cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
METANA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 149 Documents
PENGARUH TEMPERATUR, KONSENTRASI KATALIS DAN RASIO MOLAR METANOL-MINYAK TERHADAP YIELD BIODISEL DARI MINYAK GORENG BEKAS MELALUI PROSES NETRALISASI-TRANSESTERIFIKASI Prihanto, Antonius; Irawan, T.A. Bambang
METANA Vol 13, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1038.201 KB) | DOI: 10.14710/metana.v13i1.11340

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pembuatan biodisel dari minyak goreng bekas melalui proses netralisasi-transesterifikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh temperatur terhadap yield biodiesel, pengaruh konsentrasi katalis terhadap yield biodiesel dan pengaruh rasio molar methanol-minyak goreng bekas terhadap yield biodiesel melalui proses netralisasi dan transesterifikasi. Untuk mendapatkan kondisi proses transesterifikasi terbaik, maka dikaji pengaruh variasi suhu (30 oC, 40 oC, 50 oC, 60 oC, 70 oC), variasi konsentrasi katalis KOH (0,75 %, 1 %, 1,25 %, 1,5 %, 1,75 %) dan rasio molar metanol-minyak (6:1; 7:1; 8:1; 9:1; 10:1) terhadap yield biodiesel yang dihasilkan dari minyak goreng bekas. Hasil penelitian menunjukkan pada rasio 6 : 1, konsentrasi katalis KOH 1 % pada suhu 60 oC mengahasilkan yield biodiesel maksimal sebesar 87,3 %. Effect of Temperature, Catalyst Concentration and Methanol-Oil Molar Ratio Against Biodiesel Yield from Used Cooking Oil Through Neutralization Transesterification ProcessA research has been conducted on the making of biodiesel from used cooking oil through a neutralization-transesterification process. The purpose of this study was to examine the effect of temperature on biodiesel yield, the effect of catalyst concentration on biodiesel yield and the effect of molar ratio of methanol to used biodiesel yield through neutralization and transesterification process. To obtain the best transesterification process condition, the effect of temperature variation (30 oC, 40 oC, 50 oC, 60 oC, 70 oC), KOH catalyst concentration variation (0.75%, 1%, 1.25%, 1,5 %, 1.75%) and the molar ratio of methanol-oil (6: 1; 7: 1; 8: 1; 9: 1; 10: 1) to the yield of biodiesel produced from used cooking oil. The results showed at a ratio of 6: 1, the concentration of 1% KOH catalyst at 60 ° C resulted in a maximum biodiesel yield of 87.3%.
PENYISIHAN KONSENTRASI TIMBAL (PB) MENGGUNAKAN ADSORBENT ABU ENDAPAN BATU BARA (STUDI KASUS : AIR LIMBAH INDUSTRI PERCETAKAN SEMARANG) Hardyanti, Nurandani; Syafrudin, Syafrudin
METANA Vol 4, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5303.246 KB) | DOI: 10.14710/metana.v4i1.1720

Abstract

Abstract Offset industries produced waste water contained lead contaminant and had pollution potential for environment. One of method to remove waste water contained lead was used bottom ash as adsorbent. This research was to know the ability of  bottom ash to reduce lead in artificial waste water with concentration of lead was 20.64 mg/l in the batch and continuous processes. For the batch processes, bottom ash was used as independent variable of 0, 1, 3, 5, and 7 weight gram and highest removal efficiency up to 72.09-90.84%. While in continuous process experimental used column with diameter of 2 inch, discharge of 760 ml/minute, and influent concentration of 15 mg/l, 20mg/1, and 25 mg/l. Highest efficiency of removing lead was 73%-92.93%. With velocity constanst was 0.416-0.490 ml/mg. Second while operational capacity was 0.069-0.081 mg/g. Keywords:offset, adsorption, waste water, lead, coal bottom ash
PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL METANA Kusumayanti, Heny
METANA Vol 10, No 02 (2014): Desember 2014
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12.889 KB) | DOI: 10.14710/metana.v10i02.11052

Abstract

PEDOMAN PENULISAN NASKAH JURNAL METANA
POTENSI BIOGAS MELALUI PEMANFAATAN LIMBAH PADAT PADA PETERNAKAN SAPI PERAH BANGKA BOTANICAL GARDEN PANGKALPINANG Widyastuti, Fianda Revina; Purwanto, Purwanto; Hadiyanto, Hadiyanto
METANA Vol 9, No 02 (2013): Desember 2013
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.693 KB) | DOI: 10.14710/metana.v9i02.7613

Abstract

Abstract At integrated farming areas Bangka Botanical Garden Pangkalpinang treating some of solid waste mixed with biogas digester will be used as fuel gas stove. Existing conditions in the dairy cattle by using the solid waste with 132 kg / day means at least they still used solid waste of 5 cows, so the biogas produced only 1 m3 / day. This paper is studyng about the energy?s need, economic and environments aspec in solid waste treatment to biogas and also about biogas management to provides the electricity need in the BBG Farm. The study is descriptive. The data have been taken from observation, measurement and interview with the farmer as the informan. Biogas produced can be used as lighting 60-100 watts for 50 hours, the driving source of energy 1 PK for 17 hours, producing 39 kWh electric energy and be able to cook 3 dishes for 40-48 servings. To produce 39.48 kWh / day, it can be used as a source of electrical energy BBG farm that has 35 lights with 25 watts of power which is lit for 12 hours / day. Up for lighting requires 10 kWh / day. For milking machine with 0.55 watts power usage requires 1.1 watts 2 times the rest can be used as a motor to move the water pump, lawn mower and activity classification. The BBG Farm need to increase the efficiency of utilization of biogas digester or biodigester everaging 1 unit abandoned and improve lighting installation connection using biogas. Keywords: biogas,cattle, energy,potential.
KAJIAN KADAR TOTAL LIPID DAN KEPADATAN NITZSCHIA SP. YANG DIKULTUR DENGAN SALINITAS YANG BERBEDA Widianingsih, Widianingsih; Hartati, Retno; Endrawati, Hadi; M, Hilal
METANA Vol 7, No 01 (2011): Juli 2011
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.677 KB) | DOI: 10.14710/metana.v7i01.4030

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kadar total lipid dan kepadatan pada mikroalga Nitzschia sp. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan  perlakuan salinitas 15, 20, 25, 30, dan 35 ppt (3 kali ulangan). . Nitzschia sp. dikultur pada skala laboratorium dengan pupuk F/2 dan dilakukan pemanenan setelah mencapai fase stasioner untuk kemudian diukur kadar total lipid.   Perlakuan salinitas menunjukkan bahwa rata-rata kepadatan Nitzschia sp. tertinggi pada salinitas 20 ppt (37,32 x 106 sel/mL) dan rata-rata kepadatan terendah pada salinitas 30 ppt 1(8,62 x106 sel/mL).  Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh nilai rata-rata persentase kadar total lipid tertinggi terdapat pada salinitas 35 ppt (71,51 ± 5,35 %-dw) dan persentase rata-rata kadar total lipid terendah terdapat pada salinitas 15 ppt (13,26 ± 0.47 %-dw). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Nitzschia sp. dapat tumbuh pada salinitas 15 ? 35 ppt dengan kepadatan tertinggi pada salinitas 20 ppt dan rata- rata persentase kadar total lipid tertinggi pada salinitas 30 ppt. Kata-kata kunci: Nitzschia sp., densitas, salinitas, kadar total lipid.
PENGAWETAN IKAN BANDENG (CHANOS-CHANOS FORSK) TINGGI LISIN DENGAN PENGASAPAN CAIR DAN PENAMBAHAN SENYAWA ANTI MIKROBIA DAN ANTIOKSIDAN DARI DAUN SIRIH TINGGI OLEORESIN (PIPER BITTTLE LINN) DALAM BENTUK KAPSUL Wahyuningsih, Wahyuningsih
METANA Vol 6, No 01 (2009): April 2009
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4659.442 KB) | DOI: 10.14710/metana.v6i01.1798

Abstract

Abstracl   On this reaseach have observed liquid smoke's ability to pursue microbe activity, antimicrobe and antioxidant compounds in betel oleoresin, give preservation by purse microorganism's growth on chanos-chanos forsk. Fis submerge process by liquid smoke with bettle oleoresin submerge on presmoking, give optimum result in preserve time eight weeks lysine value 26,56 mg/100 g, with TVB value 7,66 mgN/100 g and microorhanism 9,5 x 12 CFU/g. Reach on submerge with liquid smoke 4 %  concentration,  during 15 minutes, and submerge with liquid smoke 4% concentration during I0 minutes. Result above have contribution with sensoric examine of rather hard to hard texture and very like flavor   Keywords : Liquid Smoke - oleoresin sirih- Bandeng Fish
EKSTRAKSI GLUKOMANAN DARI PORANG LOKAL (AMORPHOPHALLUS ONCOPHYLLUS DAN AMORPHOPHALLUS MUERELLI BLUME) Aryanti, Nita; Abidin, Kharis Yohan
METANA Vol 11, No 01 (2015): Juli 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1416.188 KB) | DOI: 10.14710/metana.v11i01.13037

