cover
Contact Name
Abu Muslim
Contact Email
abumuslim@kemenag.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Al-Qalam
ISSN : 08541221     EISSN : 2540895X     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Qalam Jurnal Penelitian Agama dan Sosial Budaya adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan 2 edisi dalam setahun oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar. Terbit sejak tahun 1990. Fokus Kajian Jurnal berkaitan dengan penelitian Agama dan Sosial Budaya. Lingkup Jurnal meliputi Bimbingan Masyarakat Agama dan Layanan Keagamaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Naskah keagamaan Kontemporer, Sejarah sosial keagamaan, Arkeologi religi, Seni dan Budaya Keagamaan Nusantara.
Arjuna Subject : -
Articles 471 Documents
PAHAM KEAGAMAAN ANTUNG MUHTAR DI TARAKAN KALIMANTAN UTARA mursalim, mursalim
Al-Qalam Vol 23, No 1 (2017)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7116.245 KB) | DOI: 10.31969/alq.v23i1.391

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan serta mengkaji sebuah paham keagamaan yang dahulu disebarkan oleh seorang yang bernama Antung Muhtar di Kota Tarakan, Kalimantan Timur dan sekitarnya, yang berlangsung sejak tahun 2008 sampai 2013, menurut pengakuannya sebagai seorang yang pernah belajar di Mekah dan di Oxford, Inggris. Metode penelitian kualitatif dimanfaatkan sebagai kerangka analisis. Melalui pengumpulan data yang lazim dalam metode kualitatif, baik melalui wawancara mendalam, observasi, maupun dari sumber pustaka. Maka, ditemukan bahwa, paham yang diajarkan Antung Muhtar berkisar pada keimanan, ibadah dan akhlak. Namun, dari ketiga aspek ini, ada banyak hal yang tidak sesuai dengan pokok-pokok ajaran Islam, misalnya dalam bidang ibadah, yaitu shalat. menurutnya shalat lima waktu yang selama ini dianggap sebagai shalat fardhu sejatinya tidaklah wajib, sebab  yang diwajibkan adalah shalat tahajjud dan puasa juga demikian yang ada adalah puasa bicara. Demikian pula dalam bidang tasawuf atau tarekat misalnya konsep ma’rifat, yaitu apabila sampai kepada maqam ma’rifatullah, maka tasawuf tidak memerlukan ilmu dan amalan, yang ada adalah sifat. Demikian pula tentang ajaran tarekat yang dia pahami, yang secara factual telah jauh menyalahi faham-faham tarekat yang berkembang dan dianut umat Islam selama ini, salah ajaran dalam tarekat versi Antung Muhtar adalah konsep“A – I – U”yang kemudian dimaknai sendiri olehnya, seperti lafadz  A adalah Junub, I adalah istinja’ dan U adalah syahadat.
HISTORIOGRAFI ISLAM DI KERAJAAN BANTAENG Sakka, La
Al-Qalam Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.086 KB) | DOI: 10.31969/alq.v20i1.175

Abstract

Penelusuran data informasi dalam penelitian ini dimulai dari proses pencarian arsip, buku-buku,naskah/lontara dokumen-dokumen lainnya maupun informasi lisan. Penelitian ini menunjukkanbahwa di Kerajaan Bantaeng adalah kerajaan besar yang memiliki 7 kampung atau disktrik yakni: Onto,Bissampole (Karatuang), Sinewa (Kambittana), Gantarang Keke, Mamampang (Bungaya), Lawi-lawi(Mangngepong), Katapang (Ulu Galung). Proses islamisasi di Kerajaan Bantaeng dimulai Pada akhirtahun 1607 sewaktu kerajaan Bantaeng di perintah oleh seorang karaeng yang bernama Penelitian inidilakukan untuk mengetahui eksistensi kerajaan di kabupaten Bantaeng melalui Sombaya KaraengMa’jombea (raja ke XIV), Dengan penjelasan di atas maka dapat dipastikan bahwa islamisasi diBantaeng berada dalam kaisaran priode awal abad XVII M. Meskipun agak terlambat dibandingkanpusat-pusat perkembangan agama Islam di Kerajaan lainnya. Proses islamisasi yang terjadi di Bantaengkemungkinan besar dibawa oleh muballigh atau misionaris Kerajaan Gowa, jadi bukan dilakukan olehDatuk ri Tiro (Khatib Bungsu) yang mengislamkan Karaeng Tiro (Bulukumba), sebagaimana pendapatbeberapa pihak. Besar kemungkinan adalah syech Nurun Baharuddin Nasabadiyah sebagai muballighyang sengaja dikirim oleh Raja Gowa Sultan Alauddin.
INSKRIPSI HURUF ARAB DAN RAGAM HIAS PADA MASJID TUA AL-MUJAHIDIN KABUPATEN BONE SULAWESI SELATAN Sultan, Muslihin
Al-Qalam Vol 18, No 1 (2012)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.284 KB) | DOI: 10.31969/alq.v18i1.248

