cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 68 Documents
Multiparitas sebagai Faktor Risiko Kejadian Kurang Energi Kronis (KEK) pada Ibu Hamil di Kecamatan Biduk-Biduk Kabupaten Berau Sanitya Dharma, I Putu Pramana
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 2 September 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1808.094 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2.160

Abstract

AbstrakTujuan: untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Kurang Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil. Metode: penelitian observasional analitik ini menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah semua ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Biduk-Biduk Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur tahun 2018 dengan 121 sampel yang diambil menggunakan teknik consecutive sampling. Analisis data menggunakan uji Regresi Logistik.Hasil: penelitian dari 121 ibu hamil didapatkan 28 ibu hamil (23,2%) memiliki usia berisiko, 33 ibu hamil (27,3%) memiliki paritas lebih dari 2 kali, dan 23 ibu hamil (19%) mengalami KEK. Uji Regresi Logistik didapatkan hubungan signifikan antara paritas (0?2) dengan kejadian KEK pada ibu hamil dengan OR 10,535 95% CI 1,336-83,085 sedangkan pada variabel usia terhadap kejadian KEK tidak didapatkan hubungan signifikan.Kesimpulan: penelitian didapatkan hubungan antara paritas ibu hamil (0?2) dengan kejadian KEK di wilayah Puskesmas Biduk-Biduk dengan peningkatan risiko hingga l0 kali lipat dibandingkan ibu hamil dengan paritas lebih dari 2.Kata kunci: Paritas, Usia, Kurang energi kronis (KEK)AbstractObjective: to analyze factors that related to Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnant women.Method: in this analytic observational research used was a cross sectional design. The population were all pregnant women in working area of Biduk-Biduk Community Health Centre in 2018 with 121 samples which had been taken by consecutive sampling technique. Data was analyzed by means of Logistic Regression statistic test.Result: from 121 pregnant women, there were 28 pregnant women (23.2%) with age at risk, 33 pregnant women (27.3%) with parity more than two, and 23 pregnant women (19%) suffered CED. There is a significant relationship between parity (0 to 2) with CED in pregnant women (OR 10.535 95% CI 1.336?83.085), however there is no significant relationship between age and CED.Conclusion: parity in pregnant women (0?2) has significant relationship with CED with increased risk to ten fold compared to pregnant women with parity more than two.Key words: Parity, Age, Chronic energy deficiency (CED)
Phaleria Macrocarpa’s Extract Inhibits Autophagy Probably Through TNF-α in HUVEC Cell Culture Simanjuntak, Leo Jumadi; Ganis Siregar, M. Fidel; Mose, Johanes C.; Lumbanraja, Sarma N.
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 2 September 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2084.573 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2.130

