cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Volume 1 Nomor 2 September 2018" : 11 Documents clear
Faktor-Faktor Risiko dan Komplikasi pada Preeklamsi dengan Sindroma HELLP Afandi, Rikki Fitriyadi; Anwar, Anita Deborah; Syam, Hanom Husni
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 2 September 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.975 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko terjadinya preeklamsi dengan sindroma HELLP, serta faktor yang memengaruhi keadaan ibu dan janin pada pasien dengan preeklamsi dengan atau tanpa sindroma HELLP.Metode: Penelitian retrospektif ini mengambil subjek pada  periode  1  Januari  2011−31  Desember  2016.  Subjek dimasukkan ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok preeklamsi tanpa sindroma  HELLP  dan  kelompok  preeklamsi  dengan  sindroma  HELLP.  Data berupa faktor risiko serta faktor yang memengaruhi keadaan ibu dan janin dari anamnesis riwayat penyakit dahulu pasien.Hasil: Penelitian ini mengikutsertakan 200 subjek yang dibagi menjadi dua kelompok. Ibu berusia lebih dari 35 tahun ditemukan pada 27% subjek di kelompok sindroma HELLP, sedangkan hanya 5% pada kelompok tanpa sindroma HELLP. Pada kelompok dengan sindroma HELLP ditemukan hematoma hepatik sebanyak   3%,   tetapi   tidak   ada   pada   kelompok   tanpa   sindroma   HELLP. Komplikasi janin yang paling banyak terjadi pada kelompok dengan sindroma HELLP dan kelompok tanpa sindroma HELLP adalah kelahiran prematur, yaitu masing-masing 42% dan 39%.Kesimpulan: Sindroma HELLP sering terjadi pada subjek yang berusia diatas 35 tahun. Hematoma hepatik hanya ditemukan pada kelompok dengan sindroma HELLP. Kejadian komplikasi kelahiran prematur tinggi pada kedua kelompok.Kata kunci: Preeklamsi, sindroma HELLP, faktor risiko, komplikasi ibu, komplikasi janin AbstractObjective: This  study is important to investigate the risk factors of preeclampsia with HELLP syndrome and the factors which influenced maternal and fetal condition in preeclampsia with or without HELLP syndrome patients.Method: This  was  a  retrospective  study during 1st of January 2011 till 31st of December 2016 with  preeclamptic  patients as subjects. These subjects then were categorized into two groups, preeclampsia with HELLP syndrome group and preeclampsia without HELLP syndrome group. The data related to risk factors and factors which influenced maternal and fetal condition were taken from anamnesis of patients medical history.Results: This  study  participated  200  subjects  which  were  divided  into  two  groups. Maternal age > 35 years old was found in 27% of with HELLP syndrome group, while only 5% in without HELLP syndrome group. Hepatic hematoma was found in 3% of HELLP syndrome group, but none in without HELLP syndrome group. Preterm birth in both groups was 42% and 39% respectively.Conclusions: HELLP syndrome was more found in subjects whose age above 35. Hepatic hematoma was found only in HELLP syndrome group. The incidence of preterm birth was high in both groups.Key words: Preeclampsia, HELLP syndrome, risk factors, maternal complication, fetal complication.
