cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Special Issue: Case Report" : 11 Documents clear
Ultrasonography feature and Clinical Finding of Trisomy 13 (Patau Syndrome): A Case Report Edelweishia, Melissa; Putra, I Wayan Artana
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1859.451 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.159

Abstract

Background: Trisomy 13 is a trisomy disorder of chromosome 13 which causes many fetal structural defects. The prognosis is very poor and the majority is still birth. Major structural anomalies are occasionally identified in the late-first or early-second trimester. Any discovery of multiple structural anomalies in the fetus increases the chances of chromosomal anomalies. Case Report: Here we report trisomy 13 case of A 34-years-old housewife, third gravida, prenatal diagnosis during antenatal ultrasonography showed diaphragmatic hernias, cardiovascular dextroposition, ventricular septal defect, labiognatopalatoschizis and renal dextra pyeletaxis. From the chromosomal analysis, the fetal karyotype was 47 XY+13. A male infant was born with weight of 2600 grams, 46 cm, cyanosis, and severe respiratory distress with congenital abnormalities of micrognathia, diaphragmatic hernia, dextrocardia, ventricular septal defect, persistent pulmonary hypertension of newborn, undescended testis, labiognatopalatoshizis, and polydactily. Discussion: Prenatal diagnosis can be done through amniocentesis for karyotyping which is the gold standard for diagnosis trisomy 13. In addition, screening can also be done since the first trimester.Conclusion: All pregnancies in second trimester must be evaluated for structural abnormalities through ultrasonography and cytogenetic examination if necessary for early diagnosed.Key word: Congenital Abnormalities, Ultrasonography, Clinical Finding, Trisomy 13, Patau SyndromeAbstrakLatar Belakang: Trisomi 13 merupakan kelainan jumlah kromosom 13 yang menyebabkan defek struktural pada fetus. Prognosisnya sangat buruk dan kebanyakan lahir mati. Kelainan struktural mayor sering teridentifikasi pada akhir trimester pertama atau awal trimester kedua. Setiap temuan kelainan struktural pada fetus berpotensi kelainan kromosom.Laporan Kasus: Di sini akan dijelaskan kasus trisomi 13 yang didiagnosis prenatal dari wanita G3P1011, 34 tahun, terdiagnosis melalui pemeriksaan ultrasonografi. Antenatal scan dilakukan pada usia kehamilan 21 minggu dan gambaran ultrasonografi menunjukkan hernia diafragmatika, dextrokardia, ventricular septal defect, labiognatopalatoschizis dan pielektasis ginjal kanan. Kemudian dilanjutkan pemeriksaan kromosom melalui amniosintesis dan didapatkan hasil 47 XY+13.  Bayi laki-laki lahir secara sectio secarea dengan berat 2600 gram, panjang badan 46 cm, sianosis, asfiksia berat, kelainan kongenital micrognatia, hernia diafragmatika, dextrokardia, defek septum ventrikular, hipertensi pulmonal, labiognatopalatoshizis, dan polidactili. Diskusi: Diagnosis prenatal dapat dilakukan melalui pemeriksaan amniosintesis bertujuan untuk melihat karyotyping yang merupakan gold standard untuk mendiagnosis  trisomi 13. Selain itu, screening juga dapat dikerjakan sejak trimester pertama.Kesimpulan: Semua kehamilan pada trimester kedua harus dievaluasi kelainan struktural melalui ultrasonografi dan bila perlu pemeriksaan sitogenetik sehingga dapat mendiagnosis lebih awal.Kata kunci: Kelainan Kongenital, Ultrasonografi, Klinis, Trisomi 13, Patau Sindrom.
Diagnosis and Management of Heterotopic Pregnancy: A Case Report Kuanda, Harnovin; Ali, Muhamad Husen; Kurniawan, Rommy Andika
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1218.981 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.171

