cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
SAINTEK PERIKANAN
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 18584748     EISSN : 25490885     DOI : -
Core Subject : Education,
SAINTEK PERIKANAN (p-ISSN: 1858-4748 dan e-ISSN: 2549-0885) adalah jurnal ilmiah perikanan yang diterbitkan oleh Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Februari dan Agustus).
Arjuna Subject : -
Articles 281 Documents
EFFECT OF BAKERS YEAST, VITAMIN B12, AND VITAMIN C AS NUTRITIONAL IMPROVEMENT OF FOOD ON THE DENSITY PRODUCTION OF BRACHIONUS PLICATILIS Chilmawati, Diana; Suminto, Suminto
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 5, No 2 (2010): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.9 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.5.2.47-53

Abstract

The important factor of seedling production is live food with good quality. One way to improve quqlity of live food, Brachionus plicatilis, to gain a high quality of larvae in seedling production, is through implementing food enrichment. Chlorella sp, which is its live food, can be enriched by combination of baker?s yeast, vitamin B12 and vitamin C, which then given, in order to increase Branchionus plicatilis growth and nutrition content. Purpose of this study is to acknowledge comparative population growth and improvement of Brachionus plicatilis with different kinds of foods enrichment, to understand the right food enrichment composition for Brachionus plicatilis growth. This research are laboratory experimental, with 10 ind/ml early spread density on 5 litres capacity container. The experiment using a Completely Randomize Design with 4 treatment and 3 repetitions. That four treatments included A (Chlorella sp), B (Chlorella sp + baker?s yeast), C (Chlorella sp + baker?s yeast + vitamin B12), D (Chlorella sp + baker?s yeast + vitamin B12 + vitamin C). Result from the research shows that implementation of food enrichment, which using baker?s yeast, vitamin B12 and vitamin C, brings about a great significant differences (p<0,01) in each treatment to population growth. D is the best treatment with specific growth rate of 0,661, maximal density of 530,4 ind/ml and final density of 381,7 ind/ml. Key Words: Elements of Food Enrichment, Population, Brachionus plicatilis
KARAKTERISTIK PERMEN JELLY DENGAN PENAMBAHAN IOTA KARAGENAN DARI RUMPUT LAUT (KARAKTERISTIK PERMEN JELLY DENGAN PENAMBAHAN IOTA KARAGENAN DARI RUMPUT LAUT) Rismandari, Mukarima; Agustini, Tri Winarni; Amalia, Ulfah
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 12, No 2 (2017): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.969 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.12.2.103-108

Abstract

 Permen jelly merupakan permen yang memiliki tekstur kenyal. Tekstur ini terbentuk karena adanya pembentuk gel yaitu gelatin. Penggunaan gelatin dalam permen jelly masih diperdebatkan status kehalalannya, karena adanya unsur babi dalam gelatin. Sementara itu, sumber alternatif lain yang memberikan tekstur kenyal di permen jelly adalah karagenan, tetapi belum jelas sejauh mana dapat menggantikan gelatin. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh iota karagenan yang diekstrak dari Eucheuma spinosum terhadap sifat fisik dan kimia permen jelly dan formulasi terbaik dari permen jelly. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah gelatin dan tepung iota karagenan yang diekstrak dari rumput laut E. spinosum. Metode penelitian yang digunakan yaitu experimental laboratories dengan desain percobaan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yang berbeda yaitu Gelatin : Iota Karagenan = 8% : 0% (A), Gelatin : Iota Karagenan = 0% : 8% (B ), Gelatin : Iota Karagenan = 6% : 2% (C), dan Gelatin : Iota Karagenan = 2% : 6% (D). Hasil dari penelitian ini didapatkan permen jelly terbaik sebagai alternatif pengganti gelatin yaitu perlakuan B dengan kekuatan gel 1.109,27 g.cm2 dan nilai hedonik sebesar 6,84 ? µ ? 7,52. Kadar air semua perlakuan belum memenuhi standar SNI (20%). Kadar abu semua perlakuan memenuhi standar SNI (3%). Untuk aw dan pH produk tersebut berkisar 0,84?0,89 dan 3?4 . Jelly candy which has chewy texture. This texture was formed by the gelling agent of gelatin. The use of gelatin in jelly candy still debated of halal status, because there were elements of pork in gelatin. While other alternative source which gives chewy texture in jelly candy was carrageenan, but carrageenan were used in making jelly candy was not extent to be replace of gelatin. The aim of this study was to determine the effect of iota carrageenan extracted from Eucheuma spinosum to physical and chemical characteristics of jelly candy and the best formulation of jelly candy. The materials used in the research were gelatin and powder of iota carrageenan extracted from seaweed E. spinosum. The method used was experimental laboratories by using completely randomized design (CRD) with 4 different treatments was Gelatin : Iota carrageenan = 8% : 0% (A), Gelatin : Iota carrageenan = 0% : 8% (B ), Gelatin : Iota carrageenan = 6% : 2% (C), and Gelatin : Iota carrageenan = 2% : 6% (D). The result showed that the best jelly candy as an alternative to gelatin performed by treatment B with gel strength of 1109,27 g.cm2 and the results for sensory was 6,84 ? µ ? 7,52. The water content of all treatment did not comply with ISO standard (20 %). Ash content of all treatment comply with ISO standard (3 %). For aw and pH of the products were ranged from 0.84?0.89 and 3?4, respectively. 
USING THE LIVE FOOD ENRICHMENT WITH THE SQUID EGG EXTRACT ON THE QUANTITY AND QUALITY OF ROTIFER, BRACHIONUS PLICATILIS O.F. MULLER Suminto, Suminto
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 3, No 2 (2008): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.167 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.3.2.64-73