Gambaran Rasionalitas Penggunaan Antibiotik berdasarkan Kriteria Gyssens di Bangsal Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Yoanitha, Nenny; Wirakusumah, Firman F.; Sukarsa, Rizkar Arev
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 2 September 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.81 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Penggunaan antibiotik yang tidak rasional terjadi di banyak rumah sakit dan dikaitkan dengan peningkatan jumlah resistensi antibiotik di seluruh dunia. WHO telah menggambarkan bahwa saat ini sedang terjadi “krisis” resistensi antibiotik yang berpotensi menyebabkan musibah secara global. Di Indonesia termasuk RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung data penelitian yang menggambarkan kualitas penggunaan antibiotik masih terbatas.Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif eksploratif dengan desain cross sectional dilaksanakan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada periode September–November 2016  pada pasien rawat inap di bangsal Obstetri dan Ginekologi. Rasionalitas penggunaan antibiotik diukur berdasarkan kriteria Gyssens yang  mengklasifikasikan kasus penggunaan antibiotik berdasarkan suatu alur memuat indikasi, jenis antibiotik, dosis, rute, interval, dan waktu pemberiannya.Hasil: Dari 150 kasus mayoritas merupakan kasus obstetri (62,7%) dengan kelompok umur terbanyak antara 21−35 tahun (73,3%). Berdasarkan  kriteria gyssens didapatkan terbanyak adalah kategori V (40,3%), sedangkan kategori 0 (antibiotik rasional) didapatkan sebanyak (22%).Kesimpulan: Penggunaan antibiotik yang tidak rasional berdasarkan kriteria Gyssens masih tinggi ditemukan di bangsal Kandungan dan KebidananKata kunci : Antibiotik, kualitas penggunaan antibiotik, kriteria gyssensAbstractObjective: The use of irrational antibiotics occurs in many hospitals and is associated with an increase of antibiotic resistance worldwide. WHO has described that there is currently a “crisis” of antibiotic resistance that has the potential to cause a global disaster. In Indonesia, including dr. Hasan Sadikin Hospital research data describing the quality of antibiotic use is still limited.Method: This study is a descriptive explorative research with cross sectional design that was conducted in dr. Hasan Sadikin Hospital on September until November 2016 with the sample was all inpatient that trated in the Obstetric and Gynecology ward.. The rationality of antibiotic use is measured by the Gyssens criteria that classify cases of antibiotic use based on a path containing indications, type of antibiotics, doses, routes, intervals, and time of administration.Result: Of the 150 cases the majority were obstetric cases (62.7%) with the most age group between 21-35 years (73.3%). Based on the criteria gyssens obtained the most is category V (40.3%), while category 0 (rational antibiotics) obtained as much (22%).Conclusion: The use of irrational antibiotics based on the Gyssens criterion is still high in the Obstetric and Gynecology wardKey words: Antibiotics, quality of antibiotic use, criteria gyssens
Karakteristik Pasien Tumor Trofoblas Gestasional Risiko Rendah dengan Kemoresitensi terhadap Metotreksat yang Dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode 2011−2015 Sinaga, Ronald Jackson; Tobing, Maringan D. L.; Harsono, Ali Budi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 2 September 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1525.855 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Penelitian ini akan mendeskripsikan karakteristik pasien TTG risiko rendah yang resisten terhadap metotreksat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung selama periode 2011-2015.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif, berlokasi di Departemen Obstetri dan Ginekologi dan Instalasi Rekam Medis Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dari bulan April sampai Mei 2017.Hasil: Selama periode penelitian didapatkan 46 kasus TTG risiko rendah yang resisten terhadap metotreksat. Jumlah kejadian terbanyak pada rentang usia 31-35 tahun (45,6%), 36,9% dengan paritas 2, 69,6% dengan gejala klinis perdarahan vagina abnormal, 91,3% dengan kehamilan sebelumnya mola hidatidosa, 52,5% kasus memiliki interval antara kehamilan dengan diagnosis TTG ≤ 4 bulan, 60,9% kasus kadar β-hCG awal > 100.000 mIU/ml. Sebanyak 28,3% kasus bermetastasis, 76,9% di paru-paru dan 23% di otak. Sebagian besar kasus TTG ditemukan pada stadium I (65,2%) pada