cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
J@TI (TEKNIK INDUSTRI)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25021516     DOI : -
Core Subject : Engineering,
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri [e-ISSN 2502-1516] merupakan jurnal nasional yang mengangkat tulisan-tulisan penelitian dalam disiplin ilmu teknik industri. Pertama kali terbit sejak tahun 2006 hingga saat ini dengan frekuensi terbit tiga (3) kali dalam setahun. Setiap edisi terbitan berisi 8 artikel jurnal. Terbit setiap Januari, Mei, dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 325 Documents
PENENTUAN FAKTOR YANG BERPENGARUH DALAM FAULTY BEHAVIOR RISK MELALUI PENDEKATAN METODE FUZZY ANALYTIC HIERARCHY PROCESS Fuadi, Rizal Irfan; Juniani, Anda Iviana; Wiediartini, Wiediartini
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 10, No. 2, Mei 2015
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.714 KB) | DOI: 10.12777/jati.10.2.85-96

Abstract

Manajemen keselamatan merupakan pengorganisasian, sumber daya manusia, kebijakan dan prosedur interaktif yang bertujuan untuk mengurangi kemungkinan kerusakan dan kerugian di tempat kerja. Salah satu cara untuk memperbaiki manajemen keselamatan di perusahaan adalah dengan melakukan penelitian mengenai faktor yang berpengaruh dalam risiko kesalahan perilaku. Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi keselamatan kerja tidak memiliki struktur fisik. Untuk itu, maka masalah pada kondisi nyata dapat direpresentasikan dengan cara yang lebih baik menggunakan angka fuzzy untuk mengevaluasi faktor-faktor ini. Pada penelitian ini, pendekatan Fuzzy AHP bertujuan untuk menentukan tingkat Faulty Behavior Risk (FBR) pada sistem kerja.Penentuan faktor yang berpengaruh dalam Faulty Behavior Risk (FBR)/risiko dari perilaku yang salah dimulai dengan menentukan responden, penyusunan kuesioner, uji validitas dan reliabilitas, hasil dari kuesioner dijadikan inputan dalam pengolahan data dengan metode FuzzyAnalytic Hierachy Process (FAHP). Kuesioner ini dibuat berdasarkan konsep safety management yang terdiri dari 4 faktor, yaitu faktor organisasi, faktor pribadi, faktor pekerjaan dan faktor lingkungan. Penelitian ini dilakukan pada Bay 2.1 yang memproduksi panel dan bay 7.1 yang memproduksi finning. Berdasarkan perhitungan FBR pada bay 2.1 menunjukkan nilai 0,4793 yang berarti risiko kesalahan perilaku di antara batas bawah (0,25) dan batas atas (0,50). Sedangkan pada bay 7.1 sebesar 0,5317 yang berarti risiko kesalahan perilaku memiliki potensi tinggi karena berada di atas batas atas. Dari hasil penentuan FBR didapatkan nilai  pada bay 2.1 yang memiliki risiko penyebab tertinggi terdapat pada sub faktor kurang persiapan (0,0788) sedangkan pada bay 7.1 dengan nilai FBR sebesar 0,5317 yang memiliki risiko tertinggi terdapat pada sub faktor kelelahan kerja (0,0970). Melalui penelitian ini, faktor penyebab kesalahan perilaku kerja dapat diketahui dan diberikan rekomendasi untuk mengurangi risiko kesalahan perilaku kerja dengan meningkatkan perhatian terhadap kedua sub faktor tersebut. Untuk mengurangi risiko kesalahan perilaku dapat dilakukan dengan penelitian lebih lanjut mengenai sub faktor yang memiliki risiko tinggi sebagai penyebab kecelakaan.   Abstracts Safety management is defined as organization, human resources, policies and interactive procedure aims to reduce the possibility of damage and loss in the workplace. Therefore, one of way to improve safety management in company?s workshop is by doing research to determine factors affecting the faulty behavior risk. Generally, the factors affecting work system safety have non-physical structures. Therefore, the real problem can be represented in a better way by using fuzzy numbers instead of numbers to evaluate these factors. In this study, a fuzzy AHP approach is proposed to determine the level of faulty behavior risk in work systems. The process of determining factors which affect Faulty Behavior Risk (FBR) starts on decision of respondent, creation of questionnaire, test on validation and realibility. The result concluded from questionnaire is used as input to process the data using Fuzzy Analytic Hierarchy Method (FAHP). The questionnaire is created based on the concept of safety management system, consists of 4 factors: organizational factor, personal factor, work factor, and environmental factor. This  research  conducted at Bay 2.1 that produces  panel and Bay 7.1 that  produces  finning. The calculation of FBR on bay 2.1 shows that the result (0.4972) is lies on range of lower bound 0.25 and upper bound 0.50. Meanwhile, the calculation of FBR on bay 7.1 shows that the result (0.5317) is outside of upper bound, which means the risk of FBR is high. From the calculation result of FBR on bay 2.1, the highest sub-factor which contribute on FBR is insufficent preparation. Meanwhile, from the calculation of FBR on bay 7.1, the highest sub-factor which contribute on FBR is work fatigue (0,0970). This research shows that the factors which contribute on work faulty can be decided. Furthermore,a recommendation can be given in order to reduce the work faulty giving more attention to those 2 factors.
PENERAPAN ENGINEERING CONTROL DAN ADMINISTRATIVE CONTROL SEBAGAI BENTUK INTERVENSI ERGONOMI DI PT GANDING TOOLSINDO Rizani, Nataya Charoonsri; Bramandita, Rico; Septiani, Winnie
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 6, No.2, Mei 2011
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.461 KB) | DOI: 10.12777/jati.6.2.105-110

