cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
PAROLE - Journal of Linguistics and Education
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Volume 5 Number 1 April 2015" : 10 Documents clear
TOPONIMI KABUPATEN LAMONGAN (KAJIAN ANTROPOLOGI LINGUISTIK) Camalia, Mahabbatul
PAROLE: Journal of Linguistics and Education Volume 5 Number 1 April 2015
Publisher : Master Program in Linguistics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.53 KB) | DOI: 10.14710/parole.v5i1.74-83

Abstract

Place naming is a form of linkage of language, culture and thought. This study examines the process of Lamongan City naming by finding naming patterns which reflects the values ??and beliefs. In addition, this study also seeks the structure of the mark in naming formation of Lamongan and finds acceptance of Sapir-Worf hypothesis in the process of toponymy of Lamongan. Qualitative descriptive approach and informal data presentation methods was used to process and present expected data. Toponymy of Lamongan is associated with a figure named Hadi, Sunan Giri?s student assigned to guide and lead the Lamongan community. Penamaan suatu tempat merupakan bentuk keterkaitan antara bahasa, budaya, dan pikiran. Penelitian ini berusaha mengkaji proses penamaan Kota Lamongan dengan menemukan pola pemberian nama yang merefleksikan nilai dan keyakinan yang direfeksikan pada nama tempat tersebut. Selain itu, penelitian ini juga berusaha untuk menemukan struktur tanda dalam pembentukan penamaan Kabupaten Lamongan dan menemukan keberterimaan hipotesis Sapir-Worf dalam proses toponimi Kabupaten Lamongan. Pendekatan deskriptif kualitatif dan metode penyajian data informal digunakan untuk mengolah dan menyajikan data yang diharapkan. Toponimi Lamongan sangat berkaitan dengan sosok yang bernama Hadi, murid Sunan Giri yang ditugaskan untuk membimbing dan memimpin masyarakat Lamongan.
APLIKASI PRINSIP KESANTUNAN OLEH ANAK KETIKA BERARGUMEN DENGAN ORANG TUA: STUDI KASUS TINDAK PERSUASI AP KETIKA PERMINTAANYA DITOLAK Prihantoro, Prihantoro
PAROLE: Journal of Linguistics and Education Volume 5 Number 1 April 2015
Publisher : Master Program in Linguistics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.021 KB) | DOI: 10.14710/parole.v5i1.12-25

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan prinsip kesantunan yang digunakan anak ketika berargumen dengan orang tuanya.  Data diperoleh secara purposif pada anak bernama AP yang psikogramnya menunjukan keunggulan dalam ranah logika dan linguistik. Data lisan dikumpulkan dalam rentang waktu satu bulan dengan metode observasi dan difokuskan pada argumentasi AP atas penolakan dari permintaanya. Setelah disortir terdapat 124 penolakan dan 97 kali argumentasi. Prosedur analisis data adalah memadankan tuturan penolakan dengan teori kesantunan dari Leech (1983). Dari hasil analisis, lebih dari 80% argumentasi AP parallel dengan tact maxim.  Ini menunjukan bahwa dalam argumentasi persuasifnya, ia berusaha untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan kerugian pada orang lain, tidak dirinya sendiri. This study is aimed at describing the application of politeness principle by a child when arguing with her parent. The data is obtained purposively on a 5 years old girl named AP, where her psikogram shows that she excels in logic and linguistic. Speech data is collected within a month by observation method. Data selection shows 124 refusals and 97 arguments. I consulted the data to Leech (1983) politeness principles. It shows that more than 80% of AP?s argumentation complies with tact maxim
EXAMINING STUDENTS’ NEEDS FOR ENGLISH AS REQUIRED COURSE IN DIPONEGORO UNIVERSITY Wulandari, Dwi
PAROLE: Journal of Linguistics and Education Volume 5 Number 1 April 2015
Publisher : Master Program in Linguistics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.867 KB) | DOI: 10.14710/parole.v5i1.84-94

