cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol. 10 No.2 Desember 2013" : 6 Documents clear
METODE DETEKSI TERUMBU KARANG DENGAN MENGGUNAKAN DATA SATELIT SPOT DAN PENGUKURAN SPEKTROFOTOMETER STUDI KASUS: PERAIRAN PANTAI RINGGUNG, KABUPATEN PESAWARAN (DETECTION METHOD OF CORAL REEF USING SPOT SATELLITE DATA AND MEASUREMENT SPEKTROFOTOMETER CASE STUDY: COASTAL WATERS RINGGUNG, DISTRICT PESAWARAN) Arief, Muchlisin
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 10 No.2 Desember 2013
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terumbu karang adalah salah satu ekosistem yang menakjubkan. Ekosistem ini menyediakan barang dan jasa, termasuk perlindungan dari badai tropis, perikanan karang, peluang untuk pariwisata dan pengembangan obat-obatan baru. Terumbu karang merupakan sumber daya kelautan yang sensitif terhadap perubahan lingkungan (perubahan kualitas air), oleh karena itu, perlu untuk mengidentifikasi status dan memantau perubahannya sesering mungkin. Informasi ini sangat penting untuk tujuan konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini difokuskan pada identifikasi terumbu karang dengan mengkorelasikan informasi spektral yang diperoleh dari pengukuran langsung di lapangan menggunakan spetrofotometer dengan informasi band spektral satelit penginderaan jauh SPOT. Berdasarkan berbagai percobaan, fungsi korelasi yang mempunyai nilai koefisien korelasi terbesar adalah fungsi yang diperoleh antara penjumlahan band (band1 dan band3), kemudian fungsi yang diperoleh digunakan untuk memproses band1. Berdasarkan hasil analisis, metode/algorithma yang telah dibangun dapat mendeteksi terumbu karang dangkal/terumbu karang-1 (kedalaman kurang dari 1 meter) dan terumbu karang dalam/ terumbu karang-2. Hasil pemrosesan menunjukkan bahwa terumbu karang-2 terdapat disepanjang Pantai Ringgung, sedangkan didasarkan pada perhitungan disekitar Pulau Pegal terdapat 49 ha terumbu karang-1, dan 116 ha terumbu karang-2, serta terumbu karang disekitar gosong (pasir yang timbul dipermukaan air dengan luas 320 m2), terdapat terumbu karang-1 seluas 12,38 ha dan 2,33 ha dan terumbu karang-2 seluas kurang lebih 42 ha.Kata kunci: Terumbu karang, Korelasi, Ringgung, Spektrofotometer, SPOT
KAJIAN PENDEKATAN TEORI PROBABILITAS UNTUK PEMETAANLAHAN SAWAH BERBASIS PERUBAHAN PENUTUP LAHAN CITRALANDSAT MULTIWAKTU(STUDI KASUS DAERAH TANGGAMUS, LAMPUNG)(STUDY OF PROBABILITY THEORY APPROACH FOR RICE FIELDMAPPING BASED ON LAND COVER CHANGES OF MULTITEMPORALLANDSAT IMAGES(CASE STUDY TANGGAMUS, LAMPUNG)) Parsa, I Made
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 10 No.2 Desember 2013
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan penutup lahan dari bera, air dan vegetasi ataupun sebaliknya dapat dijadikan dasar untuk pemetaan lahan sawah yaitu dengan menggunakan pendekatan teori probabilitas, yaitu peluang suatu lahan sebagai lahan sawah jika terdeteksi/ terjadi perubahan penutup lahan dari air, bera dan vegetasi atau sebaliknya pada citra multiwaktu. Data yang digunakan adalah adalah citra Landsat multiwaktu, sedangkan metode yang digunakan dalam analisis ini adalah transformasi indeks vegetasi dan dikonversi kedalam penutup lahan air, bera dan vegetasi. Terdeteksinya tiga jenis penutup lahan (air_bera_vegetasi atau sebaliknya) pada lokasi sampel diasumsikan mempunyai peluang 1 sebagai lahan sawah, jika jenis penutup lahan yang terdeteksi hanya dua (air dan bera, atau air dan vegetasi, ataupun bera dan vegetasi atau sebaliknya) diasumsikan mempunyai peluang sebagai lahan sawah adalah 2/3, sedangkan jika jenis penutup lahan yang terdeteksi hanya satu misalnya hanya air, hanya bera ataupun hanya vegetasi saja, maka peluangnya sebagai lahan sawah hanya 1/3. Hasil kajian menunjukkan bahwa citra Landsat multiwaktu wilayah kajian cukup memadai untuk memetakan lahan sawah dengan ketelitian pemetaan mencapai 91,2%.Kata kunci: Probabilitas, NDVI, Perubahan penutup lahan, Multiwaktu
PENGARUH PENGAMBILAN TRAINING SAMPLE SUBSTRAT DASAR BERBEDA PADA KOREKSI KOLOM AIR MENGGUNAKAN DATA PENGINDERAAN JAUH (EFFECT OF TRAINING SAMPLE OF DIFFERENT BOTTOM SUBSTRATES ON WATER COLUMN CORRECTION USING REMOTE SENSING DATA) Budhiman, Syarif; Winarso, Gathot; Asriningrum, Wikanti
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 10 No.2 Desember 2013
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lyzenga (1978, 1981) membuat metode untuk mengkoreksi kolom air menggunakan rasio pantulan dari dasar perairan pada 2 (dua) kanal yang berbeda, dengan asumsi bahwa nilai rasio tersebut akan sama untuk berbagai macam substrat dasar perairan. Permasalahannya adalah terindikasinya penyederhanaan metode Lyzenga dalam proses perhitungannya, diantaranya dengan pengambilan sampel dasar perairan yang tidak homogen. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh dari proses penyederhanaan tersebut terhadap hasil perhitungan menggunakan metode Lyzenga yang sebenarnya. Proses perhitungan koreksi kolom air mengikuti proses yang telah dijelaskan dalam panduan oleh UNESCO (1999) dan Green et al (2000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengambilan training sample dari dua substrat dasar yang memiliki nilai radiansi yang berbeda akan membuat nilai substrat yang berada pada perairan yang lebih dalam memiliki nilai indeks yang lebih tinggi.Kata kunci: Koreksi kolom air, Substrat dasar perairan, Penginderaan jauh