Abstract

Background: Heterotopic pregnancy is a rare case of pregnancy. The incident is estimated to be 1:30000 to spontaneus pregnancy. Heterotopic pregnancy is a life threatening condition to maternal and intrauterine fetus.Case Report:A 36 years old woman came with over 1 month history of amenorrhea, after being examined, her gestational age was 9-10 weeks. On 28th February 2018 patient came to PHC due to lower abdominal pain and vaginal bleeding. Ectopic pregnancy was revealed then laparotomy was performed. Then, patient came back and complained of enlarged abdomen since the laparotomy, ultrasonography examination showed intrauterine fetus. At 35 weeks gestational age, patient was undergoing cesarean section due to fetal distress.Discussion:Heterotopic pregnancy are both intrauterine and ectopic pregnancy that occur at the same time. Heterotopic pregnancy often hardly detect because of unspecific symptoms. In this case it also found difficulty in diagnosing heterotopic pregnancy, the patient was only diagnosed as ruptured ectopic pregnancy.Conclusion:Heterotopic pregnancy has a high mortality rate if the diagnosis and treatment is not done well. Ultrasonography (USG) examination has an important role in order to help diagnosing in remote area.Key words : Heterotopic pregnancy, USG, Diagnose, Treatment  AbstrakLatar belakang:Kehamilan Heterotopik adalah kehamilan yang sangat jarang terjadi, angka kejadiannya sekitar 1:30000 dibandingkan dengan kehamilan spontan. Kehamilan Heterotopik seringkali menyebabkan komplikasi yang dapat mengancam jiwa ibu dan janin.Laporan Kasus:Wanita usia 36 tahun datang dengan keluhan Amenorea lebih dari 1 bulan, setelah di periksa pasien dinyatakan hamil dengan usia kehamilan 9-10 minggu. Pada 28 februari 2018, pasien datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri perut bawah dan keluar darah dari jalan lahir, kemudian pasien di rujuk ke Rumah Sakit. Pasien didiagnosis dengan kehamilan ektopik dan dilakukan laparotomi. Kemudian pasien  kontrol dan mengeluh perut bertambah besar pascaoperasi, dari pemeriksaan ultrasonographi didapatkan adanya janin intrauterin. Pada usia kehamilan 35 minggu dilakukan operasi caesar dikarenakan gawat janin.Diskusi:Kehamilan Heterotopik adalah kehamilan intrauterin dan kehamilan ektopik yang terjadi pada waktu yang bersamaan. Kehamilan heterotopik seringkali sulit dideteksi dikarenakan gejala yang tidak spesifik. Pada kasus ini juga ditemukan kesulitan dalam mendiagnosa kehamilan heterotopik.Kesimpulan:Kehamilan heterotopik memiliki angka mortalitas yang tinggi jika diagnosis dan tatalaksana yang dilakukan tidak baik. USG berperan penting dalam membantu penegakkan diagnosis di daerah terpencil.Kata kunci: Kehamilan Heterotopik; USG; Diagnosis; Tatalaksana
Kematian Janin Dalam Rahim pada Kehamilan Aterm dengan Eklampsia, Partial Hellp Syndrome, Edema Paru Akut dan Syok Kardiogenik Hartono, Harvey Alvin; Astuti, Indah Widya; Danianto, Ario
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3057.927 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.132

