cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 68 Documents
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perempuan Usia Reproduksi dalam Mencari Bantuan Penanganan Inkontinensia Urin di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Gazali, Indra; Purwara, Benny Hasan; Armawan, Edwin; Effendi, Jusuf Sulaeman; Handono, Budi; Susiarno, Hadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 1 Maret 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.996 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Inkontinensia urin merupakan kondisi yang sering dialami wanita. Meskipun demikian, hanya kurang dari setengah wanita dengan gejala tersebut yang berkonsultasi ke dokter mengenai inkontinensia, dan faktor penentu dalam pengobatan tidak dipahami dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis apakah faktor pengetahuan, budaya, pendidikan, dan penghasilan memengaruhi pasien inkontinensia urin tidak berobat ke rumah sakit, serta mengetahui faktor yang paling dominan dan alasan-alasan pasien inkontinensia urin tidak berobat ke rumah sakit.  Metode: Jenis penelitian ini adalah metode kombinasi (mixed methods) dengan desain penelitian cross sectional atau potong lintang. Sampel pada penelitian ini berjumlah sebanyak 70 pasien menderita inkontinensia urin. Adapun pasien yang diwawancarai adalah sebanyak 10 orang pasien atau informan. Hasil: Penelitian kuantitatif pada variabel faktor pendidikan dan faktor penghasilan, hasil analisis Kolmogorov test terlihat nilai P>0.05. Pada variabel faktor pengetahuan dan faktor budaya, hasil analisis Kolmogorov test terlihat nilai P<0.05 Kesimpulan: Penelitian kuantitatif dari empat faktor yang berpengaruh adalah variabel faktor pengetahuan dan budaya, sedangkan yang paling berpengaruh adalah variabel faktor budaya, Pada hasil penelitian kualitatif diketahui bahwa faktor pengetahuan dan budaya paling banyak berpengaruh, hal ini dikarenakan pengetahuan responden tentang inkontinensia urin sangat kurang serta rasa malu pada diri responden apabila ada orang lain yang mengetahui mengenai inkontinensia urin yang dideritanya. Kata kunci : Inkontinensia urin, faktor pengetahuan, faktor budaya, faktor pendidikan, faktor penghasilan. AbstractObjective: Urinary incontinence is a highly prevalent and burdensome condition among women. However, fewer than half of women with symptoms talk to a physician about incontinence. The factors, including knowledge, culture, education, and income, the most dominant factor influence anf the reason  patient of urinary incontinence not to go to hospital.Method: The method used in this research is mixed methods with cross sectional research design. The sample amounted to 70 patients suffering from urinary incontinence. The patients interviewed were 10 patients / informants.Result: The quantitative research with Kolmogorov test  is known that on variable of educational and income factors, with P >0,05. The knowledge and cultural factors result with P <0,05. Conclusion: There is correlation between knowledge and eastern culture with urinary incontinence patient not treatment at polyclinic RS Hasan Sadikin Bandung, the most dominant factor influencing is the culture factor, as well as the reasons patients with urinary incontinence do not go to the hospital is due to not knowing that urinary incontinence is a disease and a shame.Key words: Urinary incontinence, knowledge factor, cultural factor, educational factor, income factor
Perbedaan Kadar Vitamin D pada Wanita Usia Reproduksi Tidak Hamil dan Wanita Hamil Trimester Pertama Sukarsa, Mochamad Rizkar Arev; Budi, Radiastomo Samekta; Purwara, Benny Hasan; Syam, Hanom Husni; Mose, Johanes Cornelius; Hidayat, Yudi Mulyana; Sasotya, R. M. Sonny
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 1 Maret 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4684.04 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kadar vitamin D pada wanita usia reproduksi tidak hamil dan wanita hamil trimester pertama.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan metode rancangan Comparative Cross Sectional yaitu membandingkan kadar vitamin D pada dua kelompok yaitu wanita usia reproduksi tidak hamil dan wanita hamil trimester pertama. Subjek penelitian yaitu wanita usia reproduksi (18-35 tahun) tidak hamil dan bertempat tinggal di kota Bandung dengan wanita dengan usia kehamilan trimester pertama yang memenuhi kriteria inklusi penelitian (n=60). Pada kedua kelompok dilakukan pemeriksaan kadar vitamin D kemudian diperiksa dengan metode Electro-chemiluminescence immunoassay (ECLIA). Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari-April 2018.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan kadar vitamin D rata-rata pada kelompok wanita usia reproduksi tidak hamil adalah 18,73 (6,93) ng/mL, sementara pada kelompok wanita hamil trimester pertama yaitu 13,87 (4,04) ng/mL. Perbedaan kadar rata-rata vitamin D pada kedua kelompok tersebut bermakna dengan nilai p<0,001Simpulan: Kadar vitamin D pada kelompok wanita hamil trimester pertama lebih rendah dibandingkan dengan kelompok usia reproduksi tidak hamilKata kunci: Vitamin D, wanita usia reproduksi tidak hamil, wanita hamil trimester pertama   AbstractObjective: This research aims to compare differences in vitamin D levels in the group of non pregnant women of reproductive age and group of first trimester pregnant women.Method: This type of research is an observational analytic study with Comparative Cross Sectional design method that is comparing vitamin D levels in two groups: non pregnant women of reproductive age and first trimester pregnant women. Subjects of the study were women of reproductive age (18-35 years) who were not pregnant and lived in Bandung with women with first trimester gestational age who fulfilled the inclusion criteria (n=60). In both groups examined vitamin D levels and then examined by Electro-chemiluminescence immunoassay (ECLIA) method. This research was conducted at Hasan Sadikin Hospital Bandung in February-April 2018Results: The results showed that the average vitamin D level in the non pregnant women of reproductive age group was 18.73 (6.93) ng/mL, while in the first trimester pregnant women group was 13.87 (4.04) ng/mL. The difference in mean vitamin D levels in both groups was significant with p <0.001Conclusion: Levels of vitamin D in the group of first trimester pregnant women are lower than the group of non pregnant women of reproductiveKeywords: Vitamin D, women of reproductive age not pregnant, first trimester pregnant women
Ultrasonography feature and Clinical Finding of Trisomy 13 (Patau Syndrome): A Case Report Edelweishia, Melissa; Putra, I Wayan Artana
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1859.451 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.159

