cover
Contact Name
asep miftahudin
Contact Email
donztsm@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
bagas.afyad@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta utara,
Dki jakarta
INDONESIA
The Indonesian Journal of Infectious Diseases
ISSN : 23546077     EISSN : 25991698     DOI : -
The Indonesian Journal of Infectious Disese (IJID) is a peer-reviewed journal published by RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso. It specializes in infectious disease : emerging disease, new emerging disease issues and tropical medicine). IJID has been published twice a year in Indonesian since 2013 and started from 2018 IJID will be fully published in Open Journal System (OJS).
Arjuna Subject : -
Articles 54 Documents
Efektivitas Pemberian Edukasi Berbasis Audiovisual dan Tutorial Tentang Antiretroviral (ARV) Terhadap Kepatuhan Pengobatan pada Pasien HIV/AIDS di Klinik Teratai Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Tahun 2016 Fresia, Sinta
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 3, No 2 (2016): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : The Indonesian Journal of Infectious Diseases

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.664 KB) | DOI: 10.32667/ijid.v3i2.35

Abstract

Abstrak Latar Belakang : Terjadinya peningkatan jumlah pasien HIV/AIDS dan rendahnya kualitas hidup pasien HIV/AIDS menimbulkan masalah yang cukup luas pada individu yang terinfeksi yakni masalah fisik, social dan emosional.Untuk meningkatkan kualitas dan harapan hidup pasien HIV/AIDS harus mendapatkan terapi Antiretrovirus (ARV) seumur hidup dan dibutuhkan pengawasan terhadap kepatuhan minum obat.Oleh karena itu pasien HIV/AIDS membutuhkan edukasi untuk meningkatkan kepatuhan minum obat dengan metode terbaru yaitu tutorial dan audiovisual.Tujuan penelitian ini untuk menganalisa perbedaan efektivitas pemberian edukasi berbasis audiovisual dan tutorial tentang ARV terhadap kepatuhan pengobatan pasien HIV/ AIDS. Metode : Penelitian ini menggunakan desain Quasi eksperimental dengan rancangan pretest-posttes design without control group.Jumlah sampel 27 responden dibagi 3 kelompok dengan 3 perlakuan berbeda.Masing-masing 9 responden diberikan edukasi dengan metode audiovisual, tutorial, audiovisual dan tutorial.Penelitian dilakukan di Klinik Teratai Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada bulan Mei-Juni 2016. Hasil : Ada perbedaan rata-rata mean kepatuhan edukasi dengan audiovisual 2,444, (Pvalue=0,003, 95% CI=1,107-3,782), edukasi dengan metode tutorial perbedaan mean 1,556 (Pvalue=0,023, 95% CI=1,274-2,837), edukasi dengan audiovisual dan tutorial didapatkan perbedaan mean 3,667 (Pvalue=0,003, 95% CI=1,670-5,664). Kesimpulan : Terdapat perbedaan yang significant rata-rata kepatuhan pada masing-masing kelompok intervensi edukasi.Kombinasi edukasi berbasis audiovisual dan tutorial memberikan hasil yang paling baik. Abstract Background : An increasing number of patients with HIV/AIDS and low quality of life of patients with HIV/AIDS cause considerable problems in individuals infected area.There are physical, social and emotional problems.To improve the quality of life of receive antiretroviral (ARV) therapy for life.This requires adherence and supervision taking medication. There fore urgently needed education to improve adherence with the latest audiovisual and tutorial methods. The purpose of this research is to analyze the difference effectiveness of education based audiovisual and tutorial method on ARV treatment adherence with HIV/AIDS patients.Methods : This research use quasi experimental design with pretest and posttest without control group. The numbers of sample in this research is 27 sample. Responden group divided into three different education methode. 9 responden in audiovisual methode,9 responden in tutorial methode and 9 responden in audiovisual and tutorial methode. The study was conducted at the Clinic Teratai Hasan Sadikin Hospital in May-June, 2016. Results : There is a diference in average adherence. In audiovisual methode mean 2,444 (Pvalue=0,003, 95% CI=1,107-3,782), tutorial methode 1,556(Pvalue=0,023, 95% CI=1,274-2,837), audiovisual and tutorial methode mean 3,667 (Pvalue =0,003, 95% CI=1,670-5,664).Conclusion : There is a significant difference in the average adherence in difference methode.Especially in audiovisual and tutorial methode. The combination of audiovisual and tutorial-based education gives the best results
Profil Pasien Suspek Resistensi Ganda Tuberkulosis HIV/AIDS di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun 2012 Agustina, Pompini; Rahmawati, Huda; Rusli, Adria; Sundari, Titi; Bagus Sila Wiweka, Ida
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 3, No 1 (2016): THE INDONESIAN JOURNAL OF INFECTIOUS DISEASES
Publisher : The Indonesian Journal of Infectious Diseases