Abstract

Tujuan: Melaporkan eklampsia, partial HELLP syndrome, edema paru akut sebagai komplikasi dari preeklampsia berat.Metode: Laporan Kasus.Hasil: Preeklampsia berat dan eklampsia merupakan penyebab kematian ibu berkisar 1.5-25 %, sedangkan kematian bayi antara 45-50 % di Indonesia.  Eklampsia adalah kelainan akut pada ibu hamil, persalinan, atau nifas ditandai kejang dan atau koma, dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala preeklampsia. Preeklampsia dan eklampsia memberi pengaruh buruk pada janin. Kami melaporkan kasus nulipara berusia 20 tahun dengan Kematian Janin Dalam Rahim + eklampsia + partial HELLP syndrome + Edema Paru + syok kardiogenik. Persalinan diakselerasi dengan forceps ekstraksi dan bayi lahir mati dengan Berat 2700g. Kesadaran pasien menurun dua jam post partum dan pasien tampak sesak. Pasien mengalami perbaikan selama perawatan dan dipulangkan pada hari ke 5.Kesimpulan: Sindroma HELLP merupakan komplikasi preeklampsia dan eklampsia yang mengancam nyawa karena tingkat morbiditas dan mortalitas maternal serta perinatal yang tinggi. Diperlukan diagnosa dini dan intervensi tepat untuk mencegah perkembangan patofisiologi yang mengarah ke komplikasi.Kata kunci: KJDR, Eklampsia, Partial HELLP syndrome, Edema Paru AkutAbstractObjective: To report eclampsia, HELLP syndrome, acute lung edema as complications of severe preeclampsia.Methods: Case report.Result: In Indonesia, severe preeclampsia and eclampsia are the causes of maternal mortality in the range of 1.5-25%, while infant mortality is between 45-50%. Eclampsia is an acute disorder in pregnant women, childbirth, or puerperium characterized by seizures and/ coma, which have previously shown symptoms of preeclampsia. It has negative influence on the fetus. We reported a case of 20 years old nulliparous with Intrauterine Fetal Death+eclampsia+partial HELLP syndrome+acute lung edema+cardiogenic shock. The labor accelerated by forceps extraction and 2700 grams stillbirth was born. Patient awareness decreased two hours post partum, she was short of breath. She was treated and her condition get improved then discharged on 5th day. Conclusion: HELLP Syndrome is a severe variant complication of Preeclampsia and Eclampsia because of the level of maternal-perinatal morbidity is high. It needs early diagnosis and prompt treatment to arrest further progress leading to complications.   Key words: IUFD, Eclampsia, Partial HELLP syndrome, Acute Lung Edema
Intrauterine Device Malposition Into The Bladder with Stone Formation Adi, Kuncoro; Firdaus, Gugum Indra
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.102 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.168

Abstract

Introduction: Intrauterine device (IUD) is accepted and used as an effective contraception globally. Malposition of intrauterine device into the bladder with stone formation was very rare complication. In this study, we report a case in which IUD malposition had caused bladder stone formation in a female patientCase presentation: Patient was a female, 50 years old, complained of painful urination approximately 1 year before admission and was diagnosed with recurrent urinary tract infection (UTI). Patient also had history of IUD insertion for ten years. Instead of IUD insertion in her uterine, patient had history of 2 times birth delivery. Imaging examination was performed on April 2018, in Hasan Sadikin Hospital, Bandung and found IUD in pelvic area. In ultrasound imaging we found a hyperechoic with acoustic shadow that resembles an IUD. Endoscopic management was performed by cystoscopy instrument. We found a half of IUD in the bladder with encrustation and calcification in the device. We performed lithotripsy with pneumatic lithotripter to disintegrate the encrustation. An IUD extracted from the bladder cavity by cystoscopy grasper. Postoperative evaluation we found no complications and send home the patient 3 days after the procedure. Conclusion: IUD malposition can be found to bladder cavity. Recurrent UTI needs radiological investigation to provide for any abnormality in urinary tract. IUD extraction could be performed by transvesical approach if the device malposeed to the bladder.  Key words: bladder stone, intrauterine device, malpositionAbstrakPendahuluan: Intrauterin device (IUD) merupakan alat kontrasepsi yang efektif dan diterima serta digunakan secara luas. Malposisi IUD ke buli dengan pembentukan batu adalah komplikasi yang sangat jarang terjadi. Pada studi berikut ini, kami melaporkan sebuah kasus malposisi IUD yang telah menyebabkan pembentukan batu buli pada pasien perempuan. Presentasi kasus: Seorang perempuan usia 50 tahun mengeluh nyeri ketika sedang berkemih sejak 1 tahun sebelum masuk rumah sakit dan didiagnosis dengan infeksi saluran kencing berulang. Pasien memiliki riwayat pemasangan IUD sejak 10 tahun lalu. Walaupun demikian, pasien memiliki riwayat 2 kali melahirkan. Pada pemeriksaan rontgen ditemukan IUD di rongga pelvis. Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan gambaran hiperekhoik dengan acoustic shadow dengan bentuk menyerupai IUD. Tata laksana endoskopik dilakukan dengan alat sistoskopi. Kami menemukan sebagian IUD berada di dalam buli disertai dengan enkrustasi dan kalsifikasi pada IUD. Kami melakukan litotripsi dengan litotriptor pneumatik untuk menghancurkan enkrustasi. Intrauterine device dikeluarkan dari dalam buli dengan pinset sistoskopi. Evaluasi pascaoperasi tidak ditemukan komplikasi dan pasien pulang 3 hari setelah prosedur.Simpulan: Malposisi IUD dapat terjadi ke dalam buli. Infeksi saluran kemih berulang memerlukan pemeriksaan radiologis untuk mencari abnormalitas pada saluran kemih. Intrauterine device dapat dikeluarkan dengan pendekatan transvesika jika mengalami malposisi ke buli. Key words: batu buli, intrauterine device, malposisi
Prevalence of Congenital Anomalies on Routine Ultrasound Examination of Second and Third Trimester Pregnancy Putra, Ridwan Abdullah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.332 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.164

