cover
Contact Name
Dian Arrisujaya
Contact Email
-
Phone
+622517592051
Journal Mail Official
jsainsnatural.unb@gmail.com
Editorial Address
Kampus Universitas Nusa Bangsa Jl. KH. Sholeh Iskandar Km. 4, Cimanggu, Tanah Sareal Bogor 16166
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sains Natural
ISSN : 20863446     EISSN : 2621508X     DOI : https://doi.org/10.31938/jsn
SAINS NATURAL merupakan jurnal ilmiah peer-reviewed dalam bidang Biologi dan Kimia. Sains Natural diterbitkan oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Nusa Bangsa, Bogor, Indonesia. Jurnal terbit 2 (dua) nomor setiap tahun, pada bulan Januari dan Juli. Jurnal ini mencangkup semua cabang ilmu Biologi dan Kimia serta sub-disiplinnya yang memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) yang orsinil dan belum serta tidak dipublikasikan dalam media lain.
Articles 141 Documents
PENGUJIAN PARAMETER FISIK SABUN MANDI CAIR DARI SURFAKTAN SODIUM LAURETH SULFATE (SLES) Cahyaningsih, Devita; Ariesta, Nina; Amelia, Rizki
Jurnal Sains Natural Vol 6, No 1 (2016): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/jsn.v6i1.250

Abstract

PHYSICAL PROPERTIES OF LIQUID SHOWER SOAP CONTAINED OF SODIUM LAURETH SULFATE (SLES) SURFACTANTSoap could be produced by saponification and neutralization process. It was contained of fatty acid, KOH, glycerin, and surfactan. The properties of surfactant determined physical properties of soap as the quality parameter of soap.  The study was conducted to examine some of the physical parameters of liquid bath soap (stability test: color, aroma, viscosity, homogeneity, viscosity and pH) in accordance with applicable standards. The study was conducted using soap which was contained of SLES surfactants (Sodium Laureth Ether Sulfate). The results were pH 8.61 and viscosity 55254 cps on stability test include oven test, cycle test, room test, and sun test.Keywords: liquid shower, Sodium Laureth Ether Sulfate, soap stability ABSTRAKSabun yang merupakan salah satu kosmetik pembersih dapat dibuat melalui dua proses, yaitu saponifikasi dan netralisasi. Sabun tersusun dari berbagai bahan, seperti asam lemak, KOH, gliserin, dan surfaktan. Sifat surfaktan dalam sabun menentukan sifat fisik dari sabun yang dihasilkan dan sebagai salah satu faktor penentu mutu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji beberapa parameter fisik sabun mandi cair (uji stabilitas: warna, aroma, kekentalan, homogenitas, viskositas dan pH) sesuai dengan standar yang berlaku, sehingga dapat dilanjutkan ke tahap pengujian berikutnya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan surfaktan SLES (Sodium Laureth Ether Sulfate). Beberapa parameter fisik terukur adalah pH 8,61 dan viskositas 55254 cps pada pengujian stabilitas meliputi oven test, cycle test, room test, dan sun test.Kata Kunci: sabun cair, Sodium Laureth Ether Sulfate, stabilitas sabun
PENGIKATAN AFLATOKSIN B1 DENGAN HASIL EKSTRAKSI UMBI ILES-ILES (AMORPOPHALLUS ONCOPHYLUS) SECARA INVITRO Surtini, Nentin; Yuliani, Nia; Susanto, Agus
Jurnal Sains Natural Vol 5, No 2 (2015): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/jsn.v5i2.262

