cover
Contact Name
Azwinur
Contact Email
polimesin@pnl.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
polimesin@pnl.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Jurnal POLIMESIN
ISSN : 16935462     EISSN : 25491199     DOI : -
Jurnal POLIMESIN is an peer-reviewed journal that publishes original and high-quality research papers in all areas of mechanical engineering. The editorial team aims to publish high quality and highly applied research and innovation that has the potential to be widely disseminated, taking into consideration the potential mechanical engineering that it could generate. Jurnal Polimesin is publish twice a year in February and August.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 17, No 1 (2019): Polimesin" : 7 Documents clear
Perancangan Alat Bantu Untuk Proses Penggantian Track Shoe Pada Unit Excavator PC200-8 Effendi, Riki; Rasma, Rasma; Purwono, Hendro
Jurnal POLIMESIN Vol 17, No 1 (2019): Polimesin
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v17i1.816

Abstract

Bengkel cabang Jakarta banyak melakukan perawatan undercarriage untuk unit tipe crawler yang salah satunya adalah track shoe. Proses penggantian track shoe dilakukan oleh 4 orang  mekanik dengan tools air impack yang memiliki efek kebisingan dan getaran yang tinggi. Pada proses itu di nilai kurang efisien dan tidak aman karena banyak memerlukan mekanik dan memberikan efek kesehatan yang tidak baik. Pekerjaan penggatian track shoe memakan waktu yang cukup lama dan berpengaruh pada biaya yang dikeluarkan. Dengan adanya inovasi pembuatan alat bantu pada saat proses penggantian track shoe bisa lebih efisien. Terdapat alat bantu lainnya yang di nilai lebih efisien dan aman yaitu dengan menggunakan hydraulic torque wrench tetapi untuk menggunakan alat bantu ini diperlukan penahan sedangkan pada tools kit hydraulic torque wrench tidak terdapat penahan. Dengan adanya alat bantu maka proses penggantian track shoe hanya membutuhkan 2 orang mekanik saja dan mencegah terjadinya keruskan berulang dalam waktu dekat pada komponen track shoe. Keamanan bagi mekanik menjadi lebih baik karena tidak ada suara bising dan getaran yang timbul akibat proses penggatian track shoe. Terjadi peningkatan pendapatan setelah menggunakan alat bantu ini dari Rp.3.200.000 menjadi Rp.5.300.000. Durasi penggantian track shoe lebih cepat dibandingkan tanpa menggunakan alat bantu ini dan berpetensi dapat digunakan oleh satu orang mekanik setelah dilakukan pengembangan lebih lanjut. Kata Kunci: track shoe, hydraulic torque wrench, penahan, efisien, aman    AbstrackThe Jakarta branch workshop carries out undercarriage maintenance for crawler type units, one of which is the track shoe. The track shoe replacement process is carried out by 4 mechanics with air impack tools that have high noise and vibration effects. In the process, the value is less efficient and unsafe because many require mechanics and provide bad health effects. The work on turning the track shoe takes a long time and affects the costs incurred. With the innovation of making tools during the process of replacing the track shoe, it can be more efficient. There are other tools that are rated more efficiently and safely by using a hydraulic torque wrench but to use this tool a barrier is needed while in the kit tools the hydraulic torque wrench has no barrier. With the help of a tool, the process of replacing the track shoe only requires 2 mechanics and prevents recurrence of damage in the near future on the track shoe component. Security for the mechanics is better because there is no noise and vibrations that arise due to the process of turning the track shoe. There was an increase in income after using this tool from Rp.3,200,000 to Rp.5,300,000. Track shoe replacement duration is faster than without using this tool and the potential can be used by one mechanic after further development. Keywords: track shoe, hydraulic torque wrench, holder, efficient, safety
Pengaruh Masukan Panas Proses Pengelasan Terhadap Sifat Mekanik Baja AISI 1045 Suatu Kajian Analitis Dan Analisa Numerik Hamdani, Hamdani -
Jurnal POLIMESIN Vol 17, No 1 (2019): Polimesin
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v17i1.827