Abstract

Objective:This study aims to determine the prevalence and characteristics of congenital anomalies  and maternal demographic of second and third trimester pregnancy as a basis for the planning and management of  congenital anomalies in the future pregnancy.Method: This is a descriptive-retrospective study conducted at Cikalongwetan General Hospital by collecting data obtained from the obstetrics and gynecology outpatient and inpatient register book from January 1st through December 31st 2018.Results: Ultrasound examination was performed on 2572 patients at second and third trimester of pregnancy. 37 cases (1.44%) of  congenital anomalies was found. Single  congenital anomalies was found in 29 cases (78.38%), while 8 cases were found with multiple anomalies (21.62%). Based on organ anomaly, defects in the central nervous system was the most common with 15 cases (40.54%), followed by gastrointestinal system in 8 cases (21.62%). The gestational age related to CA was found most common in the third trimester with 21 cases (56.76%), while deceased fetus (IUFD) was found in 11 cases (29.73%).Conclusion: This study is expected to foster early awareness regarding regular antenatal care and the importance of ultrasoud examination so can help in primary prevention of disability and reducing perinatal mortality and morbidity.Key words: Prenatal, Congenital anomalies, UltrasonographyAbstrakTujuan: Menentukan prevalensi kejadian, jenis kelianan kongenital dan data demografi ibu saat trimeset dua dan tiga selama periode penelitian  sebagai dasar dan bahan pertimbangan  dalam perencanaan dan manajemen bayi dengan kelainan bawaan selanjutnya.Metode: Penelitian retrosepektif dengan cara mengumpulkan data yang diperoleh dari buku register kunjungan poli dan rawat inap  Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUD Cikalongwetan selama periode 1 Januari ? 31Desember 2018.Hasil: Pada penelitian ini telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi sebanyak 2572 ibu hamil trimester dua dan tiga, ditemukan kelainann kongenital 37 kasus (1,44%). Kelainan kongenital tunggal 29 kasus (78,38%), 8 kasus kelainan  ganda (21,62%). Berdasarkan kelainan  organ, cacat pada sistem saraf pusat menempati urutan pertama15 kasus (40,54%) diikuti oleh kelainan pada sistem pencernaan  8 kasus (21,62%) dan sistem saluran kemih4 kasus (16,22%) dan lainnya 12 kasus (32,43%). Usia kehamilan dari kelainan kongenital yang paling sering ditemukan pada trimester ketiga 21 kasus (56,76%) dengan janin yang telah meninggal (IUFD) sebanyak 11 kasus (29,73%).Kesimpulan: Penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran sejak dini mengenai perawatan antenatal yang teratur dan pentingnya pemeriksaan ultrasonografi sehingga dapat membantu dalam pencegahan primer kecacatan serta mengurangi angka kematian dan morbiditas perinatal.Kata kunci: Prenatal, Kelainan kongenital, Ultrasonografi
Recurrent multi-drug-resistant tuberculosis with unilateral destroyed lung in pregnancy: a case report Febriana, Irene Sinta; Atikah, Sayugo; Pudyastuti, Sri
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.194 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.170