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.777 KB) | DOI: 10.32667/ijid.v3i1.26

Abstract

AbstrakLatar belakang : Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis terutama menyerang paru. Laporan World Health Organization (WHO) menuliskan pada umumnya hanya sedikit orang yang terinfeksi TB menjadi sakit TB namun pada orang dengan HIV/AIDS yang terinfeksi TB banyak menjadi sakit TB. Resistensi terhadap Obat Anti Tuberkulosa (OAT) menjadi salah satu masalah penting dalam pengobatan TB. Ketersediaan obat yang ampuh tetapi tidak diberikan dengan baik menimbulkan masalah resistensi termasuk Resistensi Ganda (RG)/ Multidrug Resistant (MDR).Metode : Penelitian ini mempunyai desain deskriptif potong lintang menggunakan data yang sudah direkapitulasi dari case report form (CRF). Sampel penelitian ini adalah pasien suspek resistensi ganda TB pada HIV. Kriteria inklusi adalah semua pasien usia > 15 tahun dengan HIV TB Paru BTA positif atau negatif kasus baru, kasus kambuh, kasus putus obat, gagal terapi (suspek resistensi ganda) yang berobat ke Instalasi rawat jalan maupun Instalasi rawat inap RSPI Prof Dr. Sulianti Saroso. Sampel berjumlah 21 orang pasien suspek resistensi ganda TB HIV/AIDS periode Maret – Desember 2012 di RSPI Prof dr Sulianti Saroso. Hasil disajikan ke dalam bentuk tabel distribusi frekuensi kemudian dianalisis secara univariat.Hasil : Secara keseluruhan kelompok pasien suspek resistensi ganda TB HIV/AIDS paling banyak didapatkan pada usia 15-35 tahun sebesar 18 orang (85,7%), sebanyak 7 orang (33,33%) bekerja dengan pekerjaan sebagai karyawan, tingkat pendidikan paling banyak Sekolah Menengah Atas berjumlah 15 orang (71,4%) dan faktor risiko pasien paling banyak dari seks bebas dengan jumlah 13 orang (61,9%), Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan jumlah CD4 pasien cenderung rendah yaitu CD4 <100 sel/μL berjumlah 18 orang (66,7%), sementara jumlah limfosit paling banyak antara 15 % sampai 40 % sebanyak 10 orang (47,6%).Kesimpulan : Profil pasien suspek resistensi ganda TB HIV/AIDS RSPI Prof dr Sulianti Saroso pada kelompok usia produktif dengan faktor risiko utama adalah seks bebas dan kondisi sistem kekebalan tubuh buruk.
Gambaran Karakteristik Pasien dan Mekanisme Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) Pada Kasus Gigitan Hewan di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun 2014-2016 wariyah, wariyah; Hoer, Jamiatul; Arifah, Farah Ghina; Maemun, Siti; Murtiani, Farida; Kurniastuti, Nursanti
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 4, No 2 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : The Indonesian Journal of Infectious Diseases

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.062 KB) | DOI: 10.32667/ijid.v4i2.57

