cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Articles 50 Documents
PENGARUH LAMA EKSTRAKSI TERHADAP KADAR FENOL TOTAL EKSTRAK METANOL DAGING UMBI GADUNG (DIOSCOREA HISPIDA DENNST.) Susanti, Susanti
Journal of Pharmacopolium Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : P3M STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jop.v2i3.541

Abstract

Umbi gadung (Dioscorea hispida Dennst.) merupakan tanaman liar yang banyak terdapat di wilayah Indonesia,namun pemanfaatannya di Indonesia sendiri masih terbatas. Padahal umbi gadung memiliki potensi yang besardalam bidang farmasi, salah satunya dengan adanya kandungan senyawa fenol yang memiliki banyak manfaatterutama dalam bidang farmasi. Daging umbi gadung telah diketahui mengandung fenol namun belum adapenelitian yang menunjukkan pengaruh lama ekstraksi terhadap kadar fenol. Sehingga tujuan dari penelitian iniadalah untuk mengetahui pengaruh lama ekstraksi terhadap kadar fenol total dari daging umbi gadung.Penelitian dilakukan dengan mengekstraksi daging umbi gadung dalam metanol 90% dengan variasi waktu 3, 6,9, 12 dan 15 hari menggunakan metode maserasi. Kadar senyawa fenol dianalisis berdasarkan reaksi oksidasimenggunakan pereaksi Folin-Ciocalteu dan pengukuran absorbansi dengan Spektrofotometer Uv-Vis yangdinyatakan sebagai kadar fenol total (mg GAE/g ekstrak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fenoltertinggi diperoleh dari ekstrak yang dimaserasi selama 3 hari dengan total kadar 102,513 ± 0,129 mgGAE/gram ekstrak. Kadar fenol total ekstrak metanol daging umbi gadung mengalami penurunan seiringdengan bertambahnya lama ekstraksi.
VALIDASI METODE ANALISIS CEMARAN LOGAM BERAT: TIMBAL (PB) DAN KADMIUM (CD) DENGAN VARIASI OKSIDATOR SECARA SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM DALAM SEDIAAN OBAT HERBAL Nur Endah, Srie Rezeki
Journal of Pharmacopolium Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : P3M STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jop.v2i3.540

Abstract

Penggunaan obat herbal di Indonesia sudah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu, sebelum obat modernditemukan dan dipasarkan. Obat tradisional Indonesia atau obat asli Indonesia yang lebih dikenal dengan namajamu, umumnya campuran obat herbal, yaitu obat yang berasal dari tanaman. Sehubungan dengan sumber dankualitas bahan baku obat herbal maka efektifitas dan keamanan merupakan peran penting dalam pengendaliankualitas formulasi obat herbal. Ekstrak atau sari kental yang berasal dari suatu bahan alam sebelum diolahmenjadi produk herbal juga harus memenuhi syarat mutu yang berlaku, seperti cemaran timbal (Pb) dankadmium (Cd). Kontaminasi logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) dapat terjadi pada produk obat herbal.Metode analisis yang digunakan untuk penetapan kadar cemaran timbal dan kadmium harus divalidasi.Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi metode analisis dan melakukan uji kadar cemaran logam berattimbal dan kadmium dalam sediaan obat herbal di Kota Tasikmalaya. Preparasi sampel menggunakan metodedestruksi basah dengan menggunakan variasi oksidator HNO3 : H2O2 (3:1), HNO3 : H2SO4 (3:1) dan HNO3 :HCl (3:1). Setelah diperoleh alat dan proses destruksi optimum, dilakukan validasi metode analisis untukpenetapan kadar cemaran timbal dan kadmium dengan Spektrofotometri Serapan Atom yang meliputi ujilinieritas, batas deteksi, batas kuantifikasi, presisi dan akurasi. Uji kadar cemaran timbal dan kadmium dalamsediaan obat herbal dianalisis dengan Spektrofotometri Serapan Atom (SAA) pada panjang gelombang spesifikberturut-turut yaitu 217,0 nm dan 228,8 nm. Hasil penelitian validasi metode analisis memenuhi persyaratanvalidasi.
PEMANFAATAN HASIL FERMENTASI PADAT MONASCUS PURPUREUS SEBAGAI PENURUN KOLESTEROL PADA DAGING SAPI DAN DAGING KAMBING Yuliana, Anna
Journal of Pharmacopolium Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : P3M STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jop.v2i3.533