Abstract

The Objective of the research was to know the effect of live food enrichment of rotifer with squid egg extract on the growth patterns and quality of rotifer, especially the EPA and DHA contents. The experiment method was employed in this research and it carried out in the aquaculture laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Diponegoro University. The research planning was a completely randomized design with five treatments and three replicates, respectively. The recording data was analyzed to get the variables of rotifer growth patterns and the most of rotifer samples were analyzed EPA and DHA contents in the chemical and biochemical laboratory center, Gajah Mada University. The results showed that the addition of squid egg extract in the culture media of rotifer was highly significant effect (p<0.01) on the specific growth rate, the maximal density, and the final density of rotifer culture. However, there was also highly significsnt effect (p<0.01) on the nutrition quality through EPA and DHA contents. To increase the quantity and quality of rotifer, B. plicatilis O.F. Muller in the culture was addition of squid egg extract of 1,2 g/1 million ind. Rotifers during twelve two hours in the rotifer culture. Key word : Rotifer, Brachionus plicatilis O.F. Muller, enrichment, quantity and quality, EPA dan DHA
EFISIENSI PRODUKSI RUMPUT LAUT E. COTONII DENGAN METODE BUDIDAYA LONG LINE VERTIKAL SEBAGAI ALTERNATIF PEMANFAATAN KOLOM AIR Widowati, Lestari Lakhsmi; Rejeki, Sri; Yuniarti, Tristiana; Ariyati, Restiana Wisnu
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 11, No 1 (2015): JURNAL SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.585 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.11.1.47-56