Abstract

Pada penelitian ini sembilan buah benda uji pelat baja AISI 1045 dilas dengan pengelasan SMAW  dengan tiga variasi arus,tegangan, dan kecepatan pengelasan, yaitu 80 A, 90 A, dan 100 A. Voltase pengelasan 20 V, 25 V, dan 28 V. Kecepatan pengelasan 2 mm/detik, 3 mm/detik, dan 4 mm/detik. Untuk masing-masing variasi diuji sebanyak tiga spesimen. Kemudian hasil pengelasan dipreparasi sehingga membentuk spesimen uji tarik standar JIS Z 2201 No 14A. Kemudian dilakukan pengujian tarik untuk mengamati distribusi tegangan dan kekuatan tarik pada spesimen uji. Spesimen hasil pengujian kemudian dianalisis dengan metode numerik menggunakan program ANSYS. Analisa tegangan dilakukan dengan memberikan beban sesuai dengan hasil pengujian tarik. Simulasi dilakukan dengan memasukkan efek masukan panas dan temperatur pada daerah HAZ. Hasil pengujian eksperimental  menunjukkan bahwa masukan panas proses pengelasan mempengaruhi sifat mekanik baja AISI 1045. Masukan panas yang besar menghasilkan kekuatan tarik yang rendah. Parameter masukan panas dengan arus 80 A, tegangan 20 V, kecepatan pengelasan 2 mm/dtk menghasilkan kekuatan tarik sebesar 428 MPa. Semua spesimen yang diuji tidak putus pada daerah lasan, ini menandakan bahwa sambungan las dengan elektroda yang digunakan dan parameter pengelasan yang diberikan menghasilkan kekuatan sambungan yang baik. Terdapat perbedaan antara tegangan hasil pengujian dengan simulasi sebesar 4,1%, hal ini disebabkan antara lain adalah faktor geometri, pembebanan dan mesh. Kata kunci: SMAW, masukan panas, pengujian, simulasi, kekuatan tarik   AbstrackIn this study nine pieces of AISI 1045 steel plate were welded by welding SMAW with three variations of current, voltage, and welding speed, namely 80 A, 90 A, and 100 A. Welding voltage 20 V, 25 V, and 28 V. Speed welding 2 mm / sec, 3 mm / sec, and 4 mm / sec. For each variation three specimens were tested. Then the welding results are prepared so that they form a standard JIS Z 2201 No 14A tensile test specimen. Then a tensile test is performed to observe the stress distribution and tensile strength of the test specimen. The test specimens are then analyzed by numerical methods using the ANSYS program. Voltage analysis is carried out by giving a load according to the results of tensile testing. Simulation is done by entering the effect of heat and temperature input on the HAZ region. The experimental results show that the heat input of the welding process affects the mechanical properties of steel AISI 1045. Large heat input results in low tensile strength. The heat input parameter with a current of 80 A, a voltage of 20 V, a welding speed of 2 mm / sec produces a tensile strength of 428 MPa. All specimens tested did not break up in the weld area, this indicates that the welded joints with the electrodes used and the given welding parameters produced good joint strength. There is a difference between the test result voltage and the simulation of 4.1%, this is due to, among others, geometry, loading and mesh factors. Keywords: SMAW, heat input, testing, simulation, tensile strength
Analisa Pengaruh Perlakuan Alkalisasi Dan Hydrogen Peroksida Terhadap Kekuatan Mekanik Komposit Serat Sabut Kelapa Bermatriks Epoxy Zulkifli, Zulkifli; Dharmawan, Ida Bagus
Jurnal POLIMESIN Vol 17, No 1 (2019): Polimesin
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v17i1.844