Abstract

Background: Trisomy 13 is a trisomy disorder of chromosome 13 which causes many fetal structural defects. The prognosis is very poor and the majority is still birth. Major structural anomalies are occasionally identified in the late-first or early-second trimester. Any discovery of multiple structural anomalies in the fetus increases the chances of chromosomal anomalies. Case Report: Here we report trisomy 13 case of A 34-years-old housewife, third gravida, prenatal diagnosis during antenatal ultrasonography showed diaphragmatic hernias, cardiovascular dextroposition, ventricular septal defect, labiognatopalatoschizis and renal dextra pyeletaxis. From the chromosomal analysis, the fetal karyotype was 47 XY+13. A male infant was born with weight of 2600 grams, 46 cm, cyanosis, and severe respiratory distress with congenital abnormalities of micrognathia, diaphragmatic hernia, dextrocardia, ventricular septal defect, persistent pulmonary hypertension of newborn, undescended testis, labiognatopalatoshizis, and polydactily. Discussion: Prenatal diagnosis can be done through amniocentesis for karyotyping which is the gold standard for diagnosis trisomy 13. In addition, screening can also be done since the first trimester.Conclusion: All pregnancies in second trimester must be evaluated for structural abnormalities through ultrasonography and cytogenetic examination if necessary for early diagnosed.Key word: Congenital Abnormalities, Ultrasonography, Clinical Finding, Trisomy 13, Patau SyndromeAbstrakLatar Belakang: Trisomi 13 merupakan kelainan jumlah kromosom 13 yang menyebabkan defek struktural pada fetus. Prognosisnya sangat buruk dan kebanyakan lahir mati. Kelainan struktural mayor sering teridentifikasi pada akhir trimester pertama atau awal trimester kedua. Setiap temuan kelainan struktural pada fetus berpotensi kelainan kromosom.Laporan Kasus: Di sini akan dijelaskan kasus trisomi 13 yang didiagnosis prenatal dari wanita G3P1011, 34 tahun, terdiagnosis melalui pemeriksaan ultrasonografi. Antenatal scan dilakukan pada usia kehamilan 21 minggu dan gambaran ultrasonografi menunjukkan hernia diafragmatika, dextrokardia, ventricular septal defect, labiognatopalatoschizis dan pielektasis ginjal kanan. Kemudian dilanjutkan pemeriksaan kromosom melalui amniosintesis dan didapatkan hasil 47 XY+13.  Bayi laki-laki lahir secara sectio secarea dengan berat 2600 gram, panjang badan 46 cm, sianosis, asfiksia berat, kelainan kongenital micrognatia, hernia diafragmatika, dextrokardia, defek septum ventrikular, hipertensi pulmonal, labiognatopalatoshizis, dan polidactili. Diskusi: Diagnosis prenatal dapat dilakukan melalui pemeriksaan amniosintesis bertujuan untuk melihat karyotyping yang merupakan gold standard untuk mendiagnosis  trisomi 13. Selain itu, screening juga dapat dikerjakan sejak trimester pertama.Kesimpulan: Semua kehamilan pada trimester kedua harus dievaluasi kelainan struktural melalui ultrasonografi dan bila perlu pemeriksaan sitogenetik sehingga dapat mendiagnosis lebih awal.Kata kunci: Kelainan Kongenital, Ultrasonografi, Klinis, Trisomi 13, Patau Sindrom.
Factors Related to Type of Endometrial Cancer in RSUP Dr. M. Djamil Padang Helmanda, Shylvia; Yusrawati, Yusrawati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 2 September 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.437 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2.122

