cover
Contact Name
Teguh Ariyanto
Contact Email
teguh.ariyanto@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
teguh.ariyanto@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Rekayasa Proses
ISSN : 1978287X     EISSN : 25491490     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Rekayasa Proses (J. Rek. Pros) is an open-access journal published by Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada as scientific journal to accommodate current topics related to chemical and biochemical process exploration and optimization which covers multi scale analysis from micro to macro and full plant size.
Arjuna Subject : -
Articles 138 Documents
PEMANFAATAN EKSTRAK PROTEIN DARI KACANG-KACANGAN SEBAGAI KOAGULAN ALAMI: REVIEW Kristianto, Hans; Prasetyo, Susiana; Sugih, Asaf Kleopas
Jurnal Rekayasa Proses Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.46292

Abstract

Coagulation and flocculation are commonly used in water and wastewater treatment. Inorganic coagulant such as alum (Al2(SO4)3), ferrous sulphate (FeSO4), and polyaluminium chloride (PAC) are commonly used. These coagulants are known for its effectiveness and simple operation procedure. However, there are some drawbacks such as reduction in pH, potential negative health effect when the treated water is consumed, and large sludge volume. To overcome these problems, utilization of natural coagulants has been proposed. Based on its active coagulating agent, natural coagulant could be divided as polyphenolic, polysaccharides, and protein. Protein from beans and seeds is commonly used as the source of active coagulating agent, due to its effectiveness, availability, and relatively simple pretreatment is needed. Usually the protein is extracted by using 0.5-1 M NaCl solution as globulin is the major protein fraction in beans.The extracted protein could act as cationic polymer to neutralize negatively charged colloids through adsorption-charge neutralization mechanism. Extracted protein could work effectively to treat turbid and waste water with lower cost compared to alum. However, most of existing studies are still focused on small ? pilot scale utilization thus further explorations are still needed.A B S T R A KKoagulasi dan flokulasi merupakan proses yang umum digunakan dalam pengolahan air dan limbah cair. Pada umumnya digunakan koagulan seperti alum (Al2(SO4)3), ferro sulfat (FeSO4), dan polialuminium klorida (PAC). Selain efektif, koagulasi merupakan proses yang relatif sederhana dan mudah diterapkan. Akan tetapi koagulasi dengan koagulan anorganik memiliki beberapa kekurangan seperti menurunnya pH menjadi asam saat digunakan, potensi gangguan kesehatan jika air hasil pengolahan terkonsumsi, serta volume sludge yang dihasilkan relatif tinggi. Penggunaan koagulan alami menjadi alternatif dalam pengolahan air untuk mengatasi berbagai kekurangan tersebut. Berdasarkan bahan aktif koagulannya, koagulan alami dapat dibagi menjadi polifenol, polisakarida, dan protein. Protein dari kacang-kacangan merupakan salah satu sumber koagulan alami yang umum digunakan, karena selain efektif, kacang-kacangan mudah didapat, serta membutuhkan perlakuan yang relatif sederhana, meliputi pengeringan, pengecilan ukuran, ekstraksi, serta purifikasi. Proses ekstraksi kacang-kacangan pada umumnya menggunakan larutan garam NaCl dengan konsentrasi 0,5-1 M, dikarenakan fraksi protein dominan pada protein kacang-kacangan pada umumnya berupa globulin. Protein yang terekstrak berfungsi sebagai polimer kationik yang cocok digunakan untuk mengolah koloid yang bermuatan negatif melalui mekanisme adsorpsi-netralisasi muatan. Pemanfaatan ekstrak protein dapat bekerja efektif untuk mengolah kekeruhan dan air limbah, dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan alum. Akan tetapi pemanfaatannya masih pada skala laboratorium-pilot, sehingga diperlukan pengembangan lebih lanjut untuk isolasi ekstrak serta aplikasinya pada skala industri.
PENGARUH PROSES SWELLING DENGAN SUPERCRITICAL GAS CO2 TERHADAP PENURUNAN ENERGI IKATAN SENYAWA HIDROKARBON VACUUM RESIDUE Ansyory, Deby; Utami, Aditya Retno; Haryati, Sri; Bustan, Muhammad Djoni
Jurnal Rekayasa Proses Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.44784