Abstract

PT. Ganding Toolsindo,sebuah perusahaan  manufaktur yang bergerak di bidang industri otomotif, mengalami permasalahan ergonomi berdasarkan tanda-tanda umum terjadinya permasalahan ergonomi yaitu apparent trend in accidents and injuries, incidence of CTD (cumulative trauma disorder), absenteeism & high turnover rates, employee complaints, poor quality,dan  manual material handling. Permasalahan  yang menjadi focus untuk diselesaikan oleh perusahaan adalah CTD. Penelitian  pada dua stasiun kerja utama  yang bermasalah  yaitu mesin chinfong dan ada yang menggunakan tiga tools yaitu Rapid Upper Limb Assessment (RULA), Nordic Body Map dan pengukuran momen tubuh dengan software Mannequin Pro 7. Hasil dari ketiga tools ini menunjukkan perlu dilakukan intervensi ergonomi dengan pendekatan engineering control maupun administrative control. Intervensi dengan pendekatan engineering control dilakukan dengan meninggikan area kerja dan modifikasi bangku kerja, sedangkan pendekatan administrative control dilakukan dengan menerapkan rotasi kerja dan pemanasan tubuh sebelum bekerja. Hasil implementasi intervensi ergonomic menunjukkan adalanya penurunan pada skor RULA, persentasi keluhan tubuh dan penggunaan momen tubuh. Kata Kunci: CTD, intervensi ergonomi, engineering control, administrative control     PT. Ganding Toolsindo, a manufacturing company engaged in the automotive industry, ergonomics problems experienced by general signs of ergonomics problems are apparent trend in accidents and injuries, incidence of CTD (cumulative trauma disorder), high absenteeism & turnover rates, employee complaints, poor quality, and manual material handling. The problems to be resolved by the company's focus for the CTD. Research on the two main work stations that are problematic and aida chinfong machine uses three tools namely Rapid Upper Limb Assessment (Rula), Nordic Body Map and measurement of body moments with Mannequin Pro 7 software. The results of all three tools show ergonomics intervention needs to be done with engineering controls and administrative approach control. Intervention by engineering control approach conducted by elevating the work area and modification work benches, while the administrative approach to control is done by implementing job rotation and heating of the body before work. The results of the implementation of ergonomic interventions showed a decrease in scores adalanya Rula, percentage of body complaints and use of body moments. Keyword: CTD, ergonomic intervention, engineering controls, administrative controls
MODEL OPTIMASI AGRO ECO-INDUSTRIAL PARK BERBASIS INDUSTRI TAHU DENGAN PENDEKATAN GOAL PROGRAMMING Setiawan, Timotius; Suryadi, Edy; Prawiranegara, Boy Macklin Pereira
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Vol 14, No 3 (2019): September 2019
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.771 KB) | DOI: 10.14710/jati.14.3.129-138