Abstract

Objective: This study aimed to determine the effects of Phaleria macrocarpa?s extract on TNF-? and LC3-II level and their correlation in preeclampsia-induced HUVEC.Methods: This study used HUVEC culture as an in vitro model and Phaleria macrocarpa?s extract, widely used as an anti-inflammation and antioxidant.Results: Phaleria macrocarpa?s extract reduce TNF-? level siginificantly at concentration of 7.813?g/mL and at 62.5?g/mL reduce TNF-? level to normal level. There was no significant decrease and  reduction to normal level in LC3-II. TNF-? has a strong positive correlation with LC3-II (r=0.958), that reduced TNF-? level will decrease LC3-II levels, where a decrease in TNF-? level of 1pg/mL will reduce LC3-II levels by 0.413pg/mL.Conclusion: Thus, Phaleria macrocarpa?s extract might be used to overcome endothelial dysfunction and autophagy in preeclampsia.Key words : Phaleria Macrocarpa, Preeclampsia, HUVEC, TNF-?, LC3-IIAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak Phaleria macrocarpa pada inflamasi dan otofagi pada sel endotel dengan mengukur kadar TNF-? dan LC3-II pada HUVEC yang diinduksi serum preeklampsia.Metode: Penelitian ini menggunakan kultur HUVEC sebagai model in-vitro yang banyak digunakan untuk memelajari patogenesis preeklampsia. Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl juga dikenal sebagai Mahkota Dewa secara luas digunakan sebagai anti-inflamasi dan antioksidanHasil: Hasil menunjukkan ekstrak Phaleria macrocarpa menurunkan kadar TNF-? secara signifikan pada konsentrasi 7.813 ?g/mL dan konsentrasi 62.5 ?g/mL menurunkan kadar TNF-? ke kadar normal. Tidak terdapat penurunan signifikan rerata kadar LC3-II antara kontrol dan model PE dan dibutuhkan ekstrak Phaleria macrocarpa pada konsentrasi lebih dari 250 ?g/mL untuk menurunkan kadar LC3-II pada model preeklamsia ke kadar hamil normal. Kadar TNF-? memiliki korelasi positif yang bermakna dengan LC3-II dengan tingkat korelasi sangat kuat (r = 0.847), dimana penurunan kadar TNF-? sebesar 1 pg/mL akan menurunkan kadar LC3-II sebesar 0.413 pg/mL.Kesimpulan: Dengan demikian, ekstrak Phaleria macrocarpa dapat digunakan untuk mengatasi disfungsi endotel dan otofagi pada preeklampsia.Kata kunci: Phaleria Macrocarpa, Preeklampsia, HUVEC, TNF-?, LC3-II
Prevalence of Congenital Anomalies on Routine Ultrasound Examination of Second and Third Trimester Pregnancy Putra, Ridwan Abdullah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.332 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.164

Abstract

Objective:This study aims to determine the prevalence and characteristics of congenital anomalies  and maternal demographic of second and third trimester pregnancy as a basis for the planning and management of  congenital anomalies in the future pregnancy.Method: This is a descriptive-retrospective study conducted at Cikalongwetan General Hospital by collecting data obtained from the obstetrics and gynecology outpatient and inpatient register book from January 1st through December 31st 2018.Results: Ultrasound examination was performed on 2572 patients at second and third trimester of pregnancy. 37 cases (1.44%) of  congenital anomalies was found. Single  congenital anomalies was found in 29 cases (78.38%), while 8 cases were found with multiple anomalies (21.62%). Based on organ anomaly, defects in the central nervous system was the most common with 15 cases (40.54%), followed by gastrointestinal system in 8 cases (21.62%). The gestational age related to CA was found most common in the third trimester with 21 cases (56.76%), while deceased fetus (IUFD) was found in 11 cases (29.73%).Conclusion: This study is expected to foster early awareness regarding regular antenatal care and the importance of ultrasoud examination so can help in primary prevention of disability and reducing perinatal mortality and morbidity.Key words: Prenatal, Congenital anomalies, UltrasonographyAbstrakTujuan: Menentukan prevalensi kejadian, jenis kelianan kongenital dan data demografi ibu saat trimeset dua dan tiga selama periode penelitian  sebagai dasar dan bahan pertimbangan  dalam perencanaan dan manajemen bayi dengan kelainan bawaan selanjutnya.Metode: Penelitian retrosepektif dengan cara mengumpulkan data yang diperoleh dari buku register kunjungan poli dan rawat inap  Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUD Cikalongwetan selama periode 1 Januari ? 31Desember 2018.Hasil: Pada penelitian ini telah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi sebanyak 2572 ibu hamil trimester dua dan tiga, ditemukan kelainann kongenital 37 kasus (1,44%). Kelainan kongenital tunggal 29 kasus (78,38%), 8 kasus kelainan  ganda (21,62%). Berdasarkan kelainan  organ, cacat pada sistem saraf pusat menempati urutan pertama15 kasus (40,54%) diikuti oleh kelainan pada sistem pencernaan  8 kasus (21,62%) dan sistem saluran kemih4 kasus (16,22%) dan lainnya 12 kasus (32,43%). Usia kehamilan dari kelainan kongenital yang paling sering ditemukan pada trimester ketiga 21 kasus (56,76%) dengan janin yang telah meninggal (IUFD) sebanyak 11 kasus (29,73%).Kesimpulan: Penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran sejak dini mengenai perawatan antenatal yang teratur dan pentingnya pemeriksaan ultrasonografi sehingga dapat membantu dalam pencegahan primer kecacatan serta mengurangi angka kematian dan morbiditas perinatal.Kata kunci: Prenatal, Kelainan kongenital, Ultrasonografi
Luaran Maternal dan Neonatal Pada Preeklampsia Berat Perawatan Konservatif di RSUD Dr. Soetomo Surabaya Wijayanti, Wijayanti; Ernawati, Ernawati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 2 September 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.88 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2.143

