cover
Contact Name
Suprapti
Contact Email
Suprapti
Phone
-
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : -
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)" : 13 Documents clear
Front Matter & Back Matter Suprapti, Suprapti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.796 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.1-7

Abstract

PENGARUH SISTEM PERGANTIAN AIR YANG BERBEDA PADA PEMELIHARAAN BENIH IKAN BETUTU (Oxyeleotris marmorata Blkr.) Taufik, Imam; Azwar, Zafril Imran; Sutrisno, Sutrisno
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.53-61

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui sistem pergantian air yang paling baik pada pemeliharaan benih ikan betutu. Wadah penelitian: 12 unit bak kayu berlapis plastik (1,9m x 0,8m x 0,5m) diisi air 500 L, ditempatkan dalam ruang terlindung dan dilengkapi dengan aerasi. Hewan uji: benih ikan betutu ukuran bobot 0,96±0,08 g/ekor, padat tebar 1 ekor/5 liter air, diberi pakan alami secara berlebih dengan waktu pemeliharaan selama 12 minggu. Perlakuan berupa perbedaan sistem pergantian air: (a) resirkulasi, (b) semi-statis, dan (c) continous flow. Parameter yang diukur: sintasan, pertumbuhan, dan produktivitas benih ikan betutu serta sifat fisika-kimia air pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergantian air dengan sistem resirkulasi memberikan sintasan yang paling baik terhadap benih ikan betutu (33,0%) dibanding continous flow (28,3%) dan berbeda nyata (P<0,05) dengan sistem semi-statis (21,3%). Laju pertumbuhan spesifik benih ikan betutu antara perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan nilai secara berturut-turut sebesar: 1,41%; 1,31%; dan 1,50%.The aim of this experiment is to obtain the information on survival rate and growth of sand goby fries. The experiment was conducted at research station CibalagungBogor. Twelve container of 1.9m x 0.8m x 0.5m were used in this experiment, each container was stocked with 1 fish/5L of sand goby fry with 0.96±0.08 gram weight. Three different water exchange were aplied i.e (a) recirculation, (b) semi static, and (c) continous flow. Each treatment was done in three replicates. The result showed that the recirculation gave the best result on survival rate (33.0%) compared with continous flow (28.3%) and significantly different from semi static (21.3%).
TEKNOLOGI PEMELIHARAAN LARVA KERAPU SUNU (Plectropomus leopardus) SECARA MASSAL Aslianti, Titiek; Suwirya, Ketut; Asmanik, Asmanik
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2340.434 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.1-11

Abstract

Teknologi produksi benih kerapu sunu (Plectropomus leopardus) melalui perbaikan pengelolaan pakan dan lingkungan terus dipacu guna meningkatkan sintasan dan diharapkan dapat menghasilkan benih secara kontinyu. Dalam pemeliharaan larva, jenis pakan awal yang sesuai merupakan faktor penentu keberhasilan. Pakan alami jenis rotifer, gonad tiram (trochophore), emulsi kuning telur, dan juga pakan buatan yang dilarutkan telah dicoba dalam penelitian ini sebagai pakan awal. Penelitian menggunakan wadah bak beton berkapasitas 6 m3 (12 bak) yang diisi telur kerapu sunu dengan kepadatan 100.000—150.000 butir/bak. Penebaran telur dilakukan secara bertahap pada masing-masing bak sesuai dengan jumlah telur yang tersedia. Nauplii artemia, pakan buatan, dan udang jembret (mysid) diberikan sesuai dengan perkembangan larva dimulai pada umur 20 hari (D20) hingga mencapai fase yuwana/ benih (D45). Pengamatan terhadap laju tumbuh dan sintasan larva dilakukan setelah penelitian berakhir. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, sedangkan analisis proksimat, asam lemak pakan, dan abnormalitas tulang belakang larva (deformity) serta kualitas air diamati sebagai data pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pakan buatan yang dilarutkan dan emulsi kuning telur sebagai pakan awal, ternyata mampu memacu pertumbuhan dan meningkatkan sintasan larva. Kisaran panjang total, bobot tubuh, dan sintasan benih yang dicapai berturut-turut adalah 1,95 cm—2,85 cm; 0,64—0,73 g; dan 0,25%—3,97% dengan kisaran laju tumbuh harian sebesar 3,9%—4,22%. Hasil pengamatan terhadap tulang belakang larva tidak ditemukan abnormalitas dengan kisaran jumlah ruas 21—23 ruas dan jarak antar ruas 0,030—0,036 mm.Seed production technology of leopard coral trout, Plectropomus leopardus by improving hatchery management had been conducted in order to increase survival rate and to produce seed continuity. The initial feeding can successfully support in larval rearing. Feed organism as rotifer, trochophore gonad, egg yolk emulsion, and artificial feed emulsion, had been used as an initial feed. The twelve of concrete tanks with 6 m3 capacity were stocked with coral trout eggs at density 100,000—150,000 eggs/tank. Artemia nauplii, artificial feed, and mysid as feed, start on larvae D20 up to juvenile stage (D45). Growth rate and survival rate were observed and calculated when the experiment was terminated. The data was analyzed by descriptive. Nutrition value of food was analyzed by proximate and fatty acid composition. The others parameters such as deformity and water quality were observed. The result showed that artificial feed emulsion and egg yolk emulsion as an initial feeding can be improve the growth rate and increase survival rate of larvae. The range of total length, body weight and survival rate of the seed i.e. 1.95—2.85 cm; 0.64—0.73 g, and 0.25%— 3.97% with the daily growth rate 3,9%—4,22%, respectively. No back bone deformity in the seed, that is 21—23 segments with interspaces of segments 0.030—0.036 mm.
PENGANGKUTAN KRABLET KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) DENGAN KEPADATAN BERBEDA Sulaeman, Sulaeman; Yamin, Muhamad; Parenrengi, Andi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.264 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.99-104