Abstract

The present study aims to develop technology to utilize a vacuum residue by reducing its density, viscosity and energy bonding, using a batch reactor equipped with CO2 injection gas in the form of a swelling process. The study was conducted by applying temperature varied between 60 and 100 °C and CO2 flux pressure varied between 1 and 5 MPa, respectively. The study of applying temperature and CO2 flux pressure are used to decrease the bond energy of hydrocarbon compounds in the form of solid vacuum residue. Furthermore, a series of reaction time was carried out started in the range of 10-30 minutes to obtain the optimum reaction time. The result showed that at temperature of 100°C, pressure of 5 MPa and variation of time, the density, viscosity, and  decrease in energy bonding (?G) were in the range of 0.919-0.902 g/cm3, 495-166 cSt, and 8.627?6.436 J.s, respectively. A B S T R A KPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi pemanfaatan vacuum residue dengan mengurangi densitas, viskositas dan energi ikatan. Pada penelitian ini digunakan reaktor batch yang dilengkapi dengan gas injeksi CO2 dalam bentuk proses swelling. Penelitian dilakukan dengan menerapkan variasi temperatur  antara 60-100 °C dan tekanan fluks CO2 bervariasi antara 1-5 MPa. Rentang temperatur dan tekanan fluks CO2 yang digunakan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengurangi energi ikatan senyawa hidrokarbon dalam bentuk padatan vacuum residue. Selanjutnya, serangkaian waktu reaksi dilakukan mulai dari 10, 15, 20, 25, dan 30 menit untuk mendapatkan waktu reaksi yang optimum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada temperatur konstan (100 °C), tekanan konstan (5 MPa) dan variasi waktu diperoleh penurunan densitas (0,919?0,902 g/cm3), viskositas (495-166 cSt), dan penurunan energi ikatan (?G) menjadi 8,627?6,436 Js.
STUDI KONDISI OPERASI DALAM PEMISAHAN ASAM LAKTAT DARI PRODUK KONVERSI KATALITIK TANDAN KOSONG SAWIT MELALUI ESTERIFIKASI-HIDROLISIS Sitompul, Johnner Parningotan; Jauhari, Ana Kemala Putri; Gumilar, Gun Gun; Calimanto, Yosandi; Rasrendra, Carolus Borromeus
Jurnal Rekayasa Proses Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.44195