Abstract

Obyektif: Mengetahui luaran maternal dan neonatal pada PEB perawatan konservatif di RSUD Dr. Soetomo Surabaya Metode: Deskriptif observational retrospektif menggunakan data sekunder dari rekam medis mulai Januari 2012 sampai dengan Desember 2017. Kriteria inklusi: semua pasien preeklampsia berat usia  kehamilan < 34 minggu yang dilakukan perawatan konservatif di RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama periode tersebut. Kriteria eksklusi: data pasien tidak lengkap, pasien dengan sindroma HELLP saat pertama kali didiagnosis PEBHasil: Lama perawatan terpanjang pada usia kehamilan 24-<28 minggu dengan rerata 18,24 hari. Komplikasi maternal tersering adalah sindroma HELLP, edema paru sebanyak 13 pasien dan 10 pasien. Rerata berat bayi yang dilahirkan pada usia kehamilan <24 minggu sampai usia kehamilan 32-<34 minggu adalah 572,22 g; 1.072,49g; 1.301,75g; 1.551,42g; 1.886,47g. Survival rate neonatus yang dilahirkan usia <24 minggu sampai 32-<34 minggu adalah 11,11%; 40,00%; 63,16%; 82,09%; 92,48%. IUFD terbesar pada usia kehamilan <24 minggu, yaitu 11,11%.Kesimpulan: Perawatan PEB konservatif dapat memberikan manfaat untuk janin pada saat usia kehamilan 28 minggu. Survival rate pada luaran neonatal >28 minggu lebih dari 50%. Komplikasi maternal tersering adalah sindroma HELLP dan edema paru.Kata Kunci: preeklampsia, perawatan konservatif
Recurrent multi-drug-resistant tuberculosis with unilateral destroyed lung in pregnancy: a case report Febriana, Irene Sinta; Atikah, Sayugo; Pudyastuti, Sri
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.194 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.170

