cover
Contact Name
Muhammad Syafar
Contact Email
m.syafar@uinbanten.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alqolam.journal@uinbanten.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
ALQALAM
ISSN : 14103222     EISSN : 2620598X     DOI : -
ALQALAM (e-ISSN: 2620-598X; p-ISSN: 1410-3222) is a journal published by the Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-INDONESIA. ALQALAM is an academic journal published twice a year (every six months). ALQALAM had been accreditated by Ministry of Education and Culture No. 80/DIKTI/Kep./2012, 13 Desember 2012. This journal focuses on specific themes of Islamic Studies.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006" : 8 Documents clear
PERGUMULAN PEMIKIRAN MISTIKO FILOSOFI DI NUSANTARA ABAD 16-18 M Kharlie, Ahmad Tholabi
ALQALAM Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alqalam.v23i2.1498

Abstract

Proses islamisasi di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari keberadaan ajaran dan praktik keberagamaan esoterik yang lazim disebut dengan tasawuf. Ajaran tasawuf, yang cenderung mistis itu, telah menunjukkan kemampuannya dalam menyelaraskan ajaran Islam lewat pranata-pranata budaya yang telah ada dan hidup dalam komunitas. Bahkan, sedemikian erat hubungan di antara keduanya (tasawuf dan islamisasi) sehingga dapat dikatakan bahwa Islam yang kali pertama dikenal di Nusantara adalah Islam (bercorak) tasawuf.Sejalan dengan itu, kehadiran Islam esoterik (terutama yang beraliran falsafi) di Nusantara ternyata menyisakan beberapa problem, mulai dari tataran wacana, ideologis, hingga politis. Paling tidak terdapat empat tokoh sufi yang menjadi pusat perhatian dan secara intens terlibat dalam pergumulan wacana mistiko filosofi, yakni Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin al-Ranin, dan Abdurrauf al-Sinkili. Sedangkan isu sentral yang mencuat dan menjadi perdebatan publik berkepanjangan adalah seputar doktrin wahdah al-wujud atau wujudiyah.
AGAMA DAN TANTANGAN­KEMANUSIAAN KONTEMPORER Hudaeri, Mohamad
ALQALAM Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alqalam.v23i2.1491

Abstract

Wacana keagamaan kembali menguat ketika masyarakat dunia memasuki milenium ketiga. Kesadaran untuk kembali ke agama ini tidak bisa dilepaskan dari krisis modernitas yang - tengah melanda masyarakat. Modernitas disamping mendatangkan kemakmuran material bagi sebagian masyarakat, ternjata juga mengandung berbagai macam paradoks, dehumanisasi dan alienasi.Munculnya berbagai macam penyakit kemanusian ini tidak bisa dilepaskan dari hilangnya ruang spiritual dari kehidupan manusia modem. Akibatnya, modernitas yang selama ini diagung-agungkan, telah menyebabkan manusia menjadi kerdil, kering dan hampa karena kehilangan makna dan tujuan hidup yang hakiki, yang berada pada ranah paling dalam pada diri manusia, yaitu spiritualitas. Untuk itulah agama kembali dilirik sebagai terapi krisis kemanusiaan.Namun demikian, tidak sedikit orang yang meragukan fungsi positif agama sebagai terapi krisis kemanusiaan kontemporer. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa sebagian dari tindakan kekerasan, eksklusivisme dan berbagai pelanggaran nilai-nilai universal kemanusiaan dilakukan atas nama agama: Jadi bagaimana mungkin agama dapat berperan menjadi solusi krisis?.Bagi sebagian cendekiawan dan agamawan, tindakan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan yang diatasnamakan agama tersebut disebabkan oleh sesuatu yang kompleks. Salah satunya adalah ketidakmampuan sebagian pemeluk agama dalam memahami nilai-nilai universal agamanya. Substansi agama telah direduksi oleh pemaham yang sempit dan kepentingan sesaat.Untuk itulah, saat ini, diperlukan adanya rekonstruksi teologis pada setiap agama agar mampu menghadapi tantangan kemanusiaan kontemporer. Dengan demikian, agama dapat memberikan arah, makna dan tujuan hidup pada manusia, serta tampil secara lebih ramah, sejuk, terbuka dan humanis.
MASJID SEBAGAI PUSAT PEMBINAAN REMAJA Fauzi, Anis
ALQALAM Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alqalam.v23i2.1497