Abstract

ABSTRAK   Kualitas dan kuantitas rumput laut yang baik dan berkelanjutan merupakan hal yang masih menjadi tantangan bagi usaha budidaya. Metode budidaya danlama pemeliharaan yang tepat diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas budidaya yang berkelanjutan.Metode long line vertikal diterapkan untuk mengetahui kolom air yang dapat digunakan untuk pertumbuhan optimum rumput laut. Kualitas terbaik kandungan karaginan dilihat dari lama pemeliharaan. Tujuan penelitian adalah (1) Mengetahui interaksi lama pemeliharaan  dan  kedalaman terhadap produksi biomassa dan kualitas rumput laut. (2) Mengetahui lama pemeliharaan  dan  kedalaman yang terbaik terhadap produksi biomassa dan kualitas rumput laut. (3) Mengetahui kedalaman kolom air yang masih menghasilkan pertumbuhan rumput laut secara optimal. Penelitian dilakukan di perairan laut Pulau Pasir Kabupaten Brebes dengan lama pemeliharaan 45 hari dan 60 hari, serta 3 perlakuan pada kedalaman 30 cm, 60 cm, dan 90cm. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan faktorial 2 x 3. Variabel yang diamati adalah laju pertumbuhan dan kandungan karaginan.Hasil yang didapatkan yaitu laju pertumbuhan selama 45 hari pada kedalaman 30 cm, 60 cm dan 90 cm berturut-turut adalah 117%, 158%, 111%, dan pada pemeliharaan selama 60 hari adalah 198%, 182% dan 136%. Pada pemeliharaan 45 hari laju pertumbuhan harian pada kedalaman 30 cm, 60 cm dan 90 cm berturut-turut adalah 2,26%/hari, 2,10%/hari dan 1,66%/hari, dan pada pemeliharaan 60 hari adalah 1,82%/hari, 1,73%/hari dan 1,43%/hari. Dari segi kualitas dilihat pada kandungan karaginan menghasilkan rata-rata karaginan 76,3% pada pemeliharaan 45 hari dan 96,3% pada pemeliharaan selama 60 hari. Kesimpulan yang diambil alah bahwa (1) Kedalaman dan lama pemeliharaan  memberikan pengaruh terhadap produksi biomassa dan kandungan karaginan rumput laut. (2) Produksi biomassa tertinggi dihasilkan pada pemeliharaan selama 45 hari pada kedalaman 30 cm dengan pertumbuhan harian 2,26 %/hari dan kedalaman 60 cm  dengan laju pertumbuhan 2,10 %/hari. Kandungan karaginan rata-rata sebesar 96,3% didapatkan pada pemeliharaan selama 60 hari. (3) Kedalaman optimal untuk pemeliharaan rumput laut dengan metode longline vertikal adalah sampai dengan 60cm.   Kata kunci : long line vertikal, E. cottoni, karaginan   ABSTRACT   Good quality, quantity and sustainable still a challenge for aquaculture. The right method and duration of cultivation is expected to be one of the solutions to produce a sustainable quantity and quality of seaweed culture. Long line vertical method is applied to find out the column of water that can be used for optimum growth of seaweed. The best quality of carrageenan content was observed in duration of cultivation. The purpose of the study was (1) To find out the interaction between duration of cultivation and depth for the production of biomass and quality of seaweed. (2) To know the best duration of cultivation and depth for production of biomass and quality of seaweed. (3) To find out the depth of the water column which still produces the growth of seaweed optimally. Research conducted in sea water at Pulau Pasir, Brebes Regency with duration of cultivation were 45 days and 60 days, with 3 treatments at thedepth of 30cm, 60cm, and 90cm . Each treatment was repeated three times. The research used 3 x 2 factorial design. The observed variablewere growth rate and carrageenan content. The results are obtained, relative growth rate for 45 days at a depth of 30 cm, 60 cm and 90 cm was 117%, 170%, 110%, and for duration of cultivation  60 days was 187%, 185% and 136%. In 45 days duration of cultivation, the  of specific growth rate at depth of 30 cm, 60 cm and 90 cm was 2.26%/day, 2.10%/day and 1.66%/day, and on duration of cultivation 60 days is 1.82%/day, 1.73% and 1.43%/day. In terms of the quality of seaweed the average of karaginan content was 76.3% in 45 days duration of cultivation  and 96.3% on 60 days duration of cultivation . The conclusions were (1) The depth and period of cultivation influence the production of biomass and karaginan content of seaweed. (2 The highest biomass production on 45 days period of cultivation at a depth of 30 cm with specific growth rate of 2.26%/day and in depth of 60 cm with specific growth rate of 2.10%/day The content of carageenan an average of 96.3% obtained on maintenance for 60 days. Optimal depth for the maintenance of seaweed with vertical longline method is up to 60 cm.  Keywords : long line vertikal, E. cottoni, karaginan 
DEVELOPMENT STRATEGY OF YELLOW TAIL FUSILIER FISH (CAESIO CUNING) RESOURCES MANAGEMENT ON CORAL ECOSYSTEM IN THE SERIBU ISLANDS Zamani, Neviaty P; Wardiatno, Yusli; Nggajo, Raimundus
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 6, No 2 (2011): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.519 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.6.2.37-52