Abstract

Background: Multi-drug-resistant Tuberculosis (MDR-TB) remains a public health problem in developing countries such as Indonesia. The extensive parenchymal damage due to MDR-TB could manifest as an irreversible destroyed lung, leading to respiratory and  also cardiovascular complication. Its occurrence in pregnancy is uncommon but is highly associated with higher mortality and morbidity for both maternal and fetal.Case Report: We report a case of 24 year old primigravida in National Respiratory Center Hospital, diagnosed with  an unilateral destroyed lung due to MDR-TB in pregnancy at 32 weeks of gestational age. On initial presentation, she reported fatigue, nausea, night sweats, chronic dyspnoe and was found to have complete left destroyed lung. Her disease was managed during pregnancy using long-term oxygen therapy despite persistent desaturation.Conlusion: Aside from frequent monitoring, prolonged oxygen therapy might benefit the chronic hypoxia condition in gestational destroyed lung due to previous MDR-TB infection, for preventing maternal-fetal mortality and morbidities, such as respiratory failure and IUGR.AbstrakLatar Belakang: Tuberkulosis Multi-drug-resistant (TB-MDR) tetap menjadi masalah kesehatan pada negara berkembang, seperti Indonesia. Kerusakan parenkin luas yang diakibatkan oleh infeksi TB-MDR dapat bermanifestasi sebagai kerusakan paru ireversibel, dengan komplikasi respiratorik dan kardiovaskular. Kejadian kerusakan paru akibat TB-MDR dalam kehamilan jarang terjadi, namun berdampak pada peningkatan mortalitas dan morbiditas pada janin dan ibu. Laporan Kasus: Studi ini melaporkan kasus perempuan primigravida 24 tahun didiagnosa dengan kerusakan paru unilateral akibat infeksi TB-MDR pada kehamilan 32 minggu di RS Pusat Paru Nasional. Pada pemeriksaan awal, didapatkan pasien mengeluhkan kelelahan kronik, nausea, keringat malam, sesak kronik dan didapatkan memiliki kerusakan paru kiri komplit. Keadaan pasien dalam kehamilan ditatalaksana dengan terapi oksigen jangka panjang untuk mengatasi desaturasi persisten Kesimpulan: Di samping pengawasan ketat, terapi oksigen jangka panjang dapat menjadi tatalaksana utama untuk kondisi hipoksia kronik pada kerusakan paru dalam kehamilan akibat infeksi lama TB-MDR untuk mencegah morbiditas dan mortalitas ibu dan janin, seperti gagal napas dan pertumbuhan janin terhambat  (PJT).
Severe Preeclampsia at 26 weeks gestation on Nulliparous with complication of Bilateral Serous Retinal Detachment Septiani, Winty; Defri, Defri; Emputri, Obdes Maharani
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.921 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.134

Abstract

Preeclampsia is still one of the leading causes of death and severe maternal morbidity. The rate of incidences range from 5 to 10 % in all pregnancies. Clinical condition in Preeclampsia is increasing blood pressure and proteinuria. Preeclampsia can cause multisystem disorders including visual disruptions. The incidence rate of visual system disruptions is 25 % of patients with severe preeclampsia and 30% of patients with eclampsia. The most common visual complication is hypertensive retinopathy, serous retinal detachment, and cortical blindness. The incidences of serous retinal detachment are approximately 1% in severe preeclampsia and 10% in eclampsia. We report a case of 28 years old nulliparous with severe preeclampsia at 26 weeks gestation, who complained blurred vision, we ran several examinations and bilateral serous retinal detachment was diagnosed. Her visual has significant improvement a few weeks after pregnancy termination.Abstrak Preeklampsia masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan morbiditas maternal.[1] Tingkat insiden preeklampsia berkisar dari 5 hingga 10% pada semua kehamilan.[2] Kondisi klinis Preeklampsia adalah meningkatnya tekanan darah dan proteinuria. Preeklamsia dapat menyebabkan gangguan multisistem termasuk gangguan penglihatan.[3] Tingkat kejadian gangguan sistem penglihatan adalah 25% pada pasien dengan preeklampsia berat dan 50% pada pasien dengan eklampsia.[3] Komplikasi visual yang paling umum terjadi adalah retinopati hipertensi, serous retinal detachment, dan kebutaan kortikal.[4]  Insidensi serous retinal detachment sekitar 1% pada preeklampsia berat dan 10% pada eklampsia.[5]  Kami melaporkan kasus nulipara berusia 28 tahun dengan preeklamsia berat pada usia kehamilan 26 minggu, yang mengeluhkan penglihatan kabur, dilakukan beberapa pemeriksaan dan bilateral serous retinal detachment ditegakkan. Penglihatan pasien mengalami perbaikan yang signifikan  minggu ke-lima setelah terminasi kehamilan.
Prevalensi Kejadian Infeksi Virus HbsAg pada Bayi Baru Lahir dari Ibu dengan HbsAg Positif Pradipta, Rengga; Yanti, Roza Sri
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 2 September 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.219 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2.123