Abstract

Aflatoksin B1 Binding with Tubers of Iles-Iles (Amorpophallus oncophylus) Extract on InvitroAnimal feed plays an important role in determining livestock productivity and food security for humans. Animal feed produced by the animal feed industry is still corn-soya based, its raw material composition is dominated by soybean and corn meal, which is easily contaminated with aflatoxin. Aflatoxin compounds known to cause disruption to both animals and humans, because it is carcinogenic. Some aflatoxin binding methods have been using glucomannan containing yeast product (GYP), hydrated sodium calcium aluminosilicate (HSCAS), zeolite, bentonite, kaolin, and activated carbon, and this method is imported so the price is quite expensive. This study aims to test the ability of extracted iles-iles as a binder of aflatoxin B1 in feed in vitro. The results showed that iles-iles extract can bind aflatoxin well like glucomannan from Mycosorb although the binding of Aflatoxin by Amorphophalus extract is less bound than the binder of Mycosorb. Giving extracts weighing 41.25; 82.1 and 102.75 mg have the aflatoxin binding ability with a 3.88-axis increase in succession; 6.25 and 5.97 ppb or as high as 9.86; 15.8; 15.2%. The binding of aflatoxin with glucomannan from the mycosorb product was able to absorb 27.10% aflatoxin in 41.25 mg binder weight and decrease in binder material 82.1 mg (19.63%) and 102.75 mg (23.97% ).Keywords: Aflatokin B1, iles-iles tubers, glucomannanABSTRAKPakan ternak memiliki peran penting karena menentukan produktivitas ternak maupun keamanan pangan bagi manusia. Pakan ternak yang diproduksi oleh industri pakan ternak masih berbasis corn-soya, komposisi bahan bakunya didominasi oleh bungkil kedelai dan jagung, yang mudah terkontaminasi aflatoksin. Senyawa aflatoksin diketahui dapat menimbulkan gangguan baik pada hewan maupun manusia, karena bersifat karsinogenik.  Beberapa metode pengikatan aflatoksin selama ini menggunakan glucomannan containing yeast product (GYP) (Mycosorb®), hydrated sodium calcium aluminosilicate (HSCAS), Zeolit, bentonit, kaolin, dan karbon aktif dan metode ini bahannya berasal dari import sehingga harganya cukup mahal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan hasil ekstraksi iles-iles sebagai pengikat aflatoksin B1 dalam pakan secara in vitro.  Hasil  penelitian didapat bahwa  ekstrak iles-iles dapat mengikat aflatoksin dengan baik seperti glukomanan dari  Mycosorb walaupun pengikatan Aflatoksin oleh ekstrak Amorphophalus lebih sedikit terikatnya dibandingkan dengan pengikat dari Mycosorb. Pemberian ekstrak dengan berat 41,25 ; 82,1 dan 102,75 mg memiliki  kemampuan mengikat  aflatoksin dengan  kecenderungan meningkat secara berturut turut 3,88; 6,25 dan 5,97 ppb atau sebesar 9,86; 15,8; 15,2%. Pengikatan aflatoksin dengan glukomannan dari produk mycosorb mampu menyerap 27,10% aflatoksin pada penggunaan bahan berat pengikat 41,25 mg dan menurun pada bahan berat bahan pengikat 82,1 mg (19,63%) dan 102,75 mg (23,97%).Kata kunci : Aflatokin B1, umbi iles-iles, glukomanan
ANALISIS PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SUNGKAI (Peronema canescens Jack.) DI KALIMANTAN Wahyudi, Wahyudi; Muttaqin, Zainal; Mojiol, A. Russel
Jurnal Sains Natural Vol 2, No 2 (2012): Sains Natural (Edisi Khusus)
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.262 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v2i2.41