Abstract

Industri tahu di Kabupaten Sumedang menghadapi beberapa permasalahan terkait limbah, inefisiensi penggunaan air, dan ketergantungan terhadap bahan baku (kedelai) impor. Konsep Agro Eco-industrial Park (AEIP) berbasis industri tahu dapat menjadi alternatif solusi untuk memperbaiki kinerja industri tahu dan agroindustri terkait lainnya. Pengembangan AEIP perlu mempertimbangkan keseimbangan kapasitas untuk mengoptimalkan kinerja sistem. Penelitian ini bertujuan membangun suatu model optimasi AEIP berbasis industri tahu yang didukung agribisnis ternak sapi, usaha tani kedelai, produksi pupuk organik, dan unit biodigester. Penelitian dilakukan di sentra industri tahu Giriharja, Kabupaten Sumedang dengan menggunakan metode Goal Programming untuk memodelkan pertukaran material antar agroindustri. Model memasukkan lima variabel keputusan yaitu jumlah produksi tahu, jumlah produksi ternak sapi, jumlah produksi kedelai, jumlah produksi pupuk organik, dan jumlah produksi biogas. Kinerja model diukur dari sisa pertukaran material dan derajat daur ulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang dibangun mampu memberikan solusi optimal berupa jumlah produksi untuk masing-masing agroindustri. Model juga menunjukkan kinerja yang lebih baik dibanding sistem yang sedang berjalan yang diindikasikan dengan penurunan sisa limbah dan peningkatan Recycle Rate.
PEMBAHASAN MENGENAI EFEK URBAN HEAT ISLAND DAN SOLUSI ALTERNATIF BAGI KOTA JAKARTA Limas, Andrew V; Perdana, Adrians; W, Nandhika; Tannady, Hendy
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 9, No.1, Januari 2014
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.05 KB) | DOI: 10.12777/jati.9.1.29-34

Abstract

Hadirnya Jakarta sebagai salah satu kota metropolitan yang berkembang di dunia, menjadikan Jakarta sebagai salah satu kota yang harus diperhitungkan konsistensinya. Letaknya yang berada di daerah tropis serta memiliki angka kepadatan penduduk yang tinggi menciptakan sebuah masalah serius bagi bangunan perkantoran dan perumahan di dalamnya, polemik yang dimaksud adalah adanya ?efek pemanasan di daerah perkotaan?. Artikel ini akan membahas definisi dan aplikasi dari sistem ?atap hijau? bersamaan dengan keuntungan dan keunikannya dalam menjawab kebutuhan dalam mengurangi tingginya temperatur pada pusat perkantoran dan daerah perumahan di kota Jakarta. Kata Kunci : efek pemanasan daerah perkotaan, kepadatan penduduk, sistem atap hijau Abstract Considering Jakarta as one of the developing metropolitan cities in the world creates, the need to reckon it?s consistency has emerged. Located in a tropical area with  high population density creates a serious problem to its city planning, in other words an urban heat island effect. This paper will discuss the definition and application of a green roof system along with its advantages or uniqueness to answer the need to reduce high temperature in central business district and residental areas for city of Jakarta in particular. Keywords : urban heat island effect, population density, green roof system
METODE VISUAL INTERPRETATIF TERHADAP TAMPILAN VISUAL IKLAN MEDIA CETAK SEBAGAI ALTERNATIF ANALISIS DARI METODE EYE TRACKING Karnita, Rosa; Meiralarasari, Della
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 5, No.1, Januari 2010
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8288.661 KB) | DOI: 10.12777/jati.5.1.33-40

Abstract

Desain komunikasi Visual memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk perilakumasyarakat, terutama melalui iklan. Hal ini telah terbukti melalui metode-metode analisis pada iklanmedia cetak, terutama untuk mengetahui efektif tidaknya ikan tersebut. Metode analisis iklan diantaranyaadalah: metode visual interpretatif yang mencakup bidang kajian Semiotika, Hermeneutika dan TeoriAnalisis Tingkatan Makna yang bersifat kualitatif, dan metode eye tracking yang bersifat kuantitatif.Tujuan membandingkan kedua metode tersebut bukan untuk mencari metode yang lebih baik atau tidak,namun untuk lebih memberikan alternatif lain karena metode eye tracking masih belum banyakdigunakan di Indonesia, sementara metode kualitatif yang sudah ada sejak lama pun belum banyakdipahami oleh khalayak luas, sehingga perlunya penelitian ini diajukan untuk memberikan panduananalisis iklan dan memahami cara berkomunikasi dari pengiklan dengan khalayak sasarannya agar terjalinkesamaan persepsi. Penelitian ini pun mengambil studi kasus iklan-iklan toko buku pada media cetak dariluar negeri yang dinilai telah sangat bagus cara berkomunikasinya dibandingkan dengan iklan-iklanmedia cetak rancangan lokal yang pada umumnya masih bersifat hard sell dan memiliki ide yang paritas(seragam) sehingga muatan kreativitasnya lemah.Kata kunci : iklan, komunikasi visual, eye tracking analysis, visual interpretatif. Visual Communication Design has a very crucial role in constructing human (consumer?s)behavior, particularly through advertisements. This role was confirmed with analysis methods in printadvertisements, mainly essential to identify the effectiveness of the advertisements. Advertisementsanalysis method may possibly be the visual interpretative methods which comprises Semiotics,Hermeneutics, the Meaning Analysis Theories, all results in qualitative research, and Eye Trackingmethod which provide quantitative and measurable results.The purpose in comparing both analysismethod is not to resolve which method is better than the other, but as an alternative to reason, seeing aseye tracking analysis technology is unfamiliar in Indonesia. The qualitative method which supposed to bemore common is not yet understandable, so this research is essential as a guidance for advertisinganalysis and to understand the communication process between advertiser and the target audience inorder to accomplish the same perception.This research is based on samples from print advertisements ofbookstores from other countries, which we consider as an example of an appropriate method ofcommuniacation, an opposite of hard-seling advertisements which was not as much of creative.Keywords : advertisements/advertising, visual communication, eye tracking analysis, visualinterpretative.
ANALISA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBANGAN KREATIVITAS INDUSTRI KERAJINAN BATIK Bakhtiar, Arfan; Sriyanto, Sriyanto; Amalia, Amalia
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 4, No. 1, Januari 2009
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.992 KB) | DOI: 10.12777/jati.4.1.23-34

