cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 16, No 4 (2015)" : 11 Documents clear
Cover Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 16, No 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2485.742 KB)

Abstract

RIVALITAS JAMU JAWA DAN OBAT TRADISIONAL CINA1 ABAD XIX - AWAL ABAD XX Fibiona, Indra; Lestari, Siska Nurazizah
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 16, No 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.84 KB)

Abstract

Jamu Jawa atau obat tradisional Jawa sebagai warisan budaya mengalami tekanan setelah obat tradisional Cina semakin populer di Hindia Belanda. Keduanya saling berkompetisi dalam dunia kesehatan di Hindia Belanda pada abad XIX dan XX.Rivalitas keduanya belum banyak dikaji, dan sangat menarik jika bisa diteliti lebih dalam. Tulisan ini merupakan penelitian kualitatif yang berasal dari penelitian kolektif mengenai Jamu yang digagas atas inisiatif bersama untuk melengkapi penelitian tentang jamu sebelumnya. Penelitian ini juga termasuk dalam penelitian sejarah sosial dengan analisis menggunakan metodologi sejarah sosial. Hasil penelitian menunjukan bahwa Jamu Jawa (traditionele Javaanse geneeskunde) kurang memiliki daya saing dalam beberapa hal jika dibandingkan dengan Obat Tradisional Cina(Traditionele Chinese Geneeskunde). Kurangnya daya saing tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya sistem distribusi dan branding jamu yang belum bisa meraih pangsa pasar potensial.Jamu Jawa or Javanese traditional medicine as a heritage inherited under pressure after the traditional Chinese medicine are increasingly popular in the Dutch East Indies. Both of them competing in the world of health in the Dutch East Indies in the XIX and XX century. Rivalry of both has not been widely discussed, it's very interesting if it can be studied further. This paper is a qualitative research derived from collective research on herbs that was initiated on a joint initiative to complement previous research about traditional herbal medicine. The study also included in the study with an analysis of social history using the methodology of social history. The results showed that Jamu Jawa (Traditionele Javaanse Geneeskunde) lack of competitiveness in some respects when compared with Traditional Chinese medicine (Traditionele Chinese Geneeskunde). The lack of competitiveness caused by several factors, including the distribution system and Jamu's branding have not been able to gain potential market share.
Back Cover Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 16, No 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2485.763 KB)

Abstract

PEWARISAN TRADISI MEMBATIK DI DESA KOTAH, SAMPANG, MADURA Purwaningsih, Ernawati
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 16, No 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.892 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi membatik di Desa Kotah, latar belakangeksistensi tradisi membatik, menelusuri unsur-unsur pewarisan, serta menelusuri cara pewarisannya. Penelitian menggunakan metode kualitatif, teknik wawancara mendalam, pengamatan, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal mula tradisi membatik di Desa Kotah tidak dapat diketahui pasti, namun sudah ada sejak nenek moyang. Hal ini tergambar dari warisan kain batik yang dimiliki beberapa warga di Desa Kotah sudah berumur lebih dari 100 tahun. Mayoritas perempuan di Dusun Magug dapat membatik. Tradisi membatik dapat tetap eksis dipengaruhi, pertama, ketrampilan membatik merupakan warisan dari nenek moyang sehingga ada ikatan untuk meneruskannya. Kedua, kualitas sumberdaya manusia relatif rendah, mengakibatkan kesempatan untuk mencari kerja dan bersaing di luar daerah menjadi rendah. Ketiga, lingkungan permukiman yang relatif terpencil, di daerah perbukitan, tanahnya kurang subur mempengaruhi keterbatasan terhadap kesempatan kerja. Banyak ibu rumah tangga di Dusun Magug menjadi pembatik, namun yang menarik, pembatik anak-anak juga banyak. Anak-anak belajar membatik atas kemauannya sendiri. Dalam proses membatik, anak-anak hanya pada tahapan paling dasar yaitu isen-isen. Jadi, pewarisan tradisi membatik terjadi karena ada rasa memliki warisan budaya, menambah penghasilan, dan lingkungan sekitar banyak yang membatik.This research is aimed to describe batik tradition on Kotah village, reveal the background of batik tradition existence, finds the factor of the legacy, and reveal the way its inherited. The research was done by qualitative methods, depth-interview techniques, observation, and library study. The beginning of Batik tradition in Kotah village was not known for certain. But it has started since the time of their ancestor. This was depicted through the drawings of Batik cloth possessed by several Kotah villagers which already exists for more than 100 years. The majority of women in Magug hamlet able to make batik. The reasons of Batik tradition can survive was influenced by several factors. First, Batik craftsmanship was the legacy from their ancestor, therefore they have a bond or obligation to continue the legacy. Second, the low rate of human resource quality, cause the opportunity to find and compete to be a job seeker outside the area relatively low. Third, Remote settlements, in hill landscape, infertile soil will limit the job opportunity. Batik crafter in Magug hamlet consist of both children and adults. Children study batik by their own will. In Batik process, children were only comes at 'isen-isen' stage, the most basic stage. Briefly, Batik tradition legacy exists because children love and happy with the cultural legacy that they have. Economically, the activity can add extra money, for local area, household wife who can make Batik.
Indeks Pengarang Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 16, No 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12.279 KB)

Abstract

TEMU: MAESTRO GANDRUNG DARI DESA KEMIREN BANYUWANGI Nurhajarini, Dwi Ratna
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 16, No 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.105 KB)

Abstract

Artikel ini berbicara tentang biografi Temu, seorang tokoh seni gandrung yang berasal dari Kemiren, Glagah, Banyuwangi. Kesenian gandrung tersebut termasuk seni pertunjukkan rakyat. Oleh kalangan masyarakat Banyuwangi Temu dianggap identik dengan gandrung dan dianggap sebagai seorang maestro gandrung. Kemampuannya menari, nembang, dan menyampaikan wangsalan dimiliki oleh Temu dengan ditambah ciri khas suara Temu yang unik. Suara Temu melengking tinggi dengan gaya khas Using menjadikan suara Temu menghiasi beberapa isi VCD maupun DVD. Pada masa awal perkembangan rekaman kaset suara Temu termasuk yang awal menghias pita rekaman. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah mengapa Temu terus mendedikasikan dirinya untuk gandrung? Dengan pertanyaan utama itu maka sekaligus menjawab tentang siapa Temu dan apa saja kiprahnya. Biografi Temu ditulis dengan menggunakan metode sejarah, dengan melihat kiprah Temu sejak kecil hingga saat penelitian dilakukan. Hasil penelitian menemukan Temu mendedikasikan dirinya kepada seni gandrung dengan terus melakukan aktivitas yang terkait dengan gandrung, yakni pergelaran dan melatih para calon gandrung. Gandrung bagi Temu adalah ladang penghidupan dan sekaligus untuk ekspresi diri. Beberapa penghargaan di tingkal lokal hingga nasional pernah di raih Temu, perempuan yang tidak tamat sekolah dasar. Temu pun berhasil tampil dari panggung hajatan warga hingga acara di Taman Ismail Marzuki serta di panggung Frankfrut, Jerman. Untuk melestarikan dan mewariskan kemampuaannya menjadi gandrung, Temu mendirikan sebuah sanggar yang diberi nama “Sopo Ngiro”. Sanggar tersebut diharapkan dapat menjadi persemaian para calon penerus gandrung dan Temu berharap menemukan penerusnya dari sanggar tersebut.This article is discussing about biography of Temu, a gandrung artist who comes from Kemiren, Glagah, Banyuwangi. The gandrung art belongs to a folk art. People in Banyuwangi acknowledge Temu to be identical to gandrung art and is regarded a maestro of gandrung. Temu was able to dance, nembang, and deliver wangsalan with her unique style. Temu has a high pitch voice with Using style recorded to some VCDs and DVDs. Also, Temu contributed to the development of tape cassette recording as the pioneer of that recording. The topic which will be discussed in this research is why Temu keeps dedicating herself to gandrung. The main question will also answer who Temu is and what her contributions are. Biography of Temu is written using historical approach by looking at the early life of Temu until the research is being done. The result of the research finds that Temu is dedicating herself to gandrung art by keeping doing activity which relates to gandrung, that are shows and teaching gandrung art. For Temu, gandrung are a means of earning money and also a self-expression. Temu has got some achievements from local until national level although she was not graduated in Elementary School. Temu also managed to perform in Taman Ismail Marzuki and in Frankfurt, Germany. For preserving and handing down her ability, Temu established a studio which is named “Sopo Ngiro”. The studio is expected to be able to recreate successors of gandrung art and Temu hopes to find them in her studio.
KEMUNCULAN ORIENTASI POLITIK DAN GAGASAN KEBANGSAAN, BALI AWAL ABAD KE-20 Winardi, Uji Nugroho
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 16, No 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.716 KB)

Abstract

Perkembangan nasionalisme pada paruh pertama abad ke-20 sering dianggap sebagai hasil dari komitmen bersama yang berjalan linear dengan kemunculan elit modern Indonesia. Kajian ini mengeksplorasi orientasi politik dan gagasan kebangsaan yang berkembang di Bali untuk menunjukan adanya partikularitas dalam merespon perkembangan nasionalisme Indonesia. Meskipun kelompok elit terdidik di Bali cukup giat dalam mensuarakan gagasannya mengenai kemajuan, orientasi politik mereka condong ke dalam menyangkut tentang persoalan domestik. Tulisan ini berargumen bahwa ada kompleksitas dari dalam masyarakat Bali menyangkut kasta, adat dan tradisi yang tidak tertembus oleh ide-ide modern.The development of nationalism in early 20th century is commonly presumed as a result of commitment which run linear with the emergence of the Indonesian modern elites. This research explores political orientation and national consciousness surfacing in Bali to explain particularities responding the rise of the Indonesian nationalism. Although the Balinese-educated-elites were fairly active in articulating their ideas of progress, they had very much inward orientation which mainly concerned with local/domestic issues. This article eventually argues that the main problem revolves around the complexity of its society related with caste system, custom and tradition that remained inpenetrable by the modern ideas.
DAMPAK SOSIAL SEBUAH KARYA SENI PADA KAUM MISKIN DAN TERTINDAS KAJIAN SOSIOLOGIS PADA CANDI GANJURAN Bramasti, Danang
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 16, No 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.204 KB)

Abstract

Situasi sosial pada 1920-an, terutama situasi pribumi dan para buruh, mempengaruhi Schmutzer bersaudara (Josef dan Julius)untuk membuat rumah sakit, sekolah, panti asuhan,dan tempat peribadatan Katolik yang berbentuk candi yang kemudian dikenal dengan Candi Ganjuran. Candi ini selesai dibangun pada tahun 1930. Schmutzer bersaudara memilih bentuk candi untuk memperlihatkan keberpihakan mereka kepada pribumi yang tertindas. Setelah dibangun, candi ini terlupakan selama enam puluh tahun dan pada masa itu candi ini tidak terwat dan terbengkalai. Pada 1990, Gregorius Utomo Pr, atau yang akrab disapa Romo Tomo, menggali kembali semangat pendiri candi ini dengan mencanangkan Deklarasi Ganjuran. Sejak itu, candi ini menjadi tempat peziarahan Katolik yang terkenal di Indonesia. Para peziarah menyumbangkan uang yang kemudian digunakan untuk membantu mereka yang lemah secara ekonomi. Penelitian ini akan mengkaji latar belakang terbentuknya Candi Ganjuran dan dampak sosial yang terjadi setelah candi ini terbentuk. Metode penelitian dengan melakukan kajian dokumen, wawancara terhadap mereka yang terlibat dalam proses sosial candi itu, dan melakukan observasi lapangan. Penelitian ini menggunakan teori Dunia Seni dari Howard S. Becker yang mengatakan bahwa sebuah karya seni terbentuk dari proses sosial. Teori ini akan memperlihatkan adanya aktor-aktor yang saling terkait satu dengan yang lain dalam proses sosial yang terjadi pada candi itu dan dalam penelitian ini melihat kaitan tersebut pada mereka yang lemah secara ekonomi. Dengan demikian, penelitian ini memperlihatkan apakah Candi Ganjuran pada saat ini memperlihatkan keberpihakan pada mereka yang lemah seperti yang diharapkan oleh pendirinya.The social situation in the 1920s, especially the situation of indigenous and workers, affected the Schmutzers brothers (Josef and Julius) to make hospitals, schools, orphanages, and Catholic place of worship which is the Hindu temple shaped and then known as the Temple of Ganjuran. The temple was built in 1930. The Schmutzer brothers chose to make it in the temple shaped because they wanted to show that they took side to the oppressed natives. However, after the temple was built, it did not get the attention of Catholics so that it was forgotten for sixty years and at that time the temple was neglected. In 1990, Gregorius Utomo Pr, or familiarly called Romo Tomo, tried to explore the spirit of the founder of this temple by launched the Declaration of Ganjuran. And then now the temple becomes famous as a Catholic pilgrimage site in Indonesia. The pilgrims donate a lot of money to help the poors. This study will examine the background of the establishment of the Temple of Ganjuran and then the social impacts that occur after the temple was established. This social process will be studied through the theory of Art World by Howard S. Becker (Art World, 2008) by examining documents, interviews with people involved with the temple and field observations. This process will show the actors who are interlinked in a social process that occurs in the course of life of the Temple of Ganjuran, especially to the poors. Thus, this study will show whether the temple Ganjuran currently showing solidarity towards the poors as expected by its founder. 
GALLANT BRITISH-INDIANS, VIOLENT INDONESIANS: BRITISHINDONESIAN CONFLICT IN TWO BRITISH NEWSPAPERS, THE FIGHTING COCK AND EVENING NEWS (1945-1946) Zara, Muhammad Yuanda
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 16, No 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.613 KB)

Abstract

Pengantar Redaksi Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 16, No 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (26.526 KB)

Abstract

Page 1 of 2 | Total Record : 11