Abstract

Growth and Yield Analysis of Peronema canescens Jack. in Kalimantan          Sungkai (Peronema canescens) is a native and local species and one of some commercial trees which has a good prospect to be developed in timber estate in Kalimantan.This research was aimed to analyse sungkai plantation, neither the living percentage, productivity, economic cutting cycle, and also its profit. The data analysis was using the average of trees diameter, high and volume, mean annual increment, polynomial equation modelling and financial analysis i.e. net present value (NPV), benefit cost ratio (BCR) and internal rate of return (IRR). The research had been conducted at the community plantation in Kapuas District, Central Kalimantan Province since 1998 to 2010.  The result of this research showed that living trees precentage at 12 years old was 89.7%, mean annual increment and its density were 10,14 m3 ha-1  and 997 tree/ha respectively. Equation modelling of sungkai plantation was y = 2,073 + 1,6623x - 0,0165x2 (R2= 84,05%). In the bank rate of 9% per year, the economic cutting cycle of this plantation was 15 years with net present value was NPV 58,49 million per ha. BCR 7,64 and IRR 11,75 If the bank rate of 6% and 12% per year, then net present value at the 15 years were NPV 92.65 and 36.6 million per ha respectively. The sangtein was suitable as timber estate and to increase the productivity of former shifting cultivation, scru, and low potential forests which were widespread, especially in Kalimantan.Keywords :  Growth and yield, mean annual increment, Peronema canescens, economic cutting cycle ABSTRAK        Sungkai adalah jenis tanaman komersial lokal dan asli yang mempunyai prospek baik untuk dikembangkan dalam hutan tanaman Kalimantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosen hidup, produktivitas, siklus tebang optimum, dan keuntungan finansial dari tanaman sungkai. Penelitian dilakukan di hutan tanaman rakyat, Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. Obyek penelitian ialah tanaman sungkai yang ditanam sejak tahun 1998 pada tipe tanah Ultisol. Analisis data menggunakan nilai rataan diameter, tinggi dan volume, riap tahunan rata-rata tahunan, persamaan regresi, NPV, BCR dan IRR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur 12 tahun prosen hidup tanaman mencapai 89,7 %, riap tahunan rata-rata 10,14 m3 ha-1 year-1 dengan kerapatan 997 pohon/ha. Model pertumbuhan tanaman sungkai ialah y = 2,073 + 1,6623x - 0,0165x2 (R2= 84,05%). Pada tingkat suku bunga pinjaman 9% per tahun, tanaman sungkai mempunyai siklus tebang ekonomi selama 15 tahun dengan nilai NPV Rp. 58,49 juta/ha, BCR: 7,64 dan IRR: 11,75%. Pada tingkat suku bunga pinjaman 6% dan 12% per tahun, maka pada siklus tebang selama 15 tahun, nilai NPVnya masing ? masing menjadi Rp. 92,65 juta/ha dan Rp. 36,6 juta/ha. Tanaman sungkai sangat sesuai dikembangkan dalam hutan tanaman dan untuk meningkatkan produktivitas lahan bekas perladangan berpindah, semak belukar dan hutan potensi rendah yang tersebar luas, khususnya di Kalimantan.Kata kunci : Pertumbuhan dan hasil, riap tahunan rata ? rata, Peronema canescens, siklus tebang ekonomi
KEABSAHAN METODE ANALISIS KADAR PCMX (p-chloro m-xylenol) DALAM SABUN CAIR ANTISEPTIK Nurlela, Nurlela
Jurnal Sains Natural Vol 4, No 1 (2014): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.127 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v4i1.74