Abstract

Population of Yellow tail fusilier fish (Caesio cuning) in Seribu Islands at this time has decreased. The main cause of decreasing in abundance of the fish is due to degradation of coral reef ecosystem as a habitat of the fish. The purposes  of the study is  to examine the association of  Yellow tail fusilier fish resources with habitat characteristics. The study was conducted in the Seribu Islands waters on May 2009, at the four islands, each consisting of two observation locations. Percentage benthic  substrate cover, and the number of coral lifeform using the Square Transect method, while to see the abundance of the fish resources using Underwater Visual Cencus. Benthic substrate cover was dominated by abiotic cover (36.42%), hard coral cover was in fair condition (32.27%), dominated by foliose coral, massive coral, acropora branching and encrusting coral. The abundance of Yellow tail fusilier fish was 67 individu/250 m2. North Pramuka, West Panggang, and South Panggang was only observed some small fishes. Closing area can be implemented for management purposes with the combination of introducing brooder.  In vise versa East Pramuka and East Kayu Angin have been observed only adult fishes. Closing area can be implemented for management purposes with the combination of introducing juveniles. In West Kayu Angin closing area can be implemented to give the opportunity juvenile for growing and adult for breading.  South Belanda have all range of size fishes as well as good condition of habitat. It is therefore, this can be developed as marine protected area with eco-freienly marine tourism activities. Keywords: coral reef ecosystem, fish resources, yellow tail fusilier fish, habitat linkages, Seribu islands.
UJI IN VITRO DAN KARAKTER PROTEIN EKSTRASELULER (ECP) EDWARDSIELLA TARDA DENGAN KONSENTRASI ETHANOL BERBEDA (IN VITRO TEST AND CHARACTER OF EXTRACELLULAR PROTEIN (ECP) EDWARDSIELLA TARDA WITH DIFFERENT ETHANOL CONCENTRATION) Herlina, Cucun; Yanuhar, Uun; Maftuch, Maftuch
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 15, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.923 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.15.2.105-111

Abstract

Protein ekstraseluler (ECP) bakteri memiliki kemampuan imunogenik dan dapat meningkatkan sistem imun tubuh inang. Komponen ECP diantaranya flagellin, protease dan metalloprotease mampu berdifusi pada sel inang untuk mengaktifkan respon imun. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui produksi protein ekstraseluler E. tarda dengan presipitasi ethanol pada konsentrasi berbeda sebagai potensi protein imunogenik secara in vitro. Metode penelitian yaitu kultur bakteri E. tarda, preparasi protein ekstraseluler, presipitasi protein, konsentrasi protein ditentukan denganspektrofotometer dan SDS-PAGE, uji in vitro protein ECP E. tarda, dan uji nilai RPS. Hasil protein ekstraseluler yang diperoleh dengan presipitasi ethanol tertinggi pada konsentrasi 90% sebanyak 5,69 mg/ml dan terendah pada konsentrasi 80% sebanyak 4,81 mg/ml. Hasil karakterisasi protein dengan SDS-SDSPAGE antara 30-60 kDa. Hasil uji in vitro vaksin E. tarda (presipitasi ethanol 100%) baik dari uji viabilitas maupun sterilitas menunjukkan tidak terdapat koloni yang tumbuh. Hasil nilai RPS pada ikan nila (Oreochromis niloticus) mencapai 100% dengan masa pemelihaaraan 9 hari pasca imunisasi. ECP bacteria have immunogenic abilities and can increase the host's immune system. ECP components which are flagellin, protease, metalloprotease can diffuse to host cell for the activation immune response. The study aimed to determine the production of extracellular protein E. tarda with ethanol precipitation at different concentrations as a potential immunogenic protein by in vitro test. The research methods were E. tarda bacterial culture, extracellular protein preparation, protein precipitation, protein concentration determined by spectrophotometer and SDS-PAGE, in vitro ECP E. tarda protein test, and RPS value test. The results of extracellular protein obtained by the highest ethanol precipitation at a concentration of 90% as much as 5.69 mg/ml and the lowest at 80% concentration as much as 4.81 mg/ml. The results of the characterization of proteins with SDS-SDS-PAGE between 30-60 kDa. The results of the in vitro test of E. tarda vaccine (100% ethanol precipitation) from both the viability and sterility tests showed that there were no growing colonies. The results of the RPS in tilapia (Oreochromis niloticus) reach 100% with a maintenance period of 9 days after immunization.
PERTUMBUHAN BAKTERI PROBIOTIK ALKALIGENUS SP. DAN FLAVOBACTERIUM SP. YANG DIISOLASI DARI USUS UDANG PADA MEDIA KULTUR MOLASE DAN KAOLIN Suminto, Suminto
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 4, No 1 (2008): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.578 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.4.1.21-27

