cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Economy, Social,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan" : 6 Documents clear
IDENTIFIKASI TENURIAL SEBAGAI PRA-KONDISI UNTUK IMPLEMENTASI REDD+ Handoyo, Handoyo; Suka, Aneka Prawesti; Ginoga, Kirsfianti L.
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2011.8.4.306-320

Abstract

Posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan hutan terluas, jumlah penduduk yang tinggi dan masih menghadapi tingkat deforestasi dan degradasi hutan memiliki daya tarik tersendiri untuk mengetahui bagaimana pengaruh kondisi tenurial dan keterlibatan parapihak untuk pelaksanaan REDD+. Tenurial dan potensi konflik para pihak dalam konteks local dan nasional penting untuk diketahui sebagai basis alokasi peran, tanggung jawab dan manfaat untuk pelaksanaan REDD+. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kondisi tenurial yang ada saat ini yang dapat mempengaruhi implementasi REDD+. Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode (RaTA) yang secara khusus dimodifikasi dan diadaptasi untuk penelitian ini. Analisis terhadap temuan di lapangan memperlihatkan variasi kondisi tenurial yakni: (a) Kabupaten Merangin khususnya dan Provinsi Jambi secara umum relatif memiliki banyak konflik lahan dengan upaya penyelesaian yang dilakukan untuk memperoleh kesepakatan formal, (b) Kabupaten Berau secara umum dan Desa Long Duhung pada khususnya potensi konflik lahan tidak terlalu besar dengan upaya penyelesaian melalui kesepakatan informal, dan (c) Kondisi tenurial di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur lebih terjamin karena status dan batas kawasan yang pasti serta pengakuan masyarakat sekitar atas keberadaan kawasan hutan TNMB. Penelitian ini menyarankan perlunya dilakukan penatabatasan lahan secara partisipatif yang melibatkan para pihak termasuk pemerintah, swasta dan masyarakat sekitar. Rapid Land Tenure Assessment
ANALISIS FINANSIAL DAN EKONOMI PEMBANGKIT LISTRIK MIKROHIDRO DI BERAPA LOKASI, PROPINSI JAWA TENGAH, INDONESIA Purwanto, Purwanto
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2011.8.4.251-264

Abstract

Permintaan melebihi pasokan listrik terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Pada tahun 2009, pasokan listrik sebesar 29.705 MW. Dari pasokan tersebut yang hilang sebesar 11,68% selama proses distribusi sehingga pasokan bersih 26.235 MW. Di sisi lain permintaannya sebesar 30.943 MW atau mengalami defisit 15,22%. Di Indonesia banyak ditemukan lokasi yang memiliki potensi sumberdaya air yang dapat digukanan untuk pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH), khususnya yang berada di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). PLTMH adalah pembangkit listrik tenaga air yang dapat memproduksi listrik = 100 kWH (Aprianti, 2009). Kajian ini dilakukan di tiga PLTMH yakni: PLTMH tradisional yang dikelola oleh rumah tangga (Desa Karangtengah, lokasi 1), PLTMH medium (Desa Purbasari, lokasi 2), dan PLTMH modern (Wanganaji, lokasi 3). Pola manajemen, biaya dan manfaat dari PLTMH di catat dari survey, informasi tokoh kunci dan data sekunder. Informan kunci dan responden dalam kajian ini, untuk lokasi 1 (Karangtengah) yakni 20 orang dari 21 orang pemilik PLTMH tradisional, untuk loksi 2 (Purbasari) yakni pengelola PLTMH, 3 orang pengelola turbin, dan 10 orang konsumen, untuk lokasi 3 (Wanganaji) adalah pengelola PLTMH Wanganaji. Analisis pola manajemen, finansial dan ekonomi dilakukan pada kajian ini. Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Pay Back Period (PBP) merupakan parameter dalam kajian ini. Hasil kajian sebagai berikut: PLTMH Karangtengah merupakan PLTMH yang dimiliki oleh masingmasing rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka sendiri yang mulai dibangun pada tahun 1993, PLTMH Purbasasri dikelola oleh Desa dan digunakan untuk memasok kebutuhan listrik warga Desa Purbasari, PLTMH Wanganaji dikelola oleh Pondok Pesantren Rodhathuth Tholibin untuk memasok jaringan interkoneksi Perusahaan Listrik Negara (PLN). Berdasarkan analisis finansial: 1). PLTMH Karangtengah secara finansial tidak layak. 2). PLTMH Desa Purbasasri dengan kurun waktu 15 tahun, memberikan NPV = Rp. 6.562.695.042,-, BCR = 2,73, dan IRR = 35% dengan pay back period selama 3 tahun 4 bulan; 3). PLTMH Wanganaji yang memasok interkoneksi PLN Wonosobo dengan investasi Rp. 2.695.700.000,- NPV = Rp. 2.771.300.000,- dengan pengembalian modal ( ) akan terjadi 11 tahun 9 bulan yaitu pada bulan September tahun 2018. PLTMH Desa Karangtengah dan Desa Purbasasri yang secara langsung memasok kebutuhan listrik masyarakat berdampak nyata terhadap perekonomian masyarakat sedangkan PLTMHWanganaji dampak ekonominya sulit diukur karena hasil listrik digunakan untuk memasok interkoneksi PLN.
PENILAIAN KELAYAKAN EKONOMI REDUCING EMISSION FROM DEFORESTATION AND FOREST DEGRADATION (REDD+) Ginoga, Kirsfianti; Djaenudin, Deden; ekowati, Enik
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2011.8.4.276-287