Abstract

Teknik produksi benih kepiting bakau di perbenihan saat ini sudah semakin layak sehingga penggunaan benih hatcheri diharapkan dapat menggantikan posisi benih alam yang banyak digunakan oleh pembudidaya kepiting akhir-akhir ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kepadatan optimum dalam pengangkutan krablet kepiting menggunakan sistem tertutup. Krablet yang berasal dari hasil pemijahan satu ekor induk yang ditetaskan berumur sekitar 20 hari (C-20) dan berukuran bobot 0,1 g dipelihara di laboratorium sampai dengan dilakukannya pengangkutan. Krablet ditempatkan di dalam kantong plastik (6 L) yang berisi 2 L air laut salinitas 33 ppt dan oksigen yang kemudian diangkut pada suhu 28oC. Selembar jaring nilon berukuran 20 cm x 40 cm ditambahkan kedalam masing-masing kantong sebagai shelter. Pengangkutan dilakukan dengan menggunakan kendaraan darat roda empat selama lima jam untuk menguji perlakuan padat penebaran yang terdiri atas: 50, 100, dan 150 krablet/L air. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintasan krablet pada akhir pengangkutan dipengaruhi secara nyata oleh kepadatan tebar. Sintasan semakin menurun dengan meningkatnya padat tebar. Sintasan tertinggi yakni 97% dijumpai pada perlakuan A (50 krablet/L) diikuti oleh perlakuan B (100 krablet/L) dengan sintasan 95% dan sintasan paling rendah yakni 88% didapatkan pada perlakuan C (150 krablet/ L). Karena perlakuan A dan B secara statistik tidak berbeda nyata namun keduanya berbeda dengan perlakuan C, maka dapat disimpulkan bahwa pengangkutan krablet S. paramamosain dapat dilakukan dengan kepadatan sampai dengan 100 krablet/L selama lima jam.Crablet-production technique in hatchery is now become more viable, therefore the used of hatchery-reared juvenile is expected to replace the wild-caught of young crab which is widely stocked by crab farmer until recently. The objective of this experiment is to obtain information on optimum packing densities of mud crab (Scylla paramamosain) crablet during close system transportation. Twenty days old of crablet (C-20) with an average individual weight of 0.1 g originated from a wild brood stock hatched and reared in the laboratory until transported. Crablet were placed in plastic bags (6 L) with 2 L of 33 ppt seawater and oxygen, which were kept at temperature about 28oC. A peace of 20 cm x 40 cm plastic net was added to each bag as shelter. Actual land transport was performed for five ours to investigate three levels of packing densities i.e.: 50, 100, and 150 crab/L-water. The experiment was arranged in completely randomized design in triplicates. The result of the experiment showed that the survival rate of crablet at the end of transportation was significantly affected by packing density. The survival rate decreased while packing density increased. The highest survival rate of 97% was obtained from treatment A (50 ind./ L) followed by treatment B (100 ind./L) of 95% and the lowest at treatment C (150 ind./L) of 88.3%. Since A and B treatments were statistically equal but different from C, suggest that crablet of S. paramamosain could be transported at packing density of 100 ind./L for 5 hours.
PERFORMANSI BIOLOGIS CALON INDUK PATIN JAMBAL (Pangasius djambal) PADA VOLUME BAK DAN CARA AERASI BERBEDA Ahmad, Taufik; Rusmansyah, Rusmansyah; Sutrisno, Sutrisno
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.682 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.63-71