Abstract

Latar Belakang : rabies adalah suatu penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia melalui gigitan hewan penular rabies (GHPR). Rabies berakibat fatal jika post-exposure prophylaxis (PEP) tidak diberikan sebelum pasien mengalami gejala berat. Tujuan kajian ini memperoleh gambaran karakteristik pasien dan mekanime pemberian vaksin anti rabies (VAR) pada pasien GHPR di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso tahun 2014-2016. Metode : kajian menggunakan desain studi deskriptif dengan pendekatan kuantitatif terhadap data rekam medis pasien suspect rabies. Jumlah sampel yang diperoleh sesuai kriteria inklusi sejumlah 39 kasus yang diambil secara random. Hasil : Karakteristik pasien mayoritas perempuan 203 kasus (51.39%), kelompok umur dewasa 213 kasus (53.92%), tidak bekerja 251 kasus (63.54%) dan berdomisili di DKI Jakarta 337 kasus (85.32%). Kelompok gigitan hewan sebagian besar adalah kelompok hewan penular rabies (HPR) 341 kasus (86.3%) dengan kriteria luka gigitan kategori luka 2 sebanyak 275 kasus (69.6%), dan di area kaki sebanyak 172 kasus (43.54%), mendapatkan PEP awal dalam waktu ≤ 24 jam 329 kasus (83.3%) dan  menyelesaikan jadwal PEP hingga kunjungan VAR 3 sebesar183 kasus (46,33%). Kesimpulan : Dari 395 kasus sebagian besar kasus HPR dengan luka gigitan kategori 2 dengan lokasi gigitan di kaki, pemberian PEP < 24 jam dan menyelesaikan hingga kunjuangan VAR 3
Analisis Hubungan Faktor Lingkungan Fisik Terhadap Keberadaan Jumlah Nyamuk Aedes Aegypti di Kota Bandung sarwita, obin
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 4, No 1 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : The Indonesian Journal of Infectious Diseases

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.905 KB) | DOI: 10.32667/ijid.v4i1.45

Abstract

Latar belakang : Penyakit dengue sampai saat ini belum dapat dikendalikan dengan baik. Transmisi virus dengue ke manusia disebabkan oleh interaksi yang kompleks dan dinamis oleh beberapa faktor diantaranya lingkungan fisik, biologi dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkungan fisik dengan keberadaan nyamuk Aedes aegypti penyebab penyakit dengue di Kota Bandung. Metode : Penelitian ini merupakan studi ekologi dangan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bangunan rumah di Kota Bandung. Besar sampel sebanyak 160 rumah yang terpilih dengan multistage random sampling. Data keberadaan jumlah nyamuk diperoleh dari alat perangkap nyamuk yang dipasang di 16 kelurahan. Analisis bivariat menggunakan korelasi rank spearman, uji man whitney dan kruskal walis. Analisis multivariate menggunakan regresi zero inflated poisson. Hasil : Luas ventilasi, kepadatan hunian, jumlah baju menggantung, kelembaban udara dan suhu udara tidak berkorelasi dengan jumlah nyamuk Aedes aegypti, sedangkan penampungan air positif jentik positif jentik memiliki korelasi positif dan signifikan terhadap jumlah nyamuk Aedes aegypti (p=0.017). Hasil analisis menggunakan regresi Zero Inflated Poisson, ,tidak ada variabel yang signifikan dengan nilai p>0,05 dan nilai AIC=360. Kesimpulan: Ada korelasi positif dan signifikan antara tempat penampungan air positif jentik dengan jumlah nyamuk Aedes aegypti. Analisis dengan model zero inflated poisson tepat digunakan pada penelitian ekologi dimana observasi dengan nilai nol lebih banyak ditemukan. 
Profil Kadar CD4 dan Lokasi Infiltrat Paru Pada Pasien Tuberkulosis dengan HIV di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Periode Januari 2004 - Maret 2017 Rusli, Adria; Lisdawati, Vivi; Banggai, Christine Ernita; Sumiadji Putrantoro, Raden Dwi; Agoestien, Oldriane; Suliati, Suliati; Pakki, Temmasonge Radi; Lestari, Putriana Indah
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 4, No 2 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : The Indonesian Journal of Infectious Diseases

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.722 KB) | DOI: 10.32667/ijid.v4i2.51