Abstract

This study is aimed at finding out what students need in taking English as required course, what students want to learn, and how they want to learn. The data were taken from 500 questionnaires distributed to students. The data revealed that most of the students do have positive attitude in learning English, and because of this the students have more chances to take the best of their learning. However, as most of the students also take English because they are required to do so, there are also some factors that may discourage learners? motivation in learning, i.e. materials selection, and teaching methods. Kajian ini ditujukan untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh mahasiswa dalam mengambil mata kuliah MKDU Bahasa Inggris, secara spesifik untuk mengetahui materi apa yang mereka ingin pelajari, dan bagaimana mereka ingin mempelajarinya. Data diambil dari kuesioner yang disebarkan pada 500 mahasiswa. Analisis data menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki sikap bahasa yang positif  dalam mepelajari Bahasa Inggris, dan oleh karenanya mahasiswa memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengambil keuntungan terbesar dari perkuliahan tersebut. Namun demikian, karena sebagian besar mahasiswa mengambil mata kuliah tersebut karena kewajiban, ada beberapa hal yang menyurutkan motivasi mahasiswa, yakni pemilihan materi, dan metode mengajar dosen  Bahasa Inggris.
FRONT MATTER VOLUME 5 NUMBER 1 APRIL 2015 Suharno, Dr.
PAROLE: Journal of Linguistics and Education Volume 5 Number 1 April 2015
Publisher : Master Program in Linguistics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1229.266 KB) | DOI: 10.14710/parole.v5i1.%p

Abstract

VARIETY USING OF ADDRESS FORMS IN JAPANESE SOCIETY IN PERSPECTIVE OF SOCIOLINGUISTICS AND ANTHROPOLOGICAL LINGUISTICS mangga, stephanus
PAROLE: Journal of Linguistics and Education Volume 5 Number 1 April 2015
Publisher : Master Program in Linguistics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.636 KB) | DOI: 10.14710/parole.v5i1.67-73

Abstract

Every social and cultural community has its own appropriate ways and forms to address someone. Addressing someone in appropriate way is a sign of respect and honorific. This paper describes various uses of address forms in Japanese society. Japanese society has four address forms in common: ?chan, ?kun, ?san, and ?sama forms. They are related to social dimensions: social distance scale, status scale, and formality scale. In addition, background of various uses of the forms in perspective of sociolinguistics and anthropological linguistics is thought as reflection of cultural aspects which exist in Japanese society.  Those are politeness-deference aspects, seniority-junior aspects, and insider-outsider aspects. Finally, there are two major findings of this study: (1) various uses of address forms in Japanese society and cultural relation to social dimensions, (2) various uses of address forms in Japanese society and Japanese culture as a reflection of cultural aspects. Setiap komunitas sosial dan budaya memiliki cara-cara dan bentuk-bentuknya sendiri untuk memanggil seseorang. Memanggil seseorang dengan cara yang tepat adalah sebagai tanda penghargaan dan penghormatan. Penelitian ini adalah tentang perbedaan penggunaan bentuk panggilan dalam masyarakat Jepang. Secara umum, masyarakat Jepang memiliki empat bentuk panggilan yaitu ?chan, -kun, -san, dan ?sama. Perbedaan dalam menggunakan bentuk tersebut dikaitkan dengan dimensi sosial contohnya skala jarak sosial, status sosial, dan formalitas. Sedangkan dalam perspektif sosiolinguistik dan linguistik antropologi, latar belakang perbedaan dalam menggunakan bentuk-bentuk sapaan adalah sebagai refleksi aspek budaya yang ada dalam masyarakat Jepang seperti aspek-aspek kesopanan-penghargaan, aspek-aspek senioritas-junioritas, dan aspek-aspek ke dalam dan ke luar. Dari penelitian ini didapat dua temuan utama: (1) perbedaan dalam menggunakan bentuk-bentuk sapaan di masyarakat Jepang dan budaya yang berkaitan dengan dimensi social, (2) perbedaan dalam menggunakan bentuk-bentuk sapaan dalam masyarakat dan budaya Jepang sebagai refleksi aspek budaya.
KEUNIKAN TUTURAN HALUS BASA SEMARANGAN SEBAGAI SALAH SATU BENTUK KESANTUNAN BERTUTUR PADA MASYARAKAT JAWA PESISIR Suryadi, M.
PAROLE: Journal of Linguistics and Education Volume 5 Number 1 April 2015
Publisher : Master Program in Linguistics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.219 KB) | DOI: 10.14710/parole.v5i1.1-11