Abstract

Ikan patin jambal merupakan ikan lokal yang memiliki nilai lebih, dalam rasa dan warna daging. Namun ikan ini sudah mulai jarang ditemukan dari perairan umum Jawa. Upaya pemijahan patin jambal di hatcheri telah dimulai sejak tahun 1980-an, namun kesulitan memperoleh induk menghambat kelanjutan produksi massal benih. Penelitian ini bertujuan memperoleh ukuran minimal tangki dan cara pengaliran air untuk wadah yang dapat mengakomodir secara maksimal kebutuhan biologis dalam upaya produksi induk patin jambal. Tangki yang digunakan berjumlah 4 buah berbentuk bulat untuk menjamin aliran air maksimal. Dua tangki diisi air sebanyak 10 m3 dan dua lainnya 20 m3, kedalaman air sama, yaitu 130 cm. Pada tiap ukuran tangki, dengan memanfaatkan gaya gravitasi air dialirkan ke dalam satu tangki dari bawah sedang ke dalam tangki satu lagi air dialirkan dari atas, masing-masing debit 0,6—1,0 L/detik. Percobaan dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan ulangan mengacu pada jumlah ekor ikan yang hidup pada masing-masing kolam di akhir penelitian (pseudo replicate). Calon induk berbobot 1,5 kg dan belum pernah memijah ditebar dengan komposisi 7 betina 3 jantan pada tangki 10 m3 serta 15 betina dan 5 jantan pada tangki 20 m3. Pakan diberikan tiap hari sebanyak 3% bobot biomassa. Calon induk yang dipelihara dalam tangki 20 m3 dengan aliran dari bawah bertambah 0,610%/hari-1, lebih cepat (P<0,05) dibandingkan dengan tangki lainnya. Untuk perkembangan gonad, jumlah calon induk yang mencapai TKG IV dalam tangki 20 m3, 4 jantan 1 betina, dengan aliran air di bawah lebih banyak dari yang dalam tangki lain. Terbukti bahwa tangki volume 20 m3 dan aliran air di dasar cocok bagi upaya produksi induk patin jambal pada komposisi 15 betina dan 5 jantan.Patin jambal is one of Indonesia indigenous species which is threatened to extinction in Java open water due to development progress as well as over fishing. Further mass production of patin jambal seeds in hatchery faces the unsustainable supply of spawner. Tank size and aeration technique are suspected to affect patin jambal spawner production in captivity since the fish is a riverine species. The experiment aims at providing a suitable environment for such a fish to grow to be productive spawners. Four circular concrete tanks are used to assure maximum water circulation; two tanks were filled with 10 m3 and the other with 20 m3 fresh surface water at equal depth, 130 cm. The surface water was gravitationally flowed from the surface into 2 tanks and from the bottom into 2 other tanks at 0.6-1.0 L sec-1. The fish weighted 1.5 kg each was stocked at 7 female and 3 male into each of 10 m3 tank and at 15 females and 5 males into each of 20 m3 tank.  The experimental units were arranged in a completely randomized design with pseudo replication. The fish fed commercial artificial diet at 3% of biomass weight a day. Fish in the 20 m3 tank equipped with bottom water inlet gained weight 0.601 % day-1 and consequently grew faster (P<0.05) than fish in the other tanks.  Fish in the same tank was also biologically mature faster than fish in the other tanks; four males and one male were found to reach gonad maturity stage IV which was not found in the other tanks. Obviously, a 20 m3 concrete tank equipped with bottom water inlet is suitable for patin jambal spawner production at 15 females to 5 males ratio.
MANAJEMEN PAKAN INDUK KERAPU MACAN, Epinephelus fuscoguttatus UNTUK PENINGKATAN PEMIJAHAN DAN KUALITAS TELUR Setiadharma, Tony; Prijono, Agus; Giri, Nyoman Adiasmara; Tridjoko, Tridjoko
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1170.083 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.13-18