MODEL DISEMINASI INFORMASI GEOSPASIAL PULAU-PULAU KECIL TERLUAR BERBASIS PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN GOOGLE MAPPING SYSTEM (MODEL OF DISSEMINATION OF GEOSPATIAL INFORMATION OF OUTERMOST SMALL ISLANDS BASED ON REMOTE SENSING APPLICATIONS AND GOOGLE MAPPING SYSTEM) Sarno, -
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 10 No.2 Desember 2013
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini menjelaskan upaya penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi Geospasial (TIK-Geospasial) dalam diseminasi informasi geospasial pulau-pulau kecil terluar di Indonesia. Model diseminasi memungkinkan pengguna melalui internet dan media web secara mudah berinteraksi dan memperoleh informasi geospasial pulau-pulau kecil terluar yang dibutuhkan melalui web browser secara online. Penelitian ini merupakan tindak lanjut pengembangan informasi geospasial pemanfaatan penginderaan jauh “Pulau-pulau Kecil Terluar Di Indonesia Berdasarkan Peta Citra Satelit Tiga Dimensi dan Peta Penutup Lahan”. Informasi geospasial tersebut telah disusun dan diterbitkan menggunakan media kertas dalam bentuk Album. TIK-Geospasial telah berkembang sangat pesat, khususnya internet, media web dan sistem informasi geospasial. Upaya mengembangkan pemanfaatannya, memungkinkan menjalankan proses penyebarluasan informasi geospasial pulau-pulau kecil terluar di indonesia kepada masyarakat luas melalui jaringan informasi elektronik. Upaya tersebut dilaksanakan melalui pembangunan “Model Diseminasi Informasi Geospasial Pulau-Pulau Kecil Terluar Berbasis Pemanfaatan Penginderaan Jauh dan Google Mapping System”. Dengan terbangunnya model diseminasi informasi geospasial pulau-pulau kecil terluar, diharapkan dapat menjadi komplemen pendukung upaya sosialisasi kepada masyarakat luas dan dapat bermanfaat bagi kita semua tentang keberadaan pulau kecil terluar di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan demikian kita dapat ikut menjaga keamanan, penetapan dan penegasan batas wilayah; pengelolaan sumber daya alam/agraria yang berkelanjutan, keselamatan serta kelestarian alamnya.Kata kunci: Diseminasi, Google mapping system, Informasi geospasial, Pulau kecil terluar
Preface -, -
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 10 No.2 Desember 2013
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGEMBANGAN MODEL IDENTIFIKASI DAERAH BEKAS KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN (BURNED AREA) MENGGUNAKAN CITRA MODIS DI KALIMANTAN (MODEL DEVELOPMENT OF BURNED AREA IDENTIFICATION USING MODIS IMAGERY IN KALIMANTAN) Suwarsono, -; Rokhmatuloh, -; Waryono, Tarsoen
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 10 No.2 Desember 2013
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebakaran hutan dan lahan telah menjadi ancaman cukup serius bagi masyarakat secara global pada dua dekade terakhir, terutama terkait dengan degradasi aspek-aspek lingkungan dan sumberdaya alam. Kalimantan merupakan daerah di Indonesia yang paling rawan terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model-model algoritma untuk mengidentifikasi area terbakar yang paling sesuai diaplikasikan di Kalimantan menggunakan citra MODIS. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan variabel indeks vegetasi (NDVI), indeks kebakaran (NBR), dan reflektansi dari citra MODIS untuk mengidentifikasi area terbakar. Identifikasi area terbakar dilakukan dengan metode pengambangan (thresholding), yaitu perhitungan nilai ambang batas dari perubahan nilai-nilai variabel NDVI, NBR, dan reflektansi untuk piksel-piksel yang dinyatakan sebagai area terbakar. Kemudian dilakukan perhitungan tingkat separabilitas dan akurasi untuk menguji validitas tiap-tiap model. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya semua model algoritma baik perubahan NDVI, NBR dan reflektansi memiliki kemampuan yang baik dalam mendeteksi area terbakar di Kalimantan. Namun demikian, dari semua model algoritma tersebut, hanya model algoritma perubahan NBR yang memberikan tingkat akurasi paling tinggi, yaitu sebesar 0,635 atau 63,5%. Dengan demikian, model algoritma identifikasi area terbakar yang paling sesuai diaplikasikan untuk daerah Kalimantan dengan menggunakan citra MODIS adalah model algoritma perubahan NBR.Kata kunci: Identifikasi, Area terbakar, NBR, MODIS, Kalimantan

Page 1 of 1 | Total Record : 6