Abstract

Validity of Analysis Method for PCMX (p-chloro m-xylenol) Concentration in Antiseptic Liquid Soap          PCMX (p-chloro m-xylenol) is an active substance functioning to kill bacteria (bactericide), generally added to the formula of soap, detergents, antiseptics, disinfectants and various other products. The purpose of this study was to verify the validity of PCMX concentration analysis method in antiseptic liquid soap using High PerformanceLiquid Chromatograph (HPLC)so that it was trustworthy and could be used as a routine analysis in the Quality Assurance Laboratory of Reckitt Benckiser Indonesia Company. Parameters of analysis method performance were selectivity, linearity, instrument precision, repeatability, intermediete precision, and accuracy. The mobile phase used was a mixture of methanol and 1% v/v glacial acetat acid in de-ionized water with the ratio of 55:45. The HPLC Agilent 1200 UV detector was given the following setting: Spherisorb 5 ODS 1 coloumn  (150 x 4,6) mm, flow rate 2,0 ml/min, injection volume 20 µL, detection UV at 280 nm, temperature 40 0C, and run time 20 minutes. The validation result in: selectivity test, analyte (PCMX) devider peak without disturbance from other components in the sample; linearity test: r>0,9996; instrument precision: RSD percentage values for standard solution 0,028 mg/L and 0,036 mg/L were 0,08% and 0,45% respectively; repeatability: RSD percentage value was 0,98%; intermediate precision: the method didn?t give any real difference in different analysis in adifferent execution period; and accuracy: recovery value was 108,98%. Based on the result,it could be concluded that this method of analysis was trustworthy and could be used as a routine analysis at Reckitt Benckiser Indonesia Company.Keywords: Validity of Analysis Method, PCMX (p-chloro m-xylenol), High Performance Liquid Chromatograph ABSTRAK         PCMX (p-chloro m-xylenol) merupakan zat aktif yang berfungsi mematikan bakteri (bakterisida), umumnya ditambahkan ke dalam formula sabun, detergen, antiseptik, desinfektan, dan berbagai produk lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan keabsahan metode analisis kadar PCMX dalam sabun cair antiseptik menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) sehingga layak dan dapat dipercaya untuk analisis rutin di laboratorium Quality Assurance PT Reckitt Benckiser Indonesia. Parameter kinerja metode analisis mencakup selektivitas, linieritas, presisi, dan akurasi. Fase gerak yang digunakan adalah campuran antara metanol dan larutan asam asetat glasial 1% v/v dalam de-ionized water dengan perbandingan 55:45. Pengukuran dilakukan menggunakan KCKT Agilent 1200 UV detector dengan pengaturan sebagai berikut: kolom 150 x 4,6 mm Spherisorb 5 ODS 1, kecepatan alir 2,0 mL/min, volume injeksi 20 µL, panjang gelombang 280 nm, temperatur 40 0C, dan waktu analisis 20 menit. Hasil pengujian diperoleh uji selektivitas berupa peak yang mampu memisahkan analit (PCMX) dalam sampel tanpa gangguan dari komponen lain dalam sampel. Uji linieritas menghasilkan r>0,9996. Presisi instrumen menghasilkan % RSD untuk konsentrasi larutan standar 0,028 mg/mL dan 0,036 mg/mL berturut-turut adalah 0,08% dan 0,45%. Keterulangan menghasilkan % RSD sebesar 0,98%. Presisi antara menunjukkan bahwa metode analisis tidak memberikan hasil yang bervariasi (berbeda nyata) jika dilakukan oleh analis yang berbeda pada waktu yang berbeda dan uji akurasi menghasilkan %recovery sebesar 108,98%. Berdasarkan hasil kinerja metode analisis kadar PCMX tersebutdapat disimpulkan bahwa metode analisis ini valid, sehingga layak untuk digunakan di laboratorium Quality Assurance PT Reckitt Benckiser Indonesia.Kata Kunci: Keabsahan Metode, PCMX (p-chloro m-xylenol), Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
ISOLASI DAN KARAKTERISASI KOLAGEN DARI KULIT IKAN PATIN (Pangasius sp.) Suptijah, Pipih; Indriani, Dini; Wardoyo, Supriyono Eko
Jurnal Sains Natural Vol 8, No 1 (2018): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.85 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v8i1.106