Abstract

Background: Multi-drug-resistant Tuberculosis (MDR-TB) remains a public health problem in developing countries such as Indonesia. The extensive parenchymal damage due to MDR-TB could manifest as an irreversible destroyed lung, leading to respiratory and  also cardiovascular complication. Its occurrence in pregnancy is uncommon but is highly associated with higher mortality and morbidity for both maternal and fetal.Case Report: We report a case of 24 year old primigravida in National Respiratory Center Hospital, diagnosed with  an unilateral destroyed lung due to MDR-TB in pregnancy at 32 weeks of gestational age. On initial presentation, she reported fatigue, nausea, night sweats, chronic dyspnoe and was found to have complete left destroyed lung. Her disease was managed during pregnancy using long-term oxygen therapy despite persistent desaturation.Conlusion: Aside from frequent monitoring, prolonged oxygen therapy might benefit the chronic hypoxia condition in gestational destroyed lung due to previous MDR-TB infection, for preventing maternal-fetal mortality and morbidities, such as respiratory failure and IUGR.AbstrakLatar Belakang: Tuberkulosis Multi-drug-resistant (TB-MDR) tetap menjadi masalah kesehatan pada negara berkembang, seperti Indonesia. Kerusakan parenkin luas yang diakibatkan oleh infeksi TB-MDR dapat bermanifestasi sebagai kerusakan paru ireversibel, dengan komplikasi respiratorik dan kardiovaskular. Kejadian kerusakan paru akibat TB-MDR dalam kehamilan jarang terjadi, namun berdampak pada peningkatan mortalitas dan morbiditas pada janin dan ibu. Laporan Kasus: Studi ini melaporkan kasus perempuan primigravida 24 tahun didiagnosa dengan kerusakan paru unilateral akibat infeksi TB-MDR pada kehamilan 32 minggu di RS Pusat Paru Nasional. Pada pemeriksaan awal, didapatkan pasien mengeluhkan kelelahan kronik, nausea, keringat malam, sesak kronik dan didapatkan memiliki kerusakan paru kiri komplit. Keadaan pasien dalam kehamilan ditatalaksana dengan terapi oksigen jangka panjang untuk mengatasi desaturasi persisten Kesimpulan: Di samping pengawasan ketat, terapi oksigen jangka panjang dapat menjadi tatalaksana utama untuk kondisi hipoksia kronik pada kerusakan paru dalam kehamilan akibat infeksi lama TB-MDR untuk mencegah morbiditas dan mortalitas ibu dan janin, seperti gagal napas dan pertumbuhan janin terhambat  (PJT).
Severe Preeclampsia at 26 weeks gestation on Nulliparous with complication of Bilateral Serous Retinal Detachment Septiani, Winty; Defri, Defri; Emputri, Obdes Maharani
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.921 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.134