Abstract

Archaeology is history; archaeological research cannot be separatedfrom the history, because historyreveals the story of material culture. The Old Mosque is part of a cultural thing that will describe thehistory of the Islamic society and the reconstruction of the mosque building in accordance with localcultural character of local genius in its time. The Old Mosque of al-Mujahidin Watampone is the oldestand the first mosque of the royal heritage of Bone in Islam development era. The mosque has specificstylistic and architecture that describes how the Islamic symbols interacted with local culture and art.The strong influence of Islamic teachings was implicitly reflected in a wide variety of the mosqueornaments. This research aims to reveal the decoration and Arabic inscriptions located in theOld Mosque, to promote the history and archaeological traces of the Islamic kingdom of Bone, and torecommend to the local government of Bone to make Qadi's cemetery as part of archeological historyof the kingdom Bone that deserve to be considered by the community and the Government of Bone as acultural heritage of the archipelago to be protected as Objects of Cultural guaranteed by IndonesianLaw Number 5 of 1992 about Objects of Cultural Property. The research methodology was a fieldresearch with a survey which is descriptive, archaeological, historical, and explanative on the OldMosque al-Mujahidin, Watampone, Bone regency, South Sulawesi. The techniques of collecting datain this study were: literature data, field data (archaeological assessment, observation, and interviews),documentation and recording, surface surveys, and the withdrawal of sampling. This study also usedthe architectural analysis on the mosque, i.e. morphological, technological, stylistic, and contextualanalysis.
PANDANGAN KEAGAMAAN GERE JA BETHANY INDONESIA Ismail, Arifuddin
Al-Qalam Vol 14, No 1 (2008)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.697 KB) | DOI: 10.31969/alq.v14i1.515

Abstract

This writing is a conclusion of research, that was conducted in Palu,Central Sulawesi. This writing aims to describe the religious perspectiveofGBI (Gereja Bethany Indonesia), that was considered as a part offundamentalism movement on Christ.The result of study showed that (1) the basic of religious faith of GBI isGod Jesus Christ, and confession that Jesus is messiest, the living Son ofGod. (2) Bible is never wrong. The truth of Bible works at anywhere andanytime. Men have to believe and do what Bible said. (3) Confession toApostle Creed. (4) The church is God institution to realize God in theworld. Church not only means as construction but also means as peopleunited to live in same faith, hope, and love to Jesus Christ. (5) Themovement of GBI emphasis to morality and spirituality especially toyoung generation; (6) their motto is Successful Bethany Family
KEHIDUPAN PENGANUT TAREKAT NAQSYABANDIYAH KHALIDIYAH DI PATI, JAWA TENGAH Arraiyah, Hamdar
Al-Qalam Vol 5, No 1 (1993)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.593 KB) | DOI: 10.31969/alq.v5i1.641

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitianstudi kasus di Kabupaten Pad yangdifokuskan pada salah satu desa yang terletakdipesisirutaraPropinsi Jawa Tengah,yaitu Ngagel. Dalam tulisanini akandijelaskankchidupan penganut tarekat NaqsyabandiyahKhalidiyah (NK), salah satukclompok penganut agama Islam yangmenckankan kcsucian batin dengan jalansenantiasa mengingat Tuhan, mclakukanperbuatan yang baik, dan menghindari perbuatantercela mcnurut syari'at Islam.Penganut tarekat ini relatif tampak samadengan warga desa lainnya dari golongansantri, yaitu umat Islam yang taat menjalankankewajibanutamadalam Islam terutamashalat lima waktu, zakat, dan puasa.Mereka tak dapat diidentifikasi berdasarkanciri-ciri tertentu kctika berada di tempatumum, tempat kerja, dan pcrtcmuandengan warga desa lainnya
E L A I E M DI MALUKU (Mengelola Kerukunan dari Akar Rumput) Arifuddin, Ismail
Al-Qalam Vol 12, No 2 (2006)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.292 KB) | DOI: 10.31969/alq.v12i2.559