Abstract

Lactic acid is a platform chemical that is usually used to form various chemical products. Nowadays, the need of lactic acid is increasingly high especially for bio-based chemical as a substitute for petroleum-based one. Catalytic chemical conversion is seemingly potential to substitute the bioconversion pathway. This research aims to determine the best operating condition for separating lactic acid from its mixture (the catalytic conversion product of oil palm empty fruit bunch) by esterification-hydrolysis in order to produce the highest yield and purity. The esterification of the mixture was carried out by using n-butanol as a solvent and wet Amberlyst-15 as a catalyst. The esterification process was conducted by reacting n-butanol and lactic acid for 6 hours in a batch reactor. Hydrolysis was then followed by reacting organic phase as an esterification product and water in batch reactor system for 4 hours. The result showed that the higher reactant volume ratio, temperature, and catalyst concentration were used, the higher yield of both esterification and hydrolysis products would be. The highest esterification yield of 98.64%-w/w was achieved when the temperature was at 90oC, with a reactant volume ratio of 4, and the catalyst concentration of 2.5%-w/w. Moreover, the experiment results showed that the highest hydrolysis yield of 98.64%-w/w was achieved by the temperature of 90 oC, the reactant volume ratio of 20, and the catalyst concentration of 2.5%-w/w. It was revealed that the most significant variable for esterification was reactant volume ratio while both reactant volume ratio and temperature become the prominent variables for hydrolysis counterpart. Additionally, another modified method of separation was conducted by applying reactive distillation. This modified process increased the hydrolysis yield up to 82.34%-w/w by using pure butyl lactate as feed while the usage of the catalytic butyl lactate as feed could produce lactic acid with the yield of 74.01%-w/w. A B S T R A KAsam laktat adalah bahan kimia antara yang bermanfaat untuk pembentukan berbagai macam produk kimia. Permintaan asam laktat dewasa ini sangat tinggi terutama sebagai bahan kimia berbasis alam yang digunakan sebagai substitusi untuk penggunaan bahan kimia tak terbarukan. Terdapat banyak alternatif proses yang sudah dilakukan oleh peneliti untuk menemukan metode alternatif yang efektif sebagai pengganti proses fermentasi dan konversi katalitik merupakan proses yang berpotensi untuk diaplikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi operasi yang menghasilkan perolehan asam laktat tinggi pada reaksi esterifikasi-hidrolisis asam laktat dari produk reaksi katalitik tandan kosong sawit menggunakan n-butanol p.a., dan katalis Amberlyst-15 basah. Esterifikasi dilakukan dengan mereaksikan n-butanol dan umpan hasil konversi katalitik tandan kosong sawit selama 6 jam. Hidrolisis dilakukan dengan mereaksikan air dan fase organik esterifikasi selama 4 jam. Hasil menunjukkan semakin tinggi temperatur reaksi, rasio volume reaktan, dan konsentrasi katalis, semakin tinggi perolehan asam laktat esterifikasi dan hidrolisis yang dihasilkan. Perolehan butil laktat tertinggi pada reaksi esterifikasi diperoleh sebesar 98,64%-b/b pada kondisi 90 oC, rasio volume 4 dan konsentrasi katalis 2,5%-b/b. Perolehan asam laktat tertinggi pada reaksi hidrolisis diperoleh sebesar 67,97%-b/b pada kondisi 90 oC, rasio volume 20 dan konsentrasi katalis 2,5%-b/b. Variabel signifikan pada esterifikasi adalah rasio volume reaktan, sedangkan pada hidrolisis adalah rasio volume reaktan dan temperatur. Penggunaan distilasi reaktif pada hidrolisis mampu meningkatkan perolehan asam laktat hingga 82,34%-b/b untuk butil laktat murni sebagai umpan dan 74,01%-b/b untuk butil laktat katalitik sebagai umpan.
PENGARUH MEDAN ELEKTROMAGNETIK TERHADAP DENSITAS DAN VIKOSITAS PADA VACUUM RESIDUE Pramito, Akbar Ismi Azis; Haryati, Sri; Bustan, Muhammad Djoni
Jurnal Rekayasa Proses Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.43599