Abstract

Masjid merupakan simbol dari perkembangan umat Islam. Jika di suatu tempat ditemukan sebuah bangunan masjid berarti masyarakat sekitar tempat tersebut telah lama beragama Islam. Selanjutnya, di berbagai wilayah pemukiman penduduk (di perkotaan maupun di pedesaan) banyak didirikan masjid-mesjid dengan bentuk bangunan yang mewah. Tetapi, kebanyakan dari masjid-masjid tersebut tidak difungsikan sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW Bahkan sistem manajemen kemasjidan-nya berjalan dengan apa adanya.Jamaah dari sebuah masjid ternyata terdiri atas semua kelompok umur (balita, anak-anak, remaja dan dewasa) dan semua jenis kelamin (pria dan wanita). Namun demikian, kelompok umur jamaah terbanyak adalah kaum remaja (putra dan putri), sehingga dikembangkan pembinaan khusus jamaah kaum remaja.Dalam upaya mengembalikan fungsi masjid sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dan dalam rangka mencapai efisiensi serta efektivitas pelaksanaan pembinaan remaja sebagai jamaah masjid, dengan karakter tertentu, penulis menyimpulkan perlunya dikembangkan pendekatan manjemen yang non­profit yaitu manjemen pendidikan.
PERAN LEKTUR KEAGAMAAN DALAM PEMBERDAYAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Muslihah, Eneng
ALQALAM Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alqalam.v23i2.1496

Abstract

Dalam KBBI bahan bacaan disebut dengan nama lektur. Islam memandangpenting arti membaca, hal ini jelas tercermin pada wahyu pertama Allah yang diawali dengan kata Iqra atau Bacalah. Kata ini mengandung makna dimulai dari membaca fenomena alam sampai membaca materi tertulis.Dalam tulisan ini, penulis hanya akan menekankan pada aspek bahan bacaan saja, karena bahan bacaan berkaitan erat dengan pembaca dan aktivitas membaca yang dilakukannya. Bahkan secara lebih spesifik terfokus pada bahan bacaan (lektur) keagamaan baik klasik maupun modern dan peran yang dimainkannya dalam pemberdayaan pendidikan Islam secara selayangpandang.
KEKUASAAN, KEKERASAN DAN MOBILITAS JAWARA Suhaedi, H S
ALQALAM Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alqalam.v23i2.1495

Abstract

Dalam hirarki sosial, mereka yang memiliki kekuasaan akan menempati posisi paling tinggi pada puncak struktur sosial, seperti Sultan dan para kerabatnya sebagai bangsawan kesultanan Banten. Di bawah mereka adalah golongan elite birokrasi, termasuk pemimpin agama seperti kadi, personil mesjid, dan petugas perawat tempat-fempat suci, golongan Mardika/kaum, golongan utangan hingga munculnya kelompok yang dikenal dengan sebutan jawara .Proses terbentuknya kedudukan, peran dan jaringan sosial jawara di Banten dimulai sejak periode awal berdirinya kesultanan Banten bahkan hingga masa setelah kolonialisme berakhir. Kemampuan dan keunggulannya telah membuat menJadi sosok yang ditakuti sekaligus dikagumi bahkan muncul menjadi tokoh yang kharismatis dan herois, karena kerap muncul sebagai pemimpin sebuah pergerakan sosial.Tulisan ini, berusaha menjelaskan beberapa rumusan yang berkaitan dengan gambaran dinamika struktur sosial masyarakat Banten dan sejauhmana perubahan struktur itu mempengaruhi munculnya jawara sebagai lapisan elite sosial Hal menarik untuk dikemukakan dalam tulisan ini juga adalah: apakah yang menjadi dimensi utama dan bagaimana strategi jawara dalam mengolah mobilitas sosialnya ?.
ANTI-KALAM MOVEMENT AMONG THE SHI'ITES Ali, Mufti
ALQALAM Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alqalam.v23i2.1493

