cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 18, No 1 (2017)" : 11 Documents clear
IMPLEMENTASI ATURAN ADAT TERHADAP PENGELOLAAN LINGKUNGAN: DAMPAKNYA TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL PADA KOMUNITAS ADAT KASEPUHAN CISITU Nopianti, Risa
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6502.773 KB)

Abstract

Komunitas adat Kasepuhan Cisitu selama beberapa tahun terakhir ini mengindikasikan terjadinya perubahan, terutama pada cara-cara hidup, kondisi fisik lingkungan hutan, dan budaya. Hal ini terjadi karena masyarakat Kasepuhan Cisitu diperkenankan untuk mengelola hutan tutupan, yang memiliki sumberdaya alam melimpah berupa pertambangan emas. Hal yang menarik dari penelitian ini adalah bagaimana bisa aturan adat memperbolehkan masyarakatnya mengeksploitasi hutan tutupan, yang dipercaya masyarakat sebagai hutan terlarang untuk dieksploitasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam. Penelitian ini menemukan bahwa ada keterkaitan yang cukup erat antara perubahan sosial yang terjadi pada komunitas adat Kasepuhan Cisitu dengan kegiatan masyarakat melakukan penambangan dan pengelolaan lingkungan hutan tutupan. Hal ini terjadi karena adanya aturan adat yang mendukung masyarakat untuk memanfaatkan lahan hutan tutupan yang terlanjur terkena dampak pertambangan, supaya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Perubahan sosial ini juga memiliki pengaruh yang cukup besar pada perubahan aturan adat yang selama ini dianut oleh komunitas adat Kasepuhan Cisitu.____________________________________________________________Kasepuhan Cisitu communities over the last few years indicate a change, especially in the ways of life, the physical condition of the forest environment, and culture. This happens because people Kasepuhan Cisitu allowed to manage a forest reserve, which incidentally has abundant natural resources such as gold mining. The interesting thing about this study is how can the customs rules allow people to exsploiting tutupan forest, that trusted as the forbidden forest to exploited. This study used a qualitative descriptive method by using indepth interviews. The study found that there was sufficient connection between social changes that occur in indigenous communities Kasepuhan Cisitu with community activities mining and environmental management of the forest reserve. This occurs because of the customary rules for communities to utilize tutupan forest are already affected by mining, in order to provide benefits to the community. This social change also has a considerable influence on the change of customary rules that have been adhered to by the traditional community of Kasepuhan Cisitu.
IKONOGRAFIS POSTER PROMOSI WISATA MASA KOLONIAL 1930-1940 Banindro, Baskoro Suryo
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4127.877 KB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji aspek visual elemen rupa poster promosi wisata masa Kolonial Hindia Belanda tahun 1930-1940, dengan tujuan untuk mengetahui mengapa budaya lokal digambarkan dengan pendekatan barat art deco yang modern. Melalui metode ikonografi, ketepatan objektif gaya visual akan dirunut dengan sejarah gaya untuk memahami secara kritis bahasa rupa yang terselubung di dalamnya serta ideologi yang direproduksi oleh suatu sistem pertandaan, kajian ini diharapkan dapat mengungkapkan makna dibalik simbolisasi gambar poster wisata masa kolonial. Hasil kajian dalam penelitian ini adalah gaya art deco dipilih untuk memberikan nilai modernitas atas entitas budaya lokal di Hindia Belanda.____________________________________________________________This study examines the visual aspect form of promotional poster tour Netherlands East Indies colonial period 1930-1940, with the purpose to find out why the local culture is described with the Western approach "art deco". Through iconography, the accuracy of the objective of visual style will be tracked back with the history of styles to understand the language of critical way that underlies it and the ideology that page are reproduced by an system of sign, this study is expected to reveal the meaning behind the tourist poster image symbolizing the colonial period. Results of the study in this research is an art deco style resulting in works of the colonial tourist posters to give a value of modernity over the local cultural entities.
EKPRESI WAJAH REINTERPRETASI VISUAL DI BALIK KARAKTER DEWATA NAWA SANGGA Wirakesuma, I Nengah
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4851.585 KB)