Abstract

Abstrak Tujuan:  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian penularan infeksi virus HbsAg pada bayi baru lahir dari ibu dengan HbsAg Positif.Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif. Data diambil dari rekam medik pasien dari ibu yang melakukan persalinan dengan pemeriksaan HbsAg positif. Data yang diambil adalah identitas pasien, sosioekonomi keluarga dan hasil laboratorium yang melakukan persalinan baik secara pervaginam maupun perabdominam di RSUP Dr. M. Djamil Padang, selama periode Januari 2017-Desember 2018. Data yang dicatat: anamnesa riwayat antenatal, riwayat penyakit sebelumnya, dan hasil pemeriksaan HbsAg baik pada ibu maupun pada bayi yang baru lahir dari ibu yang mempunyai HbsAg positif. Hasil: Terdapat 1068 ibu hamil yang melakukan persalinan. Didapatkan 42 ibu yang melahirkan dengan hasil positif HbsAg, terdapat 4 ibu dengan positif HbsAg melahirkan secara pervaginam dan 38 ibu dengan positif HbsAg melahirkan dengan seksio sesaria. Kejadian infeksi Hepatitis B pada bayi baru lahir dari ibu positif HbsAg di RSUP Dr. M Djamil Padang Yaitu 0% (0/42) dengan riwayat pemberian vaksin HB0 <12 jam dan pemberian Immunoglobulin Hepatitis B mencapai sebesar 100%.Kesimpulan: Tidak ada penularan secara vertikal dengan 100% riwayat pemberian vaksin HB0 dan pemberian immunoglobulin Hepatitis BKata kunci: Hepatitis B, HbsAg, Ibu HamilAbstractObective: This study aims to determine the incidence of transmission of HBsAg virus infection in newborns infant from mothers with HbsAg positive.Method: Statistic analysis is a descriptive study. The data was taken from the medical record of patients from mothers who gave birth with positive HBsAg examination. The data is the patient?s identity, family?s socioeconomics and laboratory results from mother that had delivery both vaginally and caesarean section in RSUP dr. M. Djamil Padang, during the period of January 2017-December 2018. Data recorded: history of antenatal history, previous history of disease, and results of HBsAg examination both in the mother and in newborns of mothers who have HBsAg positive.Result: There were 1068 pregnant women who gave birth. There were 42 mothers who gave birth with positive HBsAg results, there were 4 mothers with HBsAg positive who giving birth by vaginal delivery and 38 mothers with positive HBsAg giving birth with cesarean section. The incidence of Hepatitis B infection in newborns from mothers who have positive for HbsAg examination in RSUP Dr. M Djamil Padang is 0% (0/42) with a history of HB0 <12 hours vaccine administration and Hepatitis B immunoglobulin reaches 100%.Conclusion: There is no vertical transmission with 100% history of HB0 vaccine administration and Hepatitis B immunoglobulin administrationKey words: Hepatitis B, HBsAg, Pregnant Women
Perbedaan antara Jenis dan Derajat Kelainan Jantung serta Jenis Persalinan terhadap Outcome Ibu dan Bayi pada Kehamilan dengan Penyakit Jantung Nirmala, Cytta; Mose, Johanes C; Aziz, Muhammad Alamsyah; Effendi, Jusuf Sulaeman; Purwara, Benny Hasan; Pribadi, Adhi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 1 Maret 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1719.843 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n1.87