Abstract

Hasil fermentasi padat Monascus purpureus sering disebut dengan nama angkak. Angkak mengandung beberapajenis senyawa bioaktif salah satunya adalah monakolin K yang berkhasiat sebagai antikolesterol. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui efektivitas antikolesterol angkak dalam bentuk serbuk dan ekstrak yangdiaplikasikan pada daging sapi dan daging kambing. Pada penelitian ini digunakan angkak dalam bentuk serbukdan ekstrak sebanyak 250 mg yang digunakan untuk mengungkep sampel daging. Pemeriksaan kadar kolesteroldilakukan dengan metode Cholesterol Oxydase Phenol Amino Phenazon menggunakan fotometer UV-Vis. Hasiluji ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan antara angkak dalam bentuk serbuk dan ekstrak dalammenurunkan kadar kolesterol total dengan nilai p < 0,05. Berdasarkan uji LSD, angkak dalam bentuk serbuklebih efektif menurunkan kadar kolesterol total pada daging sapi dan daging kambing.
FORMULASI FAST DISINTEGRATING TABLET EKSTRAK ETANOL BIJI KAPULAGA (AMOMUM COMPACTUM SOLAND. EX MATON) DENGAN EXPLOTAB ® SEBAGAI SUPERDISINTEGRAN Nofriyaldi, Ali
Journal of Pharmacopolium Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : P3M STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jop.v2i3.532

Abstract

Kapulaga (Amomum compactum Soland. ex Maton) dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai terapi hiperurisemia.Obat antihiperurisemia sering digunakan oleh pasien usia lanjut yang sering mengalami kesulitan dalammenelan tablet sehingga diformulasikan dalam bentuk sediaan Fast Disintegrating Tablet (FDT) yangmerupakan tablet cepat hancur di mulut. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan FDT ekstrak etanolbiji kapulaga dengan variasi kadar superdisintegran Explotab. Pembuatan FDT ini menggunakan metodegranulasi basah. FDT dibuat dalam 4 formula yang menggunakan variasi konsentrasi superdisintegran explotab2% (FI), 4% (FII), 6% (FIII), 8% (FIV). Selanjutnya evaluasi FDT meliputi keseragaman bobot, keseragamanukuran, kerapuhan, keregasan, dan waktu hancur. Hasil penelitian menunjukan bahwa FIV dengan konsentrasi8% merupakan formula terbaik dilihat dari uji waktu hancur dibandingkan formula lain.
ISOLASI BAKTERI ENDOFIT DARI DAUN SIRIH (PIPER BETLE L.) SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS Muhsinin, Soni
Journal of Pharmacopolium Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : P3M STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jop.v2i3.539

Abstract

Infeksi merupakan kondisi yang sering terjadi pada manusia karena penyebarannya yang sangat cepat dan luas.Agen-agen yang menyebabkan infeksi dapat berupa hewan, bakteri, virus atau jamur. Bakteri yang dapatmenyebabkan infeksi pada mulut salah satunya ialah Staphylococcus aureus. Tanaman daun sirih (Piper betleL.) bisa dijadikan salah satu alternatif dalam pengembangan senyawa antibakteri, perolehan senyawa bioaktifdapat dimaksimalkan dengan pemanfaatan bakteri endofit dalam daun sirih. Penelitian ini bertujuan untukmengisolasi, identifikasi dan uji aktifitas dari ekstrak metabolit sekunder. Metode yang digunakan adalaheksperimental laboratorium yang meliputi uji aktivitas dengan menggunakan metode mikrodilusi dan gores.Hasil isolasi yang dilakukan di dapat 3 bakteri yang diduga merupakan genus Brevibacterium untuk isolat ID 2dan ID 7 sedangkan Rarobacter untuk isolat ID 1. Hasil uji aktivitas terhadap Staphylococcus aureus yangdilakukan dengan menggunakan metode mikrodilusi menghasilkan nilai KHM 1024 ppm untuk isolat ID 1, ID 2dan nilai KHM 16384 untuk isolat ID 7.
OVERPRODUKSI ASTAXANTHIN PADA HAEMATOCOCCUS PLUVIALIS DENGAN INDUKSI RADIASI UV DAN PENAMBAHAN BHT Awaliyah, Relinda Banatul
Journal of Pharmacopolium Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : P3M STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jop.v2i3.538