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi tetes tebu (molase) dan tepung kaolin yang tepat untuk media kultur massal bakteri Alkaligenes sp. dan Flavobacterium sp. pada kondisi lingkungan (suhu, salinitas, dan pH) yang terbaik bagi pertumbuhan. Metoda yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimen dengan   3 (tiga) macam perlakuan dan masing-masing dilakukan pengulangan sebanyak 3 (tiga) kali. Perlakuan perbedaan  konsentrasi  molase yaitu M1 (16 gr/mL), M2 (32 gr/mL), dan  M3 (48gr/mL). Sedangkan perlakuan perbedaan konsentrasi tepung kaolin adalah K1 (8 gr/mL), K2 (16 gr/mL), dan K2 (32 gr/mL). Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah kelimpahan bakteri yang diukur melalui Opical Density pada spectrofotometer.  Analisa statistik uji varian, uji wilayah  ganda duncan telah digunakan dalam analisa data penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perbedaan berbagai kondisi lingkungan media kultur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan konsentrasi molase berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap pertumbuhan bakteri Alkaligenes sp. dan Flavobacterium sp. Pada perlakuan perbedaan konsentrasi tepung kaolin menunjukkan adanya pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan bakteri Alkaligenes sp., tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bakteri Flavobacterium sp.   Kata Kunci : Bakteri probiotik, pertumbuhan, jenis media, kondisi lingkungan
PRODUKSI CHLORELLA SP. DENGAN PERLAKUAN LIMBAH CAIR TAMBAK UDANG VANAME (LITOPENAEUS VANNAMEI) STERIL (PRODUCTION OF CHLORELLA SP. WITH STERIL WHITE SHRIMP (LITOPENAEUS VANNAMEI) LIQUID WASTE TREATMENT) Tangguda, Sartika; Prasetia, I Nyoman Dodik
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 14, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.981 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.14.2.96-99

Abstract

Limbah cair tambak udang vaname (L. vannamei) merupakan hasil buangan dari proses budidaya yang umumnya langsung dibuang ke perairan umum. Limbah tersebut masih mengandung sejumlah unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan organisme pada tingkatan trofik dibawahnya, salah satunya adalah mikroalga Chlorella sp. Namun, pada limbah tersebut masih ditemukan sejumlah organisme yang mengganggu pertumbuhan Chlorella sp. sehingga limbah harus disterilkan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk menumbuhkan mikroalga tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis limbah cair tambak udang vaname steril dalam produksi Chlorella sp. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan 4 perlakuan, yaitu A (dosis limbah 25%), B (dosis limbah 50%), C (dosis limbah 75%), dan D (dosis limbah 100%); masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menyatakan bahwa perlakuan D memberikan produksi Chlorella sp. tertinggi yang dapat dilihat dari kepadatan sel dan laju pertumbuhan spesifik pada saat puncak pertumbuhan, yaitu 2.833.333 sel/mL dan 0,472. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa limbah cair tambak udang vaname steril dengan dosis 100% dapat digunakan untuk mengkultur Chlorella sp. skala laboratorium dengan menghasilkan produksi mikroalga tertinggi. Diharapkan limbah yang berasal dari hasil budidaya udang vaname dapat dimanfaatkan untuk mengkultur mikroalga sehingga mengurangi pencemaran yang terjadi di perairan umum sekitarnya. Liquid waste of vaname shrimp ponds (L. vannamei) is the result of waste from the cultivation process which is generally discharged directly into public waters. The waste still contains a number of nutrients needed for the growth of organisms at the lower trophic level, one of which is Chlorella sp. However, in these wastes there are still organisms that interfere with the growth of Chlorella sp. therefore the waste must be sterilized before using it to grow the microalgae. The purpose of this study was to determine the dose of liquid waste of sterile vaname shrimp ponds in the production of Chlorella sp. This study used an experimental method with 4 treatments, namely A (25% waste dose), B (50% waste dose), C (75% waste dose), and D (100% waste dose); each treatment was repeated 3 times. The results of the study stated that treatment D gave the production of Chlorella sp. the highest can be seen from cell density and specific growth rate at the peak of growth, which is 2,833,333 cells / mL and 0.472. The results of this study can be concluded that sterile liquid waste of vaname shrimp ponds with a dose of 100% can be used to culture Chlorella sp. laboratory scale by producing the highest microalgae production. It is expected that waste derived from vaname shrimp culture can be used to cultivate microalgae so as to reduce pollution in the surrounding public waters
POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN USAHA PERIKANAN TANGKAP DI PANTURA JAWA TENGAH (POTENCY AND DEVELOPMENT OPPORTUNITY OF BUSSINES CAPTURE FISHERIES IN NORTH COASTAL OF CENTRAL JAVA) Triarso, Imam
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 8, No 2 (2013): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.54 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.8.2.6-17