Abstract

Industri kreatif merupakan salah satu industri yang saat ini menjadi strategi pembangunan industri di Indonesia. Industri batik merupakan salah satu industri kreatif  yang termasuk dalam sektor kerajinan. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kreativitas dan perbedaan faktor dominan pengembangan kreativitas di industri batik berskala kecil, menengah, dan besar, sehingga dari ketiga skala industri ini dapat dilakukan upaya-upaya pengembangan kreativitas. Penelitian dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan angket pada ketiga kelompok industri batik. Obyek penelitian adalah PT. Tri Ratna Batik (industri kecil), CV. Tobal Batik (industri menengah), dan PT. Batik Danar Hadi (industri besar). Variabel yang diteliti pada ketiga industri yaitu SDM kreatif, pekerjaan kreatif, konteks organisasi, lingkungan, dan inovasi produk. Berdasarkan data observasi dan penilaian angket yang telah valid dan teruji keandalannya, ketiga industri sama-sama kreatif, karena total nilai mean dan modus secara keseluruhan berada pada rentang 3.01 sampai 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kreativitas pada: (1) variabel SDM kreatif yaitu motivasi, bakat/minat, komunikasi, dan kompetensi; (2) variabel pekerjaan kreatif yaitu pekerjaan, kepemimpinan, dan kewirausahaan; (3) variabel konteks organisasi yaitu kinerja perusahaan, kebijakan, struktur dan budaya organisasi, serta sistem komunikasi; (4) variabel lingkungan yaitu pemberdayaan sumberdaya eksternal, teknologi, persaingan, dan peraturan pemerintah; (5) variabel inovasi produk yaitu desain, bahan, alat, dan pemanfaatan limbah batik. Secara keseluruhan, pada semua variabel terdapat faktor-faktor yang mendukung pengembangan kreativitas. Faktor dominan pada variabel SDM kreatif terletak pada komunikasi (IK, IB), dan motivasi (IB). Faktor dominan pada variabel pekerjaan kreatif adalah pekerjaan (IK) dan kepemimpinan (IM, IB).  Faktor dominan variabel inovasi produk adalah desain (IK, IM, IB) dan juga alat (IM). Faktor dominan variabel konteks organisasi ketiga industri, sama, yaitu kebijakan. Faktor dominan variabel lingkungan adalah sama pada ketiga industri yaitu pemberdayaan sumber daya eksternal. Ketiga industri termasuk dalam kategori kreatif, meskipun faktor dominan pengembangan kreativitas pada ketiga industri, berbeda. Kreativitas masih perlu ditingkatkan, terutama pada faktor kritis. Pada industri kecil dan besar, faktor kritisnya adalah alat. Kedua industri harus mengembangkan kreativitas mereka agar dapat membuat inovasi alat sendiri, sehingga tidak memiliki ketergantungan terhadap pengrajin alat dan impor luar negeri. Faktor kritis di industri menengah yaitu teknologi, dimana industri ini sebaiknya membuka diri terhadap perkembangan zaman dan teknologi. Kata kunci : industri kreatif, industri batik, faktor-faktor pengembangan kreativitas   Abstract This research aims to identify the factors which influence the development of creativity and the differences of the dominant factors in the development of creativity in a small, medium, and large batik industry, so that from those kinds of industries can be practiced the efforts in the development of creativity. This research employed observational method, interview, and questioner on those kinds of batik industries. The subjects of this research were PT. Tri Ratna Batik as a small industry, CV. Tobal Batik as a medium industry, and PT. Batik Danar Hadi, as a large industry. The variables which are researched on those kinds of batik industries are the creative human resource, the creative work, the organizational context, the environment, and the product innovation. Based on the observational data and questioner that are valid and reliable, those kinds of batik industries are as creative as, because total mean value and modus is in the range 3.01 ? 4. Overall, all of variables have supported factors in the development of creativity. The dominant factors on the creative human resource variable are communication (IK, IB) and motivation (IB). The dominant factors on the creative work variable are work (IK) and leadership (IM, IB). The dominant factors on the product innovation variable are design (IK, IM, and IB) and product (IM). The dominant factors on the organizational context variable for those kinds of industries are same, policy. And the dominant factors on the environment variable for those kinds of industries are same, external resource development. Three kinds of industries include on creative category, in spite of the differences among the dominant factor of the development creativity in those kinds of industries. The creativity needs increasing, especially in critical factor. In the small and large industries, the critical factor is product. These kinds of industries have to develop their creativity thus can produce their own product innovation, so that they don?t have a dependency with product maker and product import. The critical factor in medium industry is technology, where this industry should open itself in technology and era development. Key words: creative industry, batik industry, factors in development of creativity.  
PENGUKURAN RISIKO KEAMANAN PANGAN PADA SISTEM RANTAI PASOK IKAN SEGAR Wahyuni, Hana Catur; Sumarmi, Wiwik
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 13, No. 1, Januari 2018
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.468 KB) | DOI: 10.14710/jati.13.1.37-44