Abstract

H. pluvialis adalah mikroalga yang dapat mengakumulasi astaxanthin hingga 5% berat kering selnya dalamkondisi stres. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan produksi astaxanthindengan induksi stres secara fisika dan kimia serta kombinasi keduanya. H. pluvialis dikultivasi menggunakanmedia Walne. Pada hari ke-7 kultur diberikan perlakuan induksi stres. Induksi stres secara fisika dilakukandengan paparan radiasi lampu UV-B dengan waktu keterpaparan 30 menit, 60 menit dan 90 menit. Induksi stressecara kimia dilakukan dengan penambahan BHT (Butylated Hydroxytoluene) dengan konsentrasi 2 ppm, 4 ppmdan 6 ppm. Induksi stres kombinasi dilakukan dengan radiasi lampu UV-B dengan waktu keterpaparan 90 menitdan penambahan BHT 4 ppm. Kemudian kultur dikultivasi kembali selama 16 hari untuk menginduksiakumulasi astaxanthin. H. pluvialis diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut DMSO. Hasilanalisis kuantitatif dengan spektrofotometer ? 490 nm menunjukkan bahwa perlakuan induksi radiasi lampuUV-B 90 menit, penambahan BHT 4 ppm, dan kombinasi keduanya mampu menghasilkan kandunganastaxanthin tertinggi mencapai 0,745 mg/L, 0,916 mg/L dan 0,621 mg/L berturut-turut dari pada kontrol sebesar0,203 mg/L.
EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH RAMBUTAN (NEPHELIUM LAPPACEUM) SEBAGAI INDIKATOR ALAMI TITRASI ASAM BASA Aprilia, Ade Yeni
Journal of Pharmacopolium Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : P3M STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jop.v2i3.531

Abstract

Natural indicators containing anthocyanin compounds can be used as natural indicators in acid-base titration,for example in Rambutan (Nephelium lappaceum) rind. This is because there wa a change in the structure ofanthocyanin at each interval of degrees of acidity (pH) which causes a change in color. The purpose of thisstudy was to determine the ability of rambutan peel as a natural indicator in acid-base titration. The simplicis oframbutan peel was extracted using maceration method with ethanol solvent: HCl 1% (9: 1), then anthocyaninProof Test on simplicia and extracts, wavelength determination and visual determination of pH tranyek. Thenthe indicator is applied to the acid-base titration. Based on the results of this study it was found that therambutan fruit extract yields a yield of 56.7%. For anthocyanin proof test on simplicia and the ethanol extractof rambutan fruit skin contains anthocyanin compounds with a wavelength of 529 nm. In the pH test of the pH 1-12 buffer solution results were obtained that the ethanol extract of Rambutan rind (Nephelium lappaceum)produced a color change at pH 1-3 red while at pH 6-8 produced a dark brown color as the natural pHindicator route. The results of the application of the ethanol extract of rambutan peel on acid-base titrationshowed that the indicator of Rambutan peel extract had a volume of NaOH which was almost the same as theBuilder Indicator, the Phenofthalein Indicator which was 18 mL. Ethanol extract of Rambutan Fruit Skin can beused as a natural indicator in acid-base titration
ETLINGERA ELATIOR FLOWER OIL ANALYSIS AND ITS PROTECTION LEVEL TEST IN MOSQUITO REPELLENT LOTION Tuslinah, Lilis
Journal of Pharmacopolium Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : P3M STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jop.v2i3.537

