cover
Contact Name
yenryanastasiapellondou
Contact Email
yenryanastasiapellondou@gmail.com
Phone
+6285228914046
Journal Mail Official
jsi@uin-suka.ac.id
Editorial Address
1st Floor, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Jalan Marsda Adisucipto Yogyakarta, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Fu'at (Suatu studi Antropo-Teologis Terhadap Konsep Fu'at Dalam Bidang Pertanian Pada Jemaat GMIT Getsemani Oelbubuk )
ISSN : 19784457     EISSN : 2548477X     DOI : https://doi.org/10.14421/jsa.2015.091-02
Isu-isu sosiologi agama, meliputi : Radikalisme, Multikulturalisme, Agama dan Politik, Agama dan Kekerasan, Fenomena Perubahan Sosial, Kajian Gender, dan isu-isu terkait lainnya.
Articles 85 Documents
SKEMA KEKERASAN TERHADAP ANAK DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Widiastuti, Siti Kurnia
Jurnal Sosiologi Agama Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2019.%x

Abstract

Kekerasan terhadap anak merupakan hal yang perlu mendapat perhatian dari semua pihak. Keprihatinan terhadap fenomena sosial yang terjadi dewasa ini, mendorong penulis untuk mengeksplorasi lebih dalam kasus-kasus kekerasan anak yang terjadi di Indonesia, khususnya di D.I. Yogyakarta. Pokok masalah dari studi ini adalah ingin menemukan bagaimana skema kecenderungan kasus-kasus kekerasan yang terjadi pada anak di D.I. Yogyakarta pada periode tahun 2012-2014, faktor-faktor pemicu terjadinya kekerasan terhadap anak pada skema yang ditemukan, dan dampak kekerasan terhadap anak pada skema yang ditemukan. Studi ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Adapun metode pengumpulan datanya adalah melalui wawancara dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis induktif. Studi ini bersumber pada dokumen-dokumen dan kasus-kasus yang ditangani oleh Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Daerah Istimewa Yogyakarta, serta informasi dari staf LPA DIY.Hasil studi ini menemukan bahwa kasus yang selalu ada di setiap rentang tahun antara 2012 sampai dengan 2014 adalah kasus kekerasan seksual. Kasus ini menempati posisi tiga besar di setiap tahunnya dan jumlahnya selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Faktor pemicu terjadinya kekerasan seksual pada klien LPA DIY pada umumnya adalah budaya patriarkhi, tidak ada pemahaman terhadap Undang-undang perlindungan anak dan hak anak, posisi tawar anak rendah dalam keluarga, anak tidak mengetahui tentang kekerasan seksual, dan pengaruh kemajuan informasi dan teknologi. Adapun dampak secara umum pada korban dapat dilihat: anak mudah curiga atau takut bila bertemu dengan orang asing yang belum dikenalnya, anak menjadi tertutup, berbicara sangat pelan, apatis, anak mengalami gangguan fisik dengan gejala keputihan atau keluar cairan berbau, anak menjadi pemalu atau minder, anak mudah marah, dan anak mengalami stockholm syndrom (menunjukkan kekacauan emosi dengan menjadi suka terhadap pelaku kekerasan).Kata Kunci: Skema, Kekerasan Anak, D.I. Yogyakarta
KONSTRUKSI SOSIAL KOMUNITAS PESANTREN MENGENAI ISU RADIKALISME (STUDI KASUS PADA PESANTREN SALAF & MODERN DI KOTA MALANG) Alfanani, Tsabita Shabrina
Jurnal Sosiologi Agama Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2016.102-01

Abstract

Radicalism became a phenomenon widely discussed in inter-religious life. In practice, Islam and pesantren is often associated with acts of terrorism and other violence since the action was perceived as an extension of religious radicalism with jihad and amar ma?ruf nahi mungkar as basic commands. The focus of this study is to analyze how komunitas pesantren (pesantren community) perception about radicalism and how the process of those perceptions is formed. This research was conducted in two komunitas pesantren with different characteristic in Malang City : Alhayatul Islamiyah as salaf (traditional) pesantren and Ma?had Al-Qalam as modern pesantren. By using a qualitative approach and case study, this study resulted in three broad conclusions. First, salaf pesantren community?s perception regarding the issue of radicalism tends to moderate and tolerant. Meanwhile, the perception of modern pesantren community on the issue of radicalism tends to vary; Second. The Construction process could be explained by the dialectical process from Berger & Luckman?s social construction theory consisting of three simultaneous processes: externalization, objectivation and internalization. In the process, the researcher found three types of komunitas pesantren in perceiving radicalism which is contextual moderate and tolerant (as the majority group); fundamental (idealist) and pragmatic. At the salaf pesantren, Kyai was an important figure in constructing value, while at modern pesantren the background, social settings and media give more influence in the construction process about radicalism; Third, the pattern similarity at salaf pesantren motivated by cultural hegemony by constructing value on a single base culturally affiliated to the nahdliyin tradition, while varying perceptions of  modern pesantren arise from it?s heterogeneous base. However, both of pesantren does not encourage their santri to act radically.Keywords: Social Construction, Pesantren Community, Radicalism
MENATA KEHIDUPAN LANSIA: SUATU LANGKAH RESPONSIF UNTUK KESEJAHTERAAN KELUARGA (STUDI PADA LANSIA DESA MOJOLEGI IMOGIRI BANTUL YOGYAKARTA) Sa?adah, Nurus
Jurnal Sosiologi Agama Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2015.092-03

Abstract

Usia harapan hidup manusia di dunia semakin panjangsehingga jumlah lansia semakin banyak melebihi pertumbuhanangka kelahiran. Karena itu, di berbagai negara termasukIndonesia mulai fokus memperhatikan kehidupan lansia.Berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan lansiatelah diupayakan oleh pemerintah tetapi kasus-kasus seputarlansia masih banyak, sehingga berbagai pihak perlu membantupemerintah mengembangkan berbagai upaya inovatif untukmeningkatkan kesejahteraan lansia. Mensejahterakan lansiaberarti pula mensejahterakan keluarga sebab lansia turutberperan penting dalam keluarga termasuk dalam pengasuhancucu. Karena itulah, penelitian ini akan mengupas bagaimanalangkah responsif untuk mensejahterakan keluarga melaluipemberdayaan lansia.Langkah responsif untuk menata lansia tidak lepas dariberbagai faktor baik internal diri lansia maupun faktoreksternal lansia seperti sosial demografik maupun budayatempat lansia berasal dan bertempat tinggal. Melalui metodekualitatif, pengambilan data melibatkan aparat dan lansia diDesa Mojolegi Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta untukmenggali problem dan kebutuhan lansia kemudian dijadikanbahan untuk membuat model pemberdayaan lansia yangberbasis potensi lokal.Hasil penelitian menemukan model pemberdayaan lansiayang difokuskan pada dua hal yaitu potensi alam dan potensiSDM yang diawali dengan langkah look, think, act, monitoringand evaluation sehingga menghasilkan kesejahteraan lansiasecara lahir dan batin.Keyword:Lansia, kesejahteraan keluarga, model pemberdayaan
AGAMA, KEKERASAN, DAN KONTESTASI POLITIK ELEKTORAL: PENGGUNAAN SIMBOL KEAGAMAAN KIAI DAN KEKUASAAN BLATER DALAM PERTARUNGAN POLITIK LOKAL MADURA hannan, abd -
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2018.%x

Abstract

Diskursus politik Madura tidak dapat dipisahkan dari praktik dominative, baik yang bersumber dari kelas social, ideology, ataupun symbol keagamaan. Salah satu bentuk praktik dominative yang hingga saat ini mewarnai jalannya politik Madura, ada pada penggunaan sarana keagamaan kiai dan kekuasaan blater. Baik kiai maupun blater, selain berkedudukan sebagai kelas social atas, juga berperan stretgis dalam menentukan peta politik local Madura. Paper ini berjudul, Agama, Kekerasan, dan Kontestasi Politik Elektoral; Penggunaan Simbol Keagamaan Kiai dan Kekuasaan Blater Dalam Pertarungan Politik Lokal Madura. Terdapat tigas isu social uatama yang menjadi focus permasalahan penulisan paper ini, yaitu; dimensi kegamaan kiai, praktik kekerasan blater, dan realitas politik politik electoral. Tiga permasalahan krusial di atas akan dijelaskan sedalam dan serinci mungkin dalam dua kerangka pertanyaan, 1) Bagaimana dinamika kontestasi kepemimpinan local di Madura? 2) Bagaimana dimensi keagamaan kiai dan sarana kekerasan kelompok blater memainkan peran sentral dalam perhelatan politik electoral setempat. Dua pertanyaan tersebut ditujukan untuk menderskripsikan realitas politik electoral Madura, melakukan kajian secara mendalam perihal mobilisasi jaringan kekuasaan kiai dan kelompok blater, kaitannya dengan perebutan kursi kepemimpinan local di Madura. Paper ini merupakan studi kepustakaan yang mendasarkan pada metode kualitatif. Data yang digunakan dalam paper ini adalah data sekunder, khususnya data yang bersumber dari buku, jurnal, dan berbagai hasil penelitian sebelumnya. Adapun teori yang digunakan dalam penulisan ini adalah teori genalogi kekuasaan Michel Foucault. Secara keseluruhan, paper ini memiliki fungsi besar dalam menjelaskan dinamika dan arah sosio-politik Madura ke depan. Khususnya menyangkut peran dan fungsi strategis keagamaan kiai dan kekuasaan blater dalam nenentukan arah politik electoral setempat.
MENENGOK KEMBALI PERAN AGAMA DI RUANG PUBLIK Abdullah, M. Amin
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2017.112-02

Abstract

In recent years, especially over the past decade, there has been increasing intolerance of certain religions and ethnic minorities in various parts of Indonesia, whether in the form of physical assault by a particular group or omission by the authorities. Such situation is increasing when entering the campaign period before the elections simultaneously and Presidential Election. In this condition the role of FKUB as one of the tolerant agents in the national political arena becomes important. Some things to be considered include the basic question of the State (four pillars), religious views, religious literacy and education in public spaces and media.Keywords: toleransi, pandangan keagamaan, media, ruang publik
UPAYA MERANGKUL KEMBALI JEMAAH AHMADIYAH INDONESIA (JAI): MENATA ULANG KERUKUNAN UMAT BERAGAMA Chairi, Effendi
Jurnal Sosiologi Agama Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2019.%x

Abstract

Pertentangan terhadap keberadaan Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) hingga hari ini masih terus terjadi. Pertentangan ini dilakukan atas dasar Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 12 Tahun 2011 tentang Larangan Kegiatan Jemaat Ahmadiyah di Jawa Barat, fatwa MUI dan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-18 di Solo. Walaupun demikian, JAI pada dasarnya telah memperoleh pengakuan yang sah dari pemerintah Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman No.JA.5/23/13 13 Maret 1953. Karena pertentangan-pertentangan yang terus terjadi, JAI hingga hari ini belum diterima secara damai dan seringkali menerima tindakan diskriminasi. Di dalam artikel, penulis menganalisis penyebab utama terjadinya konflik antara Front Pembela Islam (FPI) dengan JAI di Tasikmalaya. Di dalam tulisan ini pula, penulis mengajukan cara lain yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi karena upaya-upaya advokasi litigasi sudah tidak mampu mengendalikan konflik antar keduanya.Kata Kunci: Konflik, JAI, FPI, AdvokasiConflict concerning the existence of Indonesian Ahmadiyah congregation (JAI) still happens today. This is done based on governor regulation of West Java no. 12 of 2011 concerning the activities prohibition of Ahmadiyah congregation in West Java, legal opinion of MUI, and the result of the 18th Muhammadiyah congress in Solo. Even though, JAI has actually obtained legal recognition of Indonesian government based on Decree of the Minister of Justice No.JA.5 / 23/13 March 13, 1953. Because of the ongoing conflicts, JAI has not yet been approved peacefully and often gets discrimination. In this article, the author analyzed the main causes of the conflict between FPI (Front Pembela Islam) and JAI in Tasikmalaya. Here, the author proposes other ways that can resolve conflicts occurred because litigation advocate efforts have been unable to control conflict between the two.Keywords: Conflict, JAI, FPI, Advocate
RADIKALISME ISLAM DALAM MEDIA SOSIAL (KONTEKS; CHANNEL YOUTUBE) Harianto, Puji -
Jurnal Sosiologi Agama Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2018.%x

Abstract

Abstract;Globalisasi sebagai proses sejarah dan trend ekonomi telah memberi pengaruh pada struktur sosial masyarakat, tak terkecuali pada agama. Pada titik ekstremnya, globalisasi telah mempertemukan banyak budaya dalam satu waktu dan melahirkan budaya-budaya baru dalam masyarakat. Sekat pemisah yang sakral-profan atau lokal-global telah memudar. Dalam bidang agama, entitas sacral (ajaran) tidak lagi menjadi konsumsi pribadi bagi pemeluknya semata, tapi melintas ke semua pemeluk agama. Dari sekian ajaran agama tersebut, radikalisme menjadi isu yang trend di era media hari ini. Radikalisme tidak lagi diproduksi dan disebarkan oleh satu kelompom tertutup, melainkan sudah mendunia. Media yang digunakan sangat beragam, salah satunya channel Youtube. Dalam channel Youtube, konten radikalisme meliputi tiga hal (ciri); mengajarkan puritanisme, anti pada sistem negara serta intoleransi SARA. Dalam tulisan ini, tiga channel Youtube yang diamati (Media Dakwah Sunnah, Cahaya Islam, Cahaya Tauhid) telah memenuhi syarat sebagai media sosial radikal. Dengan menggunakan teori simulacrum Baudrillard, apa yang disampaikan oleh channel tersebut dilihat sebagai tawaran realitas baru terhadap kenyataan sosial yang sedang berlangsung. Ia memiliki banyak makna tafsir, tak ada kejelasan tentang yang asli/palsu serta tiap orang bebas mengartikulasikannya. Kesimpulannya, bahwa media Youtube tersebut bisa saja menginspirasi, menggerakkan dan mempengaruhi cara pandang seseorang. Pada akhirnya, makna simulacrum dalam media Youtube yang dijadikan realitas keseharian adalah tafsiran yang mendekati kenyataan lampau. atau jika tidak, tafsiran yang bisa mewakili, mendeskripsikan dan mencirikan kelompok masyarakat tertentu. Saat ada kesesuaian antara makna baru dari simulacra tersebut, maka proses reproduksi menjadi keharusan yang harus dilakukan setiap saat. Keywords; Agama, Channel Youtube, Radikalisme
REPRESENTASI KONSEP KECANTIKAN DALAM VIDEO MUSIC SNSD GEE Banurea, Rima Nusantriani
Jurnal Sosiologi Agama Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2015.092-08

Abstract

Beauty is never ending concept. It always redefined,renewed, and reconstructed by actor who have a power likemedia to socializing and spreading it into the world. Thereforemedia can changing and determining what is the right conceptof beauty not only for now but also for future. Music Video isone of many forms of media which can spreading any ideas orconcepts like beauty amazingly through both a song and thestory. The successful of Music Video Gee makes Korean GirlBand, SNSD, famous and gets a lot attention from manycountries, like Indonesia. This Music Video is very fresh anddifferent from the other Music Videos of Korean Girl Band orBoy Band at that time. But, Music Video Gee is not neutral. Inthat video, there is hidden concept of beauty which trying torepresented by SNSD. This article will analyzing what is thecode of beauty like and how is the beauty represented in thatvideo.Keyword: Beauty, Music, Representation.
GERAKAN OPOSISI ISLAM MASA REFORMASI (STUDI TERHADAP MAJELIS MUJAHIDIN INDONESIA) Zuhri, Syaifudin
Jurnal Sosiologi Agama Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2007.%x

Abstract

Gerakan oposisi MMI, memiliki tiga kekhasan, yaitu: dari aspek gagasan politik, gagasan MMI yang diantaranya pertama, MMI berkeyakinan bahwa Islam mengatur persoalan negara. Argumen ini didasarkan pada konsepsi bahwa Islam telah mengatur semua sendi kehidupan manusia, dari masalah duniawi sampai ukhrawi. Oleh karena itu, Islam bagi MMI adalah entitas yang tidak bisa dipisahkan dari negara (al-islam huwa al din wa al-dawlah). Kedua, pandangan penyatuan agama dan negara ini pada akhirnya mensyaratkan kedaulatan agama, yakni berupa negara Islam. Ketiga, pandangan MMI tentang pelaksanaan syariah Islam. Resistensi MMI terhadap negara adalah bentuk oposisi yang bekerjasama dengan beroperasi dalam sistem politik yang ada sekaligus oposisi yang berpartisipasi aktif dalam pemerintahan melalui aliansi atau koalisi dengan kekuatan-kekuatan politik.Kata Kunci: Oposisi, Syariah, Khilafah.
KEDUDUKAN YESUS DALAM AJARAN KRISTEN SAKSI YEHUWA Ismail, Roni
Jurnal Sosiologi Agama Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2017.112-08

Abstract

Abstrak:Ajaran Kristen mainstream mengimani dogma Tritunggal, di mana Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus adalah sama-sama Allah. Ketiga pribadi itu adalah pribadi Allah, dan ketiga pribadi tersebut adalah Allah. Terdapat aliran Kristen yang bernama Saksi-Saksi Yehuwa yang menolak dogma Tritunggal, yang berarti menolak ketuhanan Yesus. Menurut Saksi-Saksi Yehuwa, Tuhan itu Satu bernama Yehuwa. Hanya Yehuwa Yang Maha Kuasa dan Pencipta. Konsekwensinya, Yesus bukanlah Tuhan karena ia diciptakan atau makhluk. Yesus adalah seorang messiah. Ia pada awalnya adalah makhluk roh (malaikat) dan ciptaan Yehuwa pertama yang hidup sangat lama di surga. Yesus kemudian diutus Yehuwa dan menjadi manusia di dunia, untuk melaksanakan misi-penebusan dosa asal manusia, karenanya ia adalah tebusan. Dalam matinya sebagai tebusan, Yesus mati bukan di salib. Akan tetapi, ia dibunuh pada tiang kayu. Tiga hari setelah mati, Yesus dibangkitkan kembali ke surga dan menjadi Raja dari Kerajaan Allah yang sudah memerintah kembali pada tahun 1914, setelah terhentu selama tujuh masa. Kata Kunci: Saksi-Saksi Yehuwa, Tritunggal, Yesus.