Abstract

AbstrakTerjadinya berbagai macam penyakit yang bersumber dari makanan menyebabkan masyarakat semakin  sadar akan pentingnya mengkonsumsi makanan yang aman. Pengelolaan keamanan pangan harus dilakukan secara terintegrasi di sepanjang rantai pasok, agar tidak terjadi perubahan status pangan dari aman menjadi tidak aman. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi perubahan tersebut, maka perlu dilakukan analisa risiko keamanan pangan pada rantai pasok agar dapat dirumuskan langkah- langkah strategis untuk meminimalisir risiko yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) melakukan identifikasi kegiatan-kegiatan pada rantai pasok yang mengandung risiko terhadap keamanan pangan, (2)  melakukan pengukuran risiko keamanan pangan  yang terjadi pada rantai pasok pangan, (3) mengetahui kegiatan pada rantai pasok yang paling berisiko terhadap keamanan pangan. Obyek penelitian yang digunakan adalah rantai pasok ikan segar di wilayah Kab Sidoarjo. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metode risk FMEA (Failure Mode Effect Analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 11 kegiatan yang berisiko pada sistem keamanan pangan, yaitu: (1) pemberian makanan pada ikan; (2) pengelolan sistem kebersihan kolam/ tambak; (3) proses memanen ikan; (4) cara pemilahan ikan; (5) cara penyimpanan ikan; (6) cara pemasaran ikan; (7) jenis kendaran yng digunakan untuk pengiriman ikan; (8) cara penyimpanan saat pengiriman ikan; (9) cara memindahkan ikan; (10) cara penangganan ikan yang tidak terjual; (11) cara penangganan ikan tidak layak jual. Dari 11 kegiatan berisiko tersebut, skor resiko tertinggi terdapat pada cara penyimpanan ikan, cara pemasaran ikan, jenis kendaraan yang digunakan untuk pengiriman ikan dan cara pengemasan ikan pada saat distribusi.  AbstractThe occurrence of various diseases that are sourced from food cause the public increasingly aware of the importance of consuming safe foods. Food safety management must be integrated throughout the supply chain, in order to avoid the change of food status from safe to unsafe. Therefore, to anticipate the change, it is necessary to analyze food security risk in supply chain in order to formulate strategic steps to minimize the risk that happened. This research aims to (1) identify activities in supply chains that contain risks to food security, (2) measuring food safety risks that occur in the food supply chain, (3) to know the activities in the supply chain that are most at risk to food security. The research object used is fresh fish supply chain in Sidoarjo regency. Data processing is done by using risk method FMEA (Failure Mode Effect Analysis). The results show that there are 11 activities that are at risk to food safety system, namely: (1) feeding on fish; (2) management of pond cleanliness system; (3) the process of harvesting fish; (4) how to sort fish; (5) how to store fish; (6) how to fish marketing; (7) type of vehicle used for fish delivery; (8) how to store when shipping fish; (9) how to move fish; (10) unsubscriptions of unsold fish; (11) the way a fish subscription is not worth selling. Of the 11 risk activities, the highest risk score is in the way of fish storage, the way of fish marketing, the type of vehicle used for fish delivery and the way of fish packaging at the time of distribution. Keyword: Shain Supply; Safety Food; FMEA; Fish; Risk
PENGEMBANGAN PERSAMAAN VO2 MAX DAN EVALUASI HR MAX (STUDI AWAL PADA PEKERJA PRIA) Wicaksono, Purnawan Adi; Sangtraga, Adeka
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 7, No.1, Januari 2012
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.216 KB) | DOI: 10.12777/jati.7.1.1-12