Abstract

Latar belakang: Diagnosis secara dini dan akurat sangat penting bagi perawatan dan pengendalian tuberkulosis (TB) pada orang dengan HIV. Keterlambatan diagnosis menyebabkan perkembangan penyakit tuberkulosis makin progresif. Studi ini bertujuan memperoleh gambaran lokasi infiltrat paru pada pasien tuberkulosis dengan HIV berdasarkan kadar CD4. Gambaran data klinis ini dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi penyempurnaan standar prosedur operasional identifikasi dini keparahan infeksi TB pada pasien HIV di rumah sakit. Metode: Studi menggunakan disain potong lintang dengan analisis deskriptif data sekunder pasien ko-infeksi TB-HIV di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, periode Januari 2004-Maret 2017. Hasil: Sejumlah 318 sampel pasien TB dengan HIV menunjukkan terdapat 92,14% pasien TB-HIV memiliki kadar CD4<200 sel/µL. Berdasarkan lokasi anatomi infeksi dan kadar CD4 didapatkan juga bahwa 172 pasien (54,09%) merupakan pasien TB Paru dengan CD4<200 sel/µL, dan dari pasien tersebut bila dilihat hasil pemeriksaan radiologi toraks-nya sejumlah 159 pasien (92,44%) mengalami infiltrat paru pada lokasi selain apeks.  Kesimpulan: Pada pasien TB paru dengan HIV yang mempunyai CD4 < 200, lokasi infiltrat parunya lebih dominan di bagian selain apeks. Hasil ini dapat dijadikan bahan studi lanjut untuk membantu identifikasi dini pasien ko-infeksi TB-HIV dengan mempertimbangkan hasil pemeriksaan CD4 dan rontgen thoraks
Peran Sistem Tata Udara dalam Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Di Ruang Isolasi Airborne RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun 2017 Sundari, Titi
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 4, No 1 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : The Indonesian Journal of Infectious Diseases

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.671 KB) | DOI: 10.32667/ijid.v4i1.56

Abstract

Latar belakang : Sistem tata udara di ruang isolasi dirancang untuk mengurangi/menghilangkan penyebaran agen infeksius dengan cara menciptakan ruangan yang bertekanan negatif dan pergantian udara >12 Air Change per Hour (ACH) serta menggunakan hepafilter. Studi ini bertujuan menilai sistem tata udara ruang isolasi RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso dalam rangka pencegahan dan pengendalian infeksi yang disebabkan oleh airborne diseases. Metode : Studi cross sectional menggunakan data hasil pengukuran volume dan pergantian udara pada 11 kamar isolasi. Pengukuran dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada awal dan setelah waktu pemeliharaan berkala. Data dianalisis mengacu pada standar nasional dan internasional. Hasil : Data volume udara pada pengukuran I, dikoridor: 585,89 M3; anteroom I-XI : -8,52 s/d 49,07 M3; kamar pasien I-XI: 0,1 s/d 11,65 M3; toilet -214,55 s/d -10,29 M3. Data pengukuran II, volume udara dikoridor: 259,32 M3; anteroom I-XI : 4,53 s/d 18,13 M3; kamar pasien I-XI: 0,24 s/d 11,65 M3; toilet -69,15 s/d -30,11 M3. Aliran udara mengalir dari ruang dengan volume tinggi menuju ke ruang dengan volume lebih rendah. Data pergantian udara pada pengukuran I, kamar pasien I-XI: 6,2 s/d 12,8 ACH. Data pengukuran II, kamar pasien I-XI: 12,11 s/d 12,99 ACH. Pengendalian infeksi semakin efektif dengan pergantian udara > 12 ACH. Kesimpulan : Sistem tata udara berperan penting dalam pencegahan dan pengendalian infeksi di ruang isolasi airborne. Hal ini perlu ditunjang dengan pemeliharaan dan pemeriksaan berkala agar besaran volume, pertukaran dan aliran udara sesuai standar
Efektivitas Uji Kontaminan Melalui Peluruhan Gas CO2 Terhadap Ruang HCU Isolasi Airborne di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Sundari, Titi; Lisdawati, Vivi; Jahiroh, Jahiroh; Zunaidi, Ehwan; Indrawanto, Deki; Murtiani, Farida; Montain, Maya Marinda; Pakki, Temmasonge Radi
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 4, No 2 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : The Indonesian Journal of Infectious Diseases