Abstract

Komposit polimer dengan serat alam sangat  ramah lingkungan  karena  mampu  terdegradasi secara alami dan juga harga serat alam pun  lebih  murah  dibandingkan  bahan serat sintetis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan NaOH pada serat sabut kelapa terhadap kekuatan mekanik material komposit yang diperkuat serat sabut kelapa. Adapun tahapan pada penelitian ini yaitu (1) perendaman serat sabut kelapa pada larutan NaOH dengan konsentrasi 10%, 15%, dan 20%, selama 2 jam, (2) mencuci serat sabut kelapa yang telah direndam dengan menggunakan larutan H2O2 dengan konsentrasi 3% selama 1 jam, (3) serat sabut kelapa dikeringkan di dalam kamar pada temperature kamar sekitar 300C selama 7 hari, (4) pembuatan material komposit dengan metode press molding, (5) melakukan pengujian tarik sesuai standar ASTM D-638. Hasil dari penilitian ini yaitu pengaruh perlakuan NaOH dengan konsentrasi larutan 15% pada serat sabut kelapa menunjukkan nilai tegangan tarik yang paling optimal yaitu sebesar 23.497 MPa dan nilai regangannya sebesar 3.918% pada material komposit, hal ini disebabkan oleh ikatan interface antara serat dan matrik menjadi lebih kuat sehingga tegangan dapat terjadi secara merata, sebelum terjadi patah pada material komposit. Kata kunci:  komposit, serat sabut kelapa, NaOH, H2O2, kekuatan mekanik. AbstractComposite polymers with natural fibers are very environmentally friendly because they can be degraded naturally and also the price of natural fibers is cheaper than synthetic fiber. This study aims to determine the effect of NaOH treatment on coconut fiber on the mechanical strength of coco fiber reinforced composite materials. The stages in this study are (1) soaking coco fiber in NaOH solution with a concentration of 10%, 15%, and 20%, for 2 hours, (2) washing coconut coir fibers that have been soaked using H2O2 solution with a concentration of 3% for 1 hour, (3) coconut coir fibers are dried in the room at room temperature around 300 C for 7 days, (4) making composite materials using the press molding method, (5) carrying out tensile testing according to ASTM D-638 standard. The results of this research are the effect of NaOH treatment with a concentration of 15% solution on coconut fiber shows the most optimal tensile strength of 23,497 MPa and the strain value is 3,918% in composite materials, this is due to the bonding between fibers and matrices strong so that stress can occur evenly, before a composite material breaks. Keywords: composite, coconut fiber, NaOH, H2O2, tensile strength.
Sistim Pengeringan Ikan Dengan Metode Hybrid Hatta, Muhammad; Syuhada, Ahmad; Fuadi, Zahrul
Jurnal POLIMESIN Vol 17, No 1 (2019): Polimesin
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v17i1.666