Abstract

AbstrakTujuan: Penelitian ini dilakukan upaya untuk menilai karakteristik dan outcome kehamilan dengan kelainan jantung baik pada ibu dan bayi di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung dari tahun 2015 sampai 2017.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik (cross-sectional). Subjek penelitian adalah semua ibu hamil dengan kelainan jantung yang menjalani persalinan di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung dari tahun 2015 ? 2017 dengan menggunakan data sekunder. Hasil: Selama periode penelitian sebanyak 76 sampel penelitian yang diperoleh. Pada penelitian ini usia rata-rata ibu adalah 30 tahun, paling banyak pada paritas 1 dan 3 yaitu sebesar 31,6%. Usia kehamilan saat terjadi persalinan  > 37 minggu sebanyak 53,9%. Lama perawatan pasien rata-rata 7 sampai 8 hari dengan ruang rawat yang paling banyak adalah ICU sebanyak 32,9%, dan ruang rawat biasa sebesar 39.5%. Jenis kelainan jantung yang paling sering adalah kardiomiopati peripartum dan hipertensi, yaitu sebesar 42,1%. Jenis persalinan yang banyak dilakukan adalah seksio sesarea yaitu sebesar 64,5%. Penelitian ini memperoleh bahwa ibu dengan kelainan jantung yang hidup sebesar 88,2% dan meninggal sebesar 11,8% setelah menjalani persalinan.Kesimpulan: Ada perbedaan antara derajat kelainan jantung berdasarkan NYHA (New York Heart Association) dengan outcome ibu dan bayi pada kehamilan dengan kelainan jantung.Kata kunci: Jenis dan Derajat Kelainan Jantung, Jenis Persalinan, Outcome Ibu dan BayiAbstractObjective: through this research conducted efforts to assess the characteristics and outcome of pregnancy with cardiac disease both in mother and infant in dr dr. Hasan Sadikin Bandung from year 2015 to 2017.Method: an observational analytic (cross-sectional) research with subjects were all pregnant women with cardiac abnormalities who underwent delivery at dr. Hasan Sadikin Bandung from 2015 to 2017 using secondary data.Results:During the research period as many as 76 samples obtained. In this study the average age of the mother is 30 years, most at parity 1 and 3 that is equal to 31.6%, age of pregnancy during labor> 37 weeks by 53.9%. The average length of patient care was 7 to 8 days with the most hospital room was ICU of 32.9% and the regular room was 39.5%. The most common types of heart disorders are peripartum cardiomyopathy and hypertensive heart disease, which is 42.1%. Type of delivery mostly by cesarean section that is equal to 64.5%. The study found that mothers with heart abnormalities were 88.2% alive and died of 11.8% after going through labor.Conclusion: There is a difference between the degree of cardiac abnormalities based on NYHA (New York Heart Association)  classification with maternal and infant outcomes in pregnancy with cardiac abnormalities.Key words: Type and Degree of Heart Abnormality, Type of Birth, Outcome of Mother and Infant
Teratoma Sakrokoksigeus: Kelainan Kongenital yang dapat Dikoreksi Anwar, Arsyi Adliah; Lukas, Efendi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1410.085 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2s.142

