cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 960 Documents
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN DAN DAERAH PENANGKAPAN PANCING ULUR TUNA DI PERAIRAN SENDANG BIRU Agustina, Maya; Jatmiko, Irwan; Sulistyaningsih, Ririk Kartika
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.25.4.2019.241-251

Abstract

Tuna, cakalang dan tongkol (TCT) merupakan jenis hasil tangkapan ikan yang memiliki nilai ekonomis penting dan masih terdapat peluang untuk dimanfaatkan. Salah satu sentra perikanan tuna, cakalang dan tongkol di kawasan Indonesia Barat yang terbesar adalah di Kabupaten Malang tepatnya di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Pondokdadap Sendang Biru. Jenis alat penangkapan ikan yang digunakan oleh nelayan untuk menangkap tuna di perairan ini adalah pancing ulur (handline) yang dioperasikan dengan menggunakan bantuan rumpon. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi sebaran daerah penangkapan (teritorial, ZEE dan laut lepas) dan bagaimana dinamika hasil tangkapannya khususnya tuna, cakalang dan tongkol. Pancing ulur mendominasi alat penangkapan ikan yang digunakan di PPP Pondokdadap, Sendang Biru tercatat sebanyak 70,42%, sedangkan pukat cincin sebanyak 9,82% dan pancing rawai sebanyak 19,76%. Jenis hasil tangkapan pancing ulur terbanyak adalah cakalang dan juwana tuna. Daerah penangkapan nelayan pancing ulur yang berbasis di PPP Pondokdadap, Sendang Biru menyebar pada kawasan perairan dengan batasan antara 8º ? 12º LS dan 108º ? 115º BT atau secara geografis berada di dalam perairan teritorial, ZEE dan di laut lepas. Prosentase hasil tangkapan TCT yang tertangkap pancing ulur berdasarkan wilayah perairan seperti berikut: teritorial sebanyak 0,63%, ZEE sebanyak 78,68% dan di luar ZEE (laut lepas) sebanyak 20,69%. Tuna, skipjack and little tuna are economically important and still has the potential to cathed. One of the fisheries centers tuna, skipjack and little tuna landing site in the western part of Indonesia is in Malang located at Pondokdadap Sendang Biru fishing port. The fishing gear commonly used by Sendang Biru fishermen to catch tuna in the Indian Ocean waters is handline which is operated around FADs. The purpose of this study was to find out information the distribution of fishing areas (territorial, EEZ and high seas) and how the dynamics of the catch especially tuna, skipjack and little tuna. The dominant fishing gear in PP Pondokdadap Sendang Biru is the handline with 70.42%, followed by purse seine 9.82% and longlines 19.76%. The dominant catches caught by handline were skipjack and juvenile of yellowfin tuna. Fishing ground of hand line based in PP Pondokdadap located in waters with boundaries between 8º - 12º LS and 108º - 115ºBT or geographically located in the waters territorial, EEZ and on the high seas. Tuna catches precentage caught by handline in territorial, EEZ and high seas, accounting for 0.63%, 78.68% and 20.69%, respectively. 
UPAYA MEMBANGUN KEMBALI DAN PEMULIHAN STOK IKAN PELAGIS KECIL DI LAUT JAWA Atmaja, Suherman Banon; Nugroho, Duto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.25.3.2019.179-189