Abstract

Isolation and Characterization of Collagen from the Skin of Catfish (Pangasius sp.)           Skin of catfish is one of aquatic by-products which could be used as an alternative source of collagen. This research is aimed to isolate and characterize collagen from skin of catfish. Methods of  isolation of collagen included three stages, the first was deproteinization using NaOH solution with concentration of 0.05 M; 0.10 M; 0.15 M; 0.20 M for 12 hours, the second was soaking in CH3COOH solution with concentration of 0.05 M; 0.10 M; 0.15 M; and 0.20 M for 2 hours, and the third was extraction in water at a temperature of 40 0C for 2 hours; characterization of collagen was included chemical and physical properties. The results showed that the best extraction method ofcollagen from skin of catfish was soaking the skin in 0.05 M NaOH solution for 12 hours and soaking the skin in 0.05 M acetic acid for 2 hours. Extraction yields of collagen was 12.15%. Chemical characteristics included proximate and amino acid composition. Proximate value of collagen consisted of moisture was 6.55%, ash 1.80%,  protein 64.74% and fat 8.85%.  The major amino acid composition of collagen were glycine, proline, alanine, arginine and glutamate. Physical characteristics of collagen resulted from FTIR analysis showed amide A, amide B, amide I, amide II and amide III, triple helical structure of the amide I and amide III indicates that the compound produced was collagen; color analysis was 66.39%; thermal analysis showed a melting temperature peak was 154.47 0C and pH value was 5.34.Keywords : Catfish, isolation, characterization, collagen, skin ABSTRAK          Kulit ikan patin merupakan salah satu limbah hasil perairan yang dapat digunakan sebagai sumber alternatif kolagen. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan karakterisasi kolagen yang diperoleh dari kulit ikan patin. Isolasi kolagen yang dilakukan meliputi tiga tahap, yaitu tahap pertama adalah proses deproteinisasi menggunakan larutan NaOH dengan konsentrasi, yaitu 0,05 M; 0,10 M; 0,15 M; 0,20 M dan lama waktu perendaman selama 12 jam; tahap kedua, yaitu perendaman dalam larutan CH3COOH dengan empat konsentrasi CH3COOH yaitu 0,05 M; 0,10 M; 0,15 M; dan 0,20 M dan lama waktu perendaman selama 2 jam; dan tahap ketiga, yaitu ekstraksi dengan air pada suhu 40 0C selama 2 jam; serta karakterisasi kolagen yang dilakukan, meliputi sifat kimia dan fisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ekstraksi kolagen dari kulit ikan patin  terbaik diperoleh melalui proses perendaman kulit dalam larutan NaOH 0,05 M selama 12 jam dan  perendaman kulit dalam asam asetat 0,05 M selama 2 jam.  Rendemen serbuk kolagen yang dihasilkan sebesar 12,15 %. Karakteristik kimia meliputi proksimat dan komposisi asam amino. Nilai proksimat kolagen terdiri dari kadar air 6,55 %,  abu 1,80 %, protein 64,74 % dan lemak 8,85 %. Komposisi asam amino yang dominan pada kolagen adalah glisina, prolina, alanina, arginina dan glutamat. Karakteristik fisik kolagen yang dihasilkan adalah analisis FTIR menunjukkan adanya gugus amida A, amida B, amida I, amida II dan amida III, struktur triple heliks pada amida I dan amida III mengindikasikan bahwa senyawa yang dihasilkan adalah kolagen; analisis warna  yaitu 66,39 %; analisis termal yang menunjukkan suhu puncak pelelehan adalah 154,47 0C dan nilai pH kolagen yaitu 5,34. Kata kunci : Ikan patin, isolasi, karakterisasi, kolagen, kulit 
EFEK ANTIBAKTERI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER YANG DIPRODUKSI OLEH KAPANG ENDOFITIK AT 32 DARI Artemisia annua Tisnadjaja, Djadjat
Jurnal Sains Natural Vol 1, No 1 (2011): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.703 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v1i1.14