tahap II, III dan IV adalah 10,9%, 15,2% dan 8,7%.Diskusi: Resistensi terhadap metotreksat pada kasus TTG risiko rendah kebanyakan terjadi pada pasien berusia 31-35 tahun, paritas 2, gejala klinis perdarahan vagina abnormal, kehamilan sebelumnya mola hidatidosa, interval antara kehamilan sebelumnya dengan saat didiagnosis TTG ≤4 bulan, β-hCG awal >100.000 mIU/ml, dan paling banyak ditemukan pada stadium I.Kata kunci: Tumor trofoblas gestasional risiko rendah, kemoresistenAbstract Objecttive:  This research will describe the characteristics of patients with low risk GTN with chemoresistancy to methotrexate at Hasan Sadikin Hospital Bandung during the period 2011-2015.Method: This research was a descriptive retrospective study located at Obstetrics and Gynecology Department and Medical Record Installation of Hasan Sadikin Hospital Bandung from April to May 2017.Results: During research period that was 46 low risk GTN cases with chemoresistancy to methotrexate. Number of incident mostly in 31−35 years (45,6%), 36,9% with parity 2, 69,6% with clinical symptom of abnormal vaginal bleeding, 91,3% with previous pregnancy hydadityform mole, 52,5% had interval between pregnancy with GTN diagnose was ≤4 months, 60,9% with intial β-hCG >100.000 mIU/ml, 28,3% case metastasized, 76,9% in lung and 23% in brain. Most of the GTN cases found in stage I ( 65,2%), in stage II, III and IV was 10,9%, 15,2% and 8,7%. Discussion: Chemoresistancy to methotrexate in low risk GTN mostly occur in 31-35 years of age, parity 2, mostly clinical symptom of abnormal vaginal bleeding, hidatydiform mole previous pregnancy, interval between pregnancy was ≤ 4 months, intial β-hCG >100.000 mIU/ml, and mostly found in first stage.Key words: Low risk gestational thropoblastic neoplasiac, hemoresistant
EDITORIAL: Tata Laksana Infertilitas yang Rasional dan Efisien untuk Mempersingkat "Time to Pregnancy" Bayuaji, Hartanto
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 2 September 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.959 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Memberikan pandangan kepentingan melakukan penatalaksanaan infertilitas yang efisien untuk mempersingkat time to pregnancy.Metode : Telaah pustaka dan basis bukti.Hasil: Kunci mempersingkat time to pregnancy pada penanganan infertilitas adalah melakukan work-up yang efisien dan rasional. Terdapat beberapa pemeriksaan yang mempunyai manfaat  jelas berdasarkan basis bukti. Hari-hari tertentu pada siklus menstruasi seorang wanita dapat dimanfaatkan untuk melakukan beberapa pemeriksaan terpilih. Fokus pemeriksaan adalah identifikasi latar belakang kesehatan suami dan istri, mengetahui adanya ovulasi dan cadangan ovarium, tes patensi tuba, evaluasi anatomik uterus dan peritoneum, serta analisis sperma. Setelah data dasar tersebut diperoleh, dilakukan evaluasi komprehensif untuk mengetahui program penanganan yang sesuai. Saat ini telah terdapat panduan nasional praktik kedokteran penanganan infertilitas sebagai dasar untuk dapat menangani infertilitas secara efisien.Kesimpulan: Time to pregnancy dapat dipersingkat dengan proses diagnostik dan penanganan yang berbasis bukti dengan memanfaatkan waktu-waktu tertentu dari siklus menstruasi.Kata kunci: Infertilitas, time to pregnancy, penanganan infertilitas, rujukanAbstractObjective: Provide an insight of the importance of conducting efficient and rational infertility management to shorten time to pregnancy.Method: Literature and evidence base review.Results: The key to shortening time to pregnancy in infertility management is to do an efficient and rational work-up. There are several examination that have clear benefits. Certain days of a womans menstrual cycle can be used to do some selected examinations. The focus of the examination is identification of the health background of husband and wife, ovulation documentation and ovarian reserve assay, tubal patency tests, anatomic evaluation of the uterus and peritoneum, and sperm analysis. After the basic data is obtained, a comprehensive evaluation is carried out to find out the appropriate management program. Currently there is a national guide to the practice of medical treatment of infertility as a basis for infertility management efficiently.Conclusion: Time to pregnancy can be shortened by an evidence-based diagnostic and treatment process by utilizing certain times of the menstrual cycle.Key words: Infertility, time to pregnancy, infertility management, referral system.