Abstract

Tujuan utama makalah ini adalah mengevaluasi kondisi  stok ikan pelagis kecil (dengan ikan layang Decapterus spp. sebagai acuan) sebagai pembangkit ekonomi di pantai Utara Jawa perairan laut Jawa WPPNRI 712. Analisis dilakukan sejalan dengan tren penurunan aktivitas penangkapan kapal pukat cincin yang berpangkalan di Pekalongan Jawa Tengah yang telah berlangsung selama hampir dua dekade. Teori klasik tentang penangkapan ikan mengisyaratkan bahwa pemulihan populasi ikan dapat berlangsung cepat jika penangkapan ikan dihentikan pada rentang waktu tertentu.  Analisis menggunakan pendekatan surplus produksi non-ekuilibrium dengan bantuan perangkat aplikasi ASPIC 7 dan Kobe plot digunakan untuk  memetakan perubahan arah status stok ikan pelagis kecil yang berkaitan langsung dengan perilaku perkembangan perikanan pukat cincin di laut Jawa pada kurun waktu 1976 - 2014.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan drastis baik jumlah armada pukat cincin maupun aktivitas penangkapannya akibat rendahnya peluang keberhasilan dan tingginya investasi operasional hampir dua dekade  telah telah memberikan peluang terhadap pemulihan stok secara alamiah menuju tingkat biomassa optimal.  Pergerakan status biomasa dan mortalitas penangkapan ikan pelagis kecil secara tahunan yang ditampilkan melalui penggunaan Kobe plot memberikan indikasi bahwa kondisi stok ikan setelah tahun 2015 mengarah pada status yang cenderung baik. The main objective of this paper is to evaluate the status and trend of small pelagic fish stocks (Decapterus spp.) as a major driver of economics in north coast of Java correspond to a direct reduction of purse seine fishing activities at around two decades. Classical theory of fishing suggests that rapid population recovery occurs when fishing pressures is reduced. These phenomenons were analyzed by applying non-equilibrium surplus production model incorporate covariance of the programs package of Aspic 7.  Simple Kobe plots were also applied to track the annual trend of stock status directly which presumably related to the course of fisheries development.  The results showed that drastic decline of fishing pressures of both number of purse seine fleet and their activity within the last decade provided an opportunity of stock recovery at optimum biomass levels. Applying simple Kobe plots indicates the stock status and trend in 2015 relatively in rebuilding condition
DISTRIBUSI - KELIMPAHAN DAN HASIL TANGKAPAN CUMI-CUMI DI PERAIRAN PAPARAN SUNDA BAGIAN SELATAN: BERBASIS PADA PERIKANAN JARING CUMI YANG MENDARAT DI MUARA ANGKE DAN KEJAWANAN Suwarso, Suwarso; Zamroni, Achmad; Fauzi, Moh
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.25.4.2019.225-239

