lyrics of the song welcome lenbaran such as: the obligation to carry out fasting in Ramadan, be patient in fasting, fastabikhul khairat, increase tarawih prayers and read the Koran, pay zakat, avoid disgraceful acts in Ramadan, hospitality in the day Raya, wearing new clothes on holiday, apologizing to one another and forgiving fellow human beings, etc.Kata Kunci: Dakwah, Lirik Lagu, Pendhoza
INTEGRASI AQIDAH DAN AKHLAK (TELAAH ATAS PEMIKIRAN AL-GHAZALI) Sabila, Nur Akhda
NALAR Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/njppi.v3i2.1211

Abstract

Degradasi akhlak yang terjadi saat ini menimbulkan banyak pertanya dari semua pihak. Produk pendidikan yang seharusnya dapat menjadi harapan untuk memperbaiki keadaan bangsa banyak yang menjadi sebaliknya. Mulai dari kasus pencurian biasa sampai pencurian level korupsi banyak dilakukan oleh orang-orang yang mengenyam pendidikan. Gagalnya institusi pendidikan untuk membentuk intelektual bermoral atau berakhlak mulia selalu menjadi topik utama. Tetapi saat masalah lain muncul, yaitu kasus kriminalitas yang dilakukan oleh remaja yang berkualitas dan berakhlak baik di sekolah terjadi, tidak hanya institusi pendidikan yang dipertanyakan, namun juga definisi konsep akhlak yang sebenarnya. Maka, kiranya dibutuhkan sebuah standar bentuk yang sempurna dalam pembahasan tentang akhlak. Mulai dari unsur-unsur yang membentuknya hingga tujuan pembentukannya. Oleh karena itu artikel ini bertujuan untuk membahas integrasi antara aqidah dan akhlak dalam pemikiran Al-Ghazali dengan menggunakan perspektif deskriptif analistis. Hasil analisis yang dilakukan diketahui adanya integrasi aqidah dan akhlak pada pemikiran Al-Ghazali khususnya dalam konsep akhlaknya. Terbukti dari setiap unsur dan latar belakang konsep akhlak yang ia bahas berdasarkan dengan kesadaran akan Aqidah. Moral degradation that is happening right now raises many questions from all parties. Educational products that can be a hope to improve a nation that is opposing. Ranging from ordinary theft to level theft is mostly done by people who are educated. The idea of education to make intellectuals moral or noble has always been the main topic. But when another problem arises, namely the problem of criminality committed by qualified and adolescents at school is done, not only education is questioned, but also the resolution of the actual moral concepts. So, presumably requires a perfect standard in the discussion of morals. Starting from the aspects who formed it to the purpose of its formation. Therefore this article discussing between aqeedah and morals in Al-Ghazali's discussion by using descriptive analytic perspective. The results of the analysis carried out regarding the integration of aqeedah and morals when discussing Al-Ghazali specifically in the concept of morals. Evidenced by every not and the background of the moral concept he discussed was based on the awareness of Aqidah.Kata Kunci: Aqidah, Akhlak, Al-Ghazali
ISLAM DAN PEMBEBASAN: ELEMEN-ELEMEN TEOLOGIS DALAM MENCIPTAKAN TRANSFORMASI SOSIAL Sulaiman, Ahmad; Supriyantho, Supriyantho; Puspitasari, Fantika Febry
NALAR Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/njppi.v3i2.1478