Gambaran Karakteristik dan Luaran pada Preeklamsi Awitan Dini dan Awitan Lanjut Di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Burhanuddin, Santi Maria; Krisnadi, Sofie Rifayani; Pusianawati, Dini
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 2 September 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1338.067 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Meneliti karakteristik dan luaran pada preeklamsia awitan dini dan awitan lambat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung.Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Data diambil dari rekam medis.Hasil:  Terdapat 347 pasien preeklamsi, 137 preeklamsi awitan dini, 192 awitan lambat dan 18 eklamsi. Distribusi umur preeklamsi awitan dini 20 sampai <30 tahun yaitu 45 orang (32,85%) dan umur >35 tahun 45 orang (32,85%), pada awitan lambat tersering pada umur >35 tahun 64 orang (33,33%). Distribusi paritas preeklamsi awitan dini paritas 1−3 yaitu 102 orang (74,5%) dan awitan lambat 118 orang (61,5%). Luaran bayi menunjukkan bayi yang lahir sesuai usia kehamilan pada preeklamsi awitan dini sebanyak 83,9% dan awitan lambat sebanyak 77,6% dan nilai APGAR 1 menit 7-10 pada preeklamsi awitan dini adalah 46% dan awitan lambat adalah 72,4%. Sindrom HELLP parsial adalah komplikasi terbanyak, yaitu 64 kasus (18,44%),  39 kasus pada  preeklamsi awitan dini, dan 22 kasus pada preeklamsi awitan lambat.Kesimpulan: Tidak ada perbedaan signifikan luaran bayi antara preeklamsia awitan dini dan awitan lambat. Komplikasi tersering adalah sindroma HELLP parsial.Kata kunci: Karakteristik, luaran, preeklamsia awitan dini, awitan lambat.  Abstract Objective: To describe the characteristics and outcome in early onset and late onset pre-eclampsia at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.Method: A cross sectional study with retrospective approach by examining medical record at Dr. Hasan Sadikin General Hospital.Result: Showed 347 patients preeclampsia,137 early-onset preeclampsia, 192 late-onset and 18 eclampsia. Distribution by age in early-onset preeclampsia by age group 20 to <30 years ie 45 women (32.85%) and age >35 years ie 45 women (32.85%), late onset age group >35 years ie 64 women (33.33. Distribution based on parity in early onset preeclampsia in the 1−3 parity group of 102 women (74.5%) and late-onset of 118 women (61.5%). Infant outcome average for gestational age at early-onset of 83.9% and late-onset of 77.6% and APGAR value of 1 min 7−10  in early-onset was 46% and late-onset was 72.4%. The partial HELLP syndrome was the most common complication, ie 64 cases (18.44%), with the occurrence of early-onset preeclampsia 39 cases, in the late-onset 22 cases.Conclusion: No significant difference was found in infant outcome between the two groups . The most common complication is partial HELLP syndrome.Key words: Characteristics, outcomes, early onset preeclampsia, late onset preeclampsia.