Abstract

Preeclampsia is still one of the leading causes of death and severe maternal morbidity. The rate of incidences range from 5 to 10 % in all pregnancies. Clinical condition in Preeclampsia is increasing blood pressure and proteinuria. Preeclampsia can cause multisystem disorders including visual disruptions. The incidence rate of visual system disruptions is 25 % of patients with severe preeclampsia and 30% of patients with eclampsia. The most common visual complication is hypertensive retinopathy, serous retinal detachment, and cortical blindness. The incidences of serous retinal detachment are approximately 1% in severe preeclampsia and 10% in eclampsia. We report a case of 28 years old nulliparous with severe preeclampsia at 26 weeks gestation, who complained blurred vision, we ran several examinations and bilateral serous retinal detachment was diagnosed. Her visual has significant improvement a few weeks after pregnancy termination.Abstrak Preeklampsia masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan morbiditas maternal.[1] Tingkat insiden preeklampsia berkisar dari 5 hingga 10% pada semua kehamilan.[2] Kondisi klinis Preeklampsia adalah meningkatnya tekanan darah dan proteinuria. Preeklamsia dapat menyebabkan gangguan multisistem termasuk gangguan penglihatan.[3] Tingkat kejadian gangguan sistem penglihatan adalah 25% pada pasien dengan preeklampsia berat dan 50% pada pasien dengan eklampsia.[3] Komplikasi visual yang paling umum terjadi adalah retinopati hipertensi, serous retinal detachment, dan kebutaan kortikal.[4]  Insidensi serous retinal detachment sekitar 1% pada preeklampsia berat dan 10% pada eklampsia.[5]  Kami melaporkan kasus nulipara berusia 28 tahun dengan preeklamsia berat pada usia kehamilan 26 minggu, yang mengeluhkan penglihatan kabur, dilakukan beberapa pemeriksaan dan bilateral serous retinal detachment ditegakkan. Penglihatan pasien mengalami perbaikan yang signifikan  minggu ke-lima setelah terminasi kehamilan.
Teratoma Sakrokoksigeus: Kelainan Kongenital yang dapat Dikoreksi Anwar, Arsyi Adliah; Lukas, Efendi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1410.085 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.142

Abstract

Latar Belakang: Teratoma sakrokoksigeus (SCT) adalah jenis tumor sel germinal yang terjadi terutama pada bayi dan anak-anak. Insidennya adalah satu dari 40.000 kelahiran hidup. Teratoma sakrokoksigeus yang terdeteksi prenatal harus menjadi perhatian dan memerlukan pemantauan ketat. Kasus: Seorang wanita 23 tahun terdeteksi memiliki janin dengan teratoma sakrokoksigeus dengan diagnosis banding meningomielokel pada usia kehamilan 34 minggu. Pasien ini tidak melakukan kunjungan antenatal yang teratur. Terminasi kehamilan dilakukan dengan seksio sesarea. Prosedur operatif dilakukan dua bulan setelah kelahiran. Kesimpulan: Teratoma sakrokoksigeus yang terdiagnosis prenatal dapat menyebabkan komplikasi yang berat pada janin, meskipun tidak terjadi pada kasus ini. Kunjungan prenatal yang teratur diperlukan untuk memantau ukuran massa. Mielomeningokel adalah salah satu diagnosis banding pada teratoma sakrokoksigeus tipe A. Proses terminasi kehamilan dapat menyebakan trauma pada jaringan tumor. Oleh karena itu, pilihan terminasi harus mempertimbangkan ukuran tumor. Kata kunci: Teratoma Sakrokoksigeus, Anomali KongenitalAbstractBackground: Sacrococcygeal teratomas (SCT) is a subset of germ cell tumours occur predominantly in infants and children. The incidence is one in 40 000 live births. Sacrococcygeal teratomas diagnosed prenatally should be a caution and need regular observation. Case: A 23 years old woman was detected having a fetus with sacrococcygeal teratoma with differential diagnosis as a myelomeningocele at 34 weeks of pregnancy. The patient didn?t do prenatal visit regularly. The pregnancy was terminated with cesarean section without any complication. Surgical procedure of the tumor was succesfully done 2 months after delivery. Conclusion: Sacrococcygeal teratoma diagnosed prenatally can cause severe complication for the fetus, although it was not occur in this case.. Regular prenatal visit is needed to observe the size of the mass. Myelomeningocele is one of the differential diagnose in type A sacrococcygeal teratoma. The process of delivery can cause trauma to the tumor. In order that, termination method should be based on the size of the tumor.Key words: Sacrococcygeal Teratoma, Congenital Anomaly
Kasus yang Langka: Sebuah Persalinan Normal dari Wanita Hamil Prematur dengan Janin Sacrococcygeal Teratoma Elnita, Cut Sheira; Bachnas, M. Adrianess; Edwin, Eric
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.429 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.137