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri keunikan tuturan halus basa Semarangan. Sisi keunikan yang dibidik adalah perilaku penutur Jawa-Semarang sebagai masyarakat pesisir dalam menempatkan leksikon leksikon krama inggil pada tuturan halus, sebagai cermin adab santun. Penelitian melalui pendekatan sosiolinguistik ini memanfaatkan metode deskriptif kontekstual sebagai alat untuk menganalisis data. Piranti yang digunakan adalah komponen tutur yang berwujud (1) penutur, (2) mitra tutur, (3) situasi tutur, (4) tujuan tutur, dan (5) pokok tuturan. Temuan penelitian berupa fitur keunikan tuturan halus basa Semarangan. Fitur tersebut berseberangan dengan kaidah yang berlaku pada bahasa Jawa standar. Dua fitur yang ditemukan meliputi (1) Leksikon krama inggil selain dikenakan kepada mitra dapat juga dilekatkan pada diri penutur, dan (2) Leksikon krama inggil meskipun melekat pada diri penutur tetap digunakan untuk  menghormati mitra tutur. This research aims at showing the uniqueness of tuturan halus basa Semarangan. The uniqueness can be seen from the way the users place the lexical item of krama inggril in their tuturan halus as the reflection of politeness behavior. With sociolinguistic approach, I used contextual descriptive method to analyze the data based on the following speech components: (1) speaker, (2) hearer, (3) situation, (4) purposes, and  (5) topic. The result shows that there are some features of tuturan halus basa Semarangan which violate standard Javanese. The features are as follows. (1) The lexical item of  krama inggil can be attached not only to the hearer but also to the speaker him/herself; and (2) eventhough the lexical item attached to the speaker him/herself it can be used to respect the hearer.
BACK MATTER VOLUME 5 NUMBER 1 APRIL 2015 Suharno, Dr.
PAROLE: Journal of Linguistics and Education Volume 5 Number 1 April 2015
Publisher : Master Program in Linguistics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.388 KB) | DOI: 10.14710/parole.v5i1.%p

Abstract

MAKNA BAHASA PROPAGANDA DALAM WACANA (SPANDUK DAN BALIHO) TUNTUTAN OTONOMI KHUSUS PROVINSI KALIMANTAN TIMUR (KAJIAN SEMIOTIK) Kusno, Ali
PAROLE: Journal of Linguistics and Education Volume 5 Number 1 April 2015
Publisher : Master Program in Linguistics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.636 KB) | DOI: 10.14710/parole.v5i1.40-49

Abstract

The study aims to analyze the use of propaganda discourse of  special autonomous province of East Kalimantan. Propaganda using the power of manipulation and deception message dazzling as a means of negotiation with the aim of convincing people to embrace a stream, attitude, or direction of certain actions. Framework in this study primarily using semiotic Roland Barthes. The method used in this study is semiotics Barthes with devices on denotative, connotative, and myths. Data of this research is the use of language on banners and billboards special autonomy Kaltim. Meaning of the first and second generate a third meaning that as one of the East Kalimantan province in Indonesia's rich natural resources. Penelitian bertujuan untuk menganalisis penggunaan bahasa propaganda wacana otonomi khusus Provinsi Kaltim. Propaganda menggunakan manipulasi dan daya tipuan pesan yang mempesona sebagai sarana negosiasi dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini utamanya menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika Barthes dengan perangkat mengenai denotatif, konotatif, dan mitos. Data penelitian ini berupa penggunaan bahasa pada spanduk dan baliho otonomi khusus Kaltim. Makna pertama dan kedua menghasilkan makna ketiga bahwa Kalimantan Timur sebagai salah satu Provinsi di Indonesia yang kaya sumber daya alam.
PELANGGARAN KESOPANAN BERBAHASA DALAM KOMUNIKASI POLITIK PADA PEMILIHAN GUBERNUR SULAWESI SELATAN 2013 Yusri, Yusri
PAROLE: Journal of Linguistics and Education Volume 5 Number 1 April 2015
Publisher : Master Program in Linguistics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.637 KB) | DOI: 10.14710/parole.v5i1.26-39