Perbandingan Fungsi Berkemih pada 3 Hari dan 5 Hari Katerisasi Urin Pascaoperasi Histerektomi Radikal pada Wanita Penderita Keganasan Serviks Stadium Awal Novianti, Astri; Purwara, Benny Hasan; Hidayat, Yudi Mulyana; Krisnadi, Sofie Rifayani; Tobing, Maringan Diapari Lumban; Armawan, Edwin
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 2 September 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.064 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Menganalisis perbandingan fungsi berkemih pada pemakaian kateter urin selama 3 hari dan 5 hari pasca operasi histerektomi radikal.Metode: Non-inferiority randomized controlled trial. Subjek penelitian adalah penderita kanker serviks di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung yang dilakukan operasi histerektomi radikal. Dilakukan penilaian fungsi berkemih dan kejadian infeksi saluran kemih sebelum dan setelah operasi hari ke−3 (kelompok intervensi) dan hari ke−5 (kelompok kontrol). Hasil: Pascaoperasi terjadi penurunan fungsi sensorik 8,5% pada kelompok intervensi dan 13,5% pada kelompok kontrol dan penurunan fungsi motorik 87,5% pada kelompok intervensi dan 150% pada kelompok kontrol. Kejadian infeksi saluran kemih meningkat 6,7% pada kelompok kontrol. Kesimpulan: Penggunaan kateter urin selama 3 hari pasca histerektomi radikal tidak lebih buruk dari 5 hari dan dapat digunakan sebagai manajemen pada penderita kanker serviks pasca histerektomi radikal. Kata kunci: Disfungsi berkemih pasca histerektomi radikal, kateter 3 dan 5 hari pasca histerektomi radikal, infeksi saluran kemih.AbstractObjective: To compare the urinary function after radical hysterectomy  with catheter usage for 3 days and 5 days. Method: A non-inferiority randomized controlled trial. Subjects were women diagnosed with cervical cancer that underwent radical hysterectomy in Hasan Sadikin Hospital Bandung. The study conducted by comparing urinary function and urinary tract infection in 3 days catheterization and 5 days catheterization after radical hysterectomy. Result: Post operation, there was decreased 8,5% sensory function in intervention group and 13,5% in control group and decreased 87,5% motoric function in intervention group and 150% in control group. The urinary tract infection increased about 6,7% in control group. Conclusion:3-days urethral catheterization following radical hysterectomy is non inferior to 5 days urethral catheterization and could be used for management of women with early stage cervical cancer after radical hysterectomy. Key  words: Urinary dysfunction after radical hysterectomy, 3 and 5 days catheterization after radical hysterectomy, urinary tract infection
Evaluasi Tindakan Operatif pada Kanker Serviks, Endometrium, dan Ovarium di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2015-2016 Indriani, Rosita; Ritonga, Mulyanusa Amarullah; Suardi, Dodi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 2 September 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1310.151 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Mengetahui hasil luaran tindakan operatif pada kanker serviks, endometrium dan ovarium di RSUP Dr. Hasan Sadikin.Metode: Jenis penelitian dengan mengevaluasi data pasien kanker serviks, endometrium dan ovarium dengan tindakan operatif dari Bagian Rekam Medik RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung dari Januari 2015−Desember 2016. Variabel yang dievaluasi berupa usia, BMI, paritas, asal kanker, jenis dan komplikasi tindakan operasi.Hasil: Terdapat 560 kasus yang sesuai dengan kriteria inklusi dari Januari 2015−Desember 2016. Nilai tengah usia pasien 45 tahun, dengan 222 pasien (39,6%) memiliki BMI normal dan 413 pasien (73,8%) dengan kanker ovarium. Perdarahan >2000 cc terdapat pada 141 kasus (25,2%). Durasi operasi terbanyak 3−4 jam pada 208 kasus (37,1%). Komplikasi saluran gastrointestinal sebanyak 40 kasus (7,1 %) dan  saluran genitourinaria sebanyak 28 kasus (5%). Nilai tengah length of stay selama 7 hari, dengan 47 pasien (8,4%) memerlukan ICU dan kematian terjadi pada 20 kasus (3,6%).Kesimpulan: komplikasi tersering adalah perdarahan. Tindakan operatif pada kanker serviks lebih berkaitan dengan cedera saluran genitourinaria, sedangkan tindakan operatif pada kanker ovarium lebih berkaitan dengan cedera saluran gastrointestinal.Kata kunci: Kanker ginekologi, operasi dan komplikasiAbstract Objectives: To evaluate the post-operative outcomes in patients with cervical, endometrial, and ovarian cancers in Dr. Hasan Sadikin General Hospital  in 2015−2016.Method:  We retrospectively evaluated cross-sectionally the charts of these three cancer patients who underwent operative procedures from January 2015 to December 2016 in Dr. Hasan Sadikin Hospital. The following study variables were noted for evaluation: age, BMI, parity, cancer origin, type of surgery, and operative complications.  