Abstract

Oposisi terhadap kalam dan Mutakallimun diklaim oleh sebagian besar peneliti sejarah teologi sebagai monopoli kaum Sunni (ahl al-sunna wa 'l-jama'a), terutama pengikut Ahmad b. Hanbal. Oposisi tersebut diklaim tidak pernah dilakukan oleh kelompok Shi'ah. Penelitian terhadap dua karya ulama Shi'ah abad ke-15, Ibn al-Wazir al-san'ani, memberikan antitesis (tentatif) yang bisa mengakhiri klaim akan monopoli tersebut. Penelitian terhadap isi, sumber, dan otoritas yang dirujuk Ibn al-Wazir dalam kedua karyanya tersebut membeberkan data baru bahwa kalam dan Mutakallimun mendapat cercaan dari sebagian anggota mazhab Shi'ah.
PENGEMBANGAN FITHROH BERAGAMA Rustiawan, Hafidz
ALQALAM Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alqalam.v23i2.1494

Abstract

Manusia diciptakan Khaliq dalam fithroh ad-din (beragama), fithroh tersebut berkaitan dengan fungsi dan tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah fi al-ardh, yang harus beribadah (mengabdi) kepada Allah SWT. Pengabdian tersebut secara garis besar meliputi hubungan dengan khaliq (verlikal), dan hubungan dengan sesama makhluk (horizontaI) dengan mengikuti aturan yang telah ditentukan oleh khaliq.Untuk mengembangkan fithroh tersebut manusia diperintahkan untuk memperhatikan, memikirkan, memahami dan menghayati penciptaan alam dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di jagat raya, dengan menggunakan hidayah yang diberikan khalik kepada manusia.Dengan memberdayakan hidayah-hidayah tersebut, manusia mampu mengetahui dan meyakini adanya khalik Yang Maha Pencipta (Rab al-Alamin), dengan catatan manusia berada dalam lingkungan alamnyah yang tidak terkontaminasi oieh budaya-budaya terutama oleh lingkungan manusia yang menghambat dan menghalangi proses perkembangan fithroh ad-din.Fithroh ad-din (beragama) tidak hanya sekedar keyakinan terhadap adanya Rab al-Alamin (Tuhan), tetapi juga mencakup kepatuhan terhadap Tuhan, sedangkan cara yang harus diiaukan untuk menunjukkan sikap dan perilaku yang menunjukan kepatuhan tidak dapat dijangkau melaiui hidayah yang ada pada manusia, kecuaii dengan hidayah yang diturunkan (naqli) dari Tuhan melaiui Rasul-Nya. Untuk itulah pendidikan harus dilakukan.
MENGGEMPUR TASAWUF HETERODOKS Saad, Suadi
ALQALAM Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alqalam.v23i2.1492

Abstract

Ajaran wahdat al-wujud (yang dibawa oleh Ibn 'Arabi) membawa konsekwensi bahwa subyek dari semua predikat adalah Tuhan, bahkan sekalipun subyek itu nyata-nyata berbeda, manusia atau non-manusia. Tuhan adalah imanen sekaligus transenden. Sekalipun demikian, doktrin tersebut terus mendominasi spekulasi sufi selama empat ratus tahun sehingga Ahmad Sirhindi menjadikan konsep-konsep dasar serta konsekuensi moral dan keagamaannya sebagai sasaran kritik tajam, dan memunculkan teosofi yang sejajar, yakni, yang dikenal dengan Wahdat al-suhud.Sirhindi melihat bahwa keyakinan akan Wujud Tunggal tidaklah obyektif. Ia adalah sebuah fenomena subyektif Bukti kesubyektifannya terletak pada munculnya ide itu sendiri. Sirhindi bersikap kritis terhadap aspek-aspek tertentu dari ajaran Ibn 'Arabi, tetapi kritik tersebut tidak menghalanginya untuk mengapresiasi kontribusi Ibn 'Arabi terhadap tasawuf secara keseluruhan.Berbagai ''gempuran" yang dilancarkan terhadap Wahdatul Wujud - corak tasawuf yang oleh sebagian ulama dianggap heterodoks - tidak lain adalah upaya purifikasi tasawuf yang ontologis-filosofis menuju kepada tasawuf yang lebih sufistik dan yang tidak mengabaikan syariat.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2006 2006