Abstract

This study tested the effect of electromagnetic field on density and viscosity of vacuum residue from PT. PERTAMINA Refinery Unit III Plaju. The study was conducted using a batch reactor equipped with electromagnetic. The fixed variable in this study is the vacuum residue mass and cracking time, while the variables which are varied are reaction temperature and electromagnetic field. The study was conducted to see the effect of temperatures ranging from 100, 200, 300 and 400oC, and the use of electromagnets with electric currents of 0A, 5A, 10A, 15A and 20A on the density and viscosity of vacuum residue. The experiment compared the effect of the process with electromagnetic field and without electromagnetic field on the density and viscosity of vacuum residue. The results showed that the lowest density (0.874 g/cm3) and viscosity (0.481 cP) were obtained by using 20A electric current electromagnetic field at a temperature of 400oC.A B S T R A KPenelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh medan elektomagnetik terhadap densitas dan viskositas vakum residu petroleum dari PT. PERTAMINA Unit Pengolahan III Plaju. Pengujian dilakukan dalam reaktor-batch yang dilengkapi dengan elektromagnetik. Variabel tetap dalam penelitian ini adalah massa vakum residu dan waktu cracking, sedangkan variabel yang divariasi adalah suhu cracking dan kuat arus listrik elektromagnetik. Studi dilakukan untuk melihat pengaruh suhu mulai dari 100, 200, 300, dan 400oC, serta penggunaan elektromagnet dengan arus listrik sebesar 0A, 5A, 10A, 15A dan 20A terhadap perubahan densitas dan viskositas dari vakum residu. Eksperimen yang dilakukan membandingkan pengaruh proses dengan medan elektromagnetik dan tanpa medan elektromagnet terhadap densitas dan viskositas vacuum residue. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai densitas dan viskositas vakum residu terendah diperoleh pada penggunaan medan elektromagnetik dengan arus listrik 20A pada suhu 400oC yaitu pada nilai denitas sebesar 0,874 g/cm3 dan nilai viskositas sebesar 0,481 cP.
Studi Eksperimental Pengendalian Korosi pada Aluminium 2024-T3 di Lingkungan Air Laut Melalui Penambahan Inhibitor Kalium Kromat (K2CrO4) Wibowo, Waris ; Ilman, Mochammad Noer
Jurnal Rekayasa Proses Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.1893

Abstract

Aluminium paduan seri 2024-T3 banyak digunakan di industri manufaktur seperti pesawat terbang, otomotif, dan kapal laut karena aluminium merupakan logam ringan dan memiliki sifat mekanik yang baik. Namun demikian aluminium paduan 2024-T3 rentan terhadap korosi bila dioperasikan di lingkungan yang korosif, seperti air laut. Salah satu upaya untuk mengendalikan laju korosi adalah dengan penambahan inhibitor. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh inhibitor kalium kromat (K2CrO4) dalam mengendalikan laju korosi Al 2024-T3 di lingkungan air laut. Pada penelitian ini, jenis inhibitor yang dipakai adalah kalium kromat (K2CrO4) yang ditambahkan di media air laut dengan variasi konsentrasi 0,1%; 0,3%; dan 0,5%. Selanjutnya laju korosi diukur dengan menggunakan metode sel potensial tiga elektroda dengan kalomel (Hg2Cl2) jenuh sebagai elektroda baku sedangkan elektroda tambahan digunakan platina (Pt). Sebagai data pendukung dilakukan uji komposisi, uji struktur mikro, uji kekerasan Vickers dan uji tarik. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa laju korosi Al 2024-T3 di media air laut tanpa inhibitor sebesar 0,0216 mm/tahun. Penambahan inhibitor kalium kromat (K2CrO4) cenderung menurunkan laju korosi dan konsentrasi optimum tercapai pada 0,5% K2CrO4 ditandai dengan laju korosi minimum yaitu sebesar 0,0134 mm/tahun atau terjadi penurunan laju korosi sebesar 38%. Bentuk korosi yang terjadi berupa korosi sumuran (pitting corrosion) yang disebabkan karena rusaknya selaput pasif. Pada kasus ini inhibitor berfungsi menutup selaput pasif yang rusak tersebut sehingga dapat menghambat laju korosi. Kata kunci: aluminium paduan, 2024-T3, air laut, korosi , inhibitor, K2CrO4 Aluminium alloy 2024-T3 is widely used in manufacturing industries such as aircraft, automotive and ship industries due to its light weight and good mechanical properties. However, aluminium alloy 2024-T3 is suffered from corrosion attack when it is operated in corrosive environment such as sea water. One of the corrosion control methods is inhibitor addition. The present investigation aimed to study the effect of K2CrO4 inhibitor on controlling corrosion rate in sea water. In this research, K2CrO4 was added to sea water environment with various concentrations, i.e. 0.1, 0.3 and 0.5%. Subsequently corrosion rates were measured using three-electrode potential technique with saturated calomel (Hg2Cl2) electrode as a reference electrode whereas the auxiliary electrode was platinum (Pt). Additional experiments including compositional analysis, microstructural examination, hardness measurement and tensile test were also carried out to gain better understanding to the mechanism in which corrosion attacks aluminium alloy 2024-T3. Experimental results showed that corrosion rate of aluminium alloy 2024-T3 in sea water without inhibitor is around 0.0216 mm/year. The additions of K2CrO4 inhibitor tended to reduce the corrosion rate until a minimum value was obtained, typically 0.0134 mm/year (or 38% decrease) as the amount of K2CrO4 was 0.5%. The type of corrosion observed in this investigation was pitting corrosion as a result of local damage in passive film. Inhibitor seemed to form thin protective film on metal surface hence reducing corrosion rate. Keywords: aluminium alloy, 2024-T3, sea water, corrosion , inhibitor, K2CrO4
Pemanfaatan Abu Sekam Padi pada Ozonisasi Minyak Goreng Bekas untuk Menghasilkan Biodiesel Riadi, Lieke ; Sapei, Lanny ; Kristiani, Yosephine ; Sugianto, Octovania
Jurnal Rekayasa Proses Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.5020