Abstract

Kapasitas fisik maksimum seseorang direpresentasikan dengan nilai konsumsi oksigen maksimum (VO2 Max) dan denyut nadi maksimum (HR Max) yang memberikan suatu informasi batasan kemampuan fisik maksimum seseorang dalam melakukan pekerjaan. Penelitian kali ini mempunyai tujuan untuk mencari nilai VO2 Max pekerja pria Indonesia untuk nantinya akan dikembangkan suatu persamaan prediksi VO2 Max yang didekati dengan hubungan linier antara denyut nadi (Heart Rate) seperti yang dilakukan Astrand (2003), tinggi badan (Chatterjee et al, 2006), berat badan (Akalan et al, 2008), usia (Magrani et al, 2009) dan mengevaluasi persamaan HR Max manakah yang dapat diaplikasikan untuk mendekati nilai denyut nadi maksimum pekerja Indonesia. Responden dalam penelitian kali ini adalah 12  pekerja industri pria yang diambil dari beberapa industri di Depok dan sekitarnya. Kriteria responden yang berpartisipasi dalam penelitian kali ini adalah: berusia 20-40 tahun, bukan perokok baik aktif maupun pasif, sehat , tidak mengkonsumsi makanan, kafein, alkohol minimal 2 jam sebelum eksperimen (Balderrama et. al, 2007).Eksperimen yang dilakukan menggunakan metode maximal test dengan protokol treadmill. Adapun peralatan yang digunakan adalah seperangkat alat pengukur kondisi fisiologi Fitmate MED (COSMED srl-Italy) terdiri dari Heart Rate Transmitter, Heart Rate Receiver, V mask (Hans Rudolph Inc),dan treadmill SportArt@60.  Eksperimen dilakukan menjadi dua bagian, yaitu istirahat dan tahap bekerja.Aktivitas istirahat terdiri dari tidur selama 20 menit, duduk selama 20 menit dan berdiri selama 10 menit. Eksperimen tahap kedua yaitu tahap kerja yang terdiri dari latihan selama 5 menit. Responden dipersilakan beristirahat selama 15 menit, setelah itu responden melaksanakan maximal test detik hingga responden merasa tidak sanggup lagi melanjutkan eksperimen. Hasil penelitian model prediksi VO2 max untuk pekerja industri pria mempunyai nilai 2,78 ± 0,5 liter/menit dan dengan regresi linier berganda memberikan hasil persamaan sebagai berikut :VO2 Max = 3,996 - 0,046 usia. Sedangkan untuk evaluasi persamaan HR Max memberikan hasil bahwa persamaan terpilih yang memprediksi nilai HR Max pekerja industri pria Indonesia lebih baik adalah persamaan Tanaka et al. (2001). Penelitian memberikan hasil lain yaitu mencoba untuk mengembangkan persamaan HR Max untuk pekerja industri pria Indonesia. Dengan menggunakan regresi linier berganda memberikan hasil persamaan sebagai berikut: HR Max = 202,71 ? 0,541 usia. VO2 Max dan HR Max yang dikaji dapat dijadikan sebagai referensi kriteria justifikasi kemampuan maksimum seseorang sehingga dapat dijadikan sebagai dasar perancangan sistem kerja agar beban kerja yang diterima pekerja tidak melebihi kapasitas maksimumnya. Penelitian yang mengembangkan persamaan prediksi VO2 Max dan evaluasi persamaan HR Max di Indonesia masih terbatas, sehingga dirasa perlu untuk mengembangkan persamaan prediksi VO2 Max dan evaluasi HR Max karena manfaatnya besar bagi dunia industri.. Dalam dunia pendidikan, penelitian kali ini dapat dijadikan sebagai studi awal yang dapat dikembangkan untuk penelitian ? penelitian selanjutnya. Kata Kunci : VO2 max, kapasitas aerobik,kapasitas fisik maksimum, model prediksi, evaluasi HR Max  Abstract Maximum physical capacity of a person represented by the maximum oxygen consumption (VO2 Max) and the maximum pulse rate (HR Max) which gives a maximum of information limits a person's physical ability to do the job. The current study has the objective to find the value of VO2 Max Indonesia for male workers will be developed a prediction equation VO2 Max is approximated by a linear relationship between pulse rate (Heart Rate) as that of Astrand (2003), height (Chatterjee et al, 2006 ), weight (deceivingly et al, 2008), age (Magrani et al, 2009) and evaluate HR Max Which equation can be applied to approximate the value of the maximum pulse rate of Indonesian workers. Respondents in the study was 12 male industrial workers drawn from several industries in Depok and surrounding areas. Criteria of respondents who participated in this study were: age 20-40 years, instead of both active and passive smokers, healthy, not eating food, caffeine, alcohol at least 2 hours before the experiment (Balderrama et. Al, 2007). Experiments were performed using the method of maximal treadmill test protocol. The equipment used is a set of gauges Fitmate MED physiological conditions (COSMED srl, Italy) consists of Transmitter Heart Rate, Heart Rate Receiver, V mask (Hans Rudolph Inc.), and treadmill SportArt @ 60. Experiments conducted in two parts, namely a break and rest bekerja.Aktivitas stage of sleep for 20 minutes, sitting for 20 minutes and stand for 10 minutes. Experimental stage of labor second stage consists of exercises for 5 minutes. Respondents are welcome to rest for 15 minutes, after which the second respondent to carry out maximal test respondents were no longer able to continue the experiment. The results of predictive models VO2 max for male industrial workers had a value of 2.78 ± 0.5 liters / min and a linear regression gives the following equation: VO2 Max = 3.996 to 0.046 age. As for the evaluation of Max HR equation gives the result that the selected equation that predicts the value of HR Max Indonesia male industrial workers better is the equation Tanaka et al. (2001). Other research results that is trying to develop equations Max HR for male industrial workers of Indonesia. By using multiple linear regression gives the following equation: HR Max = 202.71 to 0.541 age. VO2 Max and Max HR studied can be used as reference criteria for justification of one's maximum ability that can be used as the basis for the design of work systems in order to receive workers' workload does not exceed its maximum capacity. Research to develop predictive equations VO2 Max and Max HR evaluation equation in Indonesia is still limited, so it is necessary to develop a predictive equation VO2 Max and Max HR evaluation because of its benefits to the industry .. In education, this study can serve as a preliminary study can be developed for research - for further research Keywords: VO2 max, aerobic capacity, physical capacity maximum, the model predictions, evaluations Max HR
ANALISA KELAYAKAN EKONOMIS PADA PEMBANGUNAN INSTALASI UNTUK PROSES FERTILISASI IN VITRO (FIV) (STUDI KASUS DI RUMAH SAKIT X) Sari, Diana Puspita; Pujotomo, Darminto; Tutuarima, Maximilian T.
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 1, No.3, September 2006
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.809 KB) | DOI: 10.12777/jati.1.3.34-45