Abstract

Perikanan cumi-cumi telah berkembang di Laut Jawa dan Laut Cina Selatan, didukung oleh alat tangkap bouke ami dan cast net dengan armada penangkap skala menengah. Perikanan berkembang sebagai bentuk diversikasi usaha penangkapan beralih target species akibat terjadinya pergeseran trophic level yang berkaitan dengan perubahan ekosistem serta indikasi pergantian populasi dari sumberdaya ?multi-species?. Kajian distribusi, kelimpahan dan hasil tangkapan Cumi-cumi (Loliginidae) di perairan Paparan Sunda bagian selatan didasarkan pada data monitoring oleh enumerator tahun 2018 terhadap alat penangkap cumi-cumi (bouke ami dan cast net), didukung oleh data pendaratan per kapal di TPI Muara Angke (Jakarta) periode 2012-2018 dan TPI Kejawanan (Cirebon) periode 2008-2018. Observasi lapangan ditujukan untuk mendeskripsikan karakteristik armada, alat tangkap dan aspek operasional penangkapan. Hasil menunjukkan daerah penangkapan cumi-cumi di Paparan Sunda bagian selatan tersebar luas di Laut Jawa dan Laut Cina Selatan, tapi lebih terkonsentrasi di perairan selatan Selat Karimata yang ditunjukkan oleh tingginya intensitas penangkapan (54% dari total trip penangkapan). Namun demikian, secara umum kelimpahan cumi-cumi (ditunjukkan oleh indek kelimpahan CPUE dalam Kg/hari) hampir seragam sekitar 113-133 kg/hari, sedang indek kelimpahan (CPUE) dalam Kg/trip terlihat berbeda. Perbedaan nyata juga terlihat dari total hasil tangkapan cumi-cumi dari Selat Karimata yang mencapai 55% dari total pendaratan cumi-cumi dari paparan tersebut. Secara umum sebagai target species cumi-cumi berkontribusi sebanyak 93% dari total hasil tangkapan pada alat penangkap cumi. Trend kenaikan hasil tangkapan cumi-cumi berlangsung hingga saat ini baik di Muara Angke maupun Kejawanan. Dalam komposisi jenis prosentase cumi-cumi juga menunjukkan semakin tinggi pada hasil tangkapan pukat (cantrang). Hal-hal terkait pengelolaan perikanan cumi sebagai diversifikasi usaha penangkapan dan pengalihan target species juga dibahas.Squids fishery had well developed in the Java Sea and the South China Sea, was supported by the bouke ami and cast net that were using the medium scale boats. The fisheries developed as the fishing diversification over the species target as an impact of the tropic level changes correspond to the ecosystem changes and substitution of fish population from ?multi-species? fish resources. Study of distribution, abundance and catch of squid (Loliginidae) in the southern of Sunda Shelf waters was carried out based on daily monitoring data by enumerators (enumeration data) in 2018 of squid fishing gears (bouke ami, cast net and squid fishing) supported by 201 squid landing data at TPI Muara Angke (Jakarta) for the 2012-2018 period and TPI Kejawanan (Cirebon) for the 2008-2018 period. Field observations are intended to describe the characteristics of the fleet, fishing gear and operational aspects of capture. The results showed that the squid fishing area in the southern part of Sunda Shelf was widespread in the Java Sea and the South China Sea, but concentrated in the southern of Karimata Strait as indicated by the high intensity of catch (54% of the total fishing trips). However, in general the abundance of squid (indicated by the CPUE abundance index in kg / day) is almost the same, which is around 113-133 kg / day, while the abundance index (CPUE) in kg / trip looks different. Significant differences were also seen from the total catch of squid from the Karimata Strait which reached 55% of the total squid landings from the Shelf. The catch of squid that occurred until now shows an upward trend, this is as recorded in Muara Angke and Kejawanan. In catch composition, the percentage of squid also showed higher catches on trawlers (cantrang). Matters related to the management of squid fisheries as a diversification of fishing effort and diversion of target species are also discussed.
STRUKTUR UKURAN DAN PARAMETER POPULASI HIU MONYET (ALOPIAS SUPERCILIOSUS LOWE, 1839) DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA SELATAN JAWA Chodrijah, Umi; Prihatiningsih, Prihatiningsih; Panggabean, Anthony Sisco; Herlisman, Herlisman
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.26.1.2020.21-28

Abstract

Alopias superciliosus atau Bigeye Thresher Shark atau hiu monyet  merupakan spesies yang bermigrasi sangat tinggi, bersifat oseanik dan hampir selalu ditemukan di laut tropis dan beriklim sedang.  Spesies ini memiliki fekunditas yang rendah dan tingkat kenaikan populasi yang sangat rendah dibandingkan dengan hiu ?Thresher? lainnya.  Spesies ini sangat rentan terhadap eksploitasi penangkapan  baik sebagai target maupun hasil tangkapan sampingan.  Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2015 sampai November 2016 di tempat pendaratan Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan struktur ukuran dan parameter populasi sebagai landasan untuk mengetahui status stok pada tingkat pemanfaatan terkini. Metode penelitian yang digunakan melalui pengamatan dan  pengumpulan data oleh enumerator.  Hiu  monyet sebanyak 1437 individu  merupakan hasil tangkapan pancing rawai yang tertangkap di Samudera Hindia Selatan Jawa.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur ukuran hiu monyet (Alopias superciliosus) di perairan Samudera Hindia Selatan Jawa yang didaratkan di Cilacap berkisar antara 50-240 cm FL dengan modus berkisar antara ukuran 150 cmFL.  Hubungan panjang berat hiu monyet jantan menunjukkan pertumbuhan bersifat isometrik (b=3) sedangkan hiu monyet betina bersifat allometrik positif (b>3).  Perbandingan jenis kelamin hiu monyet jantan dan betina mendekati seimbang (0,97 : 1). Persamaan kurva pertumbuhan Von Bertalanffy untuk hiu monyet sebagai ?(?) = 270(1??^(?0,2(?+0,01665)). Parameter mortalitas untuk hiu monyet, meliputi laju kematian total (Z), laju kematian alamiah (M) dan laju kematian karena penangkapan (F), masing-masing sebesar 0,85/tahun, 0,35/tahun dan 0,50/tahun. Laju eksploitasi (E) hiu monyet sebesar 0,59/tahun. Dengan demikian tingkat pemanfaatan hiu monyet sudah pada tingkat over fishing.
MODEL PENEBARAN IKAN NILA DI WADUK MALAHAYU, BREBES, JAWA TENGAH Triharyuni, Setiya; Aldila, Dipo; Aisyah, Aisyah; Samhudi, Husnah
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.25.3.2019.161-168