Abstract

Antibacterial Effect of Secondary Metabolite Compound Produced by Endophyte Mould AT 32Infection diseases such as malaria, dengue hemorrhagic fever, and tuberculosis still counted as one of major health problem in Indonesia. On the other hand Indonesia has mega biodiversity including plant and microbes potentially used for the production of antibacterial or lead compound for antibiotic. One of a potential resources is Artemisia annua. This plant is already known as a secondary metabolite compound artemisinin producer, an active compound against malaria virus. This research work  was aimed to study the possible used of endophyte microbe isolated from Artemisia annua to produce antibacterial active compound through a fermentation process. Research result shown that extract of fermentation broth, either fermentation was conducted in Erlenmeyer flask or two liters stirred tank reactor, gave antimicrobial activity. It is shown by the clearing zone formation on the dish inoculated with bacterial seed.  Two bacterial strains Staphylococcus aureus ATCC 25923 and Escherichia coli BCC 2210 were used for this study. The biggest clearing zone diameter formed was 20 mm for inhibition of Staphylococcus aureus and 9.5 mm for Eschericia coli, those were obtained by using extract of fermentation broth of two liters stirred tank reactor.Keywords  :  Artemisis annua, antimicrobial, endophyte, fermentation, secondary metabolite ABSTRAK         Penyakit infeksi seperti malaria, demam berdarah dan tuberculosis (TBC) masih merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia. Pada sisi lain Indonesia memiliki mega biodiversitas termasuk tanaman dan mikroba yang berpotensi untuk dimanfaatkan dalam produksi antibakteri atau  senyawa aktif untuk antibiotik. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari kemungkinan pemanfaatan mikroba endofitik yang diisolasi dari tumbuhan Artemisia annua untuk memproduksi senyawa aktif antibakteri melalui proses fermentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak dari cairan fermentasi, baik ketika fermentasi dilakukan dalam skala Erlenmeyer maupun fermentor stirred tank skala 2 liter, menunjukkan adanya aktivitas antimikroba. Aktivitas antimikroba ini ditunjukkan dengan terbentuknya zona jernih pada petri dish yang diinokulasi dengan bakteri. Dalam hal ini digunakan dua galur bakteri patogen yaitu Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli BCC 2210. Diameter zona jernih terbesar yang terbentuk yaitu 20 mm untuk inhibisi dari Staphylococus aureus dan 9,5 mm untuk penghambatan Escherichia coli keduanya diperoleh dengan pemberian ekstrak cairan fermentasi yang dilakukan dengan fermentor stirred tank skala 2 liter.Kata kunci : Artemisis annua, anti mikroba, endophyte, fermentasi, metabolit sekunder
KERAGAMAN FENOTIPA IKAN NILA BEST F4,F5 DAN IKAN NILA NIRWANA 2 HASIL SELEKSI DENGAN ANALISIS TRUSS MORFOMETRIK Kusmini, Irin Iriana; Soelistyowati, Dinar Tri; Gustiano, Rudhy; Pitriani, Peni; Prakoso, Vitas Atmadi
Jurnal Sains Natural Vol 3, No 2 (2013): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.39 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v3i2.65

Abstract

Phenotype Diversity of BEST Nila Fish of F4, F5 and The Nirwana 2 Nila Fish Using Truss Morphometric Analysis          In the framework of the management of genetic resources for long-term development and sustainability of cultivating nila tilapia fish for the evaluation of population genetic resources needs to be done. The purpose of this research was to know the fish of nila tilapia BEST phenotype diversity of F4, F5 and the nila tilapia fish of Nirwana 2 using Truss Morfometrik. The fish from populations of Tilapia BEST fish of F4, F5 and a Nirwana 2 fish each sample taken as many as 20 tails. The measurement was done by specifying points along the body of the fish assay based on morfometrik truss method. The dots were connected one with the others so retrieved 21 characters measuring results. The analys was done using cluster analysis. The observations indicated levels of similarity of truss morfometrik BEST Fish of F4, F5 and the Nirwana 2 fish tilapia very high character except on B6, B3, A3, B1, C1 and D6 that significantly different (p ? 0.05).The results gave an indication of the quantity of fish body that  BEST fish was  shorter and rounder than the fish of Nirwana 2 tilapia. Based on the inter population relationship the fish of Nirwana 2 tilapia separated  from BEST nila of F4 and F5.Keywords : BEST tilapia, Nirwana tilapia, truss morfometrik, diversity ABSTRAK         Dalam rangka pengelolaan sumber genetik jangka panjang dan pengembangan budidaya untuk kelestarian ikan nila maka evaluasi sumber daya genetik populasi perlu dilakukan.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui ragam fenotipe ikan nila BEST F4, F5 dan ikan nila Nirwana 2menggunakanTruss Morfometrik. Ikan nila dari populasi nila BEST F4,F5 dan nila Nirwana2 masing-masing diambil contoh sebanyak 20 ekor. Pengukuran dilakukan dengan menentukan titik-titikacuan sepanjang tubuh ikan uji berdasarkanmetode Truss Morfometrik. Titik-titik dihubungkan satu dengan lainnyasehingga diperoleh 21 karakter hasil pengukuran. Analisis dilakukan dengan menggunakan cluster analysis. Hasil pengamatan menunjukkan tingkat kemiripan truss morfometrik Ikan nila BEST F4, F5 dan ikan nila Nirwana 2 sangat tinggi kecuali pada karakter B6, B3, B1, A3, C1 dan D6 yang berbeda nyata (p?0,05).Hasil tersebut memberikan indikasi bahwapola badan ikan nila BEST lebih pendek dan bulat dibandingkan ikan nila Nirwana2 yang lebih panjang. Berdasarkan hubungan interpopulasi ikan nila Nirwana 2 terpisah dengan kelompok nila BEST F4 dan F5.Kata kunci : nila BEST, nila Nirwana, truss morfometrik, keragaman
OPTIMASI PENGGUNAAN GARAM ELEKTROLIT SEBAGAI PENGENTAL SAMPO BENING CAIR Kurniawati, Yulia; Wardoyo, Supriyono Eko; Arizal, Ridha
Jurnal Sains Natural Vol 5, No 1 (2015): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.63 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v5i1.97