Abstract

Infertilitas atau ketidaksuburan merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi oleh pasangan suami istri (pasutri) yang ingin memiliki keturunan. Sebagian besar penyebab ketidaksuburan (infertility) kini telah dapat diatasi dengan pemberian obat ataupun dengan tindakan operasi, namun masih ada yang mengalami kesulitan dalam memperoleh keturunan. Dengan semakin majunya teknologi kedokteran maka pasutri yang belum berhasil memperoleh keturunan, meskipun telah melakukan terapi melalui obat dan tindakan operasi dapat ditangani dengan teknik rekayasa produksi (reproductive engineering). Fertilisasi in Vitro (FIV) atau bayi tabung termasuk salah satu teknik reproduksi yang dibantu (Assisted Reproductive Techniques, ART). Teknik ini diadakan untuk memperbesar kemungkinan kehamilan pada pasutri yang telah menjalankan pengobatan fertilitas (kesuburan) tetapi tetap tidak berhasil. Rumah Sakit Anugerah sampai saat ini mengatasi pasien yang termasuk kategori tidak subur (infertil) dengan cara melakukan tindakan pengobatan dan tindakan operasi. Rumah Sakit Anugerah berencana melakukan investasi untuk mengembangkan program FIV dalam usaha untuk penanganan pasien yang tidak subur (infertil). Namun untuk melakukan investasi tersebut dibutuhkan biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Investasi untuk pengembangan proses FIV juga tidak lepas dari faktor  resiko sehingga diperlukan analisa kelayakan secara ekonomis dari investasi tersebut.Dalam melakukan analisa keyakan penulis menggunakan beberapa kriteria kelayakan, yaitu : (Net Present Value, NPV), (Internal Rate of Return, IRR), (Indeks Profitabilitas, IP), (Benefit Cost Ratio, BCR) dan payback period. Berdasarkan hasil perhitungan dengan semua kriteria kelayakan investasi secara ekonomi dapat disimpulkan bahwa investasi untuk pembangunan instalasi proses FIV dapat diterima. Kata kunci : FIV, NPV, IRR, IP, BCR,Payback period
ANALISA PEMILIHAN SUPPLIER RAMAH LINGKUNGAN DENGAN METODE ANALYTICAL NETWORK PROCESS (ANP) PADA PT KIMIA FARMA PLANT SEMARANG Puspitasari, Nia Budi; Yancadianti, Khairunnisa Hanan
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 11, No. 1, Januari 2016
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.607 KB) | DOI: 10.12777/jati.11.1.1-8