Abstract

Potensi sumberdaya perikanan tangkap di Indonesia, termasuk di pantura Jawa Tengah terindikasi telah mengalami tangkap lebih (overfishing). Kondisi ini salah satunya disebabkan oleh tekanan penangkapan yang didominasi oleh perikanan tangkap skala kecil yang banyak beroperasi di perairan pantai. Oleh sebab itu, pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap di pantura Jawa Tengah ke depan sudah saatnya dilakukan rasionalisasi dan menentukan kebijakan yang berkaitan dengan peningkatan armada perikanan tangkap yang mampu beroperasi di lepas pantai yang masih memberikan peluang pengembangan usaha perikanan tangkap. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis seberapa tinggi potensi dan tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap di pantura Jawa Tengah dan peluang pengembangan usaha perikanan tangkap tersebut di masa yang akan datang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dan observasi lapangan di masing-masing kabupaten/kota pantura Jawa Tengah sebagai daerah penerima bantuan kapal >30 GT yang meliputi Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kabupaten Batang, Kabupaten Pati, dan Kabupaten Rembang. Analisis data untuk menduga potensi dan peluang pengembangan usaha perikanan tangkap di waktu yang akan datang dilakukan dengan menggunakan model bioekonomi dari Gordon-Schaefer (Sparre and Venema, 1999) berdasarkan data time series produksi ikan dan upaya penangkapan dari tahun 2006-2009. Hasil penelitian menunjukkan potensi sumberdaya perikanan tangkap di pantura Jawa Tengah, termasuk di beberapa kabupaten/kota pantura Jawa Tengah terindikasi telah mengalami overfishing. Pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap yang overfishing tersebut terbukti tidak efisien, karena dengan tingkat upaya penangkapan lebih besar dari EMSY, namun hasil tangkapannya justru lebih kecil dibandingkan CMSY, di mana dalam kurun waktu 2006 ? 2009 produksi perikanan di pantura Jawa Tengah berkisar 153,698-195,636 ton. Dengan kondisi potensi sumberdaya perikanan tangkap di pantura Jawa Tengah tersebut, maka program bantuan kapal sebesar >30 GT dari pemerintah yang diperuntukan untuk mengurangi tekanan perikanan tangkap merupakan peluang pengembangan usaha perikanan tangkap. Meski demikian perlu dilakukan perbaikan, terutama dalam hal spesifikasi kapal dan perlengkapannya serta peningkatan pelabuhan perikanan yang memadai untuk fishing base dari kapal-kapal tersebut sehingga tujuan peningkatan produksi dan kelestarian sumberdaya ikan dapat dicapai untuk meningkatkan pendapatan nelayan. Kata kunci: produksi perikanan, model bioekonomi, pengelolaan perikanan tangkap skala kecil. The research on capture fisheries resources in north coastal of Central Java were to anticipate amount produce and effort of capture fisheries. Usefulness from this research expected to earn as reference of management of small scale fisheries and consideration alternative which can be taken for local government of Central Java Province. Primary data were collected from local fishers, while secondary data were collected from district and Marine and Fishery Services Central Java Province. Data series of 2006 to 2009 were also analyzed by bioeconomic analysis with surplus production model. The result indicate that condition of capture fisheries resources in North Coastal of Central Java were overfishing, included its several regency/city adjacent areas. The effort in developing fish capture has reached its boredom circumstance so this situation needs better maintenance and control toward the capturing activities. The policiy expected to minimize exploitation of fishery resources on coastal area, and the vessel can more further to off shore and oceanic area. The government as a policy maker on fisheries management for coastal fisheries must applicable precautionary approach by focusing on biology and economic aspects. Key words : fisheries product, bio-economic model, small scale fisheries management.
HUBUNGAN SUBSTRAT DOMINAN DENGAN KELIMPAHAN GASTROPODA PADA HUTAN MANGROVE KULONPROGO, YOGYAKARTA (THE RELATION OF DOMINANT SUBSTRATE TO GASTROPODS ABUNDANCE IN THE MANGROVE FOREST OF KULONPROGO, YOGYAKARTA) Chusna, Rendra Rini Rismatul; Rudiyanti, Siti; Suryanti, Suryanti
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 13, No 1 (2017): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.845 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.13.1.19-23

Abstract

 Substrat mangrove terdiri atas fraksi pasir (sand), lumpur (silt), dan liat (clay). Gastropoda adalah kelompok hewan dari filum moluska yang hidup di jenis substrat dari kasar ke halus. Kelimpahan gastropoda dipengaruhi oleh substrat dasar yang merupakan habitat dari gastropoda, serta kandungan nutrien yang berbeda pada tiap fraksi akan mempengaruhi kelimpahan Gastropoda yang berada di dalamnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai hubungan substrat dengan kelimpahan Gastropoda, karena Gastropoda salah satu faktor penting untuk menjaga keseimbangan ekologi pesisir khususnya ekositem mangrove. Penelitian  dilakukan di Hutan Mangrove Kulonprogo Yogyakarta bertujuan untuk mengetahui tipe substrat, kelimpahan Gastropoda dan hubungan kedua variabel tersebut. Penelitian  dilakukan pada bulan April sampai dengan  Mei 2017. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu metode penelitian yang memberikan gambaran secara sistematis, faktual, akurat mengenai faktor-faktor dan sifat-sifat dari suatu daerah atau populasi. Metode pengambilan sampel substrat dan Gastropoda menggunakan metode Purposive Sampling Method pada 3 stasiun berbeda yaitu stasiun I pada bagian dekat pemukiman penduduk, stasiun II pada bagian dekat tambak, dan stasiun III pada bagian muara sungai. Hasil penelitian menunjukkan jenis substrat pada tiap stasiun adalah lempung dan lempung berdebu yang didominasi oleh fraksi lumpur (silt) dan pasir (sand). Jenis Gastropoda yang didapatkan berasal dari genus Littoraria, Natica, Faunus, Cerithium, Neritina, Polinices, Conus, Telescopium, dan Nerita. Meningkatnya prosentase fraksi pasir (sand) dan liat (clay) akan diikuti oleh meningkatnya kelimpahan Gastropoda, sedangkan untuk fraksi lumpur (silt) akan sebaliknya yaitu meningkatnya fraksi lumpur akan diikuti oleh menurunnya kelimpahan Gastropoda. Kata kunci: Tipe Substrat, Gastropoda, Mangrove, Kulonprogo  Mangrove substrates formed by sands, silts, and clays. Gastropods is a group of animals of the phylum of mollusks lives on the type of substrate from rough to smooth. Gastropod abundance is affected by substrate which habitat of gastropods and nutrients influencing the distribution of gastropods. Therefore, it needs a deeper research about the correlation of substrate and the amount of gastropods , because gastropods are the importants factor of mangrove ecosystem. The research helds in Kulonprogo Mangrove Forest, Yogyakarta, and the goals are to know the type of substrate, the amount of gastropods, and the correlation among them. This research held on April ? Mei 2017. This research use descriptivemethod wich research method that provide a systematic, factual, accurate description of the factors and quality an area or population. The method on sampling sediments and gastropods is purposive sampling in 3 station. Station 1 near the settlement, station 2 near ponds, station 3 on the estuary. The results of this research shows that the sediments on every station are clay and dusty clay, which is dominated by silt,and sand fraction. The gastropods that obtained are Littoraria, Natica, Faunus, Cerithium, Neritina, Polinices, Conus, Telescopium, and Nerita. The percentage increasing on sands and clays fraction would be more gastropods. Otherwise on silts fraction.   

Page 1 of 29 | Total Record : 281