Abstract

Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui kesinambungan pemijahan dan peningkatan kualitas telur melalui perbaikan manajemen pemeliharaan induk ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Induk kerapu macan berukuran panjang 50,20—82,50 cm dan bobot 3,50—12,00 kg yang dipelihara dalam 2 tangki volume 30 ton, masingmasing diisi 12 ekor induk terdiri atas 4 ekor jantan dan 8 ekor betina. Sebagai perlakuan dalam penelitian adalah komposisi pakan yang berbeda yaitu A. Pakan + (vitamin E,C, dan vitamin mix), dan B. Pakan. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah dan cumi segar sebanyak 3% bobot total/hari. Percobaan ini dilakukan selama 8 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pemberian pakan segar berpengaruh terhadap frekuensi pemijahan dan kualitas telur yang dihasilkan. Pada perlakuan A memperlihatkan proses reproduksi yang lebih baik dan terjadi pemijahan sebanyak 11 kali dengan jumlah total telur 18.492.000 butir dengan hatching rate 75,0%— 92,0% dan Indek Aktivitas Kehidupan Larva (SAI) 3,80—5,68. Perlakuan B terjadi pemijahan sebanyak 7 kali pada periode bulan Maret sampai November dengan jumlah total telur yang dibuahi sebanyak 10.390.000 butir dengan hatching rate 50,0%— 75,0% dan SAI larva 0,28—4,90. Hasil pengamatan perkembangan gonad selama penelitian untuk kedua perlakuan sangat bervariasi antara 110—520 µm.The purpose of the present study was to know the effect of different management in rearing spawning and eggs quality of grouper broodstock, Epinephelus fuscoguttatus. Twelve fish total length 50.20—82.50 cm and 3.50—12.00 kg in body weight consisted, eight females and four males were reared in three 30 m³ concrete tanks and fed with experimental diet. Two treatments were (A) Fed+ (Vitamin E,C, and vitamin mix) and (B) Feed. The result of the experiment showed that fish in treatment A gave better results in terms of eggs quality, stage of reproduction, and spawning of 11 times in April to November with fecundity of 18,492,000; hatching rate of 75.00%—92.00% and SAI of larvae 3.80—5.68; composed to 7 times of spawn with fecundity of 10,390,000; hatching rate of 50.00%—75.00% and Survival Activity Index of larvae (SAI) 0.28—4.90 for treatment B. Gonad of development during the experiment showed egg diameter of 110—520 mm.
HUBUNGAN ANTARA FAKTOR KONDISI LINGKUNGAN DAN PRODUKTIVITAS TAMBAK UNTUK PENAJAMAN KRITERIA KESESUAIAN LAHAN: 2. KUALITAS TANAH Mustafa, Akhmad; Paena, Mudian; Tarunamulia, Tarunamulia; Sammut, Jesmond
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.807 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.105-121