Filter By Issues
All Issue Vol 36 No 2 (2019): July - December 2019 Vol 36 No 1 (2019): Januari - Juni 2019 Vol 35 No 2 (2018): July - December 2018 Vol 35 No 1 (2018): January - June 2018 Vol 34 No 1 (2017): January - June 2017 Vol 34 No 2 (2017): July - December 2017 Vol 34 No 1 (2017): January - June 2017 Vol 33 No 2 (2016): July - December 2016 Vol 33 No 1 (2016): January - June 2016 Vol 32 No 2 (2015): July - December 2015 Vol 32 No 1 (2015): January - June 2015 Vol 31 No 2 (2014): July - December 2014 Vol 31 No 1 (2014): January - June 2014 Vol 30 No 3 (2013): September - December 2013 Vol 30 No 2 (2013): May - August 2013 Vol 30 No 1 (2013): January - April 2013 Vol 29 No 3 (2012): September - December 2012 Vol 29 No 2 (2012): May - August 2012 Vol 29 No 1 (2012): January - April 2012 Vol 28 No 3 (2011): September-December 2011 Vol 28 No 2 (2011): May - August 2011 Vol 28 No 1 (2011): January - April 2011 Vol 27 No 3 (2010): September - December 2010 Vol 27 No 2 (2010): May - August 2010 Vol 27 No 1 (2010): January - April 2010 Vol 26 No 3 (2009): September - December 2009 Vol 26 No 2 (2009): May - August 2009 Vol 26 No 1 (2009): January - April 2009 Vol 25 No 3 (2008): September - December 2008 Vol 25 No 2 (2008): May - August 2008 Vol 25 No 1 (2008): January - April 2008 Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007 Vol 24 No 2 (2007): May - August 2007 Vol 24 No 1 (2007): January - April 2007 Vol 23 No 3 (2006): September - Desember 2006 Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006 Vol 23 No 1 (2006): January - April 2006 Vol 22 No 3 (2005): September - December 2005 Vol 22 No 2 (2005): May - August 2005 Vol 22 No 1 (2005): January - April 2005 Vol 21 No 102 (2004): September - December 2004 Vol 21 No 101 (2004): May - August 2004 Vol 21 No 100 (2004): January - April 2004 Vol 20 No 98-99 (2003): July - December 2003 Vol 20 No 97 (2003): April - June 2003 Vol 20 No 96 (2003): January - March 2003 Vol 19 No 95 (2002): October - December 2002 Vol 19 No 94 (2002): July - September 2002 Vol 19 No 93 (2002): April - June 2002 Vol 19 No 92 (2002): January - March 2002 Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001 Vol 18 No 88-89 (2001): January - June 2001 Vol 17 No 87 (2000): Oktober - December 2000 Vol 17 No 86 (2000): July - September 2000 Vol 17 No 85 (2000): April - June 2000 Vol 14 No 74 (1998): September - October 1998 Vol 13 No 72 (1998): May - June 1998 Vol 13 No 68 (1997): November - Desember 1997 Vol 13 No 67 (1997): September - Oktober 1997 Vol 13 No 66 (1997): Juli - Agustus 1997 Vol 11 No 63 (1997): Maret - April 1997 Vol 11 No 62 (1996): September - Oktober 1996 Vol 11 No 59 (1996): Maret - April 1996 Vol 11 No 58 (1996): Januari - Februari 1996 Vol 10 No 56 (1995): September - October 1995 Vol 10 No 55 (1995): July - August 1995 Vol 10 No 54 (1995): May - June 1995 Vol 10 No 53 (1995): March - April 1995 Vol 10 No 52 (1995): January - February 1995 Vol 10 No 51 (1994): November - Desember 1994 Vol 10 No 51 (1994): November - December 1994 Vol 10 No 50 (1994): September - October 1994 Vol 4 No 15 (1988): September - October 1988 More Issue