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian evaluatifterhadap keberadaan dancara kerja lembaga-lembaga kerjasama antar umat beragama dalammembina kerukunan di Kota Ambon. Data diperoleh melalui teknikpenjaringan data sesuai dengan konteks data yang dicari. Data primerakan dijaring melalui teknik wawancara dan pengamatan. Data yangdikumpulkan kemudian diolah dengan kategorisasi dan pengelompokansesuai dengan jenis data. Kemudian dilihat hubungan-hubungan antarfakta yang ada untuk membantu melakukan interpretasi dan analisis.Teknik analisisnya digunakan anaisis deskriptif kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan, bahwa sejak masuknya agama-agamasamawi ke wilayah Maluku, konflik antara pemeluk agama telah terjadiberulang kali. Kenyataan sampai saat ini takpernah mencapai suatu titikpenyelesaian yang permanent, dari realitas tersebut, maka GerejaProtestan Maluku (GPM), Majelis Ulama Indonesia (Mill) WilayahMaluku, dan Keuskupan Ambonia, guna menjawab tuntutan tanggungjawab itulah maka ketiga lembaga resmi agama ini menyepakati sebuahprakarsa bersama untuk membentuk Lembaga Antar Iman untukKemanusiaan Maluku yang disingkat el AI eM. el AI eM dirasakanmanfaatnya oleh masyarakat Maluku, dimana lembaga ini adalah hasildari prasakarsa masyarakat. menurut menuturan responden, bahwalembaga-lembaga yang muncul butten up akan lebih bermanfaat biladibandingkan lembaga yang dibentuk top dawn.
SISTEM KEKERABATAN ORANG BUGIS DI SULAWESI SELATAN (SUATU ANALISIS ANTROPOLOGI - SOSIAL) Meiyani, Eliza
Al-Qalam Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.336 KB) | DOI: 10.31969/alq.v16i2.484

Abstract

Sistem kekerabatan masyarakat Bugis Bone memiliki struktur bati na wija sebagai pranata sosial yangmenjadi wadah pembentukan knalitas masyarakat untuk mendukung sistem sosial dan sistem budayamasyarakat yang harmonis. Masyarakat Bugis Bone sejak dahulu telah menjadikan bati na wija sebagaisarana yang membentuk sistem pemerintahan efektif dan efisien. Membantu pemimpin dan pemukamasyarakat yang berkualitas dan mampu menjadi pioner dalam membangun sistem kerajaan yang besaryaitu kerajaan Bone, Kerajaan Gowa dan Kerajaan Luwu. Namun, saat ini peran wija na bati mulaitergeser berangsur-angsur ke pembentukan kualitas individual, masyarakat dan pemimpin padapendidikan dan harta benda menjadi tolak ukur. Bergesernya peran wija na bati tersebut sebagai akibatlemahnya ketahanan budaya orang Bugis-Bone untuk menjadikannya sebagai sarana pembentukankualitas individual, kemimpinan dan kualitas masyarakat. Peranan sistem kekerabatan yang menyimpannilai-nilai kekerabatan yang dianut pada masa lalu tidak lagi menjadi sarana yang efektif membentukstruktur sosial masyarakat Bugis- Bone yang harmonis. Meskipun demikian, mash ada sebagian kecilkelompok masyarakat Bugis-Bone yang masih konsisten menggunakan nilai-nilai kekerabatan sebagaisarana pembentukan kualitas individual, pemimpin dan masyarakat, teruma pada daerah-daerah yangmasih terdapat orang-orang yang menjunjung tinggi tradisi budaya masyarakat Bugis-Bone yang diyakinisebagai tradisi yang sudah dianut oleh para pendahulunya.
PEMETAAN KUALITAS MADRASAH ALIYAH DI KABUPATEN KOLAKA Arsyad, Abd. Rahman
Al-Qalam Vol 24, No 2 (2018)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.909 KB) | DOI: 10.31969/alq.v24i2.544

Abstract

LEKTUR AGAMA DALAM AKSARA LONTARA BERBAHASA BUGIS Surur, Abubakar
Al-Qalam Vol 7, No 2 (1995)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.363 KB) | DOI: 10.31969/alq.v7i2.609