Abstract

Etlingera elatior flowers contains flavonoids, terpenoids, saponins, and tannins. This study aims to determinethe content of oil compounds from Etlingera elatior flowers in n-hexan extract using the GC-MS method and tofind out their protective level towards Anopheles mosquitoes compared to the mosquito repellent lotions on themarkets. Extraction was carried out by maceration method using n-hexane solvent and it was purified using96% ethanol. The analysis oil was carried out by compound derivatization method from Etlingera elatiorflower?s oil through transesterification using sodium methanolic and analyzed using GC-MS. The analysisshowed that Etlingera elatior flower?s oil contained 22 types of compounds and five of them had % AUC valuesbetween 9 - 22.16% consisting of 9,12-octadecadienoyl chloride, 9-hexadecanoic methyl ester, octadecanoicmethyl ester, 9-octadecenoic tetradecil ester, and dodecanoic methyl ester. The results of the effectiveness test inthe form of anti-mosquito lotion showed that the mosquito repellent lotion of Etlingera elatior flower F3 (7.5%)had a significant difference with the mosquito repellent lotion that had been sold on the market
INOVASI SEDIAAN ORAL FISETIN DENGAN TEKNOLOGI SMART EDIBLE PAPER Dzakwan, Muhammad
Journal of Pharmacopolium Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : P3M STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jop.v2i3.536

Abstract

Fisetin is a flavonoid compound has natural antioxidant, anti-inflammatory and anticancer activities. It hasvery low bioavailability and the provision of fisetin in the oral dosage form is very limited. Research has beencarried out to develop and increase solubility and dissolution of fisetin. It was further developed into a solidoral dosage form of tablets with an edible paper matrix. This study that to develop fisetin into tablet dosageform with an edible paper matrix, determine the physical quality of tablets and drug release in vitro. Fisetin wasdissolved in a suitable solvent and then poured over an edible paper matrix, dried and cut in 1x1 cm size. Papercuttings are printed directly with various compressive strengths of 2, 4 and 6 tons. Tablet physical quality testsinclude hardness, disintegration time, friability, weight uniformity, and drug content. Furthermore, dissolutionwas tested and the best formula was chosen. The results of this research show that fisetin has the greatestsolubility with DMSO solvent. The edible paper matrix weight is 1000 mg and a tablet weight is 500 mg.Formula I with a compressive strength of 2 tons is the best formula and meets the physical quality testrequirements of the tablet. The release of formula I (FI) drug was superior (95.20%) and significantly higher(p<0,05) compared to formula II and III.
CHALCONE CONTENT IN THE ETHANOL EXTRACT OF ANGELICA KEISKEI LEAVES BY SPECTROPHOTOMETRIC METHOD Zain, Dichy Nuryadin
Journal of Pharmacopolium Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : P3M STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jop.v2i3.534

Abstract

Angelica keiskei Koidzumi, known as ashitaba or Japanese celery, has been the focus of interest in Asia. Thisplant has been reported to possess antituberculosis activity against Mtb H37Rv and antioxidant activity equals tovitamin E. It was predicted that those activities were caused by the plant?s secondary metabolites, e.g.flavonoids and polyphenols. Xanthoangelol (XAG) and 4-hydroxyderricin (4-HD), two chalcones orchalconoids (flavonoids with an open C-ring), are contained in the stems of A. keiskei. This work was aimed todetermine the chalcone level, calculated as XAG, in the leaves of A. keiskei planted in Mount Rinjani, Lombokisland, Indonesia. The plant was taxonomically identified at Herbarium Bandungense, Bandung Institute ofTechnology, Indonesia. The leaves were extracted using ethanol 70% and were screened for its phytochemicalcontents. The determination of the chalcones was carried out by employing standard addition UVspectrophotometric method. Results indicated that phenols, flavonoids, alkaloids, tannins and saponins werecontained in both the dried leaves and the leaves extract. The chalcones, calculated as XAG, were 1.959% w/w.