Abstract

Penggunaan abu sekam padi sebagai katalis pendukung pada ozonasi minyak goreng bekas untuk menghasilkan biodiesel dipelajari pada penelitian ini. Ozonasi minyak goreng bekas termasuk proses yang hemat energi dan ramah lingkungan karena menggunakan minyak goreng bekas sebagai bahan baku biodiesel serta suhu reaksi yang relatif rendah yaitu pada suhu kamar. Proses pembuatan biodiesel dilakukan dengan mereaksikan minyak goreng bekas dan metanol dengan bantuan katalis KOH pada sebuah reaktor. Gas ozon dialirkan secara kontinu dalam reaktor berpengaduk pada suhu 30oC dan tekanan atmosfer. Pengaruh penggunaan abu sekam padi sebagai supporting catalyst terhadap konsentrasi metil ester yang dihasilkan dikaji dalam percobaan ini. Abu yang digunakan adalah abu hitam (pemanasan pada 350oC) dan putih (pemanasan pada 750oC) dengan konsentrasi masing-masing sebesar 0,5 ; 1 ; 1,5% (b/b). Produk metil ester dikarakterisasi menggunakan Gas Chromatography untuk mengetahui jumlah metil ester rantai pendek (SCME) maupun metil ester rantai panjang (LCME). Di samping itu, dilakukan juga uji densitas dan viskositas, abu yang digunakan diuji dengan analisa XRD dan BET. Konsentrasi SCME paling tinggi dihasilkan pada variasi abu putih dengan konsentrasi 1,5%. Namun, penambahan abu tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan LCME. Dengan demikian, abu putih lebih berperan sebagai supporting catalyst dibandingkan abu hitam. Kata kunci: biodiesel, minyak goreng bekas, abu sekam padi, proses ozonasi,metil ester rantai pendek,metil ester rantai panjang Biodiesel is one of the alternatives for the shortage of fossil fuel. In this experiment biodiesel from waste cooking oil which is made using an ozonation process was studied. The process is energy extensive and environmentally friendly because of the use waste cooking oil as a raw material and the experiment was carried out at low reaction temperature which is room temperature. Waste cooking oil was reacted with methanol, KOH as the base catalyst, and ozone that was continually flowed into a stirred reactor at 30oC and atmospheric pressure. The effect of rice hulk ash addition as the supporting catalyst on methyl esters concentrations was observed in this experiment. Two different types of ashes were used, namely black (heating at 350oC) and white (heating at 750oC) with the concentrations of 0.5; 1; 1.5% (w/w). Methyl esters products were characterized using GC apparatus for Short Chain Methyl Ester (SCME) and Long Chain Methyl Ester (LCME) concentrations. They were also analyzed in terms of density and viscosity. The ashes were characterized by XRD and BET. The highest amount of SCME was achieved at the white ash concentration of 1.5%. However, the ash additions seemed not significant on the LCME production. Thus, the white ash was more useful as a supporting catalyst than the black one. Keywords: biodiesel, used cooking oil, rice hulk ash, ozonation process, short chain methyl ester, long chain methyl ester
Pengaruh Penambahan Surfaktan Sodium Lignosulfonat (SLS) dalam Proses Pengendapan Nano Calcium Silicate (NCS) dari Geothermal Brine Ulya, M Ridho; Perdana, Indra; Mulyono, Panut
Jurnal Rekayasa Proses Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.28245