Abstract

Waduk Malahayu merupakan salah satu waduk yang dimanfaatkan untuk perikanan. Kegiatan penangkapan di waduk ini telah lama dilakukan baik oleh nelayan sekitar maupun luar daerah. Saat ini telah terjadi indikasi adanya penurunan produksi sebagai akibat adanya degradasi sumber daya ikan dan lingkungan serta intensitas penangkapan yang tinggi. Diperlukan upaya pengelolaan untuk meningkatkan produksi ikan di Waduk Malahayu. Salah satu upaya tersebut adalah dengan melakukan penebaran ikan secara rutin baik oleh instansi pemerintah maupun nelayan setempat. Salah satu faktor keberhasilan penebaran ikan terhadap peningkatan produksi adalah jumlah padat tebar yang memadai. Akan tetapi, kajian mengenai jumlah padat tebar yang memadai melalui pendekatan model matematis belum banyak dilakukan. Model matematis mampu memperhitungkan aspek lain seperti penebaran kembali dan penangkapan ke dalam satu kajian model holistik dan analitik. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi jumlah benih nila yang sebaiknya ditebar. Kondisi populasi ikan nila digambarkan dengan skenario laju pertumbuhan logistik, dengan pertimbangan adanya penebaran dan penangkapan. Hasil menunjukkan bahwa jumlah benih nila untuk ditebar sehingga dapat meningkatkan produksi adalah sekitar 8 ton/tahun atau setara dengan 533.333 ekor/tahun. Hasil dari kajian ini diharapkan bermanfaat bagi pengelolaan sumber daya ikan di Waduk Malahayu melalui pemulihan sumber daya. Fish stocking has been done as an effort to increase fish stock in Malahayu Reservoir. The need to fish stocking is due to the degradation of environment, fish resources and high exploitation either, lead to the decreasing of fish production on those reservoir. Fish stocking that intensively done by local government and community does not yet give an impact to the increasing of fish production. The amount of stocked seeds by using mathematical model approach has not done yet. Mathematical model approach is able to consider other aspects such as restocking activities and fishing into a holistic and analytical study. The current research aimed to estimate the amount of seed of Tilapia that properly stocked in Malahayu Reservoir. Population condition of Tilapia is described by logistic growth rate scenario, taking into account of stocking and fishing. In effort to increase the production, the amount of Tilapia should be stocked about 8 tonnes/year or 533.333 individuals/year. The results obtained in this research are expected to be beneficial for the management of fish resources in Malahayu Reservoir through stock enhancement. 
ESTIMASI POTENSI DAN TINGKAT PEMANFAATAN SUMBERDAYA LOBSTER PASIR (PANULIRUS HOMARUS) DI PERAIRAN PRIGI KABUPATEN TRENGGALEK Nurfiarini, Amula; Wijaya, Danu
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.25.3.2019.169-178