Abstract

Di tengah sengkarut ekonomi global yang menyebabkan kesenjangan yang tajam, masyarakat dan elit-elit politik di dunia seolah telah kehilangan daya kritis untuk melawan penindasan dan penghisapan berkedok pembangunan. Di situlah Islam, sebagai agama yang transformatif, seharusnya mampu hadir sebagai penawar. Secara normatif, Islam bukanlah agama yang menafikan tanggung jawab sosial. Malahan dalam firman-Nya, Allah Swt menyatakan seorang muslim sebagai pendusta agama apabila sementara ia beribadah, ia mengacuhkan kondisi prihatin fakir dan yatim di sekitarnya (107: 3). Doktrin utama Islam, doktrin tauhid juga mengisyaratkan kesatuan manusia (The unity of man) sebagai hamba yang tunduk patuh kepada kesatuan Tuhan (The unity of God) dan karenanya menolak upaya penuhanan lainnya. Tulisan ini mengajukan sebuah konsepsi mengenai Islam selaku teologi kritis yang memiliki pesan utama agar penganutnya melakukan perubahan sosial. Konsepsi itu memperlihatkan Islam yang membebaskan melalui lima elemen teologis, yaitu: doktrin, kisah, subjek, kesadaran, dan pendidikan yang membebaskan. Amid the turmoil of the global economy which led to sharp disparities, the people and political elites in the world seemed to have lost the critical power to oppose the oppression and exploitation under the guise of development. That is where Islam, as a transformative religion, should be able to come as an antidote. Normatively, Islam is not a religion that denies social responsibility. In fact, in his word, God declared a Muslim a religious liar if while he worshiped he ignored the conditions of concern for the needy and orphans around him (107: 3). The main doctrine of Islam, the doctrine of monotheism also implies human unity (The unity of man) as a servant who obeys to the unity of God (The Unity of God) and therefore rejects other full efforts. This paper proposes a conception of Islam as a critical theology which has the main message that followers adhere to social change. This conception shows a liberating Islam through five theological elements namely doctrine, story, subject, consciousness, and liberating education.Kata Kunci: Teologi Pembebasan, Pendidikan Kritis, Transformasi Sosial, Islam
Micro Hijabers Celebrity: Membentuk Identitas dengan Update Self-Story via Instagram (Kasus Dian Pelangi) Khomalia, Isti; Rahman, Khairul Arief
NALAR Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.457 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i1.869

Abstract

Artikel ini akan membahas mengenai fenomena hijabers yang sering mewarnai media sosial seperti Instagram. Fenomena mengenai hijabers yang tampil sebagai representasi wanita muslimah ini menarik untuk dikaji dari sisi pembentukan citra diri. Namun seiring berjalannya waktu hijabers juga menjadi model endorse produk-produk mulai dari kosmetik, jilbab dan lain sebagainya. Karena nilai keekonomian ini pula, hijabers tersebut menjadi tampil semenarik mungkin dengan foto atau gambar yang menunjang citra diri. Otomatis batas dalam membangun citra diri, menjadi kabur dan seakan tidak bisa dibedakan antara diri secara identitas personal sebagai micro-celebrity dengan diri sebagai model endorse. Pada titik inilah peneliti tertarik apa dan bagaimana para hijabers membangun percampuran identitas personal dengan identitas diri sebagai market branding. Peneliti juga tertarik tentang bagaimana pembentukan identitas ini dipadukan dengan gambar dan teks yang seolah diceritakan layaknya sebuah diary. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis temuan. Penelitian ini akan dibedah menggunakan dua teori, yaitu teori identitas untuk melihat citra diri dan teori dramaturgi Erving Goffman untuk   membedah bagaimana Dian Pelangi menceritakan keseharian dirinya khususnya lewat instagram. Berdasarkan hasil analisis terhadap temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa self-story di Instagram memiliki peranan penting seseorang dalam membentuk para micro-celebrity. Dalam perspektif aspek-aspek dramaturgi pembentukan ceritanya terdapat perbedaan terutama dalam aspek misrepresentation. Pertama, para follower lebih banyak akan melihat Dian Pelangi sebagai orang yang sempurna dalam akun Instagramnya dan lebih banyak memujinya. Sementara follower tidak akan tahu masalah apa yang mungkin terjadi lewat akun Instagramnya. Kedua, dikarenakan identitas yang tumpang tindih antara identitas personal dengan branding, maka identitas yang tercipta lebih menyerupai hyper-identity.Kata Kunci: Micro-Celebrity, Identitas, Hijabers, Media Sosial, Self-Story.
KONSEP PEMIMPIN IDEAL MENURUT AL-GHAZĀLĪ Afriansyah, Ade
NALAR Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.267 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i2.905