Abstract

Propinsi Sulawesi Selatan didiamiempat suku yang merupakan pendudukasli, masing-masing memiliki bahasatersendiri sebagai bahasa induk, yaitusuku Bugis, Makassar, Mandar dan SukuToraja.Bahasa Bugis tersebar luas, bukanhanya di Sulawesi Selatan, tetapi menyebatsampai ke seluruh pelosok tanah air.Suku Bugis yang suka merantau sampaikeluar negeri dengan menggunakanperahu khas yang disebut "pinisi",banyak yang mendiami negara-negaratetangga, seperti Malaysia, Singapura,Brunei, Saudi Arabia dan negara lainnya.Walaupun mereka telah menjadi warganegarapada negara atau propinsi lainyang didiaminya, mereka masih ketatmenggunakan bahasa Bugis sebagaibahasa komunikasi antarmereka seharihari.Disamping bahasa, orang Bugismemiliki juga tulisan khusus yang dikenaldengan tulisan lontara, masih tetapdigunakan, baik dalam surat-menyurat,maupun dalam menyusun buku-bukutermasuk lektur agama (Islam).Penyebaran dan perkembanganAgama Islam di Sulawesi Selatan, sejakawal menggunakan bahasa Bugis danaksara Lontara, didukung dengan kenyataanbahwa orang-orang Bugis, yangumumnya beragama Islam, lebih sukamenggunakan dan mempertahankanpemakaian Bahasa Bugis sebagai saranakomunikasi intern, disamping masihbanyak orang Bugis yang masih sulitberkomunikasi dengan memakai bahasanasional, terutama mereka yang berdomisilidi pedesaan.Penjelasan Undang-Undang Dasar1945, pasal 36 menyebutkan :"Di daerah-daerah yang mempunyaibahasa sendiri, yang diperliharaoleh rakyatnya dengan baik danbahasa-bahasa itu akan dihormatidan dipelihara oleh nagara. Bahasa-bahasa itupun merupakan sebahagiankebudayaan Indonesia yanghidup".Dengan demikian, Bahasa daerahBugis dengan aksara Lontarak yang dimilikinyasampai sekarang masih banyakberedar dan dimiliki masyarakat sertadibaca oleh penduduk yang menggunakanbahasa Bugis, bahkan masih ada yangadigunakan sebagai buku-buku rujukan diPesantren, Madrasah Diniyah dan MajelisTaklim.Untuk mengetahui lebih dalam,perkembangan Lektur Agama tersebut,penelitian dilakukan di Kotamadya Parepare,Kota Sengkang, Watansoppengdan Kota Watampone, sebagai sampelyang dianggap tersedia sumber data dantempat tinggal Ulama, pengarang LekturAgama berbahasa Bugis dapat ditemukan.No. 12 Th. VII Juli/Desember 1995LEKTUR AGAMA DALAM AKSARA LONTARABERBAHASA BUGIS 25Pengumpulan data dilakukan melaluiwawan-cara dengan Ulama pengarang,tokoh masyarakat, guru-gufu Madrasahdan penerbit. Disamping itu, penelitimelakukan juga pengamatan langsung kePesantren dan Madrasah Diniyah.Pengolahan dan analisis data dilakukandengan analisis kuantitatif dan analisiskualitatif.
KREATIVITAS KEPEMIMPINAN KEPALA RAUDHATUL ATHFAL AS-SALAM KOTA AMBON DALAM MENINGKATKAN PENDIDIKAN AGAMA Marannu, Baso
Al-Qalam Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.669 KB) | DOI: 10.31969/alq.v19i1.139

Abstract

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik, kecerdasan, sosio emosional, bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Tujuan dari penelitian ini menganalisa Pelaksanaan Standar Pendidikan Anak Usia Dini sesuai Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009 dikaitkan dengan pengembangan model Kepemimpinan RA. serta pengelolaan RA As-Salam dikaitkan dengan kreatifitas Kepemimpinan. Penelitian Kualitatif ini menyimpulkan Gaya kepemimpinan Kepala RA As-Salam lebih bersifat situasional dengan memadukan beberapa sekolah sukses, khusus kreatifitas kepemimpinan sangat mempengaruhi pengembangan kurikulum, kedisiplinan, pengelolaan informasi, kegiatan ekstra kurikulur hingga sistem evaluasi, pada akhirnya sebuah RA yang dikoordinasikan oleh Kemenag juga dapat memperlihatkan kualitas pengelolaan dan pelayanan pendidikan secara baik

Page 1 of 48 | Total Record : 471