Abstract

Permenhut No. P. 30/Menhut-II/2009 mensyaratkan perlunya dilakukan kelayakan ekonomi sebagai salah satu aspek yang menentukan penilaian diterima tidaknya permohonan kegiatan REDD+. Hal ini ditujukan untuk memberikan jaminan keberlangsungan kegiatan pengurangan emisi dari deforestasi dan/atau degradasi untuk satuan waktu tertentu pada lokasi yang bersangkutan dan sekitarnya. Secara umum pernilaian kelayakan ekonomi biasanya didekati dari biaya abatasi dan biaya transaksi. Dalam banyak kasus, biaya abatasi adalah biaya untuk memproduksi karbon yang belum bersertifikat dan dapat diestimasi dari biaya kesempatan yang hilang (OCs) dari alternatif peruntukan lahan yang lain, termasuk dalam biaya ini adalah arus nilai sekarang yang hilang, dan biaya/resiko yang timbul akibat kegiatan REDD+. Sedangkan biaya transaksi umumnya diartikan sebagai seluruh ongkos yang timbul untuk mendapatkan (CERs) atau Sertifikat Penurunan Emisi Kehutanan. Certified Emission Reductions Tulisan ini bertujuan untuk menyajikan berbagai metode perhitungan kelayakan ekonomi bagi pemohon kegiatan REDD+, termasuk instrument analisis yang tersedia untuk melakukan analisis kelayakan. Hasil kajian menunjukkan bahwa berbagai asumsi dan konsep yang berbeda dapat menghasilkan harga pengurangan satu unit emisi yang berbeda, karena itu estimasi perlu mempertimbangkan berbagai faktor kunci seperti , teknologi, sumber daya manusia, data dan lokasi, untuk mencegah terjadinya perhitungan yang terlalu tinggi atau rendah. stakeholders
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASYARAKAT MENGGARAP LAHAN DI HUTAN LINDUNG: Studi Kasus di Kabupaten Garut Jawa Barat Subarna, Trisna
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2011.8.4.265-275