Results: A total of 560 oncologic surgery from these three cancers was undertaken and met the inclusion criteria from January 2015 to December 2016. Median age was 45 years old, with 222 (39,6%) patients had normal BMI and 413 (73,8%) patients belonged to ovarian cancer. Operative complications such as bleeding >2000cc were reported in 141 (25,2%) cases. The most common length of surgery time was 3−4 hours in 208 (37,1%) patients. A total of 40 (7,1%) gastrointestinal and 28 (5%) genitourinary tract injuries were encountered. Median length of stay was 7 days, post-operative staying at ICU was  noted in 47 (8,4%) patients and  20 (3,6%)  had intraoperative-related deaths.Conclusion: The most common complication is bleeding.The operative procedure of cervical cancer is more related to injury to the genitourinary tract, while gastrointestinal tract injury mostly occurs in the operative procedure of ovarian cancerKey words: Gynecological oncology, surgery and complication
Karakteristik Ibu Hamil dengan HIV/AIDS di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode 2014 ̶ 2016 Putra, Romy Ade; Susiarno, Hadi; Rachmawati, Anita; Nurdiawan, Windi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 2 September 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.982 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Untuk mengetahui karakter HIV/AIDS selama kehamilan di Rumah Sakit  Dr. Hasan Sadikin Bandung sejak Januari 2014 sampai Desember 2016.Metode: Studi retrospektif terhadap HIV/AIDS selama kehamilan di Klinik Rawat Jalan Teratai di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, dengan mengumpulkan data dari rekam medis pasien baru mulai bulan Januari 2014 sampai Desember 2016. Ciri khasnya adalah usia, pekerjaan, tingkat pendidikan, cara transmisi, tempat tinggal, status perkawinan dan sejarah pengobatan anti retroviral.Hasil: Terdapat 102 kasus wanita hamil dengan HIV/AIDS sejak Januari 2014 sampai Desember 2016. Sebagian besar kasus ditemukan pada usia 30-39 tahun, 63 kasus (61,8%). 69 (67,6%) pasien adalah ibu rumah tangga. Sebanyak 55 (53,9%) pasien telah menyelesaikan sekolah menengah atas. Sebagian besar kasus adalah transmisi heteroseksual 95 (93,13%) dan 96 (94,1%) pasien sudah menikah.Kesimpulan: Terdapat perubahan karakteristik wanita hamil dengan infeksi HIV / AIDS  di Rumah Sakit Dr.Hasan Sadikin Bandung.Kata kunci: HIV/AIDS, kehamilanAbstractObjective: To find the characterics of HIV/AIDS during pregnancy in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung since January 2014 to December 2016.Method: Retrospective study of HIV/AIDS during pregnancy in Teratai Outpatient Clinic of Dr.HasanSadikin Hospital Bandung, by collecting data from the medical record of new patients from January 2014 to December 2016. The characteristics are age, occupation, education level, mode of transmission, residence, marital status and history of anti retroviral treatment.Result: there are 102 cases of pregnant women with HIV/AIDS since January 2014 to December 2016. The most cases are found in 30-39 years old, 63 cases (61.8%). 69 (67.6%) patients are housewife. 55 (53.9%) patients had completed senior high school. The most cases are heterosexual transmission 95 (93.13%). 96 (94.1%) patients are married.Conclusion: There are changes in characteristics of pregnant women with  HIV infection /AIDS  in Dr.Hasan Sadikin Hospital Bandung.Key words: HIV/AIDS,  pregnancy