Abstract

Latar Belakang: Teratoma sakrokoksigeus (SCT) adalah jenis tumor sel germinal yang terjadi terutama pada bayi dan anak-anak. Insidennya adalah satu dari 40.000 kelahiran hidup. Teratoma sakrokoksigeus yang terdeteksi prenatal harus menjadi perhatian dan memerlukan pemantauan ketat. Kasus: Seorang wanita 23 tahun terdeteksi memiliki janin dengan teratoma sakrokoksigeus dengan diagnosis banding meningomielokel pada usia kehamilan 34 minggu. Pasien ini tidak melakukan kunjungan antenatal yang teratur. Terminasi kehamilan dilakukan dengan seksio sesarea. Prosedur operatif dilakukan dua bulan setelah kelahiran. Kesimpulan: Teratoma sakrokoksigeus yang terdiagnosis prenatal dapat menyebabkan komplikasi yang berat pada janin, meskipun tidak terjadi pada kasus ini. Kunjungan prenatal yang teratur diperlukan untuk memantau ukuran massa. Mielomeningokel adalah salah satu diagnosis banding pada teratoma sakrokoksigeus tipe A. Proses terminasi kehamilan dapat menyebakan trauma pada jaringan tumor. Oleh karena itu, pilihan terminasi harus mempertimbangkan ukuran tumor. Kata kunci: Teratoma Sakrokoksigeus, Anomali KongenitalAbstractBackground: Sacrococcygeal teratomas (SCT) is a subset of germ cell tumours occur predominantly in infants and children. The incidence is one in 40 000 live births. Sacrococcygeal teratomas diagnosed prenatally should be a caution and need regular observation. Case: A 23 years old woman was detected having a fetus with sacrococcygeal teratoma with differential diagnosis as a myelomeningocele at 34 weeks of pregnancy. The patient didn?t do prenatal visit regularly. The pregnancy was terminated with cesarean section without any complication. Surgical procedure of the tumor was succesfully done 2 months after delivery. Conclusion: Sacrococcygeal teratoma diagnosed prenatally can cause severe complication for the fetus, although it was not occur in this case.. Regular prenatal visit is needed to observe the size of the mass. Myelomeningocele is one of the differential diagnose in type A sacrococcygeal teratoma. The process of delivery can cause trauma to the tumor. In order that, termination method should be based on the size of the tumor.Key words: Sacrococcygeal Teratoma, Congenital Anomaly
Efektivitas Pil Oral Kombinasi Dosis Rendah dalam Pengelolaan Perdarahan Uterus Abnormal pada akseptor DMPA Adawiyah, Rabiah; Mulyantoro, Inu
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 2 September 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1361.126 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2.161

Abstract

AbstrakTujuan: Untuk mengeksplorasi Efektivitas Pil Oral Kombinasi (POK) dalam Pengobatan Perdarahan Uterus Abnormal pada akseptor DMPA.Metode: Kami melakukan percobaan untuk menyelidiki efek pil oral kombinasi dosis rendah dalam pengelolaan PUA pada akseptor DMPA. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang, Indonesia. Desain penelitian yang digunakan adalah pra eksperimental. Dua puluh dua  akseptor DMPA diberikan terapi POK dosis rendah sekali sehari selama 28 hari (satu siklus), kemudian subjek dievaluasi untuk durasi perdarahan selama perawatan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian POK dosis rendah dan variabel dependen adalah jumlah hari perdarahan.Hasil: Terdapat penurunan bermakna rata-rata hari perdarahan  pada akseptor DMPA dengan PUA antara sebelum dan sesudah terapi POK dosis rendah dari 22,2(4,48) menjadi  9,2 (6,16) hari  (p=0,0001). Persentase dari subjek penelitian yang pendarahannya berhenti dalam minggu pertama setelah pengobatan adalah sebesar 45,5 %. Hanya terdapat satu orang yang mengeluhkan efek samping berupa pusing dan mual selama pengobatanKesimpulan: Pil Oral Kombinasi Dosis rendah  dapat mengurangi hari perdarahan pada akseptor DMPA Kata kunci: POK, PUA, DMPA, hari perdarahan AbstractObjective: To explore the effectivity of  Low Dose Oral Contraceptive Pills (LDOCP) in managing AUB in DMPA users. Methods: We performed the study to investigate the effect of LDOCP in managing AUB in DMPA users. This study was performed in Dr. Kariadi Hospital Semarang, Indonesia. The study design is pre experimental. Twenty two subjects received LDOCP once a day for 28 day (one menstrual cycle). Subjects then evaluated for bleeding length during treatment. Independent variable in this study is LDOCP treatment and the dependent variable is the bleeding days.Results: The mean bleeding days in DMPA users with AUB were significantly reduced after LDOCP therapy from 22,2(4,48) days to  9,2 (6,16) days (p=0,0001). The precentage of subjects in whom bleeding was stopped during the first week initial treatment was 45,5 %. The mild side effects, such as dizziness and nausea, were experienced by only one subject.Conclusion : LDOCP significantly reduced  bleeding days in DMPA users with AUB Key words : OCP, PUA, DMPA, bleeding days