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.572 KB) | DOI: 10.32667/ijid.v4i2.55

Abstract

Latar belakang : Kualitas udara ruang isolasi  dapat diketahui melalui pengujian sistem tata udara, salah satunya menggunakan gas karbon dioksida (CO2) yang diasumsikan sebagai kontaminan udara. Waktu yang dibutuhkan untuk meluruhkan konsentrasi CO2 sebesar 6000 ppm pada suatu ruang tertutup dengan luas maksimal 46 m2 (500 ft2) adalah 15-20 menit dengan pertukaran udara sebesar 12 ACH. Tujuan studi ini untuk mengetahui besaran tingkat pembersihan kontaminan udara, pergantian udara serta efektivitas ventilasi, filterasi dan resirkulasi udara pada ruang isolasi airborne melalui metode peluruhan CO2. Metode : Uji eksperimental terhadap ruang HCU isolasi airborne di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso pada bulan Oktober 2017 menggunakan gas CO2 yang disemburkan sejumlah 5127 ppm. Hasil dibaca oleh alat pengukur emitter dalam tiap 30 detik selama 30 menit atau sampai nilai konsentrasi CO2 awal (baseline) tercapai. Algoritma konsentrasi CO2 dianalisis regresi linier. Hasil : Waktu yang dibutuhkan untuk meluruhkan konsentrasi CO2 dari 5127 ppm menjadi besaran konsentrasi semula/baseline sebesar 51 ppm adalah 27 menit (0,4 jam). Pergantian udara sebesar 10,1 ACH. Efektivitas ventilasi dan filterasi udara di ruang HCU sejumlah 84.16%. Persamaan garis regresi yang dihasilkan  (Algoritma peluruhan CO2) Y = 8.332 -10.067X . Kesimpulan : Besaran tingkat pembersihan kontaminan udara  di ruang HCU isolasi airborne  RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso menunjukkan hasil yang cukup baik dengan durasi pembuangan berkisar 27 menit dan pergantian udara sebesar 10,01 ACH, yang berarti bahwa efektivitas ventilasi, filterasi dan resirkulasi udara di ruang HCU sebesar 84,16%.
Surveilans Pasif dan Aktif Kejadian Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan di RSUD Provinsi NTB, 2017 Wardoyo, Eustachius Hagni
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 4, No 1 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : The Indonesian Journal of Infectious Diseases

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.114 KB) | DOI: 10.32667/ijid.v4i1.43

Abstract

Pendahuluan: Surveilans Health-care Associated Infections (HAIs) atau kejadian infeksi terkait pelayanan kesehatan dapat dilakukan baik secara aktif maupun pasif sesuai sumber daya yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan mengetahui insidensi dan perbandingan hasil surveilans pasif dan aktif 4 jenis HAIs di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat periode Januari-Oktober 2017. Empat jenis HAIs tersebut adalah Ventilator-associated Pneumonia (VAP), Catheter-associated Urinary Tract Infection (CAUTI), Central Line-associated Blood Stream Infection (CLABSI) dan Surgical Site infection (SSI). Metode: Surveilans pasif menggunakan data sekunder dengan menelusuri rekam medis, sedangkan surveilans aktif berdasarkan laporan Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Hasil: Tidak ada perbedaan indikator yang digunakan dalam form VAP dan CLABSI pada surveilans pasif dan aktif. Namun pada form CAUTI dan SSI tidak mencantumkan gejala infeksi dan gejala panas di lokasi infeksi pada surveilans aktif. Perbandingan hasil surveilans pasif dan aktif berturut-turut adalah VAP 24,9 dan 0 per 1.000 ventilator days, CAUTI 49 dan 12 per 1.000 catheter days, CLABSI 18 dan 9 per 1.000 central line days, serta SSI 1,9 dan 1,4%. Kesimpulan: Ada perbedaan insidensi keempat jenis HAIs pada surveilans pasif dan aktif, karena penggunaan metodologi yang berbeda.
Faktor Intrinsik yang Berhubungan dengan Keberhasilan Pengobatan Tb Paru banowati, marni; Parwati, Ida; Sukandar, Hadyana; Ruslami, Rovina; Alisjahbana, Bachti; Wahyudi, Kumia
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 4, No 2 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : The Indonesian Journal of Infectious Diseases