Abstract

Latar belakang: Insiden kehamilan dengan janin Sacrococcygeal Teratoma (SCT) yaitu1 dari 35.000 kelahiran hidup. SCT dideteksi dengan skrining ultrasonografi (USG) prenatal trimester kedua.Tujuan; Mendemonstrasikan peran USG janin dalam diagnosis SCT.Laporan kasus: Wanita 20 tahun G2P1A0 kehamilan 28 minggu keluhan kontraksi, pecah selaput ketuban. Teraba janin tunggal, fundus teraba massa padat. Pemeriksaan genital pembukaan serviks 7 cm, USG intrauterin tunggal perkiraan usia kehamilan 28 minggu, tampak massa echogenic campuran dari daerah sacrococcygeal, terdapat daerah padat kistik di dalam massa ukuran 11,4 x 12,3 cm. Kemungkinan invasi ke panggul janin  disimpulkan SCT tipe II. Persalinan pervaginam, berat janin 1600 gram , apgar score 2-3-4, dengan massa padat kistik pada sacrum ukuran 13x13cm. Tampak perdarahan dari massa teratoma.Hasil: SCT adalah neoplasma lesi kistik jinak. Komplikasi berupa perdarahan intramural masif dan distosia. Klasifikasi Altman: massa terdapat di eksterior atau intrapelvik, tipe I(47%): terletak di luar janin. tipe II(35%): massa terdapat di eksternal memiliki ekstensi intrapelvic. tipe III(8%): eksternal terletak di dalam panggul dan perut. tipe IV(10%): presakral tanpa presentasi eksternal. Pada USG, SCT muncul sebagai massa echogenisitas campuran yang memanjang dari sacrum. USG pada SCT padat (20%), kistik(30%) dan campuran(50%). Kesimpulan: Ultrasonografi mempengaruhi keputusan dan manajemen klinis sehingga prognosis baik.Kata kunci: Sacrococcygeal Teratoma, Kehamilan PrematurAbstractBackground:  The incidence of pregnancy with fetal Sacrococcygeal Teratoma (SCT) occurs in 1 out of every 35.000 live births. SCT detected by second trimester prenatal ultrasonography (USG) screening.Objective: Demonstrating the role of fetal ultrasound in the diagnosis of SCT.Case report: a 20 year old G2P1A0 with 28 weeks pregnancy came with contractions and membranes ruptured. Examination found were single fetus, fundus palpable a mass. The cervical dilatation 7 cm, intrauterine ultrasound a 28 weeks of age fetus, appears an echogenic mass in the sacrococcygeal region containing a dense area 11.4x12.3 cm. We concluded an invasive to the fetal pelvis was type II SCT. Vaginal delivery performed, baby weight 1600 grams, apgar score 2-3-4, solid mass in sacrum 13x13cm. Bleeding from teratoma mass emerged.Result: SCT is a rare tumour. Complications consist of massive bleeding and dystocia. SCT classified according to Altman. Type I(47%): located outside fetus, type II(35%): mass available on external with intrapelvic extension, type III(8%): externally located inside pelvis and abdomen, type IV(10%): presacral without external presentation. On ultrasound, SCT appears as a mixed echogenicity mass extending sacrum. Ultrasound: solid SCT(20%), cystic(30%) and mixed(50%).Conclusion: Ultrasonography affects decisions and clinical management that make a good prognosis.Key words: Sacrococcygeal Teratoma, Premature Pregnancy
Manajemen Ekspektatif pada Kehamilan Preterm Gemeli Satu Hidup Satu Meninggal Gumilar, Rimbun Wahyu; Yusrawati, Yusrawati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.626 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.124