Abstract

Abū Ḥamid Muḥammad ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī al-Ṣāfi’i, dikenal sebagai al-Ghazālī seorang hujjah Islam (1058-1111 M) dengan konsep pemikiran pemimpin yang lebih mendalam, menekankan pada aspek substansial nilai ajaran agama daripada segi-segi formal-simbolik, menyatukan apa yang telah dipisahkan dari sosok pemimpin, pemimpin haruslah datang dari rakyat dengan pilihan rakyat. Tipe pemimpin ideal menurut al-Ghazālī adalah pemimpin yang memiliki intelektualitas, agama, dan akhlak, mampu memengaruhi lingkungan yang dipimpin, serta mampu mengobati kehancuran dan kerusakan dalam diri bangsa atau organisasi, serta membawa masyarakat yang adil dan makmur dengan menjunjung tinggi keilmuan, juga moral yang bersendikan agama.Keywords: pemimpin, kepemimpinan, al-Ghazali.
BANGSA MONGOL MENDIRIKAN KERAJAAN DINASTI ILKHAN BERBASIS ISLAM PASCA KEHANCURAN BAGHDAD TAHUN 1258-1347 M Suryanti, Suryanti
NALAR Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.045 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i2.910

Abstract

Penelitian ini membahas tentang bangsa Mongol mendirikan kerajaan Dinasti Ilkhan berbasis Islam pasca kehancuran Baghdad Tahun 1258-1347 M. pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana latar belakang berdirinya Dinasti Ilkhan yang pada akhirnya menjadi salah satu kerajan Islam dan bagaimana sosok kepemimpinan dinasti Ilkhan serta hubunganya dengan masyarakat Muslim di Persia.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam catatan perjalanan bangsa Mongol dibawah pimpinan Jengis Khan dan Huagu Khan mempunyai peran penting dalam menghancurkan kekuasaan Islam di Baghdad. Ekspansi bangsa Mongol ke Baghdad menyebabkan kehancuran Dinasti Abbasiyah sebagai pusat peradaban Islam. Akan tetapi pasca kehancuran Baghdad, bangsa Ini kembali membangun peradaban Islam dibawah pemerintahan Dinasti Ilkhan.Gazana Khan merupakan salah satu tokoh penting dalam pemerintahan Dinasti Ilkhan. Gazana Khan sebagai keturunan Jengis Khan telah melakukan transformasi bagi bangsa Mongol melalui Dinasti Ilkhan dimasa pemerintahan Dinasti Ilkhan mengakui Islam sebagai agama resmi pemerintahan dan membangun peradaban berdasarkan spirit Islam.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana latar belakng berdirinya kerajaan Dinasti Ilkhan dibawah kepemimpinan bangsa Mongol serta kepemimpinan dinasti Ilkhan dan hubunganya dengan Mayarakat Islam, sehingga bangsa Mongol yang awalnya membenci ummat Islam telah mendirikan kerajaan Islam dibawah pemerintahan dinasti Ilkhan.Kata kunci: Bangsa Mongol, Dinasti Ilkhan, Baghdad
AYAT AL-QUR’AN DALAM MANTRA BANJAR Alfianoor, Alfianoor
NALAR Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (833.381 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i1.900

Abstract

The stimulating thing in the oral literature of the Banjar people is their mantras that custom parts or fragments of verses of the Quran. The usage of fragments of the Quranic verses in the mantra cannot be separated from their belief in the miracles of the Quran that are believed to provide the infiltrating force in the recited mantras, so as to, the purpose of chanting mantras in various shades is expected to achieved. According to the author, it is a form of interaction of an Islamic society against the Quran. the Banjar people are very religious, nonetheless they incorporate a very sacred and revered part of the Quranic verses and are upheld by Muslims in their mantras, as if this were a paradox. this is a very interesting thing to be studied.The research done in Hulu Sungai Tengah district has managed to get some important notes that the mantras that use the verses of the Quran turned out to exist in various kinds of spells such as in the spell of witchcraft, the spell of power, the mantra for things occult spells, spells to treat illness and praise.Keywords: Qur’anic verse, Spell, Banjar.