Abstract

Indonesia bersama Thailand dan Filipina menguasai pasar industri farmasi Asia Tenggara sebesar 80% serta diperkirakan pasar industri farmasi hingga 2016 akan mencapai nilai 96,1 miliar USD. Dalam menghadapi hal tersebut diperlukan beberapa hal dimana pada saat ini isu mengenai lingkungan sangat menjadi tren masyarakat. Regulasi pemerintah kepada industri mengenai lingkungan dan peningkatan jumlah masyarakat yang beralih kepada green product membuat industri untuk mulai memasukkan aspek lingkungan ke dalam proses industrinya. Pemilihan pemasok merupakan masalah pengambilan keputusan penting agar mendapatkan pemasok yang dapat meningkatkan daya saing perusahaan. Kriteria pemilihan pemasok umumnya hanya didasarkan pada aspek cost, delivery, dan kualitas. Hal tersebut belum sesuai dengan isu lingkungan dan regulasi pemerintah saat ini. Pemilihan green supplier dilakukan pada PT Kimia Farma plant Semarang. Hal tersebut dilakukan karena PT Kimia Farma plant Semarang berkeinginan mengarahkan produk yang dihasilkan ke arah green product. Saat ini PT Kimia Farma plant Semarang mengalami penurunan produksi dalam 2 tahun terakhir dimana pada jangka 5 tahun, PT Kimia Farma melakukan pergantian supplier sebanyak 5 kali. Analisa pemilihan green supplier tersebut dilakukan menggunakan metode Analytichal Network Process (ANP) karena ANP merupakan salah satu metode yang mampu merepresentasikan tingkat kepentingan berbagai pihak dengan mempertimbangkan saling keterkaitan antar kriteria dan sub kriteria yang ada. . Pada pemilihan green supplier kriteria kualitas memiliki bobot 0,369, kriteria lingkungan memiliki bobot sebesar 0,246, kriteria harga memiliki bobot 0,159, kriteria pengiriman 0,11 kriteria pelayanan 0,072, dan kriteria hubungan pemasok 0,044. Rekomendasi supplier yang diberikan adalah PT Sejong karena memiliki bobot terbesar yaitu 0,271.   Abstract Indonesia with Thailand and Philippines now lead pharmaceutical industry market of sotheast asia by 80 % yet pharmaceutical industry market is predicted to reach 96.1 billion US dollars by 2016. To deal with it, need to notice environmental issue which is be a trend in our society. Government?s regulation of industry about environment and growth of people who switch to green product make industries begin to notice environment aspect in their industrial process. The decision in supplier selection will be very important in order to get suppliers who can improve competitiveness of the company. The criteria selection of supplier generally based only on aspect of cost, delivery, and quality. It is not appropriate with environmental issue and current government regulation. Green supplier selection is done in the PT Kimia Farma Plant Semarang because their sales are decline in the last two years which I period of 5 years, PT Kimia Farma had changed their supplier much as 5 times. Selection analysis of those green supplier is done by using Analytichal Network Process (ANP) methode because it is one of methode which can represents the level of interestd of various parties by consider relation between cryteria and subcryteria available. In green supplier selection, quality criteria weighs 0,369, environment criteria weighs 0,246, cost criteria 0,159, delivery criteria 0,11, and service criteria 0,072. The recommended supplier given is PT Sejong because it has the greatest weight of 0,268.

Page 1 of 33 | Total Record : 325