Abstract

Ekspresi wajah manusia dengan berbagai karakter dan dinamikanya nampak menunjukkan ekspresi yang bermacam-macam, ada yang sedih, gembira, senang, takut, marah dan masih banyak misteri lain yang ada pada karakter wajah manusia. Wajah banyak saya temui di tempat-tempat umum, di terminal, di rumah sakit, di pasar, di sekolah, di kantor dan sering pula wajah manusia tampak pada layar kaca elektonik TV, koran, majalah, dan buku-buku. Ekspresi wajah manusia dalam ikon visual Dewata Nawa Sangga, Hindu Bali, yang dilukiskan dalam bentuk wayang, menjadi stimulasi dalam penciptaan karya seni lukis. Transformasi ekspresi wajah yang muncul dalam karakter visual wayang Dewata Nawa Sangga tersebut berpotensi mampu menjadi stimulasi dalam menciptakan berbagai karya seni lukis baru dengan bahan mixed media. Reinterprestasi visual di balik karakter Dewata Nawa Sangga, yang memiliki atribut, karakter, bentuk, warna, senjata, kendaraan, mempunyai  pesan moral terhadap umat manusia agar selalu berpikir, berkata, berbuat baik terhadap sesama manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, di mana pun mereka berada. Esensinya adalah nilai-nilai luhur agama harus dipahami, diresapi, dan dimengerti untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud dari perilaku dharma. Perilaku dharma manusia akan tercermin pada watak dan sifat antara lain, satwan, rajas, tamas. Sifat dan watak itu, sebagai karakter yang  tercermin pada ekspresi wajah manusia, yang kemudian direinterpretasikan sesuai dengan konsep penciptaan, konsep bentuk, penggunaan media dan teknik yang sesuai dengan kebutuhan kreatifitas.____________________________________________________________Human facial expressions with its characters and dynamics show different expressions; sad, happy, fun, afraid, angry, and many other mysteries on the human facial character. I see many faces in public area, bus station, hospital, market, school, office, and human face is also shown on the television, newspaper, magazines, and books. Human facial expression in visual icon Dewata Nawa Sangga, Balinese Hinduism, which is depicted in the form shadow puppets, becomes the stimulation in the creation of painting arts. The facial expression transformations that appear in the visual character of the shadow puppets have the potential to become stimulation is the creation of new painting arts with mixed media. The visual reinterpretation of the character of Dewata Nawa Sangga which has attribute, character, form, colour, weapon, and vehicle, has moral message for human to always have positive thinking, good talking, and be kind to other humans, animals, and plants, wherever they are. The point is that the noble values of religion should be known, impregnated, understood and be carried out in daily life as a part of Dharma behavior. Human Dharma behavior is reflected in the qualities and traits such as Satwan, Rajas, and Tamas. The qualities and traits, as the characters reflected in human face expression, which is then reinterpreted in the creation concept, form concept, media use, and techniques as needed by the creativity.
KEBANGKITAN INDUSTRI BATIK LASEM DI AWAL ABAD XXI Laili, Nazala Noor; Masruroh, Noor Naelil
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4651.052 KB)

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengungkap eksistensi dan peranan pengusaha pribumi dalam mengembangkan industri batik tulis di Lasem, yang selama ini pelaku utamanya adalah etnis Tionghoa, menemukan faktor-faktor penyebab muncul dan bangkitnya para pengusaha batik dari kalangan pribumi Jawa, serta memetakan upaya konkret yang telah dilakukan untuk mewujudkan hal ini. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah wawancara, studi dokumen, serta observasi terhadap pelaku usaha dan aktivitasnya. Sementara itu, pendekatan historis juga digunakan dalam studi ini khususnya untuk mengetahui aspek kronologis dalam pengembangan usaha batik tulis Lasem yang dimotori oleh masyarakat pribumi Jawa. Berdasar pada hasil peneltian, terdapat berbagai faktor yang menyebabkan kebangkitan para pengusaha batik pribumi Jawa di Lasem. Karakteristik masyarakat Lasem yang multietnis dalam hubungannya memiliki kehidupan yang harrnonis. Mereka meminimalisir adanya dikotomi etnis atau ras dan menyepakati bersama identitias sebagai orang Lasem, sehingga memunculkan rasa keterbukaan dan kebersamaan. Selain itu, pasca penetapan Hari Batik Nasional pada 2009 disertai kuatnya dorongan pemerintah melalui berbagai program bantuan, maka sejak saat itu dijadikan sebagai momentum utama kebangkitan pengusaha batik pribumi Jawa. Dukungan tersebut berlangsung secara kontinyu, khususnya dalam membukakan akses pasar dan modal.____________________________________________________________This article aims to reveal on the role and existence of indigenous entreprises in developing batik industry at Lasem. All the time, the main actors has been hold by the Chinese, seeks to find the factors that cause them to rise up and appear, as well as mapping out tlie concrete efforts that have been made to make this happens. The method used are interviews, study documents, as well as observations among the entreprenuers (Chinese and Javanese) and their activities. Meanwhile, the historical approach also used particularly to determine chronological aspects in the development of this industry led by Javanese. There are two important factors that cause the revival. Lasem people typically multiethnic in relation to have a harmonious life. They minimize ethnic or racial dichotomy and consens identity as Lasem people, therefore it generating openness and togetherness among them. Meanwhile, after designation of National Batik Day in 2009, the government have given strong encouragement by various aid programs, since then it serves as revival momentum of indigenous Javanese enterprises. Furthermore, the government supports continuesly especially in opening access on capital and market.
RUMAH TRADISIONAL LAMBAN PESAGI LAMPUNG BARAT Harsono, T. Dibyo
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4985.8 KB)