Abstract

High concentration of dissolved silica in geothermal brine frequently causes operational problem in production of steam for electric generation.  Mitigation of silica scaling is necessary to reduce the risk of steam production failure. In the present work, silicic acid in Dieng geothermal brine was reduced by introduction of calcium hydroxide that lead to formation of insoluble nano calcium silicates (NCS).The purpose of this work was to control size of the precipitated NCS by introducing surfactant sodium lignosulfonate (SLS) as surfactant in the Ca(OH)2 added geothermal brine. The effect of temperature (30, 50 and 70°C), pH (7, 8 and 9), and surfactant concentration (0.05, 0.15 and 0.30% (w/v)) on the particle size of the resulting NCS was studied to obtain the optimum operating condition. The precipitation-sedimentation behavior of the resulting particles was measured in a vertical tube. Having measured the solid density and solution density and viscosity, average diameter of the precipitated particles was determined using stoke’s principle. The calculated particle size was the compared with measurement result using particle size analyzer (PSA). The soluble silica concentration in the solution was measured using spectroscopy method while composition of the resulting solid particles was measured using EDX and FTIR. Experimental results showed that the dissolve silica in Dieng geothermal brine can be reduced and controlled with the addition of Ca(OH)2 and surfactant SLS. The greater the concentration of surfactant SLS, the smaller the resulting particle size. It was found that the formation of NCS particles was accompanied with precipitation of silica and salts. The optimum condition of NCS formation was at temperature 30°C and pH 9 while the concentration of surfactant SLS added to the brine was 0.3 % (w/v).ABSTRAKKonsentrasi yang tinggi dari kelarutan silika dalam larutan geothermal menyebabkan masalah dalam pengoperasian produksi uap di PLTP Dieng. Mitigasi silika scaling diperlukan untuk mengurangi resiko kegagalan produksi uap. Dalam penelitian ini, asam silika dalam larutan geothermal direaksikan dengan kalsium hidroksida (Ca(OH)2) membentuk n ano calcium silicate (NCS). Tujuan penelitian ini adalah membentuk endapan NCS dari surfaktan SLS dan Ca(OH)2 ke dalam larutan geothermal. Mempelajari perubahan suhu (30, 50 dan 70°C), pH (7, 8 dan 9), dan konsentrasi surfaktan (0,05, 0,15 and 0,30% (w/v) serta mengetahui kondisi optimum. Pengujian yang dilakukan yaitu pengendapan partikel yang dilakukan di gelas ukur vertical, densitas padatan, densitas larutan, viskositas, dan diameter rata-rata partikel yang mengendap ditentukan dari persamaan diameter stokes. Kemudian membandingkan hasil perhitungan dari diameter stokes dengan particle size analyzer (PSA). Konsentrasi silika yang terlarut dapat diukur dengan metode spectroscopy dan komposisi padatan di uji dengan instrumen EDX dan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa silika terlarut dalam larutan geothermal berkurang dan dapat dikontrol dengan penambahan Ca(OH)2 dan penambahan surfaktan SLS. Semakin besar konsentrasi surfaktan maka ukuran partikel akan semakin kecil. Pembentukan NCS dapat dihasilkan dan disertai juga dengan partikel silika dan garam. Kondisi optimum pembentukan NCS terjadi pada suhu 30 oC pH 9 dan konsentrasi surfaktan SLS 0,30 %w/v.
Penentuan Rasio Optimum Campuran CPO: Batubara Dalam Desulfurisasi dan Deashing Secara Flotasi Sistem Kontinyu Aladin, Andi
Jurnal Rekayasa Proses Vol 3, No 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.567