Abstract

Selain kualitas air, faktor lingkungan lain yang dipertimbangkan dalam evaluasi kesesuaian lahan untuk budidaya tambak adalah kualitas tanah. Namun kriteria kualitas tanah yang digunakan masih bersifat umum untuk semua komoditas perikanan budidaya tambak. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara produktivitas tambak dari berbagai komoditas dengan berbagai peubah kualitas tanah untuk penajaman kriteria kesesuaian lahan untuk budidaya tambak. Penelitian dilaksanakan di kawasan pertambakan yang ada di Kabupaten Pinrang, Sinjai, Luwu, dan Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung. Metode penelitian yang diaplikasikan adalah metode survai, termasuk untuk mendapatkan data primer dari produksi yang dilakukan melalui pengajuan kuisioner dan perekaman pada saat wawancara kepada responden. Pengukuran langsung terhadap peubah kualitas tanah tertentu dilakukan di lapangan dan pengambilan contoh tanah untuk dianalisis di laboratorium dilakukan terhadap peubah kualitas tanah lainnya. Pemilihan model regresi “terbaik” didasarkan pada metode kuadrat terkecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pHH2O tanah dari 6,34 menjadi 8,10 dan peningkatan kandungan pasir tanah lebih besar 21,8% dapat meningkatkan produksi dan sebaliknya peningkatan kandungan liat tanah lebih besar 30,0% dapat menurunkan produksi udang vannamei. Produksi rumput laut  yang lebih tinggi didapatkan pada tanah dengan pHF lebih besar 6,5; pHFOX lebih besar 4,0; pHF-pHFOX lebih kecil 2,5; dan SPOS lebih kecil 1,00%. Kandungan Fe tanah yang lebih besar 5.000 mg/L dan Al lebih besar 490 mg/L menyebabkan penurunan produksi rumput laut. Peningkatan pHF dan pHFOX tanah masing-masing lebih besar 7,5 dan 7,0 sampai nilai tertentu dapat meningkatkan produksi dan sebaliknya peningkatan kandungan Fe dan Al dapat menurunkan produksi udang windu dan ikan bandeng, terutama melalui pengaruh toksisitas dan dampaknya terhadap ketersediaan fosfor.Soil quality is an important environmental factor to consider in land capability assessment for brackish water aquaculture ponds. However, soil quality criteria are often generalized for all commodities produced in brackish water ponds. This study aims to evaluate the relationship between brackish water pond productivity for common commodities and soil quality factors to improve the underlying criteria for land capability assessment. The research was conducted in the brackish water ponds of Pinrang, Sinjai, Luwu, and North Luwu Regencies South Sulawesi Province and South Lampung Regency Lampung Province. The study involved the collection and analysis of farm management and production data and physicochemical properties of soils. A regression model based on the least quadratic method showed that the pHH2O of soil in the range of 6.34 to 8.10 and a sand content of more than 21.8% was associated with high pond production provided soils had sufficient clay content. The model also showed that heavy clays (30% clay content) decreased production of the whiteleg shrimp. High seaweed production occurred in ponds with a soil pHF of more than 6.5, pHFOX more than 4.0, pHF-pHFOX less than 2.5, and SPOS less than 1.00%. Fe concentration in soil more than  5,000 mg/L and Al more than 490 mg/L decreased the productivity of seaweed ponds. The optimal pHF and pHFOX of soil for tiger prawn and milkfish production was more than 7.5 and 7.0, respectively under polyculture. Elevated concentrations of Fe and Al were found to reduce shrimp and fish production in ponds, principally through their toxic effects and impacts on available phosphorus.
BIOAKUMULASI LOGAM BERAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP OOGENESIS KERANG HIJAU (Perna viridis) Jalius, Jalius; Setiyanto, Daniel Djoko; Sumantadinata, Komar; Riani, Etty; Ernawati, Yunizar
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.261 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.43-52