Abstract

Keberadaan perkampungan adat atau perkampungan tradisional pada masyarakat Lampung sangat erat dengan kehidupan masyarakat adat, yang telah berlangsung ratusan tahun. Salah satu perkampungan tradisional Lampung adalah yang ada di Desa Kenali, Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat yang sarat dengan beragam makna dan simbol.Sampai saat ini masih hidup dan dihayati oleh sebagian masyarakat Lampung, yakni penetapan rumah adat sebagai situs rumah tradisional Pesagi. Rumah adat ini mendapatkan penetapan sebagai situs rumah tradisional berdasarkan Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1992, Nomor Inventaris: 397.04.06.05 Tahun 1992, oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang. Lamban Pesagi merupakan salah satu rumah tradisional Lampung yang masih tersisa, yang apabila tidak mendapatkan perhatian akan hilang tanpa meninggalkan jejak lagi. Hal ini tentunya sangat disayangkan, karena aset budaya Lampung yang sangat berharga ini patut dan wajib dilestarikan sebagai warisan budaya untuk anak cucu kita. Untuk itu kegiatan pencatatan warisan budaya tak benda (WBTB) mengenai Lamban Pesagi ini dirasakan sangat penting. Pengumpulan data di lapangan dengan pengamatan atau observasi, wawancara dengan para informan pemilik Lamban Pesagi, dan juga dilengkapi dengan studi kepustakaan yang relevan.____________________________________________________________The existence of traditional villages at community Lampung society very closely with life indigenous peoples, who has been ongoing hundreds of years. One of the traditional Lampung is Lamban Pesagi in Kenali Villages, Belalau Districts, West Lampung of district  laden with religious pupose and symbol, until now who still alive and be lived by most people of Lampung and has been designated as: the site of traditional villages, Pesagi, base on reserved Republic of Indonesia number 5, 1992 investory of number 397.04.06.05, 1992, by The Ministry Cultural and Tourism, Heritege Preservation Hall relicse ancient of Serang. Lamban Pesagi is one the traditional of Lampung, still left, is not interest will be lost without left a trail again. Its certainly we very dear right, because the cultural assets in Lampung very percious it should be and requested shall we everlasting as cultural  heritage to offspring. For that the registration an intangible cultural heritage (WBTB) respecting Lamban Pesagi. Its feel very important to inventory and documenting traditional houses of Lampung. As for to complete it needs to data collected based on result of supervision or observations, the results data an interview with informant as well as proprietor of Lamban Pesagi, and also fitted with study of decision to find a relevant reference.
Back Cover Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.663 KB)

Abstract

ASIMILASI PERKAWINAN ETNIS CINA DENGAN PRIBUMI DI JAWA: FOKUS STUDI DI JEMBER SITUBONDO DAN TULUNGAGUNG Winarni, Retno
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5403.056 KB)

Abstract

Artikel ini mendiskusikan tentang asimilasi perkawinan antara orang-orang Cina dengan orang pribumi. Pertanyaan yang dijawab dalam kajian ini adalah: mengapa pada masa lalu banyak orang–orang Cina pendatang yang menikah dengan pribumi, kapan asimilasi perkawinan mengalami penurunan, dan faktor-faktor apa yang menyebabkannya, bagaimana kondisi sekarang, dan apa dampak asimilasi perkawinan terhadap budaya dan tradisi mereka. Hasil kajian menunjukkan bahwa asimilasi perkawinan terjadi sejak orang-orang Cina perantau memutuskan untuk tinggal dalam waktu lama di Indonesia, tetapi pada akhir abad ke-18 awal abad ke-19, asimilasi perkawinan cenderung mengalami penurunan. Hal ini disebabkan sudah semakin banyaknya perempuan-perempuan asli Cina yang pergi ke Indonesia (Jawa), sehingga banyak Cina peranakan yang kawin dengan perempuan Cina asli, tetapi bukan berarti asimilasi itu hilang sama sekali. Asimilasi perkawinan ini mulai banyak terjadi sejak era ORBA, anjuran pemerintah untuk asimilasi berpengaruh terhadap asimilasi perkawinan. Dampak dari asimilasi perkawinan ini adalah pembauran tradisi dan budaya karena bersatunya dua etnis dalam satu keluarga.____________________________________________________________This article discusses marital assimilation between Chinese and indigenous people. The research questions are: why many Chinese newcomers got married with the indigenous people in the past, when marital assimilation decreased and its factors, how the recent condition is, and what the impacts of marital assimilation towards their culture are. The result of research shows that marital assimilation happened since the Chinese people decided to stay longer in Indonesia. However at the end of 18th century, the marital assimilation decreased. It was triggered by many Chinese women who arrived in Java. Therefore many peranakans Chinese got married with the indigenous Chinese women. Yet it did not mean assimiliation was no longer in existence. The marital assimilation was executed again in the era of New Order. The wisdom of government affected the marital assimilation. The impact of the assimilation is the mixing of culture and tradition because of the unity of two ethnicities in one family.
FUNGSI, MAKNA, DAN EKSISTENSI NOKEN SEBAGAI SIMBOL IDENTITAS ORANG PAPUA Januar, Arie
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5142.371 KB)

Abstract

Noken merupakan salah satu kerajinan tradisional masyarakat Papua. Dalam perkembangannya kerajinan ini tersebar hampir di seluruh wilayah, baik pegunungan hingga pesisir pantai. Bagi orang Papua noken tidak hanya berfungsi sebagai alat menyimpan (tas), tetapi juga memiliki fungsi dan makna yang luas dalam berbagai aspek, seperti sosial, ekonomi, dan budaya. Metode dalam tulisan ini menggunakan studi kepustakaan. Dari hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa noken tidak hanya dipahami sebagai kerajinan tradisional semata, namun juga kerajinan yang bernilai tinggi bagi masyarakat. Namun demikian, seiring perkembangan zaman, nilai fungsi noken semakin memudar, karena bahan baku yang digunakan semakin beragam. Selain bahan baku jumlah pengrajin noken sudah semakin berkurang, sebab proses pewarisan kemahiran dari generasi tua ke generasi muda tidak berjalan maksimal, sehingga kerajinan noken terancam punah.____________________________________________________________Noken is one of the traditional crafts of the Papuan people. In the development of this craft spread in almost all regions, both mountains to the coast. For Papuans noken not only serves as a means to save (bags), but also has a comprehensive function and meaning in various aspects, such as social, economic, and cultural. The method in this paper uses literature study. From the results obtained, it can be concluded that the noken is not only understood as a traditional craft, but also the craft of high value to community. However, over the times, the value of the function noken fades, because the raw materials used increasingly diverse. In addition to raw materials noken number of craftsmen was already getting decreased, because the process of inheritance finesse of the older generation to the younger generation is not running optimally, so that the craft noken endangered.
Pengantar Redaksi Widya, Patra
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2774.214 KB)

Abstract

PERGELARAN RITUAL SEREN TAUN DAN AJARAN SPIRITUAL KIYAI MADRAIS DI CIGUGUR KABUPATEN KUNINGAN JAWA BARAT Subiantoro, Ignatius Herry
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6059.417 KB)

Abstract

Kajian "Pergelaran Ritual Seren Taun" menggunakan metoda deskriptif kualitatif, berdasarkan observasi dan analisis etnografi dari data verbal maupun data pictorial. Berdasarkan hasil pengamatan, wawancara, dan mencermati aspek-aspek terkait dari sistem ritual yang dipergelarkan, Seren Taun merupakan "drama estetik" yang mengekspesikan tiga prinsip kehidupan. Tiga prinsip itu meliputi kelahiran yang digambarkan pada Tari Pwahaci, kedewasaan atau perkawinan pada ngararemokeun pare, dan kematian (kesempurnaan) pada prosesi puncak Seren Taun. Pergelaran ini merupakan tindakan estetik sebagai gambaran penghayatan ajaran spiritual Aliran Kepercayaan Kyai Madrais. Konsep pergelaran yang bertema menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam, Tuhan, dan sesama yang di dalamnya terjalin adanya persatuan dan kebinekaan tanpa adanya perbedaan atas suku, agama, adat, dan kepercayaan, maka Seren Taun menjadi sarana silaturahmi bagi raja-raja Nusantara, budayawan, seniman, agamawan, dan masyarakat luas untuk datang. Pergelaran ritual ini dapat diartikan pula sebuah gelar budaya.____________________________________________________________Seren Taun performances study used qualitative descriptive method, which compiled base on ethnographic observations and analysis of the data both verbal and pictorial data. Based on related data, as well as direct observation, interviews, and aspects interrelated ritual system were staged, ritual performances, Seren Taun are 'drama aesthetic', to describe the three principles of life. The three principles of life, the dance performance Pwahaci as the principle symbolization of birth, ngararemokeun pare as the principle of maturity (marriage), and the procession peak Seren Taun as the symbol of the principles of death (perfection). The performance is an act of aesthetic to live the spiritual teachings Beliefs Kyai Madrais. The concept of themed performances maintain harmonious relationship between human and nature, God, and others, in which established their unity and diversity, without distinction on ethnicity, religion, customs, and beliefs, Seren Taun became gathering the kings of the archipelago, humanist, artists, religious leaders, and the general public to come. The ritual performace can be defined as well a degree of culture.

Page 1 of 2 | Total Record : 11