Abstract

This study aims at describing the violations of the politeness principles committed by the South Celebes governor candidates in 2013 and their factors. This is qualitative research with a pragmatic approach. The data are a written record of the utterances of the South Celebes governor candidates, which violates the maxim of politeness principles. The data were taken from the largest print media in South Celebes, namely the Daily Dawn and East Tribune during the last 4 months including April, May,  June,  and July before the governatorial election. The result shows that the violation mostly happens to the maxim of simplicity.  The modesty may arise when the opponents  violating the maxim. It is to respond or denigrate the other political opponents who are trying to improve their image by praising themselves. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelanggaran kesopanan berbahasa yang dilakukan oleh calon gubernur Sulawesi Selatan dalam komunikasi politik menjelang pemilihan gubernur 2013 serta faktor- faktornya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Data  penelitian ini ialah data tertulis tuturan para calon gubernur Sulawesi Selatan yang tidak sesuai dengan prinsip kesopanan berbahasa. Sumber data adalah media cetak terbesar di Sulawesi Selatan, yakni Harian Fajar dan Tribun Timur yang terbit selama 4 bulan terakhir, yaitu: April, Mei, Juni dan Juli sebelum pemilihan gubernur.  Hasil analisis menunjukkan bahwa 1) sebagian besar pelanggaran terjadi  pada  maksim kesederhanaan dan 2)  pelanggaran terjadi karena kandidat lainnya juga melanggar. Tuturan itu berfungsi untuk menanggapi ataupun berusaha menjatuhkan lawan politiknya yang  mencoba meningkatkan citranya  dengan memuji dirinya sendiri.
WISDOM VALUESIN THE BANJARESE PROVERBS Farid, Rezqan Noor
PAROLE: Journal of Linguistics and Education Volume 5 Number 1 April 2015
Publisher : Master Program in Linguistics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.051 KB) | DOI: 10.14710/parole.v5i1.50-66

Abstract

This study is aimed to reveal parts of Banjarese proverbs which contain wisdom values, to find kinds of wisdom values represented through the Banjarese proverbs, and to reveal social contexts influencing the producing and interpreting process of the proverbs. The data of this study are gathered and selected from several literatures of Banjarese which are then analyzed using critical linguistics.  The results of this study show that the parts which contain the wisdom values of the Banjarese people are the clues of interpretation. The wisdom values are also related to the good and the bad behaviours of Banjarese people. It is also found that Islam, as the religion followed by the majority of the Banjarese people, influences the Banjarese culture and Banjarese proverbs. Studi ini bertujuan untuk mencari tahu bagian mana saja dari peribahasa bahasa Banjar yang mengandung nilai kerarifan, menemukan bentuk nilai kearifan didalamnya, dan mengetahui apakah terdapat suatu konteks social yang mempengaruhi proses pembentukan dan penginterpetasian peribahasa itu sendiri. Data dalam studi ini dirangkum dari beberapa literatur yang ditulis oleh orang Banjar sendiri yang dipilih dengan alasan hanya literatur tersebut lah yang tersedia pada waktu studi ini dibuat. Data tersebut kemudian dianalisa dengan metode linguistic kritis. Studi ini menunjukkan bagian dari peribahasa Banjar yang cenderung mengandung nilai kearifan adalah penanda interpretasi. Hasil studi ini juga menunjukkan nilai kearifan dalam peribahasa Banjar terkait dengan sikap yang tidak patut ditiru dan sikap yang pantas untuk diikuti. Dan diasumsikan juga bahwa agama islam, yang terhitung sebagai agama yang dipeluk mayoritas penduduk Banjar, ternyata memiliki pengaruh terhadap kebudayaan dan peribahasa Banjar.

Page 1 of 1 | Total Record : 10