Abstract

Teluk Jakarta, Banten, dan Lada telah mengalami pencemaran oleh logam berat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bioakumulasi logam berat (Pb, Cd, Cr, dan Hg) dalam gonad dan pengaruhnya terhadap oogenesis kerang hijau (Perna viridis). Data yang dihimpun adalah jumlah oogenium, oosit primer, oosit sekunder, diameter, luas, dan volume lumen folikel pada stadium-III proses oogenesis. Hasil penelitian menunjukkan dalam gonad kerang hijau yang berasal dari Teluk Jakarta telah terjadi bioakumulasi logam yaitu Pb (600,33±544,83 ppb), Cd (32,273±28,091 ppb), Cr (527,36±461 ppb), dan Hg (0,0222±0,0264 pbb). Cd dan Pb hanya ditemukan dalam gonad kerang hijau yang berasal dari Teluk Banten dan Teluk Lada, namun logam Cr dan Hg tidak terdeteksi. Kadar kandungan logam tersebut adalah Cd 6,937 ppb dan Pb 0,021 mg/L (Teluk Banten), sedangkan di Teluk Lada kadar Cd 6,069 ppb dan Pb 0,018 mg/L. Hasil analisis korelasi antara kandungan logam berat dan jumlah sel-sel dalam gonad kerang hijau yang berasal dari Teluk Jakarta menunjukkan korelasi sangat nyata antara logam kromium (Cr) dengan perkembangan jumlah sel-sel oogenia (r= 0,69), dan oosit sekunder (r= 0,57). Semua logam berat tersebut berpengaruh terhadap perkembangan sel-sel oosit sekunder (Pb, r= 0,75; Cd, r= 0,57; Cr, r= 0,57; Hg, r= 0,74), luas (Pb, r= 0,76; Cd, r= 0,71; Cr, r= 0,57; Hg, r= 0,70), dan volume lumen folikel (Pb, r= 0,78; Cd, r= 0,74; Cr, r= 0,66; Hg, r= 0,58). Kadmium (Cd) mempengaruhi jumlah sel-sel gonad betina (r= 0,63). Dengan demikian terbukti bahwa logam berat berpengaruh terhadap proses oogenesis kerang hijau di Teluk Jakarta.The Jakarta, Banten, and Lada Bays have been polluted by the heavy metals. The study was conducted to identify the  heavy metals (Pb, Cd, Cr, and Hg) bio accucumulation in gonads and its  effects on oogenesis of green mussels (Perna viridis). The data collected were the number of oogenium, primary oocytes, secondary oocytes, diameter, square, and volume of follicle lumens on stage-III oogenesis. The content of heavy metal was analyzed by Atoms Absorbent Spectrophotometer (AAS). The results indicated that the gonad of green mussels originated from Jakarta bay have been bioaccumulated by heavy metal. The gonad of green mussel contained Pb (600.33±544.83 ppb), Cd (32.273±28.091 ppb), Cr (527.36±461 ppb), dan Hg (0.0222±0.0264 pbb). Cd and Pb have been found in gonads originated from Banten and Lada Bay while no Cr and Hg were detected. The concentration of Cd and Pb were 6.937 ppb, 0.021 mg/L (Banten Bay) dan 6.069 ppb, and 0.018 mg/L (Lada Bay) respectively. The green mussels female Jakarta Bay originated showed a strong correlation of Cr with developing of oogenia cells (r= 0.69), and secondary oocytes (r= 0.57). All heavy metals influenced the development of secondary oocytes (Pb, r= 0.75; Cd, r= 0.57; Cr, r= 0.57; Hg, r= 0.74), square (Pb, r= 0.76; Cd, r= 0.71; Cr, r= 0.57; Hg, r= 0.70), and volume of follicle lumen (Pb, r= 0.78; Cd, r= 0.74; Cr, r= 0.66; Hg, r= 0.58). Cadmium (Cd) had effect to the number of female sex cells (r= 0.63). Therefore, the heavy metals influenced oogenesis process of green mussel at Jakarta Bay.
PERKEMBANGAN TELUR DAN SPERMA INDUK IKAN BELIDA, Notopterus chitala YANG DIPELIHARA DI KOLAM Kristanto, Anang Hari; Nuryadi, Nuryadi; Yosmaniar, Yosmaniar; Sutrisno, Sutrisno
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1214.944 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.73-82

Abstract

Penelitian pengamatan telur dan sperma induk ikan belida (Notopterus chitala) yang dipelihara di kolam telah dilakukan dari bulan Agustus 2006—Maret 2007. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan telur dan sperma induk ikan belida yang dipelihara di kolam. Induk ikan belida dipelihara di kolam dengan pola induk betina saja, induk jantan saja, induk betina dan induk jantan secara bersama. Pengukuran dilakukan terhadap suhu harian, curah hujan, dan konduktivitas selama pemeliharaan serta melihat pengaruhnya terhadap perkembangan telur dan jumlah sperma serta motilitasnya. Selama pengamatan tujuh bulan, peningkatan curah hujan menyebabkan perubahan suhu dan konduktivitas air kolam pemeliharaan dan mempengaruhi jumlah spermatozoa dan motilitasnya demikian juga terhadap perkembangan telurnya. Induk jantan yang dipelihara secara terpisah, setiap bulannya dijumpai induk matang, sedangkan yang dicampur, pada bulan Februari dan Maret tidak dijumpai sperma matang. Pada induk betina baik yang terpisah maupun dicampur, bulan Februari dan Maret tidak dijumpai induk matang.Research on eggs and sperm development of featherback (Notopterus chitala) reared in earthen pond was conducted during August 2006—March 2007. The aim of the research was to observe the eggs and sperm development. Featherback broodstocks were reared in ponds as female only, male only, and female and male broodstock together. Measurement was done on the daily water temperature, conductivity and amount of rainfall during rearing period and also was obseved the eggs development and amount of sperms and their motilities. During the seven months of rearing, increasing the rainfall caused the alteration of temperature and conductivity of pond water. They influenced the amount of sperm and their motility and so did the eggs development. The males broodstock in separated rearing, each month was found matured sperm, while in mixed rearing, on Februari and March was not found. In female broodstock, none of matured female found during February and March.
PEMISAHAN BAHAN AKTIF IMUNOSTIMULAN DARI DINDING SEL BAKTERIVibrio harveyiiDAN UJI EFEKTIVITASNYA PADA BENIH IKAN KERAPU BEBEK,Cromileptes altivelis Johnny, Fris; Zafran, Zafran; Roza, Des
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.447 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.19-26