Abstract

Optimization Use of Electrolyte Salt as a Thickenerin of Clear-Liquid Shampoo          A wide variety of activities undertaken by humans to meet their needs. They are needed cleaning which makes the body refreshed and become the body protected from various kinds of diseases. One sample is the cleaning shampoo. Simply in shampoo manufacturing process only the addition of materials in water as a solvent. The ingredients that are added generally include surfactants, binding agents, foaming agents, antibacterial, pH regulators, fragrances, dyes, and thickeners.The last process of manufacture of shampoo is setting viscosity. Usually, a substance used as a thickener are electrolyte salts such as sodium chloride (NaCl). However, some manufacturers of similar products using strong electrolyte salt such as sodium sulfate (Na2SO4), magnesium chloride (MgCl2), and calcium chloride (CaCl2) as a thickener. The electrolyte salts have a greater degree of dissociation compared with a weak electrolyte salts.Analysis of optimization of the use of the electrolyte salt to clear viscous liquid shampoo was performed in which the electrolyte salt used was NaCl, KCl, Na2SO4, CaCl2, and NaHSO4. Each of these electrolyte salts were added to the liquid shampoo preparations as much as 0; 0.5; 1.5; 2.5; 3.5; 4.5; 5.5; 6.5; and 7.5%. All treatments were tested the viscosity, organoleptic (color and odor), pH, and density at 250 C. Based on the research that had been done could be concluded that the best salt that could be used to clear liquid shampoo formulation  was NaCl at a concentration above 3.5%.Key words: Shampoo, electrolyte salts, surfactants ABSTRAK          Berbagai macam kegiatan dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Dibutuhkan suatu pembersih yang menjadikan badan segar kembali dan menjadikan tubuh terhindar dari berbagai macam penyakit. Salah satu pembersih dimaksud adalah sampo. Secara sederhana proses pembuatan sampo meliputi penambahan bahan-bahan dengan air sebagai pelarutnya. Bahan-bahan yang ditambahkan pada umumnya meliputi surfaktan, zat pengikat, zat pembusa, antibakteri, pengatur pH, pewangi, pewarna, dan pengental.Proses terakhir dari pembuatan sampo adalah pengaturan kekentalan. Biasanya zat yang digunakan sebagai pengental adalah garam elektrolit seperti natrium klorida (NaCl). Namun beberapa perusahaan pembuat produk sejenis menggunakan garam elektrolit kuat lain seperti natrium sulfat (Na2SO4), magnesium klorida (MgCl2), dan kalsium klorida (CaCl2) sebagai pengental. Garam-garam elektrolit tersebut memiliki derajat disosiasi yang lebih besar dibandingkan dengan garam-garam elektrolit lemah.Analisis optimasi penggunaan garam elektrolit terhadap kekentalan sampo bening cair dilakukan dimana garam elektrolit yang digunakan adalah NaCl, KCl, Na2SO4, CaCl2, dan NaHSO4. Masing-masing garam elektrolit tersebut di tambahkan ke dalam sediaan sampo cair sebanyak 0; 0,5; 1,5; 2,5; 3,5; 4,5; 5,5; 6,5; dan 7,5 %. Semua perlakuan di lakukan uji kekentalan, organoleptik (warna dan bau), pH, dan Bobot Jenis pada suhu 25 0 C. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa garam terbaik yang dapat digunakan untuk formulasi sampo bening cair adalah NaCl yaitu pada konsentrasi diatas 3,5%.Kata Kunci : Sampo, Garam Elektrolit, Surfaktan
MODEL ISOTERM FREUNDLICH DAN LANGMUIR OLEH ADSORBEN ARANG AKTIF BAMBU ANDONG (G. verticillata (Wild) Munro) DAN BAMBU ATER (G. atter (Hassk) Kurz ex Munro) Murtihapsari, Murtihapsari; Mangallo, Bertha; Handyani, Dini Dwi
Jurnal Sains Natural Vol 2, No 1 (2012): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.531 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v2i1.31