Abstract

Salah satu problem penggunaan batubara Indonesia adalah kandungan sulfur dan abu yang relatif tinggi sehingga dapat berdampak pada kerusakan alat pembakar dan pencemaran lingkungan. Flotasi merupakan salah satu metode untuk mereduksi kandungan sulfur (anorganik) dan abu batubara. Penelitian desulfurisasi dan deashing batubara asal daerah Mallawa (Sulawesi) dilakukan dalam sebuah alat kolom flotasi dengan sistem kontinyu. Diamati beberapa variabel flotasi yang dapat memberikan hasil desulfurisasi yang maksimum, diantaranya adalah variabel rasio campuran surfaktan CPO (Crude Palm Oil) terhadap bahan batubara, dibahas dalam artikel ini. Diperoleh rasio campuran optimum adalah 1:4, berdasarkan kondisi optimum variabel lain yang telah diperoleh sebelumnya yaitu waktu tinggal 60 menit, laju alir udara 1,22 liter/menit, pH 6,5 dan ukuran partikel batubara 169 m. Pada kondisi optimum ini kandungan sulfur batubara dapat direduksi dari 3,3% menjadi 0,93% atau recovery sulfur 72% dan kandungan abu dapat diturunkan dari 11,25% menjadi 9,75% dengan nilai kalor dapat dipertahankan 6000 kkal/kg. Batubara hasil desulfurisasi dan deashing ini telah memenuhi kriteria untuk digunakan sebagai bahan bakar di industri. Kata kunci: abu, sulfur, flotasi, nilai kalor, kontinyu, rasio CPO:Batubara The problem related to the utilisation of Indonesian coal is the high sulphur and ash contents of the coal which may defect the combustor units and pollute the environment. Flotation is one of the methods to reduce the inorganic sulphur and ash in coal. Research on desulphurisation and deashing of coal from Mallawa (Sulawesi) was performed in a continuous flotation column. Variables which give maximum desulphurisation were studied and covered in this article, e.g. mixing ratio of crude palm oil (CPO) surfactant to coal. It was found that optimum mixing ratio of CPO to coal was 1:4, based on optimum conditions previously determined, i.e. resident time of 60 minutes, air flow rate of 1.22 l/min, pH 6.5 and coal particle size of 169 m. In these optimum conditions, the sulphur content was reduced from 3.3% to 0.93% or 72% sulphur recovery, while the ash content was reduced from 11.25% to 9.75%, the calorific value was maintained at 6000 kcal/kg. The desulphurised and deashed coal meets the specification criteria of the industrial fuel. Key words: ash, sulphur, continuous flotation, caloric valve, ratio CPO:coal
Pengolahan Gas CO2 Hasil Samping Industri Amoniak Melalui Gasifikasi Batubara yang Telah dipirolisis dengan Menambahkan Ca(OH)2 Sobah, Saripah ; Sulistyo, Hary ; Syamsiah, Siti
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.4943