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Desa Kramatwangi Kecamatan Ciurupan Kabupaten Garut Jawa Barat dengan menggunakan metoda survey. Responden penelitian ini adalah petani penggarap lahan hutan lindung, variabel yang diperhitungkan meliputi; (1) Motivasi masyarakat untuk memiliki lahan di hutan lindung (tenurial), (2) tekanan ekonomi masyarakat di sekitar hutan, (3) jumlah petugas pengamanan kehutanan, (4) kepentingan antar sektor. Data di analisis dengan regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan luas garapan di hutan lindung ditentukan oleh tekanan ekonomi masyarakat yang berada di sekitar hutan lindung. (2) Motivasi masyarakat untuk memiliki lahan, minimnya jumlah petugas keamanan hutan, kepentingan antar sektor tidak berpengaruh nyata terhadap luas garapan perambah hutan. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah Pemerintah Provinsi Jawa Barat harus berupa penyediaan aktivitas ekonomi dan lapangan kerja sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan lindung untuk mencegah perambah hutan lindung.
PERSAMAAN-PERSAMAAN ALLOMETRIK UNTUK PENDUGAAN TOTAL BIOMASSA ATAS TANAH PADA GENERA POMETIA DI KAWASAN HUTAN TROPIS PAPUA Maulana, Sandhi Imam; Pandu P. A., Jarot
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2011.8.4.288-298

Abstract

Persamaan-persamaan allometrik dapat digunakan untuk menduga kandungan biomassa dan stok karbon yang ada di hutan. Namun, hingga saat ini persamaan-persamaan allometrik untuk kelompok jenis komersial di kawasan hutan tropis Papua belum dibangun dengan tingkat akurasi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan persamaan-persamaan allometrik untuk menduga total biomassa di atas tanah secara spesifik terhadap situs dan genera Pometia di kawasan hutan tropis Papua. Pada penelitian ini, persamaan-persamaan allometrik dibangun berdasarkan hubungan antara diameter setinggi dada (DBH), tinggi bebas cabang (CBH), dan berat jenis kayu (WD) terhadap total biomassa di atas tanah (TAGB). Persamaan-persamaan allometrik tersebut dibangun mengikuti pola pertumbuhan eksponensial. Hasil akhir menunjukkan bahwa persamaan yang paling sesuai untuk menduga total biomassa di atas tanah pada genera Pometia adalah Log TAGB (Kg/tree) = -0.8406 + 2.572 Log DBH (cm). Berdasarkan hasil penerapan persamaan tersebut dengan persamaan-persamaan yang telah dipublikasikan sebelumnya terhadap data aktual, dapat disimpulkan bahwa penerapan persamaan yang spesifik terhadap situs dan genera harus diutamakan.
POTENSI KARBON JENIS ENDEMIK PAPUA: Pometia pinnata J. R. Forst. & G. Forst Asmoro, Jarot Pandu Panji
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2011.8.4.299-305

Abstract

Papua memiliki beberapa tanaman endemik yang berpotensi sebagai penyerap karbon. Salah satu diantaranya adalah tanaman Pometia pinnata yang telah banyak ditanam oleh masyarakat lokal di Papua sebagai tanaman pekarangan dan kayunya dipergunakan sebagai kayu konstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung potensi karbon dari Pometia pinnata dan menghitung nilai finansialnya. Nilai finansial tersebut kemudian diperbandingkan dengan nilai finansial bila tidak dilakukan perdagangan karbon. Lokasi penelitian dilakukan di di wanariset Anggresi-Balai Penelitian Kehutanan Manokwari, Papua, 373 pohon Pometia pinnata diukur dbhnya dan dihitung potensi karbonnya. Biomassa tanaman dipredikasi dengan menggunakan persamaan alometrik yang ditemukan oleh Katterings. Hasil penelitian menunjukkan tanaman Pometia pinnata memiliki potensi karbon sebesar 156,6-164,4 tC/ha dengan nilai finansial sebesar US $ 2,799.225/ tahun, sedangkan nilai finansial dari buah dan kayu tanaman Pometia pinnata yang selama ini dilakukan oleh masyarakat hanya akan menghasilkan pendapatan sebesar US $ 2,425/ rotasi. Hasil ini menunjukkan bahwa dengan mekanisme perdagangan karbon akan mampu memberikan nilai finansial yang lebih tinggi, selain itu masyarakat masih tetap dapat mengambil hasil tanaman Pometia pinnata secara terbatas dari buah dan kayu.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 16, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 15, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 14, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 13, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 11, No 4 (2014): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 11, No 4 (2014): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 10, No 4 (2013): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Sosial Ekonomi Kehutanan More Issue