Abstract

Sistem Pengeringan dengan metode hybrid merupakan sistem pengeringan yang menggunakan dua atau lebih sumber energi untuk proses penguapan air. Pengering hybrid pada penelitian ini menggunakan sumber energi matahari dengan bantuan solar kolektor dan energi bahan bakar gas. Penelitian ini merupakan alternatif teknologi untuk kasus pengeringan ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan temperatur udara panas ruang pengering hybrid, melakukan optimalisasi waktu pengeringan dan menghitung kadar air pada ikan. Penelitian ini dilakukan di halaman Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala. Hasil pengukuran temperatur tertinggi ruang pengering tanpa bahan/ikan dengan menggunakan kolektor surya adalah 43 oC dengan intensitas cahaya matahari tertinggi 915 W/m2, setelah menggunakan metode hybrid temperatur tertinggi ruang pengering dengan kondisi ada bahan/ikan meningkat sampai 67 oC dengan intensitas cahaya matahari tertinggi 908 W/m2. Pengeringan menggunakan energi hybrid relatif lebih singkat yaitu 8,5-13 jam sedangkan pengeringan secara tradisional membutuhkan waktu selama 3 hari dengan kondisi cuaca cerah dan intensitas cahaya matahari yang tinggi. Tingkat penguapan kadar air mencapai 30,25% - 38,18 % untuk ikan karang/ikan kakap merah, dan 53,30% - 57,13% untuk ikan teri. Kata kunci: Pengering Hybrid, Kadar Air, Temperatur, Kolektor Surya dan Energi Bahan Bakar Gas. AbstractDrying System with hybrid method is a drying system that uses two or more sources of energy for the evaporation process of water. Hybrid dryers in this study use solar energy sources with the help of solar collectors and gas fuel energy. This research is an alternative technology for cases of drying fish. The purpose of this study is to increase the heat temperature of the hybrid drying chamber, to optimize the drying time and calculate the moisture content of the fish. This research was conducted in the laboratory of the Faculty of Engineering of Syiah Kuala University. The highest temperature measurement of the drying room without materials/fish using solar collector was 43 oC with the highest solar light intensity of 915 W/m2, after using hybrid method the highest temperature of drying chamber with the condition there was fish/ingredients increased up to   67 oC with the highest sun light intensity is 908 W/m2. Drying uses hybrid energy was relatively shorter 8.5-13 hours while drying traditionally takes 3 days with sunny weather conditions and high sunlight intensity. The rate of water vaporization reached 30.25% - 38.18% for lutjanus campechanus, and 53.30% - 57.13% for stolephorus commersonii, Lac.).  Keywords : Hybrid Dryer, Water Content, Temperature, Solar Collector and Energy Fuel Gas.
Studi Pengaruh Variasi Kuat Arus Terhadap Sifat Mekanik Hasil Pengelasan GTAW Alumunium 1050 Dengan Filler ER 4043 Rahmatika, Amelia; Ibrahim, Setiani; Hersaputri, Megarini; Aprilia, Ely
Jurnal POLIMESIN Vol 17, No 1 (2019): Polimesin
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v17i1.731

Abstract

Industri manufaktur di Indonesia sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan industri manufaktur sangat erat kaitannya dengan proses penyambungan logam melalui teknik pengelasan. Material Aluminium dan paduannya adalah salah satu jenis logam yang banyak digunakan dalam industri karena memiliki beberapa keunggulan sifat, diantaranya adalah ringan dan memiliki ketahanan korosi yang baik. Namun kelemahan material ini yaitu sukar untuk dilas. Penentuan parameter las sangat penting dalam proses pengelasan. Kuat arus las merupakan salah satu parameter proses pengelasan yang akan mempengaruhi sifat mekanik hasil lasan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sifat mekanik sambungan las Aluminium 1050 menggunakan paramater kuat arus dengan variasi nilai kuat arus yaitu 125 A, 150 A, dan 175 A. Metode pengelasan yang diterapkan pada penelitian ini adalah pengelasan GTAW dengan ER 4043 sebagai logam pengisinya. Pengujian kekuatan tarik dan pengujian kekerasan telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi kuat arus terhadap sifat kekuatan tarik dan kekerasan pada sambungan lasan. Berdasarkan pengujian tarik, kekuatan tarik tertinggi dicapai pada kuat arus 125 A dengan nilai 81,8 MPa. Hasil pengujian mikro Vickers menunjukkan bahwa nilai kekerasan pada daerah lasan selalu lebih besar dibandingkan nilai kekerasan di daerah HAZ dan logam induk untuk setiap kuat arus. Nilai kekerasan tertinggi pada daerah lasan sebesar 69 HV diperoleh pada kuat arus terbesar yaitu 175 A.Kata Kunci : Aluminium 1050, Pengelasan GTAW, Kuat Arus, Kekerasan, Kuat Tarik.  AbstractThe manufacturing industry in Indonesia is experiencing very rapid development. The development of the manufacturing industry is very closely related to the process of connecting metals through welding. Aluminum material and its alloys are one type of metal that is widely used in industry because it has several advantages in properties, including being lightweight and having good corrosion resistance. But the weakness of this material is that it is difficult to weld. Determination of welding parameters is very important in the welding process. Welding current strength is one of the welding process parameters that will affect the mechanical properties of welds. This study was conducted to determine the mechanical properties of aluminium 1050 welded joints using current strength parameters with variations in the current strength of 125 A, 150 A, and 175 A. The welding method applied in this study is GTAW with ER 4043 as its filler metal. Tensile strength testing and hardness testing have been carried out to determine the effect of strong current variations on the properties of tensile strength and hardness in weld joints. Based on tensile testing, the highest tensile strength was achieved at 125 A current with a value of 81.8 MPa. The Vickers micro test results show that the hardness value in the weld area is always greater than the hardness value in the HAZ region and the parent metal for each current strength. The highest hardness value in the weld area of 69 HV is obtained at the largest current strength of 175 A. Keywords : Aluminium 1050, GTAW welding process, Welding current strength, Hardness, Tensile strength test.
Pengaruh Jenis Elektroda Pengelasan SMAW Terhadap Sifat Mekanik Material SS400 Azwinur, Azwinur; Muhazir, Muhazir
Jurnal POLIMESIN Vol 17, No 1 (2019): Polimesin
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v17i1.870

Abstract

Elektroda yang digunakan pada pengelasan SMAW mempunyai perbedaan komposisi selaput maupun kawat Inti. kuat arus dan komposisi kimia ini dapat mempengaruhi sifat mekanik pada sambungan material hasil pengelasan yang berdampak pada kekuatan dan ketangguhan sambungan pengelasan. Setiap proses pengelasan pasti berhubungan dengan elektroda oleh karena itu pemilihan jenis elektroda sangat penting sebelum melakukan proses pengelasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis elektroda terhadap sifat mekanik material SS400 dengan menggunakan proses pengelasan SMAW. Material SS400 diberi perlakuan pengelasan dengan variasi jenis elektroda yaitu E7010-P1, E7016 dan E7018. Dari hasil penelitian maka dapat dijelaskan bahwa jenis elektroda berpengaruh terhadap sifat mekanik material dimana nilai kekuatan tarik yang paling tinggi terdapat pada jenis elektroda E7018 yaitu sebesar 46.73 kgf/mm2  selanjutnya diikuti oleh elektroda E7016 yaitu sebesar 46.57 kgf/mm2 dan terakhir dengan nilai terendah menggunakan elektroda E7010-P1 yaitu sebesar 46.49 kgf/mm2. Nilai pengujian bending pada root bend yang paling tinggi adalah pada elektroda E7016 sebesar 38.87 Kgf.mm2, selanjutnya diikuti oleh elektroda E7018 yaitu sebesar 31.50 kgf.mm2 dan terakhir dengan nilai terendah menggunakan elektroda E7010-P1 yaitu sebesar 29.88 kgf.mm2. Nilai pengujian bending pada face bend yang paling tinggi adalah pada elektroda E7010-P1 sebesar  32.78 Kgf.mm2, selanjutnya diikuti oleh elektroda E7016 yaitu sebesar 31.60 kgf.mm2 dan terakhir dengan nilai terendah menggunakan elektroda E7018 yaitu sebesar 26.09 kgf.mm2.Kata Kunci: SMAW, Elektroda, Sifat Mekanik, Material SS400  AbstractElectrodes used in SMAW welding have different coating compositions and core wire. current strength and chemical composition can affect the mechanical properties of the welded material connection which has an impact on the strength and toughness of the welding joint. Each welding process must be related to the electrode, therefore the choice of electrode type is very important before carrying out the welding process. This study aims to determine the effect of electrode types on the mechanical properties of SS400 materials using the SMAW welding process. SS400 material was given a welding treatment with various types of electrodes namely E7010-P1, E7016 and E7018. From the results of the study, it can be explained that the type of electrode affects the mechanical properties of the material where the highest tensile strength is found on the type of electrode E7018 which is equal to 46.73 kgf / mm2 followed by the E7016 electrode which is 46.57 kgf / mm2 and the lowest with the electrode E7010-P1 which is equal to 46.49 kgf / mm2. The highest bending bend test value at E7016 electrode is 38.87 Kgf.mm2, followed by E7018 electrode which is equal to 31.50 kgf.mm2 and finally with the lowest value using E7010-P1 electrode which is 29.88 kgf.mm2. The highest face bend bending test value is at E7010-P1 electrode of 32.78 Kgf.mm2, followed by E7016 electrode which is equal to 31.60 kgf.mm2 and finally with the lowest value using E7018 electrode which is equal to 26.09 kgf.mm2.Keywords: SMAW, Electrodes, Mechanical Properties, SS400 Material
Pengaruh Diameter Baut Terhadap Kekuatan Rangka Main Landing Gear Pesawat UAV Menggunakan Metode Elemen Hingga Wibawa, Lasinta Ari Nendra
Jurnal POLIMESIN Vol 17, No 1 (2019): Polimesin
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v17i1.828