Abstract

Gas CO2 merupakan salah satu gas rumah kaca yang dianggap memiliki kontribusi terhadap pemanasan global. Industri amoniak menghasilkan emisi CO2 cukup besar dengan faktor emisi 3,273 ton CO2/ton amoniak. Salah satu upaya untuk mengurangi emisi gas CO2 yang dapat dilakukan adalah mengkonversi gas CO2 menjadi gas sintesis (CO) melalui proses gasifikasi batubara. Gas CO merupakan salah satu bahan baku pembuatan metanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar gas CO2 dapat dikurangi kadarnya melalui proses gasifikasi arang batubara. Reaksi karbon dari arang batubara dengan gas CO2 pada proses gasifikasi merupakan reaksi endotermis dan berlangsung sangat lambat pada suhu di bawah 1000oC sehingga digunakan Ca(OH)2 sebagai katalisator. Proses gasifikasi batubara dijalankan dalam reaktor fixed bed. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gasifikasi arang batubara dengan penambahan Ca(OH)2 pada proses pirolisis dapat mengurangi gas CO2 sampai sebesar 63,17%, sementara untuk gasifikasi tanpa Ca(OH)2 , gas CO2 hanya berkurang sampai 35,2%. Kata kunci: karbondioksida, pemanasan global, gasifikasi, arang batubara, kalsium hidroksida CO2 is one of the greenhouse gases that is considered to cause global warming. Ammonia industry produces emission gas of CO2 in relatively great amount with an emission factor of 3.273 ton CO2/ton ammonia. One of the attempts to reduce CO2 gas emissions is by converting CO2 into syngas (CO) through gasification process. CO is one of the methanol feedstock. This research aimed to find out the amount of CO2 that can be reduced through charcoal gasification process. The reaction of carbon from coal can be reduced through the gasification process. Since the carbon reaction from coal with CO2 gas in the gasification process was an endothermic and occured very slowly at temperatures below 1000°C, Ca(OH)2 was used as a catalyst. The coal gasification process was conducted in a fixed bed reactor. The experimental results showed that coal gasification with the use of Ca(OH)2 in the pyrolysis process could reduce CO2 levels by 63.17%, meanwhile without Ca(OH)2, the CO2 could be reduced only up to 35.2%. Keywords: carbon dioxide, global warming, gasification, charcoal, calcium hydroxide.
Uji Validitas Model Shrinking Core terhadap Pengaruh Konsentrasi Asam Sitrat dalam Proses Leaching Nikel Laterit Wanta, Kevin Cleary; Petrus, Himawan TBM; Perdana, Indra; Astuti, Widi
Jurnal Rekayasa Proses Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.23321

Abstract

Atmospheric pressure acid leaching process is one of nickel laterite processing which has a big potential to be applied in industry. The leaching process is influenced by several factors and one of them is concentration of acid as leachant. The purpose of this present study is to learn the effect of concentration of citric acid  on the use of shrinking core kinetic model. The process was done by varying citric acid concentration at 0.1, 1, and 2 M. The other operation conditions, such as particle size, solid-liquid ratio, temperature, stirring speed, and leaching process were kept constant at 125-150 μm, 0,2 sample mass/volume of acid solution, 85 oC, 200 rpm, and 120 minutes, respectively. The experimental results showed that the higher concentration of citric acid was used, the higher the percentage recovery of nickel was obtained. In addition, the validity test of shrinking core model indicated a positive impact to describe physical phenomenon of leaching process.ABSTRAKProses atmospheric pressure acid leaching merupakan salah satu proses pengolahan nikel laterit yang berpotensi untuk diaplikasikan dalam skala industri. Proses leaching ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya konsentrasi asam sebagai leachant. Studi ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi asam sitrat terhadap penggunaan model kinetika shrinking core dalam proses leaching nikel laterit. Proses leaching dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi asam sitrat sebesar 0,1; 1,0, dan 2,0 M. Kondisi operasi lainnya, seperti ukuran partikel, rasio padat-cair, suhu, kecepatan pengadukan, dan lama proses dijaga konstan pada 125-150 μm, 0,2 massa sampel/volume larutan asam, 85 oC, 200 rpm, dan 120 menit, secara berurutan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi asam sitrat yang digunakan, maka semakin tinggi pula nilai persentase recovery nikel yang diperoleh. Selain itu, uji validitas model shrinking core terhadap data percobaan menunjukkan dampak yang positif dalam mendeskripsikan fenomena fisis proses leaching. 

Page 1 of 14 | Total Record : 138