Abstract

Suatu percobaan untuk memisahkan bahan aktif imunostimulan dari dinding sel bakteri Vibrio harveyii dan uji efektivitasnya dalam upaya meningkatkan imunitas benih ikan kerapu bebek, Cromileptes altivelis telah dilakukan di Laboratorium Patologi Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol-Bali. Dari dinding sel bakteri Vibrio harveyii telah berhasil dipisahkan dan dikoleksi lipopolisakarida (LPS) setengah murni dan murni. Koleksi LPS selanjutnya dilakukan untuk uji efektivitas pada benih ikan kerapu bebek dengan ukuran panjang total 6—8 cm. Benih ikan kerapu bebek sebanyak 360 ekor dipelihara dalam bak polikarbonat volume 100 L sebanyak 12 bak dengan kepadatan 30 ekor/bak, diinjeksikan secara intra peritoneal imunostimulan hasil pemisahan dengan  dosis sebesar 0,1 mL bakterin/ekor (A); dosis 0,1 mL LPS setengah murni/ekor (B); dosis 0,1 mL LPS murni /ekor (C); dan tanpa perlakuan imunostimulan sebagai kontrol (D). Imunostimulan diberikan setiap 5 hari, dan pada hari ke-10, 20, dan 30 dilakukan koleksi darah untuk pengamatan aktivitas fagositik (PA) dan aktivitas lisozim (LA) dari masing-masing perlakuan. Pada hari ke-30 dilakukan uji tantang dengan menggunakan inokulum VNN. Percobaan dirancang dengan rancangan acak lengkap (RAL) menggunakan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PA, LA, dan sintasan ikan yang diberi perlakuan imunostimulan lebih tinggi dibanding kontrol. Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa imunostimulan yang berasal dari dinding sel bakteri Vibrio harveyii efektif meningkatkan imunitas non-spesifik benih ikan kerapu bebek.A serial of experiments to extract immunostimulant from cell walls of Vibrio harveyii and its effectiveness to stimulate non-specific immunity of juvenile humback grouper Cromileptes altivelis have been conducted in pathology Laboratory of Research Institute for Mariculture, Gondol-Bali. Lipopolysaccaride (LPS) both in pure and crude forms were collected. Formalin-killed Vibrio harveyii (bacterin) was also prepared as an immunostimulant. Thirty juvenile humback groupers 6—8 cm (total length) were intraperitoneally-injected with 0.1 mL/pc of bacterin (treatment A), 0.1 mL crude LPS/pc (treatment B), 0.1 mL pure LPS/pc (treatment C), and without immunostimulant as a control (D). The fish were then reared in 100 L circular polycarbonate tank equipped with aeration system. The immunostimulant were administered every five days, the experiment was arranged in completely randomized design with three replicates. The blood of fish from each group were collected on day 10, 20, and 30 to measure non-specific immune parameters, including phagocytic activity (PA) and lyozyme activity (LA). Result showed that both PA, LA, and survival rate of fish treated with immunostimulants were higher than that of control. It is suggested that bacterin and LPS are potential materials to use as immunostimulants.

Page 1 of 2 | Total Record : 13


Filter by Year

2008 2008


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 1 (2020): Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue