cover
Contact Name
Azwinur
Contact Email
polimesin@pnl.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
polimesin@pnl.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Jurnal POLIMESIN
ISSN : 16935462     EISSN : 25491199     DOI : -
Jurnal POLIMESIN is an peer-reviewed journal that publishes original and high-quality research papers in all areas of mechanical engineering. The editorial team aims to publish high quality and highly applied research and innovation that has the potential to be widely disseminated, taking into consideration the potential mechanical engineering that it could generate. Jurnal Polimesin is publish twice a year in February and August.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 2 (2019): Agustus" : 7 Documents clear
Optimasi kekilapan pada pengecatan pelat St37 dengan metode respon permukaan Darsin, Mahros; Guna, Halmi Palwa; Ramadhan, Mochammad Edoward
Jurnal POLIMESIN Vol 17, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jp.v17i2.938

Abstract

Pengecatan adalah proses pelapisan permukaan dengan pelapis berbentuk cair dengan tujuan untuk perlindungan dan keindahan. Untuk tujuan keindahan, salah satu tolak ukurnya adalah kekilapan yang dapat diukur dengan gloosimeter dalam satuan gloss unit (GU). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memeroleh nilai GU optimum dengan memvariasi parameter yang berpengaruh. Eksperimen dirancang dengan metode respon permukaan (RSM) dengan desain Box-Behnken tiga faktor dan masing-masing faktor tiga level. Faktor dan level tersebut adalah tekanan (3 bar, 4 bar dan 5 bar), diameter nozzle (1.2 mm, 1.3 mm dan 1.4 mm) dan suhu pengeringan pada oven pasca penegecatan (55 oC, 60 oC dan 65 oC). Masing-masing kombinasi parameter diulang tiga kali. Mesin cat tipe semprot digunakan dalam eksperimen ini pada material St37. Pengolahan data dengan Minitab 18 menunjukkan bahwa ketiga faktor yang berpengaruh terhadap kekilapan secara urut adalah tekanan, diameter nozzle dan suhu pengeringan. Nilai kekilapan tertinggi sebesar 50.9 GU dicapai pada kombinasi faktor tekanan 5 bar, diameter 1.3 mm dan suhu oven pengering dijaga pada 55oC. Sebaliknya dengan kombinasi tekanan 4 bar, diameter nozzle 1.3 mm dan suhu oven 65oC diperoleh kekilapan minimum serendah 22.7 GU. Analisis biaya menunjukkan bahwa biaya antara penelitian dan bengkel resmi menggunakan cat nitrocelullose memiliki selisih harga Rp. 205.908. Sedangkan perbandingan biaya dengan penggunaan cat polyurethane adalah Rp. 698.348. Dari selisih biaya dapat dilihat bahwa pelapisan dengan menggunakan cat polyurethane menghasilkan kualitas cat yang lebih baik serta nilai gloss unit lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan cat nitrocelullose. Jadi, semakin meningkat nilai gloss unit maka semakin banyak biaya produksi yang dibutuhkan.Kata Kunci: Pengecatan, Kekilapan, RSM, Box-Behnken, Analisis Biaya Optimization of shine in St37 plate painting  with the response surface methodAbstractPainting is a coating type by application of liquid film onto a surface. Two main purpose of painting is protection and decoration. For the later purpose, a method to quantify is by its glossiness using gloss meter in gloss unit (GU). This research purpose is to optimize glossiness by varying the factors influencing the glossy using Response Surface Methodology (RSM) with Box-Behnken design. Three factors and their variationas were: (i) pressure  (3 bar, 4 bar and 5 bar), (ii) nozzle diameter (1.2 mm, 1.3 mm and 1.4 mm) and (iii) the drying oven temperature (55 oC, 60 oC and 65 oC). The machine for painting was paint demonstrator with which using spray type on St37 material . Each combination of factor were repeated three times. Minitab 18 was employed for processing the data. The maximum glossinees of 50.9 GU was achived by using combination pressure of 5 bar, nozzle diameter of 1.3 mm and drying temperature of 55oC. While, combination of pressure of  4 bar, nozzle diameter of 1,4 mm and dryng temperatyre of 65oC resulted in the lowest glossinees of 22.7 GU. Another analysis also carried out on the cost of painting between real workshop and this research using two kind of paints. Painting using polyurethane would have different cost of Rp689,348. While when using nitrocellulose the cost difference was Rp205,908. The polyurethane paint usually used by the real workshop outweight in the glossy unit in compare to nitrocellulose which was used in this experiments.  Keywords: Coating, Gloss Units, RSM, Box-Behnken Design, Comparison of costs.
Pla-zno nanocomposite paper for antimicrobial packaging application Rihayat, Teuku; Suryani, Suryani; Ismi, Adi Saputra; Nurhanifa, Nurhanifa; Riskina, Shafira
Jurnal POLIMESIN Vol 17, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jp.v17i2.1033

Abstract

Many food packages (plastic wrappers) today cannot be broken down by the environment. therefore, it is necessary to add natural substances that can make the food package decompose and be resistant to contamination with bacteria. Development of biodegradable polymers from renewable sources is highly desirable for food preservation and packaging, provided they can be effective as plastics or paper that are currently used in packaging, protecting food against microbial contamination, physical damage and chemical reactions (eg oxidation). Poly lactic acid (PLA) is one of the natural polymers produced by several bacteria that grow in crops rich in carbohydrates (such as sugar beets, corn and others). This research aims to insert ZnO nanoparticles and chitosan into a plastic layer of PLA (poly lactic acid) which can improve the antibacterial properties of the resulting packaging. The method used in making PLA-ZnO-chitosan nanocomposite is the precipitation method and the heating method. PLA-ZnO nanocomposites were obtained by varying ZnO nanoparticles 0.5% by weight, 2% by weight, and 3.5% by weight. The results obtained in SEM images show that nanoparticles are homogeneously distributed on the plastic surface. Antimicrobial tests show nanocomposites work effectively in deactivating E. coli and S. aureus. where it was found that E. coli was more susceptible to this type of nanocomposite, where there was a reduction of 3.4 logs to 3.5% ZnO loading in the PLA layer.       
Studi eksperimental pertumbuhan aus sisi (vb) pahat karbida berlapis Titanium Aluminium Nitrida (TiAlN) pada pembubutan basah baja ASTM A29 ramadhan, rizki; sunarto, sunarto
Jurnal POLIMESIN Vol 17, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jp.v17i2.1020

Abstract

Permesinan basah menjadi pilihan apabila dampak yang diakibatkan suhu pemotongan yang tinggi akan mengurangi kemampuan pahat dan memperpendek umur pahat. Pemesinan basah adalah sejumlah cairan dialirkan ke kawasan pemotongan bertujuan untuk menurunkan suhu pemotongan dan melumasi bagian-bagian pemesinan sehingga diharapkan permukaan pemesinan memiliki integritas permukaan yang dapat meningkatkan masa pakai alat potong (life time). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pahat karbida (WC+Co) yang dilapisi dengan bahan pelapis titanium aluminium nitride (TiAlN) dengan tipe DCGX 11T3 02-Al yang direkomendasikan untuk memotong paduan Aluminium. Penelitian ini digunakan untuk memotong baja ASTM A29 dengan tujuan membuktikan ketangguhan pahat. Hasil yang didapat pahat mampu memotong baja ASTM A 29 sampai kecepatan potong V = 250 m/menit, gerak makan (f) = 0,1 mm/putaran dan kedalaman makan potong (a) = 1,5 mm dalam waktu (tc) = 6,20 menit dan keausan tepi (VB) sebesar 0,12 mm dengan jenis kerusakan aus tepi, built up edge, dan aus kawahKata kunci: Pemesinan Basah, Aus Sisi (VB), Gerak Makan (f) Experimental study of side wear growth (Vb) chisels of Titanium Aluminum Nitride  (TiAlN) carbide in the wet turning of ASTM A29 SteelAbstract Wet machining is an option when the impact caused by high cutting temperatures will reduce tooling ability and the shorten tool life. Wet machining is a number of fluids flowed into the cutting area aiming to reduce the cutting temperature and lubricate the machining parts so that the machining surface is expected to have surface integrity that can increase the life time of the cutting tool. The method used in this study is to use carbide cutting tool (WC + Co) coated with titanium aluminum nitride (TiAlN) coating with type DCGX 11T3 02-Al which is recommended for cutting aluminum alloys. This research was used to cut ASTM A29 steel with the aim of proving the toughness of the tool. The results obtained by the tool are able to cut ASTM A 29 steel to cutting speed V = 250 m / minute, feed motion (f) = 0.1 mm / rotation and depth of feeding cut (a) = 1.5 mm in time (tc) = 6.20 minutes and edge wear (VB) of 0.12 mmwith the type of flank wear, built up edge, and crater wear.  Keywords: Wet Machining, Flank Wear (VB), Feeding Motion (f)
Studi kelayakan energi matahari – angin (hybrid) sebagai sumber daya pompa air untuk sistem pengairan di kawasan Aceh Besar Zulfadli, Teuku; Mulkan, Andi
Jurnal POLIMESIN Vol 17, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jp.v17i2.1113

Abstract

Sistem pengairan atau irigasi yang tidak optimal merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi di beberapa daerah di kawasan Aceh besar, yang sebagian besar wilayahnya merupakan areal pertanian. Berbagai macam usaha telah dilakukan oleh para petani diantaranya dengan mengalirkan air dari sumur dengan menggunakan pompa listrik. Keadaan ini membuat para petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membuat instalasi listrik untuk menggerakkan pompa air dimana diperlukan kabel listrik yang panjang agar pompa dapat teraliri arus listrik. Untuk mengatasi permasalahan ini maka perlu dilakukan studi kelayakan tentang sistem pengairan yang berbasis sumber energi hybrid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kelayakan sumber energi matahari dan sumber energi angin yang dipadukanmenjadi sumber energi hybrid untuk menggerakkan pompa pada sistem pengairan di Desa Blang Krueng Kabupaten Aceh Besar. Metode pengambilan data penelitian ini dilakukan dengan mengukur intensitas matahari, kecepatan angin dan menganalisis kebutuhan daya yang diperlukan untuk menggerakkan pompa. Dari hasil analisis intensitas matahari rata-rata terendah dalam tiga bulan adalah 5,33 KWh/m2/hari dengan lama penyinaran selama 10 jam dalam satu hari dengan kapasitas daya yang hasilkan oleh panel surya sebesar 450 Wp.  Untuk kecepatan angin rata-rata selama tiga bulan adalah 2,99 m/s. Dengan kecepatan ini dan asumsi diameter baling-baling turbin angin 1,5 meter  maka energi listrik yang dapat dibangkitkan oleh turbin angin adalah 186,65 Watt. Kata Kunci: Energi Hibrid, Energi Surya, Energi Angin, Pompa Air, Sistem Pengairan Visibility study of hybrid solar-wind energy to power up the pump for the irrigation  system in the District of Aceh BesarAbstractIrrigation systems that are not optimal are one of the problems that often occur in several areas in Aceh Besar region. Many efforts have been carried out by farmers, including by flowing water from wells using electric pumps. This situation makes the farmers spend additional costs to make electrical installations to drive water pumps where long electrical cables are needed so that the pump can flow electrically. To overcome this problem, it is necessary to conduct a feasibility study on a hybrid energy-based. The purpose of this study is to examine the feasibility of solar energy sources and wind energy sources which are combined into a hybrid energy source to drive pumps in irrigation systems in BlangKrueng Village, Aceh Besar District. The data collection was done by measuring solar intensity, wind speed and analysis of power requirements needed to drive water pump. From results shows that the lowest average solar intensity in three months was found to be 5.33 KWh / m2 / day with a long exposure time for 10 hours in one day. The power capacity produced by solar panels was 450 Wp. For an average wind speed of three months was 2.99 m / s. With these speed and assuming the blades diameter 1.5 meters, therefore electrical energy generated by wind turbine was 186.65 Watt Keywords: Hybrid Energy, Solar Energy, Wind Energy, Water Pump, Irrigation System
Pengembangan mesin Drain Gutter Cleaner mengunakan metode Quality Function Deployment (QFD) sebagai alternatif penanggulangan sampah di kota Bengkalis Saputra, Ilham; Alhaffis, Firman
Jurnal POLIMESIN Vol 17, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jp.v17i2.1018

Abstract

Sampah merupakan masalah yang sangat mendominasi dunia, khususnya di daerah perkotaan seperti Kota Bengkalis. Banyaknya bencana yang ditimbulkan oleh sampah, menjadikan sampah sebagai obyek utama yang harus dilakukan pengelolaan secara sistematis. Bencana yang ditimbulkan oleh sampah seperti terjadinya penyumbatan saluran air. Sulit dan perluya tenaga kerja yang banyak dalam proses membersihkan sampah pada saluran air, menjadi faktor utama saluran air terhambat oleh sampah yang terbawa arus. Pada penelitian ini dilakukan pengembangan mengenai alat pembersih selokan yang dapat mendukung kinerja masyarakat yang perduli terhadap lingkungan. Penelitian berikut menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD) sebagai alat untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Data yang didapatkan berupa data kuantitatif dari hasil kuesioner 32 orang petugas selokan sebagai objek penelitian. Hasil dari analisis diperoleh mesin yang dikembangkan akan menggunakan sistem pengangkatan dengan media bucket sebagai pengangkat sampah yang terbawa arus. Dari hasil dapat dilihat bahwa konsumen membutuhkan 13 Permintaan yang didapat dari House of Quality (HOQ) dalam proses pengembangan mesin drain gutter cleaner. Dengan urutan bobot terbesar sampai terkecil dari Permintaan konsumen yaitu ukuran mesin, umur mesin, rangka besi, mesin sederhana, kapasitas penampungan, menggunakan energi listrik, menghidupkan tombol, gaya angkat,  penutup motor, rangka dilapisi cat, terdapat 3 bucket, tombol on-off, dan warna oranye. Kata Kunci: Penanggulangan sampah, Mesin Pembersih Selokan, Quality Function Deployment (QFD), Development of drain gutter cleaning machine using Quality Function Deployment  (QFD) method as alternative waste management in the City of BengkalisAbstractWasteis a global problem, especially in urban areas such as Bengkalis City. Many disasters caused by waste, making waste as the main object that must be done systematically management. Disasters caused by waste such as blockage of waterways.Difficult and requires a lot of labor in the process of cleaning up waste in the waterways, being a major factor in waterways being obstructed by waste flowing. In this research, the development of a gutter cleaning tool that can support the performance of people who care about the environment. The following research uses the Quality Function Deployment (QFD) method as a tool to overcome problems that occur. The data obtained in the form of quantitative data from the results of a questionnaire 32 sewers as research objects. The results obtained from the analysis of the engine developed will use a lifting system with a bucket media as a waste carrier carried by the flow of water. From the results it can be seen that consumers need 13 requests obtained from the House of Quality (HOQ) in the process of developing a drain gutter cleaner machine. With the largest to smallest order of weight of consumer demand, namely engine size, machine life, iron frame, simple machine, storage capacity, using electrical energy, turning on the button, lifting force, motor cover, paint coated frame, there are 3 buckets, on-off button , and orange. Keywords:Waste management, Drain Gutter Cleaner, Quality function Deployment (QFD)
Analisa Pengaruh Variasi Parameter Pemotongan Dan Pendingin Terhadap Tingkat Keausan Pahat End Mill HSS Hasil Pemesinan CNC Router Milling Pada Aluminium Sheet 1100 rahmat, muhammad rahmat; Haripriadi, Bambang Dwi
Jurnal POLIMESIN Vol 17, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jp.v17i2.1014

Abstract

Pada proses pemesinan, salah satu hal yang tidak bisa terlepaskan adalah timbulnya keausan pahat setelah dilakukan proses pemotongan. Untuk mengurangi laju keausan pahat biasanya dengan penentuan parameter pemotongan yang baik dan diberikan media pendingin yang berfungsi untuk mengontrol temperatur pada saat pelumasan pemotongan. Tujuan dari penelitian ini adalah  untuk  mengetahui  pengaruh variasi parameter pemotongan dan pendinginan terhadap keausan pahat end mill HSS. Material benda kerja yang digunakan pada penelitian ini adalah aluminium sheet 1100 dan pahat end mill HSS berdiameter 6 mm dengan di variasikan parameter pemotongan yaitu gerak makan (30 mm/min, 40 mm/min, 50 mm/min), kedalaman potong (0,5 mm, 1 mm, 1,5 mm), media pendingin yang digunakan yaitu coolant, udara, oli. Pengambilan data keausan pahat dilakukan menggunakan mikroskop USB dengan cara mengukur panjang keausan tepi (VB). Berdasarkan Analisis for signal to noise ratios keausan pahat yang terkecil adalah pada parameter gerak makan 30 mm/min, kedalaman potong 0,5 mm, dan pendingin oli. Berdasarkan analisis of varian (ANOVA) parameter kedalaman potong dan media pendingin menghasilkan nilai P < 0,050, hal ini  menunjukkan bahwa parameter tersebut merupakan faktor yang signifikan dalam mempengaruhi keausan pahat.Kata Kunci : keausan pahat, parameter pemotongan, media pendingin, end mill HSS, analisis for signal to noise ratios, analisis of varian (ANOVA). Effect of cutting and cooling parameters against the wear of HSS End Mill Chisel  Machined by CNC router milling on aluminum sheet 1100AbstractIn the machining process, one of the things that cannot be released is the appearance of tool wear after the cutting process is done. To reduce tool wear rates usually by determining the cutting parameters that are good and given a cooling medium that serves to control the temperature during cutting lubrication. The purpose of this study was to determine the effect of variations in cutting and cooling parameters on HSS end mill tool wear.The workpiece material used in this study is aluminium sheet 1100 and HSS end mill chisels with a diameter of 6 mm with varying cutting parameters namely feeding motion (30 mm / min, 40 mm / min, 50 mm / min), cutting depth (0, 5 mm, 1 mm, 1.5 mm), the cooling media used is coolant, air, oil. Data retrieval of tool wear was carried out using a USB microscope by measuring the length of edge wear (VB). Based on analysis for signal to noise ratios the smallest tool wear is on the feed motion parameters 30 mm / min, the cut depth is 0.5 mm, and the oil cooler. Based on the analysis of variance (ANOVA) the depth and cut depth parameters produced a P value <0.050, this indicates that these parameters are a significant factor in influencing tool wear. Keywords: tool wear, cutting parameters, coolant, HSS end mill, analisis for signal to noise ratios, analisis of variance (ANOVA).
Analisa pengaruh variasi media pendingin pada perlakuan panas terhadap kekerasan dan struktur mikro baja karbon rendah Prayogi, Agung; suhardiman, suhardiman
Jurnal POLIMESIN Vol 17, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jp.v17i2.1024