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang pengaruh diameter baut terhadap kekuatan rangka main landing gear untuk pesawat UAV menggunakan metode elemen hingga. Analisis statik linear dilakukan menggunakan software Autodesk Inventor Professional 2017. Material rangka main landing gear menggunakan Aluminium paduan 5083. Pesawat UAV memiliki berat 75 kg dengan kecepatan landing 10 m/s dan waktu impak 0,5 detik. Variabel diameter baut yaitu 11 mm, 12 mm, 13 mm, dan 14 mm. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tegangan Von Mises untuk diameter baut 11 mm, 12 mm, 13 mm, dan 14 mm berturut-turut yaitu 82,092 MPa, 85,113 MPa, 85,141 MPa, dan 85,340 MPa. Nilai deformasi untuk diameter baut 11 mm, 12 mm, 13 mm, dan 14 mm berturut-turut yaitu 2,173 mm, 2,185 mm, 2,194 mm, dan 2,204 mm. Nilai faktor keamanan untuk diameter baut 11 mm, 12 mm, 13 mm, dan 14 mm berturut-turut yaitu 3,472, 3,349, 3,347, dan 3,340. Dari hasil simulasi dapat disimpulkan bahwa diameter baut terbaik adalah berukuran 11 mm. Kata kunci:  Aluminium 5083, Autodesk Inventor 2017, Analisis Elemen Hingga, Main Landing Gear, Diameter Baut AbstractThis study examined the effect of bolt diameter on the strength of the main landing gear frame for UAV aircraft using the finite element method. Linear static analysis was carried out using the Autodesk Inventor Professional 2017 software. Main landing gear frame using Aluminum alloy 5083. UAV aircraft weighed 75 kg with a landing speed of 10 m / s and an impact time of 0.5 seconds. Variables of bolt diameter were 11 mm, 12 mm, 13 mm and 14 mm. The simulation results show that Von Mises stress for bolt diameters 11 mm, 12 mm, 13 mm, and 14 mm were 82.092 MPa, 85.113 MPa, 85.141 MPa and 85.340 MPa respectively. Deformation values for bolt diameters of 11 mm, 12 mm, 13 mm, and 14 mm respectively were 2.173 mm, 2.185 mm, 2.194 mm and 2.204 mm. The safety factor values for bolt diameters were 11 mm, 12 mm, 13 mm, and 14 mm respectively, which are 3.472, 3.349, 3.347, and 3.340. From the simulation results it can be concluded that the best bolt diameter was 11 mm in size. Keywords: Aluminum 5083, Autodesk Inventor 2017, Finite Element Analysis, Main Landing Gear, Bolt Diameter 

Page 1 of 1 | Total Record : 7