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.467 KB) | DOI: 10.32667/ijid.v4i2.48

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang telah menginfeksi hampir sepertiga penduduk dunia. Indikator yang digunakan sebagai evaluasi pengobatan yaitu angka keberhasilan pengobatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi hasil pengobatan pada pasien baru TB Paru BTA positif dan faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan TB Paru di Puskesmas Kota Bandung. Metode: Penelitian analitik-kuantitatif dengan rancangan cross sectional prospektif. Sampel dalam penelitian ini pasien baru TB paru BTA positif pada triwulan ke empat yaitu bulan Oktober, November dan Desember 2016 dari sepuluh Puskesmas di Kota Bandung yaitu UPT. Puskesmas Puter, Garuda, Ujungberung Indah,  Sukajadi, Kopo, Ibrahim Adji, Arcamanik, Mohammad Ramdan, Salam, dan Antapani. Besar sampel 77 responden yang diambil dengan teknik multistage random sampling. Analisa bivariabel dengan uji chi square. Hasil : Angka keberhasilan pengobatan TB pada fase intensif 64% (IK 95%: 73,2%-89,9%); sedangkan pada fase lanjutan sebesar 94,8% (IK 95%: 87,4%-98,0%). Berdasarkan analisis bivariabel yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan TB paru  adalah jumlah BTA pada pengamatan bulan ke-2 (p: 0,05) dan status HIV pada pengamatan bulan ke-5 (p: 0,007). Kesimpulan: jumlah BTA dan status HIV berhubungan dengan keberhasilan pengobatan TB Paru di Puskesmas Kota Bandung.
Perubahan Jumlah CD4 Setelah Enam Bulan Pertama Terapi Antiretroviral di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Rahayuni, Sri
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 4, No 1 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : The Indonesian Journal of Infectious Diseases

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1438.557 KB) | DOI: 10.32667/ijid.v4i1.42

Abstract

Latar belakang: Pemberian ARV dapat mengoptimalkan outcome klinis ODHA. Di Indonesia, informasi tentang efek terapi ARV setelah 6 bulan pertama terhadap perubahan jumlah CD4 masih terbatas. Penelitian bertujuan mengidentifikasi perubahan jumlah CD4 setelah 6 bulan pertama pemberian jenis ARV Kombinasi Obat Terpisah (KOT) dan Kombinasi Dosis Tetap (KDT) di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso periode Januari 2014-Maret 2017. Metode: Desain penelitian adalah kohort retrospektif, jumlah sampel 154, terdiri dari 87 ODHA yang mendapatkan KOT dan 87 KDT. Pengambilan sampel secara consecutive sampling dengan sumber data rekam medis. Setelah data terkumpul, dilakukan analisis univariat, bivariat menggunakan uji Chi Square, dan multivariat dengan regresi logistik. Hasil: Dari 87 yang mendapatkan KOT, 26 (29,9%) CD4 menurun/tetap dan 61(70,1%) meningkat. Sedangkan yang mendapatkan KDT, 3 (3,4%) CD4 menurun/tetap dan 84 (96,6%) meningkat. Pada ODHA yang adherence juga mengalami peningkatan CD4. Ada hubungan yang bermakna pemberian jenis ARV dan adherence dengan perubahan CD4 (p<0,05). Risiko penurunan CD4/tetap 11 kali lebih tinggi pada ODHA yang mendapatkan KOT daripada KDT (95%CI=2,98-41,61), sedangkan risiko penurunan CD4/tetap 6 kali lebih tinggi pada ODHA yang tidak adherence (95%CI=2,10-16,14). Kesimpulan: Perubahan jumlah CD4 dipengaruhi oleh penggunaan ARV KOT atau KDT  dan juga adherence.