Faktor Risiko dan Luaran Maternal Plasenta Akreta di RSUP Dr. M. Djamil Padang Qatrunnada, Annissa; Antonius, Puja Agung; Yusrawati, Yusrawati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 2 September 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1262.097 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi kejadian, hubungan faktor risiko, dan luaran maternal dengan plasenta akreta.Metode: Penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan di bagian rekam medis RSUP Dr. M. Djamil Padang dari Januari 2016 sampai Desember 2017 dengan sampel penelitian berjumlah 84 orang yang terbagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok suspek plasenta akreta dan kelompok kontrol.Hasil: Hasil penelitian didapatkan sebanyak 64 orang (4,3%) terdiagnosa suspek plasenta akreta. Terdapat hubungan yang bermakna antara usia, paritas, riwayat seksio sesarea, dan plasenta previa (p<0,05) dengan plasenta akreta. Didapatkan riwayat sectio cesarea ≥ 2 kali merupakan faktor dominan pada plasenta akreta (OR 6,038, 95% CI 2,145−16,995). Terdapat hubungan yang bermakna antara lama rawat >7 hari, butuh transfusi darah, dan histerektomi (p<0,05) dengan plasenta akreta.Kesimpulan: Riwayat sectio cesarea, plasenta previa, usia, dan paritas merupakan faktor risiko plasenta akreta dengan morbiditas berupa lama rawat >7 hari, butuh transfusi darah, dan histerektomi.Kata kunci: Plasenta akreta,  seksio sesarea, plasenta previaAbstractObjective: This study aims to determine the frequency of occurrence, association of risk factors, and maternal outcomes with placenta accreta.  Method: This is an observational analytic with a cross-sectional design. This study was conducted in the medical record Dr. M. Djamil Padang General Hospital from January 2016 until December 2017 with total samples of the study were eighty four people and divided into 2 groups, suspected placenta accreta group and control group.Result: The result showed 64 people (4.3%) were diagnosed with suspect placenta accreta. There were significant association between age, parity, prior cesarean section, and placenta previa (p<0.05) with placenta accreta. The dominant factor in placenta accreta is ≥ 2 prior cesarean section (OR 6,038, 95% CI 2,145-16,995). There were significant association between length of stay more than 7 days, need blood transfusion, and hysterectomy (p<0,05) with placenta accreta.Conclusion: Prior cesarean section, placenta previa, maternal age, and parity are risk factors for placenta accreta with maternal morbidity such as length of hospital stay more than 7 days, requires blood transfusion, and hysterectomy.Key words: Placenta accreta, cesarean section, placenta previa 
Perbedaan Morfologi dan Fragmentasi DNA Sperma sebelum dan sesudah Kriopreservasi dengan Metode Slow Cooling di Klinik Aster RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Caropeboka, Faizal Arif; Djuwantono, Tono; Tjahyadi, Dian; Effendi, Jusuf Sulaeman; Anwar, Anita Deborah; Siddiq, Amillia
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 2 September 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1681.499 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan parameter fragmentasi DNA, morfologi sperma pasca proses pembekuan dengan metode slow cooling. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian obervasional analitik dengan pendekatan pre-post design. Subjek penelitian adalah sperma dengan hasil analisis yang normal sesuai dengan standar WHO (n=25). Penelitian dilakukan di Klinik Aster RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juli hingga Agustus 2017.Hasil: Setelah proses kriopreservasi, terdapat peningkatan fragmentasi DNA tiga kali lipat (nilai p<0,05) dan terdapat penurunan jumlah morfologi normal sebesar 50% (nilai p<0,05).Kesimpulan: Terdapat penurunan kualitas sperma pasca proses kriopreservasi dengan metode slow cooling.Kata kunci: Fragmentasi DNA, morfologi, slow cooling, spermatozoaAbstractObjective: Of this study was to compare sperm quality parameters including DNA fragmentation and morphology after cryopreservation with slow-cooling method.Method: This was an analytical observational study with pre and post design. Subjects were men whose sperm analysis met the WHO criteria of being normal (n=25). The study was conducted at the Aster Clinic of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from July to August 2017.Results: After cryopreservation, there was a three fold increase of DNA fragmentation (with p value <0.05) and a decrease in morphology 50% (with p value <0.05).Conclusion: There is a decrease in sperm quality after cryopreservation with slow-cooling method.Key words: DNA fragmentation, morphology, slow cooling, spermatozoa

Page 1 of 2 | Total Record : 11