Abstract

Latar Belakang: Sindrom transfusi janin kembar/twin to twin transfusion syndrome (TTTS) merupakan komplikasi dari kehamilan multipel monokorion (15%?20 %) dengan risiko morbiditas dan mortalitas tinggi.Tujuan: Melaporkan kasus TTTS.Rancangan dan Metode: Merupakan laporan kasus seorang wanita berusia 30 tahun yang dirawat di bangsal obstetri dan ginekologi RSUP  Dr. M. Djamil Padang periode 9?13 November 2018 dengan diagnosis awal G2P1A0H1 gravid preterm 27?28 minggu dengan TTTS.Hasil: Diagnosis TTTS ditegakkan berdasarkan temuan ultrasonografi;  kehamilan monochorionic diamniotic (MCDA) dan polihidramnion pada salah satu kantung (single deepest pocket: 22,64 cm). Dilakukan amnioreduksi dua kali atas indikasi subyektif (sesak); pasien dipulangkan 1 hari kemudian. Pada kontrol pertama (7 hari setelah pasien dipulangkan), salah satu janin diketahui mengalami intrauterine fetal death (IUFD). Kehamilan dipertahankan hingga aterm dengan pemantauan kadar fibrinogen pasien. Kehamilan diterminasi pada usia kehamilan 37 - 38 minggu secara section caesarea transperitoneal (SCTP) atas indikasi letak lintang. Bayi pertama berjenis kelamin perempuan, berat 1.800 gram, panjang badan 41 cm, appearance, pulse, grimace, activity, respiration (APGAR) score  7/8. Bayi kedua berjenis kelamin perempuan, berat 500 gram, panjang badan 35 cm, derajat maserasi grade III. Penyebab intrauterine growth restriction (IUGR) dan IUFD pada kasus ini diduga karena TTTS.Simpulan: Diperlukan pemantauan kadar fibrinogen hingga kehamilan aterm pada TTTS. Bayi yang lahir hidup memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk memantau komplikasi TTTS.Kata kunci: monochorionic diamniotic, sindrom tranfusi janin kembar, ultrasonografiAbstractBackground: Twin to twin transfusion syndrome (TTTS) syndrome is a complication of multiple monocorionic pregnancies (15% - 20%) with a high risk of morbidity and mortality. Objectives: To report a case of TTTS.Design and Methods: A case report of a woman, 30 years old, was diagnosed as G2P1A0L1 preterm pregnancy 27 - 28 weeks with TTTS. Patient was treated in obstetrics and gynecology ward of Central Public Hospital Dr. M. Djamil Padang since November 9th  2018 until December 13rd 2018. Results: Twin to twin transfusion syndrome was diagnosed by ultrasound findings; the presence of a monochorionic diamniotic (MCDA) pregnancy and the presence of polyhydramnios in the other sac (single deepest pocket: 22.64 cm). Amnioreduction was performed twice for patient?s subjective indication (dyspnea); Patient was discharged one day after second amnioreduction. At first control (7 days after discharged), one of fetal twins was known to intrauterine fetal death (IUFD). Pregnancy was maintained till term by monitoring fibrinogen level. The patient was terminated in pregnancy 37 - 38 weeks by section caesarea transperitoneal (SCTP) for indications of transverse lie position. First baby is female, weight 1.800 gr, length: 41 cm, appearance, pulse, grimace, activity, respiration (APGAR) score 7/8. Second baby is female, weight 500 gr, length 35 cm, maceration level grade III. Twin to twin transfusion syndrome was suspected as cause of intrauterine growth restriction (IUGR) and IUFD in this case.Conclusion: Monitoring of fibrinogen levels is required until aterm pregnancy in  TTTS. Live born baby needs a follow up examination to monitor complications of TTTS.Key words: monochorionic diamniotic, twin to twin transfusion syndrome, ultrasonography

Page 1 of 2 | Total Record : 11