Abstract

Spiny lobster atau dikenal dengan sebutan udang karang merupakan komoditas perikanan unggulan yang pemanfaatannya cukup intensif di Teluk Prigi, Kabupaten Trenggalek. Sejauh ini informasi mengenai status stok sebagai dasar pengelolaannya masih sangat terbatas. Salah satu pendekatan untuk menduga status stok yang dapat dilakukan adalah dengan penandaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi sumberdaya lobster pasir dan dinamika pemanfaatanya di Perairan Prigi. Metode penelitian menggunakan pendekatan tandai-lepas-tangkap kembali (Capture-Mark-Recapture/CMR), sedangkan analisis potensi lobster mengacu pada Petersen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perikanan lobster termasuk kategori perikanan artisanal (small scale fisheries) yang dijalankan paruh waktu dan dilakukan secara one day fishing. Alat tangkap yang digunakan meliputi; jaring insang (gillnet), krendet (trap net) dan bubu (trap net). Penyebaran lokasi penangkapan di sepanjang tebing pantai berkarang di pesisir Teluk Prigi. Musim puncak penangkapan terjadi pada bulan Oktober-Maret. Karakteristik hasil tangkapan yang didaratkan masih didominasi oleh ukuran larang tangkap yakni mempunyai panjang karapas < 8 cm atau pada kisaran bobot 200-300 g per ekor yang mana proporsi ini mencapai 84,79% dari total tangkapan. Potensi Lobster Pasir di Teluk Prigi adalah 1,19 ton/th dengan tingkat pemanfaatannya baru sekitar 44,53 %. Spiny lobster is a superior fishery commodity that is utilized quite intensively in Prigi, Trenggalek Regency. However information about the status of stocks as a basis for management is still very limited. One approach to estimating stock status that can be done is by marking. This study aims to determine the potential of spiny lobster resources from type of sand lobster, and the dynamics of its utilization in the Prigi Bay waters. The research method uses the Capture-mark-recapture (CMR) approach, while the analysis of lobster stock potential refers to Petersen. The results showed that lobster fisheries were categorized as artisanal fisheries (small scale fisheries) which were run part-time and carried out one day fishing. The fishing gear used includes; net (gillnet), trap net is called as krendet and bubu. Distribution of fishing location along the rugged coastal cliffs on the coast of Prigi waters. The peak for catching season occurs in October-March. The characteristics of the landed catches are still dominated by the no-take size carapace length <8 cm or in the weight range of 200-300 g per tail which reaches 84,79% of the total catch. Sand Lobster Potential in Prigi is 1.19 tons per year with a new utilization rate of around 44,53%.
DINAMIKA PERIKANAN PAYANG DI PERAIRAN UTARA KARAWANG DAN SEKITARNYA Akbar, Mohamad Adha; Patria, Mufti Petala
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.25.4.2019.253-268