Abstract

Perkembangan ilmupengetahuandan teknologi yangsemakinpesat sangatberpengaruh terhadapperindustrian didalamnegeri,salah satunya adalah  industri yangmenghasilkanatau memproduksielemen-elemenmesin yangsebagian besar menggunakanlogamsebagai bahan bakunya. Penelitian ini betujuan untuk mengetahuipengaruhmedia pendingin  terhadap tingkat kekerasan dan struktur mikro baja karbon paduan rendah dengan melakukan perlakuan panas sebelum dan sesudah proses pemanasan (heat treatment). Proses penelitian dilakukan dimulai dengan pemotongan baja karbon rendah, kemudian dilakukan proses pemanasan dengan temperatur 950? C, selanjutnya dilakukan proses pendinginan dengan berbeda media pendingin seperti: Air hujan, udara, Oli SAE 40 dan Coolant Radiator. Hasil pengujian kekerasan pada spesimen sebelum dilakukan proses pemanasan didapat nilai kekerasan sebesar 27,75 HRC dan untuk struktur mikro spesimen mengandung struktur ferrit dan perlit. Didapat untuk media pendingin air hujan didapat nilai kekerasan 34 HRC dan untuk struktur mikro yang terkandung yaitu martensit, untuk media pendingin oli SAE 40 nilai kekerasan pada spesimen didapat sebesar 28,85 HRC untuk struktur mikronya spesimen mengandung struktur ferrit dan perlit, untuk media pendingin coolant radiator didapat nilai kekerasan paling tinggi sebesar 39 HRC dan untuk struktur mikronya spesimen mengandung struktur martensit dan untuk media pendingin udara mendapatkat nilai kekerasan terendah dari media pendingin lainya yaitu sebesar 14 HRC dan spesimen tersebut untuk struktur mikro yang terkandung yaitu ferrit dan perlit. Kata kunci : Uji Struktur Mikro, Uji Kekerasan, Diagram Fasa, Cairan pendingin.Effect of cooling media variations on heat treatment on hardness and micro carbon  structure of low carbon steelAbstractThe rapid development of science and technology has greatly influenced the domestic industry, one of which is the industry that produces or produces engine elements which mostly use metal as their raw material. This study aims to determine the effect of the cooling media on the level of hardness and microstructure of low carbon alloy steel by conducting heat treatment before and after the heating process (heat treatment). The research process was carried out starting with the cutting of low carbon steel, then the heating process was carried out with a temperature of 950?C, then the cooling process was carried out with different cooling media such as: Rainwater, air, SAE 40 Oil and Coolant Radiator. The results of the hardness test on the specimens before the heating process were obtained were hardness values of 27.75 HRC and for the microstructure the specimens contained ferrite and pearlite structures. Obtained for rain water cooling media obtained hardness value of 34 HRC and for microstructure contained namely martensite, for SAE oil cooling media 40 hardness values on specimens were obtained at 28.85 HRC for microstructure of specimens containing ferrite and perlite structures, for coolant cooling media The radiator obtained the highest hardness value of 39 HRC and for the microstructure the specimen contained a martensitic structure and for the air cooling media the lowest hardness value from other cooling media was 14 HRC and the specimens for the microstructure contained were ferrite and perlite. Keywords:Micro Structure Test, Hardness Test, Phase Diagram, Coolant

Page 1 of 1 | Total Record : 7