Abstract

Abstract Objective: This study aims to determine the relationship of risk factors with type of endometrial cancer.Methods: This study used a cross sectional design in patients with endometrial cancer. Sampling uses total sampling technique, with a total sample of fifty six people. Data were obtained from the anatomical pathology section and medical records of Dr. RSUP M. Djamil Padang from 2016 until 2018. Analysis of data using Chi-Square test and logistic regressionResult: In this study, type I endometrial cancer is 75% cases while type II is 25% cases. Age, parity, diabetes mellitus, hypertension, genetics history and exclusive breastfeeding have no association with the type of endometrial cancer. The age of menarche and BMI have a relationship with the type of endometrial cancer. The dominant factor associated with the type of endometrial cancer is BMI (p = 0.042; OR = 6.547; 95% CI = 1.067-40.169), age (p = 0.037; OR = 4.854; 95% CI = 1.096-21.493), and age of menarche (p = 0.054; OR = 4.590; 95% CI = 0.974-21.635).Conclusion: On this research, BMI, age and age of menarche are the most dominant factor associated with the type of endometrial cancer.Key words: Endometrial cancer , risk factor AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor risiko dengan tipe kanker endometrium.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional pada penderita kanker endometrium. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 56 orang. Data diperoleh dari bagian patologi anatomi dan rekam medik RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2016 ? 2018. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistic.Hasil: Pada penelitian ini ditemukan 75% kasus merupakan kanker endometrium tipe 1 dan 25% kanker endometrium tipe II. Usia, paritas, diabetes mellitus, hipertensi, riwayat genetik dan pemberian asi eksklusif tidak memiliki hubungan dengan tipe kanker endometrium. Usia menarche dan IMT memiliki hubungan dengan tipe kanker endometrium. Faktor yang dominan berhubungan dengan tipe kanker endometrium adalah IMT (p = 0,042; OR = 6,547; 95% CI = 1,067-40,169), usia (p = 0,037; OR = 4,854; 95% CI = 1,096-21,493), dan usia menarche (p = 0,054; OR = 4,590; 95% CI = 0,974-21,635).Kesimpulan: Pada penelitian ini, IMT, usia dan usia menarche merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi tipe kanker endometriumKata kunci: Kanker endometrium, faktor risiko.
Diagnosis and Management of Heterotopic Pregnancy: A Case Report Kuanda, Harnovin; Ali, Muhamad Husen; Kurniawan, Rommy Andika
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1218.981 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.171