Abstract

Perikanan skala kecil terutama perikanan payang merupakan salah satu tulang punggung mata pencaharian masyarakat pesisir di perairan Karawang, Jawa Barat. Peran nyata aktivitas perikanan pada keanekaragaman sumberdaya hayati laut adalah memanfaatkan sumberdaya hayati perairan laut di kawasan pesisir dengan kondisi kelimpahan sumberdaya ikan yang cenderung berfluktuasi pada tingkat yang relatif rendah. Penelitian dilakukan melalui survey lapang pada kurun waktu Agustus ? Nopember 2018 dengan basis data hasil tangkapan dan upaya penangkapan pada rentang waktu 2016-2018. Beberapa data lingkungan terkait ragam keadaan cuaca yang digambarkan oleh data curah hujan, arah dan kecepatan angin digunakan untuk menggambarkan siklus adaptasi nelayan untuk mempertahankan mata pencariannya. Aktivitas penangkapan menggunakan perahu dengan tonase <10 GT dan rerata kekuatan mesin sekitar 20 PK, beroperasi dalam skala harian dengan alat penangkapan ikan utama adalah jaring payang. Perkembangan tahunan indeks kelimpahan sumberdaya ikan dengan alat tangkap payang pada kurun waktu 2004-2008 dan 2015-2018 cenderung menurun. Tahun 2004 nilai indeks kelimpahan sumberdaya ikan sebesar 268 kg/trip menjadi 199 kg/trip pada 2008 dan terus menipis menjadi sebesar 115 kg/trip tahun 2018. Hal ini mengindikasikan usaha perikanan cenderung berada pada kondisi tidak berkelanjutan bila tidak dilakukan pengelolaan. Keberlanjutan usaha perikanan masih dapat diharapkan jika dilakukan perubahan terhadap sistem usaha yang lebih bersifat menjadi gabungan individu perahu yang berukuran kecil menjadi usaha kelompok dengan perahu yang berukuran lebih besar diatas 10 GT dengan daerah penangkapan yang lebih jauh.One day pelagic seine (payang) fisheries, is one of the backbones of coastal community livelihoods in North Karawang waters, West Java. The significant role of fisheries activities to harvest small pelagic fish resource in coastal areas indicated that the monthly CPUE tend fluctuated and stabil at low level. The study was conducted through a field survey in the period August - November 2018 with a database of catches and efforts from 2016-2018. Some environmental data related to various weather conditions illustrated by rainfall data, wind direction and speed are used to describe the adaptation cycle of fishermen to maintain their livelihoods. Fishing activities using boat with tonnage <10 GT and average engine strength of around 20 PK, operating on a daily scale with the main fishing gear is payang net. The average annual catch per trip (CPUE) of payang fisheries within period of 2004-2008 to 2015-2018 tend to decrease. In 2004 the CPUE was 268 kg/trip then 2008 at 199 kg / trip, and continue to lower index in 2018 of 115 kg / trip. This indicates that the fishery business is suspected to be in an unsustainable condition if no sustainable management is carried out. Sustainability of the fisheries business can still be expected if changes are made to the business system which is more a combination of individual small-sized boats into group businesses with boats larger than 10 GT with more distant fishing grounds.
RESPONS RAJUNGAN (PORTUNUS PELAGICUS) TERHADAP WARNA CAHAYA YANG BERBEDA PADA UJI LABORATORIUM Hasly, Intan Roihatul Jannah; Yusfiandayani, Roza; Mawardi, Wazir
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.25.4.2019.215-224

Abstract

Tingkah laku ikan merupakan salah satu pendekatan dasar dalam mengembangkan teknologi penangkapan ikan. Pengetahuan tentang respons tingkah laku menjadi bagian tidak terpisahkan sebagai akibat dari perlakuan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respons rajungan terhadap berbagai warna cahaya dilihat dari proporsi rajungan mendekati cahaya, waktu kedatangan rajungan menuju area lampu dan lama rajungan bertahan di area lampu. Respons rajungan diketahui dari pembagian area yang telah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu starting area, searching area dan finding area. Analisis statistik deskriptif komparatif digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan respons berdasarkan waktu dan jumlah rajungan menuju cahaya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa rajungan memberikan respon untuk menghampiri lampu baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap cahaya. Warna biru, putih dan hijau memberikan respons cepat bagi rajungan untuk datang ke lampu, sementara rajungan bertahan lama dalam cahaya merah, oranye dan ungu. Hasil penelitian ini dapat diterapkan sebagai pertimbangan untuk pengembangan teknologi alat penangkapan rajungan seperti bubu dan jaring insang dasar. Fish behavior is one of the basic approaches in developing fishing technology. Knowledge of responses is a related part of knowing behavior because of the treatment given. This study aims to analyze the response of the blue swimming crab to various colors of light in terms of the proportion of blue swimming crabs that approach light, the time of arrival of the blue swimming crab to the lamp area and the length to survive of blue swimming crab in the area of   the lamp. Crab responses is known from the division of the area that has been divided into three parts, namely the starting area, searching area and finding area. Comparative descriptive statistical analysis is to identify the difference in response based on the time and number of crabs to light. The test results show that the response both directly and indirectly to light. Blue, white and green light color provide the fastest response for crabs to come to the lights, while crabs last long in red, orange light color. The results of this study can be applied as a consideration for the technological development of crab fishing equipment such as traps and bottom gillnet.
PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN TUNA NERITIK DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA (WPPNRI) 573 Widodo, Agustinus Anung; Trihargiyatno, Ignatius; Anggawangsa, Regi Fiji; Wudianto, Wudianto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.26.1.2020.11-20