Abstract

Freundlich and Langmuir Isotherms Model by Active Chorcoal Adsorbent Bamboo Andong  (G. verticillata (Wild) Munro) and Bamboo Ater (G. atter (Hassk) Kurz ex Munro)          Diazinon insecticide adsorption by two types of adsorbent, namely activated charcoal bamboo andong (G. verticillata (Wild) Munro) and bamboo ater (G. atter (Hassk) Kurzex Munro) at optimum conditions determined the maximum adsorption capacity of both types of adsorbent. Data analysison the effect of concentration on the adsorption capacity was used Langmuir and Freundlich isotherms equation. It was obtained. That  the curve of adsorption isotherms of the Langmuir isotherm better modeled with linear regression coefficients were relatively more approach 1 is R2 = 0,996 for both types of adsorbents. Langmuir isotherm equation obtained from adsorpsi maximum capacity of activated charcoal bamboo andong (G. verticillata (Wild) Munro) of  4.630 mg/g (1,433.10-5 mol/g) with K = 0,332 (Kmol/L)-1 and Eads at -2,750 kJ/mol, while the activated charcoal bamboo ater (G. atter (Hassk) Kurzex Munro) produce the maximum adsorption capacity of 1,786 mg/g (5,868.10-6 mol/g) with K = 0,202 (Kmol/L)-1 and Eads = -3,898 kJ/mol, so the adsorption of both types of adsorbents indicated experiencing a physical adsorption (physisorption / fisisorpsi).Keyword: G. verticillata (Wild) Munro, G. atter (Hassk) Kurz ex Munro, Adsorption, Diazinon,  actived charcoal  ABSTRAK          Adsorpsi insektisida diazinon oleh dua jenis adsorben, yaitu arang aktif bambu andong (G. verticillata (Wild) Munro) dan bambu ater (G. atter (Hassk) Kurz ex Munro) pada kondisi optimum bertujuan untuk menentukan kapasitas adsorpsi maksimum dari kedua jenis adsorben. Analisis data pengaruh konsentrasi terhadap kapasitas adsorpsi digunakan persamaan isoterm Langmuir dan Freundlich. Berdasarkan data yang diperoleh, kurva isoterm adsorpsi lebih mengikuti model isoterm Langmuir dengan koefisien regresi linier yang relatif lebih mendekati 1 yaitu R2 = 0,996 untuk kedua jenis adsorben. Dari persamaan isoterm Langmuir diperoleh kapasitas adsorpsi maksimum arang aktif bambu andong (G. verticillata (Wild) Munro) sebesar 4,630 mg/g (1,433.10-5 mol/g) dengan K = 0,332 (Kmol/L)-1 dan Eads sebesar -2,750 kJ/mol, sedangkan arang aktif bambu ater (G. atter (Hassk) Kurz ex Munro) menghasilkan kapasitas adsorpsi maksimum sebesar 1,786 mg/g (5,868.10-6 mol/g) dengan K = 0,202 (Kmol/L)-1 dan Eads = -3,898 kJ/mol, sehingga adsorpsi kedua jenis adsorben diindikasikan mengalami adsorpsi secara fisik (physisorption/ fisisorpsi).Kata kunci : G. verticillata (Wild) Munro, G. atter (Hassk) Kurz ex Munro Adsorpsi, Diazinon, Arang aktif
IDENTIFIKASI SENYAWA KIMIA PADA SIMPLISIA DAUN SIRSAK (Annona muricata Linn.) Maslahat, Mamay; Syawaalz, Amry; Restianingsih, Rahayu
Jurnal Sains Natural Vol 3, No 1 (2013): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1100.23 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v3i1.56

Abstract

Identification

Page 1 of 15 | Total Record : 141