Abstract

Background: Heterotopic pregnancy is a rare case of pregnancy. The incident is estimated to be 1:30000 to spontaneus pregnancy. Heterotopic pregnancy is a life threatening condition to maternal and intrauterine fetus.Case Report:A 36 years old woman came with over 1 month history of amenorrhea, after being examined, her gestational age was 9-10 weeks. On 28th February 2018 patient came to PHC due to lower abdominal pain and vaginal bleeding. Ectopic pregnancy was revealed then laparotomy was performed. Then, patient came back and complained of enlarged abdomen since the laparotomy, ultrasonography examination showed intrauterine fetus. At 35 weeks gestational age, patient was undergoing cesarean section due to fetal distress.Discussion:Heterotopic pregnancy are both intrauterine and ectopic pregnancy that occur at the same time. Heterotopic pregnancy often hardly detect because of unspecific symptoms. In this case it also found difficulty in diagnosing heterotopic pregnancy, the patient was only diagnosed as ruptured ectopic pregnancy.Conclusion:Heterotopic pregnancy has a high mortality rate if the diagnosis and treatment is not done well. Ultrasonography (USG) examination has an important role in order to help diagnosing in remote area.Key words : Heterotopic pregnancy, USG, Diagnose, Treatment  AbstrakLatar belakang:Kehamilan Heterotopik adalah kehamilan yang sangat jarang terjadi, angka kejadiannya sekitar 1:30000 dibandingkan dengan kehamilan spontan. Kehamilan Heterotopik seringkali menyebabkan komplikasi yang dapat mengancam jiwa ibu dan janin.Laporan Kasus:Wanita usia 36 tahun datang dengan keluhan Amenorea lebih dari 1 bulan, setelah di periksa pasien dinyatakan hamil dengan usia kehamilan 9-10 minggu. Pada 28 februari 2018, pasien datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri perut bawah dan keluar darah dari jalan lahir, kemudian pasien di rujuk ke Rumah Sakit. Pasien didiagnosis dengan kehamilan ektopik dan dilakukan laparotomi. Kemudian pasien  kontrol dan mengeluh perut bertambah besar pascaoperasi, dari pemeriksaan ultrasonographi didapatkan adanya janin intrauterin. Pada usia kehamilan 35 minggu dilakukan operasi caesar dikarenakan gawat janin.Diskusi:Kehamilan Heterotopik adalah kehamilan intrauterin dan kehamilan ektopik yang terjadi pada waktu yang bersamaan. Kehamilan heterotopik seringkali sulit dideteksi dikarenakan gejala yang tidak spesifik. Pada kasus ini juga ditemukan kesulitan dalam mendiagnosa kehamilan heterotopik.Kesimpulan:Kehamilan heterotopik memiliki angka mortalitas yang tinggi jika diagnosis dan tatalaksana yang dilakukan tidak baik. USG berperan penting dalam membantu penegakkan diagnosis di daerah terpencil.Kata kunci: Kehamilan Heterotopik; USG; Diagnosis; Tatalaksana
Karakteristik Pasien Bersalin dengan HIV Positif dan Tingkat Keberhasilan Pemberian ARV Profilaksis pada Bayi Baru Lahir Ambelina, Syntia; Yanti, Roza Sri
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 2 September 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1413.223 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2.120

Abstract

AbstrakTujuan:Mengetahui karakteristik pasien bersalin dengan HIV positif dan tingkat keberhasilan pemberian anti retro viral (ARV) profilaksis pada bayi baru lahir di RSUP M. Djamil Padang.Metode:Penelitian ini merupakan studi deskriptif menggunakan desain cross sectional study dengan sampel seluruh pasien dengan HIV positif yang bersalin di bagian kebidanan RSUP M. Djamil Padang periode 1 Januari 2017 - 31 Desember 2018. Hasil:Selama periode penelitian didapatkan 1068 pasien bersalin di RSUP M. Djamil Padang. Didapatkan dua puluh sampel dengan HIV positif, dimana 5 sampel (25%) merupakan pasien yang berasal dari rujukan Puskesmas di Kota Padang, dan sisanya dari rujukan berbagai rumah sakit kabupaten di Sumatera Barat. Mayoritas sampel berusia 20-35 tahun (85%), pendidikan SMA (40%), menikah satu kali (60%), multigravida 2-4 (80%), dan terminasi kehamilan pada usia kehamilan 37-42 minggu (100%). 85% sampel  merupakan pasien dengan status HIV yang telah dikenal dan mendapat terapi ARV sebelumnya. 5% sampel bersalin secara spontan dan 95% sampel bersalin secara seksio sesarea. Seluruh bayi baru lahir dari ibu dengan HIV positif mendapatkan ARV profilaksis pada empat jam pertama pasca persalinan.Kesimpulan:Prevalensi persalinan dengan HIV positif di RSUP M. Djamil Padang adalah 1,87%, dan keberhasilan pemberian ARV profilaksis pada bayi baru lahir adalah 100%. 
Karakteristik Hipertensi pada Kehamilan di Rumah Sakit Daerah Klungkung Tahun 2017 Pranamartha, Anak Agung Gde Marvy Khrisna; Sukadana, Ida Bagus Made; Sudiarta, I Gede
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 2 September 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1321.021 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2.129

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik pasien hipertensi pada kehamilan di RSUD Klungkung tahun 2017.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cros-sectional deskriptif yang dilakukan di unit bersalin RSUD Klungkung selama periode Januari hingga April 2017. Analisis data dilakukan secara deskriptifHasil: Kejadian hipertensi pada kehamilan lebih banyak terjadi pada ibu usia 20-24 tahun, didapatkan kejadian preeklamsia ringan tinggi pada kehamilan multigravida, kejadian preeklamsi berat cukup tinggi pada usia kehamilan preterm, kejadian preeklamsi ringan tinggi pada ibu dengan BMI kriteria overweight, persalinan sectio cesaria cukup tinggi pada ibu hamil dengan preeklamsi berat, terdapat kejadian bayi lahir mati sebanyak 3 bayi pada ibu dengan preeklamsi berat.Pembahasan: Hipertensi pada kehamilan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor selain dari pada faktor karakteristik itu sendiri, faktor imunologi juga memiliki peranan penting terhadap terjadinya hipertensi pada kehamilan.Kesimpulan: Kejadian preeklamsi ringan masih mendominasi dari keseluruhan kasus hipertensi pada kehamilan, kemudian luaran klinis bayi lahir mati cederung terjadi pada kasus preeklamsi berat.Kata kunci: Hipertensi, Kehamilan, Karakteristik.AbstractObjective: To determine the characteristics of hypertensive patients in pregnancy in Klungkung Hospital in 2017Method: This research was a descriptive cross-sectional study conducted at the maternity unit of Klungkung Hospital during the period of January 2017 to April 2017. Data analysis was carried out descriptivelyResults: Gestational hypertension is more common in women aged 20-24 years, there is a high incidence of mild preeclampsia in multigravida pregnancies, the incidence of severe preeclampsia is quite high at preterm pregnancy, the incidence of mild preeclampsia in mothers with BMI overweight criteria, high rate cesarean delivery pregnant women with severe preeclampsia, there were 3 babies born to birth in mothers with severe preeclampsia.Discussion: Hypertension in pregnancy is strongly influenced by many factors other than the characteristic factors themselves, immunological factors also have an important role in the occurrence of hypertension in pregnancy.Conclusion: The incidence of mild preeclampsia still dominates from all cases of hypertension in pregnancy, and the clinical outcome of infant mortality is likely to occur in cases of severe preeclampsia.Key words: Hypertension, Pregnancy, Outcome, Characteristics.
Kematian Janin Dalam Rahim pada Kehamilan Aterm dengan Eklampsia, Partial Hellp Syndrome, Edema Paru Akut dan Syok Kardiogenik Hartono, Harvey Alvin; Astuti, Indah Widya; Danianto, Ario
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3057.927 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.132

Abstract

Tujuan: Melaporkan eklampsia, partial HELLP syndrome, edema paru akut sebagai komplikasi dari preeklampsia berat.Metode: Laporan Kasus.Hasil: Preeklampsia berat dan eklampsia merupakan penyebab kematian ibu berkisar 1.5-25 %, sedangkan kematian bayi antara 45-50 % di Indonesia.  Eklampsia adalah kelainan akut pada ibu hamil, persalinan, atau nifas ditandai kejang dan atau koma, dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala preeklampsia. Preeklampsia dan eklampsia memberi pengaruh buruk pada janin. Kami melaporkan kasus nulipara berusia 20 tahun dengan Kematian Janin Dalam Rahim + eklampsia + partial HELLP syndrome + Edema Paru + syok kardiogenik. Persalinan diakselerasi dengan forceps ekstraksi dan bayi lahir mati dengan Berat 2700g. Kesadaran pasien menurun dua jam post partum dan pasien tampak sesak. Pasien mengalami perbaikan selama perawatan dan dipulangkan pada hari ke 5.Kesimpulan: Sindroma HELLP merupakan komplikasi preeklampsia dan eklampsia yang mengancam nyawa karena tingkat morbiditas dan mortalitas maternal serta perinatal yang tinggi. Diperlukan diagnosa dini dan intervensi tepat untuk mencegah perkembangan patofisiologi yang mengarah ke komplikasi.Kata kunci: KJDR, Eklampsia, Partial HELLP syndrome, Edema Paru AkutAbstractObjective: To report eclampsia, HELLP syndrome, acute lung edema as complications of severe preeclampsia.Methods: Case report.Result: In Indonesia, severe preeclampsia and eclampsia are the causes of maternal mortality in the range of 1.5-25%, while infant mortality is between 45-50%. Eclampsia is an acute disorder in pregnant women, childbirth, or puerperium characterized by seizures and/ coma, which have previously shown symptoms of preeclampsia. It has negative influence on the fetus. We reported a case of 20 years old nulliparous with Intrauterine Fetal Death+eclampsia+partial HELLP syndrome+acute lung edema+cardiogenic shock. The labor accelerated by forceps extraction and 2700 grams stillbirth was born. Patient awareness decreased two hours post partum, she was short of breath. She was treated and her condition get improved then discharged on 5th day. Conclusion: HELLP Syndrome is a severe variant complication of Preeclampsia and Eclampsia because of the level of maternal-perinatal morbidity is high. It needs early diagnosis and prompt treatment to arrest further progress leading to complications.   Key words: IUFD, Eclampsia, Partial HELLP syndrome, Acute Lung Edema
Preeklampsia Berat, Sindrom HELLP, dan Eklampsia Terhadap Luaran janin (Fetal outcome) di RSUD Ulin Banjarmasin Sukoco Putra, Yohanes Adhitya Prakasa; Abimanyu, Bambang; Andayani, Pudji
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 2 September 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.009 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2.145

Abstract

Tujuan : Mengetahui apakah terdapat hubungan antara preeklampsia berat, sindrom HELLP, dan eklampsia terhadap luaran janin (kecil masa kehamilan, asfiksia, dan prematuritas) di RSUD Ulin BanjarmasinMetode : Menggunakan metode potong lintang dengan menggunakan data sekunder yang diambil dari rekam medis. Sampel yang diambil merupakan total sampling yaitu terhadap seluruh rekam medis ibu yang melahirkan dan luaran janin di kamar bersalin RSUD Ulin Banjarmasin pada bulan Januari sampai dengan Desember tahun 2017. Didapatkan sebanyak 1.259 sampel yang dimasukkan dalam penelitian ini. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square kemudian dilanjutkan dengan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik dengan tingkat kemaknaan p<0,05 untuk analisis statistik.Hasil : Didapatkan 1.259 sampel dari total sampling yang adalah seluruh ibu yang melahirkan di kamar bersalin RSUD Ulin tahun 2017. Preeklampsia berat, sindrom HELLP, dan eklampsia masing-masing didapatkan sebanyak 156, 32, 30 sampel. Analisis chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara preeklampsia berat, sindrom HELLP, dan eklampsia terhadap luaran janin. Analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik mendapatkan kecil masa kehamilan merupakan luaran janin yang paling berhubungan dengan preeklampsia berat dan sindrom HELLP.Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara preeklampsia berat, sindrom HELLP, dan eklampsia terhadap luaran janin. Hubungan preeklampsia berat dan sindorm HELLP terhadap kecil masa kehamilan merupakan yang paling signifikan. Kata kunci : Preeklampsia berat, sindrom HELLP, eklampsia, luaran janin, RSUD Ulin  ABSTRACTObjective: To find out whether there was the relation between severe preeclampsia, HELLP Syndrome and eclampsia toward fetal outcome (small gestational age, asphyxia, and prematurity) at Ulin General Hospital Banjarmasin.Method: It used cross-sectional method using secondary data taken from medical record. Samples taken were total of sampling toward all medical record of mothers who gave birth and fetal outcome in delivery room Ulin General Hospital in January to December 2017. There were 1.259 samples included in this research. Bivariate analysis used chi-square test. Furthermore, it was continued to multivariate analysis using logistic regression with significance level p<0.05 for statistic analysis.Result: It was obtained 1.259 samples from total sampling of all mother who gave birth/delivered in delivery room Ulin General Hospital in 2017. Severe preeclampsia, HELLP Syndrome and eclampsia were respectively obtained 156, 32, 30 samples. Chi-square analysis showed that there was significant relation between Severe preeclampsia, HELLP syndrome and eclampsia toward fetal outcome. Multivariate analysis using logistic regression test obtained that small gestational age was fetal outcome which had the most relation with severe preeclampsia and HELLP Syndrome.Conclusion: There is significant relation between severe preeclampsia, HEELP syndrome and eclampsia toward fetal outcome. The relation of severe preeclampsia and HELLP syndrome toward small gestational age is the most significant. Key Words: Severe preeclampsia, HELLP syndrome, Eclampsia, Fetal outcome, Ulin General Hospital
Intrauterine Device Malposition Into The Bladder with Stone Formation Adi, Kuncoro; Firdaus, Gugum Indra
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.102 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.168

Abstract

Introduction: Intrauterine device (IUD) is accepted and used as an effective contraception globally. Malposition of intrauterine device into the bladder with stone formation was very rare complication. In this study, we report a case in which IUD malposition had caused bladder stone formation in a female patientCase presentation: Patient was a female, 50 years old, complained of painful urination approximately 1 year before admission and was diagnosed with recurrent urinary tract infection (UTI). Patient also had history of IUD insertion for ten years. Instead of IUD insertion in her uterine, patient had history of 2 times birth delivery. Imaging examination was performed on April 2018, in Hasan Sadikin Hospital, Bandung and found IUD in pelvic area. In ultrasound imaging we found a hyperechoic with acoustic shadow that resembles an IUD. Endoscopic management was performed by cystoscopy instrument. We found a half of IUD in the bladder with encrustation and calcification in the device. We performed lithotripsy with pneumatic lithotripter to disintegrate the encrustation. An IUD extracted from the bladder cavity by cystoscopy grasper. Postoperative evaluation we found no complications and send home the patient 3 days after the procedure. Conclusion: IUD malposition can be found to bladder cavity. Recurrent UTI needs radiological investigation to provide for any abnormality in urinary tract. IUD extraction could be performed by transvesical approach if the device malposeed to the bladder.  Key words: bladder stone, intrauterine device, malpositionAbstrakPendahuluan: Intrauterin device (IUD) merupakan alat kontrasepsi yang efektif dan diterima serta digunakan secara luas. Malposisi IUD ke buli dengan pembentukan batu adalah komplikasi yang sangat jarang terjadi. Pada studi berikut ini, kami melaporkan sebuah kasus malposisi IUD yang telah menyebabkan pembentukan batu buli pada pasien perempuan. Presentasi kasus: Seorang perempuan usia 50 tahun mengeluh nyeri ketika sedang berkemih sejak 1 tahun sebelum masuk rumah sakit dan didiagnosis dengan infeksi saluran kencing berulang. Pasien memiliki riwayat pemasangan IUD sejak 10 tahun lalu. Walaupun demikian, pasien memiliki riwayat 2 kali melahirkan. Pada pemeriksaan rontgen ditemukan IUD di rongga pelvis. Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan gambaran hiperekhoik dengan acoustic shadow dengan bentuk menyerupai IUD. Tata laksana endoskopik dilakukan dengan alat sistoskopi. Kami menemukan sebagian IUD berada di dalam buli disertai dengan enkrustasi dan kalsifikasi pada IUD. Kami melakukan litotripsi dengan litotriptor pneumatik untuk menghancurkan enkrustasi. Intrauterine device dikeluarkan dari dalam buli dengan pinset sistoskopi. Evaluasi pascaoperasi tidak ditemukan komplikasi dan pasien pulang 3 hari setelah prosedur.Simpulan: Malposisi IUD dapat terjadi ke dalam buli. Infeksi saluran kemih berulang memerlukan pemeriksaan radiologis untuk mencari abnormalitas pada saluran kemih. Intrauterine device dapat dikeluarkan dengan pendekatan transvesika jika mengalami malposisi ke buli. Key words: batu buli, intrauterine device, malposisi