Abstract

Dalam rangka mendeskripsikan pemanfaatan dan inisiasi pengelolaan perikanan tuna neritik di WPPNRI 573, telah dilakukan penelitian dengan mengambil kasus perikanan tuna neritik berbasis di PPN Prigi-Jawa Timur. Data diperoleh melalui program port sampling pada tahun 2013-2017. Hasil penelitian menunjukkan produksi tuna neritik yaitu tongkol lisong (BLT), tongkol krai (FRI), tongkol komo (KAW), dan tongkol abu-abu (LOT) rata-rata sebesar 8.120 ton per tahun. Dari jumlah tersebut, 99,56% diproduksi melalui perikanan pukat cincin (PS) dan sisanya dari perikanan jaring insang hanyut (dGN), payang (DS), dan pancing tonda-pancing ulur (TR-sHL dan dHL). CPUE nominal PS selama 5 tahun terakhir terus menurun, rata-rata 0,891 ton/hari. Komposisi jenis tangkapan PS meliputi BLT (91,52 %), FRI (6,68 %), KAW (1,78 %) dan LOT (0,01 %). Sebanyak 99% BLT yang tertangkap PS merupakan ikan yuwana, sedangkan FRI, KAW, dan LOT sebagian besar tertangkap pada ukuran dewasa masing sebanyak 73%, 70%, dan 55%. Tuna neritik termasuk spesies peruaya jauh, maka pengelolaannya di WPPNRI 573 harus mengacu pada acuan pengelolaan Indian Ocean Tuna Commission (IOTC). Mengacu hasil Work Party Neritic Tuna (WPNT) IOTC tahun 2016 dan 2018, maka pengelolaan perikanan tuna neritik di WPPNRI 573 berbasis di PPN Prigi adalah sebagai berikut: (1) hingga 2025 jumlah hasil tangkapan BLT dan FRI harus dikendalikan masing-masing pada jumlah 9.818 ton dan 48 ton per tahun; (2) hingga 2023 tangkapan KAW ditetapkan pada jumlah ± 98 ton per tahun (80% jumlah tangkapan tahun 2013); dan (3) hingga tahun 2025 jumlah tangkapan LOT disarankan sama dengan tangkapan 2015 yaitu ± 1.13 ton per tahun. To describe the utilization and management initiation of tuna neritic fisheries in the Indonesian FMA-RI 573, a research has been conducted by taking the case at the Prigi Fishing Port, East Java. Data were obtained through the port sampling program in 2013-2017. Results show that the production of neritic tuna, namely bullet tuna (BLT), frigate tuna (FRI), kawa-kawa (KAW), and longtail tuna (LOT) was 8,120 tons per year on average. 99.56% of the amount were produced by purse seine (PS) fisheries, the rest came from drifting gill nets (dGN), danish-seine (DS), and the combination of trolling line and surface-deep hand line (TR-sHL and dHL) fisheries. The nominal CPUE of PS over the past 5 years has continued to decline, averaging 0.891 tons/day. The composition of PS catches includes BLT (91.52%), FRI (6.68%), KAW (1.78%) and LOT (0.01%). Large numbers (99%) of the BLT caught by PS were juvenile fish, while at the same time FRI, KAW, and LOT were mostly caught at the adult stage. Neritic tuna is a highly migratory species, so its management in the Indonesian FMARI 573 must refer to the Indian Ocean Tuna Commission-IOTC recommendations. Referring to the results of WPNT-IOTC in 2016 and 2018, the management of neritic tuna fisheries in the Indonesian FMA-RI 573 based at Prigi Fishing Port is as follows: (1) up to 2025, the catches of BLT and FRI must be controlled at 9,818 and 48 tons per year, respectively; (2) up to 2023, the catches of KAW are set at ± 98 tons per year (80% of the total catch in 2013); and (3) up to 2025, the catch of LOT is recommended the same as in 2015, which is ± 1.13 tons per year.
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN, MUSIM PENANGKAPAN, DAN INDEKS KELIMPAHAN IKAN PELAGIS YANG TERTANGKAP PUKAT CINCIN MINI DI PERAIRAN KENDARI, LAUT BANDA Hariati, Tuti
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (812.406 KB) | DOI: 10.15578/jppi.17.2.2011.139-146