Abstract

Abstrak Porang (Amorphophallus oncophyllus dan Amorphophallus muerelli blume) merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki potensial baik secara teknologi maupun secara komersial dalam segi medis, industri serta pangan. Porang memiliki kandungan glukomannan yang tinggi, yaitu sebesar 45-65%. Penelitian ini difokuskan pada ekstraksi dua jenis umbi porang yaitu porang putih (Amorphophallus oncophyllus  ) dan porang kuning (Amorphophallus muerelli blume) dengan tujuan menentukan yield ekstraksi glukomannan dan mendapatkan karakteristik glukomannan meliputi kadar glukomannan, morfologi dengan SEM dan gugus fungsi dengan FTIR. Penelitian ini dilakukan melalui 4 tahap, yaitu (1) tahap pembentukan tepung porang, (2) tahap analisa tepung porang, (3) tahap ekstraksi glukomannan dari tepung porang, dan (4) analisa produk glukomannan. Variabel kendali dalam penelitian meliputi : suhu operasi 75%, kecepatan pengadukan 4000 rpm, dan waktu ekstraksi 15 menit. Variabel bebasnya berupa jenis tepung porang (porang putih dan porang putih), dan jenis pelarut (alumunium sulfat dan air, etanol). Produk kemudian di analisa dengan kadar KGM (konjac glukomannan), struktur molekul dengan FTIR (fourier transform infra red), dan morfologi dengan SEM (scanning electron microscope). Untuk tepung porang putih memiliki kadar air 13,477%, kadar abu 4,612%, kadar pati 47,554%, kadar amilosa 17,536%. Sedangkan untuk porang kuning memiliki kadar air 12,326%, kadar abu 3,901%, kadar pati 5,598%, kadar amilosa 16,948%. Untuk hasil ekstraksi dari tepung porang putih dengan pelarut air diperoleh kadar glukomannan 73,70% dan untuk pelarut etanol diperoleh kadar glukomannan sebesar 64,67%. Analisa morfologi tepung glukomannan porang putih dan kuning untuk pelarut air menghasilkan panjang gelombang yang lebih besar dibandingkan pelarut etanol pada panjang gelombang 3000-3700 cm-1. Hasil analisa struktur permukaan pada tepung glukomannan porang putih dan porang kuning dengan pelarut air memiliki bentuk permukaan oval yang persebarannya tidak seragam tanpa adanya struktur jarum, sedangkan dengan pelarut etanol memiliki struktur jarum yang merupakan struktur Ca-oksalat. Kata Kunci : glukomannan, Porang, ekstraksi  AbstractPorang is one of the plants having high glucomannan content, about 45-65% which is potentially applied both in medical or food industry. This study focused on the extraction of the two types of porang, white porang (Amorphophallus oncophyllus) and yellow Porang (Amorphophallus blume muerelli). The aim of this study is to determine the yield of glucomannan extraction and its characteristics including the levels of glucomannan, morphology and specific functional groups. This research comprosed (1) the formation of porang flour, (2) the analysis of porang flour, (3) the extraction of glucomannan from porang flour, and (4) analysis of glukomannan product. The control variables were temperature of 75oC, stirring speed of 4000 rpm, and the extraction time for 15 minutes. The product was analyzed by levels of KGM (konjac glucomannan), FTIR (fourier transform infra red) for specific fungtional groups, and particle morphology with SEM (Scanning Electron Microscope). White porang flour had moisture content of 13.477%, 4.612% ash content, 47.554% starch content, and 17.536% amylose content. While for the yellow porang, the moisture content of 12.326%, ash content of  3.901%,  5.598%  starch content,  and  16.948% amylose content were found. The extract from white porang flour with water solvent obtained glucomannan levels of 73.70% and for ethanol solvent obtained glaucoma-nnan levels of 64.67%. Analysis of morphology of the glucomannan flour from white and yellow porang with water solvent produce greater wavelength than the one extracted with ethanol solvent at 3000-3700 cm-1. Results of analysis on surface structures is the glucomannan flour from white and yellow porang with solvent water has a non-uniform oval surface shape without needle structure, whereas the glucomannan flour with ethanol solvent has a needle structure reprensenting a structure of Ca-oxalate.         Keyword: Glucomannan, Porang, Extraction
RANCANG BANGUN DAN APLIKASI PENGERINGAN IKAN TERI DENGAN PENGERING BERINSULASI Wahyuningsih, Wahyuningsih; Broto, R TD Wisnu
METANA Vol 10, No 01 (2014): Juli 2014
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.877 KB) | DOI: 10.14710/metana.v10i01.9775

Abstract

Abstract Basic Principles of Design Tools dryer, variables that must be considered among other properties - properties of the material to be dried, the characteristic drying of the material, heat flow, quality of products, the facilities around, the capacity of the tool, From factors - these factors are expected to get drier the performance of a very powerful and effective. The aim of this study was to design and build insulated fish dryers to improve the traditional fish drying process, enhance nutritional value, food safety and hygiene and to apply drier at drying anchovy (Stolephorus heterolobua), as well as to know the quantity of omega-3 fatty acids. Drier the result of design, size 1m x 1.2m x1,75 m, collector size of 1.2 mx 0.6 m, can be used for drying fish (Stolephorus heterolobua) hygienically and maintain the quality of products Lama drying 72 hours results dried fish that meets dtandar water content, for solar heating water content of 2.45%, for artificial heating water content of 2.65% preferred product is dried with saline 6% On acceptable products value EPA 0.5972 gr / 100 g and 0.4032 g DHA / 100 g, the value of TBA 1.21 mgr / kg, TVB: 7,04mgr N / 100gr, TMA: 5.11% N mgr Keyword : Design Tools dryer, insulated fish dryers Abstrak Prinsip Dasar Rancang Bangun Alat Pengering, peubah-peubah yang harus diperhatikan antara lain Sifat ? sifat bahan yang akan dikeringkan,karakteristik pengeringan dari bahan, aliran panas, kualitas produk, fasilitas sekeliling,kapasitas alat. Dari faktor ? faktor tersebut diharapkan untuk mendapatkan alat pengering dengan kinerja yang berdayaguna dan berhasil guna. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang dan membangun alat pengering ikan berinsulasi untuk memperbaiki proses pengeringan ikan tradisional,meningkatkan nilai gizi, hygiene dan keamanan pangan dan mengaplikasikan alat pengering pada pengeringan ikan teri (Stolephorus heterolobua), serta mengetahui kwantitas asam lemak omega-3. Kesimpulan dari penelitian ini adalah : Alat  pengering hasil rancang bangun, ukuran 1 m x       1,2m x1,75 m, ukuran kolektor  1,2 m x 0,6 m, dapat dimanfaatkan untuk mengeringkan ikan teri (Stolephorus heterolobua) secara higienis dan mempertahankan kualitas produk Lama pengeringan  72 jam memberikan hasil ikan kering yang memenuhi dtandar kadar air , untuk pemanas surya kadar air 2,45 %, untuk pemanas buatan kadar air 2,65% Produk yang disukai adalah pengeringan dengan kadar garam 6% Pada produk yang dapat diterima memberikan nilai EPA 0,5972 gr/100 gr,  dan DHA 0,4032 gr/100 gr, nilai TBA  1,21 mgr/kg, TVB : 7,04mgr    N/100gr,TMA : 5,11 % mgr N Kata kunci : Rancang Bangun Alat Pengering, alat pengering ikan berinsulasi
PEMANFAATAN BAMBU PADA KONSTRUKSI BANGUNAN BERDAMPAK POSITIP BAGI LINGKUNGAN Artiningsih, Ni Komang Ayu
METANA Vol 8, No 01 (2012): Juli 2012
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.393 KB) | DOI: 10.14710/metana.v8i01.5117

Abstract

ABSTRACT Bamboo is one of the oldest building materials and is very versatile with many applications in the field of building construction, especially in developing countries. Bamboo grows abundantly throughout the Indonesian archipelago, and has become part of Indonesian society for centuries. Rapid growth of bamboo to make bamboo as a sustainable resource. Bamboo is a strong, lightweight material and can often be used without processing or finishing. Bamboo construction is easy to construct, resistant to earthquake forces, and easily repaired if damage occurs. Timber resources is reduced by the restrictions imposed on logging in natural forests, especially in the tropics, has focused world attention on the need to identify replacement materials that can Replaces, environmentally friendly and can be used widely. The existence of an increasingly scarce wood for wood utilization past massive, while the growth of the wood to be used as construction material so long to reach 40 years in comparison with bamboo which is only about 3 to 5 years. With rapid growth, good adaptability to most climatic conditions and soil conditions, bamboo emerged as a very suitable alternative. However, in order to fully utilize the potential of bamboo as a construction material, development efforts should be directed to its preservation. Utilization of lands that are less productive for growing bamboo is an attempt to preserve the bamboo. With the extensive use of bamboo structures in the field, the circulation where bamboo can support the economy of the people and provide a positive impact on the environment. KEY WORDS: Bamboo, construction, design, environment ABSTRAK Bambu merupakan salah satu bahan bangunan tertua dan sangat serbaguna dengan banyak aplikasi di bidang konstruksi bangunan, khususnya di negara-negara berkembang. Bambu tumbuh melimpah di seluruh kepulauan Indonesia, dan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia selama berabad-abad. Pertumbuhan bambu yang cepat membuat bambu sebagai sumber daya yang dapat berkelanjutan. Bambu merupakan material kuat dan ringan dan sering dapat digunakan tanpa pengolahan atau finishing. Konstruksi bambu mudah untuk membangun, tahan terhadap gaya gempa, dan mudah diperbaiki jika terjadi kerusakan. Sumber daya kayu berkurang dengan adanya pembatasan yang dikenakan pada penebangan di hutan alam, terutama di daerah tropis, telah memfokuskan perhatian dunia pada kebutuhan untuk mengidentifikasi pengganti material yang dapat diperbaruhi, ramah lingkungan dan secara luas dapat dimanfaatkan. Keberadaan kayu yang semakin langka karena pemanfaatkan kayu masa lalu secara besar-besaran, sementara pertumbuhan kayu hingga dapat digunakan sebagai material konstruksi bangunan sangat lama bisa mencapai 40 tahun dibandingkan dengan bambu yang hanya sekitar 3 sampai 5 tahun. Dengan pertumbuhan yang cepat, kemampuan adaptasi yang baik untuk sebagian besar kondisi iklim dan kondisi tanah, bambu muncul sebagai alternatif yang sangat cocok. Namun, dalam rangka memanfaatkan sepenuhnya potensi bambu sebagai material konstruksi bangunan, upaya pembangunan harus diarahkan untuk pelestariannya. Pemanfaatan lahan-lahan yang kurang produktif untuk penanaman bambu merupakan upaya melestarikan bambu. Dengan pemanfaatan bambu yang luas dibidang struktur bangunan, maka sirkulasi keberadaan bambu dapat mendukung perekonomian rakyat serta memberikan dampak positip yang besar terhadap lingkungan. KATA KUNCI : Bambu, konstruksi bangunan, desain, lingkungan.
UJI KARAKTERISTIK BIODIESEL BERBAHAN DASAR LIMBAH JEROAN IKAN DIPROSES MENGGUNAKAN MIKROGELOMBANG Purwaningrum, Shintawati Dyah; Sukaryo, Sukaryo
METANA Vol 14, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.899 KB) | DOI: 10.14710/metana.v14i2.20333

Abstract

Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang terbuat dari minyak tumbuhan maupun lemak hewan, pengganti bahan bakar untuk mesin diesel. Salah satu pengembangan biodiesel yang dilakukan adalah produksi biodiesel dari limbah jeroan ikan yang diproses menggunakan mikrogelombang (microwave). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik biodiesel yang diperoleh dari metode proses mikrogelombang (microwave) berbahan dasar limbah jeroan ikan dan kemudian dibandingkan dengan biodiesel Standar Nasional Indonesia. Manfaat peneltian selain untuk memperoleh biodiesel juga mengetahui karakteristik fisika dan kimia biodiesel berbahan limbah jeroan ikan dan mengurangi limbah jeroan ikan hasil olahan pedagang ikan di pasar. Biodiesel berbahan limbah jeroan ikan diproduksi menggunakan mikrogelombang microwave dengan penambahan katalis KOH. Proses produksi diawali dengan proses esterifikasi dan dilanjutkan proses transesterifikasi dilakukan di dalam microwave yang sudah dimodifikasi. Biodiesel yang dihasilkan kemudian diuji karakteristiknya berdasarkan densitas, viskositas, kandungan air, angka asam dan angka setana. Kandungan biodiesel diidentifikasi menggunakan analisa GCMS.

Page 4 of 15 | Total Record : 149