Abstract

Perairan Kendari dan sekitarnya, bagian dari Laut Banda, memiliki berbagai jenis sumber daya ikan pelagis yang telah dieksploitasi dengan bermacam-macam alat tangkap. Pengelolaan sumber daya ikan perlu dilakukan agar pemanfaatannya optimum dan berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh informasi tentang komposisi hasil tangkapan, musim penangkapan, dan indeks kelimpahan (catch per unit of effort) ikan pelagis yang tertangkap pukat cincin mini (pajeko). Data harian hasil tangkapan pukat cincin dan jumlah hari operasi selama tahun 2006-2008 dikumpulkan dari Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari pada bulan Mei 2007, Maret dan Juni 2009, dan Maret 2010. Data ditabulasi dan disusun grafis menurut bulan. Hasil penelitian menunjukkan, selama periode tahun 2006-2008 hasil tangkapan didominansi ikan layang (Decapterus macrosoma dan Decapterus macarellus) 30-36% dan ikan tongkol (Auxis spp. dan Euthynnus spp.) 60%). Peningkatan jumlah hari operasi (upaya) tahun 2006 2007 menyebabkan hasil tangkapan ikan layang dan tongkol cenderung naik, sedangkan indeks kelimpahan (catch per unit of effort) cenderung tetap. Penurunan upaya pada tahun 2008 menyebabkan hasil tangkapan ikan layang cenderung turun dan hasil tangkapan ikan tongkol cenderung tetap, hasil tangkapan per upaya layang turun namun hasil tangkapan per upaya ikan tongkol naik. Hal ini diduga stok ikan layang di perairan Kendari relatif kecil. Puncak musim penangkapan pajeko di perairan Kendari berlangsung pada bulan Maret sampai Mei (musim peralihan 1) dan pada bulan September sampai Nopember (musim peralihan 2).Kendari waters and its surroundings, a part of Banda Sea, have high diversity of pelagic fishes resources exploited by many types of fishing gear. In order to sustain the resources, a research on a management plan should be applied. Research aimed to obtain the information on the catch composition, fishing season, and index of abundant (catch per unit of effort) small purseine pelagic fish resources was carried out. Daily catch data of the small purse seine landed from years 2006-2008 was gathered from the Kendari Fishing Port, then tabulated graphically. The result shows that the catch of Kendari small purse seine was dominated by scads (Decapterus macrosoma and Decapterus macarellus) 30-36% and little tunas (Auxis spp. and Euthynnus spp.) 60%. The rising of days at sea during 2007 from 2006 made the catch tended to rise, while the catch per unit of effort remainded constant. The decreased of days at sea in 2008 made the catch of scads tended to decrease and the catch of litlle tunas constant. The catch per unit of effort of scads also decreased and of little tuna increased. Probably the scad’s stock in this area is relatively small. The peak of fishing season of the small purse seine happened during March to May (intermoonson 1), and from September to November (intermoonson 2).

Page 1 of 96 | Total Record : 960


Filter by Year

1995 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue